Anda di halaman 1dari 11

PROSIDING PEMAPARAN HASIL PENELITIAN PUSAT PENELITIAN GEOTEKNOLOGI LIPI TAHUN 2014

“Peran Penelitian Geoteknologi untuk Menunjang Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia”

GENESA DAN POTENSI PEMANFAATAN BAHAN GALIAN


KAOLIN DAERAH CIPATUJAH DAN KARANGNUNGGAL,
KABUPATEN TASIKMALAYA, JAWA BARAT
Bagus Dinda Erlanga1, Sri Indarto1, dan Widodo1
1
Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Jl. Sangkuriang, Bandung 40135
Email: bderlangga@yahoo.com

ABSTRAK

Kaolin dengan rumus kimia Al 2SiO5(H2O) di Indonesia mempunyai komposisi, lingkungan


pengendapan, genesa pembentukan serta pemanfaatan yang beragam. Wilayah Kabupaten
Tasikmalaya adalah salah satu wilayah yang memiliki sumberdaya bahan galian kaolin. Penelitian
ini dilakukan untuk mengetahui karakterisasi dan pemanfaatan apa yang sesuai untuk bahan galian
kaolin dari Tasikmalaya tersebut. Telah dilakukan penelitian tentang genesa dan karakterisasi pada
kaolin yang berasal dari daerah Cipatujah dan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya. Kaolin di
daerah penelitian berwarna putih kecoklatan dan batuan sekitarnya berupa tufa. Untuk mengetahui
karakteristik dari sampel kaolin dilakukan dengan analisis XRD (X-Ray Diffraction), petrografi,
analisis kimia dan SEM (Scaning Electron Microscope). Hasil analisis dua sampel tersebut masing-
masing adalah: analisis XRD menunjukan kandungan mineral berupa kaolinit, haloisit, kristobalit,
dikit, muskovit, ilit dan hematit; petrografi menggambarkan fragmen tufa gelas, kuarsa dan
lempung; hasil analisis SEM memperlihatkan bentuk-bentuk kristal berupa kaolinit, halloysit dan
dikit; dan hasil analisis kimia mengandung komposisi: SiO2 (66-68%), Al2O3 (19%), Fe2O3 (0.8-
1,1%) dan LOI (9%). Berdasarkan hasil analisis XRD, petrografi dan SEM kaolin Cipatujah dan
Karangnunggal terbentuk dari hasil alterasi batuan tufa yang menghasilkan kaolin. Sedangkan dari
komposisi kimianya, kaolin ini dapat digunakan sebagai bahan mentah untuk gerabah halus tidak
padat.

Kata kunci: kaolin, XRD, petrogafi, SEM, kimia, pemanfaatan

ABSTRACT

The district of Tasikmalaya has some the minerals industry resources, one of which is kaolin with
chemical formula Al2SiO5 (H2O). Research about the genesis and characterization of the kaolin from
areas Cipatujah and Karangnunggal Tasikmalaya has been conducted. Kaolin in the research area
was brownish white color and rocks around the location are form of tufa. To determine the
characteristics of kaolin, kaolin samples were analyzed by XRD (X-Ray Diffraction), petrographic,
chemical analysis and SEM (Scanning Electron Microscope). The results of the analysis of two
samples of each are: XRD analysis showed the mineral content in the form of kaolinite, halloysite,

291
ISBN: 978-979-8636-23-3

cristobalite, dickite, muscovite, illite and hematite; Petrographic analysis describe tuff fragments
glass, quartz and clay; SEM analysis results showed crystalline forms such as kaolinite, halloysite
and dickite; and the results of chemical analysis containing composition: SiO 2 (66-68%), Al2O3
(19%), Fe2O3 (0.8-1,1%) and LOI (9%). Based on the results analysis of XRD, petrographic and
SEM, kaolin Cipatujah and Karangnunggal formed from the tufa rock with alteration process and
then produces kaolin. While the chemical composition, kaolin can be used as a raw material for fine
pottery not solid.

