Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH MANAGEMENT PATIENT SAFETY

“PENGENALAN ALAT DAN PENGGUNAAN ALAT OPERASI”

OLEH KELOMPOK 2
KIKI HADRYANTI AYU NISA NURAZIZAH
LALE DWI KARTIKA PUTRI. NURAINUN
LALU DEDE ZALUNG AMISENA NURWAHYU NINGSIH
M.FIKRI YADIANSYAH RIANTI PUSPITA.C
MEILYA DWI ASTIKA.P RIZKI AMALIA
M.HARWIAWAN SAFIRA MELANI PUTRI
M.ISA ANSORI SITI ANISA MEGANTARA
M.AOZAI . SYAHRUL RAMDONI
M.ALDY HELIAN.T TANIA HIDAYAT
M.AZMI TRI NIANDA AUGUSMANIA.P
NANA APRILIANI . YUNI LESTARI
NI NYOMAN SUKAWATI ZULKARNAEN

1
Kata Pengantar

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat serta salam semoga dilimpahkan
kepada Rasulullah SAW. Penulis bersyukur atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa
memberikan petunjuk serta melimpahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga makalah
tentang “Mengumpulkan Urine Untuk Pemeriksaan” dapat terselesaikan. Tak lupa kami
ucapkan terima kasih kepada Ibu Mardiatun, M.Kep. selaku dosen mata kuliah
Manajemen patient safety.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen patient safety.
Penulis menyadari dalam proses penyusunan makalah ini tidak lepas dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi
kesempurnaan makalah ini. Terlepas dari kekurangan makalah ini, penulis berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menjadi amal saleh bagi penulis.

Mataram,5 April 2018

Penyusun Makalah

2
DAFTAR ISI
Kata pengantar .................................................................................................... 1
Daftar isi .............................................................................................................. 2
BAB I (Pendahuluan)
A. Latar belakang ........................................................................................ 3
B. Rumusan masalah ................................................................................... 3
C. Tujuan..................................................................................................... 4
BAB II (Pembahasan)

A. Manajement pasien safety diruang operasi ............................................. 5


B. Perawatan peralatan di ruang operasi ...................................................... 7
C. Penyimpanan instrumen ........................................................................ 15
D. Syarat ruang penyimpanan sterilisasi .................................................... 16
BAB III (PENUTUP)
A. Kesimpulan ........................................................................................... 17
B. Saran ..................................................................................................... 17
Daftar pustaka ................................................................................................... 18

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keselamatan pasien dan kualitas pasien adalah jantung dari penyampaian layanan
kesehatan. Untuk setiap pasien, yang merawat, anggota keluarga dan profesional
kesehatan, keselamatan sangat penting untuk penegakan diagnosa, tindakan
kesehatan dan perawatan.
Dokter, perawat dan semua orang yang bekerja di sistem kesehatan berkomitmen
untuk merawat, membantu, menghibur dan merawat pasien dan memiliki
keunggulan dalam penyediaan layanan kesehatan untuk semua orang yang
membutuhkannya. Telah ada investigasi yang signifikan dalam beberapa tahun
terakhir dalam peningkatan layanan, peningkatan kapasitas sistem, perekrutan
profesional yang sangat terlatih dan penyediaan teknologi dan perawatan baru.
Namun sistem kesehatan di seluruh dunia, menghadapi tantangan dalam menangani
praktik yang tidak aman, profesional layanan kesehatan yang tidak kompeten, tata
pemerintahan yang buruk dalam pemberian layanan kesehatan, kesalahan dalam
diagnosis dan perawatan dan ketidakpatuhan terhadap standar (Commission on
Patient Safety & Quality Assurance, 2008).
Mengapa bidang keselamatan pasien ada? Keselamatan pasien sebagai sebuah
disiplin dimulai sebagai tanggapan atas bukti bahwa kejadian medis yang merugikan
tersebar luas dan dapat dicegah, dan seperti disebutkan di atas, bahwa ada "bahaya
yang terlalu banyak"(Emanuel, 2008). Tujuan dari bidang keselamatan pasien adalah
untuk meminimalkan kejadian buruk dan menghilangkan kerusakan yang dapat
dicegah dalam perawatan
kesehatan. Bergantung pada penggunaan istilah "bahaya" seseorang, mungkin
bercita-cita untuk menghilangkan semua bahaya dalam perawatan kesehatan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana manajemen patient safety di ruang operasi ?
2. Bagaimana prosedur penggunaan dan perawatan peralatan ruang operasi ?

