Anda di halaman 1dari 15

Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

Elastisitas Hukum Nikah


dalam Perspektif Hadits
I. Pendahuluan
Oleh : Ridwan Hasbi
Pernikahan merupakan ikatan lahir batin Nikah merupakan satu sunnah (ajaran)
antara dua orang hamba Allah yang Rasulullah SAW yang sangat
berlainan jenis, dengan tujuan membentuk dianjurkannya, sampai beliau mengatakan
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan “orang yang tidak mau menikah dengan
untuk selamanya. Pernikahan adalah salah tanpa alasan yang Syar`i, dimasukkan
satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu kedalam kategori bukan dari pengikutnya”.
dijaga oleh kedua belah pihak, baik suami Kalau begitu posisi dari anjuran Rasulullah
maupun istri. Penyatuan ikatan batin antara SAW dan larangan Tabattul (membujang)
dua hamba yang berlainan jenis tersebut menjadikan pernikahan sebagai salah satu
sangat memerlukan kematangan dan tanda beriman kepadanya, dan bahkan
persiapan fisik dan mental karena menikah dapat menjadi salah satu upaya untuk
adalah sesuatu yang sakral dan dapat menyempurnakan iman. Hukum nikah
menentukan jalan hidup seseorang.1 disaat mengacu pada hadits Nabi tidak
Penyatuan dua hamba yang berlainan menunjukkan pada satu ketetapan hukum,
jenis bukan sekedar duduk dipelaminan. sehingga membuat nikah elastis pada
Tetapi Allah menetapkan suatu ikatan suci, wajib, sunat, mubah, makruh dan haram
yaitu akad nikah. Dengan dua kalimat yang dalam ketetapan hukum.
sederhana “Ijab dan Qabul” terjadilah
perubahan besar, yang haram menjadi halal, Keyword : Nikah dan Hadits
yang maksiat menjadi ibadat, kekejian
menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi
tanggung jawab. Maka nafsu pun berubah saling mencintai karena Allah, akad untuk
menjadi cinta dan kasih sayang. saling menghormati dan menghargai, akad
Akad nikah bukanlah sekedar kata-kata untuk saling menerima apa adanya, akad
yang terucap dari mulut laki-laki, atau untuk saling menguatkan keimanan, akad
sekadar formalitas untuk mensahkan untuk saling membantu dan meringankan
hubungan suami istri, ataupun adat yang beban, akad untuk saling menasehati, akad
menjadi kebiasaan dalam pernikahan. Akad untuk setia kepada pasangannya dalam suka
nikah adalah sebuah perjanjian sakral yang dan duka, dalam kefakiran dan kekayaan,
ikatannya amat kokoh dan kuat. Perjanjian dalam sakit dan sehat.
agung menyebabkan halalnya kehormatan Pernikahan berarti akad untuk meniti
diri untuk dinikmati pihak lainnya. Perjanjian hari-hari dalam kebersamaan, akad untuk
kokoh yang tidak boleh diciderai dengan saling melindungi, akad untuk saling
ucapan dan perbuatan yang menyimpang memberikan rasa aman, akad untuk saling
dari hakikat perjanjian itu sendiri. mempercayai, akad untuk saling menutupi
Pernikahan juga akad untuk aib, akad untuk saling mencurahkan
meninggalkan kemaksiatan, akad untuk perasaan, akad untuk berlomba menunaikan

JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011 23


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

kewajiban, akad untuk saling memaafkan majazinya adalah akad. (3). Nikah
kesalahan, akad untuk tidak menyimpan merupakan gabungan antara akad dan
dendam dan kemarahan, akad untuk tidak setubuh. (4). Nikah bermakna menghimpun
mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan (dhammu) secara mutlak, sedangkan
dan kesalahan. setubuh adalah bagian dari menghimpun.3
Tegasnya pernikahan adalah akad untuk Melihat perbedaan diatas, penulis
tidak melakukan pelanggaran, akad untuk menyimpulkan bahwa para ulama
tidak saling menyakiti hati dan perasaan, sependapat bahwa nikah adalah akad yang
akad untuk tidak saling menyakiti badan, diatur oleh agama untuk memberikan
akad untuk lembut dalam perkataan, kepada laki-laki hak memiliki penggunaan
santun dalam pergaulan, akad untuk indah faraj (kemaluan) perempuan dan seluruh
dalam penampilan, akad untuk mesra tubuhnya untuk berhubungan badan.
dalam mengungkapkan keinginan, akad Pemahaman para ulama dalam
untuk saling mengembangkan potensi diri, pengertian nikah antara hakiki dan majazi
akad untuk adanya keterbukaan yang pada akad dan jima‘, memberi pengaruh
meleg akan, akad untuk saling pada pengertian pernikahan secara
menumpahkan kasih sayang, akad untuk terminologi. Untuk mempermudah kita
saling merindukan, akad untuk tidak dalam memahami istilah nikah antara para
adanya pemaksaan kehendak, akad untuk fuqaha, maka dapat dilihat dibawah ini:
tidak saling membiarkan, akad untuk tidak 1. Menurut Hanafiah4, nikah adalah:
saling meninggalkan.

II. Defenisi dan Hakekat Nikah Akad yang disengaja dengan tujuan
mendapatkan kesenangan
Lafaz nikah berasal dari bahasa Arab,
secara etimologi berarti: al-Dhammu dan al- 2. Menurut Syafi‘iyah5, nikah adalah:
jam‘u, juga al-Iqtiran dan al-Izdiwaj. Dalam
kamus Mukhtar al-Shahhah2 antara lafaz
zuwaj dengan nikah adalah satu makna. Akad yang mengandung maksud untuk
Nikah merupakan ungkapan terhadap al- memiliki kesenangan (watha’) disertai lafadz
‘Aqdu (berakad), jima‘ (bersetubuh) dan al- nikah atau yang semakna.
Istimta‘ (bersenang-senang). Lafaz nikah dan
zuwaj merupakan kata yang menunjukan arti: 3. Menurut Malikiyah6, nikah adalah:
bersatunya dua perkara atau ruh dan badan
untuk kebangkitan.
Realisasi dari makna nikah antara arti Akad yang semata-mata untuk mendapatkan
hakiki dan majazi: setubuh (watha‘) dan akad kesenangan dengan sesama manusia.
(‘a‘qdu) yang menghalalkan hubungan
kelamin antara dua orang hamba Allah yang 4. Menurut Hanabilah7, nikah adalah:
berlainan jenis. Dalam hal ini, terdapat
perbedaan realisasi nikah dengan empat
pendapat; (1). Hakekat nikah adalah akad
dan majazinya adalah bersetubuh. (2). Akad dengan lafadz nikah atau kawin untuk
Hakekat nikah adalah bersetubuh dan mendapatkan manfaat bersenang-senang.

