Anda di halaman 1dari 34

CBD

OD Katarak Sinil Imatur OS Pseudofakos

Diajukan untuk
Memenuhi TugasKepaniteraanKlinikdan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Mata
RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus

Disusun oleh:
Aida Tazkiyyatun Nufus
30101206780

Pembimbing:
dr. Djoko Heru S., Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU MATA


RSUDDR. LOEKMONO HADI KUDUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITRAAN

KLINIK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA

CASE BASED DISCUSION


dengan judul :

OD Katarak Sinil Imatur OS Pseudofakos

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepanitraan Klinik

Di Departemen Ilmu Kesehatan Mata

RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus

Disusun Oleh :

Aida Tazkiyyatun Nufus 30101206780

Kudus, Oktober 2018

Telah disetujui oleh,


Pembimbing

dr. Djoko Heru S., Sp.M


BAB I

STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN

Nama Pasien : Tn. H

Umur : 63 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status pernikahan : Menikah

Agama/suku : Islam/Jawa

Alamat : Rakitan 04/02 Madukara, Banjarnegara

Pekerjaan : Pedagang

Nomor CM : 791xxx

B. ANAMNESIS

Anamnesis dilakukan pada hari Rabu, 16 Oktober 2018 pukul 10.30 WIB secara

autoanamnesis di Poliklinik Mata RSUD Kudus.

1. Keluhan utama

Mata kanan kabur berawan

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien datang ke poli mata RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus dengan
keluhan mata kanan kabur dan berawan. Keluhan sudah dirasakan sejak 20
hari yang lalu. Keluhan semakin memberat ketika melihat cahaya. Pasien
tidak mengeluh mata merah dan tidak mengeluhkan nyeri. Pasien telah
melakukan operasi katarak pada mata kirinya pada bulan Agustus 2018.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

 Riwayat penggunaan kacamata (+)

 Riwayat memakai lensa kontak (-)

 Riwayat operasi katarak (+)


 HT (-)

 DM (-)

 Asma (-)

 Penyakit Jantung (-)

4. Riwayat Penyakit Keluarga

 Dikeluarga tidak ada yang mengalami hal serupa

 HT (-)

 DM (-)

 Asma (-)

 Penyakit Jantung (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK :

1. Status Generalisata

Tanggal pemeriksaan : Selasa, 16 Oktober 2018

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Composmentis

Aktivitas : normoaktif

Kooperativitas : kooperatif

Status gizi : baik

Vital Signs

 Tensi : 130/90 mmHg

 Nadi : 85 x/menit

 RR : 20 x/menit

 Suhu : 36,5°C
2. Status Ophtalmologi

Gambar:
OD OS

1
3 2 2

Keterangan:
1. Pseudofakia
2. Arkus senilis
3. Lensa Keruh karena Katarak

OCULI DEXTRA(OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA(OS)


6/120 Visus 6/9
Tidak dilakukan Tonometri Tidak dilakukan
Gerak bola mata normal, Gerak bola mata normal,
enoftalmus (-), enoftalmus (-),
eksoftalmus (-), Bulbus okuli eksoftalmus (-),
strabismus (-) strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), nyeri Edema (-), hiperemis(-),
tekan(-), nyeri tekan (-),
blefarospasme (-), lagoftalmus blefarospasme (-),
Palpebra
(-), lagoftalmus (-)
ektropion (-), ektropion (-),
entropion (-) entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi konjungtiva (-), injeksi konjungtiva (-),
injeksi siliar (-), Konjungtiva injeksi siliar (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
Putih Sklera Putih
Bulat, edema (-), Bulat, edema (-),
keratik presipitat(-), Kornea keratik presipitat(-),
infiltrat (-), sikatriks (-) infiltrat(-), sikatriks (-)
Arkus senilis (+) Arkus senilis (+),.
Jernih, kedalaman cukup Camera Oculi Jernih, kedalaman cukup,
hipopion (-), Anterior hipopion (-),
hifema (-), (COA) hifema (-),
Kripta(N), warna coklat,(-), Iris Kripta(N), warna coklat,(-),
edema (+) terdorong, synekia edema(-), synekia (-),
(-)
bulat, diameter : ± 3mm, bulat, diameter ± 3 mm,
letak sentral, Pupil letak sentral,
refleks pupil langsung (+), refleks pupil langsung (+),
refleks pupil tak langsung (+) refleks pupil tak langsung (+)
Dangkal Bilik Mata Depan Normal

Sempit Sudut Bilik Mata Normal

Kekeruhan (+) sebagian, Lensa Jernih, tampak pantulan


cairan bertambah seperti kaca (pseudophakia)

(+) Shadow test (-)

Jernih Vitreus Jernih


Papil NII bulat, batas tegas, Papil NII bulat, batas tegas,
ablatio (-), mikroaneurisma (-), Retina ablatio (-), mikroaneurisma (-),
eksudat (-), perdarahan (-), eksudat (-), perdarahan (-),
CD ratio (N) CD ratio (N)
Fundus refleks (+), cemerlang Fundus Refleks Fundus refleks (+), cemerlang
Tidak dilakukan Sistem Lakrimasi Tidak dilakukan

D. RESUME
Subyektif
Pasien datang ke poli mata RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus dengan keluhan

mata kanan kabur dan berawan sejak 20 hari yang lalu. Keluhan semakin memberat

ketika melihat cahaya. Pasien telah melakukan operasi katarak pada mata kirinya pada

bulan Agustus 2018.

Obyektif

OCULI DEXTRA(OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA(OS)


6/120 Visus 6/9
Bulat, edema (-), Bulat, edema (-),
keratik presipitat(-), Kornea keratik presipitat(-),
infiltrat (-), sikatriks (-) infiltrat(-), sikatriks (-)
Arkus senilis (+) Arkus senilis (+),.
Kripta(N), warna coklat,(-), Iris Kripta(N), warna coklat,(-),
edema (+) terdorong, synekia edema(-), synekia (-),
(-)
Dangkal Bilik Mata Depan Normal

Sempit Sudut Bilik Mata Normal

Kekeruhan (+) sebagian, Lensa Jernih, tampak pantulan


cairan bertambah seperti kaca (pseudophakia)

(+) Shadow test (-)

E. DIAGNOSIS BANDING

 Katarak Sinil Imatur

 Katarak Sinil Iminen

 Pseudofakos

F. DIAGNOSIS KERJA

OD Katarak Sinil Imatur

OS pseudofakos
G. PENATALAKSANAAN

Medikamentosa :

 Cendolyteers 1fl

S4dd gtt 1

 Okuflam 1fl

S4dd gtt 1

H. PROGNOSIS

OCULUS DEXTER OCULUS SINISTER

Quo Ad Vitam ad bonam Ad bonam

Quo AD Functionam Ad bonam Ad bonam

Quo Ad sanationam Ad bonam Ad bonam

Quo Ad kosmetikan Ad bonam Ad bonam

I. Edukasi

 Gunakan tetes mata secara teratur

 Kontrol secara teratur sebulan sekali

 Menjelaskan dan mengedukasi untuk dilakukannya operasi katarak


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PSEUDOFAKIA
Pseudofakia adalah suatu keadaan dimana mata terpasang lensa tanam setelah operasi
katarak. L e n s a i n i a k a n memberikan penglihatan lebih baik. Lensa intraokular
ditempatkan waktu operasi katarak d an ak a n t et ap d i s an a u nt u k s eum u r hi d up .
Le n s a i ni t i d ak ak a n m en gga n ggu d an t i d ak perlu perawatan khusus dan tidak
akan ditolak keluar oleh tubuh.
Gejala dan tanda pseudofakia :
- Penglihatan kabur
- Visus jauh dengan optotype Snellen
- Dapat merupakan myopi atau hipermetropi tergantung ukuran lensa yang ditanam
(IOL)
- Terdapat bekas insisi atau jahitan

1. Letak lensa didalam bola mata dapat bermacam – macam, seperti :


a. P a d a b i l i k m a t a d e p a n , y a n g d i t e m p a t k a n d i d e p a n i r i s
d e n g a n k a k i p e n y o k o n g n y a bersandar pada sudut bilik mata
b. Pada daerah pupil, dimana bagian 9ulti lensa pada pupil dengan fiksasi pupil
c. P ad a b i l i k m at a b el ak an g, ya n g di l et ak ka n p ad a ke du duk a n l e ns a
no rm al d i b e l ak a n g iris. Lensa dikeluarkan dengan ekstraksi lensa ekstra
kapsular
d. Pada kapsul lensa.

