Anda di halaman 1dari 8

Manusia Adalah Kumpulan Kejahatan yang Berpura-pura Menjadi Kebaikan

Oleh, Ishak R. Boufakar

Pagi itu, begitu riuh. Orang-orang jalan bergerombol. Dari penjuru mata angin berbeda.
Tetapi, tujuannya, persis sama. Sebuah pohon besar—pohon beringin tua, tumbuh menjulang
dan rimbun, di sembir sungai.

Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Be’ban. Telah turun-temurun. Kala mentari tengger di
dahan-dahan pohon. Orang-orang berduyun-duyun membawa dulang penuh sesajen, ke
pohon beringin. Pohon tua itu sangat dikeramatkan. Orang-orang Be’ban percaya bahwa
arwah leluhur sudah mati tinggal di pohon beringin. Dan selalu mengawasi mereka. Itulah
sebabnya, orang-orang Be’ban acapkali membuat sesajen. Sebagai bentuk terima kasih.
Karena, di hari penuh penyakit, atau malam yang beku, mereka—orang-orang Be’ban
diselamatkan arwah leluhur.

Keyakinan ini terus tumbuh, seiring leluhur mereka memilih tinggal dan beranak-pinak di
Be’ban. Namun pagi itu. Kebiasaan telah dilakon berabad-abad, berubah. Itulah awal sebuah
kebinasaan. Dan setelah kejadian ini, orang-orang luar sana, tak pernah mendengar nama
Be’ban. Selama-lamanya.

***

Sungguh, pagi itu. Airmuka tiap penduduk berparas duka. Sial nian. Dulang tak berderak-
derak. Tak ada sesajen. Selain, dijumpailah seorang laki-laki muda, terkapar. Ia telah tewas.
Persis di bawa pohon beringin tua itu.

Orang-orang dibuat sontak kaget. Bagaimana tidak? Bola mata laki-laki itu terbelalak.
Mulutnya terbuka lebar dan dikerumui lalat. Di lehernya, ada bekas cekik. Dan sangat
mempihatinkan. Laki-laki itu, terkapar tanpa sehelai pakaian membungkus tubuhnya—ia
tewas dalam keadaan telanjang.
“Damian, tewas!”

“Siapa orang yang senekad ini?”

Berita kematian sang pemimpin Be’ban, kini, terngiang di mana-mana. Banyak warga yang
tak percaya. Sebab, Damian, baru sepekan dikukuhkan menjadi pemimpin Be’ban.

Secepat itu juga. Kibarlah desas-desus. Begitu heboh. Beberapa orang pemuda yang ditemui
membuat sebuah pengakuan.

“Damian, diserang kawanan serigala. Saat bulan sempurnakan lingkarannya, dan ia salah
membaca mantra.”

Ada juga menimpal serupa; “Damian saat ia bercinta dengan istrinya di bawah pohon
beringin. Dan saat itupula, beberepa orang melompat dari dahan pohon. Lalu, mencekik
lehernya.” Dihadapan seluru warga Be’ban, mereka terbata-bata menerangkan.

Dan orang-orang pun mulai percaya. Mereka mengait-kaitkan bekas cekik dileher bangkai
itu.

Di tengah duka cita yang mendalam. Penyelidikan atas kematian Damian pun digelar.
Mereka pun menyelidiki: Apakah komplotan orang itu adalah anggota Babal? Ataukah
mereka adalah para pembunuh. Yang dibayar murah oleh istrinya, hanya dengan merelakan
selakangannya dihunus. Dan memang, sudah lama, istrinya sangat berambisi menjadi
pemimpin di Be’ban?
***

Adalah Be’ban, sebuah negeri para penyihir ulung. Di Be’ban, selain manusia yang dilahir
dari mantra sihir. Di sini, burung hantu dan kucing hitam lebih banyak dari burung gereja dan
onta. Dan memang di negeri sihir, binatang kerap diandalkan. Dari ihwal kenegaraan ke-
sihiran-an. Hingga hal-hal terkecil. Berupa menyebar luas segala titah, dari sang pemimpin
kepada warganya.

Kala itu, orang-orang Be’ban hendak mencari dan mengkukuhkan sosok pemimpin yang
ideal. Memiliki kemampuan ilmu sihir. Dan berkat binatang-binatang ini. Titah sayembara
tersebar di mana-mana.

“Penyihir muda, buktikan kepantasanmu untuk Be’ban,” beginilah isi pesan sayembara.

Pesan ini terpajang di pohon-pohon, bangkai-bangkai, genangan darah, dan nisan-nisan.

Pesan dikibar. Waktu tiba, dan sayembarapun dihelat.

Orang berbondong-bondong datang mengikuti sayembara. Bahkan, dari pelosok negeri


Be’ban. Meraka rela berjalan kaki berkilo-kilo meter, demi turut nimbrung dalam
persamuhan. Sangatlah disayangkan. Segala usaha ditunai. Tidak satupun menuai harap
pemuka-pemuka Be’ban.
Dari sekian banyak orang yang datang mementaskan diri. Tidak satupun layak dipilih.
Padahal Syaratnya sederhana, seorang calon pemimpin sihir dapat meruba cermin menjadi
kubu’la—sebuah pusara—taman bagi burung hantu dan kucing hitam dengan bebas bercinta.

Di antara warga Be’ban yang datang, adalah Damian. Ia seorang pemuda lugu. Sejak
kedatangannya. Ia telah membuktikan ketidakpantasannya dipilih. Bahkan, di hadapan
seluruh warga Be’ban. Pasalnya, mantra-mantra, yang biasanya dilafazkan ibu-ibu saat
menidurkan anak-anak, ia tidak sanggup menghafalnya.