Keywords: kaolin, XRD, petrographic, SEM, chemical, utilization

PENDAHULUAN

Indonesia kaya akan paparan bahan galian kaolin dan sangat bervariasi jenisnya, keragaman kaolin

sangat dipengaruhi oleh lingkungan pengendapannya serta mempunyai jenis pemanfaatan yang

berbeda pula. Kaolin banyak diminati oleh turis mancanegara maupun Indonesia karena menjadi

bahan baku dan bahan tambahan di berbagai industri di Indonesia, yakni industri cat, kertas, keramik,

farmasi dll. Selain mempunyai daya tarik di bidang industri, kaolin juga memiliki daya tarik dibidang

geologi, karena proses pembentukannya yang berbeda-beda. Keterdapan batuan vulkanik hasil

gunung api dan alterasi hidrotermal merupakan suatu indikator adanya pembentukan batuan kaolin.

Kaolin merupakan mineral tanah liat dengan kandungan utama berupa mineral kaolinit yang tersusun

dari aluminasilikat terhidrat. Selain kaolinit mineral lain yang terkandung dalam kaolin adalah dickit,

nakrit dan haloisit (Prasad dkk., 1991).

Endapan kaolin terjadi pada berbagai satuan batuan (misalnya laterit, bauksit, beku berubah dan

batuan metamorf) dan bentuk di berbagai lingkungan pengendapan (misalnya tanah tropis, banjir

deposito biasa) (Dill et al., 1997). Geokimia endapan kaolin sedimen dikendalikan oleh banyak faktor

termasuk: (1) mineral detrital seperti kuarsa, feldspars, zirkon, rutil, dan Leucoxene yang

mencerminkan komposisi daerah sumber, (2) mineral baru terbentuk selama pelapukan termasuk

kaolinit dan non mineral clay asanatase tersebut, dan (3) pasca perubahan pengendapan termasuk

diagenesis perintah pelapukan. Beberapa upaya telah didalilkan untuk memeriksa sumber endapan

kaolin dan asal mula endapan berdasarkan geokimianya.

Beberapa penelitian terdahulu mengenai genesis kaolin antara lain, Fialips et al. (1999) menunjukkan

bahwa crystallographical dan karakteristik kimia kaolin sangat bervariasi dan tergantung pada asal-

usul dari endpan kaolin tersebut. Endapan kaolin dibentuk oleh pelapukan bahan induk (feldspar,

292
PROSIDING PEMAPARAN HASIL PENELITIAN PUSAT PENELITIAN GEOTEKNOLOGI LIPI TAHUN 2014
“Peran Penelitian Geoteknologi untuk Menunjang Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia”

mika) seperti yang dipelajari di sini, sangat rentan terhadap kontaminasi oleh mineral lainnya,

termasuk tanah liat. Kaolin bercampur dengan komponen minor lainnya yang tergantung pada

kondisi alam dan mengakibatkan sifat dan warna yang berbeda-beda. Cases et all, menyatakan bahwa

Sebuah penyelidikan rinci termasuk apresiasi sifat kristalografi dan morfologi adalah diperlukan

untuk mengidentifikasi kemungkinan aplikasi industri dan ini membutuhkan pendekatan terpadu

yang menggabungkan beberapa metode analisis mineralogi (Cases, et all, 1986)

Maksud dari penulisan ini adalah untuk mengetahui proses-porses diagenesa yang terjadi pada daerah

penelitian dan diharapkan dapat diketahui komposisi dari kaolin dengan analisis Xrd, Xrf dan

petrografi. Sedangkan tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana data XRD, petrogarfi

dan SEM dapat mendukung dalam penelitian perubahan mineral kaolin pada daerah penelitian

melalui pengamatan proses diagenesa dan komposisi kimianya dengan menggunakan analisis kimia

untuk menentukan alternatif pemanfaatanya dengan mengkaitkan Standard Industri yang ada.

LOKASI PENELITIAN

Lokasi penelitian berada di Cipatujah dan Karangnunggal kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Formasi Jampang merupakan formasi batuan di daerah penelitian Cipatujah, terdiri dari breksi

gunungapi, lava, dan tuf. Sedangkan pada daerah Karangnunggal terdapat pada Formasi Batuan

Gunungapi Muda yang terdiri dari breksi aneka bahan dan tuf bersisipan lava.

Gambar 1. Peta Geologi dan Lokasi Pengambilan Sampel

293
ISBN: 978-979-8636-23-3

Untuk wilayah Cipatujah terdapat intrusi berupa Granodiorit yang memungkinkan adanya alterasi

hidrothermal sehingga kaolin pun dapat terbentuk. Gambar diatas menunjukan keadaan geologi dan

lokasi pengambilan sampel kaolin yang dilakukan di dua titik yaitu di wilayah Cipatujah dan

Karangnunggal.