Pada saat ini pemasangan lensa terutama diusahakan terletak


d i d a l a m k a p s u l lensa. Meletakkan lensa tanam didalam bilik mata memerlukan
perhatian khusus :
1. Endotel kornea terlindung
2. Melindungi iris terutama pigmen iris
3. Melindungi kapsul posterior lensa
4. Mudah memasukkannya karena tidak memberikan cedera pada zonula lensa.
Keuntungan pemasangan lensa ini :
1. Penglihatan menjadi lebih fisiologis karena letak lensa yang ditempatkan pada tempat
lensa asli yang diangkat.
2. Lapang penglihatan sama dengan lapang pandangan normal
3. Tidak terjadi pembesaran benda yang dilihat
4. Psikologis, mobilisasi lebih cepat.
Pemasangan lensa tidak dianjurkan kepada :
1. Mata yang sering mengalami radang intra okuler (uveitis)
2. Anak dibawah 3 tahun
3. Uveitis menahun yang berat
4. Retinopati 10ultifoc 10ultifocal1010e berat
5. Glaukoma neovaskuler

B. LENSA INTRAOKULER DAN IMPLAN


Lensa intraocular (IOL) umum digunakan untuk memperbaiki atau menyembuhkan cacat
visual. IOL dikategorikan dalam dua jenis: monofocal atau 10ultifocal. Lensa
10ultifocal10 monofocal atau 10ultifocal dapat dimanfaatkan dalam penggantian Lensa
mata rusak.

IOL monofokal
IOL monofokal yang berarti mereka memberikan visi pada satu jarak saja (jauh,
menengah atau dekat) berarti bahwa pasien harus memakai kacamata atau lensa
kontak untuk membaca, menggunakan komputer atau melihat pada jarak lengan.

IOL 10ultifocal
IOL multifokal menawarkan kemungkinan melihat dengan baik pada lebih dari
satu jarak, tanpa kacamata atau lensa kontak.

Toric IOL untuk Astigmatisma


IOL toric dirancang untuk mengoreksi astigmatisme. Toric IOL datang dalam
berbagai kekuatan visi jarak, dalam 2 versi. Satu, mengoreksi hingga 2,00 dioptri (D)
dari Silindris dan yang lain mengoreksi hingga 3,50 D. Model yang berbeda juga dapat
menyaring UV yang berpotensi merusak atau cahaya biru.
Kebanyakan ahli bedah yang merawat Silindris pada pasien katarak, cenderung
menggunakan astigmatik keratotomi (AK) atau limbal relaxation incision, yang
membuat sayatan di kornea. Selain astigmatisme kornea, beberapa orang mungkin
memiliki astigmatisme lenticular, yang disebabkan oleh ketidakteraturan dalam bentuk
lensa alami di dalam mata. Hal ini bisa diperbaiki dengan IOL toric namun dengan
risiko penglihatan memburuk karena lensa berputar dari posisi, sehingga butuh operasi
lebih lanjut untuk memposisikan atau mengganti IOL.

Monovision dengan Lensa Intraokuler


Jika operasi katarak melibatkan kedua mata bisa dipertimbangkan menggunakan
monovision. Hal ini dengan menanamkan sebuah IOL di satu mata yang memberikan
penglihatan dekat dan IOL di mata lain yang menyediakan penglihatan jarak.
Biasanya orang dapat menyesuaikan diri. Tapi jika tidak bisa, penglihatan mungkin
menjadi kabur baik dekat dan jauh. Masalah lain adalah bahwa persepsi kedalaman dapat
menurun karena visus binokuler kurang – yang berarti, mata tidak bekerja sama.

Aspheric IOL
IOL berbentuk bola, yang berarti permukaan depan secara seragam
melengkung. IOL aspheric, pertama kali diluncurkan oleh Bausch + Lomb pada tahun
2004, yang sedikit datar di pinggiran dan dirancang untuk memberikan sensitivitas
kontras yang lebih baik. Lensa ini memiliki kemampuan untuk mengurangi
penyimpangan visual.
Beberapa ahli bedah katarak memperdebatkan manfaat IOLs aspheric, karena
manfaat sensitivitas kontras tidak dapat berlangsung pada pasien yang lebih tua karena
sel-sel ganglion retina adalah penentu utama sensitivitas kontras dan pada usia tua secara
bertahap kehilangan sel-sel ini. Namun, orang muda yang menjalani operasi katarak
sekarang cenderung memiliki sel ganglion lebih banyak dan lebih sehat. Jadi mereka
akan dapat menikmati sensitivitas kontras yang lebih baik untuk waktu yang lama.

Blue Light-Filtering IOLs


IOL ini memfilter baik ultraviolet (UV) dan energi tinggi sinar biru, yang keduanya
terkandung dalam cahaya alami maupun buatan. Sinar UV telah lama dicurigai bisa
menyebabkan katarak dan gangguan penglihatan lain, dan IOL
banyak menyaring mereka keluar seperti lensa mata alami sebelum penghapusan
dalam operasi katarak. Sinar biru, yang berkisar 400-500 nanometer (nm) dalam
spektrum cahaya, dapat menyebabkan kerusakan retina dan berperan dalam timbulnya
degenerasi makula.
IOL ini berwarna kuning transparan untuk menyaring sinar biru. Sebenarnya warna ini
mirip dengan lensa kristal alami. Warna kuning ini tidak mengubah warna lingkungan
atau kualitas penglihatan. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa
sensitivitas kontras mungkin hilang dengan pemakaian IOL jenis ini. Dalam studi
Austria, beberapa orang yang menggunakan IOL ini melihat adanya penurunan
kualitas penglihatan ketika mereka diberi kuesioner.
Sebuah studi yang dilaporkan dalam edisi Desember 2010, Journal of Cataract &
Refractive Surgery menemukan bahwa pasien katarak dengan IOL berwarna kuning
memiliki kesulitan melihat dalam rentang warna biru pada kondisi pencahayaan yang
kurang.

“Piggyback” IOL
Bila pasien memiliki hasil yang kurang dari optimal dari lensa intraokular asli yang
digunakan dalam operasi katarak, ada pilihan untuk memasukkan lensa
tambahan dari yang dimiliki saat ini. Hal ini dikenal sebagai “lensa piggyback”,
mungkin dapat memperbaiki penglihatan dan dianggap lebih aman daripada
mengeluarkan dan mengganti lensa yang ada.
Jika diperlukan derajat yang sangat tinggi dalam koreksi visus, seperti
untuk miopia berat atau astigmatisme, dapat disarankan kombinasi kekuatan dari dua
lensa intraokular pada satu mata dengan menggunakan “lensa piggyback”.

