Anda di halaman 1dari 52

2018

FEBRIYANTI
R1D115029
TEKNIK

PERTAMBANGAN,

UNIVERSITAS HALU

OLEO, KENDARI.

HIDROLOGI
TAMBANG
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan kemudahan, limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan buku ini yang berjudul “hidrologi tambang”. Penulis
menyadari bahwa selama proses penyusunan ini tidak terlepas dari bantuan,
bimbingan maupun dorongan berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan terima kasih kepada Kedua orang tua saya yang telah memberikan
kasih sayang yang tak terhingga, yang telah mendoakan saya, dan yang telah
membimbing saya ke jalan yang benar.Juga kepada dosen pembimbing kami
Bapak Suryawan Asfar,S.T ,M.Si serta kepada teman-teman saya yang memberi
dukungan sehingga dapat terselesainya pembuatan buku ini.
Penulis menyadari mungkin buku ini belum sempurna, oleh karena itu
penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Semoga buku ini dapat
memberikan informasi dan bermanfaat bagi pembacanya.

Kendari, 26 april 2018

penulis
DAFTAR ISI
Judul Halaman.......................................................................................................i
Kata pengantar ......................................................................................................ii
Daftar Isi................................................................................................................iii
Daftar Tabel ..........................................................................................................iv
Daftar Gambar .......................................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN
A. Pengertian Pertambangan ..........................................................................1
B. Fungsi Pertambangan ................................................................................2
C. Menambang Tanpa Merusak Lingkungan ................................................2
D. Dampak Lingkungan Akibat Tidak Memperhatikan Air Tanah ...............10
E. Rekomendasi Upaya Pengelolaan Lingkungan .........................................13

BAB II AIR TANAH


A. Pengertian Air Tanah ................................................................................15
B. Proses Terbentuknya Air Tanah ................................................................16
C. Karakteristik Akuifer Air Tanah ...............................................................17
D. Manfaat Air Tanah ....................................................................................18

BAB III SISTEM PENYALIRAN TAMBANG


A. Metode Penyaliran Tambang ....................................................................20
B. Batasan Konseptual Konservasi dan Pengendalian Airtanah dalam
Kerangka Pengelolaan Airtanah ................................................................36

Daftar Pustaka
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Periode ulang hujan untuk sarana penyaliran .......................................23

Tabel 3.2 Hubungan Derajat dan Intensitass Curah Hujan ...................................24

Tabel 3.3 Perhitungan geometri dari beberapa bentuk saluran terbuka ...............26

Tabel 3.4 Kemiringan dinding saluran yang sesuai untuk berbagai jenis bahan ..26

Tabel 3.5 Sifat-sifat hidrolik pada saluran terbuka ...............................................27

Tabel 3.6 Koefisien material dan kecepatan izin aliran ........................................28

Tabel 3.7 Beberapa harga koefisien kekasaran manning ......................................29

Tabel 3.8 Kondisi pipa dan harga koefisien (Formula Hazen-William) ...............32

Tabel 3.9 Faktor-faktor kerentanan terhadap efek samping dari abstraksi


airtanah yang berlebihan (Morris et al., 2003) ................................ .40

Tabel 3.10 Kerentanan dari beberapa sistem hidrogeologi untuk efek samping
selama abstraksi yang berlebihan (Morris et al., 2003). .............. ….41

Tabel 3.11 Aktivitas manusia yang berpotensi sebagai sumber pencemar airtanah
(Morris, et al., 2003) ...................................................................... 43

Tabel 3.12 Kriteria kerusakan airtanah berdasarkan faktor perubahan kedalaman


muka airtanah, kualitas airtanah, lingkungan airtanah, dan
ketersediaan airtanah. .................................................................. 44
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Komponen yang harus dikonservasi dalam kerangka pemanfaatan


airtanah yang berkelanjutan. ........................................................... 38
Gambar 2. Komponen yang harus dikendalikan dalam kerangka pemanfaatan
airtanah yang berkelanjutan. ............................................................ 38
Gambar 3. Skema Konservasi dan Pengendalian Airtanah dalam Menunjang
Pemanfaatan Airtanah Yang Berkelanjutan. ................................... 39
BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Pertambangan
Definisi menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009
Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara:

 Pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam


rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara
yang meliputi penyelidikan umum,eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan,
serta kegiatan pascatambang.
 Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki
sifat fisik dankimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya
yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu. Batubara
adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara alamiah
darisisa tumbuh-tumbuhan.
 Pertambangan Mineral adalah pertambangan kumpulan mineral yang
berupa bijih atau batuan, di luar panas bumi, minyak dan gas bumi, serta
air tanah. Pertambangan Batubara adalah pertambangan endapan karbon
yang terdapat di dalam bumi, termasuk bitumen padat, gambut, dan batuan
aspal.
 Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral
atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum,
eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan
pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pascatambang
B. Fungsi Pertambangan
Dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang berkesinambungan,
fungsi pengelolaan mineral dan batubara berdasarkan Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan
Batubara adalah:

 Menjamin efektifitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha


pertambangansecara berdaya guna, berhasil guna, dan berdaya saing.
 Menjamin manfaat pertambangan mineral dan batubara secara
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.
 Menjamin tersedianya mineral dan batubara sebagai bahan baku dan/atau
sebagaisumber energi untuk kebutuhan dalam negeri.
 Mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional agar lebih
mampu bersaing di tingkat.
 Meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, daerah, dan negara, serta
menciptakanlapangan kerja untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.
 Menjamin kepastian hukum dalam penyelenggaraan kegiatan usaha
pertambanganmineral dan batubara.

C. Menambang Tanpa Merusak Lingkungan


Kegiatan pertambangan dapat diartikan sebagai suatu tahapan kegiatan yang
diawali dengan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
penambangan (termasuk bila ada pengolahan dan pemurnian),
pengangkutan/penjualan dan diakhiri dengan rehabilitasi lahan pasca tambang.
Pengelolaan pertambangan adalah suatu upaya yang dilakukan baik secara
teknis maupun non teknis agar kegiatan pertambangan tersebut tidak
menimbulkan permasalahan, baik terhadap kegiatan pertambangan itu sendiri
maupun terhadap lingkungan. Pengelolaan pertambangan sering hanya
dilakukan pada saat penambangan saja. Hal ini dapat dimengerti, karena pada
tahap inilah dinilai paling banyak atau sering menimbulkan permasalahan
apabila tidak dikelola dengan baik dan benar. Persepsi yang demikian kurang
tepat

1. Penentuan Kelayakan Penambangan


Deposit bahan tambang harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
perekonomian dan pendapatan daerah maupun nasional bagi kemakmuran
rakyat. Namun demikian, deposit bahan tambang yang terdapat pada suatu
daerah tidak dapat begitu saja ditambang, tetapi harus dikaji terlebih dahulu
apakah deposit tersebut layak untuk ditambang. Hal ini bertujuan untuk
menghindari timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan yang tidak
diharapkan maupun terjadinya konflik kepentingan penggunaan lahan yang
sering berlarut-larut dalam pemecahannya. Untuk menentukan kelayakan
penambangan suatu deposit bahan tambang, terlebih dahulu perlu dilakukan
kajian yang mencakup berbagai aspek di sekitar serta mempertimbangkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku yang sifatnya lintas sektoral.
Aspek-aspek yang perlu dikaji adalah:
a. Aspek penggunaan lahan pada dan di suatu lokasi deposit bahan tambang:
dalam rangka harmonisasi pemanfaatan ruang, sebelum bahan tambang
diusulkan untuk ditambang, maka perlu diperhatikan terlebih dahulu
peruntukan lahan dimana bahan tambang tersebut berada. Apabila terletak
pada peruntukan lahan yang berdasarkan peraturan perundang-undangan
ataupun fungsinya tidak boleh untuk kawasan budi daya, maka bahan
tambang tersebut tidak boleh/tidak layak untuk ditambang.
b. Aspek geologi: kajian aspek geologi dilakukan setelah selesai kegiatan
eksplorasi bahan tambang dimana jenis, sebaran, kuantitas dan kualitasnya
sudah diketahui. Kajian aspek geologi adalah:
 Topografi
Kajian ini mendapatkan gambaran mengenai letak atau lokasi deposit bahan
tambang. Apakah terdapat di daerah pedataran, perbukitan bergelombang
atau landai (kemiringan lereng antara 0o dan 17o), terjal (kemiringan lereng
antara 17o dan 36o) atau sangat terjal (kemiringan lereng >36o). Lereng
yang sangat terjal dan curam akan mempersulit teknik penambangannya,
terutama untuk sistem tambang terbuka (open-pit mining).

 Tanah penutup
Ketebalan tanah yang menutupi deposit bahan tambang sangat bervariasi,
tipis (beberapa cm), sedang (beberapa cm hingga 1 m), dan tebal (lebih dari
1 m). Mengetahui ketebalan tanah penutup ini penting karena menyangkut
masalah teknik penambangannya, terutama mengenai penempatan tanah
penutup tersebut.

 Sifat fisik dan keteknikan tanah/batuan


Kajian sifat fisik tanah/batuan antara lain meliputi warna, tekstur, dan
kondisi batuan apakah padat, berongga, keras atau bercelah. Sifat
keteknikan meliputi kuat tekan/daya dukung batuan, ketahanan lapuk, daya
kohesi, dan besaran sudut geser tanah. Sifat keteknikan tanah/batuan dapat
dipergunakan untuk menganalisis desain tambang, terutama besaran sudut
lereng tambang dalam kaitannya dengan kestabilan lereng.

 Hidrogeologi
Hal penting dari kajian hidrogeologi adalah apakah deposit bahan tambang
terletak di daerah0imbuhan air tanah atau dekat dengan mata air yang
penting. Juga perlu diperhatikan kondisi air tanah di sekitarnya apakah
bahan tambang tersebut terdapat pada alur sungai yang merupakan salah
satu sumber daya alam yang berfungsi serbaguna.

 Kebencanaan geologi
Kajian ini untuk mengetahui apakah lokasi bahan tambang apakah terletak
pada atau di dekat daerah rawan gerakan tanah, jalur gempa bumi, daerah
bahaya gunung api, daerah rawan banjir, daerah mudah tererosi, dan
sebagainya.

