Anda di halaman 1dari 8

BAB V

PENGOLAHAN BATU ANDESIT

5.1. Tujuan Proses Pengolahan

Proses pengolahan batu andesit (Andesit Processing Plant/APP)


bertujuan untuk mengolah batu andesit menjadi produk yang sesuai dengan
permintaan pasar. Mempertimbangkan kualitas atau mutu cadangan batu
andesit, metode penambangan yang terpilih, serta kualitas permintaan pasar,
maka proses pengolahan batu andesit yang direncanakan di PT. Holcim
Beton meliputi ruang lingkup proses sebagai berikut :
 Melakukan reduksi ukuran (size reduction) melalui penggerusan
(crushing)
 Melakukan pemisahan melalui pengayakan (screening)
 Melakukan penimbunan/penumpukan batu andesit (stockpilling)
 Melakukan penanganan limbah (pollution treatment).

5.2. Desain Pengolahan Batu andesit

Dalam upaya mengolah batu andesit menjadi produk akhir yang


diminati konsumen perlu rancangan pengolahan yang komprehensif agar
pelayanannya memuaskan. Rancang bangun unit pengolahan didasarkan
pada faktor-faktor antara lain: target atau permintaan pasar rata-rata, kualitas
batu andesit dari tambang, spesifikasi produk akhir yang diminta,
ketersediaan lahan untuk area pengolahan termasuk tempat penimbunan
(stockpile) dan ketersediaan air di sekitar area pengolahan. Semua faktor
tersebut di atas akan menentukan jenis, dimensi dan kapasitas peralatan
atau mesin pengolahan yang dibutuhkan serta flowsheet pengolahan yang
sesuai dengan memperhatikan unsur keselamatan kerja.

5.2.1. Kapasitas produksi

Kapasitas produksi pengolahan batu andesit harus mampu mencapai


atau memenuhi target produksi tertinggi yang direncanakan PT. Holcim
Beton, yaitu 2.500.000 ton per tahun. Berdasarkan target tahunan tersebut
dapat dihitung kapasitas unit pengolahan yang beroperasi 2 shift/hari (8
jam/shift), 25 hari/bulan dan efisiensi kerja 85% sebagai berikut:

PT. HOLCIM BETON Bab 5 - 1


BUKU RENCANA EKPLOITASI TAMBANG
T = 0,85 x 16jam/hari x 25hari/bulan x 12bulan/tahun = 4080jam/tahun

2,500,00
K = 0 Ton/Tahun = 613 Ton/Jam
4080 Jam

Kterpasang = 600 ton/jam

Di mana T dan K masing-masing adalah waktu produksi dan kapasitas


produksi. Dengan kapasitas terpasang saat ini yang mampu mencapai 600
ton/jam maka diharapkan masih bisa ditingkatkan effisiensinya untuk
beroperasi secara optimal untuk mencapai target produksi tertinggi
2,500,000 ton/tahun.

5.2.2. Kualitas produk

Kualitas produk hasil proses pengolahan batu andesit harus dapat


memenuhi persyaratan yang diinginkan pasar. Berdasarkan survey pasar
dapat disimpulkan bahwa kualitas batu andesit yang harus dihasilkan proses
pengolahan seperti terlihat pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Kualitas Batu andesit Rata-rata


PT. Holcim Beton
No Parameter Satuan Nilai Kualitas*
1 Kuat Tekan Uniaksial (UCS) kg/cm2 889 – 1074 Sedang
2 Ketahanan Hancur % 13,0 Berat
3 Absorbtion % 2,18 Berat

*)Syarat Batu Alam untuk Pondasi Bangunan dan Agregat Aduk Beton SNI. 03-0394-1989

5.2.3. Prosedur pengolahan batu andesit

Prosedur pengolahan memperlihatkan tahapan proses pengolahan


batu andesit mulai dari penimbunan di ROM Stockpile di lokasi pabrik
pengolahan sampai produk akhir. Gambar 5.1 adalah diagram alir (flowsheet)
proses pengolahan yang merupakan gambaran dari prosedur pengolahan
batu andesit di PT. Holcim Beton.

a). Persiapan pengumpanan (feeding)

Sebagai umpan (feed) awal proses pengolahan adalah batu andesit


dari tambang yang diperoleh dari process blasting di lokasi pengolahan.
Ukuran maksimum batu andesit tersebut 150 cm, sedangkan ukuran lebih
PT. HOLCIM BETON Bab 5 - 2
BUKU RENCANA EKPLOITASI TAMBANG
besar dari 150 cm akan langsung dijual dalam bentuk boulder. Material dari
tambang di angkut dengan Dump Truck dengan Cap. 40 ton di masukan ke
Primary Hopper untuk di process reduksi.

b). Pengayakan dengan Grizzly

Grizzly berfungsi memisahkan fraksi batu andesit berukuran +75 mm


dengan -75 mm dan posisinya terletak tepat di bawah hopper. Lubang
bukaan (opening) grizzly berukuran 75 mm. Undersize grizzly -75 mm
diangkut belt conveyor sebagai produk scalps/ Sirdam. Sedangkan fraksi +75
mm dimasukkan ke dalam crusher primer untuk direduksi menjadi makadam
(0 – 300 mm).