C. KATARAK

1. Definisi

Katarak merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa kekeruhan lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Katarak lebih sering dijumpai pada
orang tua, dan merupakan penyebab kebutaan nomor 1 di seluruh dunia. Kata katarak
berasal dari Yunani “katarraktes” yang berarti air terjun. Katarak sendiri sebenarnya
merupakan kekeruhan pada lensa akibat hidrasi atau denaturasi protein sehingga
memberikan gambaran area berawan atau putih.
2. Epidimiologi

Lebih dari 90% kejadian katarak merupakan katarak senilis. 20-40% orang usia 60 tahun
ke atas mengalami penurunan ketajaman penglihatan akibat kekeruhan lensa. Sedangkan
pada usia 80 tahun ketas insidensinya mencapai 60-80%. Prevalensi katarak congenital
pada negara maju berkisar 2-4 setiap 10000 kelahiran. Frekuensi katarak laki-laki dan
perempuan sama besar. Di seluruh dunia, 20 juta orang mengalami kebutaan akibat
katarak.

3. Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab tersering dari katarak adalah proses degenerasi, yang menyebabkan lensa mata
menjadi keras dan keruh. Pengeruhan lensa dapat dipercepat oleh faktor risiko seperti
merokok, paparan sinar UV yang tinggi, alkohol, defisiensi vit E, radang menahun dalam
bola mata, dan polusi asap motor/pabrik yang mengandung timbal.

Cedera pada mata seperti pukulan keras, tusukan benda, panas yang tinggi, dan trauma
kimia dapat merusak lensa sehingga menimbulkan gejala seperti katarak.

Katarak juga dapat terjadi pada bayi dan anak-anak, disebut sebagai katarak congenital.
Katarak congenital terjadi akibat adanya peradangan/infeksi ketika hamil, atau penyebab
lainnya. Katarak juga dapat terjadi sebagai komplikasi penyakit infeksi dan metabolic
lainnya seperti diabetes mellitus.

4. Patofisiologi

Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Perubahan
dalam serabut halus multipel (zonula) yang memaenjang dari badan silier ke sekitar daerah
di luar lensa. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi,
sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah
satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal disertai influks air ke dalam
lensa. Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar.
Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari
degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada
kebanyakan pasien yang menderita katarak.

5. Klasifikasi
A. Katarak kongenital
B. Katarak juvenil
C. Katarak sensilis

KATARAK KONGENITAL

1. Definisi
Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah
lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab
kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang
tepat.1

2. Epidemiologi
Katarak kongenital terjadi kira-kira 3:10.000 dari kelahiran hidup dan 2/3 kasusnya
adalah katarak bilateral. Hampir 50% dari katarak kongenital adalah sporadik dan tidak
diketahui penyebabnya. Sering ditemukan pada bayi prematur dan gangguan system saraf
seperti retardasi mental.1,8

3. Etiologi
Penyebab katarak kongenital bisa bermacam-macam. Sebagian katarak bersifat
idiopatik atau herediter. Dalam hal ini bisa dikaitkan dengan kelainan kromosom,
misalnya sindrom down, sindrom lowe (sindroma okuloserebrorenal), dan sindrom
marfan, persisten hyperplastic primary vitreous (PHPV) unilateral juga dikatakan sebagai
etiologinya. Penyebab lainnya adalah infeksi pada kehamilan, misalnya infeksi
toxoplasma dan rubella, kelainan metabolik seperti diabetes mellitus, galaktosemia,
hipoglikemia. Selain itu, kondisi anoreksia dan pemakaian obat-obatan saat kehamilan
juga dapat menimbulkan katarak. Ada pula yang menyertai kelainan pada mata sendiri
yang juga merupakan kelainan bawaan seperti mikroftalmus, aniridia, koloboma,
keratokonus, ektopia lentis, megalikornea, heterokromia iris.1,9,10

4. Patofisiologi
Lensa terbentuk pada minggu kelima sampai kedelapan. Karena masa ini belum
terbentuk kapsul pelindung, maka virus bisa langsung masuk ke dalam jaringan lensa.
Lensa terbentuk saat invaginasi permukaan ektoderm mata. Nukleus embrionik
berkembang pada bulan ke enam kehamilan. Sekitar nukleus embrionik terdapat nukleus
fetus. Saat kelahiran, nukleus fetal dan nukleus embrionik membentuk hampir sebagian
lensa. Setelah kelahiran, serat kortikal lensa terletak pada peralihan epithelium lensa
anterior dengan serat kortikal lensa. Sutura Y merupakan tanda penting karena dapat
mengidentifikasi besarnya nukleus fetus. Bagian lensa mulai dari perifer ke sutura Y
merupakan korteks lensa, dimana bahan lensa yang ada di sutura Y adalah nuklear. Pada
pemeriksaan dengan slit lamp, posisi sutura Y anterior tegak, sedangkan sutura Y
posterior terbalik. Beberapa kelainan seperti infeksi, trauma, kelainan metabolik pada
serat nuklear ataupun serat lentikular dapat menyebabkan kekeruhan media lentikular
yang awalnya jernih. Lokasi dan pola kekeruhan dapat digunakan untuk menentukan
waktu terjadinya kelainan serta etiologi.10,11
Pada katarak kongenital, kelainan utama terjadi di nukleus lensa – nukleus fetal
atau nukleus embrional, tergantung pada waktu stimulus karaktogenik – atau di kutub
anterior atau posterior lensa apabila kelainannya terletak di kapsul lensa.6
Pada katarak developmental, kekeruhan pada lensa timbul pada saat lensa
dibentuk. Jadi lensa belum pernah mencapai keadaan normal. Hal ini merupakan kelainan
kongenital. Kekeruhan lensa, sudah terdapat pada waktu bayi lahir. Kekeruhan pada
katarak kongenital jarang sekali mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Letak
kekeruhannya, tergantung saat terjadinya gangguan pada kehidupan janin, sesuai dengan
perkembangan embriologik lensa. Bentuk katarak kongenital memberikan kesan tentang
perkembangan embriologik lensa, juga saat terjadinya gangguan pada perkembangan
tersebut.7
Pada infeksi, seperti pada infeksi toksoplasma dan rubella, virus dapat menembus
kapsul lensa pada usia 6 minggu kehamilan. Terdapat opasitas saat lahir tapi berkembang
setelah beberapa minggu sampai beberapa bulan kehamilan. Seluruh lensa bisa menjadi
opaq. Virus bisa tetap ada dalam lensa hingga usia 3 tahun.9

5. Gejala
Gejala yang paling sering dan mudah dikenali adalah leukokoria (bagian tengah
mata berwarna putih). Gejala ini kadang-kadang tidak terlihat jelas pada bayi yang baru
lahir karena pupilnya miosis (mengecil). Gejala ini juga bisa terdapat pada penyakit mata
lain misalnya pada retinoblastoma (tumor retina yang sering terdapat pada anak-anak di
bawah 5 tahun). Bila katarak terjadi pada kedua mata (binokular), penglihatan kedua mata
buruk. Orang tua biasanya membawa anak dengan keluhan anak kurang melihat, tidak
fokus atau kurang bereaksi terhadap sekitar. Gejala lain yang dapat dijumpai antara lain
fotofobia (sangat peka terhadap cahaya), strabismus (mata juling), dan nistagmus
(gerakan mata yang cepat).12

6. Klasifikasi
Katarak anak-anak dibagi menjadi dua kelompok yaitu katarak kongenital
(infantilis), yang terdapat sejak lahir atau segera sesudahnya dan katarak didapat, yang
timbul belakangan dan biasanya berkaitan dengan sebab-sebab spesifik. Kedua tipe
katarak ini dapat bersifat unilateral atau bilateral dan parsial atau total. Banyak katarak
kongenital tidak diketahui penyebabnya walaupun mungkin terdapat faktor genetic yang
lain disebabkan oleh penyakit infeksi atau metabolik atau berkaitan dengan bermacam-
macam sindrom. Dapat dilakukan penelitian untuk mencari penyebab, tetapi pada
sebagian besar kasus tidak ditemukan penyebabnya.1

Katarak Polaris Anterior.