4
C. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa dapat mengetahui manajemen patient safety di ruang
2. Mahasiswa dapat mengetahui prosedur penggunaan dan perawatan peralatan
ruang operasi

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Manajemen patient safety di ruang operasi


Surgery safety ceklist WHO merupakan penjabaran dari sepuluh hal penting tersebut
yang diterjemahkan dalam bentuk formulir yang diisi dengan melakukan ceklist.
Ceklist tersebut sudah baku dari WHO yang merupakan alat komunikasi yang praktis
dan sederhana dalam memastikan keselamatan pasien pada tahap preoperative,
intraoperatif dan pasca operatif, dilakukan tepat waktu dan menunjukan manfaat
yang lebih baik bagi keselamatan pasien (WHO 2008).

Surgery Safety Checklist di kamar bedah digunakan melalui 3 tahap, masing-masing


sesuai dengan alur waktu yaitu sebelum induksi anestesi (Sign In), sebelum insisi
kulit (Time Out) dan sebelum mengeluarkan pasien dari ruang operasi (Sign Out)
(WHO 2008) diawali dengan briefing dan diakhiri dengan debriefing menurut
(Nhs,uk 2010). Implementasi Surgery Safety Checklist memerlukan seorang
koordinator untuk bertanggung jawab untuk memeriksa checklist. Koordinator
biasanya seorang perawat atau dokter atau profesional kesehatan lainnya yang
terlibat dalam operasi. Pada setiap fase, koordinator checklist harus diizinkan untuk
mengkonfirmasi bahwa tim telah menyelesaikan tugasnya sebelum melakukan
kegiatan lebih lanjut.Koordinator memastikan setiap tahapan tidak ada yang
terlewati, bila ada yang terlewati , maka akan meminta operasi berhenti sejenak dan
melaksanakan tahapan yang terlewati

1. Fase SignIn

Fase sign In adalah fase sebelum induksi anestesi koordinator secara verbal
memeriksa apakah identitas pasien telah dikonfirmasi, prosedur dan sisi operasi
sudah benar, sisi yang akan dioperasi telah ditandai, persetujuan untuk operasi
telah diberikan, oksimeter pulse pada pasien berfungsi. Koordinator dengan
profesional anestesi mengkonfirmasi risiko pasien apakah pasien ada risiko
kehilangan darah, kesulitan jalan nafas, reaksi alergi.

6
2. Fase Timeout

Fase Time Out adalah fase setiap anggota tim operasi memperkenalkan diri dan
peran masing-masing. Tim operasi memastikan bahwa semua orang di ruang
operasi saling kenal. Sebelum melakukan sayatan pertama pada kulit tim
mengkonfirmasi dengan suara yang keras mereka melakukan operasi yang benar,
pada pasien yang benar. Mereka juga mengkonfirmasi bahwa
antibiotik profilaksis telah diberikan dalam 60 menit sebelumnya.

3. Fase sign out

Fase Sign Out adalah fase tim bedah akan meninjau operasi yang telah dilakukan.
Dilakukan pengecekan kelengkapan spons, penghitungan instrumen, pemberian
label pada spesimen, kerusakan alat atau masalah lain yang perlu ditangani.
Langkah akhir yang dilakukan tim bedah adalah rencana kunci dan memusatkan
perhatian pada manajemen post operasi serta pemulihan sebelum memindahkan
pasien dari kamar operasi (Surgery & Lives, 2008).

Langkah yang dilakukan tim bedah terhadap pasien yang akan di lakukan operasi
untuk meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur pembedahan, mencegah
terjadi kesalahan lokasi operasi, prosedur operasi serta mengurangi komplikasi
kematian akibat pembedahan sesuai dengan sepuluh sasaran dalam safety surgery
(WHO 2008). Yaitu:

1).Tim bedah akan melakukan operasi pada pasien dan lokasi tubuh yang benar.

7
2).Tim bedah akan menggunakan metode yang sudah di kenal untuk mencegah
bahaya dari pengaruh anestresia, pada saat melindungi pasien dari rasa nyeri.

