Anda di halaman 1dari 6

Khutbah Nikah ‫ص ِلحْ لَ ُك ْم اَ ْع َمالَ ُك ْم َويَ ْغ ِف ْر لَ ُك ْم ذُنُوبَ ُك ْم َو َم ْن يُ ِط ْع‬

ْ ُ‫ي‬
‫از فَ ْو ًزا ع َِظي ًما‬ َ َ‫سولَهُ فَقَ ْد ف‬ ُ ‫هللاَ َو َر‬
Pernikahan, secara syar’i adalah ibadah; dan secara
ِ‫ستَ ْغ ِف ُرهُ َونَعُ ْوذُ ِباهلل‬ ْ َ‫ستَ ِع ْينُهُ َون‬ ْ ‫اَ ْل َح ْم ُد هللِ نَ ْح َم ُدهُ َو َن‬ ma’nawi merupakan penyatuan dua potensi fitrah yang
berbeda untuk diikat dan dihimpun dalam kebersamaan
‫ت اَ ْع َما ِلنَا‬ ِ ‫سيِئَا‬ َ ‫سنَا َو ِم ْن‬ ِ ُ‫ِم ْن ش ُُر ْو ِر اَ ْنف‬ menuju kesempurnaan penjadian selaku hamba yang
serba-serbi wajib menurut terhadap kehendak-Nya. Atas
ُ‫ِى لَه‬ َ ‫ض ِل ْلهُ فَالَ َهاد‬ ْ ُ‫َم ْن يَ ْه ِد هللاُ فَالَ ُم ِض َّل لَهُ َو َم ْن ي‬ dasar ini, menjadi penting dalam penyikapan, agar kiranya
sejak dari niat, mempelai berdua selalu meletakkan
‫ع ْب ُد ُه‬َ ‫ش َه ُد اَ َّن ُم َح َّمدًا‬ ْ َ‫ش َه ُد اَ ْن الَالهَ اِالَّ هللاُ َوا‬ ْ َ‫ا‬ peristiwa ini sebagai wujud kecintaan dan pelaksanaan
‫علَى‬ َ ُ‫ق ِليُ ْظ ِه َره‬ ِ ‫سلَهُ ِبا ْل ُهدَى َو ِد ْي ِن ا ْل َح‬ َ ‫س ْولُهُ اَ ْر‬ ُ ‫َو َر‬
ketaatan kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Perni-kahan
adalah sebuah amanah langsung dari Allah dan
‫الد ْي ِن ك ُِل ِه َولَ ْو ك َِر َه ا ْلكَافِ ُر ْو َن‬ ِ RasulNya, dan setiap amanat menuntut tanggung jawab.
Betapa luar biasanya aqad nikah ini, sekalipun dengan
‫سل ْم َوبَا ِر ْك عَلى ُم َح َّم ٍد َوعَلى ا ِله‬ َ ‫صل َو‬ َ ‫اَلل ُه َّم‬ ucapan yang sederhana, dengan adanya aqad nikah, ِ
‫ص َحا ِبه‬ ْ َ‫َوا‬ perbuatan yang semula diharamkan ' menjadi halal,
perbuatan yang semula bernilai maksiyat, berubah
‫ق تُقَاتِ ِه َوالَ تَ ُموت ُ َّن‬ َّ ‫ِين آ َمنُوا اتَّقُوا هللاَ َح‬ َ ‫يَااَيُّ َها الَّذ‬ menjadi ibadah. Dalam kaitan nikah ini Allah berfirman:
َ ‫َوا َ َخ ْذ َن ِم ْن ُك ْم ِميثَاقًا‬
ً ‫غ ِلي‬
‫ظا‬
‫ون‬َ ‫س ِل ُم‬ ْ ‫اِالَّ َواَ ْنت ُ ْم ُم‬ Wa akhazna minkum misaqan galiza
‫اس اتَّقُوا َربَّ ُك ْم الَّذِي َخلَقَ ُك ْم ِم ْن نَ ْف ٍس‬ ُ َّ‫يَااَيُّ َها الن‬ ".... Dan mereka (isteri-isteri) telah mengambil dari kalian

‫يرا‬ ً ‫ث ِم ْن ُه َما ِر َجاالً َك ِث‬ َّ ‫ق ِم ْن َها َز ْو َج َها َو َب‬ َ َ‫اح َد ٍة َو َخل‬ِ ‫َو‬
penjanjian yang kuat." (QS. An-Nisa': 21)

‫ون ِب ِه َواْالَ ْر َحا َم ا َِّن‬ َ ُ‫سا َءل‬ َ َ‫سا ًء َواتَّقُوا هللاَ الَّذِي تَت‬ َ ِ‫َون‬ Pernikahan adalah sebuah perjanjian teguh
(mitsaqan ghalizha). Kata-kata mitsaqan ghalizha ini
‫علَ ْي ُك ْم َرقِيبًا‬ َ ‫َان‬ َ ‫هللاَ ك‬ hanya disebut tiga kali dalam Al-Qur'an. Penyebutan lain

َ ً‫ِين آ َمنُوا اتَّقُوا هللاَ َوقُولُوا قَ ْوال‬ َ ‫يَااَيُّ َها الَّذ‬


berkenaan dengan perjanjian Allah dengan Bani Israil