 Kawasan lindung geologi


Kajian ini untuk melihat apakah lokasi bahan tambang apakah terletak pada
Kawasan Lindung Geologi atau tidak. Kawasan Lindung Geologi adalah
suatu daerah yang memiliki ciri/fenomena kegeologian yang unik, langka
dan khas sebagai akibat dari hasil proses geologi masa lalu dan atau yang
sedang berjalan yang tidak boleh dirusak dan atau diganggu, sehingga perlu
dilestarikan, terutama untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan pariwisata.
Fenomena kegeologian tersebut antara lain berupa keunikan batuan dan
fosil, keunikan bentang alam (misalnya kaldera, kawah, gumuk vulkanik,
gumuk pasir, kubah, dan bentang alam karst), dan keunikan proses geologi
(misalnya mud-volcano dan sumber api alami).
c. Aspek Sosekbud
kajian ini antara lain meliputi jumlah dan letak pemukiman penduduk di
sekitar lokasi penambangan, adat-istiadat dan cagar/situs budaya
(termasuk daerah yang dikeramatkan). Selain itu, untuk menghindari atau
menekan sekecil mungkin dampak negatif terhadap lingkungan akibat
kegiatan penambangan, maka hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut
adalah:
 Lokasi penambangan sedapat mungkin tidak terletak pada daerah
resapan atau pada akuifer sehingga tidak akan mengganggu kelestarian
air tanah di daerah sekitarnya.
 Lokasi penambangan sebaiknya terletak agak jauh dari pemukiman
penduduk sehingga suara bising ataupun debu yang timbul akibat
kegiatan penambangan tidak akan mengganggu penduduk.
 Lokasi penambangan tidak berdekatan dengan mata air penting
sehingga tidak akan mengganggu kualitas maupun kuantitas air dari
mata air tersebut, juga untuk menghindari hilangnya mata air.
 Lokasi penambangan sedapat mungkin tidak terletak pada daerah aliran
sungai bagian hulu (terutama tambang batuan) untuk menghindari
terjadinya pelumpuran sungai yang dampaknya bisa sampai ke daerah
hilir yang akhirnya dapat menyebabkan banjir akibat pendangkalan
sungai. Hal ini harus lebih diperhatikan terutama di kota-kota besar
dimana banyak sungai yang mengalir dan bermuara di wilayah kota
besar tersebut.
 Lokasi penambangan tidak terletak di kawasan lindung (cagar alam,
taman nasional, dsb.).
 Lokasi penambangan hendaknya dekat dengan konsumen untuk
menghindari biaya transportasi yang tinggi sehingga harga jual material
tidak menjadi mahal.
 Lokasi penambangan tidak terletak dekat dengan bangunan
infrastruktur penting, misalnya jembatan dan menara listrik tegangan
tinggi. Juga sedapat mungkin letaknya tidak dekat dengan gedung
sekolah sehingga tidak akan mengganggu proses belajar dan mengajar.
Hasil kajian dari berbagai aspek tersebut, digabung dengan aspek
peraturan perundang-undangan, kemudian dianalisis untuk menentukan
kelayakan penambangan suatu deposit bahan tambang. Hasil analisis
kelayakan menghasilkan 2 (dua) kategori, yaitu layak tambang dan
tidak layak tambang. Layak tambang bukan berarti seenaknya saja
ditambang, melainkan harus mengikuti kaidah-kaidah penambangan
yang berlaku agar dampak negatif terhadap lingkungan akibat adanya
kegiatan penambangan dapat dihindari atau ditekan sekecil mungkin.
Selain itu, konflik/tumpang tindih kepentingan penggunaan lahan juga
dapat dihindari.

2. Kegiatan Penambangan
Setelah suatu deposit bahan tambang dinyatakan layak untuk ditambang,
maka selanjutnya bahan tambang tersebut akan ditambang (dieksploitasi).
Dalam eksploitasi ini juga diperlukan suatu pengelolaan yang berwawasan
lingkungan. Hal ini berkaitan erat dengan teknik penambangan yang akan
dipergunakan, termasuk pembuatan dan penempatan infrastruktur tambang.
Dalam suatu kegiatan penambangan biasanya terdiri dari beberapa tahapan,
yaitu tahap persiapan, tahap eksploitasi dan terakhir, yang merupakan bagian
tak terpisahkan, adalah tahap reklamasi/rehabilitasi lahan pasca
penambangan.
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan biasanya didahului dengan kegiatan pengangkutan
berbagai jenis peralatan tambang, termasuk bahan-bahan bangunan
untuk pembuatan perkantoran, gudang, perumahan (jika ada) dan
fasilitas-fasilitas tambang yang lain, pembukaan lahan (land-clearing),
dan selanjutnya adalah pembuatan/pembukaan jalan tambang. Dalam hal
pengangkutan peralatan tambang dan bahan-bahan bangunan, yang perlu
diperhatikan adalah jalan yang akan dilalui. Perlu diperhitungkan berapa
meter lebar jalan, jalan apakah melewati jembatan (bagaimana
kondisinya), apakah melewati pemukiman penduduk, berapa frekuensi
lalu-lalang dan jenis maupun tonase truk pengangkut, dan sebagainya.
Hal-hal tersebut perlu diperhitungkan secara matang agar tidak terjadi
dampak negatif terhadap lingkungan di sepanjang jalan yang akan
dilalui, baik terhadap manusia maupun fisik alam itu sendiri. Beberapa
contoh dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh adanya kegiatan
pengangkutan ini apabila tidak dikelola dengan baik, antara lain adalah
jalan menjadi rusak (banyak lubang, becek di musim hujan), kecelakaan
lalu-lintas (karena jalan terlalu sempit, atau kondisi jembatan kurang
memenuhi syarat), debu bertebaran yang dapat menimbulkan gangguan
kesehatan (karena jalan berupa tanah dan dilalui kendaraan pada musim
kemarau), dan ganggunan kebisingan.
Pada kegiatan pembukaan lahan perlu diperhatikan kemiringan dan
kestabilan lereng, bahaya erosi dan sedimentasi (karena penebangan
pepohonan, terutama saat musim hujan), serta hindari penempatan hasil
pembukaan lahan terhadap sistem drainase alam yang ada. Demikian
pula pada saat pembuatan jalan tambang. Lokasi pembuatan fasilitas
tambang, seperti perkantoran, gudang, dan perumahan perlu
memperhatikan kondisi tanah/batuan dan kemiringan lerengnya. Sedapat
mungkin hindari lokasi yang berlereng terjal dan kemungkinan rawan
longsor. Jika diperlukan pembuatan kolam pengendapan, letakkan pada
lokasi yang sifat batuannya kedap air, misalnya batu lempung, dan tidak
pada batuan yang banyak kekar-kekarnya. Hal ini untuk menghindari
terjadinya kebocoran. Bila kondisi batuan tidak memungkinkan, maka
kolam pengendapan bisa dibuat dari beton, walaupun memerlukan
tambahan biaya.
b. Tahap Eksploitasi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini utamanya berupa
penambangan/penggalian bahan tambang dengan jenis dan keterdapatan
bahan tambang yang berbeda-beda. Dengan demikian teknik/tata cara
penambangannya berbeda-beda pula. Bahan tambang yang terdapat di
daerah perbukitan, walaupun jenisnya sama, misalnya pasir, teknik
penambangannya akan berbeda dengan deposit pasir yang terdapat di
daerah pedataran, apalagi yang terdapat di dalam alur sungai. Tulisan ini
tidak akan membahas berbagai teknik penambangan tersebut, tetapi akan
dibahas secara umum tentang hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan
pada tahap eksploitasi dalam kaitannya dengan pengelolaan
pertambangan yang berwawasan lingkungan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut:

 Jenis, sebaran dan susunan perlapisan batuan yang terdapat di sekitar


deposit bahan tambang, termasuk ketebalan lapisan tanah penutup.
 Sifat fisik dan keteknikan tanah/batuan.
 Kondisi hidrogeologi (kedalaman muka air tanah dangkal dan/dalam,
pola aliran air tanah, sifat fisika dan kimia air tanah dan air
permukaan, letak mata air dan besaran debitnya, letak dan pola aliran
sungai berikut peruntukannya, sistem drainase alam).
 Topografi/kemiringan lereng.
 Kebencanaan geologi (kerawanan gerakan tanah, bahaya letusan
gunung api, banjir, kegempaan).
 Kandungan unsus-unsusr mineral yang terdapat dalam batuan yang
terdapat di sekitar deposit bahan tambang, misalnya pirit. Dengan
mengetahui dan kemudian memperhitungkan seluruh data-data
tersebut, maka dapat ditentukan teknik penambangan yang sesuai,
sehingga dampak negatif terhadap lingkungan akibat kegiatan
penambangan dapat dihindari atau ditekan sekecil mungkin.

3. Tahap Reklamasi
Kegiatan reklamasi tidak harus menunggu sampai seluruh kegiatan
penambangan berakhir, terutama pada lahan penambangan yang luas.
Reklamasi sebaiknya dilakukan secepat mungkin pada lahan bekas
penambangan yang telah selesai dieksploitasi, walaupun kegiatan
penambangan tersebut secara keseluruhan belum selesai karena masih
terdapat deposit bahan tambang yang belum ditambang. Sasaran akhir dari
reklamasi adalah untuk memperbaiki lahan bekas tambang agar kondisinya
aman, stabil dan tidak mudah tererosi sehingga dapat dimanfaatkan kembali.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lingkungan
pada tahap reklamasi adalah sebagai berikut:

 Rencana reklamasi sebaiknya dipersiapkan sebelum pelaksanaan


penambangan
 Luas areal yang direklamasi sama dengan luas areal penambangan
 Memindahkan dan menempatkan tanah pucuk pada tempat tertentu dan
mengatur sedemikian rupa untuk keperluan revegetasi
 Mengembalikan/memperbaiki pola drainase alam yang rusak
 Menghilangkan/memperkecil kandungan (kadar) bahan beracun (jika
ada) sampai ke tingkat yang aman sebelum dibuang ke suatu tempat
pembuangan
 Mengembalikan lahan seperti semula atau sesuai dengan tujuan
penggunaan
 Memperkecil erosi selama dan setelah proses reklamasi
 Memindahkan seluruh peralatan yang sudah tidak digunakan lagi ke
tempat yang dianggap aman
 Permukaan tanah yang padat harus digemburkan, atau ditanami dengan
tanaman pionir yang akarnya mampu menembus tanah yang keras
 Jenis tanaman yang akan dipergunakan untuk revegetasi harus sesuai
dengan rencana rehabilitasi (dapat berkonsultasi dahulu dengan dinas
terkait)
 Mencegah masuknya hama dan gulma yang berbahaya
 Memantau dan mengelola areal reklamasi sesuai dengan kondisi yang
diharapkan. Dalam beberapa kasus, lahan bekas penambangan tidak
harus seluruhnya direvegetasi, namun dapat dimanfaatkan untuk tujuan
lain, seperti misalnya menjadi kolam persediaan air, padang golf,
perumahan, dan sebagainya apabila dinilai lebih bermanfaat atau sesuai
dengan rencana tata ruang. Oleh karena itu, sebelum merencanakan
reklamasi, sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan pemerintah daerah
setempat, pemilik lahan atau instansi terkait lainnya.

