Anda di halaman 1dari 7

Mengenal Air

Asam Tambang
Denny Reza Kamarullah / November 29, 2014
Salah satu isu yang senantiasa hadir ketika berbicara industri
pertambangan adalah Air Asam Tambang. Industri Pertambangan
memang akan selalu berbenturan dengan isu lingkungan. Air asam
tambang atau biasa juga dikenal sebagai Acid Mine Drainage (AMD)
atau Acid Rock Drainage (ARD) adalah kondisi dimana air di dalam
atau sekitar area pertambangan memiliki kadar keasamanan yang
sangat tinggi, biasanya diindikasikan dengan nilai PH < 5.

Penampakan Air Asam Tambang


Ada 3 faktor yang menjadi penyebab terbentuknya air asam tambang :

1. Mineral Sulfida
2. Oksigen
3. Air
Air Asam Tambang terbentuk karena terpaparnya batuan yang
mengandung mineral sulfida, sehingga berinteraksi dengan Oksigen
dan Air.

Apa dampak Air Asam Tambang?

Air Asam Tambang dengan ciri tingkat keasaman yang sangat tinggi
(PH<5) adalah pencemaran jangka panjang, dibeberapa kasus Air
Asam Tambang bahkan masih ada ratusan tahun setelah Pit Tambang
sumber AAT sudah selesai. Kondisi air dengan tingkat keasaman
tinggi ini tentu tidak baik baik biota air dan untuk konsumsi
masyarakat. Belum lagi karena PH yang rendah, sehingga AAT
mudah melarutkan logam.

Metode Pencegahan?
Sebelum melakukan operasi penambangan , sebuah perusahaan
tambang wajib melakukan analisis sumber-sumber yang dapat
menyebabkan terbentuknya Air Asam Tambang ini, terutama
mengidentifikasi mana batuan yang mengandung mineral sulfida
mana yang tidak. Dalam industri pertambangan dikenal istilah PAF
untuk lapisan batuan yang terindikasi berpotensi membentuk Asam
dan NAF untuk lapisan batuan yang dinilai tidak berpotensi
menyebabkan asam.

Dalam industri pertambangan khususnya konsentrasi lingkungan


tambang, dikenal 2 uji yang berkaitan dengan AAT, yakni : Uji Statik
dan Uji Kinetik. Uji Statik adalah Uji yang digunakan untuk
mengidentifikasi mana unsur yang berpotensi membangkitkan asam
atau menetralkan asam. Beberapa Uji contoh Uji Statik adalah :

1. Paste PH
2. Total Sulfur
3. Acid Neutralizing Capacity (ANC)
4. Net Acid Generating (NAG)
Sementara Uji Kinetik adalah uji yang digunakan untuk mendapatkan
gambaran laju reaksi pembentukan asam, contoh uji Kinetik adalah
column leach test.

Setelah memahami metode pencegahan, bagaimana langkah


selanjutnya sehingga Air Asam Tambang tidak terbentuk. Pada
prinsipnya, Air Asam Tambang tidak akan terbentuk selama Sulfida
tidak berinteraksi dengan Air atau Oksigen, sehingga cara
pencegahan dan penanganannya berpatokan pada prinsip tersebut.
Dalam metode penanganan dikenal 2 istilah :

1. Metode Dry Cover


2. Metode Wet Cover
Keduanya adalah metode untuk melakukan pencegahan, semnetara
untuk melakukan penanganan AAT yang sudah terbentuk maka
dilakukan proses pengapuran.

Metode Dry cover adalah metode mengisolasi atau menutupi batuan


yang dinilai berpotensi membentuk asam dengan lapisan batuan yang
dinilai tidak berpotensi membentuk asam atau dengan batuan NAF.
Mengacu pada prinsip terbentuknya AAT tadi, fungsi lapisan NAF ini
adalah agar tidak terjadi interaksi batuan PAF dengan oksigen
ataupun air.
Metode Wet Cover
Sementara itu metode Wet Cover adalah mengisolasi batuan yang
berpotensi membentuk asam di dalam perairan, seperti danau, dasar
laut atau di dalam kolam. Intinya bagaimana memastikan tidak terjadi
interkasi dengan Oksigen.

Batuan yang mengandung mineral Sulfida, pada indutri batubara


biasanya terdapat pada lapisan atas batubara (roof), lapisan bawah
(floor) atau juga pada pengotor di lapisan batubara itu sendiri,
sehingga perlu sekali melakukan uji Statik terhadap tiap-tiap lapisan
untuk meng-kategorisasi mana batuan PAF mana NAF.