24 JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

Dari beberapa terminology diatas, yang A‘masy dari ‘Umarah ibn ‘Umair dari
jelas bahwa pernikahan merupakan Abdurrahman ibn Yazid dari Abdullah
kebolehan hukum antara seorang laki-laki Ibn Mas‘ud RA berkata: Bahwa
dan seorang perempuan untuk melakukan Rasulullah SAW bersabda pada kami:
pergaulan yang semula dilarang. Kebolehan “Wahai para pemuda, siapa di
itu dimulai dari akad yang menghalalkan antara kalian yang mampu
pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban menikah (jima’ dan biayanya)
serta bertolong-tolongan antara seorang maka nikahlah, karena ia lebih
laki-laki dan perempuan. dapat membuatmu menahan
Dalam undang-undang Republik pandangan dan memelihara
Indonesia Nomor 1 tahun 1974 Bab I Pasal 1: kemaluan. Barangsiapa tidak
Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara mampu menikah maka
seorang pria dengan seorang wanita sebagai berpuasalah, karena hal itu
suami istri dengan tujuan membentuk keluarga baginya adalah pelemah
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal syahwat.” (HR. Muttafaq ‘alaih)10
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.8
Hadits ini dalam riwayat Bukhari
III. Hadits-hadits Nabawi Tentang bab puasa no.1, bab nikah no.2 dan 3,
Dasar Nikah riwayat Muslim dalam bab nikah no.1
dan 3, riwayat Daud bab nikah no.1,
1. Hadits dan Kedudukannya riwayat al-Nasa‘I bab puasa no.43 dan
Dalam makalah ini ditetapkan tiga bab nikah no.3, riwayat Ibnu Majah bab
hadits Nabawi yang dijadikan acuan nikah no.1, riwayat Daruqutni bab nikah
pada pembahasan hukum nikah, serta no.2, riwayat Imam Ahmad no.1, 278,
ditambah dengan syahidnya. Hadits- 434, 425, 422, dan 447.11 Jalur sanad
hadits tersebut diambil dari kitab hadits diatas berjumlah tujuh orang,
Bulughul Maram9 nomor hadits 993, yaitu: Abu Bakar ibn Abi Syaibah, Abu
994 dan 995 sebagai landasan awal Kuraib, Abu Mu‘awiyah, al-A‘masy,
dengan merujuk kepada perawi- ‘Imarah ibn ‘Umair, Abdullah al-
perawinya dalam kitab aslinya. Rahman ibn Yazid dan Abdullah ibn
Pertama: Hadits Tentang Mas‘ud. Uraian takhrij hadits secara rinci
Anjuran Menikah sebagaiberikut:
a. Abu Bakar ibn Abi Syaibah
(w.235 H)
Nama lengkapnya: Abdullah
ibn Muhammad ibn Abi Syaiban
Ibrahim. Kunyah-nya: Abu Bakar
dan laqab-nya: al-‘Abas Maulahum
al-Hafiz al-Kafy. Dia wafat pada
tahun 235 H. Ia meriwayatkan
hadits dari guru-gurunya, antara lain
Telah mengabarkan Abu Bakar ibn Abi adalah Abu Kuraib. Dan para murid
Syaibah dan Abu Kuraib berkata telah yang meriwayatkan darinya adalah
mengabarkan Abu Mu‘awiyah dari al- Imam al-Bukhari, Imam Muslim,

JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011 25


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

Abu Daud, Nasa‘I dan Ibnu Majah. mengatakan lemah, namun penilain
Para ulama hadits menilai Abu yang sangat dominan adalah dapat
Bakar ibn Abi Syaibah adalah diambil periwayatannya.
seorang yang ahli ilmu, tsiqqah, dan
hafiz. Penilaian ini disampaikan oleh c. Abu Mu‘awiyah (w. 195)
Yahya al-Harami, Ahmad Abu Nama lengkapnya adalah
Bakar, dan al-Ijli. Sedangkan Ibnu Muhammad bin Khazim al-Tamimi
Hibban menilai ia dhaif sebab al-Sa‘di, Abu Mu‘awiyah al-Dharir
kadang-kadang ia salah dalam al-Kufi. Beliau meninggal dunia
meriwayatkan hadits.12 pada tahun 195 H. Periwayatan
Bila dibandingkan antara yang hadits yang dia lakukan berasal dari
mentajrih dengan yang menta‘dilkan guru-gurunya, diantaranya: ‘Asim al-
nya lebih banyak yang menta‘dilkan. Ahwal, Abu Malik al-Asyja‘i, Sa‘id,
Dalam hal ini penulis menyimpul al-A‘masy, Dawud bin Abu Hindi,
kan bahwa beliau adalah dapat Ja‘far bin Barqain, Suhail bin Abu
diterima periwayatannya dengan Shalih, Abu Sufyan al-Sa‘di.
kategori tsiqqah. Sedangkan murid-muridnya
antara lain: Ibrahim, Ibn Juraij,
b. Abu Kuraib (w. 248) Yahya al-Qattan, Ahmad bin
Nama lengkapnya: Muhammad Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abu
bin ‘Ala‘ bin Kuraib al-Hamdani, Kuraib, Muhammad bin Salam al-
atau Abu Kuraib al-Kufi al-Hafiz. Baikandi, Muhammad bin Abdullah
Dia meninggal dunia pada tahun 248 bin Numair.
H. Dalam periwayatan hadits terdapat Pernyataan para kritikus hadis
guru-gurunya, antara lain: ‘Abdullah tentang dirinya: Mu‘awiyah bin
bin Idris, Hafs bin Qiyas, Abu Bakkar Slahih: Dia adalah sahabat al-A‘masy
bin ‘Ayyas, Hasyim, Ibn al- Mubarak, yang paling kokoh, Ibnul Kharasy:
Abu Mu‘awiyah al-Dharir, Waki‘, Dia adalahs haduq dan Ibn Hibban:
Muhammad bin Basyar al-Aqdi. Dia orang yang hafidh lagi teliti.14
Sedangkan murid-murid yang Melihat dari hasil penilain
meriwayatkan hadits darinya antara terhadap diri Abu Mu‘awiyah, maka
lain: Jama‘ah, Abu Hatim, Abu penulis menyimpulkan bahwa
Zur‘ah, ‘Usman bin Khazraj, periwayatannya dapat diterima.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal.
Para ulama menilai Abu Kuraib d. Al-A‘masy (w. 148 )
dengan mengacu pada pernyataan Nama lengkapnya Sulaiman ibn
dari Ibnu Abi Hatim: Abu Kuraib Mihran al-Asady al-Kahily,
adalah seorang yang shaduq, meninggal dunia pada tahun 148 H.
Marrah mengatakan Abu Kuraib Periwayatan hadits dari gurunya
adalah tsiqah dan Abu ‘Amr antara lain: ‘Umarah ibn ‘Umair dan
mengatakan bahwa Abu Kuraib muridnya adalah Abu Mu‘awiyah. Ia
sebagai Di‘afadh.13 seorang yang tsiqah, namun masyhur
Bila dilihat dari penilaian diatas dalam tadliis. Di sini ia membawakan
ternyata Abu kuraib ada yang dengan ‘an’anah. Ibnu Hajar

