Anda di halaman 1dari 3

Paragonimiasis atau juga disebut dengan Lung fluke disease pada manusia banyak

dilaporkan dari Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan.

Penyakit yang disebabkan oleh trematoda yang sering menyerang paru-paru.


Gejala klinis yang sering muncul antara lain batuk, hemoptisis dan sakit dada.
Pada pemeriksaan radiologis bisa ditemukan infiltrate segmental atau difus,
nodulus, caverne, kista atau efusi pleura. Cacing kadang-kadang bukan saja
menyerang paru. Dikenal juga tipe ekstra pulmoner, dimana cacing ditemukan di
luar paru seperti pada jaringan SSP, jaringan subkutan, dinding usus, rongga perut,
hati, kelenjar limfe dan saluran kemih.

Infeksi biasanya berlangsung selama bertahun-tahun dan biasanya orang yang


terinfeksi kelihatan sehat. Di kalangan imigran dari Asia penyakit ini dikelirukan
dengan tuberculosis, karena gambaran foto thorax hampir sama.

Pada pemeriksaan sputum, ditemukan bintik-bintik berwarna cokelat oranye


tersebar merata; pada bintik-bintik tersebut terlihat telur cacing. Diagnosa
ditegakkan dengan ditemukannya telur-telur cacing ini. Namun apabila dilakukan
pengecatan sputum untuk menemukan bakteri tahan asam, makan mengacaukan
diagnosas. Telur cacing dapat juga mask kedalam tubuh karena tertelan, terutama
pada anak-anak. Oleh karena itu dengan teknik konsentrasi, telur dapat ditemukan
di daam tinja, teknik pemeriksaan yang sangat sensitif dan spesifik adalah tes
serologis dengan teknik imunoblot. Tes ini tersedia di CDC Atlanta.

Penyebab infeksi

Di Asia penyebab penyakit adalah Paragonimus westermani, P. Skrjabini dan


spesies lain. Sedangkan di Afrika penyebab penyakit paragonimiasis adalah P.
Africanus dan P. Uterobilateralis. Dan di Amerika penyebab penyakit ini adalah
P. Mexicanus (P. Peruvianus), P. Kellicotti (Amerika Serikat dan Kanada) dan
spesies lainnya.

Distribusi penyakit

Penyakit ini dilaporkan terjadi di daerah Timur jauh, Barat Daya Asia, India,
Afrika, dan Amerika. Cina, sekarang merupakan daerah endemis terbesar dimana
20 juta orang diperkirakan terinfeksi. Sedangkan, Laos, Prpinsi Manipur-India dan
Myanmar (Birma) kemungkinan terbanyak setelah Cina. Penyakit ini sudah
hampir hilang di Jepang, sementara itu di Korea kurang dari seribu orang yang
terinfeksi. Di negara-negara Amerika Latin, Ekuador adalah negara yang paling
banak terinfeksi , yang mana sekitar 500.000 orang diperkirakan sudah terinfeksi;
kasus ini juga ditemukan di Brazil, Colombia, Peru, Venezuela, Costa Rica dan
Meksiko. Di Amerika Serikat dan Kanada penyakit ini jarang ditemukan.
Reservoir

Manusia, anjing, kucing, babi dan binatang karnivora liar disebut hospes definitif
dan dapat juga berperan sebagai reservoir.

Cara Penularan

Infeksi terjadi karena mengkonsumsi sejenis kepiting air tawar mentah atau yang
tidak termasuk dengan sempurna, digaramkan atau diasinkan seperti Eriocheir
dan potamon atau sejenis udang seperti Cambaroides, yang berisi larva
(metacercaria). Larva keluar di duodenum, menembus dinding usus migrasi
melalui jaringan dinding usus kemudian membentuk kapsul encapsulated
(biasanya di paru), dan berkembang menjadi cacing dewasa yang dapat
memproduksi telur. Telur-telur tersebut dikeluarkan melalui yang dapat
memproduksi telur. Telur-telur tersebut dikeluarkan melalui sputum dan apabila
teluar ini tertelan akan keluar melalui tinja, mencemari badan air dan mengembrio
dalam waktu 2—4 minggu. Larva (miracidia) menetas, masuk kedalam tubuh
keong air tawar (Semisulcospira, Thiara, Aroapyrgus atau genus yang lain) dan
masuk kedalam siklus pertumbuhan kira-kira berlangsunb selama 2 bulan. Larva
(cercariae) keluar dari tubuh keong, masuk dan hidup dalam tubuh kepiting air
tawar dan udang karang. Pengawetan crustacean (binatang air berkulit keras) di
dalam anggur dengan garam atau cuka, biasa dilakukan di Asia. Cara-cara ini
tidak membunu kista larva. Infeksi sering menyerang para pencinta makanan yang
eksotik.

Masa inkubasi

Cacing pita menjadi dewasa dan mulai mengeluarkan telur kira-kira 6—10
minggu setelah seseorang menelan larva infektif. Interval saat infeksi sampai
timbul gejala-gejala klinis sangat panjang, bervariasi, tidak diketahui dengan pasti
dan sangat tergantung pada organ yang diserang dan jumlah cacing yang
menyerang.

Masa Penularan

Penderita dapat mengeluarkan telur hingga 20 tahun; lamanya infeksi pada


moluska (kerang-kerangan) dan crustacean tidak diketahui dengan pasti. Tidak
ada penularan langsung dari orang ke orang.
Cara-cara pemberantasan

a. Cara-cara pencegahan
1. Lakukan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat di daerah endemis
tentang siklus hidup parasit.
2. Beri penyuluhan kepada masyarakat agar mengkonsumsi krustasea
yang dimasak dengan sempurna.
3. Membuang sputum dan tinja dengan cara yang saniter.
4. Lakukan pengawasan terhadap keong atau siput.
b. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar
1. Laporan kepada instansi kesehatan setempat: Laporan resmi tidak
diwajibkan.
2. Isolasi; Tidak dilakukan.
3. Disenfiks serentak : Dilakukan disinfeksi terhadap sputum dan tinja.
4. Karantina : Tidak ada.
5. Imunisasi : Tidak ada.
6. Investigasi : Tidak dilakukan.
7. Pengobatan spesifik.

Gambaran Klinis

Sebagian besar infeksi yang ringan dan sedang tidak menunjukkan gejala
klinis yang jelas atau asimtomatis. Gejala awal pada stadium akut mulai terlihat
ketika terjadi invasi dan migrasi cacing muda. Sesudah masa inkubasi yang
lamanya 2—20 hari, penderita mengalami diare, nyeri perut, dan urtikaria, dikuti
demam, sakit dada, batuk, sesak, malaise dan keringat malam. Batuk produktif
dengan dahak berlendir liat, dan berwarna coklat kemerahan. Hemoptisis yang
jelas dapat terjadi. Jika tidak diobati, infeksi yang berat dapat berkembang
menjadi brokektasi dan fibrosis. Migrasi ke luar paru oleh cacing muda atau
dewasa dapat subkutan, tulang belakang (sipnal cord), atau otak. Invasi ke otak
paling sering terjadi. Di sekitar cacing atau telurnya terbentuk kista, abses atau
granuloma.

Paragonimasis selebral umumnya terjadi pasa penderita muda, berumur di bawah


20 tahun. Stadium akut menunjukkan gejala klinis khas berupa demam, sakit
kepala, mual, muntah, gangguan penglihatan, paralisis dan konvulsi.