METODE

Beberapa metode di gunakan untuk mendapatkan kesimpulan yang komprehensif. Metode penelitian

diawali dengan pengambilan sampel diberbagai titik. Gambar 2 dan 3 memperlihatkan bagaimana

pengambilan sampel dilakukan.

Gambar 2. Pengambilan sampel di wilayah Cipatujah

Gambar 3. Pengambilan sampel di wilayah Karangnunggal

Sebagaian sampel dipersiapkan untuk dianalisis petrografi, analisis ini bertujuan untuk mengetahui

melihat secara mikroskopis permukaan sampel kaolin yang akan mengacu pada proses-proses genesa

yang sudah terjadi pada sampel tersebut. Sampel disiapkan, dipotong dan dicetak (sayatan tipis)

untuk dilihat permukaannya dengan menggunakan mikroskop agar dapat diketahui bagaimana

perbedaan permukaan sampel dari tempat yang berbeda. Sebagian sampel digerus hingga ukuran

butir halus (200 mesh) kemudian dianalisa menggunakan X-Ray Difractometer (XRD) untuk

294
PROSIDING PEMAPARAN HASIL PENELITIAN PUSAT PENELITIAN GEOTEKNOLOGI LIPI TAHUN 2014
“Peran Penelitian Geoteknologi untuk Menunjang Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia”

mengetahui mineral yang terkandung dan analisa semi kuantitatifnya. Terakir sampel dilakukan

proses analisis SEM untuk melihat bentuk kristal di dalam sampel dan analisis kimia untuk

mengetahui komposisi kimianya. Hasil analisis petrografi, XRD dan SEM akan dijadikan parameter

untuk menentukan bagaimana proses genesanya terjadi. Sedangkan analisis kimia akan menjadi

parameter dalam alternatif pemanfaatannya, dengan mengacu pada Standar Industri yang ada.

HASIL PENELITIAN

Analisis Petrografi

Analisis Petrografi menunjukkan tekstur klastik, terdiri dari fragmen dan matriks. Fragmen

berukuran 0,5 – 3 mm, terdiri dari: tuf gelas kristal aliran (35%) komposisnya lempung ubahan gelas

volkanik dan felspar, kuarsa, hornblende diinterpretasikan jenis riolitik; tuf gelas kristal teroksidasi

(32%) komposisi mineral lempung ubahan gelas volkanik dan teroksidasi, felspar, kuarsa. Fragmen

kuarsa (3%) bentuk membulat tanggung, jumlah sedikit. Matriks berupa gelas volkanik (30%) yang

telah terubah menjadi lempung warna merah kehitaman teroksidasi. Gambar 4 menunjukkan

kenampakan petrografinya.

Gambar 4. Hasil kenampakan petrografi

Analisis X –Ray Diffraction

Analisa XRD memperlihatkan keterdapatan mineral kaolinit, haloisit, kristobalit dan mineral lainnya

dalam jumlah yang kecil. Dalam Gambar 5, dapat terlihat pola peak hasil XRD untuk menentukan

mineralnya. Hasil uji XRD dari sampel kaolin menunjukan mineral yang terdapat adalah kaolinit,

kristobalit, haloisit, mineral lempung dan sedikit hematit. Dari intensitas tersebut, komposisi dari

mineral kristobalit terlihat paling dominan, kemudian disusul dengan haloisit dan kaolinit serta

mineral yang lainnya dalam intensitas yang kecil.

295
ISBN: 978-979-8636-23-3

Pada umumnya perubahan batuan feldspartik disekitar lokasi penelitian terjadi karena adanya alterasi

hidrotermal yang kemudian membentuk mineral kaolin seperti kaolinit dan haloisit tersebut.

Gambar 5. Grafik hasil XRD sampel Dukupuntang

Dari data grafik (peak) XRD dilakukan analisis semi kuantitatif menggunakan software siroquant

untuk mengetahui seberapa besar persentase masing-masing mineral. Komposisi mineral dari kedua

sampel kaolin ini terlihat hampir sama, perbedaan dari komposisinya masih terlihat kecil. Mineral

yang paling dominan disini adalah mineral kristobalit, haloisit, dan kaolinit, kemudian diikuti

dengan mineral yang lain dalam jumlah yang cukup kecil (Tabel 1).