26 JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

memasukkannya dalam thabaqah nakh‘I, meninggal dunia pada


kedua. Abul-Fath Al-Azdiy berkata perang Jamajim tahun 83 H.
: “Dan orang yang melakukan tadlis Periwayatan hadits dari gurunya
dari orang yang tidak tsiqah, maka diantara lain adalah Abdulllah ibn
tidak diterima haditsnya tersebut Mas‘ud, sedangkan muridnya antara
jika ia memursalkannya (yaitu lain: ‘Umarah ibn ‘Umair.
dengan shighah riwayat : ‘an) hingga Penilaian para kritikus hadits
ia berkata : haddatsanii (telah terhadapnya: Ibnu Mu‘in: tsiqqah,
menceritakan kepadaku) Fulaan, Ibnu sa‘ad: Tsiqqah, dan Ibnu
atau sami’tu (aku telah mendengar). Hibban: Tsiqqah.17
…… Maka, kami tidak menerima Bila diperhatikan tentang
tadlis Al-A’masy karena ia penilaian para kritikus hadits
melewatkan (mengugurkan) para menjelaskan pada kita perawi hadits
perawi yang tidak tsiqah.15 ini benar dan dapat diterima
Bila diperhatikan kritikan yang periwayatannya dengan posisi
dikemukan pada al-A‘masy tsiqqah.
merupakan memposiskannya pada Dengan memperhatikan sanad
posisi yang kedua bukan pertama, hadits diatas, dapat diketahui bahwa
namun periwayatannya tetap diterima. sanadnya adalah muttasil
(bersambung) mulai dari awal
e. ‘Umarah ibn ‘Umair (w. 82 H) sampai akhir. Setiap rawi hadits
Nama lengkapnya adalah tersebut antara satu dengan yang
‘Umarah ibn Umar al-Taimy, lain saling bertemu dan saling
meninggal dunia pada tahun 82 H menerima hadits secara langsung,
masa khalifah Sulaiman ibn Abdul hal ini dapat dilihat dari tahun wafat
malik. Periwayatan hadits dari mereka yang dalam analisa penulis
gurunya antara lain adalah Abdur memungkin mereka berguru satu
rahman ibn Yazid al-Nakh‘I, dengan lainnya.
sedangkan murid yang meriwayatkan Disamping sanad hadits
hadits darinya antara lain: al-‘Amasy. tersebut muttasil, juga kwalitas
Para kritikus hadits menilainya: hadits pada posisi yang dapat
Abdullah ibn Ahmad mengatakan diterima sebagai landasan hukum.
tsiqqah, sedangkan Ibnu Mu‘in, Hal ini didasarkan pada penilaian
Abu Hatim dan al-Nasa‘I para kritikus hadits yang rata-rata
mengatakan tsiqqah juga.16 mengatakan tsiqqah. Maka dapat
Menurut penulis penilaian yang disimpulkan bahwa hadits tersebut
disampaikan para kritikus hadits shaheh dan dapat dijadikan hujjah.
diatas menjelaskan pada kita bahwa
‘Umarah ibn Umair seorang yang Kedua: Hadits Tentang Nikah
tsiqqah. sebagai sunnah Nabi

f. Abdur Rahman ibn Yazid (w. 83 H)


Nama lengkapnya adalah Abdur
Rahman ibn Yazid ibn Qais al-

JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011 27


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

al-‘Abdy al-Qaisiy. Kunyah-nya Abu


Bakar dan meninggal dunia pada
tahun 240 H. Periwayatan hadits
dari gurunya antara lain: Bahz ibn
Asad, sedangkan muridnya antara
lain: Muslim, al-Turmuzi dan al-
Nasai.
Ibnu Hajar al-Asqalani
mengatakan bahwa Muslim
Telah mengabarkan saya Abu Bakar ibn meriwayatkan hadits darinya
Nafi‘ al-‘Abdy, telah mengabarkan kami sebanyak 54 hadits.20
Bahz, telah mengabarkan kami Dalam kitab Tahzib al-Tahzib
Hammad ibn Salamah dari Tsabit dari tidak ada penilain dari para kritikus
Anas bahwa ada beberapa orang dari hadits terhadapnya, namun
sahabat Nabi bertanya kepada istri Nabi pernyataan Ibnu Hajar al-Asqalani
tentang amalannya saat sendirian, Maka diatas dapat dijadikan acuan bawa
berkata sebagian mereka: “Saya tidak Abu baker ibn Nafi dapat diterima
akan menikahi perempuan”, sebagian periwayatannya.
lain berkata: “Saya tidak akan makan
daging”, Sebagian lain berkata: “Saya b. Bahz (w. 197 H)
tidak akan tidur atas kasur”. Lalu Nama lengkapnya adalah Bahz
Rasulullah SAW bertahmid dan memuji ibn Asad al-‘any Abu al-Aswad al-
Allah lalu beliau bersabda: “Bagaimana bashri, meninggal dunia pada tahun
keadaan orang-orang ini berkata begini 197 H. Periwayatan hadits dari
begitu, Akan tetapi aku shalat,tidur, gurunya antara lain: Hammad ibn
puasa, makan dan aku menikahi Salamah, dan muridnya antaranya:
perempuan, maka barang siapa tidak Abu Bakar.
senang dengan sunnahku bukanlah dari Penilaian kritikus hadits
pengikutku” (HR. Muttafaq ‘alaih)18 terhadapnya: Abu hatim: Shaduq
dan Tsiqqah, Ibnu Sa‘ad: Tsiqqah,
Hadits ini terdapat dalam riwayat dan Ibnu Mu‘in: Tsiqqah.21
Bukhari bab nikah no.1, Muslim bab nikah Bila diperhatikan akan penilaian
no.5, al-Nasa‘I bab nikah no.4, Daruqutni para kritikus tersebut dapat
bab nikah no.2 dan Imam Ahmad 2:158, disimpulkan bahwa perawi hadits ini
2:241, 259, 285, dan 5:409.19 Jalur sanad dapat diterima sebagai tsiqqah.
hadits diatas berjumlah lima orang, mereka
adalah: Abu Bakar ibn Nafi‘ al-‘Abdy, c. Hammad ibn Salamah (w. 167H)
Bahz, Hamdan ibn Salamah, Tsabit dan Kunyah-nya adalah Abu
Anas. Uraian secara rinci takhrij hadits Salamah, dan panggilannya: al-
diatas sebagai berikut: Basriy, al-Hafizh, al-Buka‘iy, al-
a. Abu Bakar ibn Nafi‘ al-‘Abdy (w. Quraisyiy. Ia meninggal dunia pada
240 H) tahun 167 H. Periwayatan hadits
Nama lengkapnya adalah didasarkan pada gurunya, antara
Muhammad ibn Ahmad ibn Nafi‘ lain: Hisyan ibn ‘Urwah, Tsabit.

