Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Informasi geologi berupa gerakan massa tanah/batuan merupakan salah satu

informasi awal yang dapat dijadikan pertimbangan untuk pemanfaatan ruang suatu

wilayah. Informasi ini dapat meminimalisir kemungkinan kerugian yang

ditimbulkan dikemudian hari jika terjadi bencana gerakan massa.

Pengembangan suatu kawasan lengkap dengan infrastrukturnya harus

mempertimbangkan aspek bencana geologi dikarenakan akan berpengaruh pada

pertumbuhan semua sektor terutama perekonomian. Kehadiran data potensi

gerakan massa tanah/batuan ini sangat diperlukan antara lain untuk menentukan

zonasi daerah dengan risiko gerakan masa tanah/batuan pada suatu wilayah.

Sehingga dapat dilakukan proses mitigasi bencana gerakan massa tanah/batuan dan

dapat pula digunakan untuk memberikan masukan bagi alokasi pemanfaatan

pengendalian ruang. Karena bencana ini berpotensi memberikan gangguan dan

berdampak buruk pada pengembangan ruang untuk lokasi permukiman, jaringan

transportasi, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Berdasarkan laporan dari Dinas ESDM Propinsi Jawa Tengah tahun 2014

menyebutkan bahwa pada tanggal 20 Januari 2014 terjadi gerakan massa

tanah/batuan di Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji dengan korban kerusakan 1

rumah. Pada tanggal 21 Januari 2014 di desa yang sama juga terjadi gerakan massa

tanah/batuan dengan kondisi rusak sedang. Selain itu pada tanggal tersebut juga

terjadi gerakan massa tanah/batuan di daerah Desa Bungu, Kecamatan Mayong

1
2

dengan kerugian berupa 2 rumah rusak sedang dan di Desa Tempur dengan 8 rumah

rusak sedang.

Keberadaan laporan-laporan kejadian bencana gerakan massa tanah/batuan

menjadikan penelitian pemetaan zonasi risiko gerakan massa di wilayah Kabupaten

Jepara perlu dilakukan. Oleh karena itu dengan adanya penelitian ini akan

didapatkan informasi mengenai daerah yang dikategorikan aman maupun bahaya

dari bencana gerakan massa tanah/batuan. Hasil dari penelitian ini dapat dilakukan

untuk meminimalisir kerugian jika bencana itu terjadi dikemudian hari, sehingga

pembangunan akan berjalan secara optimal.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil latar belakang masalah maka dapat disusun rumusan

masalah

1. Bagaimana menentukan penyebab gerakan massa tanah/batuan di

Kabupaten Jepara?

2. Bagaimana jenis gerakan massa tanah/batuan yang berkembang di

Kabupaten Jepara?

3. Bagaimana menentukan zona risiko gerakan massa tanah/batuan di

Kabupaten Jepara?
3

I.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

I.3.1 Maksud penelitian

Maksud dari kegiatan penelitian zonasi risiko gerakan massa tanah/batuan

di Kabupaten Jepara adalah untuk menyediakan informasi gerakan massa

tanah/batuan di Kabupaten Jepara.

I.3.2 Tujuan penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain:

1. Mengetahui faktor pengontrol gerakan massa tanah/batuan yang meliputi

kelerengan, kondisi tanah/batuan, dan kondisi struktur geologi di

Kabupaten Jepara

2. Menentukan jenis bencana gerakan massa yang dapat terjadi di Kabupaten

Jepara

3. Menentukan zonasi risiko gerakan massa tanah/batuan di Kabupaten Jepara

I.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memberi manfaat baik bagi penulis, pemerintah, dan peneliti

selanjutnya.

1. Bagi penulis, penelitian ini dijadikan sebagai sarana untuk

menerapkan ilmu geologi dalam mengkaji dan menyelesaikan

permasalahan geologi terapan, terutama dalam kaitannya dengan zonasi

risiko gerakan massa.

2. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini juga dapat digunakan sebagai


4

kajian pustaka yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini, baik lokasi

yang diteliti maupun topik penelitian.

3. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini juga dapat menjadi bahan

pertimbangan bagi pemerintah dalam mengambil keputusan terkait

perencanaan pengembangan wilayah di Kabupaten Jepara

4. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini juga dapat menjadi bahan informasi

untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko gerakan massa

tanah/batuan terutama pada zona yang memiliki tingkat risiko tinggi.

I.5. Ruang Lingkup Penelitianhu

I.5.1. Lokasi penelitian dan kesampaian daerah

Lokasi penelitian mencakup seluruh wilayah Kabupaten Jepara kecuali

Kecamatan Karimunjawa. Kesampaian daerah ditempuh dari kampus Teknik

Geologi UGM dapat dicapai melalui jalur darat dengan jarak tempuh sekitar 193

km, dengan waktu tempuh 5 jam, menggunakan kendaraaan bermotor. Lokasi

penelitian dapat dilihat pada gambar. (Gambar 1.1.).

I.5.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini direncakan selama 7 (tujuh) bulan yang terdiri dari lima

tahapan dimulai dengan perumusan masalah dan studi pustaka, pengumpulan data

pendukung, analisis interpretasi data, diskusi evaluasi, dan tahapan penyusunan

laporan seperti yang tercantum pada Table 1.1.


U
U

Gambar 1. 1 Lokasi penelitian

5
6

Tabel 1. 1 Jadwal pelaksanaan penelitian

September Oktober November Desember Januari Februari Maret


2015 2015 2015 2015 2015 2015 2015
No. Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Studi Pustaka
1

Pengumpulan
2.
Data Pendukung
Analisis dan
3.
Interpretasi Data
Diskusi,
4. Konsultasi, dan
Evaluasi
Penyusunan
5.
Laporan
7

I.6. Batasan Penelitian

Batasan penelitian ini, yaitu :

1. Parameter yang digunakan pada pembuatan peta kerentanan gerakan massa

berdasarakan Peraturan Kementerian Pekerjaan Umum no. 22/PRT/M/2007

Tentang Pedoman Penataan Longsor di Kawasan Bencana. Parameter-

parameter yang digunakan dibatasi hanya pada 3 parameter yaitu kelerengan,

tanah/ batuan, dan kondisi struktur geologi.

2. Penentuan zona tingkat kerentanan gerakan massa berdasarkan hasil tumpang

susun (overlay) dengan menggunakan metode pembobotan menerut Peraturan

Kementerian Pekerjaan Umum no. 22/PRT/M/2007 Tentang Pedoman

Penataan Longsor di Kawasan Bencana.

3. Persebaran titik gerakan massa tanah/btauan yang didapatkan pada

pengamatan lapangan secara kualitatif akan digunakan sebagai verifikasi

dalam penetuan zona tingkat kerentanan.

4. Analisis pembuatan peta kerawanan, peta kapasitas, dan peta risiko

berdasarkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana

(BNPB) nomer 02 tahun 2012 Tentang Pedoman Pengkajian Risiko Bencanan

dengan batasan kerawanan yang dianalisis berupa kepadatan penduduk dan

kepadatan insfrastruktur

5. Pembuatan zonasi risiko menggunakan skala dengan ketelitian 1:100.000


8

I.7. Penelitian Terdahulu

1. Van Bemmelen (1949)

Membagi daerah Jawa Tengah sebelah timur garis Semarang-Yogyakarta

menjadi fisiografi Jawa Timur yang terbagi menjadi, kompleks Muria, Perbukitan

Rembang, Zona Randublatung, Antiklinorium Kendeng, Subzona Ngawi, Zona

Solo, Subzona Blitar dan Pegunungan Selatan Jawa Timur. Kompleks Muria yang

sekarang pada Zaman Holosen merupakan pulau tersendiri yang kemudian

disatukan dengan Pulau Jawa oleh kompleks Aluvial Semarang- Demak-Kudus-

Pati-Juwono-Rembang. Sebelah timur dan selatan zona ini di batasi oleh Perbukitan

Rembang dengan batas utara dan barat langsung dibatasi oleh Pulau Jawa.