Katarak Polaris anterior pada umumnya muncul seperti bintik putih kecil di
pusat kapsul lensa anterior. Tipe ini berdiameter 1 mm tetapi dapat lebih kecil, atau
jarang membesar. Ini bisa terjadi karena sisa dari persistent tunica vasculosa lentis
atau ketidak sempurnaannya pelepasan kornea terhadap lensa. Kekeruhan ini biasanya
tidak terlihat secara signifikan dan tidak menjadi besar atau progresif sehingga jarang
memerlukan tindakan operasi. Katarak ini termasuk congenital dan biasanya sporadic,
bisa terjadi unilateral atau bilateral. Keluhan terutama mengenai penglihatan yang
kabur waktu terkena sinar karena pada waktu ini pupil mengecil, sehingga apabila
pupilnya midriasis maka visus akan lebih baik.7,13

Katarak nuklearis
Katarak nuklearis adalah kekeruhan pada pusat atau nucleus dari lensa.
Kekeruhan biasanya berdiameter 3 mm, tetapi irregularasi pada serat lensa dapat jauh
ke perifer. Densitasnya bervariasi. Kekeruhan ini bisa tetap tetapi densitasnya bisa
juga progresif menjadi sedikit membesar. Katarak ini bisa unilateral atau bilateral, dan
pada umumnya visus buruk. Bisa diturunkan secara autosomal atau resesif atau
mungkin terangkai gonosom. Penyebabnya diduga faktor herediter, dengan sifat
pewarisan autosomal dominan. Namun mungkin juga terkait dengan infeksi rubella,
hipoglikemia, hipokalsemia, dan arena paparan radiasi. Katarak ini ini merupakan
congenital tetapi densitasnya tidak terlihat saat lahir.7,13
Katarak nuklearis pada mata yang parah biasanya memiliki beberapa tingkat
mikrokornea ( diameter kornea kurang daripada usia normal). Paling banyak pada
kasus unilateral. Pada mata ini meningkatkan risiko untuk perkembangan glaucoma
afakia setelah operasi katarak dan anak membutuhkan pengawasan yang hati-hati
untuk kehidupannya yang lebih maju.7,13

Katarak lamellar
Katarak lamellar dapat diidentifikasikan melalui proses pemisahan, bentuk
lentikular, satu atau lebih “cincin” pada perkembangan korteks lensa. Diameter
kekeruhan lebih besar dibandingkan dengan katarak nuklearis, kira-kira 5 mm atau
lebih. Biasanya bilateral tetapi dapat kepadatannya dapat menjadi asimetris; selain itu,
bisa terjadi ambliopia. Katarak lamellar biasanya kelainan didapat atau diturunkan.
Pada mata ini ukuran dan diameter kornea normal.13
Setelah onset biasanya setelah reflex fiksasi anak dapat ditegakkan, prognosis
visus mungkin bagus disertai dengan operasi.13

7. Diagnosis
Diagnosis katarak kongenital dapat ditegakkan dari anamnesis mengenai keluhan
utama, riwayat keluarga dan riwayat kelahiran yang berkaitan dengan prematuritas,
infeksi maternal dan pemakaian obat-obatan selama kehamilan.
Lensa yang keruh dapat terlihat tanpa bantuan alat khusus dan tampak sebagai
warna keputihan pada pupil yang seharusnya berwarna hitam. Bayi gagal menunjukkan
kesadaran visual terhadap lingkungan di sekitarnya dan kadang terdapat nistagmus
(gerakan mata yang cepat dan tidak biasa). Untuk menegakkan diagnosis, dilakukan
pemeriksaan mata lengkap. Pemeriksaan lensa dilakukan dengan pemeriksaan dengan
lampu biasa, penyinaran fokal, slitlamp, oftalmoskop pada pupil yang dilebarkan dahulu.
Untuk mencari kemungkinan penyebabnya, perlu dilakukan pemeriksan darah dan
rontgen.14

Prosedur untuk penilaian objektif katarak congenital

1. Evaluasi langsung kejernihan lensa dengan menggunakan oftalmoskop dengan


pengaturan kekuatan lensa plus tinggi. Material lensa biasanya kelihatan putih atau
terang, sehingga konfigurasi kataraknya dapat dilihat. Penilaian ini hanya
memberikan informasi tidak langsung mengenai seberapa baik pasien dapat melihat.
2. Retinoskop dapat digunakan untuk retroiluminasi. Dengan cahaya retinoskop
difokuskan di retina, katarak akan kelihatan seperti bayangan hitam yang dikelilingi
reflex retina. Penilaian ini memberikan perkiraan yang baik mengenai seberapa besar
halangan yang dihasilkan oleh katarak.
3. Penilaian retina dengan oftalmoskop langsung dan tidak langsung juga memberikan
informasi tentang seberapa efektif cahaya dapat melalui media sampai retina
4. Pasien sebaiknya diperiksa dengan slit lamp. Pada kasus dimana retina tidak bisa
dilihat, USG dengan scan A dan B atau keduanya seharusnya bisa dilakukan untuk
mendapatkan informasi mengenai integritas retina dan ruang vitreus.

Pemeriksaan laboratorium pada katarak kongenital bilateral sangat diperlukan


untuk menegakkan etiologinya. Pemerikasaan laboratorium yang diperlukan:

1. Laboratorium rutin
2. TORCH titer
3. Urine Reduksi
4. Red cell galactokinase

Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan
katarak kongenital dengan diabetes melitus, kalsium dan fosfor.

8. Diagnosis banding
Diagnosis banding pada katarak congenital dilihat dari adanya leukokoria atau
pupil yang terlihat berwarna putih.

a. Retinoblastoma
Retinoblastoma adalah kanker pada retina (daerah di belakang mata yang
peka terhadap cahaya) yang menyerang anak berumur kurang dari 5 tahun, 2% dari
kanker pada masa kanak-kanak adalah retinoblastoma. Gejalanya berupa pupil
berwarna putih, mata juling (strabismus). Mata merah dan nyeri gangguan
penglihatan iris pada kedua mata memiliki warna yang berlainan, dapat terjadi
kebutaan. Pemeriksaan mata dalam keadaan pupil melebar. Dapat di diagnosis
dengan CT scan kepala, USG mata, pemeriksaan cairan serebrospinal, pemeriksaan
sumsum tulang.5

b. Persistent Hyperplastic Primary Vitreous (PHPV)