28 JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

Sedangkan muridnya adalah: Aswad pada penilaian tsiqqah dan shaduq


ibn Amir dan Bahz. yang ungkapkan oleh para kritikus
Penilain para kritikus hadits hadits. Maka dapat disimpulkan
terhadapnya adalah: seorang yang bahwa hadits tersebut shaheh dan
tsiqqah, hadits yang diriwayatkanya dapat dijadikan hujjah.
shaheh, sebagaimana dikemukakan
oleh Ahmad, Abu Thalib, Ishaq ibn Ketiga: Hadits Tentang
Mansur, dan lainnya.22 Larangan Tabattul

d. Tsabit (127 H)
Nama lengkapnya adalah Tsabit
ibn Aslam al-Bunany, Abu
Muhammad al-Bashry. Meninggal
pada tahun 127 H. Periwayatan
hadits dari gurunya antara lain
adalah Anas ibn Malik, sedangkan
muridnya adalah Hammad.
Para kritikus hadits menilai; al- Telah mengabarkan kami Husain dan
‘ijly: Tsiqqah, al-Nasa‘i: Tsiqqah, ‘Affan berkata telah mengabarkan kami
Abu Hatim: Astbat, dan Ibnu ‘Ady: Khalaf ibn Khalifah, telah mengabarkan
Ahaditsuhu mustaqimah dan saya Hafash ibn ‘Umar dari Anas ibn
Tsiqqah.23 Malik berkata: Bahwa Rasulullah
Penulis memandang bahwa apa SAW menyuruh kami berkeluarga dan
yang dikemukakan dari krtikus sangat melarang kami tabattul
hadits bahwa Tsabit adalah tsiqqah (membujang) dan selanjutnya beliau
dan dapat diterima periwayatannya. bersabda: “Menikahlah kalian dengan
Bila dilihat silsilah sanad hadits perempuan yang subur dan penyayang,
diatas, dapat diketahui bahwa sebab dengan jumlahmu yang
sanadnya adalah muttasil banyak aku akan berbangga di
(bersambung) mulai dari Abu Bakar hadapan para Nabi pada hari
ibn Nafi‘ sampai Sahabat Anas ibn kiamat” (HR Ahmad dan hadits ini
Malik, sebab setiap rawi hadits shaheh menurut Ibn Hibban)24
tersebut antara satu dengan yang
lain saling bertemu dan saling Hadits diatas diriwayatkan oleh
menerima hadits secara langsung, Imam Ahmad no.2, 158 dan 245.25 Jalur
hal ini dapat dilihat dari tahun wafat sanad hadits berjumlah lima orang,
mereka yang dalam analisa penulis mereka adalah: Husein, ‘Affan, Khalaf
memungkin mereka berguru dan ibn Khalifah, Hafsh ibn ‘Umar dan
mengajarkan pada muridnya satu Anas ibn Malik. Dengan uraian takhrij
dengan lainnya. hadits secara rinci sebagai berikut:
Disamping sanad hadits tersebut a. Husain (w. 213 H)
muttasil, juga kwalitas hadits pada Nama lengkapnya adalah al-
posisi yang dapat diterima sebagai Husain ibn Muhammad ibn
landasan hukum. Hal ini didasarkan Bahram al-Tamimy, Abu Ahmad.

JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011 29


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

Meninggal dunia pada tahun 213 H. ibn akhi Anas ibn Malik, Abu Umar
Periwayatan hadits dari gurunya al-Madani, dikata ia adalah ibnu
antara lain: Khalaf ibn Khalifah Abdullah atau ibnu Ubaidillah ibn
Ayyub ibn ‘Utbah dan muridnya Abi Thalhah, dan dikatakan juga ia
diantaranya adalah Ahmad ibn adalah ibnu Umar ibn Abdullah atau
Hanbal. Ubaidillah ibn Abi Thalhah, dan
Penilaian kritikus hadita juga disebutkan ia adalah anak dari
terhadapnya; Ibnu Saad mengatakan Muhammad ibn Abdullah.
tsiqqah meninggal pada akhir Ia meriwayatkan hadits dari
khalifah al-Makmun, al-Nasa‘I pamannya Anas Ibn Malik secara
mengatakan Laisa bihi Baksun, Ibnu langsung, sedangkan muridnya
Hibban mengatakan tsiqqah.26 antara lain: Khalaf ibn Khalifah.
Para kritikus hadits menilainya:
b. ‘Affan (w. 200 H) Abu hatim: Shalihul hadits, Al-
Nama lengkapnya adalah Affan daruqutni: Tsiqqah, dan Ibnu
ibn Muslim ibn Abdullah al-Shaffar Hibban mengatakan bagian dari
Abu Utsman al-Bashary, lahir pada Tsiqqah.29
tahun 134 H dan meninggal dunia Dengan memperhatikan sanad
pada tahun 200H. hadits diatas dari awal sampai
Periwayan hadits dari gurunya kepada sahabat, maka kita dapat
diantaranya adalah Khalaf ibn menyimpulkan: muttasil
Khalifah, sedangkan muridnya (bersambung) antara perawi. Setiap
adalah Ahmad ibn Hanbal. rawi hadits tersebut antara satu
Penilaian para kritukus hadits dengan yang lain saling bertemu dan
terhadapnya; Abu hatim: Tsiqqah, saling menerima hadits secara
Ibnu Hibban: Tsiqqah, Ibnu Saad: langsung, hal ini dapat dilihat dari
Tsiqqh.27 tahun wafat mereka yang dalam
analisa penulis memungkin mereka
c. Khalaf ibn Khalifah (w. 181 H) berguru satu dengan lainnya.
Nama lengkapnya adalah Khalaf Begitu juga status kwalitas
ibn Khalifah ibn Sha‘id al-Asyja‘I, hadits, dimana penilaian para
meninggal dunia pada tahun 181 H. kritikus hadits yang
Periwayatan hadits dari gurunya mengungkapkan bahwa rawinya
antara lain adalah Hafsh ibn Umar, dapat diterima periwayatan dengan
sedangkan muridnya antara lain kata tsiqqah atau laisa lahu baksun.
Husain dan ‘Affan. Maka dapat disimpulkan bahwa
Penilaian para kritikus hadits hadits tersebut shaheh dan dapat
terhadapnya adalah Ibnu Ma‘in dan dijadikan hujjah.
al-Nasa‘i: Laisa bihi baksun, Abu
Hatim: Shaduq, Ibnu ‘Ady: la baksa 2. Syahid Hadits
bihi, dan Ibnu Sa‘ad: Tsiqqah.28 Ketiga hadits diatas mempunyai
syahid yang ditulis dalam kitab bulughul
d. Hafsh ibn ‘Umar Maram dengan penomoran 996. 30
Nama lengkapnya adalah Hafsh Syahid itu berasal dari Abu Daud, al-