D. Dampak Lingkungan Akibat Tidak Memperhatikan Air Tanah


1. Dampak negatif dari penambangan emas terhadap lingkungan
Berikut dampak-dampak negatif yang mungkin timbul akibat adanya aktivitas
penambangan emas :

a. Tanah
Tidak hanya air yang tercemar, tanah juga mengalami pencemaran
akibat pertambangan, yaitu terdapatnya lubang-lubang besar yang tidak
mungkin ditutup kembali yang menyebabkan terjadinya kubangan air
dengan kandungan asam yang sangat tinggi. Air kubangan tersebut
mengadung zat kimia seperti Fe, Mn, SO4, Hg dan Pb. Fe dan Mn dalam
jumlah banyak bersifat racun bagi tanaman yang mengakibatkan tanaman
tidak dapat berkembang dengan baik. SO4 berpengaruh pada tingkat
kesuburan tanah dan PH tanah, akibat pencemaran tanah tersebut maka
tumbuhan yang ada diatasnya akan mati.
 Meningkatnya Ancaman Tanah Longsor
Dari hasil observasi di lokasi penambangan emas secara tradisional di
lapangan ditemukan bahwa aktivitas penambangan berpotensi
meningkatkan ancaman tanah longsor. Dilihat dari teknik penambangan,
dimana penambang menggali bukit tidak secara berjenjang (trap-trap),
namun asal menggali saja dan nampak bukaan penggalian yang tidak
teratur dan membentuk dinding yang lurus dan menggantung (hanging
wall)yang sangat rentan runtuh (longsor) dan dapat mengancam
keselamatan jiwa para penambang.

 Hilangnya Vegetasi Penutup Tanah


Penambang (pendulang) yang menggali tanah atau material tidak
melakukan upaya reklamasi atau reboisasi di areal penggalian, tapi
membiarkan begitu saja areal penggalian dan pindah ke areal yang baru.
Tampak di lapangan bahwa penambang membiarkan lokasi penggalian
begitu saja dan terlihat gersang. Bahkan penggalian yang terlalu dalam
membetuk kolam-kolam pada permukaan tanah yang kedalamannya
mencapai 3-5 meter.
 Erosi tanah
Areal bekas penggalian yang dibiarkan begitu saja berpotensi
mengalami erosi dipercepat karena tidak adanya vegetasi penutup tanah.
Kali kecil yang berada di dekat lokasi penambangan juga terlihat
mengalami erosi pada tebing sisi kanan dan kirinya. Selain itu telah
terjadi pelebaran pada dinding tebing sungai, akibat diperlebar dan
diperdalam guna melakukan aktivitas pendulangan dengan
memanfaatkan aliran kali untuk mencuci tanah.

b. Air
Penambangan secara langsung menyebabkan pencemaran air, yaitu
dari limbah tersebut dalam hal memisahkan batubara dengan sulfur. Limbah
pencucian tersebut mencemari air sungai sehingga warna air sungai menjadi
keruh, asam, dan menyebabkan pendangkalan sungai akibat endapan
pencucian batubara tersebut. Limbah pencucian batubara setelah diteliti
mengandung zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia jika
airnya dikonsumsi. Limbah tersebut mengandung belerang (b), merkuri
(Hg), asam slarida (HCn), mangan (Mn), asam sulfat (H2SO4), dan timbal
(Pb). Hg dan Pb merupakan logam berat yang dapat menyebabkan penyakit
kulit pada manusia seperti kanker kulit.
 Sedimentasi dan Menurunnya Kualitas Air
Aktivitas penambangan emas secara tradisional yang memanfatkan
aliran kali membuat air menjadi keruh dan kekeruhan ini nampak terlihat
di saluran primer yakni kali Anafre. Pembuangan tanah sisa hasil
pendulangan turut meningkatkan jumlah transport sedimen.

c. Hutan
Penambangan dapat menghancurkan sumber-sumber kehidupan rakyat
karena lahan pertanian yaitu hutan dan lahan-lahan sudah dibebaskan oleh
perusahaan. Hal ini disebabkan adanya perluasan tambang sehingga
mempersempit lahan usaha masyarakat, akibat perluasan ini juga bisa
menyebabkan terjadinya banjir karena hutan di wilayah hulu yang
semestinya menjadi daerah resapan aitr telah dibabat habis. Hal ini
diperparah oleh buruknya tata drainase dan rusaknya kawan hilir seperti
hutan rawa.

d. Laut
Pencemaran air laut akibat penambangan terjadi pada saat aktivitas
bongkar muat dan tongkang angkut batubara. Selain itu, pencemaran juga
dapat mengganggu kehidupan hutan mangrove dan biota yang ada di sekitar
laut tersebut

2. Dampak terhadap manusia


Dampak pencemaran Pencemaran akibat penambangan batubara terhadap
manusia, munculnya berbagai penyakit antara lain :
a) Limbah pencucian zat-zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia
jika airnya dikonsumsi dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia
seperti kanker kulit. Kaarena Limbah tersebut mengandung belerang ( b),
Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan (Mn), Asam sulfat (H2sO4),
di samping itu debu menyebabkan polusi udara di sepanjang jalan yang
dijadikan aktivitas pengangkutan. Hal ini menimbulkan merebaknya
penyakit infeksi saluran pernafasan, yang dapat memberi efek jangka
panjang berupa kanker paru-paru, darah atau lambung. Bahkan disinyalir
dapat menyebabkan kelahiran bayi cacat.
b) Antaranya dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan dan masalah
kesehatan yang ditimbulkan oleh proses penambangan dan
penggunaannya.produk buangannya, berupa abu ringan, abu berat, dan
kerak sisa pembakaran, mengandung berbagai logam berat : seperti
arsenik, timbal, merkuri, nikel, vanadium, berilium, kadmium, barium,
cromium, tembaga, molibdenum, seng, selenium, dan radium, yang sangat
berbahaya jika dibuang di lingkungan.
c) Pertambangan emas juga telah menimbulkan dampak kerusakan lingkungan
hidup yang cukup parah, baik itu air, tanah, Udara, dan hutan, Air
Penambangan Batubara secaralangsung menyebabkan pencemaran air,
yaitu dari limbah penducian batubara tersebut dalam hal memisahkan
batubara dengan sulfur. Limbah pencucian tersebut mencemari air sungai
sehingga warna air sungai menjadi keruh, Asam, dan menyebabkan
pendangkalan sungai akibat endapan pencucian emas tersebut. Limbah
pencucian emas setelah diteliti mengandung zat-zat yang sangat berbahaya
bagi kesehatan manusia jika airnya dikonsumsi. Limbah tersebut
mengandung belerang ( b), Merkuri (Hg), Asam Slarida (Hcn), Mangan
(Mn), Asam sulfat (H2sO4), dan Pb. Hg dan Pb merupakan logam berat
yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti kanker kulit.

E. Rekomendasi Upaya Pengelolaan Lingkungan


Pencegahan pencemaran adalah tindakan mencegah masuknya atau
dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh kegiatan manusia agar kualitasnya tidak turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi
sesuai dengan peruntukannya.
1. remediasi, yaitu kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang
tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-
situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi.
Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri atas pembersihan,
venting (injeksi), dan bioremediasi. Pembersihan off-site meliputi
penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman.
Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar.
Caranya, tanah tersebut disimpan di bak/tangki yang kedap, kemudian zat
pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya, zat pencemar
dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi
pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
2. bioremediasi, yaitu proses pembersihan pencemaran tanah dengan
menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan
untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang
kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).
3. penggunaan alat (retort-amalgam) dalam pemijaran emas perlu dilakukan
agar dapat mengurangi pencemaran Hg.
4. perlu adanya kajian Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan
Lingkungan atau kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
dalam menyusun kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan pertambangan.
Sebelum dilaksanakannya, kegiatan penambangan sudah dapat diperkirakan
dahulu dampaknya terhadap lingkungan. Kajian ini harus dilaksanakan,
diawasi dan dipantau dengan baik dan terus-menerus implementasinya,
bukan sekedar formalitas kebutuhan administrasi.
5. penyuluhan kepada masyarakat tentang bahayanya Hg dan B3 lainnya perlu
dilakukan. Bagi tenaga kesehatan perlu ada pelatihan surveilans risiko
kesehatan masyarakat akibat pencemaran B3 di wilayah penambangan
BAB II
AIR TANAH
A. Pengertian Air Tanah
Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
mendefinisikan air tanah sebagai air yang terdapat dalam lapisan tanah
atau batuan di bawah permukaan tanah. Sedangkan menurut para ahli, air
tanah didefinisikan sebagai berikut :

