Anda di halaman 1dari 4

II.

1 Geologi Regional Daerah

Secara geografis, wilayah Jepara, Propinsi Jawa Tengah terletak pada Jepara sebagai salah satu
kabupaten di Jawa Tengah terletak pada 110°9`48, 02" sampai 110°58`37,40" Bujur Timur, 5°43`20,67"
sampai 6°47`25, 83" Lintang Selatan

Dengan batas-batas :

Sebelah Barat : Laut Jawa

Sebelah Utara : Laut Jawa

Sebelah Timur : Kabupaten Kudus & Pat

Sebelah Selatan : Kabupaten Demak

Jarak terdekat dari ibukota kabupaten adalah Kecamatan Tahunan yaitu 7 km dan jarak terjauh adalah
Kecamatan Karimunjawa yaitu 90 km Wilayah Kabupaten Jepara sebagaimana daerah lainnya di
Indonesia beriklim tropis, terdiri dari musim kemarau dan musim hujan yang silih bergant sepanjang
tahun. Besar rata-rata jumlah curah hujan tahunan wilayah Jepara utara adalah 2000 - 2500 mm/tahun
dan Jepara bagian selatan antara 2500 - 3000 mm/tahun. Sedangkan curah hujan rata-rata per bulan
berdasarkan data dari tahun 1994 - 1998 berkisar antara 58 - 338 mm/bulan, curah hujan tertnggi
terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April dengan curah hujan antara 176-338 mm/bulan,
sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei sampai bulan September dengan curah hujan
antara 58 - 131 mm/bulan.

A. Morfologi Daerah Jepara

Morfologi daerah Jepara berdasarkan pada bentuk topografi dan kemiringan lerengnya dapat dibagi
menjadi 7 (tujuh) satuan morfologi yaitu:

a. Dataran

Merupakan daerah dataran aluvial pantai dan sungai. daerah bagian barat daya merupakan punggungan
lereng perbukitan, bentuk lereng umumnya datar hingga sangat landai dengan kemiringan lereng medan
antara 0 - 5% (0-3%), ketnggian tempat di bagian utara antara 0 - 25 m dpl dan di bagian barat daya
ketnggiannya antara 225 - 275 m dpl. Luas penyebaran sekitar 164,9 km2 (42,36%) dari seluruh daerah
Jepara.

b. Daerah Bergelombang

Satuan morfologi ini umumnya merupakan punggungan, kaki bukit dan lembah sungai, mempunyai
bentuk permukaan bergelombang halus dengan kemiringan lereng medan 5 - 10% (3-9%), ketnggian
tempat antara 25 - 200 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 68,09 km2. (17,36%) dari seluruh daerah
Jepara.

c. Perbukitan Berlereng Landai


Satuan morfologi ini merupakan kaki dan punggungan perbukitan, mempunyai bentuk permukaan
bergelombang landai dengan kemiringan lereng 10 - 15 % dengan ketnggian wilayah 25 - 435 m dpl.
Luas penyebaran sekitar 73,31 km2 (18,84%) dari seluruh daerah Jepara.

d. Perbukitan Berlereng Agak Terjal

Satuan morfologi ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang agak terjal,
mempunyai kemiringan lereng antara 15 - 30%, ketnggian tempat antara 25 - 445 m dpl. Luas
penyebarannya sekitar 57,91Km2 (14,8%) dari seluruh daerah Jepara.

e. Perbukitan Berlereng Terjal

Satuan morfologi ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang terjal, mempunyai
kemiringan lereng antara 30 - 50%, ketnggian tempat antara 40 - 325 m dpl. Luas penyebarannya sekitar
17,47 Km2 (4,47%) dari seluruh daerah Jepara.

f. Perbukitan Berlereng Sangat Terjal

Satuan morfologi ini merupakan lereng bukit dan tebing sungai dengan lereng yang sangat terjal,
mempunyai kemiringan lereng antara 50 - 70%, ketnggian tempat antara 45 - 165 m dpl. Luas
penyebarannya sekitar 2,26 Km2 (0,58%) dari seluruh daerah Jepara.

g. Perbukitan Berlereng Curam

Satuan morfologi ini umumnya merupakan tebing sungai dengan lereng yang curam, mempunyai
kemiringan >70%, ketnggian tempat antara 100 - 300 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 6,45 Km2
(1,65%) dari seluruh daerah Jepara.

B. Tata Guna Lahan

Penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Jepara terdiri dari wilayah terbangun (Build Up Area) yang
terdiri dari pemukiman, perkantoran perdagangan dan jasa, kawasan industri, transportasi. Sedangkan
wilayah tak terbangun terdiri dari tambak, pertanian, dan kawasan perkebunan serta konservasi.