‫سدِيدًا‬ untuk bersumpah setia dan taat kepada Allah sedang
gunung Thursina diangkat di atas kepala mereka (QS. An-
Nisa: 154). Penyebutan yang lain berkenaan dengan
perjanjian Allah dengan para Nabi yang tergabung dalam Betapa Allah memulyakan hamba-hamba-Nya yang
Ulul Azmi (Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as, dan N. mengikuti sunnah Rasul-Nya ini sehingga Allah
Muhammad saw) untuk menegakkan dan menyebarkan menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah,
kalimat Allah di muka bumi (QS. Al-Ahzab: 7). Jelaslah sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
bahwa pernikahan ini bukan suatu senda gurau karena
sejajar dengan perjanjian Allah dengan Bani Israil dan َّ ‫َواَنك ُحوا اْالَيَا َمى م ْن ُك ْم َوال‬
‫صالحينَ م ْن عبَاد ُك ْم َوا َمائ ُك ْم ا ْن يَ ُكونُوا فُقَ َرا َء‬
sejajar pula dengan perjanjian Allah dengan para Nabi ‫عليم‬ َ ‫يُ ْغنه ْم للاُ م ْن فَضْله َوللاُ َواسع‬
yang mulya.
Dalam perjalanannya Bani Israil gagal Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara
menunaikan amanah karena adanya ketidakjujuran dan kamu dan orang-orang yang layak (bernikah) dari hamba-
khianat terhadap amanat, sedangkan para Nabi berhasil hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika
dengan izin Allah karena dilandasi sifat kejujuran (shiddiq) mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan
dan berlaku benar dalam menu-naikan amanah. Dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi
demikian pernikahan itu bisa gagal ataupun berhasil Maha Mengetahui. (Q.S.24 : 32).
sangat bergantung pada sifat yang melandasi ikatan dan Dari segi dimensi-dimensinya, pernikahan adalah
bangunan keluarga berdua. ikatan kasih sayang. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita
Mengingat agungnya tali ikatan ini, maka ketika ia semua bahwa melalui pernikahan seharusnyalah terwujud
telah terbuhul tekadkan-lah dalam hati berdua, sejak dari suasana kasih sayang, kebahagiaan, sebuah oase
awal, untuk menjaga amanah ini hingga akhir hayat nanti surgawi di dunia. Keluarga adalah sebuah wahana untuk
. Ini menjadi amat penting dalam proses kehidupan mewujudkan kebahagiaan. Berkeluarga merupakan
berdua selanjutnya. Dengan menempatkan niat dan tekad komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan itu. Sungguh
itu, semoga kiranya Allah swt selalu berkenan hadir dalam tidak mudah mendefinisikan kebahagiaan namun jelas
kehidupan kalian berdua, baik di kala gembira maupun di bahwa ia berlawanan dengan kekecewaan, kesedihan,
saat duka. kegelisahan, kelesuan, kegalauan dan sejenisnya.
Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan
amat besar, sehingga ikatan itu ditetapkan sebanding ‫َوم ْن آ َياته ا َ ْن َخلَقَ لَ ُك ْم م ْن اَنفُس ُك ْم ا َ ْز َوا ًجا لت َ ْس ُكنُوا الَ ْي َها َو َج َع َل بَ ْينَ ُك ْم‬
dengan separuh agama. Anas bin Malik ra berkata : َ‫َم َو َّدة ً َو َرحْ َمةً ا َّن في َذلكَ الَيَات لقَ ْوم يَتَفَ َّك ُرون‬
“Telah bersabda Rasulullah saw: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri,
Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan
dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
Riwayat Thabrani dan Hakim).
benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. dalam perjalanan kalian membangun rumah tangga yang
30:21) semoga dengan begitu kalian akan dirahmati dan
diberkahi oleh Allah swt. Tanggung jawab sebagai kepala
Rahasia agung hubungan suami-isteri bagi orang
keluarga berada di pundak suami dengan tanggung jawab
yang beriman adalah sebagai jalan penyatuan rasa yang
terbesar dan terberat menjaga agar bahtera keluarga
melalui sentuhan pengalaman itu diharapkan hamba
selalu berjalan menuju visi abadi: kebahagiaan dunia
mampu menjalin penyatuan rasa dan bercinta dengan
akhirat dan terhindar dari siksa neraka dalam keadaan
Rabbnya. Rasulullah saw menyatakan rumah tangganya
ridha dan diridhai.
adalah syurganya , dan Beliau berharap agar umatnya
Teladan mulia bagi istri tentunya adalah Ibunda
merasakan pula suasana syurgawi itu. Oleh sebab itu
Khadijatul Kubra, yang selalu memberikan keteduhan,
Rasulullah saw menyatakan:
kelembutan, dan dorongan yang tiada henti kepada
"Nikah itu adalah sunnahku, karena itu barang siapa yang suami untuk tetap istiqamah sehingga betapapun berat
membenci sunnahku, ia bukan sebahagian golonganku" tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat
(Hadits), diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab.
dan pada Sabdanya yang lain: Suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada
Aisyah ra. Ia bertanya apa yang paling berkesan dalam
“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kehidupan keluarga Rasulullah saw. Aisyah diam sejenak,
kamu, dan perba-nyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku kemudian berujar suatu ketika Rasulullah hendak Shalat
akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di tengah Tahajud, Beliau meminta izin kepada Aisyah untuk
umat yang lain.” (Hadits) menghadap ke Allah. Demikian santun Rasulullah
Juga Sabda Rasulullah saw: terhadap isterinya sehingga untuk beribadah pun merasa
per lu meminta izin kepada isteri. Selanjutnya Aisyah
Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong ditanya bagaimana akhlaq Rasulullah keseluruhannya?
mereka, yaitu seo-rang mujahid fi sabilillah, seorang Aisyah menjawab, “semuanya mengagumkan”.
hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan Mengambil teladan ini, maka sekiranya Allah
seorang yang menikah karena ingin memelihara kehor- mentaqdirkan saudara Adi dipanggil Allah lebih dahulu,
matannya”. (H R Ahmad, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah, kemudian kami bertanya kepada isteri saudara,
dan Hakim). “bagaimana perlakuan suamimu selama ini”?