 Air tanah adalah segala bentuk aliran air hujan yang mengalir di bawah
permukaan tanah sebagai akibat struktur perlapisan geologi, beda potensi
kelembaban tanah, dan gaya gravitasi bumi. Air bawah permukaan
tersebut biasa dikenal dengan air tanah (Asdak, 2002).
 Air tanah adalah sejumlah air di bawah permukaan bumi yang dapat
dikumpulkan dengan sumur-sumur, terowongan atau sistem drainase atau
dengan pemompaan. Dapat juga disebut aliran yang secara alami mengalir
ke permukaan tanah melalui pancaran atau rembesan (Bouwer, 1978;
Freeze dan Cherry, 1979; Kodoatie, 1996).
 Air tanah adalah air yang tersimpan pada lajur jenuh, yang kemudian
bergerak sebagai aliran melalui batuan dan lapisan-lapisan tanah yang ada
di bumi sampai air tersebut keluar sebagai mata air, atau terkumpul masuk
ke kolam, danau, sungai, dan laut (Fetter, 1994). Batas atas lajur jenuh air
disebut dengan muka air tanah (water table).
 Air tanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan
geologi. Lapisan tanah yang terletak di bawah permukaan tanah
dinamakan lajur jenuh (saturated zone), dan lajur tidak jenuh terletak di
atas lajur jenuh sampai ke permukaan tanah, yang rongga-rongganya berisi
air dan udara (Soemarto, 1989).
B. Proses Terbentuknya Air Tanah
Air hujan sebagian besar akan mengalir di permukaan sebagai air
permukaan seperti sungai, danau, atau rawa. Sebagian kecil akan meresap ke
dalam tanah, yang bila meresap terus hingga zona jenuh akan menjadi air
tanah. Bagian yang meresap dekat permukaan akan diuapkan kembali lewat
tanaman yang kita kenal dengan evapotranspiration. Penguapan evaporation
terjadi langsung pada tubuh air yang terbuka.
Air tanah mempunyai peranan yang sangat penting untuk kepentingan
rumah tangga maupun untuk kepentingan industri. Dibeberapa daerah,
ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah mencapai ± 70%.
Sebenarnya di bawah permukaan tanah terdapat kumpulan air yang
mempersatukan kumpulan air yang ada di permukaan. Letak air tanah dapat
mencapai beberapa puluh bahkan beberapa ratus meter di bawah permukaan
bumi. Lapisan batuan ada yang lolos air atau biasa disebut permeable dan ada
pula yang tidak lolos atau kedap air yang biasa disebut impermeable. Lapisan
lolos air misalnya terdiri dari kerikil, pasir, batuapung, dan batuan yang retak-
retak, sedangkan lapisan kedap air antara lain terdiri dari napal dan tanah liat
atau tanah lempung. Sebetulnya tanah lempung dapat menyerap air, namun
setelah jenuh air, tanah jenis ini tidak dapat lagi menyerap air.
Air hujan dan air permukan akan meresap (infiltrate) mula-mula ke zona
tak jenuh (zone of aeration) dan kemudian meresap makin dalam (percolate)
hingga mencapai zona jenuh air dan menjadi air tanah. Air tanah adalah salah
satu faset dalam daur hidrologi, yakni suatu peristiwa yang selalu berulang dari
urutan tahap yang dilalui air dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer.
Dari daur hidrologi dapat dipahami bahwa air tanah berinteraksi dengan
air permukaan serta komponen-komponen lain yang terlibat seperti bentuk
topografi, jenis batuan penutup, penggunaan lahan, tumbuhan penutup, serta
manusia yang berada di permukaan. Air tanah dan air permukaan saling
berkaitan dan berinteraksi. Setiap aksi pemompaan, pencemaran terhadap air
tanah akan memberikan reaksi terhadap air permukaan, demikian sebaliknya.
C. Karakteristik Akuifer Air Tanah
Air tanah merupakan bagian dari siklus hidrologi yang berlangsung di
alam, serta terdapat dalam batuan yang berada di bawah permukaan tanah
meliputi keterdapatan, penyebaran dan pergerakan air tanah dengan penekanan
pada hubungannya terhadap kondisi geologi suatu daerah
(Danaryanto,dkk,2005). Berdasarkan atas sikap batuan terhadap air, dikenal
adanya beberapa karakteristik batuan yaitu : Akuifer (aquifer), Akuiklud
(aquiclude), Akuitar (aquitard), Akuifug (aquifuge).
1. Akuifer (aquifer) ; Akuifer adalah lapisan pembawa air, lapisan batuan in
mempunyai susunan sedemikian rupa, sehingga dapat menyimpan dan
mengalirkan air dalam jumlah yang cukup berarti di bawah kondisi lapang.
Batuan dari akuifer ini bersifat permeabel, contoh batuan permeabel
adalah pasir, kerikil, batupasir yang retak-retak dan batu gamping yang
berlubang-lubang.
2. Akuiklud (aquiclude) ; Akuiklud adalah lapisan batuan yang dapat
menyimpan air, tetapi tidak dapat meloloskan air dalam jumlah yang
berarti. Contoh : lempung, shale, tuf halus, silt.
3. Akuitar (aquitard) ; Akuitar adalah lapisan atau formasi batuan yang dapat
menyimpan air tetapi hanya dapat meloloskan air dalam jumlah terbatas.
4. Akuifug (aquifuge) ; Akuifug adalah lapisan atau formasi batuan yang
tidak dapat menyimpan dan meloloskan air. Contoh : granit dan batuan
yang kompak dan padat.
Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, cekungan
air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat
semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan
pelepasan air tanah berlangsung. Tipe akuifer digolongkan menjadi tiga
(Kodoatie, 2012), yaitu Akuifer bebas (unconfined aquifer), Akuifer tertekan
(confined aquifer), dan Akuifer semi tertekan (leaky aquifer).
1. Akuifer bebas (unconfined aquifer) ; merupakan akuifer jenuh air
dimana lapisan pembatasnya hanya pada bagian bawahnya dan tidak ada
pembatas di lapisan atasnya (batas di lapisan atas berupa muka air tanah).
2. Akuifer tertekan (confined aquifer) ; adalah akuifer yang batas lapisan atas
dan lapisan bawah adalah formasi tidak tembus air, muka air akan muncul
diatas formasi tertekan bawah. Akuifer ini terisi penuh oleh air tanah
sehingga pengeboran yang menembus akuifer ini akan menyebabkan
naiknya muka air tanah di dalam sumur bor yang melebihi kedudukan
semula.
3. Akuifer semi tertekan (leaky aquifer) ; merupakan akuifer jenuh air yang
dibatasi oleh lapisan atas berupa akuitard dan lapisan bawahnya merupakan
akuiklud. Akuifer semi-tertekan atau aquifer bocor adalah akuifer jenuh
yang sempurna, pada bagian atas dibatasi oleh lapisan semi-lulus air dan
bagian bawah merupakan lapisan lulus air ataupun semi-lulus air.

D. Manfaat Air Tanah


Banyak manfaat air tanah bagi kehidupan makhluk hidup. Bukan hanya
manusia yang memanfaatkan air tanah, tetapi juga tumbuhan dan hewan. Bagi
manusia air tanah biasa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari,
misalnya untuk mandi, air minum, dan sebagainya. Air tanah merupakan
sumber air minum utama bagi masyarakat Indonesia. Tumbuhan juga sangat
memerlukan air tanah, karena air tinggal di dalam tanah, dan tumbuhan sangat
bergantung pada air tanah.
Hewan tertentu juga tergantung pada air tanah. Tak sedikit hewan yang
hidup dalam tanah, yang kelangsungan hidupnya tak lepas dari peran air tanah.
Berkurangnya air tanah menyebabkan banyak tanah kekeringan, sehingga
tanaman tidak dapat tumbuh, dan banyak hewan yang hidup di dalam tanah
akan mati. Selain itu manusia juga kesulitan mencari air untuk kebutuhan
hidupnya, terutama untuk minum memasak, mandi, dan mencuci. Oleh karen
itu kita harus menjaga air tanah agar tetap lestari dan tidak tercemar oleh
bahan-bahan kimia seperti minyak, bensin, oli, dan lain sebagainya.
Manfaat air tanah antara lain sebagai berikut :
1. Kebutuhan rumah tangga, yaitu untuk mandi, mencuci, memasak, dan air
minum.
2. Irigasi, yaitu sumber air bagi pertanian, misalnya sumur bordi daerah
Indramayu, Jawa Barat.
3. Perindustrian, yaitu dimanfaatkan sebagai sumber air industri,misalnya
industri tekstil dimanfaatkan untuk pencelupan, industri kulit untuk
membersihkan kulit, dan lain-lain.
4. Merupakan bagian yang penting dalam siklus hidrologi, menyediakan
kebutuhatan air bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan merupakan
persediaan air bersih secara alami.
5. Di salah satu pedukuhan kecil kawasan karst Gombong Selatan, sungai
bawah tanah digunakan sebagai sumber pembangkit listrik dengan
distribusi pembagian jumlah daya yang mereka kelola sendiri. Meskipun
di Kecamatannya sendiri belum teraliri listrik dari PLN.
6. Sebagai laboratorium alam, sungai bawah tanah memiliki biota, sistem
hidrologi dan unsur lain yang spesifik. Berbagai ilmu yang menyangkut
biota, gua beserta lingkungannya, genesa gua dan lain sebagainya terdapat
satu unifikasi ilmu yaitu speleologi.
7. Untuk wisata umum, di Kalimantan Selatan ada dua buah gua yang dapat
dilayari yang mulai dikembangkan sebagai objek wisata.
8. Wisata minat khusus, untuk penggemar kegiatanalam bebas (caving, cave
diving, black water rafting). Berbagai macam kondisi yang multi komplek
cukup menantang untuk penggemar kegiatan alam bebas. Saat ini
perkembangan kegiatan caving dan kegiatan alam lain yang berhubungan
banyak dilakukan di Indonesia maupun di luar negeri.
BAB III
SISTEM PENYALIRAN TAMBANG