PHPV biasanya congenital, bukan herediter. Disebabkan oleh kegagalan


regresi dari fetal hyaloid vascular kompleks. Ada sebuah membrane retrolental dari
berbagai ukuran dan melekat pada lensa posterior. Hal ini menyebabkan penglihatan
kabur dan kondisi mata lainnya kadang-kadang kurang berkembang. PHPV ditandai
dengan adanya leukokoria, mata merah, nyeri, penglihatan kabur, dan nistagmus.
10,13

Tidak ada bukti mengapa vitrous kadang-kadang tidak berkembang dengan


benar. Biasanya kondisi ini hanya mempengaruhi satu mata.10

c. Retinopathy of prematurity

Kelahiran yang premature dapat menyebabkan retinopathy of prematurity


(ROP) dimana perkembangan vascular retina meningkat dan menimbulkan
neovaskular yang abnormal.13

d. Chorioretinal colobomas

Lesi kongenital, ditandai dengan tidak adanya retina normal, RPE dan
choroid. Gejala tergantung pada lokasi dan struktur okular Koloboma terlibat.
Biasanya terletak di daerah inferotemporal dan dapat unilateral atau bilateral.10

e. Uveitis

Uveitis adalah peradangan pada uvea. Uvea adalah bagian mata yang terdiri
dari Iris, choroids dan corpus siliaris. Klasifikasi tergantung bagian uvea yang
terkena yaitu : Uveitis Anterior, uveitis intermediate, uveitis posterior dan pan
uveitis.10

f. Coats disease

Juga dikenal sebagai retinitis exudative atau telangiectasis retina, kadang-


kadang dieja' penyakit Coates. Penyakit ini ditandai oleh perkembangan abnormal
dari pembuluh darah di belakang retina. 'Penyakit Coats diduga akibat dari
kerusakan pada sawar darah-retina pada sel endotel, sehingga kebocoran produk
darah yang mengandung kolesterol dan lemak-kristal sarat makrofag ke dalam retina
dan ruang subretinal. Seiring waktu, akumulasi eksudat protein ini mengental retina,
menyebabkan besar, ablasi retina exudative.13

g. Toxocariasis

Migrans larva pada mata, yang disebabkan oleh migrasi larva ke dalam
segmen posterior mata, cenderung terjadi pada anak-anak yang lebih tua dan orang
dewasa muda. Pasien dapat hadir dengan visi menurun, mata merah, atau leukokoria
(tampilan putih murid). Granuloma dan chorioretinitis dapat diamati di retina,
terutama di makula.10

h. Dan penyakit lain seperti, Congenital retinal folds, Vitreous hemorrhage, Retinal
dysplasia, Other tumors (hemartomas, chorodial hemangiomas, diktyomas).13

9. Penatalaksanaaan
Manajemen katarak kongenital sangat berbeda. Pada orang dewasa, pembedahan
yang tertunda selama bertahun-tahun tidak mempengaruhi hasil visus. Pada bayi, jika
katarak tidak dihilangkan selama tahun pertama kehidupan, visus tidak akan pernah
sepenuhnya kembali setelah operasi. Pada orang dewasa, jika aphakia tidak segera
diperbaiki, dapat dikoreksi kemudian hari. Pada anak-anak, jika aphakia tidak dikoreksi,
visus tidak akan pernah berkembang normal.15

Korteks dan nukleus lensa mata bayi mempunyai konsistensi yang cair, bila
kekeruhan lensa sudah demikian berat sehingga fundus bayi sudah tidak dapat dilihat
pada funduskopi maka untuk mencegah ambliopia dilakukan pembedahan secepatnya.
Katarak kongenital sudah dapat dilakukan pembedahan pada usia 2 bulan pada satu mata.
Paling lambat mata yang lainnya sudah dilakukan pembedahan bila bayi berusia 2
tahun.16

Pengobatan katarak kongenital bergantung pada1:

1. Katarak total bilateral, dimana sebaiknya dilakukan pembedahan secepatnya, segera


setelah terlihat.
2. Katarak total unilateral, dilakukan pembedahan 2 bulan sesudah terlihat atau segera
sebelum terjadi juling, bila terlalu muda akan memudahkan terjadi amblioplia bila
tidak dilakukan tindakan segera, perawatan untuk ambliopia sebaiknya dilakukan
sebaik-baiknya.
3. Katarak bilateral partial, biasanya pengobatan lebih konservatif sehingga sementara
dapat dicoba dengan kaca mata atau midriatika. bila terjadi kekeruhan yang
progresif disertai dengan mulainya tanda-tanda juling dan ambliopia maka dilakukan
pembedahan, biasanya mempunyai prognosis yang lebih baik.

Tindakan operasi yang sering digunakan pada katarak congenital:

Lensectomy

Lensectomy adalah prosedur bedah yang umum


digunakan untuk mengobati pasien dengan katarak.
Lensectomy adalah prosedur bedah mikro di mana
instrumen dan teknik khusus digunakan untuk menghapus
baik sebagian atau seluruh lensa kristal dari mata.
Langkah awal dalam prosedur ini biasanya penghapusan
lensa atau lensa fragmen melalui sayatan "sangat kecil mikro" di dinding mata.
Memberikan tepi kapsul utuh memungkinkan untuk memasukkan IOL pada saat
operasi atau sebagai prosedur sekunder.17

Lensectomy dibagi menjadi 2, yaitu:

1. Lensectomy without intraocular lens


2. Lensectomy with intraocular lens. Ada beberapa teknik:13
a. Teknik kapsul posterior intak (anak lebih tua)
b. Teknik untuk IOL dan kapsulektomi posterior primer (anak lebih muda)
c. Kapsulektomi/ vitrektomy posterior sebelum pemasangan IOL
d. Kapsulektomy/ vitrektomy setelah pemasangan IOL
3. Implant lensa intraocular

Pada bayi sangat penting untuk mengoreksi aphakia sesegera mungkin


setelah operasi. Salah satu pilihan adalah untuk menanamkan sebuah IOL ketika
katarak akan dihapus. Saat kelahiran lensa bayi lebih cembung dari pada orang
dewasa. Ini memiliki daya sekitar 30D, yang mengkompensasi panjang aksial
mata bayi. Ini menurun menjadi sekitar 20-22D pada usia lima tahun. Ini berarti
bahwa IOL yang memberikan visus normal untuk bayi akan menyebabkan miopia
signifikan jika ia lebih tua. Hal ini lebih rumit oleh perubahan kekuatan kornea
dan perpanjangan aksial. Perubahan ini paling cepat selama beberapa tahun
pertama kehidupan dan ini membuat hampir mustahil untuk memprediksi
kekuatan lensa yang tepat untuk setiap bayi. Implantasi IOL telah menjadi cukup
rutin untuk anak-anak yang lebih tua, tetapi masih sangat kontroversial pada anak-
anak muda, terutama mereka yang di bawah dua tahun.15

Komplikasi pembedahan katarak12


1. Hilangnya vitreous. Jika kapsul posterior mengalami kerusakan selama
operasi maka gel vitreous dapat masuk ke dalam bilik mata depan yang
merupakan risiko terjadinya glaukoma atau traksi pada retina
2. Prolaps iris. Iris dapat mengalami protrus melalui insisi bedah pada periode
paska operasi dini. Pupil mengalami distorsi.
3. Endoftalmitis. Komplikasi infektif ekstraksi katarak yang serius namun
jarang terjadi (< 0,3%), pasien datang dengan mata merah yang terasa nyeri,
penurunan tajam penglihatan, pengumpulan sel darah putih di bilik mata
depan (hipopion).
4. Edema makular sistoid. Makula menjadi edema setelah pembedahan.
terutama bila disertai dengan hilangnya vitreous. Dapat sembuh seiring
waktu namun dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan yang berat.