2. Suwatri dan Wikarno (1992)

Penelitian ini berupa pemetaan geologi regional di Kabupaten Kudus dan

sekitarnya. Penelitian ini menghasilkan peta geologi lembar Kudus 1409-3 dengan

skala 1:100.0000.

3. Cahyo Sasongko (1997)

Penelitian ini berupa pemetaan geologi di wilayah Bumiarjo, Kecamatan

Keling dan Sekitarnya, Kabupaten Jepara. Penelitian menghasilkan peta geologi

dengan skala 1:25.000

4. Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah (2012)

Penelitian ini berupa pemetaan zonasi kerentanan gerakan tanah di Zona

Kendeng dan Muria meliputi Kabupaten Jepara, Kabupaten Kudus,Kabupaten Pati,

Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora dengan skala 1:50.000.

5. Oscar Mario (2014)

Penelitian ini berupa kajian geologi dan risiko longsor . Penelitian terletak
9

di Desa Tempur, Desa Damarwulan, dan sekitarnya, Kecamatan Keling, Kabupaten

Jepara, Provinsi Jawa Tengah Daerah penelitian memiliki luas 5 x 5 km dengan skala

peta 1:12.500. Metode penelitian adalah dengan pemetaan geologi permukaan,

kemudian dilakukan analisis laboratorium dan studio untuk menghasilkan peta

lintasan, peta geomorfologi, peta geologi, peta kelerengan, serta mengetahui tingkat

risiko bencana berdasarkan komponen dan parameter pengkajian risiko bencana

daerah penelitian.

6. Setyo Bagus Panutun (2015)

` Penelitian ini berupa kajian geologi dan risiko longsor. Daerah penelitian

terletak di Desa Dudakawu di Kecamatan Kembang, Desa kunir di Kecamatan

Keling, dan sekitarnya, Kabupaten Jepara. Daerah penelitian penelitian memiliki luas

5 x 5 km dengan skala peta 1: 12.500. Pengkajian risiko bencana disusun berdasarkan

Komponen Ancaman, Kerentanan, dan Kapasitas. Komponen Ancaman disusun

berdasarkan parameter intensitas dan probabilitas kejadian. Komponen Kerentanan

disusun berdasarkan parameter sosial budaya, ekonomi, fisik dan lingkungan.

Komponen Kapasitas disusun berdasarkan parameter kapasitas regulasi,

kelembagaan, system peringatan dini, pendidikan pelatihan keterampilan, mitigasi

dan sistem kesiapsiagaan. Penentuan tingkat berdasarkan akumulasi perkalian bobot

dan skor parameter yang mempengaruhi bencana longsor.

Berdasarkan hasil dari gambaran rencana penelitian yang akan dilakukan dan

beberapa peneliti terdahulu yang telah melakukan penelitian di wilayah Kabupaten

Jepara terlihat adanya keaslian dari penlitian ini. Dinas ESDM provinsi Jawa Tengah

telah melakukan pemetaan kerentanan di wilayah Kabupaten Jepara dengan

menggunakan parameter berdasarkan Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya


10

Mineral No. 1452.K/10/ME/2000 dan tidak melakukan kajian risiko. Pada

penelitian ini acuan yang digunakan adalah berdasarkan Peraturan Kementerian

Pekerjaan Umum no.22 PRT/M/2007. Beberapa Peneliti telah melakukan penelitian

dengan tema dan kajian yang sama seperti Mario (2014) dan Panutun (2015) namun

dari luasan lingkup kajian penilitian ini memiliki luas dengan skala yang berbeda.
11