A. Metode Penyaliran Tambang


Sistem penyaliran tambang adalah suatu metode yang dilakukan untuk
mencegah masuknya aliran air kedalam lubang bukaan tambang atau
mengeluarkan air tersebut. Penanganan mengenai masalah air tambang dalam
jumlah besar pada tambang terbuka dapat dibedakan menjadi beberapa
metode, yaitu:
1. Mengeluarkan Air Tambang (Mine Dewatering)
Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke lokasi
penambangan. Beberapa metode penyaliran tambang (mine dewatering) adalah
sebagai berikut :
a) Membuat sump di dalam front tambang (Pit )
Sistem ini diterapkan untuk membuang air tambang dari lokasi kerja. Air
tambang dikumpulkan pada sumuran(sump), kemudian dipompa keluar.
Pemasangan jumlah pompa tergantung pada kedalaman penggalian,
dengankapasitas pompa menyesuaikan debit air yang masuk ke dalam
lokasi penambangan.
b) Membuat puritan
Pembuatan parit sangat ideal diterapkan pada tambang terbuka open
cast atau kuari. Parit dibuat berawaldari sumber mata air atau air limpasan
menuju kolam penampungan, langsung ke sungai atau diarahkan ke
selokan (riool ). Jumlah parit ini disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga
bisa lebih dari satu. Apabila parit harus dibuatmelalui lalulintas tambang
maka dapat dipasang gorong-gorong yang terbuat dari beton atau galvanis.
Dimensi paritdiukur berdasarkan volume maksimum pada saat musim
penghujan deras dengan memperhitungkan kemiringanlereng. Bentuk
standar melintang dari parit umumnya trapesium.
2. Penyaliran Tambang (Mine drainage)
Penyaliran tambang adalah mencegah air masuk ke lokasi penambangan
dengan cara membuat saluranterbuka sehingga air limpasan yang akan masuk
ke lubang bukaan dapat langsung dialirkan ke luar lokasipenambangan. Upaya
ini umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah yang berasal dari sumber
air permukaan.Beberapa metode penyaliran tambang (mine drainage) adalah
sebagai berikut:
a. Metode Siemens
Pada setiap jenjang dari kegiatan penambangan dipasang pipa ukuran 8
inch, di setiap pipa tersebut padabagian ujung bawah diberi lubang-lubang,
pipa yang berlubang ini berhubungan dengan air tanah, sehingga di
pipabagian bawah akan terkumpul air, yang selanjutnya dipompa ke atas
secara seri dan selanjutnya dibuang
b. Metode Elektro Osmosis
Bilamana lapisan tanah terdiri dari tanah lempung, maka pemompaan
sangat sulit diterapkan karena adanyaefek kapilaritas yang disebabkan oleh
sifat dari tanah lempung itu sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut,
makadiperlukan cara elektro osmosis. Pada metode ini digunakan batang
anoda serta katoda. Bila elemen-elemen inidialiri listrik, maka air pori yang
terkandung dalam batuan akan mengalir menuju katoda (lubang sumur)
yangkemudian terkumpul dan dipompa keluar.
c. Metode kombinasi dengan lubang bukaan bawah tanah
Dilakukan dengan membuat lubang bukaan mendatar didalam tanah guna
menampung aliran air daripermukaan. Beberapa lubang sumur dibuat untuk
menyalurkan air permukaan kedalam terowongan bawah tanahtersebut.
Cara ini cukup efektif karena air akan mengalir sendiri akibat pengaruh
gravitasi sehingga tidakmemerlukan pompa
Hal Yang Mempengaruhi Sistem Penyaliran Tambang
a. Permeabilitas, Disamping parameter-parameter lain, permeabilitas
merupakan salah satu yang perlu diperhitungkan. Secaraumum
permeabilitas dapat diartikan sebagai kemapuan suatu fluida bergerak
melalui rongga pori massa batuan.·
b. Rencana Kemajuan Tambang, Rencana kemajuan tambang nantinya akan
mempengaruhi pola alir saluran yang akan dibuat, sehingga salurantersebut
menjadi efektif dan tidak menghambat sistem kerja yang ada.·
c. Curah Hujan, Sumber utama air yang masuk ke lokasi penambangan
adalah air hujan, sehingga besar kecilnya curah hujanyang terjadi di sekitar
lokasi penambangan akan mempengaruhi banyak sedikitnya air tambang
yang harusdikendalikan. Data curah hujan biasanya disajikan dalam data
curah hujan harian, bulanan, dan tahunan yang dapatberupa grafik atau
tabel.Analisa curah hujan dilakukan dengan menggunakan Metode Gumbel
yang dilakukan dengan mengambil datacurah hujan bulanan yang ada,
kemudian ambil curah hujan maksimum setiap bulannya dari data tersebut,
untuksampel dapat dibatasi jumlahnya sebanyak n data.
Dengan menggunakan Distribusi Gumbel curah hujan rencana untuk
periode ulang tertentu dapat ditentukan.Periode ulang merupakan suatu
kurun waktu dimana curah hujan rencana tersebut diperkirakan berlangsung
sekali.Penentuan curah hujan rencana untuk periode ulang tertentu
berdasarkan Distribusi Gumbel. Untuk itu data curahhujan harus diolah
terlebih dahulu menggunakan kaidah statistik mengingat kumpulan data
adalah kumpulan yangtidak tergantung satu sama lain, maka untuk proses
pengolahannya digunakan analisis regresi metode statistik
Xr = X +(σxσn) . (Yr – Yn) …………………………(3.1)
Ket : Xr = Hujan harian maksimum dengan periode ulang tertentu (mm)
X = Curah hujan rata-rataσ
x= Standar deviasi curah hujan
σn=Reduced standart deviation, nilai tergantung dari banyaknya data
Yr =Reduced variate, untuk periode hujan tertentu (table 3.2)
Tabel 3.1 Periode ulang hujan untuk sarana penyaliran

Keterangan Periode ulang hujan (tahun)


Daerah terbuka 0-5
Sarana tambang 2-5
Lereng-lereng tambang dan penimbunan 5 – 10
Sumuran utama 10 - 25
Penyaliran keliling tambang 25
Pemindahan aliran sungai 100

 Untuk menentukan reduced variate digunakan rumus dibawah ini:


Yt =(-ln⁡(-ln(T-1))T …………………....................... (3.2 )
Keterangan: Yt =Reduced variate (koreksi variasi)
T = Periode ulang (tahun

 Untuk menentukan koreksi rata-rata digunakan rumus:


Yn = ln(-ln⁡(n+1-m))n+1 …………………............... (3.3 )
Rata-rata Yn, YN = ΣYnN
 Untuk menghitung koreksi simpangan (reduced standar deviation)
ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
Sn = Σ(Yn-YN)2(n-1)…………………...................... (3.4)
Keterangan: Yn = Koreksi rata-rata
YN = Nilai rata-rata
Ynn = Jumlah data

 Untuk menentukan curah hujan rencana digunakan rumus:


CHR = X +SSn(Yt-YN) …………………................. (3.5)
Dari hasil perhitungan diperoleh suatu debit rencana dalam satuan mm/hari,
yang kemudian debit ini bisadibagi dalam perencanaan penyaliran. Selain
itu juga harus diperhatikan resiko hidrologi (PR) yang mungkin
terjadi,resiko hidrologi merupakan angka dimana kemungkinan hujan
dengan debit yang sama besar angka tersebut,misalnya 0,4 maka
kemungkinan hujan dengan debit yang sama atau melampaui adalah
sebesar 40%. Resikohidrologi dapat dicari dengan menggunakan rumus:
PR = 1-(1-1TR) TL…………………....................... (3.6)
Keterangan: PR = Resiko hidrologi
TR = Periode ulang
TL = Umur bangunan
Besarnya intensitas hujan yang kemungkinan terjadi dalam kurun waktu
tertentu dihitung berdasarkanpersamaan Mononobe, yaitu :
I =R2424 (24t) 2/3…………………....................... (3.7)
Keterangan : R24 = Curah hujan rencana perhari (24jam)
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
t = Waktu konsentrasi (jam
Hubungan antara derajat curah hujan dan intensitas curah hujan dapat dilihat
pada table 3.2

Tabel 3.2 Hubungan Derajat dan Intensitass Curah Hujan


Derajat hujan Intensitas curah huja Kondisi
n(mm/menit)
Hujan lemah 0.02 – 0.050 Tanah basah semua
Hujan normal 05 – 0.250 Bunyi hujan terdengar.
Hujan deras 25 – 1.00 Air tergenang diseluruh
permukaan dan terdengar
bunyi dari genangan.
Hujan sangat deras >1.00 Hujan seperti ditumpahkan,
saluran pengairan meluap
3. Perencanaan Saluran Terbuka
Pada perencanaan saluran terbuka ada beberapa faktor lapangan yang perlu
diperhatikan yaitu :
a) Catchment area/water deviden
Catchment area adalah suatu daerah tangkapan hujan yang dibatasi
oleh wilayah tangkapan hujan yangditentukan dari titik-titik elevasi
tertinggi sehingga akhirnya merupakan suatu poligon tertutup dengan pola
yangsesuai dengan topografi dan mengikuti kecenderungan arah gerak air.
Dengan pembuatan catchment area makadiperkirakan setiap debit hujan
yang tertangkap akan terkonsentrasi pada elevasi terendah. Pembatasan
catchmentarea dilakukan pada peta topografi, dan untuk merencanakan
sistem penyalirannya dianjurkan menggunakan petarencana penambangan
dan peta situasi tambang.
b) Waktu konsentrasi
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan hujan
untuk mengalir dari titik terjauh ke tempat penyaliran. Waktu konsentrasi
dapat dihitung dengan rumus dari “Kirpich”.
tc=HL …………………......................................... (3.8)
Keterangan : tc = Waktu terkumpulnya air (menit)
L = Jarak terjauh sampai titik penyaliran (meter)
H = Beda ketinggian dari titik terjauh sampai ke tempat ber
kumpulnya air (meter)
c) Saluran Terbuka
Bentuk penapang saluran yang paling sering digunakan dan umum adalah
bentuk trapesium, sebab mudahdalam pembuatannya, murah, efisien,
mudah dalam perawatannya, dan stabilitas kemiringan lerengnya
dapatdisesuaikan dengan keadaan daerahnya.Setelah diketahui luas
penampang bisa ditentukan jari-jari hidrolis dengan Rumus Manning.
Untuk bentuksaluran yang akan dibuat ada beberapa macam bentuk
dengan perhitungan geometrinya sebagai berikut :

Tabel 3.3 Perhitungan geometri dari beberapa bentuk saluran terbuka

dimensi Penampang basah


Lebar Tinggi Faktor Luas Keliling Jari-jari
atas muka kemiringan(x) (A) (D) hidrolis (R)
(B) air (y)
b y - b. y b+2h (b. y)/ (b+2y)
b+2x y 1:1→ x : h (b+x)y b+2y (1+x (b+x)y/(b+2y(t+x2)1/2
2
)
1:1,5→x=1,5y
1:2→x=2y
2(d- d Ф=cos-1((d- лD (1- Л.D(1- (лD(1-Ф/180)+4(d-
0,5D)t 0,5D)/0.5D) Ф/180)+ Ф/180) 0,5D)ztgФ)/4лD(1-
gФ (d- Ф/180)
0,5D)2tg
Ф

Tabel 3.4 Kemiringan dinding saluran yang sesuai untuk berbagai jenis bahan

Bahan Kemiringan dinding saluran

Batu/cadas Hampir tegak lurus


Tanah gambut/peat ¼:1
Tanah berlapis beton ½:1
Tanah bagi saluran yang lebar 1:1
Tanah bagi parit kecil 1,5 : 1
Tanah berpasir lepas 2:1
Lempung berpori 3:1
Tabel 3.5 Sifat-sifat hidrolik pada saluran terbuka
Kemiringan rata-rata dasar saluran(%) Kecepatan rata-rata(m/det)
Kurang dari 1 0,4
1-2 0,6
2-4 0,9
4-6 1,2
6-10 1,5
10-15 2,4

d) Air limpasan (run off )


Air limpasan adalah bagian dari curah hujan yang mengalir di atas
permukaan tanah menuju sungai, danauatau laut. Dalam neraca air
digambarkan hubungan antara curah hujan (CH), evapotranspirasi (ET),
air limpasan(RO),infiltrasi (I), dan perubahan permukaan air tanah (dS),
sebagai berikut :
CH = I + ET + RO ± dS………………................. (3.9)
Besarnya air limpasan tergantung dari banyak faktor, sehingga tidak
semua air yang berasal dari curah hujanakan menjadi sumber bagi sistem
drainase. Dari banyak faktor, yang paling berpengaruh yaitu:
1. Kondisi penggunaan lahan
2. Kemiringan lahan
3. Perbedaan ketinggian daerah
Faktor-faktor ini digabung dan dinyatakan oleh suatu angka yang
disebut koefisien air limpasan. Penentuan besarnya debit air limpasan
maksimum ditentukan dengan menggunakan Metode Rasional, antara lain
sebagai berikut :
Q = 0,278 × C × I × A …………………................ (3.10)
Keterangan: Q = Debit air limpasan maksimum (m3/detik)
C = Koefisien limpasan (Tabel 3.7)
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
A = Luas daerah tangkapan hujan (km2)
Penggunaan Rumus Rasional mengasumsikan bahwa hujan merata di
seluruh daerah tangkapan hujan, denganlama waktu hujan sama dengan
waktu konsentrasi.

