Anda di halaman 1dari 6

Naskah Tambahan Kompilasi Drama Biografi Singkat:

Yang Mulia Atisha Dipamkara SriJnana


Ditulis dalam rangka menyambut Waisak 2562 BE/2018, yang diselenggarakan
oleh PUBJ (Perkumpulan Umat Buddha Jambi) di Candi Muara Jambi

Kompilasi Drama:
‘Atisha Dipamkara SriJnana Bertemu
Guru Swarnadwipa, Dharmakirti’
(Journey To The SouthEast)

Ditulis oleh:
Suwardi, dkk.
(Kadam Choeling Jambi)

Jambi
Wisak 2562 BE/ 2018
I. PENDAHULUAN

Pada naskah Drama sebelumnya dengan judul: ‘Atisha Dipamkara SriJnana


Bertemu Guru Swarnadwipa, Dharmakirti’, banyak kekurangan di dalamnya.
Pada kesempatan yang singkat ini, penulis ingin memperbaiki hal – hal
tersebut sesuai dengan permintaan pihak penyelenggara. Kekurangan dalam
penulisan naskah sebelumnya terdapat pada:
1. Penggambaran sosok Guru Swarnadwipa dalam naskah;
2. Penggambaran Candi Muara Jambi yang masih kurang jelas; serta
3. Adegan (4a) di dalam naskah yang masih belum menggambarkan suasana
Dengan kekurangan itu semua, penulis ingin memperbaiki naskah tersebut
dalam bentuk kompilasi naskah dengan penambahan dalam beberapa narasi,
serta adegan yang kurang . Dengan keterbatasan waktu dan tempat, penulis
memohon maaf jika naskah tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan.
Penulis mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk
membuat kompilasi naskah drama ini.

Penulis
II. KOMPILASI NASKAH DRAMA:
‘Atisha Dipamkara SriJnana Bertemu Guru Swarnadwipa, Dharmakirti’

A. Kompilasi Babak 1:
A. 1. PROLOG UMUM Babak 1:
Narasi:

Penggalian Candi Muara Jambi yang dimulai tahun 1970 oleh pemerintah Indonesia
telah menetapkan bahwa situs yang memiliki luas lebih dari 2.000 hektar ini,
berisikan 84 "kompleks candi" dengan beciri khas batu bata merah. Area ini
dihubungkan oleh sebuah tata saluran air yang dibangun dengan sangat terampil.
Situs ini bukanlah hanya merupakan sebuah candi, melainkan pusat pembelajaran
filsafat Buddhis di Era Sriwijaya. Banyak catatan penting yang Menunjukkan wilayah
ini yang dulu dikenal sebagai Swarnadwipa, serta mendapat sebutan tanah emas ini,
telah memainkan peranan penting bagi Para Cendekiawan Buddhis yang ingin belajar
di sebuah perguruan tinggi di India yang bernama Nalanda. Selain catatan I-Tsing
yang mengisahkan situs ini, Kisah Maha Guru Atisha dari India membuktikan bahwa
betapa Agungnya Situs purbakala ini di masa lalu.
A. 2. EPILOG Adegan 1b:
Narasi:

Gita 132 dari catatan riwayat hidup Atisha yang ditulis dalam bahasaTibet (rNam-thar
rgyas-pa, ditulis sekitar tahun 1355) berbunyi:

‘Guru terpenting Atisha yang pertama ialah Serlingpa, yang juga dikenal sebagai
Dharmakirti, yang kemashyurannya sampai ke segala penjuru. Atisha telah mendengar
tentang ajaran-ajaran Serlingpa perihal welas asih dan Bodhicita dan ia yakin bahwa
Serlingpa sudah pernah menjadi guru paling mulianya untuk kali kehidupan yang tak
terhingga.’
Lama Serlingpa adalah orang dari Pulau Emas (Sumatera, Indonesia masa kini) yang berhati
agung dan mulia. Beliau juga dikenal sebagai Mahaguru Dharmakirti. Selama banyak
kehidupannya yang lampau Beliau telah dengan tekun bertekad dan mempraktekkan Batin
Pencerahan
Bodhicitta, suatu tekad batin yang agung untuk mencapai ke-Buddha-an yang sempurna dan
lengkap demi
menolong semua makhluk. Tekad itu disalurkan melalui doa-doa ajaran Mahayana yang mana
menyebabkan
kelahirannya sebagai seorang putra raja di Pulau Emas.

Pulau Emas terletak di luar bagian dari Empat Benua (Timur Wideha, Selatan Jambudwipa,
Barat Godaniya, dan
Utara Kuru) dan Delapan Subbenua yang dalam kosmologi
Buddhis terdiri dari Deha dan Wideha,Camara dan
Apacamara, Satha dan Uttara Mantrina, Utara Kuru dan
Kaurawa. Pulau Emas dekat dengan Jambudwipa (India masa kini). Sekeliling Pulau Emas
lautan. Emas, perak serta berbagai hasil tambang termasuk batu-batu mulia banyak terdapat di
pulau tersebut. Hutan belantara nan hijau kebiruan menghampar luas menghiasinya. Lotus,
teratai ungu (utpala), serta beraneka warna bunga begitu menawan hati tumbuh berkembang
laksana taman surgawi para dewa dewi.Terkenal sebagai salah satu dari dua puluh empat
singgahsana suci Yidam Sri Cakrasamvara, di Pulau Emas atau Suwarnadwipa tinggallah
banyak yogi dan yogini.