C. Susunan Stratgrafi

Geologi Kota Jepara berdasarkan Peta Geologi Lembar Magelang - Jepara (RE. Thaden, dkk; 1996),
susunan stratgrafinya adalah sebagai berikut :

1. Aluvium
Merupakan endapan aluvium pantai, sungai dan danau. Endapan pantai litologinya terdiri dari lempung,
lanau dan pasir dan campuran diantaranya mencapai ketebalan 50 m atau lebih. Endapan sungai dan
danau terdiri dari kerikil, kerakal, pasir dan lanau dengan tebal 1 - 3 m. Bongkah tersusun andesit, batu
lempung dan sedikit batu pasir.

2. Batuan Gunung Api

Batuannya berupa lava basalt, berwarna abu-abu kehitaman, halus, komposisi mineral terdiri dari felspar,
olivin dan augit, sangat keras.

3. Formasi Jongkong

Breksi andesit hornblende augit dan aliran lava, sebelumnya disebut batuan gunungapi Ungaran Lama.
Breksi andesit berwarna coklat kehitaman, komponen berukuran 1 - 50 cm, menyudut - membundar
tanggung dengan masa dasar tufaan, posositas sedang, kompak dan keras. Aliran lava berwarna abu-abu
tua, berbutr halus, setempat memperlihatkan struktur vesikuler (berongga).

4. Formasi Damar

Batuannya terdiri dari batu pasir tufaan, konglomerat, dan breksi volkanik. Batu pasir tufaan berwarna
kuning kecoklatan berbutr halus - kasar, komposisi terdiri dari mineral mafik, felspar, dan kuarsa dengan
masa dasar tufaan, porositas sedang, keras. Konglomerat berwarna kuning kecoklatan hingga kehitaman,
komponen terdiri dari andesit, basalt, batuapung, berukuran 0,5 - 5 cm, membundar tanggung hingga
membundar baik, agak rapuh. Breksi volkanik mungkin diendapkan sebagai lahar, berwarna abu-abu
kehitaman, komponen terdiri dari andesit dan basalt, berukuran 1 - 20 cm, menyudut membundar
tanggung, agak keras.

5. Formasi Kaligetas

Batuannya terdiri dari breksi dan lahar dengan sisipan lava dan tuf halus sampai kasar, setempat di
bagian bawahnya ditemukan batu lempung mengandung moluska dan batu pasir tufaan. Breksi dan lahar
berwarna coklat kehitaman, dengan komponen berupa andesit, basalt, batuapung dengan masa dasar
tufa, komponen umumnya menyudut - menyudut tanggung, porositas sedang hingga tnggi, breksi
bersifat keras dan kompak, sedangkan lahar agak rapuh. Lava berwarna hitam kelabu, keras dan kompak.
Tufa berwarna kuning keputhan, halus - kasar, porositas tnggi, getas. Batu lempung, berwarna hijau,
porositas rendah, agak keras dalam keadaan kering dan mudah hancur dalam keadaan basah. Batu pasir
tufaan, coklat kekuningan, halus - sedang, porositas sedang, agak keras.

6. Formasi Kalibeng

Batuannya terdiri dari napal, batupasir tufaan dan batu gamping. Napal berwarna abu-abu kehijauan
hingga kehitaman, komposisi terdiri dari mineral lempung dan semen karbonat, porositas rendah hingga
kedap air, agak keras dalam keadaan kering dan mudah hancur dalam keadaan basah. Pada napal ini
setempat mengandung karbon (bahan organik). Batupasir tufaan kuning kehitaman, halus - kasar,
porositas sedang, agak keras, Batu gamping merupakan lensa dalam napal, berwarna puth kelabu, keras
dan kompak.

7. Formasi Kerek

Perselingan batu lempung, napal, batu pasir tufaan, konglomerat, breksi volkanik dan batu gamping.
Batu lempung kelabu muda - tua, gampingan, sebagian bersisipan dengan batu lanau atau batu pasir,
mengandung fosil foram, moluska dan koral-koral koloni.

D. Struktur Geologi

Struktur geologi yang terdapat di daerah Jepara umumnya berupa sesar yang terdiri dari sesar normal,
sesar geser dan sesar naik. Sesar normal relatf berarah barat tmur sebagian agak cembung ke arah
utara, sesar geser berarah utara selatan hingga barat laut - tenggara, sedangkan sesar normal relatf
berarah barat - tmur. Sesar-sesar tersebut umumnya terjadi pada batuan Formasi Kerek, Formasi
Kalibening dan Formasi Damar yang berumur kuarter dan tersier.