4. Jenis Material
Jenis material pada areal penambangan berpengaruh terhadap kondisi
penyebaran air limpasan karena untuksetiap jenis dan kondisi material yang
berbeda memiliki koefisien materialnya masing-masing.

Tabel 3.6 Koefisien material dan kecepatan izin aliran


No Material Nilai Kecepatan aliran (m/det)
n Air jernih Air keruh
1 Pasir halus koloida 0.020 0.457 0.672
2 Lanau kepasiran non koloida 0.020 0.534 0.762
3 Lanau non koloida 0.020 0.610 0.914
4 Lanau alluvial non koloiada 0.020 0.610 1.067
5 Lalau kaku 0.020 0.672 1.067
6 Debu vulkanis 0.020 0.672 1.067
7 Lempung kompak 0.025 1.143 1.525
8 Lanau alluvial, koloida 0.025 1.143 1.524
9 Kerikil halus 0.025 0.672 1.524
10 Pasir kasar non koloida 0.030 1.143 1.524
11 Pasir kasar koloida 0.025 1.129 1.829
12 Batuan D 20 mm 0.028 1.340 1.9
13 Batuan D 50 mm 0.028 1.980 2.4
14 Batuan D 100 mm 0.030 2.810 3.4
15 Batuan D 200 mm 0.030 3.960 4.5 4.5
16 Tanah berumput 0.030 - 2
17 Pasangan batau 0.017 - 5
18 Tembok diplester 0.010 - 5

Beberapa perkiraan koefisien limpasan terlihat pada tabel 3.7:


Tabel 3.7 Beberapa harga koefisien kekasaran manning

Tipe dinding saluran n


Semen 0,010 – 0,014
Beton 0,011 – 0,016
Bata 0,012 – 0,020
Besi 0,013 – 0,017
Tanah 0,020 – 0,030
Gravel 0,022 – 0,035
Tanah yang ditanami 0,025 – 0,040

5. Perencanaan Sump
Sump merupakan kolam penampungan air yang dibuat untuk menampung air
limpasan, yang dibuat sementarasebelum air itu dipompakan serta dapat
berfungsih sebagai pengendap lumpur. Tata letak sump akan dipengaruhioleh
sistem drainase tambang yang disesuaikan dengan geografis daerah tambang
dan kestabilan lereng tambang.

6. Perencanaan Sistem Pemompaan


a. Tipe sistem pemompaan
Sitem pemompaaan dikenal ada beberapa macam tipe sambungan pemompaan
yaitu :
1) SeriDua atau beberapa pompa dihubungkan secara seri maka
nilai head akan bertambah sebesar jumlah head masing-masing
sedangkan debit pemompaan tetap.
2) Pararel Pada rangkaian ini, kapasitas pemompaan bertambah sesuai
dengan kemampuan debit masing-masing pompa namunhead tetap.
Kemudian untuk kebutuhan pompa ada dua hal yang perlu untuk
diperhatikan
b. Batas Kapasitas Pompa
Batas atas kapasitas suatu pompa pada umumnya tergantung pada kondisi
berikut ini :
1) Berat dan ukuran terbesar yang dapat diangkut dari pabrik ke tempat
pemasangan.
2) Lokasi pemasangan pompa dan cara pengangkutannya.
3) Jenis penggerak dan cara pengangkatannya.
4) Pembatasan pada besarnya mesin perkakas yang dipakai untuk
mengerjakan bagian-
bagian pompae. Pembatasan pada performansi pompa.
c. Pertimbangan ekonomi
Pertimbangan ini menyangkut masalah biaya, baik biaya investasi untuk
pembangunan instalasi maupun biayaoperasi dan pemeliharaannya.
d. Julang total pompa
Julang total pompa yang harus disediakan untuk mengalirkan jumlah air
seperti direncanakan, dapatditentukan dari kondisi instalasi yang akan dilayani
oleh pompa. Julang total pompa dapat ditulis sebagai berikut :
Ht=hc+ hv+hf+ hI …………………....................... (3.11 )
Keterangan : Ht = Julang total pompa (m)h
c = Julang statis total (m)
hv =Velocity head (m)
hf= Julang gesek (m)
hI = Jumlah belokan (m)
1) Julang statis (static head ) Adalah kehilangan energi yang disebabkan oleh
perbedaan tinggi antara tempat penampungan dengantempat pembuangan.
hc= h2 – h1 ………………….............................. (3.12 )
Dimana : h2= Elevasi air keluar
h1 = Elevasi air masuk
2) Julang kecepatan (velocity head ) Julang kecepatan adalah kehilangan
yang diakibatkan oleh kecepatan air yang melalui pompa.
hv= (v22×g )………………….............................. (3.13
Dimana : v = Kecepatan air yang melalui pompa (m/detik)
g = Gaya gravitasi (m/detik
3) Julang kerugian gesek dalam pipaUntuk menghitung julang kerugian
gesek didalam pipa dapat dipakai salah satu dari dua rumus berikut ini :
V = C . Rp. Sq…………………........................... (3.14) Atau
hf= λ. LD .v22g …………………....................... (3.15)
Keterangan : v = Kecepatan rata-rata aliran didalam pipa (m/dtk)
C,p,q = Koefisien-koefisien
R = Jari-jari hidrolik (m)
S = Gradien hidrolik
hf= Julang kerugian gesek dalam pipa (m)
λ = Koefisien kerugian gesek
g = Percepatan gravitas (ms-2)
L = Panjang pipa (m)D = Diameter pipa (m)

Selanjutnya untuk aliran turbulen julang kerugian gesek dapat dihitung


dengan berbagai rumus empiris.

i. Rumus Darcy
Dengan cara Darcy, maka koefisien kerugian gesek (λ) dinyatakan sebagai
berikut:

λ = 0,020 + 0,0005D …………………................ (3.16)


Rumus ini berlaku untuk pipa baru dari besi cor. Jika pipa telah dipakai
selama bertahun-tahun, harga koefisien kerugian gesek (λ) akan menjadi
1,5 sampai 2 kali harga barunya.

ii. Rumus Hazen-Williams


Rumus ini pada umumnya dipakai untuk menghitung kerugian head
dalam pipa yang relatif sangat panjang.
V = 0,849CR0,63S0,54……………………........... (3.17)Atau
Hf=10,666.Q1,85x LC1,85 D4,85 ……............. (3.18)
Keterangan : hf = Julang kerugian (m)
v = Kecepatan rata-rata didalam pipa (m/s)
C = Koefisien (table 3.9 )
R = Jari-jari hidrolik (m)
S = Gradien hidrolik (S=hfL )Q = Laju Aliran ( m3/s)
L = Panjang pipa

Tabel 3.8 Kondisi pipa dan harga koefisien (Formula Hazen-William)

Jenis Pipa C
Pipa besi cor baru 130
Pipa besi cor tua 100
Pipa baja baru 120-130
Pipa baja tua 80-100
Pipa dengan lapisan semen 130-140
Pipa dengan lapisan terarang batu 140

4) Julang kerugian dalam jalur pipaDalam aliran melalui jalur pipa, kerugian
juga akan terjadi apabila ukuran pipa, bentuk penampang atau arahaliran
berubah. Kerugian ditempat-tempat transisi yang demikian ini dapat
dinyatakan secara umum dengan rumus:
hf= n. f .v22g …………………....................... (3.19)
Keterangan : v = kecepatan rata-rata di dalam pipa (m/s)
f= Koefisien kerugian
g = Percepatan gravitasi (9.8m/dtk2)
hf = Julang kerugian (m)
Cara menentukan harga koefisien kerugian ( f ) untuk berbagai bentuk
transisi pipa akan diperinci sepertidibawah ini:Jika kecepatan aliran (v)
setelah masuk pipa, maka harga koefisien kerugian dari rumus (3.17)
untuk berbagai bentuk ujung masuk pipa menurut Weisbach adalah
sebagai berikut:
f = 0,5………………..…………………………………………. (i1)
f = 0,25……………..……………………………………………. (i2)
f = 0,06 (untuk r kecil) sampai………...…………………………. (i3)
f = 0,005 (untuk r besar)……..…….. ………………………...…. (i4)
f = 0,56…………...……………………………………………… (i5)
f = 3,0 ( untuk sudut tajam) sampai
f= 1,3 (untuk sudut 45)…………. ………………………………. (i6)
f = fi + 0,3 cos θ + 0,2 cos2θ, dimana fi adalah koefisien bentuk dari
ujung masuk dan mengambil harga (i1) sampai(i6) sesuai dengan bentuk
yang dipakai.Bila ujung pipa isap yang berbentuk lonceng dan tercelup
dibawah permukaan air maka harga f berkisar antara0,2 sampai 0,4.
Terdapat dua macam belokan, yaitu belokan lengkung dan belokan patah.
Untuk belokan lengkungdigunakan rumus:
f = [0,131 + 1,847 (D/2R)3,5] (θ90 )0,5……........ (3.20)
Dari percobaan Weisbach dihasilkan rumus yang umum dipakai untuk
belokan patah adalah:
f = 0,946 sin2.θ/2 + 2,047 sin4.θ/2 .…................... (3.21)
keterangan : f= Koefisien kerugian
R = Jari-jari lengkung belokan
θ = Sudut belokan
5) Daya poros dan efisiensi pompa
 Daya air, Daya air adalah energi yang secara efektif diterima oleh air dari
pompa persatuan waktu. Daya air (Pw) dapat dihitung dengan
menggunakan Rumus:
Pw= γ. Q . H …………....................................... (3.22)
Keterangan: γ = Bobot isi air (kN/m3)
Q = Kapasitas (m3/detik)
H = Julang total (m)
Pw = Daya air (kW)e

 Daya poros, Daya poros yang diperlukan untuk menggerakkan pompa


adalah sama dengan daya air ditambah kerugian daya didalam pompa.
Daya poros (P) dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
P =Pwηρ ………………….................................. (3.23)
Keterangan: ηρ = Efesiensi pompa
P = Daya poros
Efesiensi pompa untuk pompa-pompa jenis khusus harus diperoleh dari pabrik
pembuatnya.