c). Peremukan tahap awal (primary crusher)

Proses peremukan awal bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi batu


andesit -150 cm menjadi ukuran antara 0 – 30 cm. Dengan demikian
reduction ratio pada tahap primer ini adalah 5. Alat yang digunakan adalah
jaw crusher yang berkapasitas 800 ton/jam.

d). Pengayakan (screening) tahap-1

Proses pengayakan adalah salah satu proses yang bertujuan untuk


mengelompok-kan ukuran fraksi batu andesit, sehingga disebut juga dengan
proses classification. Alat yang dipakai untuk pengayakan biasanya ayakan
getar (vibrating screen). Pada pengolahan batu andesit ini proses
pengayakan tahap awal menggunakan vibrating screen-1 untuk memisahkan
fraksi ukuran +60 mm dan -60 mm. Fraksi +60 mm adalah umpan secondary
crusher untuk direduksi, sedangkan fraksi - 60 mm diangkut belt conveyor ke
ayakan getar tahap-2.

e). Peremukan sekunder (secondary crushing)

Proses peremukan sekonder bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi


batu andesit -300 mm menjadi ukuran rata-rata 60 mm, dengan demikian
nisbah reduksi pada tahap sekonder ini adalah 5. Alat yang digunakan
adalah cone crusher berkapasitas 600 ton/jam. Dilihat dari besarnya nisbah
reduksi, maka dapat diperkirakan bahwa energi yang diperlukan akan besar
pula. Taksiran energi tersebut dihitung sebagai berikut:

PT. HOLCIM BETON Bab 5 - 3


BUKU RENCANA EKPLOITASI TAMBANG
 F = dijamin konsisten berukuran -300 mm (300.000 ) sebanyak 80%
 P = dijamin konsisten berukuran -60 mm (60.000 ) sebanyak 80%
 faktor = 1,00 (secondary crusher)

11,37 x 10 x ( 300.000 - 60.000 )


hp/ton   0,30
300.000 x 60.000
Total hp = 600 ton/jam x 0.3 hp/ton x1 = 180 Hp/Jam

Toleransi 10% = 180 +18 = 198 hp/jam  147.18 kWh

f). Pengayakan tahap-2

Jenis alat yang dipakai adalah vibrating screen yang digunakan untuk
memisahkan fraksi berukuran +5 mm dan -5 mm. Umpan yang masuk
adalah hasil peremukan dari secondary crusher berukuran rata-rata -60 mm.
Fraksi berukuran +5 mm dimasukan ke dalam Bin1 dan selanjutnya diangkut
ke crusher tersier untuk direduksi menjadi ukuran -25 mm. Sedangkan fraksi
– 5 mm dimasukan ke dalam Bin 2 sebagai produk abu batu (dust).

g). Peremukan tersier (tertiary crushing)

Proses peremukan tersier bertujuan untuk mereduksi fraksi batu


andesit ukuran rata-rata 60 mm menjadi – 25 mm, dengan demikian nisbah
reduksi pada tahap ini adalah 2.4. Alat yang digunakan adalah 3 unit cone
crusher berkapasitas 600 ton/jam. Hasil peremukan kemudian diangkut
masuk kedalam ayakan getar tahap 3.

PT. HOLCIM BETON Bab 5 - 4


BUKU RENCANA EKPLOITASI TAMBANG
PT. HOLCIM BETON Bab 5 - 5
BUKU RENCANA EKPLOITASI TAMBANG
h). Pengayakan tahap-3

Jenis alat yang dipakai adalah vibrating screen yang digunakan untuk
memisahkan fraksi berukuran +25 mm, -25 mm +14 mm, -14 mm + 5 mm
dan -5 mm. Umpan yang masuk adalah hasil peremukan dari crusher tersier.
Fraksi berukuran +25 mm dimasukan ke dalam Bin1 dan selanjutnya
diangkut ke crusher tersier untuk direduksi menjadi ukuran -25 mm. Hasil
pemisahan selanjutnya, fraksi -25 mm +14 mm dimasukan ke dalam Bin 3
sebagai produk split, fraksi -14 mm +5 mm masuk ke Bin 4 sebagai produk
screeining dan fraksi -5 mm masuk ke dalam Bin 5 sebagai produk abu batu
(dust).
Tabel 5.2. Peralatan Pengolahan Batu Andesit
PT. Holcim Beton

No Jenis Kegiatan Kapasitas Unit Kegunaan

1 PEREMUK PRIMER
Hopper 1 Mereduksi ukuran umpan
Vibrating grizzly 800 TPJ 1 menjadi -300 mm dan memisah-
Jaw crusher 1 kan sirdam (-75 mm)
Belt conveyor 5

2 PEREMUK SEKUNDER
Pan feeder 3 Mereduksi ukuran umpan
Vibrating screen 600 TPJ 2 menjadi -60 mm untuk umpan
Cone crusher 1 tersier crusher dan memisahkan
Belt conveyor 2 abu batu (-5 mm)