30 JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

Nasa‘i dan Ibn Hibban dari hadits Ma‘qil kemaluan. Barangsiapa tidak
Ibn Yasar. mampu menikah maka berpuasalah,
a. Syahid dalam riwayat Abu Daud: karena hal itu baginya adalah
pelemah syahwat”.31

b. Syahid dalam riwayat al-Nasa‘i:

Meriwayatkan pada kami ‘Usman


ibn abi Syaibah, Jarir dari al-‘Amasy
dari Ibrahim dari ‘Alqamah
berkata: Sungguh saya berjalan Mengabarkan pada kami ‘Amru ibn
bersama Abdullah ibn Mas‘ud di Zararah berkata: Ismail
Mina saat itu berjumpa dengan meriwayatkan pada kami, berkata:
‘Usman maka ia minta untuk Yunus meriwayatkan pada kami
dibiarkan sendiri, ketika Abdullah dari Abi Ma‘syar dari Ibrahim dari
melihat tidak ada keperluan ia ‘Alqamah berkata: Saat saya
berkata pada saya: wahai ‘Alqamah bersama Ibnu Mas‘ud dan dia sedang
kesini, maka saya datang , lalu sama Usman RA, maka berkatalah
Usman berkata padanya: Sebaiknya Usman: Saat Rasulullah SAW
kamu menikah hai Abdurrahman keluar berjumpa dengan sekelompok
dengan seorang jariah yang perawan anak muda, lalu Rasulullah SAW
agar ia kembali padamu untuk bersabda: “Siapa diantara kalian
jiwamu yang menjanjikan, maka punya umur panjang maka
berkata Abdullah: Bila kamu hendaklah ia menikah, maka
mengatakan demikian sungguh saya sesungguhnya demikian itu dapat
mendengar Rasulullah SAW membuatmu menahan pandangan
bersabda: “siapa di antara kalian dan memelihara kemaluan.
yang mampu menikah (jima’ dan Barangsiapa tidak mampu
biayanya) maka nikahlah, karena menikah maka ber puasalah,
ia lebih dapat membuatmu menahan karena hal itu baginya adalah
pandangan dan memelihara pelemah syahwat”.32

JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011 31


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

nikah ini mengungkapkan dengan kategori


“bukan pengikutnya bagi yang mampu dan
tidak mau menikah”. Ibnu Rusyd
mengungkapkan bahwa pernikahan bagi
kebanyakan Ulama (Jumhur) adalah sunnat,
al-Dzahiri mengatakan wajib, Mutaakhir dari
Malikiyah membedakan penerapannya:
nikah dapat hukumnya wajib bagi sebagian
orang dan sunat bagi yang lain serta mubah
bagi yang lainnya. Sebab perbedaan
pendapat ini adalah shiqah amar (perintah)
terhadap nikah yang terdapat dalam al-
Quran dan Hadits, sehingga ada yang
menyimpulkan wajib, sunat dan mubah.
Sedangkan yang menyimpulkan bahwa
Mengabarkan pada kami Ishaq ibn nikah itu wajib bagi sebagian, sunnat bagi
Ibrahim berkata: Affan memberitahu sebagian lain dan mubah bagi sebagian
kami lalu berkata: Hammad ibn lainnya didasarkan pada maslahat.34
Salamah meriwayatkan pada kami Pernikahan adalah fitrah kemanusiaan,
dari Tsabit dari Anas, bahwa ada maka dari itu Islam menganjurkan untuk
sekelompok dari sahabat Nabi SAW nikah, karena nikah merupakan gharizah
berkata kepada sebagian lain: Saya insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah
tidak akan menikahi perempuan, dan ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu
berkata yang lain: Saya tidak akan perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan
makan daging, dan berkata yang lain: syetan yang banyak menjerumuskan ke
Saya tidak akan tidur diatas kasur, lembah hitam.
dan berkata yang lain lagi: Saya puasa Memenuhi gharizah insaniyah dengan
dan tidak akan berbuka. Maka hal pernikahan dan sebuah sunnah yang terdapat
itu sampai pada Rasulullah SAW perbedaan dalam aplikasinya. Sehingga
lalu beliau bertahmid dan memuji sunnah Rasulullah ini, bila kita tela‘ah lebih
Allah seraya bersabda: “Bagaimana dalam lagi perlu dibedakan antara kondisi
keadaan kaum itu berkata begini normal dan tidak normal, sebagai berikut:
dan begitu, akan tetapi aku shalat,
tidur, puasa, makan dan aku 1. Hukum Nikah Dalam Kondisi
menikahi perempuan, maka barang Normal
siapa tidak senang dengan sunnahku Realita dari kondisi normal adalah
bukanlah dari pengikutku”. 33 saat seseorang yang secara jasmani,
ruhiyah dan kejiwaan baik, serta
IV. Elastisitas Hukum Nikah kesiapan mental dan kesungguhan
untuk memikul tanggung jawab, pada
Elastisitas hukum nikah dengan tataran ini terdapat tiga hukum yang
merujuk pada hadits-hadits merupakan melingkupinya sesuai dengan perbedaan
suatu hal yang berkaitan dengan keimanan, pendapat para Ulama, yakni wajib,
sebab Rasulullah SAW dalam persoalan mubah dan sunat.