7. Settling Pond
Berfungsi sebagai tempat menampung air tambang sekaligus untuk
mengendapkan partikel-partikel padatanyang ikut bersama air dari lokasi
penambangan, kolam pengendapan ini dibuat dari lokasi terendah dari
suatudaerah penambangan, sehingga air akan masuk ke settling pond secara
alami dan selanjutnya dialirkan ke sungaimelalui saluran pembuangan.
Dengan adanya settling pond , diharapkan air yang keluar dari daerah
penambangan sudah bersih daripartikel padatan sehingga tidak menimbulkan
kekeruhan pada sungai atau laut sebagai tempat pembuangan akhir.Selain itu
juga tidak menimbulkan pendangkalan sungai akibat dari partikel padatan yang
terbawa bersama air.
Bentuk settling pond biasanya hanya digambarkan secara sederhana, yaitu
berupa kolam berbentuk empatpersegi panjang, tetapi sebenarnya dapat
bermacam-macam bentuk disesuaikan dengan keperluan dan
keadaanlapangannya. Walaupun bentuknya dapat bermacam-macam, namun
pada setiap settling pond akan selalu ada 4 zona penting yang terbentuk karena
proses pengendapan material padatan. Keempat zona tersebut adalah :
a) Zona masukan (inlet), Merupakan tempat masuknya air lumpur kedalam
settling pond dengan anggapan campuran padatan-cairanyang masuk
terdistribusi secara seragam.
b) Zona pengendapan (settlement zone), Merupakan tempat partikel padatan
akan mengendap. Batas panjang zona ini adalah panjang dari
kolamdikurangi panjang zona masukan dan keluaran.
c) Zona endapan lumpur(sediment), Merupakan tempat partikel padatan dalam
cairan (lumpur) mengalami sedimentasi dan terkumpul di bagianbawah
kolam.
d) Zona keluaran (outlet), Merupakan tempat keluaran buangan cairan yang
jernih. Panjang zona ini kira-kira sama dengan kedalamankolam
pengendapan, diukur dari ujung kolam pengendapan.

Ukuran Settling Pond


Untuk menentukan dimensi settling pond dapat dihitung berdasarkan hal-
hal sebagai berikut:

 Diameter partikel padatan yang keluar dari kolam pengendapan tidak


lebih dari 9 x 10-6 m, karena akan menyebabkan pendagkalan dan
kekeruhan sungai.
 Kekentalan air
 Partikel dalam lumpur adalah material yang sejenis
 Kecepatan pengendapan material dianggap sama
e) Perbandinga dan cairan padatan diketahui Luas settling pond dapat
dihitung dengan menggunakan rumus:
A =QtotalV ….…………………......................... (3.24)
Keterangan: A = Luas settling pond (m2)
Q total= Debit air yang masuksettling pond (m3/detik)
V = Kecepatan pengendapan (m/dtk)
Perhitungan Prosentasi Pengendapan
perhitungan prosentase pengendapan ini bertujuan untuk mengetahui
kolam pengendapan yang akan dibuatdapat berfungsih untuk
mengendapkan partikel padatan yang terkandung dalam air limpasan
tambang. Untukperhitungan, diperlukan data-data antara lain (%) padatan
dan persen (%) air yang terkandung dalam lumpurWaktu yang dibutuhkan
partikel untuk mengendap dengan kecepan (V) sejauh (h) adalah:
tv =hV(detik) …………………...................... (3.25)
Waktu yang dibutuhkan partikel untuk keluar dari kolam pengendapan
dengan kecepatan (Vh) adalah:
Vh =QtotalA …………………....................... (3.26)
Th =PVh (detik)………………....................... (3.27)
Dalam proses pengendapan ini partikel mampu mengendap dengan baik
jika (tv) tidak lebih besar dari (th).
Persentase pengendapan =th(th+tv) x 100%... (3.28)

B. Batasan Konseptual Konservasi dan Pengendalian Airtanah dalam


Kerangka Pengelolaan Airtanah
Pengelolaan airtanah adalah upaya merencanakan, melaksanakan,
memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan kegiatan konservasi,
pendayagunaan airtanah dan pengendalian daya rusak airtanah. Perkembangan
pemanfaatan airtanah yang berkelanjutan membutuhkan konsep pengelolaan
airtanah yang efektif dan efisien serta tepat sasaran. Pada dasarnya
pengelolaan airtanah bertujuan untuk menselaraskan kesetimbangan
pemanfaatan dalam kerangka kuantitas dan kualitas dengan pertumbuhan
kebutuhan akan air yang meningkat dengan tajam. Oleh sebab itu, pengelolaan
airtanah tidak saja merupakan upaya mengelola sumber daya airtanah
(managing aquifer resources) tetapi juga upaya mengelola manusia yang
memanfaatkannya (managing people).
Pengelolaan airtanah sangat diperlukan baik secara teknis maupun non
teknis untuk menghindari degradasi airtanah yang serius (baik kuantitas
maupun kualitasnya), dimana pengelolaan ini harus disesuaikan dengan
perilaku airtanah meliputi keterdapatan, penyebaran, ketersediaan, dan
kualitas airtanah serta lingkungan keberadaannya. Pengelolaan airtanah perlu
diarahkan untuk mewujudkan keseimbangan antara pendayagunaan airtanah
dan upaya konservasi serta pengendaliannya. Dalam kerangka pemanfaatan
airtanah yang berkelanjutan pada suatu wilayah cekuangan airtanah, terdapat
empat komponen teknis pengelolaan airtanah penting yang harus diperhatikan
yaitu:
1) Resource Evaluation: Evaluasi Potensi Sumber Daya Airtanah
2) Resource Allocation: Alokasi Sumber Daya Airtanah yang tepat
3) Hazard and Risk Assessment: Kajian bahaya dan resiko pemanfaatan
airtanah dan atau pencemaran airtanah
4) Side Effect and/or Pollution Control: Pengendalian dan pengontrolan efek
negative pemanfaatan airtanah dan atau pencemaran airtanah.
Menilik peraturan pemerintah baik pusat maupun daerah (termasuk
didalamnya rancangan peraturan) mengenai pengelolaan airtanah, ke-empat
hal tersebut umumnya telah dipertimbangkan, walau terkemas dalam istilah
dan urutan yang berbeda.
secara umum strategi perlindungan airtanah dibagi menjadi tiga kelompok
yaitu
(1) perlindungan alamiah (natural protection),
(2) tindakan pencegahan (preventive actions) dan
(3) tindakan koreksi (corrective actions)
Secara umum komponen teknis pengelolaan airtanah, dapat dibagi menjadi
dua kelompok yaitu:
1. Komponen teknis yang berkaitan dengan sumber daya airtanah, dan
2. Komponen teknis kajian bahaya/resiko pemanfaatan dan pencemaran
airtanah.
Didalam mewujudkan pemanfataan airtanah yang berkelanjutan, komponen
sumber daya airtanah adalah komponen yang wajib untuk dikonservasi demi
mempertahankan keberadaan airtanah baik kuantitas maupun kualitasnya
(lihat Gambar 1).

Gambar 1. Komponen yang harus dikonservasi dalam kerangka pemanfaatan


airtanah yang berkelanjutan.

Di sisi lain, pemanfaatan airtanah yang berkelanjutan juga harus ditunjang


dengan pengendalian terhadap aktivitas eksploitasi airtanah dan pencemaran
airtanah (lihat Gambar 2).

Gambar 2. Komponen yang harus dikendalikan dalam kerangka pemanfaatan


airtanah yang berkelanjutan.
Berdasarkan pemikiran sederhana ini, batasan konseptual antara tindakan
konservasi dan pengendalian airtanah dapat ditetapkan seperti diperlihatkan
pada gambar 3.

Gambar 3. Skema Konservasi dan Pengendalian Airtanah dalam Menunjang


Pemanfaatan Airtanah Yang Berkelanjutan.
Pada gambar ini, yang dimaksudkan dengan konservasi airtanah adalah segala
tindakan melindungi airtanah dengan cara melestarikan mengawetkan sumber
daya airtanah dan penghematan pemanfaatan sumber daya airtanah. Tindakan
pelestarian, pengawetan dan penghematan ini harus didasarkan pada hasil
evaluasi kondisi sumber daya airtanah dan alokasi pemanfaatan sumber daya
airtanah ini. Sedangkan pengendalian airtanah adalah segala tindakan
melindungi airtanah dengan cara mengendalikan efek negatif yang dapat
muncul akibat pemanfaatan airtanah dan pencemaran airtanah.
a. Problema Kerusakan Kuantitas Airtanah
Secara umum terdapat satu sebab utama kerusakan kuantitas airtanah,
yaitu eksploitasi airtanah berlebihan, yang menguras cadangan sumber daya
airtanah dalam jangka waktu pendek; hasilnya amblesan tanah, penurunan
muka airtanah, keringnya sungai atau danau, intrusi air asin pada akuifer di tepi
pantai dan hal yang tidak diinginkan lainnya atau gejala yang tidak
diperkirakan. Permasalahan ini sering muncul, utamanya karena kurang akurat
atau salah dalam memperkirakan jumlah sumber daya airtanah yang
berkelanjutan atau aman untuk diambil.
Pemanfaatan airtanah akan lebih baik jika mempertimbangkan seluruh
akuifer atau unit hidrogeologi. Disamping itu juga harus diperhatikan, bahwa
pengambilan airtanah lokal yang rapat dan hanya terkonsentrasi pada wilayah
yang sempit akan mempengaruhi kinerja pemompaan sumur bor (umumnya
menjadi tidak produktif atau counter-productive), karena airtanah pada sistem
akuifer yang diturap telah semuanya terambil. Neraca kesetimbangan air juga
penting untuk diperhitungkan dalam pengambilan airtanah. Kesetimbangan
antara volume abstraksi akuifer dengan jumlah imbuhan airtanah pada skala
waktu tertentu akan mempertahankan upaya pemanfaatan airtanah yang
berkelanjutan.
Perlu disadari juga, bahwa respon akuifer yang diekploitasi akan berbeda
sebelum efek samping yang merugikan muncul. Hal ini sangat tergantung pada
karakteristik hidrogeologi dan akuifer (lihat Tabel 3.9 dan 3.10).
Tabel 3.9 Faktor-faktor kerentanan terhadap efek samping dari abstraksi
airtanah yang berlebihan (Morris et al., 2003)
Tabel 3.10 Kerentanan dari beberapa sistem hidrogeologi untuk efek samping
selama abstraksi yang berlebihan (Morris et al., 2003).