3).Tim bedah mengetahui dan secara efektif mempersiapkan bantuan hidup dari
adanya bahaya kehilangan atau gangguan pernafasan.

4).Tim bedah mengetahui dan secara efektif mempersiapkan adanya resiko


kehilangan darah.

5).Tim bedah menghindari adanya reaksi alergi obat dan mengetahui adanya
resiko alergi obat pada pasien.

6).Tim bedah secara konsisten menggunakan metode yang sudah dikenal untuk
meminimalkan adanya resiko infeksi pada lokasi operasi.

7).Tim bedah mencegah terjadinya tertinggalnya sisa kasa dan instrument pada
luka pembedahan.

8) Tim bedah akan mengidentifikasi secara aman dan akurat, specimen (contoh
bahan) pembedahan.

9).Tim bedah akan berkomunikasi secara efektif dan bertukar informasi tentang
hal-hal penting mengenai pasien untuk melaksanakan pembedahan yang aman.

10). Rumah sakit dan system kesehatan masyarakat akan menetapkan pengawasan
yang rutin dari kapasitas , jumlah dan hasil pembedahan.

B. Prosedur perawatan peralatan di ruang operasi


 Peralatan kamar operasi umumnya terbuat dari stainless steel titanium vitalium
karena tahan panas dan mudah untuk dibersihkan
 Harga Sangat mahal

8
 Memerlukan infestasi yang besar
 Pemeliharaan dan penggunaan instrument yang salah akan menyebabkan
kerusakan
 Mempengaruhi daya tahan dari instrument
 Perawatan/penggunaan yang baik dan benar instrument akan bertahan cukup
lama

1) PENGERTIAN
Suatu proses/usaha yang dilakukan untuk memelihara dan merawat instrument
yang memerlukan kepedulian spesifik, serta pilihan yang selektif dalam
pensucihamaan untuk mencapai proses sterilisasi yang efektif

2) PETUNJUK PERAWATAN INSTRUMEN


a) Gunakan Instrument sesuai dengan fungsinya
b) Pisahkan instrument tajam, halus dengan yang kasar
c) Buat tempat khusus/ beri lapisan waktu sterilisasi
d) Segera bersihkan instrument dari darah, pada permukaan/ celah
e) Jangan biarkan darah mengering padai nstrument
f) Prinsip dasar yang harus dijadikan standarisasi bahwa:Instrumen bedah
diperlakukan sama baik yang berpotensi atau tidak berpotensi HIV AIDS,
HbsAg(+)

3) TAHAP PEMROSESAN
a) Dekontaminasi
b) Pembersihan
c) Pembilasan
d) Pengeringan
e) Lubrication
f) Sterilisasi

9
a) DEKONTAMINASI
Tahap yang pertama dan paling penting dari proses sterilisas.
Suatu Proses melemahkan
microorganisme yang terdapat pada instrumen dengan cara merendam
menggunakan desinfektan dan dianjurkan yang mengandung enzime
Prosedur :
1) Memakai sarung tangan (Lihat SOP Memakai dan
Melepas Handscoen).
2) Menyiapkan bak perendaman yang diisi dengan larutan klorin 0,5
% dengan cara : Mencampur 1 sendok makan kaporit dengan 1 liter
air.

3) Mengaduk larutan sampai terlarut.

4) Memasukkan alat – alat kesehatan yang sudah terpakai dan bisa


digunakan lagi kedalam bak

perendaman dengan cara :


1) Memasukan satu persatu alat kesehatan kedalam bak perendaman
klorin 0,5% dengan korentang.
2) Biarkan selama kurang lebih 10 menit

b) PROSES PEMBERSIHAN
Sesegera mungkin dilakukan setelah instrumen dipakai dengan cara
merendam untuk mencegah cairan, darah dan sisa jaringan mengering pada
instrumen dengan tujuan menghilangkan:
a. Mikroorganisme yang mungkint erinfeks
b. Materi organik dimana mikroorganisme tumbuh dengan pesat.
c. Bahan yang melindungi mikroorganisme selama sterilisasi dan desinfeksi
d. Bahan yang mungkin dapat menonaktifkan proses pembunuhan kuman

10
c) PEMBILASAN
Fungsi Utamanya adalah untuk memastikan semua instrument bersih dari sisa
sisa kotoran dan desinfektan dengan sempurna untuk menghindari terjadinya
korosi pada instrument,