Dimensi yang lain dari pernikahan adalah rahmah. Berbahagialah engkau saudara__________apabila isteri
Agama Islam mengatur tanggung jawab dan peran dari saudara menjawab, “Semuanya mengagumkan”.
pasangan suami-isteri secara seimbang dalam kehidupan Rasulullah bersabda, “yang paling mulia diantara kalian
berkeluarga. Sempurnakan dan tunaikanlah hal tersebut adalah yang paling baik akhlaqnya terhadap isterinya”.
Pada kali yang lain, Aisyah menampakkan Ingatlah selalu bahwa salah satu fungsi pasangan
kecemburuan kepada Rasulullah karena selalu suami isteri itu menurut Al-Qur’an (2:187) adalah seperti
mengingat-ingat dan menyebut nama Khadijah ra. Aisyah pakaian:
ra mengatakan,”bukankah ia hanya wanita tua”? Seketika
Rasulullah marah dan bersumpah, “Demi Allah, tidak ada ‫ُه َّن لبَاس لَ ُك ْم َوا َ ْنت ُ ْم لبَاس لَ ُه َّن‬
wanita yang lebih baik dari dia. Dialah yang membelaku di
saat semua orang memusuhiku, dia yang menolongku di Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunn
saat aku kesulitan, dia yang menghiburku di saat aku
sedih, mengorbankan hartanya, dan dia memberiku …. mereka dalah pakaian bagimu dan kamupun pakaian
keturunan yang tidak diberikan oleh isteriku yang lain. bagi mereka….
Dari teladan ini, maka betapa bahagianya
saudari___________, sekiranya Allah mentaqdirkan Fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah
saudari dipanggil lebih dulu, dan kami bertanya kepada juga untuk menu-tupi aurat, maka suami istri harus saling
saudara_______, “Bagaimana sikap isterimu selama menutupi kelemahan pasang-annya. Adapun sebaik-baik
bersamamu, inginkah kami carikan pengganti untukmu, pakaian adalah pakaian taqwa. Seandainya kalian melihat
dengan spontan suami saudari menjawab, “wanita mana kelemahan pada pasangan kalian maka berdoalah agar di
yang akan pantas untuk meng-gantikannya, adakah yang balik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terkira.
lebih baik dari dia”? Ingatlah firman Allah swt (Q.S.4:19): “Kemudian jika kamu
Dijelaskan oleh Allah “Adapun wanita yang tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena
shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri mungkin kamu tidak menyukai sesuatu hal saja, padahal
bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.
mereka”. (An-Nisaa : 34). “Apabila seorang isteri Hamba yang telah Allah persatukan dalam
meninggal dunia, dan suaminya ridha terhadapnya maka pertalian nikah Ijab-Qabul, berarti masing-masing telah
sang isteri itu dijamin masuk syurga” (Al-Hadits). Dan bersedia dihadapkan pada keberbedaan yang menuntut
pada sabdanya yang lain, “Apabila isteri telah penyatuan dalam segala hal. Kandas dan hancurnya
menunaikan shalat 5 waktu dan puasa di bulan kehidupan di rumah tangga lebih banyak disebabkan
Ramadhan sedangkan ia taat kepada suaminya (selama kegagalan dalam penyatuan keberbedaan. Sedang
suami juga taat kepada Allah) maka kelak Allah berfirman keberbedaan tak dapat dihindari karena bagaimanapun
kepadanya: silakan engkau masuk ke dalam syurgaku juga antara laki-laki dan wanita 2 makhluq dengan sifat-
lewat pintu mana saja yang engkau sukai” (Al-Hadits). potensi yang berbeda; masing-masing memiliki kelebihan
dan kekurangan tersendiri, ini bukan berarti perbedaan
tidak dapat lebur dalam penyatuan.