Visus pada sebagian besar anak-anak, dapat lebih ditingkatkan dengan


penggunaan lensa kontak atau kacamata. Ini akan dipasang dalam waktu
seminggu atau dua minggu operasi. Memasukkan lensa kontak ke anak mungkin
tampak menakutkan, tapi orang tua harus diajarkan semua tentang perawatan dan
pemakaian lensa kontak pada anak.15

Jika anak menderita ambliopia, maka melatih mata yang lemah dengan
cara menutup mata yang normal dengan plester mata khusus (eye patch).
Penggunaan plester mata harus dilakukan sedini mungkin. Caranya mata yg
bagus ditutup, jd mata yg jelek dipaksa bekerja, supaya otak meng"anggap" mata
itu ber"fungsi"15

10. Prognosis
Prognosis penglihatan untuk pasien katarak anak-anak yang memerlukan
pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan
kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian
penglihatan pada kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan
setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada
katarak kongenital bilateral inkomplit yang progresif lambat.6

KATARAK JUVENIL

1. Definisi Katarak juvenil

Katarak adalah keadaan dimana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan
lensa di dalam kapsul lensa atau juga suatu keadaan patologik lensa di mana lensa
menjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa atau denaturasi protein lensa.
Katarak berasal dari terminologi Bangsa Yunani yaitu cataractos, yang berarti
air yang mengalir cepat. Saat air turbulen, maka air akan menjadi berbuih. Orang
Yunani pada jaman dulu juga melihat hal yang sama terjadi pada katarak yaitu
penurunan tajam penglihatan akibat akumulasi cairan turbulen. Dalam bahasa
Indonesia disebut bular dimana penglihatan seperti tertutup air terjun akibat lensa
yang keruh.
Katarak juvenil merupakan katarak yang terjadi pada orang muda, yang mulai
terbentuknya pada usia lebih dari 1 tahun dan kurang dari 50 tahun. Kekeruhan lensa
pada katarak juvenil pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa sehingga
biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft cataract.
Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital.6,7

2. Etiologi

Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun


metabolik dan penyakit lainnya seperti:8,9

A. Katarak metabolic
1) Katarak diabetika dan galaktosemik (gula)
2) Katarak hipokalsemik (tetanik)
3) Katarak defisiensi gizi
4) Katarak aminoasiduria (termasuk sindrom Lowe dan homosistinuria)
5) Penyakit Wilson
6) Katarak berhubungan dengan kelainan metabolik lain
B. Otot
Distrofi miotonik (umur 20-30 tahun)
C. Katarak traumatic
D. Katarak komplikata
1) Kelainan kongenital dan herediter (siklopia, koloboma, mikroftalmia,
aniridia, pembuluh hialoid persisten, heterokromia iridis)
2) Katarak degeneratif (dengan miopia dan distrofi vitreoretinal), seperti
Wagner dan retinitis pigmentosa, dan neoplasma)
3) Katarak anoksik
4) Toksik (kortikosteroid sistemik atau topikal, ergot, naftalein, dinitrofenol,
triparanol (MER-29), antikholinesterase, klorpromazin, miotik,
klorpromazin, busulfan, besi)
5) Lain-lain kelainan kongenital, sindrom tertentu, disertai kelainan kulit
(sindermatik), tulang (disostosis kraniofasial, osteogenesis inperfekta,
khondrodistrofia kalsifikans kongenita pungtata), dan kromosom
6) Katarak radiasi

3. Gejala Klinis

Gejala klinis yang dapat muncul pada penderita antara lain :8,9

a. Penurunan ketajaman penglihatan secara progresif (gejala utama katarak)


b. Mata tidak merasa sakit, gatal atau merah
c. Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film
d. Perubahan daya lihat warna.
e. Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan
mata.
f. Lampu dan matahari sangat mengganggu.
g. Sering meminta ganti resep kaca mata.
h. Lihat ganda.
i. Baik melihat dekat pada pasien rabun dekat ( hipermetropia).
j. Gejala lain juga dapat terjadi pada kelainan mata lain

Pemeriksaan ketajaman penglihatan dan dengan melihat lensa melalui senter


tangan, kaca pembesar, slit lamp, dan oftalmoskop sebaiknya dengan pupil
berdilatasi. Dengan penyinaran miring ( 45 derajat dari poros mata) dapat dinilai
kekeruhan lensa. Pemeriksaan dengan menggunakan slit lamp tidak hanya ditujukan
untuk melihat adanya kekeruhan pada lensa, tetapi juga untuk melihat struktur
okular yang lain seperti konjungtiva, kornea, iris dan segmen anterior lainnya.

4. Penatalaksanaan

Pengobatan untuk katarak adalah pembedahan. Pembedahan dilakukan jika


penderita tidak dapat melihat dengan baik dengan bantuan kaca mata untuk
melakukan kegitannya sehari-hari. Beberapa penderita mungkin merasa
penglihatannya lebih baik hanya dengan mengganti kaca matanya, menggunakan kaca
mata bifokus yang lebih kuat atau menggunakan lensa pembesar.4,10

5. Prognosis
Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan
tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan kadang-
kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian pengelihatan
pada kelompok pasien ini.4

KATARAK SENILIS

1. Definisi
Katarak senilis adalah kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu
usia di atas 50 tahun. Katarak merupakan penyebab kebutaan di dunia saat ini yaitu
setengah dari 45 juta kebutaan yang ada. 90% dari penderita katarak berada di negara
berkembang seperti Indonesia, India dan lainnya. Katarak juga merupakan penyebab
utama kebutaan di Indonesia, yaitu 50% dari seluruh kasus yang berhubungan dengan
penglihatan.
2. Etiologi18
Penyebab katarak senilis sampai saat ini belum diketahui secara pasti, diduga
multifaktorial, diantaranya antara lain5
a) Faktor biologi, yaitu karena usia tua dan pengaruh genetik
b) Faktor fungsional, yaitu akibat akomodasi yang sangat kuat mempunyai efek
buruk terhadap serabu-serabut lensa.
c) Faktor imunologi
d) Gangguan yang bersifat lokal pada lensa, seperti gangguan nutrisi, gangguan
permeabilitas kapsul lensa, efek radiasi cahaya matahari.
e) Gangguan metabolisme umum.

3. Klasifikasi
Katarak senilis secara klinis dikenal dalam 4 stadium yaitu insipien, imatur,
matur, hipermatur. Perbedaan stadium katarak tersebut dapat dilihat pada tabel di
bawah ini:

Insipien Imatur Matur Hipermatur


Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan Lensa Normal Bertambah (air Normal Berkurang (air+masa
masuk) lensa keluar)
Iris Normal Terdorong Normal Tremulans
Bilik Mata Normal Dangkal Normal Dalam
Depan
Sudut Bilik Normal Sempit Normal Terbuka
Mata
Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopos
Penyu lit - Glaukoma - Uveitis+glaukoma

