Anda di halaman 1dari 3

Oleh: Ainul Yaqin

Berhari raya bersama pemerintah bisa menjadi solusi

Sebagaimana telah disebut diatas, Ramadhan dan hari raya merupakan syi’ar
kebersamaan umat Islam. Suatu kebersamaan umat tidaklah mungkin terwujud
tanpa adanya ketaatan terhadap penguasa, dengan ketaatan ini ada akan ada satu
komando yang sama. Perbedaan adalah suatu keniscayaan, sebagai implikasi dari
adanya ijtihad, karena itu untuk menyatukannya perlu ada komando yang satu,
sedangkan untuk menuju kesatuan terdapat dasar yang dapat menjadi
pertimbangan:

1. Hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam agar mentaati penguasa:

َ ‫ َو َم ْن أ َ َطا‬،َ‫صىاهلل‬
‫ع‬ َ ‫صا ِني فَقَ ْد‬
َ ‫ع‬ َ ‫ َو َم ْن‬،َ‫ع هللا‬
َ ‫ع‬ َ ‫ع ِني فَ َق ْد أ َ َطا‬ َ ‫َم ْن أ َ َطا‬
‫صانِي‬
َ ‫ع‬ َ ‫صى أ َ ِم ْي ِري فَقَ ْد‬ َ ‫ َو َم ْن‬،‫عنِي‬
َ ‫ع‬ َ ‫أ َ ِم ْي ِري فَقَ ْد أ َ َطا‬
“Barangsiapa menaatiku berarti telah menaati Allah. Barangsiapa menentangku
berarti telah menentang Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti
telah menaatiku, dan barangsiapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah
menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang menyerukan agar


berpuasa dan berhari raya bersama:

َ‫ضحُّون‬ ْ ‫صو ُمونَ َو ْال ِف‬


ْ َ ‫ط ُر يَ ْو َم ت ُ ْف ِط ُرونَ َو ْاْل‬
َ ُ ‫ض َحى يَ ْو َم ت‬ ُ َ ‫ص ْو ُم يَ ْو َم ت‬
َّ ‫ال‬

Puasa adalah di hari kalian semua berpuasa, idul fitri adalah di hari kalian
semua beridul fitri, dan idul adha adalah dihari kalian semua menyembelih
qurban (HR al-Tirmidzi)

3. Kaidah Fiqhiyah:

‫حكم الحاكم إلزام ويرفع الخالف‬

Keputusan pemerintah adalah mengikat dan menghilangkan silang pendapat.

Imam al-Qurafi menyampaikan kaidah tersebut dengan penjelasan sebagai


berikut:

‫اعلم أن حكم الحاكم في مسائل االجتهاد يرفع الخالف ويرجع المخالف عن مذهبه لمذهب الحاكم وتتغير‬
‫فتياه بعد الحكم‬
Ketahuilah, Sesungguhnya keputusan pemerintah dalam masalah ijtihadiyah
dapat menghilangkan perbedaan pendapat dan orang yang berbeda hendaklah
ruju’ dari mazhabnya dengan mengikuti mazhab pemerintah dan fatwanya
berubah sesudah ketetapan pemeringtah.

Al-Ghazali memberi catatan bahwa keputusan hakim dapat menghilangkan


perselisihan selama tidak bertentangan dengan dalil qath’i dan ijma. [ Al-Furuq,
Juz II/hal 192]

4. Pandangan al-Sindi dalam memberi catatan terkait dengan hadits :

ْ ‫ْال ِف‬
ُ َّ‫ط ُر يَ ْو َم يُ ْف ِط ُر الن‬
‫اس‬

‫أن هذه اْلمور ليس لالحاد فيها دخل وليس لهم التنفرد فيها بل اْلمر فيها الى اإلمام والجماعة ويجب على‬
‫اْلحاد إتباعهم لإلمام والجماعة‬

Sesungguhnya persoalan penetapan awal Ramadhan, idul Fitri, dan idul Adha
tidaklah ditangan individu-individu, dan tidak pula melaksanakannya dengan
menyendiri, tetapi persoalan ini harus dikembalikan kepada Imam dan jamatul
muslimin. Wajib atas individu-individu untuk mengikuti imam dan jamatul
muslimin. [Syarh Sunan Ibn Majah II/306]

5. Pendapat Imam Ahmad yang dikutib Ibnu Taimiyah:

‫ يد هللا على الجماعة‬: ‫ قال أحمد‬. ‫يصوم مع اإلمام وجماعة المسلمين في الصحو والغيم‬

“Seseorang (hendaknya) bershaum bersama penguasa dan jamaah (mayoritas)


umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung. Imam Ahmad juga
berkata: “Tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Al-Jama’ah.”

6. Pendapat Imam al-Tirmidzi:

ْ ‫ع ِة َوع‬
ِ َّ‫ُظ ِم الن‬
‫اس‬ َ ‫ط َر َم َع ْال َج َما‬
ْ ‫ص ْو َم َو ْال ِف‬
َّ ‫سى ِإنَّ َما َم ْعنَى َهذَا أ َ َّن ال‬
َ ‫فَقَا َل أَبو ِعي‬

Imam al-Tirmidzi berkata: makna hadits ini adalah bahwa berpuasa dan berhari
raya adalah bersama jamaah umat Islam dan mayoritas manusia.

7. Pandangan al-Syeikh Ahmad bin Qasim al-Abbadi dalam Majmu Fatawa


Juz 25 hal 117

‫ض ْال ُح ْك ُم‬
ْ َ‫ص ْو ُم َعلَى ْالكَافَّ ِة َولَ ْم يُ ْنق‬
َّ ‫ب ال‬ َ ‫ فَإ ِ ْن َحك ََم ِب ِه َحا ِك ٌم يَ َراهُ َو َج‬.‫ إذَا لَ ْم يَحْ ُك ْم ِب ِه َحا ِك ٌم‬.…‫ف‬ ِ ‫َو َم َح ُّل ْال ِخ َال‬
َ‫ضان‬ ْ َ َّ ُ ْ َ
َ ‫اضي أن يَحْ ك َم بِك َْو ِن الل ْيل ِة ِمن َر َم‬ َ ْ َ
ِ ‫ص ِري ٌح فِي أ َّن ِللق‬ َ ‫ي فِي َمجْ ُمو ِع ِه َوه َُو‬ ُّ ‫إجْ َماعًا قَالَهُ الن َو ِو‬
َّ

Terdapat perbedaan pendapat jika memang belum ada keputusan pemerintah.


Tetapi jika pemerintah telah membuat keputusan wajib untuk melaksanakan
puasa secara keseluruhan dan keputusan pemerintah tersebut tidak boleh
dilanggar – menurut kesepakatan para ulama’ -, sebagaimana dijelaskan oleh
Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’-nya. Penjelasan ini sangatlah jelas bahwa
seorang hakim berhak memutuskan bahwa suatu malam adalah termasuk bulan
Ramadhan.

8. Fatwa MUI No. 2 tahun 2004 menyatakan:

 Penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan


metode ru’yat dan hisab oleh pemerintah RI cq Menteri Agama dan
berlaku nasional.
 Seluruh Umat Islam wajib mentaati ketetapan pemerintah tentang
penetapan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah.
 Dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah, Menteri
Agama wajib berkonsultasi pada MUI, ormas Islam dan instansi terkait.
 Hasil ru’yat dari daerah yang memungkinkan hilal diru’yat walaupun di
luar Indonesia yang mathla’nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan
pedoman oleh Menteri Agama.

Demikian pokok pikiran untuk menjadi bahan renungan bersama.*

Penulis Sekeretaris Umum MUI Jawa Timur