32 JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

Pertama; Pendapat al- dan tabattul haram. Namun Hadits


Dzahiriyah dan Ibnu hazam yang tersebut menunjukkan larangan
mengatakan nikah hukumnya wajib meninggalkan sunat bukan wajib, sebab
Landasan yang dipakai mereka sebagian sahabat ada yang tidak
dalam menyimpulkan bahwa hukum menikah sedangkan Rasulullah
nikah adalah wajib, didasarkan pada: mengetahuinya dan tidak menegur
a. Dzahir dari nash-nash, baik berupa mereka. Ini menjelaskan bahwa nikah
ayat al-Qur’an, maupun hadits Nabi pada tataran normal adalah sunat.
yang memerintahkan pernikahan.
Sebab semua perintah tersebut Kedua; Pendapat Sebagian
menggunakan shigat amar (bentuk Syafi‘iyah dan Syi‘ah hukum nikah
perintah) dan setiap perintah mubah
menunjukkan wajib karenanya, Landasan yang dipakai mereka
nikah juga adalah wajib, al-ashlu fil dalam menyimpulkan bahwa hukum
amr lil wujub, pada dasarnya perintah nikah adalah mubah, didasarkan pada:
itu menunjukkan kepada wajib. a. Banyak ayat al-Quran yang
b. Larangan untuk tidak membujang menetapkan nikah dikorelasikan
(tabattul) menunjukkan bahwa dengan kata “hil” (halal), yang
membujang apapun alasanya adalah berarti mubah, seperti dalam surat
haram, sehingga menikah adalah al-Nisa`: 23. Kata “hil” tersebut
wajib, dan Islam tidak mengenal tidak menunjukkan wajib dan sunat,
kependetaan35 tapi tetap dipahami dengan halal
yakni mubah.
Menurut penulis pendapat diatas b. Allah memuji Nabi Yahya AS dalam
kurang kuat, dengan alasan: kitab-NYA, dan menjadikannya
Pertama: Nash al-Quran yang sebagai orang yang pantas
menggunakan shigat amar bukan mendapat pujian, sedang Nabi
menunjukkan hukum wajib tapi mandub Yahya tidak menikah dan ia
dan istihbab, sebab nash tersebut mempunyai kesanggupan untuk itu.
memberi pilihan pada seseorang antara Jika nikah itu lebih utama dari
menikah atau menggauli hamba sahaya membujang, kenapa Allah puji Nabi
perempuan. Kalau dihukum wajib, tentu Yahya AS. Ini menunjukkan hukum
tidak ada pilihan dan secara kenyataan nikah adalah mubah.
tidak akan terjadi sebuah pilihan antara c. Nikah merupakan urusan duniawi
wajib dan tidak wajib. untuk memenuhi kebutuhan jasad
Kedua: Hadits (yaa ma‘ayara al- dan keinginannya, sama seperti
syabab...) tidak menunjukkan hukum makan, minum dan lainnya. Oleh
wajib tapi sunat, sebab Rasulullah SAW sebab itu menikah adalah
memberi pilihan bagi yang tidak mampu pemenuhan instink manusia dan ia
dengan puasa. Alternatif yang tidak sampai pada tataran ibadah.36
dikemukan Rasulullah adalah pilihan dan
pilihan tidak akan masuk hukum wajib. Menurut penulis pendapat diatas
Ketiga: Larangan tabattul dalam hadits tidaklah benar sebab:
tidak dapat dipahami bahwa nikah wajib Pertama: Kata “hil” dalam kaitannya

JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011 33


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

dengan nikah, seperti dalam surat al- barang siapa yang sudah mampu
Nisa`: 32 disimpulkan bahwa nikah untuk menikah, maka menikahlah.
adalah mubah, tidak dapat diterima. Hal Sedangkan yang belum mampu
itu didasarkan bahwa terdapat ayat yang untuk menikah, maka tidak
lain menggunakan shigat amar (perintah) mengapa ia tidak menikah. Karena
sehingga hukum nikah dapat wajib dan itu, menikah bukanlah wajib akan
sunat bila ada qarinah. tetapi sunnat saja.
Kedua: Pujian Allah atas Nabi Yahya b. Nash-nash dalam al-Quran dan
AS dengan kesibukannya beribadah dan Hadits bahwa nikah bukan
membujang merupakan sesuai dengan permintaan sejati, tapi ia permintaan
syariat yang berlaku pada masa itu. yang mengarah pada taujih (arahan)
Sedangkan syariat yang berlaku pada sehingga hukumnya sunat.
masa sekarang adalah syariat yang c. Rasulullah SAW melakukan
dibawa Rasulullah sehingga hukumnya pernikahan sampai ia meninggal
berbeda dengan pada masa Nabi Yahya. dunia dan begitu juga para sahabat
Ketiga: Ungkapan yang mengatakan Nabi.37
nikah adalah urusan duniawi dan tidak
sampai pada tataran ibadah merupakan Menurut penulis pendapat Jumhur
ungkapan yang salah. Sebab nikah Ulama hukum nikah sunnat, dapat
merupakan bagian dari ibadah dan diterima karena:
hubungan biologis suami istri bukan Pertama: Bahwa pernikahan lebih
sekedar memenuhi intsink tapi bila utama dari pada tabattul
diniatkan ibadah maka ia akan naik Kedua: Dalil yang digunakan: sangat
ketingkatan ibadah. kuat dan jauh dari celaan dan bantahan,
serta ditambah lagi “la Rahbaniayata fi al-
Ketiga; Pendapat Jumhur ulama Islam” (tidak ada kependetaan dalam
hukum nikah adalah sunat Islam).
Landasan yang dipakai mereka
dalam menyimpulkan bahwa hukum 2. Hukum Nikah Dalam Kondisi
nikah adalah sunat, didasarkan pada: Tidak Normal
a. Landasannya mereka memahami Rasulullah SAW menganjur untuk
perintah nikah yang terdapat dalam melaksanakan pernikahan sebagai
al-Qur’an dan Hadits kepada sunnahnya, tidak ingin menjadikan
hukum sunnat bukan wajib. Firman pernikahan sebagai masalah, melainkan
Allah yang terdapat dalam surat an- sebagai penyelesaian persoalan. Bahwa
Nisa ayat 3 misalnya, yang berbunyi: pernikahan bukan sebuah beban,
Artinya: “Maka nikahilah wanita- melainkan tuntutan fitrah yang harus
wanita yang kamu sukai dua, tiga dan dipenuhi. Seperti kebutuhan kita
empat” (QS. An-Nisa: 3).Ayat ini, terhadap makan dan minum, maka
menurut pendapat mereka manusia juga butuh untuk menikah.
bukanlah menunjukkan wajib. Dalam melaksanakan sunnah Rasulullah
Karena dalam ayat tersebut, Allah SAW ini serta menjadikannya sebagai
mengkaitkan nikah dengan solusi kehidupan dan tuntutan fitrah,
kemampuan, istitha’ah. Artinya, tentu realisasi nikah terhadap individu