3 PEREMUK TERSIER
Cone crusher 600 TPJ 3 Menghasilkan produk split 14-25
Vibrating screen 2 mm, screening 05-14 mm dan
Belt conveyor 18 abu batu 00-05 mm
Bins 5

Stock Pile
Pada dasarnya lahan untuk proses pengolahan harus cukup memadai
disamping untuk penempatan berbagai fasilitas juga harus aman untuk
berbagai aktifitas yang ada di dalamnya. Untuk mendapatkan luas lahan
minimum bagi lokasi pengolahan dan sekitarnya perlu dipertimbangkan
beberapa faktor antara lain :
 Jumlah dan luas produk akhir (finished product) batu andesit yang siap
diangkut ke konsumen;
 Luas pabrik pengolahan atau processing area;
 Luas perkantoran dan sekitarnya;
 Sarana penunjang lain, misalnya jalan angkut, panjang konveyor, area
maneuver alat muat (loader) dan water treatment.

PT. HOLCIM BETON Bab 5 - 6


BUKU RENCANA EKPLOITASI TAMBANG
a. Geometri dan luas stockpile product

Stockpile ini digunakan untuk menampung sementara produk batu


andesit hasil pengolahan. Timbunan produk batu andesit terbentuk dari
curahan belt conveyor, sehingga bentuknya adalah kerucut (lihat Gambar
5.2). Volume material yang ada di stock pile harus selalu dikontrol karena
semakin banyak volume yang tertimbun menyebabkan besarnya biaya
inventory dan sangat mempengaruhi casflow perusahaan.
Kapasitas maksimal area stock pile yang harus disediakan :
2,500,000/12 = 208,333 ton/bulan.
Dengan uraian masing-masing material sebagai berikut:
Kapasitas maksimal timbunan split per bulan = 47% x 208,333 ton = 97,916
ton, maka dimensi-nya dapat dihitung sebagai berikut :
 Estimasi diameter lingkaran bawah = 106.5 m, sudut kemiringan
timbunan produk batu andesit 38º dan tinggi tumpukan maksimum 10 m,
maka diameter lingkaran atas = 106.5 - (2 * 10/Tan 38)
= 81 m
 Volume dihitung dengan rumus 1 3 π h (R 2  r 2  Rr) , di mana h, R dan r
masing-masing adalah tinggi kerucut, jari-jari lingkaran bawah dan jari-
jari lingkaran atas.
V = 1/3 * 3.14 * 10 (53.25*53.25+40.5*40.5+53.25*40.5) = 69,350 m³
 Dengan estimasi loose density produk split adalah 1,45 ton/m³, maka
berat (W) timbunan produk split = 100,558 ton/timbunan.

Dibandingkan dengan target 97,916 ton/bulan/timbunan, maka estimasi


dimensi timbunan produk split seperti pada Gambar 5.2. dapat diterima.
Dengan cara yang sama, diperoleh diameter lingkaran bawah timbunan
untuk produk screening adalah 79 m dan untuk abu batu adalah 84.4 m.

81 m

10
m 38
º
81

106.5
m

106.5
m

Gambar 5.2. Bentuk Bangun dan Geometri Stockpile Product

PT. HOLCIM BETON Bab 5 - 7


BUKU RENCANA EKPLOITASI TAMBANG
b. Dampak timbunan batu andesit terhadap subsidence

Pembebanan dari stockpile batu andesit dapat menyebabkan lapisan


dibawahnya mengalami pemampatan. Pemampatan tersebut disebabkan
oleh adanya deformasi partikel tanah, keluarnya air atau udara dari dalam
pori-pori tanah dan getaran crusher serta alat-alat pengolahan lainnya.
Secara umum penurunan tanah tersebut dibagi dalam dua kelompok, yaitu
(1) penurunan konsolidasi dan (2) penurunan segera, dengan detail sebagai
berikut:
(1) Penurunan “konsolidasi” terjadi akibat berubahnya volume tanah jenuh
air akibat keluarnya air dari pori-pori tanah tersebut. Biasanya peristiwa
ini memakan waktu lama.
(2) Penurunan “segera” terjadi setelah terjadi penambahan tegangan
akibat beban timbunan batu andesit diatasnya dan tidak berpengaruh
terhadap kadar air tanah. Timbunan batu andesit menimbulkan
penyebaran tegangan pada lapisan tanah dibawahnya yang dapat
dianalisis dengan cara pendekatan.
Penuruan “segera” tidak diperhitungkan karena penuruannya kecil
sekali dibanding penurunan “konsolidasi” dan juga karena terbatasnya
parameter yang dibutuhkan. Sementara penurunan konsolidasi diasumsikan
terjadi dengan merembesnya air ke dua arah (double drainage), yaitu ke atas
dan ke bawah. Sesuai dengan ijin penambangan yang hanya 10 tahun maka
pengaruh penurunan konsolidasi ini pun kurang begitu signifikan. Estimasi
penuruan tanah akibat timbunan batu andesit untuk jangka waktu 10 tahun ±
0,1 m sedangkan penurunan yang diijinkan ±1 m.

PT. HOLCIM BETON Bab 5 - 8


BUKU RENCANA EKPLOITASI TAMBANG