Tentunya hal ini bertentangan dengan kebiasaan orang-orang Be’ban. Mereka percaya,
malapetaka kerap datang menderah. Musababnya, pemimpin mereka, tidak sanggup
membaca mantra. Dengan begitu, ia tidak dapat melindungi warga dan negerinya.

Sudah sepekan, waktu terpakai untuk sayembara. Namun hasilnya masih tetap nihil. Orang-
orang Be’ban mulai jenuh, pesimis, dan patah.

“Tidak mungkin kita temukan sosok pemimpin seperti harapan leluhur.”

“Damian itu baik!”

“Tidak!”

“Damian itu tidak percaya mantra,” ada yang menimpal serupa.

Sesaat orang-orang lengah.


“Saya pernah mendengar, bahwa, Damian itu anak keturunan Dewi Amor yang menikah
dengan manusia. Pasti ia tahu tentang mantra!”

“Tetapi ia tidak bisa menghafal mantra.”

“Tidak masalah!”

“Nanti kami yang ajarkan Damian.” Timpal seorang di antara sesepuh yang paling disegani.

***

Babal adalah sekelompok orang yang tidak percaya terhadap hal-hal yang dikeramatkan di
Be’ban. Mereka anti terhadap pohon-pohon yang dikeramatkan. Anti terhadap sesajen —
iman orang-orang Be’ban, turun-temurun. Anti terhadap mantra. Bagi mereka, orang-orang
Be’ban telah syirik—kafir, sesat. Dan kata-kata serupa lainnya. Teralamatkan kepada orang-
orang Be’ban.

Jika dicari kulit kembar dengan negeri kita. Yang telah memiliki keyakinan resmi—diakui
negara. Barangkali, komplotan Babal, mirip-mirip, organisasi keagamaan. Yang konon
katanya, sebagai penegak orisinal ajaran agama. Mereka, dengan sesuka, mengeluarkan fatwa
sesat dan kafir. Kelak jika salah satu jamaah dinilai menyimpang dari praktik-praktik
keagamaannya. Tapi sangat disayangkan, Be’ban bukan negeri yang percaya pada agama-
agama resmi. Sebab, mereka tak kenal agama resmi. Terkecuali keyakinan leluhur—keyakian
akan sihir.
Di Be’ban tidak semua warga bebas pergi, ke dunia luar. Berbaur dengan orang-orang di luar
Be’ban. Hanya saja, beberapa orang, yang membawa diri keluar. Berbaur dengan orang-
orang di luar Be’ban. Dengan alasan, memperbaiki nasib. Belakangan, orang-orang ini
diketahui, kembali ke Be’ban dengan pemikiran-pemikiran baru. Atau bolehjadi, mereka
telah beriman kepada agama resmi.

Dan, di antara orang Be’ban, Damian-lah yang sangat menentang kelompok ini. Meskipun
kepada istrinya, sendiri.

Istrinya—Sarbini, memiliki keyakinan serupa. Sebab, sebelum menikah dengan Damian,


Sarbani—sang istri. Sudah mengenal dunia luar—perkotaan. Ia sudah bolak-balik pergi ke
kota. Di antara perempuan-perempuan Be’ban, hanya dirinya, yang bersolek dan berpikir,
layaknya orang kota. Bahkan, beberapa kali, ia melontarkan ketidaksukaannya, kepada
suaminya. Perihal lakon orang-orang Be’ban yang dinilai menyimpang.

***

Segala hal yang telah diusahan kemplotan Babal, belum menuai hasil. Orang-orang Be’ban
masih percaya pada mantra dan sihir. Masih mengkeramatkan pohon dan membuat sesajen
untuk arwah leluhur.

Namun semua beruba,begitusaja. Pada suatu hari.

Berkat sebuah konspirasi yang dijalankan komplotan Babal. Kelompok ini, membuat
persengkokolan bersama sang istri. Bagi keyakinan mereka, usaha tersebuat dapat berbuah
hasil, jika mereka dapat menyingkirkan sang pemimpin. Damian harus dibunuh. Dengan
begitu, orang Be’ban, dengan mudah dipengaruhi. Dan pembunuhan ini hanya dapat
ditangani oleh orang-orang dekat—istrinya, sendiri. Agar tidak menimbulkan jejak dan
curiga.

“Jika kau ingin menjadi pemimpin di Be’ban. Dan, kita dapat meruba hal di sini. Maka,
bunuhlah suamimu!” ini titah pertama.

“Kau boleh gunakan cara-cara lembut. Atau, kasar sekalipun. Tidak ada di Be’ban sini yang
curiga!” titah kedua.

“Siapa yang menghalangimu. Binasakan ia juga!” titah ketiga.

“Kau telah siap?!”

Begitulah akhirnya, tepat di malam hari. Saat bulan sempurnakan lingkaran. Di bawah pohon
beringin, yang dikeramatkan. Sarbini mengajak suaminya bercinta. Saat-saat puncak
kenikmatan. Tetiba saja, beberapa orang kompoltan Babal melompat dari dahan pohon. Lalu,
tanpa iba, mencekik leher Damian—sang pemimpin sihir hingga tewas.

“Dan kau tahu sendiri, apa yang diwujudkan setelah Damian tewas? Dan bagiaman nasib
orang-orang Be’ban, tanpa pohon, tanpa mantra, dan tanpa sesajian?”

Segala curiga meski menyala. Meski kepada suami atau istri. Patut dicurigai. Sebab,
manusia adalah kumpulan kejahatan yang sedang berpura-pura menjadi kebaikan.