Tabel 1. Hasil analisis semi kuantitaif mineral

Kadar Pada Sampel (%)


No Nama Mineral
Cipatujah (8a) Karangnunggal (13a)
1 Kristobalit (SiO2) 48.1 45
2 Haloisit 27.5 25.2
3 Kaolinit 9.6 8.8
4 Dikit 6.1 6.9
5 Muskovit 4.3 8.5
6 Ilit 3.3 4.8
7 Hematit (Fe2O3) 0.9 0.8

296
PROSIDING PEMAPARAN HASIL PENELITIAN PUSAT PENELITIAN GEOTEKNOLOGI LIPI TAHUN 2014
“Peran Penelitian Geoteknologi untuk Menunjang Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia”

Analisis Scaning Electron Microscope (SEM)

Hasil analisis SEM menunjukan bentuk-bentuk kristal yang mencirikan beberapa mineral-mineral

didalmnya. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan perbesaran 1.000 dan 5.000 kali. Hasil

kenampakan dari perbesaran tersebut dapat dilihat pada Gambar 6 dan 7.

Kaolinit

Haloisit Dikit
Haloisit

Kaolinit Kaolinit

Gambar 6. Hasil SEM Sampel Kaolin Cipatujah

Hasil SEM sampel kaolin Cipatujah diatas menunjukan bentuk-bentuk kristal dari kelompok mineral

kaolin yaitu kaolinit, dikit dan haloisit. Keseluruhan dicirikan dalam bentuk mosaic, kaolinit dalam

bentuk lembaran, dikit dalam bentuk pseudohexagonal, dan haloisit berbentuk butiran halus.

Illite
Haloisit
Kaolini
Haloisit t
Illite
Kaolini
t Haloisit

Gambar 7. Hasil SEM Sampel Kaolin Karangnunggal

Sampel kaolin Karangnunggal menunjukan bentuk-bentuk kelompok mineral kaolin dan mineral

lempung (ilit). Secara keseluruhan hampir sama dari kaolin Cipatujah yaitu dicirikan dalam bentuk

mosaic. Kaolinit berbentuk lembaran, haloisit berbentuk butiran halus dan ilit berbentuk flake.

297
ISBN: 978-979-8636-23-3

Analisis Kimia

Analisis kimia dilakukan dengan beberapa metode untuk mengetahui komposisi senyawa didalam

sampel kaolin. Tabel 2. Memperlihatkan hasil komposisi senyawa sampel kaolin Cipatujah dan

Karangnunggal.

Tabel 2. Hasil analisa kimia

Kode Sampel
No Unsur yang Dianalisis Satuan Cipatujah Karangnunggal Metode
(8) (13)
1 Silicone dioxide (SiO2) % 68,86 66,7 Gravimetry
2 Titanium dioxide (TiO2) % 0,54 0,59 Spectrophotometry
3 Alumunium trioxide (Al2O3 ) % 19,39 19,1 Titration
4 Iron trioxide (Fe2O3) % 1,14 0,84 AAS
5 Manganase oxide (MnO) % 0,0047 0,008 AAS
6 Magnesium oxide (MgO) % 0,02 0,11 AAS
7 Calcium oxide (CaO) % - 0,006 AAS
8 Potassium oxide (K2O) % 0,14 1,68 AAS
9 Sodium oxide (Na2O) % 0,06 0,37 AAS
10 Phosphoric (P2 O5) % 0,61 0,55 Spectrophotometry
-
11 Moisture content (H2O ) % 1,12 1,21 Gravimetry
+
12 Volatile content (H2O ) % 7,55 7,86 Gravimetry
13 LOI (Ignition Loss) % 9,30 9,56 Gravimetry

Dari hasil analisis kimia tersebut, terlihat hampir sama antara kedua sampel. Perbedaan yang

signifikan terdapat pada senyawa iron trioxide (Fe2O3), yang cukup berpengaruh terhadap kualitas

kaolin. Keterdapan Fe2O3 akan mempengaruhi derajat keputihan dan nantinya akan menjadi salah

satu parameter dalam alternatif pemanfaatannya.

PEMBAHASAN

Dilihat dari pengamatan di lapangan dan interpretasi dari peta geologi regional lembar

Karangnunggal, morfologi daerah penelitian berupa perbukitan yang tersusun oleh batuan hasil

proses vulkanik berupa breksi gunung api, breksi aneka bahan dan tuf. Dari hasil analisis Petrografi,

XRD dan SEM, kemudian dikaitkan dengan klasifikasi menurut Corbett dan Leach (1996), genesa

kaolin daerah penelitian terbentuk melalui proses alterasi hidrotermal dengan tipe agrilik. Gambar 8

memperlihatkan klasifikasi dari proses alterasi hidrotermal.