Bahan bacaan dan sumber gambar diambil dari slide kuliah


Lingkungan Tambang Prodi Teknik Pertambangan ITB
Pencegahan terjadinya air asam tambang dapat dilakukan
dengan menghindari faktor-faktor pembentuk air asam
tambang, seperti mineral-mineral sulfida. Adapun cara yang
dapat dilakukan untuk mencegah air asam tambang :
1. Hidrologi
Pergerakan terhadap air di atas atau yang
melewatidaerah timbunan merupakan faktor yang menentukan
dalam upaya pencegahan dan pegendalian air asam tambang.
Pada umumnya prioritas dan hantaran hidrolik (konduktivitas
hidrolik) material pada daerah timbunan lebih besar dari pada
batuan pada tanah penutup sebelum digali. Selain itu juga
akibat penggalian juga akan mengubah pola dan kecepatan
aliran.
1. Pelapisan dan Penutupan
Pelapisan dan penutupan bertujuan untuk mencegah
masuknya air ke dalam timbunan. Bahan-bahan yang dapat
digunakan sebagai pelapis atau penutup adalah material liat
atau bahan sintetik.

a. Material Liat
Jenis material liat yang efektif sbagai pelapis adalah bentinit,
karena material ini memiliki sifat mengembang dan
melapisi/menutup. Akan tetapi bentonit mempunyai
kecenderungan retak pada musim kemarau.
Pelapis liat ditempatkan pada material sulfida kemudian
dipadatkan. Hal yang perlu diperhatikan adalah terjadinya
infiltrasi air ke dalam timbunan. Oleh karena itu pemadatannya
harus benar-benar diperhatikan dan rata, agar tidak terjadi
pengumpulan air pada suatu tempat. Upaya stabilitas lapisan
lapisan pada timbunan dari erosi dan longsor dilakukan dengan
memperhatikan kemungkinan penetrasi akar tanaman yang
ditanam.
b. Bahan Sintetik
Dengan bahan sintetik harga dan biaya pemasangannya mahal
serta rentan terhadap pelapukan kimia. Pada umumnya
digunakan untuk pelapisan kegiatan tambang dalam
(underground). Keuntungan dari bahan sintetik ini adalah dapat
mencegah terjadinya infiltrasi (impermeable). Bahan sintetik
yang biasa digunakan adalah aspal, tar, semen, plastik film dan
geotekstil.
2. Kandungan Oksigen
Pemakaian nitrogen, metana atau karbon sebagai gas
penyelimut dapat mengurangi terjadinya air asam tambang,
tetapi air asam tambang masih dapat terjadi akibat adanya
oksigen terlarut dalam air. Penempatan material tanah di atas
material sulfida tidak seluruhnya dapat mencegah difusi
oksigen. Akan tetapi tingkat ketebalan dan kepadatan
permukaan secara efektif dapat mengurangi jumlah dan laju
masuknya oksigen.
Pelapisan material sulfida denagn lapisan pengkonsumsi
oksigen (tanah pucuk yang mengandung mikro organisme yang
aktif) merupakan strategi yang baik untuk mengurangi
kandungan oksigen.
Tiga (3) langkah untuk mengurangi oksigen dalam
timbunan adalah :
1. Material timbunan harus dikubur dan dilapisi dengan tanah
pucuk sesegaera mungkin.
2. Material timbunan harus dipadatkan selama konstruksinya,
terutama pada saat penempatan material sulfida.
3. Pemadatan pada permukaan dan lereng bagian luar adalah
sangat penting dalam mengurangi oksigen dan konveksi udara
ke dalam timbunan.
4. Bakterisida
Surfaktan anion, asam organik alam pengawet makanan
sudah umum digunakan sebagai senyawa anti bakterial.
Surfaktan bekerja dengan pelepasan ion hidrogen ke dalam
membran sel bakteri sehingga menyebabkan kerusakan sel
dan matinya bakteri. Salah satu jenis surfaktan sodium laurit
sulfat (SLS) mampu mengurangi terbentuknya air asam
tambang 60 % - 90 % dalam percobaan lapangan pada
timbunan batubara buangan (coal refusi). Kebanyakan dari
surfaktan anionik bersifat sangat mudah larut.