b. Problema Kerusakan Kualitas Airtanah


Airtanah adalah suatu sumber daya alami yang penting dan cadangan yang
aman untuk persediaan air yang dapat diminum di dalam lingkungan pedesaan
dan perkotaan, dan memainkan peran yang fundamental (walaupun sering kali
tidak dihargai) dalam kehidupan manusia, seperti juga ekosistem-ekosistem
yang berhubungan dengan air. Akuifer (bentukan-bentukan yang berhubungan
dengan geologi yang berisi sumber daya airtanah yang dapat digunakan) di
seluruh dunia sedang mengalami peningkatan ancaman pencemaran dari
urbanisasi, pengembangan industri, aktivitas pertanian dan pertambangan.
Kampanye proaktif dan tindakan nyata untuk melindungi kualitas airtanah
alami sangat diperlukan secara luas. Dalam konteks ekonomi, sangatlah
penting untuk perusahaan air membuat pengkajian atas nilai yang strategis dari
sumber daya airtanah. Hal ini berdasarkan pada evaluasi yang realistis terhadap
nilai airtanah, dalam hal ini termasuk biaya untuk mengembangkan sumber
persediaan yang baru dan juga biaya untuk menghubungkan ke dalam jaringan
distribusi yang ada.
Tindakan untuk melakukan perlindungan khusus sangat diperlukan
terhadap semua lubang bor, sumur-sumur dan mataair (baik milik umum
maupun pribadi), khususnya yang berfungsi untuk menyediakan air yang dapat
diminum. Hal ini juga termasuk sumber yang digunakan untuk air
minum/mineral botol, serta untuk industri pengolahan makanan dan minuman,
di mana kualitas air baku yang baik adalah suatu syarat mutlak.
Ada berbagai potensi penyebab penurunan kualitas airtanah dalam satu
akuifer dan/atau di suatu sumber airtanah (lihat Tabel 3.11). Kebanyakan
airtanah berasal dari infiltrasi dan perkolasi air hujan (secara langsung maupun
tidak langsung) ke permukaan tanah. Sebagai konsekuensinya, aktivitas di
permukaan tanah dapat mengancam kualitas airtanah. Pencemaran terhadap
akuifer dapat terjadi apabila zat-zat pencemar masuk ke bawah permukaan
tanah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia yang tidak terkendali.
Skala waktu sangat penting dalam kaitannya dengan kerentanan akuifer
terhadap ekploitasi yang berlebihan. Pada jenis akuifer retakan yang memiliki
storativitas akuifer yang terbatas, respon akuifer ini terhadap pemompaan yang
berlebihan akan sangat cepat terlihat. Sedangkan pada akuifer pori dengan
storativitas yang besar, respon akan lebih lambat. Dalam kaitannya dengan
pengendalian kuantitas, mitigasi terhadap efek negatif akan sangat sulit pada
akuifer dengan storativitas yang kecil.
Tabel 3.11 Aktivitas manusia yang berpotensi sebagai sumber pencemar
airtanah (Morris, et al., 2003)

Permasalahan yang lain adalah, bahwa eksploitasi airtanah yang tidak


wajar telah umum terjadi di perkotaan atau daerah dekat perkotaan sebagai
konsekuensi peningkatan kebutuhan air yang tinggi pada kedua area tersebut,
serta ketidakmampuan Pemerintah untuk mensuplai air pada daerah tersebut.
Di daerah ini, pemanfaatan airtanah umumnya tidak efisien dan sembarangan
yang dicerminkan dengan keberadaan banyaknya sumur bor pengambilan
airtanah atau sumur dangkal, dengan debit pemompaan yang tak terkontrol atau
bahkan tak terdata.
c. Kriteria Kerusakan Airtanah
Kriteria kerusakan airtanah ditentukan berdasarkan faktor-faktor perubahan
kedalaman muka airtanah, kualitas airtanah, lingkungan airtanah, dan potensi
ketersediaan airtanah. Berdasarkan faktor-faktor di atas dapat diketahui zona
kerusakan airtanah yang dapat dikategorikan sebagai zona aman, rawan, kritis,
dan rusak (lihat Tabel 3.12);
Tabel 3.12 Kriteria kerusakan airtanah berdasarkan faktor perubahan
kedalaman muka airtanah, kualitas airtanah, lingkungan airtanah,
dan ketersediaan airtanah.

Kerusakan airtanah ini ditinjau sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) tahun untuk


menghindari terjadinya kerusakan kondisi dan lingkungan airtanah, dan
kegiatan atau upaya pengendalian airtanah ditentukan berdasarkan kondisi
kerusakan airtanah dengan memperhatikan interaksi fungsi airtanah dan
lingkungan.

d. Strategi Pengendalian Airtanah


Seperti halnya dengan strategi konservasi airtanah yang lebih diarahkan
sebagai upaya preventif untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan airtanah
dan lingkungan yang tergantung pada airtanah, strategi pengendalian airtanah
juga diarahkan pada upaya-upaya preventif seperti
(1) pengendalian kerusakan kuantitas airtanah akibat pengambilan dan atau
pemanfaatan airtanah, dan
(2) pengendalian kerusakan kualitas airtanah akibat pencemaran airtanah.
Upaya-upaya pemulihan dalam pengendalian airtanah perlu juga
diprioritaskan khususnya jika berhadapan dengan kriteria kerusakan
airtanah yang parah, walaupun tindakan pemulihan airtanah pada sistem
airtanah yang telah rusak akan memerlukan biaya dan teknologi yang
kadang tidak dapat dipenuhi serta waktu yang sangat lama.

e. Kegiatan Pengendalian Airtanah


Pengendalian kerusakan kuantitas airtanah akibat pengambilan dan atau
pemanfaatan airtanah dilakukan untuk menjaga mencegah, rnenanggulangi, dan
memulihkan kerusakan kuantitas airtanah. Berdasarkan prioritas kepentingan
atau kriteria kerusakan airtanah, pengendalian kerusakan kuantitas airtanah
sangat penting dilakukan terhadap akuifer yang mengalami pengurasan, daerah
imbuhan yang mengalami perubahan fisik, dan lingkungan airtanah yang rusak
akibat pengambilan airtanah yang intensif. Untuk menjaga, mencegah,
menanggulangi dan memulihkan kerusakan airtanah, dalam kerangka
pengendalian airtanah terdapat tiga kegiatan utama, yaitu:
 Pengendalian Pengambilan/Pemanfaatan Airtanah;
 Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Airtanah;
 Pemulihan Kerusakan Airtanah
1. . Pengendalian Pengambilan/Pemanfaatan Airtanah
Upaya pengendalian pengambilan/pemanfaatan airtanah dilakukan dengan
cara :
 Penentuan zona pengambilan/pemanfaatan yang aman;
 Pembatasan debit pengambilan airtanah;
 Pengaturan kerapatan lokasi pengambilan airtanah;
 Pengaturan kedalaman akuifer yang disadap;
 Penerapan instrumen ekonomi atas pemanfaatan airtanah/
pendalagunaan airtanah;
 Penerapan AMDAL pada kegiatan pengambilan airtanah.
2. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Airtanah
Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran airtanah dilakukan untuk
menjaga kualitas airtanah agar tetap dalam kondisi alamiahnya. Terdapat
tiga cara utama yang dapat dilakukan dalam kerangka pengelolaan kualitas
dan pengendalian pencemaran airtanah yaitu:
 Zonasi tata guna lahan dalam kerangka perlindungan airtanah terhadap
pencemaran
 Mengendalikan/mengontrol sumber pencemar airtanah; baik untuk
sumber pencemar yang telah ada maupun sumber pencemar yang akan
ada.
 Membuat peta bahaya dan resiko pencemaran airtanah; untuk
menentukan lokasi prioritas pengendalian dan/atau lokasi pemulihan
kualitas airtanah, serta tindakan pengelolaan yang diperlukan.
Daftar pustaka

Aris Rinaldi, 2006 . Analisis Keputusan Hidrogeologi : Optimasi Sump pada


SistemTambang Terbuka
Dedi Yulhendra, 2006. Teknik Penahanan Air Dan Drainase Air Pada Tambang
Bawah Tanah. Universitas Negeri Padang, Padang.
Fredi nababan, dampak negatif kegiatan pertambangan terhadap
lingkungan, http://marluganababan-
electrical.blogspot.com/2012/11/dampak-negatif-kegiatan-
pertambangan.html. diakses pada tanggal 20 April 2018.
Heru Hendrayana, 2010. Pengendalian Daya Rusak Airtanah, Gadjah Mada
University – Yogyakarta
Listumbinag halengkara, 2013. Air Permukaan. Prodi Pendidikan geografi

Muhammad Endriantho, Muhammad Ramli, 2013. Perencanaan Sistem


Penyaliran Tambang Terbuka Batubara
Nisaul Kamila,dkk, Perencanaan Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan
(Ecodrainage) Di Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang
Rahmadi Siahaan, dkk.2017. Evaluasi Teknis Sistem Penyaliran Tambang.

Suwandhi, A., 2004, Perencanaan Sistem Penyaliran Tambang, Diklat


Perencanaan Tambang Terbuka, Unisba, 12-22 Juli, Hal 9,10.
Tasbi Husin, 2017. penyalahgunaan Pengelolaan Pertambangan Terhadap
Kerusakan Lingkungan Hidup Di Kecamatan Kluet Tengah, Skripsi