Prosedur pembilasan:
1) Membuka kran air dengan cara memutar searah jarum jam (model kran
bukan putaran) dengan tangan kanan.
2) Mengambil peralatan bekas pakai yang sudah didekontaminasi (hati- hati
bila memegang peralatan yang tajam, seperti gunting dan jarum jahit).
Agar tidak merusak benda – benda yang terbuat dari plastik atau karet,
jangan dicuci secara bersamaan dengan peralatan dari logam atau kaca.
3) Bila memungkinkan gunakan bak perendaman yang berbeda caranya
dengan mengambil satu persatu alkes atau peralatan laboratorium yang
sudah didekontaminasi dengan korentang.
4) Mencuci dengan hati-hati semua benda tajam atau yang terbuat dari kaca
dengan cara :
i. Menggunakan sikat dengan air dan sabun
untuk menghilangkan sisa darah dan kotoran dengan cara menyikat
dengan perlahan, searah dan berulang di bawah air mengalir sampai
sisa darah dan kotoran bersih di semua bgian

ii. Membuka engsel, gunting dan klem dengan cara memutar skrup secara
perlahan ke kiri sampai terlepas. Menyikat dengan seksama terutama
pada bagian sambungan dan sudut peralatan dengan cara : menyikat
dengan perlahan, searah dan berulang-ulang di bawah air mengalir
sampai tidak tampak noda darah atau kotoran.
iii. Memastikan sudah tidak ada sisa darah dan kotoran yang tertinggal
pada peralatan dengan cara melihat dengan membolak balik di bawah
penerangan yang cukup terang.
5) Mengulangi prosedur di atas setiap benda sedikitnya tiga kali ( atau
lebih bila perlu ) dengan air dan sabun atau detergen.
6) Membilas benda- benda tersebut dengan air bersih dengan cara
11
7) Mengambil satu persatu alkes dan peralatan laboratorium.
8) Membilas satu persatu di bawah air mengalir.
9) Mengulangi prosedur tersebut untuk benda- benda lain. Jika peralatan
akan didesinfeksi tingkat tinggi secara kimiawi ( misalkan dalam larutan
klorin 0,5% ), tempatkan peralatan dalam wadah yang bersih dan biarkan
kering sebelum mulai proses (DTT) dengan cara :
a. Menyiapkan baki yang bersih dan kering.
b. Ambil alat satu-persatu sesuai dengan jenisnya ( mis : tabung reaksi
dengan tabung reaksi, beaker glass dengan beaker glass).

10) Peralatan yang akan di desinfeksi tingkat tinggi dengan cara dikukus atau
rebus atau di sterilkan dlm autoclave/oven panas kering, tidak perlu
dikeringkan dulu sebelum proses sterilisasi dimulai
11) Selagi masih menggunakan sarung tangan, cuci sarung tangan dengan
air dan sabun, kemudian bilas dengan seksama menggunakan air bersih
dengan cara :
a. Meletakan tangan yang masih bersarung tangan di bawah air
mengalir.
b. Mengambil sabun.gosokkan kedua tangan dengan sabun sampai

12) Melepas sarung tangan (lihat SOP memasang dan melepas handscoen).
13) Menggantung sarung tangan dan biarkan kering
14) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir (lihat SOP mencuci
tangan)

12
PERHATIAN KHUSUS
Harus membiasakan diri mempelajari petunjuk cara penggunaan dan perawatan
instrument serta assesoris yang telah ditetapkan dari produk.Perawatan
instruman mikro,faber optik,lensa,kabel harus lebih teliti.

Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan instrument


1. Instrument umum
 Tahu nama dan fungsi setiap Instrument-Periksa kondisi
instrumen dengan melakukan pengetesan (kunci-kunci, ujung -
ujung, kelurusan)
 Penempatan secara benar
 Pemisahan dan pembersihan

2. Instrument Micro
 Penyusunan
 Kelurusan-Lindungi ujung-jungnya

3. Instrumen lensa
 Cara memegang
 Hindari penanganan kasar
 Hindari pelipatan
 ditekuk pada fiber optic
 Pastikan kondisi fiber optic dan lensa baik