Sampai kapanpun rasa tidak akan pernah dapat ataukah amanah baik terhadap sesama maupun terhadap
bersentuhan bila keadaan rasa tumbuh dalam keadaan Rabbnya. Apa jadinya bila dalam rumah tangga masing-
keras-membatu, karena semua yang bersifat keras bila masing pihak saling berdusta, pertanda jalannya rumah
saling bersentuhan yang terjadi saling benturan. Lain tangga dalam kendali Iblis menuju kehancuran, nyatalah
halnya bila yang bersentuhan adalah kelembutan, yang betapa besarnya peran keterbukaan dan kejujuran dalam
terjadi saling kelekatan atau penyatuan. Ketika hubungan kehidupan suami-istri. Yahudi dan keterunannya terlaknat
suami-istri berlangsung dengan ketulus-sucian seketika salah satunya suka berkhianat terhadap amanah dan
potensi rasa bergerak dengan kelembutan terjadilah merubah-rubah dari pesan kebenaran. Oleh karena itu,
saling sentuhan, kelekatan dan penyatuan rasa pelihara dan pegung teguh amanah yang dilekatkan di
meleburkan semua keberbedaan. Dalam keadaan tidak pundakmu ini.
disadari ketika rasa saling bersentuhan dan berlebur
dalam penyatuan dari fihak suami bergerak potensi ‘aqal
yang tertangkap oleh rasa isteri; demikian pula sebaliknya ‫ع َل ْيكَ َو َج َم َع بَ ْينَ ُك َم فِ ْي َخ ْي ٍر‬
َ َ‫با َ َركَ ّللاُ لَكَ َوبا َ َرك‬
dari fihak istri bergerak potensi kehalusan rasa yang
tertangkap oleh ‘aqal suami. Terjadilah saling lintas “BAARAKALLAHU LAKA WA BAARAKA’ALAIKA
potensi rasa dan ‘aqal yang dengannya melahirkan WAJAMA’ABAINAKUMAA FII KHOIR”
manusia cerdik-cerdas-sehat-kuat. Ketika rasa dan aqal Semoga Allah melimpahkan barakah kepada kamu dan
saling bergandengan erat tak terpisahkan satu persatu menurunkan kebahagiaan atasmu, serta menghimpun
hijab hati terbuka kamu berdua dalam kebaikan.

Sampai kapanpun tidak akan terjadi hubungan َ ‫اجنَا َوذُريَّاتِنَا قُ َّرةَ ا َ ْعيُ ٍن َواجْ َع ْلنَا ِل ْل ُمت َّ ِق‬
‫ين‬ ِ ‫َربَّنَا َه ْب َلنَا ِم ْن ا َ ْز َو‬
cinta antara hamba dengan Pencipta, jika penyatuan rasa ‫اِ َما ًما‬
antara sesama makhluq tidak bisa dicapai. Itulah Rabbana hab lana min azwajina wa zurriyatina qurrata a’yuniw
sebabnya salah satu rahasia agung dari pernikahan suci waj alna lil muttaqina imama
membawa-menuntun manusia menuju penyatuan cinta
Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri dan
dengan Allah, dalam hal ini yang paling berperan dalam
keturunan yang menyejukkan sebagai cindera matahati
penyatuan rasa antarsesama maupun antara hamba
kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang
dengan Allah adalah kelembut-halusan rasa. Ketika
bertaqwa”. (Q.S.25: 74)
seorang hamba mulai merasakan atau memperoleh
ْ َ‫أَقُو ُل قَ ْو ِلي َهذَا َوأ‬
ْ ‫ست َ ْغ ِف ُر هللاَ ِل ْي َولَ ُك ْم فَا‬
tetesan cinta dari Allah dengan sendirinya terjadi saling-
sapa dan saling memberi kepercayaan serta menjauhkan ‫ست َ ْغ ِف ُر ْوهُ اِنَّهُ ُه َو‬
diri dari kedustaan. Disinilah hati seorang hamba teruji ‫الر ِح ْي ُم‬
َّ ‫ور‬ُ ُ‫ا ْلغَف‬
keterbukaan dan kejujurannya, akankah dirinya khianat