B. Kompilasi Babak 2c

B. 1. Epilog Adegan 2c
NARASI:

Setelah empat belas bulan di laut, Atisha menyeberangi Selat Malaka. Ia berlabuh di
"pulau emas" yang ternama, Swarnadwipa sebutannya dalam bahasa Sanskerta.
George Coedès mengenali pulau ini sebagai Sumatera. Banyak sejarawan dan ahli
purbakala kemudian sepakat dengan pemikiran ahli prasasti dari Perancis ini.
Kawasan barat Sumatera memang terkenal kaya akan emas kala itu.

Sekarang, muara Sungai Batanghari, Muara Sabak, hanyalah sebuah dermaga.


Samudera masih jauh jaraknya, setidaknya dua jam dengan perahu, tetapi daratan
berhenti di sini, tempat sungai tersebut terbelah menjadi dua cabang. Kedua lengan
tersebut merangkul sebuah pulau yang menghadap ke Selat Malaka, menjaga jalan
masuk sungai itu. Pulau yang kaya akan sungai ini merupakan tempat taman nasional
yang dihuni banyak buaya dan tanaman bakau. Persis seperti catatan Atisha:

Segera setelah kami menyeberangi samudera itu, aku (Atisha) langsung beranjak ke stupa
emas yang dahulu dibangun oleh kaisar Tibet. Di sanalah enam murid Lama Serlingpa
sedang larut dalam samadhi mereka. Stupa ini terletak di barat hutan Swarnadwipa, di
sebelah selatannya ada teratai yang permai, di sebelah utaranya ada rawa yang
berbahaya, dan di sebelah timurnya terdapat Kekeru Buaya. Aku tinggal di sana selama
empat belas hari, sembari bertanya tentang kehidupan Lama Serlingpa.

C. Kompilasi Babak 4
C. 1. Adegan 4a:
C. 2. EPILOG 4a:
NARASI:

Sejumlah penggambaran di dalam catatan perjalanan Atisha menunjukkan bahwa di


Muara Jambi lah Atisha bertemu Serlingpa Dharmakirti dan belajar di sana, sama
seperti sejumlah besar biksu yang tinggal di sana dan kesempurnaan naskah-naskah
Buddha yang diajarkan di sana:

Kemudian aku (Atisha) melihat para biksu datang dari kejauhan, beriringan mengikuti
guru mereka. Mereka berbusana rapi dengan tiga jubah mereka. Tiap orang memegang
wadah air dan tongkat.Ada lima ratus tiga puluh lima jumlahnya dan tampak anggun
seperti para arahat. Sang guru dikawal oleh enam puluh dua sramanera. Seluruhnya ada
lima ratus tujuh puluh dua biksu. Saat aku melihat ini, aku merasa seolah aku sedang
melihat Sang Buddha yang dikelilingi para arahat. Sungguh pemandangan yang
menawan! (...)

Kemudian kami pergi ke kediaman sang Lama, Istana Payung Perak, dan duduk di sana.
(…) Setelah kami tinggal di sana, sang Lama, guna memperkenalkanku pada ciri-ciri 'awal-
mula bergantung', memulai ajarannya dari ‘Abhisamayalamkara’ dalam lima babak
pengajaran. Ketika tinggal di Istana Payung Perak, aku melanjutkan latihan penyimakan,
pemusatan, dan meditasi. Lama Serlingpa memanduku di sepanjang jalan latihan ini.
III. KESIMPULAN

Judul drama ‘Atisha Dipamkara SriJnana Bertemu Guru Swarnadwipa,


Dharmakirti’ kelihatan sederhana, namun kurang menarik pembaca. Judul
drama tersebut sangatlah panjang, sehingga perlu adanya penyesuaian dalam
pemilihan kata yang yang lebih menarik. Penulis menyarankan sebuah judul:
‘Journey To The Southeast’
Arti dalam bahasa Indonesia dari bahasa Inggris pada judul tersebut adalah:
‘Perjalanan ke Timur’. Pemberian Judul semu ini dianjurkan jika
penyelenggara membutuhkan suatu penyesuaian khusus dalam dalam
mempersingkat judul aslinya, agar terlihat lebih menarik. Penyesuaian
tersebut tentunya bergantung pada kebijakan pihak penyelenggara.
Secara Filosofis, pemberian judul ini tertuju kepada perjalanan Guru Atisha ke
Swarnadwipa yang letaknya di Asia Tenggara. Berbeda dengan perjalanan
Maha Guru Xuanzang (Hsuan-Tsang) dari Tiongkok yang umumnya diceritakan
secara fiksi dalam cerita ‘Perjalanan Ke Barat’ untuk mengambil kitab Suci. Penulis
ingin menampilkan sisi ini untuk menggambarkan perjalanan selama 13 bulan oleh
Guru Atisha ke Swarnadwipa hingga Beliau bertemu dengan Guru yang bernama
Serlingpa Dharmakirti. Beliau memperoleh ajaran yang begitu berharga mengenai
‘Bodhicita’ atau batin pencerahan di tanah Emas yang letaknya di Asia Tenggara.
Oleh sebab itu, anjuran judul semu tersebut cukup beralasan. Akan tetapi penetapan
judul yang lebih tepat dapat disesuaikan oleh pihak penyelenggara demi terciptanya
kesinambungan tema acara.

Daftar Rujukan:
Yongsdzin Yeshe Gyaltsten. Biografi Para Guru Silsilah Lamrin (lam rim bla brgyud pa'irham
thar). Teks dijelaskan oleh Geshe Ngawang Pelgon: 2018

https://studybuddhism.com/id/kajian-tingkat-lanjut/sejarah-dan-budaya/agama-
buddha-di-asia-tenggara/muara-jambi-tempat-belajar-atisha-di-
indonesia&hl=id-ID