A. Katarak Insipien
Pada stadium ini kekeruhan lensa tidak teratur, tampak seperti bercak-
bercak yang membentuk gerigi dangan dasar di perifer dan daerah jernih di
antaranya. Kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior dan posterior.
Kekeruhan ini pada awalnya hanya nampak jika pupil dilebarkan. Pada stadium ini
terdapat keluhan poliopia yang disebabkan oleh indeks refraksi yang tidak sama
pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap untuk waktu yang lama.
B. Katarak Imatur
Pada katarak imatur terjadi kekeruhan yang lebih tebal, tetapi belum
mengenai seluruh lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih
pada lensa. Terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan
osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa yang mencembung akan
dapat menimbulkan hambatan pupil, mendorong iris ke depan, mengakibatkan bilik
mata dangkal sehingga terjadi glaukoma sekunder. Pada pemeriksaan uji bayangan
iris atau sahdow test, maka akan terlihat bayangn iris pada lensa, sehingga hasil uji
shadow test (+).
C. Stadium Intumesen
Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif
menyerap air. Masuknya air ke dalam lensa menyebabkan lensa menjadi bengkak
dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal
dibandingkan dalam keadaan normal. Katarak intumesen biasanya terjadi pada
katarak yang berjalan cepat dan menyebabkan myopia lentikular
D. Katarak Matur
Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh lensa. Proses
degenerasi yang berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama hasil
disintegrasi melalui kapsul, sehingga lensa kembali ke ukuran normal. Bilik mata
depan akan berukuran kedalaman normal kembali. Tidak terdapat bayangan iris
pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.
E. Katarak Hipermatur
Merupakan proses degenerasi lanjut lensa, sehingga masa lensa yang
mengalami degenerasi akan mencair dan keluar melalui kapsul lensa. Lensa
menjadi mengecil dan berwarna kuning. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai
kapsul yang tebal, maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar,
maka korteks akan memperlihatkan sekantong susu dengan nukleus yang terbenam
di korteks lensa. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni. Uji bayangan iris
memberikan gambaran pseudopositif. Cairan / protein lensa yang keluar dari lensa
tersebut menimbulkan reaksi inflamasi dalam bola mata karena di anggap sebagai
benda asing. Akibatnya dapat timbul komplikasi uveitis dan glaukoma karena aliran
melalui COA kembali terhambat akibat terdapatnya sel-sel radang dan cairan /
protein lensa itu sendiri yang menghalangi aliran cairan bola mata.
4. Tanda dan Gejala
Katarak didiagnosa melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang yang lengkap.
Keluhan yang membawa pasien datang antara lain:
a. Pandangan kabur
Kekeruhan lensa mengakibatkan penurunan pengelihatan yang
progresif atau berangsur-angsur dan tanpa nyeri, serta tidak mengalami
kemajuan tajam penglihatan dengan pin-hole.
b. Penglihatan silau
Penderita katarak sering kali mengeluhkan penglihatan yang
silau, dimana tigkat kesilauannya berbeda-beda mulai dari sensitifitas
kontras yang menurun dengan latar belakang yang terang hingga merasa
silau di siang hari atau merasa silau terhadap lampu mobil yang
berlawanan arah atau sumber cahaya lain yang mirip pada malam hari.
Keluhan ini sering kali muncul pada penderita katarak kortikal.
c. Sensitifitas terhadap kontras
Sensitifitas terhadap kontras menentukan kemampuan pasien
dalam mengetahui perbedaan-perbedaan tipis dari gambar-gambar yang
berbeda warna, penerangan dan tempat. Cara ini akan lebih menjelaskan
fungsi mata sebagai optik dan uji ini diketahui lebih bagus daripada
menggunakan bagan Snellen untuk mengetahui kepastuian fungsi
penglihatan; namun uji ini bukanlah indikator spesifik hilangnya
penglihatan yang disebabkan oleh adanya katarak.
d. Miopisasi
Perkembangan katarak pada awalnya dapat meningkatkan
kekuatan dioptri lensa, biasanya menyebabkan derajat miopia yang
ringan hingga sedang. Ketergantungan pasien presbiopia pada kacamata
bacanya akan berkurang karena pasien ini mengalami penglihatan kedua.
Namun setelah sekian waktu bersamaan dengan memburuknya kualitas
lensa,rasa nyaman ini berangsur menghilang dan diikuti dengan
terjadinya katarak sklerotik nuklear. Perkembangan miopisasi yang
asimetris pada kedua mata bisa menyebabkan anisometropia yang tidak
dapat dikoreksi lagi, dan cenderung untuk diatasi dengan ekstraksi
katarak.
e. Variasi Diurnal Penglihatan
Pada katarak sentral, kadang-kadang penderita mengeluhkan
penglihatan menurun pada siang hari atau keadaan terang dan membaik
pada senja hari, sebaliknya paenderita katarak kortikal perifer kadang-
kadang mengeluhkan pengelihatan lebih baik pada sinar terang
dibanding pada sinar redup.
f. Distorsi
Katarak dapat menimbulkan keluhan benda bersudut tajam
menjadi tampak tumpul atau bergelombang.
g. Halo
Penderita dapat mengeluh adanya lingkaran berwarna pelangi
yang terlihat disekeliling sumber cahaya terang, yang harus dibedakan
dengan halo pada penderita glaucoma.
h. Diplopia monokuler
Gambaran ganda dapat terbentuk pada retina akibat refraksi
ireguler dari lensa yang keruh, menimbulkan diplopia monocular, yang
dibedakan dengan diplopia binocular dengan cover test dan pin hole.
i. Perubahan persepsi warna
Perubahan warna inti nucleus menjadi kekuningan
menyebabkan perubahan persepsi warna, yang akan digambarkan
menjadi lebih kekuningan atau kecoklatan dibanding warna sebenarnya.
j. Bintik hitam
Penderita dapat mengeluhkan timbulnya bintik hitam yang
tidak bergerak-gerak pada lapang pandangnya. Dibedakan dengan
keluhan pada retina atau badan vitreous yang sering bergerak-gerak.

5. Pemeriksaan Fisik
a. Penurunan ketajaman penglihatan
Katarak sering kali berkaitan dengan terjadinya penurunan ketajaman
penglihatan, baik untuk melihat jauh maupun dekat. Ketajaman penglihatan
dekat lebih sering menurun jika dibandingkan dengan ketajaman pengihatan
jauh, hal ini mungkin disebabkan adanya daya konstriksi pupil yang kuat.
Penglihatan menurun tergantung pada derajat katarak. Katarak imatur dari
sekitar 1/60; pada katarak matur hanya 1/300 sampai 1/~.
b. Miopisasi
Perkembangan katarak pada awalnya dapat meningkatkan kekuatan dioptri
lensa, biasanya menyebabkan derajat miopia yang ringan hingga sedang.
Ketergantungan pasien presbiopia pada kacamata bacanya akan berkurang
karena pasien ini mengalami penglihatan kedua. Namun setelah sekian waktu
bersamaan dengan memburuknya kualitas lensa,rasa nyaman ini berangsur
menghilang dan diikuti dengan terjadinya katarak sklerotik nuklear.
Perkembangan miopisasi yang asimetris pada kedua mata bisa menyebabkan
anisometropia yang tidak dapat dikoreksi lagi, dan cenderung untuk diatasi
dengan ekstraksi katarak.
6. Manajemen Katarak
Indikasi operasi katarak dibagi dalam 3 kelompok:
a. Indikasi Optik
Merupakan indikasi terbanyak dari pembedahan katarak. Jika penurunan tajam
penglihatan pasien telah menurun hingga mengganggu kegiatan sehari-hari, maka
operasi katarak bisa dilakukan.
b. Indikasi Medis
Pada beberapa keadaan di bawah ini, katarak perlu dioperasi segera, bahkan jika
prognosis kembalinya penglihatan kurang baik:
- Katarak hipermatur
- Glaukoma sekunder
- Uveitis sekunder
- Dislokasi/Subluksasio lensa
- Benda asing intra-lentikuler
- Retinopati diabetika
- Ablasio retina
c. Indikasi Kosmetik
Jika penglihatan hilang sama sekali akibat kelainan retina atau nervus optikus,
namun kekeruhan katarak secara kosmetik tidak dapat diterima, misalnya pada
pasien muda, maka operasi katarak dapat dilakukan hanya untuk membuat pupil
tampak hitam meskipun pengelihatan tidak akan kembali.