4. Instrumen dengan tenaga udara


 Ikuti petunjukdari pabrik→ perawatan dan sterilisasi

5. Instrumen Tenaga Listrik


 Pastikan switch dalam posisi “OFF”
 Jauhkan alat dari obat
13
 obat anestesi -Jangan direndam-Ikuti pentunjuk : penggunaan

6. Telescope
 Bersihkan ujung depan lensa dan bagian belakang eyepiece
 Bersihkan bagian masuknya light source
 Bersihkan tabung lensa
 Perhatikan distorsi mekanik (bengkok)
 Lihat melalui telescope: Lapang pandang, Kejernihan

Sterilisasi Instrument

A. STERILISASI PANAS KERING ( OVEN )


1. Membuka pintu oven dan meletakkan alat-alat yang akan disterilisasi dengan
rapi. Bila memungkinkan letakkan dalam nampan sesuai dengan klasifikasi
penggunaannya ( misal : heacting set, partus set, THT set dan lain-lain )
dengan cara : Menyusun alat yang akan disterilkan dalam bak instrument
tertutup dengan posisi yang sama (searah).
 Memasukkan bak instrumen yang telah disusun ke dalam oven.

 Menutup pintu oven dengan cara : Memastikan semua peralatan sudah


masuk dengan benar. Menutup pintu oven dengan rapat.
 Tunggu sampai suhu mencapai 1700 C dan biarkan selama 60 menit.

 Setelah selesai, tunggu sampai suhu turun, buka pintu oven, keluarkan
alat-alat yang sudah steril dengan menggunakan korentang steril dengan
cara : Menunggu sekitar 15 menit setelah lampu indikator mati,
membuka pintu oven pelan-pelan, mengeluarkan alat yang telah
disterilkan dengan korentang.
 Untuk mendinginkan peralatan steril dilarang membuka bungkus atau
tutupnya.

B. STERILISASI MENGGUNAKAN AUTOCLOVE


14
 Menuangkan air suling secukupnya ke dalam autoclave.
 Menuang air suling sampai batas tertentu ke dalam autoclave.
 Menata tabung reaksi atau peralatan gelas lain di dalam wadah aluminium
bagian dalam sedemikian rupa hingga tersedia ruangan untuk bergeraknya
uap air secara bebas diantara alat-alat selama sterilisasi, letakkan wadah ke
dalam autoclave dengan cara : tabung reaksi diambil satu-persatu dengan
korentang, kemudian disusun di dalam wadah alumunium yang udah
terdapat di dalam autoclave dengan jarak minimal 0,5 cm dengan alat yang
lain.
 Meletakkan tutup sterilisator pada tubuh sterilisator dan meletakkan baut-
baut penahan ke atas tempat yang sesuai dengan tutup sterilisator, kemudian
kencangkan masing-masing murnya secara bersama pada tempat yang
berlawanan dengan cara : memutar baut pada sudut yang bersilangan dan
diputar kearah kanan, baru pada dua baut pada sisi sebelahnya kearah
kanan sampai erat dan tidak bisa diputar lagi
 Membuka pengatur klep pengaman, dalam keadaan terbuka penahan tersebut
letaknya lurus. Pasang pemanasnya. Uap yang terbentuk pada dasar
sterilisator akan mengalir ke atas di seputar wadah bagian dalam dan
kemudian ke bawah diantara labu-labu dan tabung-tabung ke dasar wadah,
memaksa keluarnya udara dari dasar ke atas melalui tabung pengeluran
fleksibel dan klep pengaman.
 Bila uap air mulai keluar dengan deras ( menimbulkan bunyi mendesis )
tutuplah klep pengaman dengan cara mendorong pengaturnya ke bawah
sehingga posisinya mendatar. Tekanan dalam sterilisator akan naik dan dapat
dibaca pada alat pengukur tekanan.