298
PROSIDING PEMAPARAN HASIL PENELITIAN PUSAT PENELITIAN GEOTEKNOLOGI LIPI TAHUN 2014
“Peran Penelitian Geoteknologi untuk Menunjang Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia”

Gambar 8. Klasifikasi Tipe Alterasi Hidrotermal (Corbett dan Leach, 1996)

Salah satu potensi pemanfaatan kaolin adalah sebagai bahan dalam pembuatan keramik. Dari hasil

analisa kimia, kemudian dikaitkan dengan klasifikasi pemanfaatan berdasarkan SII0654-82 (Tabel

3).

Tabel 3. Syarat Mutu Kaolin Sebagai Bahan Baku Keramik (SII0654-82)

Golongan
Syarat Gerabah halus Gerabah halus tidak
Porselen Saniter
padat padat
Analisa Kimia:
Fe2O3, maks. 0,4 0,7 0,8 1,0
TiO 2, maks. 0,3 0,7 - -
CaO 0,8 0,8 0,8 0,8
SO3, maks. 0,3 0,3 0,4 0,4

299
ISBN: 978-979-8636-23-3

Dari data tersebut, kaolin daerah Karangnunggal dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku gerabah

halus tidak padat. Sedangkan kaolin cipatujah belum sesuai dengan klasifikasi tersebut karena

mempunyai kadar Fe2O3 yang melebihi baku mutu tersebut yaitu melebihi 1%, Sehingga perlu

dilakukan proses pengurangan Fe2O3 terlebih dahulu.

KESIMPULAN

Genesa kaolin daerah Cipatujah dan Karangnunggal terbentuk melalui proses alterasi hidrotermal

terhadap batuan tuf. Tipe alterasi hidrotermal yang terjadi adalah tipe alteri agrilik. Berdasarkan

komposisi kimia dan SII 0654-82, Kaolin daerah Karangnunggal dapat digunakan sebagai bahan

baku gerabah halus tidak padat. Sedangkan kaolin Cipatujah belum sesuai dengan baku mutu

tersebut, sehingga perlu dilakukan proses pengurangan Fe2O3 terlebih dahulu.

UCAPAN TERIMA KASIH

Dengan selesainya dan diterbitkan tulisan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ir.

Dewi Fatimah dan Dra. Lenny Marilyn Estiaty atas diskusi yang membangun dalam penelitian ini.

Ucapan terima kasih disampaikan pula kepada rekan teknisi Laboratorium Kimia Mineral dan

Laboratorium Mikropal serta rekan-rekan yang telah membantu dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Cases, J.-M., Cunin, P., Grillet, Y., Poinsignon, C., Yvon, J., 1986. Methods of analysing

morphology of kaolinites: relations between crystallographic and morphological

properties. Clay Minerals 21, 55–68.

Corbett, G.J., Leach, T.M. 1996, Southwest Pacific Rim gold - copper systems: structure,

alteration and mineralization. Workshop manual, 185.

J. Sei, F. Morato, G. Kra, S. Staunton, H. Quiquampoix, J.C. Jumas c, J. Olivier-Fourcade. 2006.

Mineralogical, crystallographic and morphological characteristics of natural kaolins from

the Ivory Coast (West Africa). Journal of African Earth Sciences 46, 245–252.

Prasad, M.S., K.J. Reid and H.H. Murray, 1991. Kaolin: Processing, Properties and Aplications.

Aplied Clay Science. 6:87-119.

300
PROSIDING PEMAPARAN HASIL PENELITIAN PUSAT PENELITIAN GEOTEKNOLOGI LIPI TAHUN 2014
“Peran Penelitian Geoteknologi untuk Menunjang Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia”

Standar Industri Indonesia, 1987, Syarat Mutu Kaolin Untuk Keramik Halus, SII 0654 – 82

Supriatna, S., Sarmili, L., Sudana, D., dan Koswara, A. 1992. Peta Geologi Lembar Karangnunggal,

Jawa (Geological Map Of The Karangnunggal Quadrangle, Java). Lembar: 1308-1,

Sekala 1: 100.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

301