34 JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

dengan individu lainnya berbeda, sesuai secara lahir (menafkahi) maupun


dengan keadaan dan kondisi masing- secara bathin (berhubungan badan)
masing baik secara kesiapan mental, sehingga kalau dipaksakan menikah,
tanggung jawab, ekonomi, jasmani dan si perempuan akan menderita baik
lainnya. lahirnya maupun bathinnya. Atau,
Tataran pelaksanaan pernikahan nikah juga bisa menjadi haram, bagi
pada kondisi yang tidak normal, ditinjau orang yang bermaksud jahat dengan
dari kesiapan mental atau lainnya tentu nikahnya itu, misalnya ingin
harus kita perhatikan secara baik, hal itu menyakiti perempuan dan
dapat memberi dampak, baik positif keluarganya atau karena balas
atau negative. Dalam persoalan ini, dendam dan sebagainya.
diaplikasi hukum pernikahan tergantung d. Nikah juga bisa makruh, bagi orang
pada kondisi seseorang, sehingga yang kondisinya seperti disebutkan
dibedakan antara satu dengan lainnya. diatas, akan tetapi tidak
Pendapat ini pendapat yang kuat pada menimbulkan madharat bagi si isteri.
madzhab Malikiyyah, Syafi’iyyah, Jadi, apabila ia menikah, si isteri
Hanafiyah dan Hanabilah. Namun tidak merasakan dampak negative
demikian, kalau dilihat dari segi kondisi yang sangat besar. Untuk orang
orang yang melakukan pernikahan, seperti ini, sebaiknya jangan dahulu
maka melaksanakannya dapat dikenakan menikah, dan kalaupun mau
hukum wajib, sunnat, makruh dan menikah, maka hukumnya makruh
haram, sebagaimana uraian berikut: saja.38
a. Hukum menikah bisa wajib, bagi
mereka yang sudah siap dan mampu Dari pemaparan aplikasi pernikahan
baik lahir maupun bathin, sehingga yang disesuaikan dengan kondisi
kalau tidak menikah, ia akan perorangan, maka penulis lebih cenderung
terjerumus kepada perbuatan untuk mengambil pendapat diatas, bahwa
zina.Tidak ada cara lain untuk pernikahan itu hukumnya berbeda-beda,
menjaganya kecuali dengan jalan disesuaikan dengan kondisi orang yang
menikah. Dalam kaidah Ushuliyyah melaksanakannya. Pendapat ini juga lebih
dikatakan: “Sesuatu yang tidak tepat untuk kondisi sekarang.
menyebabkan terpenuhinya sesuatu yang
wajib kecuali dengan sesuatu itu, maka V. Penutup
sesuatu itu menjadi wajib hukumnya”.
b. Nikah juga hukumnya bisa sunnah, Menikah merupakan sunnah para nabi
bagi mereka yang syahwatnya sudah dan para rasul, disamping sebagai salah satu
menggebu akan tetapi masih besar tanda-tanda kekuasaan dan karunia nikmat
kemungkinan seandainya belum dari Allah. Melalui pernikahan, manusia yang
menikah pun, ia masih dapat berpasangan laki dan perempuan akan
menjaga diri dari perbuatan zina. memulai menjalani kehidupan baru, yaitu
Untuk kondisi seperti ini, nikah kehidupan rumah tangga, yang menjadi
hukumnya sunnah saja. dambaan dan perhatian manusia umumnya
c. Nikah juga bisa haram, bagi orang dalam kehidupannya sehari-hari.. Menikah
yang belum siap menikah, baik adalah jenjang yang harus dilalui dalam

JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011 35


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia 11


A.Winski, DR, al-Mu‘jam al-Mufahras lialfaz al-
adalah sunnatullah yang tidak mungkin hadits al-nabawi, (London: Maktabah baril, 1936),
jilid.1, hal.229
diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah 12
Syihabuddin Ahmad ibn Aly ibn Hajar al-Asqalani,
SAW menganjurkan agar berpuasa, itu Tahzib al-Tahzib, (Bairut: Dar al-Fikr, 1995), jilid.
hanyalah solusi sementara, ketika kondisi 4, hal. 464-465
memang benar-benar tidak memungkinkan.
13
Ibid, jilid.7, hal. 362-363.
14
Ibid, jilid. 7, hal. 127-129.
Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya 15
Ibid. jilid. 3, Hal. 506-509.
tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan 16
Ibid. jilid. 6, hal. 25-26.
untuk menunda pernikahan. 17
Ibid. jilid. 5, hal. 201
18
Al-hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, Op.cit., hal. 200-
201
19
A. Winski, Op.cit., jilid.2, hal. 275
Endnotes: 20
Ibid. jilid. 7, hal. 22-23
1
Hamid Ahmad al-Thahir, Dr, Tuhfatul ‘Arus, (Kairo: 21
Ibid. jilid. 1, hal. 521-522
Dar al-fajr litturats, 2004), hal. 3 22
Ibid. jilid. 2, hal. 12
2
Zainuddin al-Razi, Mukhtar al-shahhah, (al- 23
Ibid. jilid. 1, hal. 546-547
maktabah al-syamilah, edisi kedua), jilid.1, hal. 135 24
Al-hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, Op.cit., hal. 201
3
Abdul Aziz Muhammad Azam, Dr dan Ahmad 25
A. Winski, Op.cit., jilid.1, hal. 229
Abdul Mugni Syahin, Dr, Ahkam al-Zuwaj wa al- 26
Ibid. jilid. 2, hal. 334
thalaq fi al-fiqh al-Islamy, (Kairo: Univ. al-azhar, 1993), 27
Ibid. jilid. 5, hal. 596-600
hal.34. 28
Ibid. jilid. 2, hal. 569-570
4
Kamaluddin Muhammad ibn Abd al-Wahid, Fathu 29
Ibid. jilid. 2, hal. 383-384
al-Qadir Syar al-Hidayah, (Kairo: Mushtafa halabi, 30
Op.cit., hal 201
1987), jilid. 3, hal. 339, dan lihat Abdurrahman al- 31
Sunan Abi daud, juz. 5, hal. 424
Jaziry, Kitab al-Fiqh Ala al-Mazahib al-Arba‘ah, 32
Sunan al-Nasa‘I, juz. 10, hal 298
(Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1990), jilid. 4, hal. 33
Ibid., hal. 299
8 34
Muhammad ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa
5
Al-Syarbiny al-Khathib, Mugni al-Muhtaj Syarh al- Nihayah al-Muqtashid, (Indonesia: Maktabah Dar
Minhaj, (Kairo: al-halaby, 1985), jilid. 3, hal. 123, Ihya‘ al-kutub al-Arabiyah, 1990), jilid. 2, hal. 2.
al-Imam Zakaria ibn Muhammad ibn Ahmad al- 35
Al-Shan‘ani, Op.cit., juz.3, hal. 160 , dan lihat:
Anshari al-Syafi‘I, Hasyiayah al-Bujiri ala Syarh Mahmud Abdullah al-Ukkazy, Fiqh al-Sunnah Fi
Manhaj al-Thullab, (Bairut: dar al-Kutub al-Ilmiah, Ahkam al-Usrah, (Kairo: Univ. al-azhar, 1994), hal.
2000), jilid.3 , hal. 377. 14-15.
6
Hasyaiah al-Shawi ala Syarh al-Shagir, (al-Maktabah 36
Wahbah al-Juhaili, Dr, al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu,
al-Syamilah, edisi kedua ), juz. 2, hal.332, dan lihat (Bairut: Dar al-fikr, 1996), jilid. 7, hal. 33, Mahmud
Abdurrahaman al-Jazairy, Op.cit., jilid. 4, hal. 8 7. Abdullah al-Ukkazy , Ibid., hal. 16-17, dan lihat
Ibnu Qudamah al-Hanbaly, Al-Mughni, (Kairo: Dar Abdul Majid Mahmud Mathlub, al-Wajiz Fi Ahkam
al-Mannar, 1987), juz. 14, hal. 351, dan lihat al-Usrah al-Islamiyah, (Kairo: Ma‘had al-Dirasat,
Abdurrahman al-Jazairy, Op.cit., jilid. 4, hal. 9 1995), hal. 15
8
Kumpulan UU RINo.1 Th. 1974 dan Kompilasi 37
Al-Shan‘ani, Op.cit., jilid. 3, hal. 160, dan lihat
Hukum Islam, (Bandung: Penerbit Citra Umbara, Mahmud Abdullah al-Ukkazy , Ibid., hal. 19-20.
2007), hal. 2. 38
Wahbah al-Zuhaili, Ibid. jilid. 7, hal. 31-33,
9
Al-hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, Mahmud Abdullah al-Ukkazy, Ibid., hal. 21-22, dan
(Bairut: Dar al-Fikr, 191352 H), hal. 200-201.
Abdurrahman al-Jazairy, Op.cit., jilid. 4, hal. 10-12
10
Ibid., hal. 200