 Mempertahankan tekanan pada suhu 1210C, dengan cara mengurangi


pemanasan seperlunya untuk mempertahankan tekanan tersebut dengan
cara : mengecek tekanan dan suhu pada alat penunjuk suhu dan tekanan.
 Menyeterilkan media dan peralatan dengan cara mempertahankan tekanan
1 atm selama 15-20 menit dengan cara : membiarkan alat bekerja selama
15-20 menit sambil terus diawasi pada tekanan 1 atm.
 Mengawasi tekanan selama proses sterilisasi dengan cara : mengawasi
angka yang tertera pada penunjuk tekanan.
15
 Mematikan pemanasan dan tunggulah sampai tekanan kembali nol. dengan
cara : mematikan alat dengan cara mencabut steker listrik dan
mendiamkannya selama 15 menit sambil dibuka penutupnya.
 Bila alat penunjuk tekanan sudah mencapai nol dan suhu telah turun sampai
jauh di bawah 1000C, bukalah pengatur klep pengaman dengan cara
meluruskannya untuk mengeluarkan sisa uap yang tertinggal di dalam.
Kendurkan mur, lepaskan baut -bautnya dan angkat tutupnya.
 Membuang air yang tersisa di dalam sterilisator dan keringkan baik- baik
semua bagiannya dengan cara : menunggu sampai alatnya dingin kemudian
membersihkan air yang tersisa sebanyak kurang lebih 1 cm dengan lap
yang bersih sampai kering.

C. Penyimapanan Istrument

1. Alat yang sudah disteril dikeluarkan dari autoclave atau sterilisasi panas
kering.
2. Kemudian alat steril tersebut dimasukkan ke dalam lemari kaca di ruang
penyimpanan alat steril sesuai dengan tempat set yang sudah disediakan.
Kassa dimasukkan ke dalam lemari kassa, tromol di simpan dimeja
instrumen.
3. Setiap hari alat dicek tanggal kadaluarsanya jika sudah melewati
tanggal kadaluarsa alat disterilkan kembali.
4. Pintu lemari/ruang steril harus selalu dalam keadaan tertutup
5. Petugas yang tidak berkepentingan tidak diperkenankan masuk pada
daerah alat-alat steril

6. Catatan : Suhu ruangan 18°C – 22°C, Kelembaban 35 % - 75 % dan


tekanan udara ruangan positif.

16
D. Syarat ruang penyimpanan sterilisasi
1. Penerangan harus memadai
2. Suhu antara 18ºC - 22ºC dan Kelembaban 35% - 75%
3. Dinding dan lantai ruangan terbuat dari bahan yang halus, kuat sehingga
mudah dibersihkan.
4. Item steril disimpan pada jarak 19 – 24 cm dari lantaidan minimum 43 cm dari
langit-langit serta 5 cm daridinding.
5. Lokasi ruang penyimpanan steril harus jauh dari lalulintasutama, jendela
/pintu sesedikit mungkin dan terisolasi.
6. Cek tiap hari batas waktu sterilisasi.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keselamatan pasien adalah proses dalam suatu rumah sakit yang memberikan
pelayanan pasien secara aman. Proses tersebut meliputi pengkajian mengenai
resiko, identifikasi, manajemen resiko terhadap pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan untuk belajar dan menindaklanjuti insiden, dan menerapkan
solusi untuk mengurangi serta meminimalisir timbulnya risiko. Pelayanan
kesehatan yang diberikan tenaga medis kepada pasien mengacu kepada tujuh
standar pelayanan pasien rumah sakit yang meliputi hak pasien, mendididik pasien
dan keluarga, keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan, penggunaan
metode- metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien, peran kepemimpinan dalam meningkatkan
keselamatan pasien, mendidik staf tentang keselamatan pasien, dan komunikasi
merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien. Selain mengacu
pada tujuh standar pelayanan tersebut, keselamatan pasien juga dilindungi oleh
undang-undang kesehatan sebagaimana yang diatur dalam UU Kesehatan No. 36
tahun 2009 serta UU Rumah Sakit No. 44 tahun 2009.

B. Saran
Sebagai tenaga kesehatan kita wajib melakukan tindakan dengan baik dan benar
sesuai standar pelayanan kesehatan pada pasien, sehingga akan terjamin
keselamatan pasien dari segala aspek tindakan yang kita berikan.
DAFTAR PUSTAKA

http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/44185/9789241598552_eng.pdf;jsessioni
d=8343A7E3D0BE99E601F656AB81D32D21?sequence=1

https://www.scribd.com/document/329724802/Pemeliharaan-Dan-Perawatan-Instrumen-
kamar-operasi

https://www.kompasiana.com/090901/553009a56ea8347b108b4594/surgery-safety-
checklist-sebagai-sistem-informasi-dalam-upaya-keselamatan-pasien-di-kamar-bedah