Teknik-teknik pembedahan katarak


Penatalaksanaan utama katarak adalah dengan ekstraksi lensa melalui tindakan
bedah. Dua tipe utama teknik bedah adalah Intra Capsular Cataract
Extraction/Ekstraksi katarak Intra Kapsular (ICCE) dan Extra Capsular Cataract
Extraction/Ekstraksi katarak Ekstra Kapsular (ECCE). Di bawah ini adalah
metode yang umum digunakan pada operasi katarak, yaitu ICCE, ECCE dan
phacoemulsifikasi.
a) Operasi katarak intrakapsular/ Ekstraksi katarak intrakapsular
Metode yang mengangkat seluruh lensa bersama kapsulnya melalui
insisi limbus superior 140-160 derajat. Metode ini sekarang sudah jarang
digunakan. Masih dapat dilakukan pada zonula Zinn yang telah rapuh atau
berdegenerasi atau mudah putus. Keuntungannya adalah tidak akan terjadi
katarak sekunder.
Meskipun demikian, terdapat beberapa kerugian dan komplikasi post
operasi yang mengancam dengan teknik ICCE. Insisi limbus superior yang
lebih besar 160-180º dihubungkan dengan penyembuhan yang lebih lambat,
rehabilitasi tajam penglihatan yang lebih lambat, angka kejadian astigmatisma
yang lebih tinggi, inkarserata iris, dan lepasnya luka operasi. Edema kornea
juga dapat terjadi sebagai komplikasi intraoperatif dan komplikasi dini.
b) Operasi katarak ekstrakapsular
Metode ini mengangkat isi lensa dengan memecah atau merobek
kapsul lensa anterior, sehingga masa lensa dan korteks lensa dapat keluar
melalui robekan tersebut. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak
muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi
lensa okuler posterior. Keuntungan dari metode ini adalah karena kapsul
posterior untuh maka dapat dimasukan lensa intraokuler ke dalam kamera
posterior serta insiden komplikasi paska operasi (ablasi retina dan edema
makula sistoid) lebih kecil jika dibandingkan metode intrakapsular. Penyulit
yang dapat terjadi yaitu dapat timbul katarak sekunder.
c) Fakoemulsifikasi
Merupakan modifikasi dari metode ekstrakapsular karena sama-sama
menyisakan kapsul bagian posterior. Insisi yang diperlukan sangat kecil yaitu
5 mm yang berguna untuk mempercepat kesembuhan paska operasi.
Kemudian kapsul anterior lensa dibuka. Dari lubang insisi yang kecil tersebut
dimasukan alat yang mampu mengeluarkan getaran ultrasonik yang mampu
memecah lensa menjadi kepingan-kepingan kecil, kemudian dilakukan
aspirasi. Teknik ini bermanfaat pada katarak kongenital, traumatik dan
kebanyakan katarak senilis. Namun kurang efektif untuk katarak senilis yang
padat.
Keuntungan dari metode ini antara lain:
 (Insisi yang dilakukan kecil, dan tidak diperlukan benang untuk menjadhit
karena akan menutup sendiri. Hal ini akan mengurangi resiko terjadinya
astigmatisma, dan rasa adanya benda asing yang menempel setelah
operasi. Hal ini juga akan mencegah peningkatan tekanan intraokuli
selama pembedahan, yang juga mengurangi resiko perdarahan.
 Cepat menyembuh.
 Struktur mata tetap intak, karena insisi yang kecil tidak mempengaruhi
struktur mata.
d) Intraokular Lens (IOL)
Setelah pembedahan, pasien akan mengalami hipermetropi karena kahilangan
kemampuan akomodasi. Maka dari itu dilakukan penggantian dengan lensa
buatan (berupa lensa yang ditanam dalam mata, lensa kontak maupun
kacamata). IOL dapat terbuat dari bahan plastik, silikon maupun akrilik. Untuk
metode fakoemulsifikasi digunakan bahan yang elastis sehingga dapat dilipat
ketika akan dimasukan melalui lubang insisi yang kecil. Untuk menentukan
kekuatan lensa intraokular yang akan diberikan kepada pasien, dapat
digunakan rumus SRK yaitu
P = A – 0.9 K – 2.5 L
Keterangan :
 A (konstanta lensa intraokular, tergantung jenis / merk lensa yang
digunakan)
 K (daya refraksi kornea sentral, diukur dengan keratometer, normalnya
sekitar 43-44 Dioptri)
 L (panjang sumbu bola mata, diukur dengan USG A-Scan mata,
normalnya lebih kurang 24 mm).
7. PROGNOSIS 4,5,12,13
Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan glaukoma, pada
kebanyakan kasus glaukoma dapat dikendalikan. Glaukoma dapat dirawat dengan
obat tetes mata, tablet, operasi laser atau operasi mata. Menurunkan tekanan pada
mata dapat mencegah kerusakan penglihatan lebih lanjut. Oleh karena itu semakin
dini deteksi glaukoma maka akan semakin besar tingkat kesuksesan pencegahan
kerusakan mata. Kontrol tekanan intraokuler yang jelek akan menyebabkan semakin
rusaknya nervus optik dan semakin menurunnya visus sampai terjadinya kebutaan.
Jika TIO tetap terkontrol dan terapi penyebab dasar menghasilkan penurunan TIO,
maka kecil kemugkinannya terjadi kerusakan penglihatan progresif.
BAB III
DAFTAR PUSTAKA

1. Basic and Clinical Science Course, Retina and Vitreous, Section 12, American -Academy
of Ophtalmologi, United State, 1997, page 71-86.
2. Elkington AR, Khaw PT, Petunjuk Penting Kelainan Mata, Buku Kedokteran
EGCJakarta, 1995, hal. 162-165.
3. F. Bandello et al.,2014. Clinical Strategies in the Management of Diabetic Retinopathy,
©Springer-Verlag Berlin Heidelberg
4. Freeman WR, Practical Atlas of Retinal Disease and Therapy, Edition 2,Lippincott-
Raven, Hongkong, 1998, page 199-213.
5. Ilyas S. Ikhtisar Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, hal: 46-47. 2009
6. Fajaru. semua tentang katarak. Fajaru universe. 2008. Available at:
http://kinton.multiply.com/reviews/item/5. Accessed : 15th September 2010
7. Anonymous. Katarak. Menuju Indonesia Sehat. 2009. Available at:
http://www.klikdokter.com/illness/detail/37. Accessed : 15th September 2010.

8. Lang GK. Gareis O, Lang GE, Recker D, Wagner P. Ophthalmology: A pocket textbook
atlas. 2nd ed. New York: Thieme. 2006. pp: 69,70,72
9. Langston D, Manual of Ocular Diagnosis and therapy, Edition 4, Deborah
PavanLangston, United State, 1996, page 162-165.
10. Nema HV, Text book of Opthalmology, Edition 4, Medical publishers, New Delhi,2002,
page 249-251.
11. Yanoff M., Duker J.S.Opthalmology Fouth Edition. Elsevier Saunders. 2014.