36 JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011


Ridwan Hasbi: Elastisitas Hukum Nukah dalam Perspektif Hadits

DAFTAR PUSTAKA (Bandung: Penerbit Citra Umbara,


2007)
Al-hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, Muhammad ibn Makran ibn Manzur al-
(Bairut: Dar al-Fikr, 191352 H) Afriqy al-Mishry, Lisan al-‘Arab,
Abdurrahaman rafat al-Basya, Dr, Shuwar (Bairut: Dar Shadir, 1995)
Min hayah al-Shahabah, (Bairut: Dar Muhammad ibn Ismail al-Amir al-Yamani
al-Nafais, 1992) al-Shan‘ani, Subul al-salam Syarh
Abdul Aziz Muhammad Azam, Dr dan Bulugh al-Maram, (Kairo: Dar al-
Ahmad Abdul Mugni Syahin, Dr, Hadits, 1993)
Ahkam al-Zuwaj wa al-thalaq fi al-fiqh Muhammad ibn Rusy, Bidayah al-Mujtahid wa
al-Islamy, (Kairo: Univ. al-azhar, Nihayah al-Muqtashid, (Indonesia:
1993) Maktabah Dar Ihya‘ al-kutub al-
Abdurrahman al-Jaziry, Kitab al-Fiqh Ala al- Arabiyah, 1990)
Mazahib al-Arba‘ah, (Bairut: Dar al- Mahmud Abdullah al-Ukkazy, Fiqh al-Sunnah
Kutub al-Ilmiah, 1990) Fi Ahkam al-Usrah, (Kairo: Univ. al-
Al-Syarbiny al-Khathib, Mugni al-Muhtaj azhar, 1994)
Syarh al-Minhaj, (Kairo: al-halaby, Syihabuddin Ahmad ibn Aly ibn Hajar al-
1985) Asqalani, Tahzib al-Tahzib, (Bairut:
al-Imam Zakaria ibn Muhammad ibn Dar al-Fikr, 1995)
Ahmad al-Anshari al-Syafi‘I, Wahbah al-Juhaili, Dr, al-Fiqh al-Islami wa
Hasyiayah al-Bujiri ala Syarh Manhaj adillatuhu, (Bairut: Dar al-fikr, 1996)
al-Thullab, (Bairut: dar al-Kutub al- Zainuddin al-Razi, Mukhtar al-shahhah, (al-
Ilmiah, 2000) maktabah al-syamilah, edisi kedua)
Abdul Majid Mahmud Mathlub, al-Wajiz Fi
Ahkam al-Usrah al-Islamiyah, (Kairo:
Tentang Penulis
Ma‘had al-Dirasat, 1995)
Hamid Ahmad al-Thahir, Dr, Tuhfatul ‘Arus, H.M. Ridwan Hasbi, Lahir di Dalu-Dalu
(Kairo: Dar al-fajr litturats, 2004) Tambusai (Kab. Rokan Hulu), 17 Juni 1970.
Hasyaiah al-Shawi ala Syarh al-Shagir, Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah
(al-Maktabah al-Syamilah, edisi pertama di Dalu-dalu Tambusai, serta Pondok
kedua ) Modern Gontor Jawa Timur 1991. Pada tahun
Ibnu Atsir, Usud al-Ghabah, (al-Maktabah al- 1992 melanjutkan pendidikan kejenjang S1 di
Syamilah, edisi kedua) Fakultas Syariah wa al-Qanun dalam bidang
Ibnu Rajab, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam fi syarh Syariah UNIVERSITAS AL-AZHAR Kairo Mesir
dan tamat pada tahun 1997. Dan pada tahun
khamsin haditsan min jawami` al-kalim,
1998 melanjutkan pendidikan S2 di IAIN Susqa
(Kairo: Dar al-Rayyan litturats,
Riau dengan konsentrasi Pemikiran Modern
1987) Dalam Islam (PMDI) dan diselesaikan pada
Ibnu Qudamah al-Hanbaly, Al-Mughni, tahun 2000. Pada saat ini bekerja sebagai Dosen
(Kairo: Dar al-Mannar, 1987) Tafsir Hadits pada Fakultas Ushuluddin UIN
Kamaluddin Muhammad ibn Abd al-Wahid, SUSKA Riau dan aktif di MUI Kota Pekanbaru
Fathu al-Qadir Syar al-Hidayah, sebagai Sekretaris Umum dan juga aktif
(Kairo: Mushtafa halabi, 1987) diberbagai organisasi: MDI, Ittihadul Muballighin
Kumpulan UU RINo.1 Th. 1974 dan Riau, FKUB Kota Pekanbaru, Tafaqquh Studi
Kompilasi Hukum Islam, Club dan lainnya.

JURNAL USHULUDDIN Vol. XVII No. 1, Januari 2011 37