Anda di halaman 1dari 22

A.

Teori Model Konsep Keperawatan Betty Neuman


1. Perspektif Sistem Model Betty Neuman
Betty Neuman telah mengindetifikasi sepuluh perspektif unik dari modelnya
dengan menjelaskan, mendefinisikan dan menghubungkan konsep-konsep
penting yang dijabarkan sebagai berikut (Parker & Smith, 2010):
a. Klien sebagai individu atau kelompuk merupakan system yang unik,
setiap sistem adalah gabungan dari faktor-faktor yang umum diketahui,
atau karakteristi normal
b. Keberadaan stressor baik yang diketahui maupun tidak , masing-masing
memiliki potensi untuk merusak tingkat stabilitas klien atau garis
pertahanan normal klien. Pada dasarnya hubungan antara klien dengan
variabel-variabel fisiologis, psikologis, sosiokulturan, perkembangan dan
siritual kadang-kadang mempengari tingkat kemampuan klien untuk
melindungi dalam berespon terhadap stress.
c. Setiap individu atau klien system telah ditingkatkan respon rentang
normalnya terhadap lingkungan yang telah ditunjuk sebagai garis normal
petahanan atau stabilitas kondisi sehatnya.
d. Perlindungan diri muncul sasat menghadapi stressor.
e. Klien sebagai bagian dari status kesehatan atau kesakitan sebagai
komposisi dinamis yang dipengaruhi fisio, psiko, sosiokultural,
perkembangan dan spiritual.
f. Secara implisit faktor pengetahuan sebagai dasar mekanisme
perlindungan
g. Preventif primer berhubungan dengan system pengkajian, intervensi,
identifikasi dalam berespon terhadap stressor.
h. Preventif sekunder meliputi gejala terhadap stressor dan pengobatan.
i. Preventif tersier berhubungan dengan pengalaman sebelumnya.
j. klien sebagai system dalam keadaan dinamis, terjadi pertukaran energi
dengan lingkungan.
2. Teori Konsep Neuman’s Health System Model
Konsep yang dikemukakan oleh Betty Neuman adalah konsep
“Health care system” yaitu model konsep yang menggambarkan aktifitas
keperawatan yang ditujukan kepada penekanan penurunan stress dengan

1
memperkuat garis pertahanan diri secara fleksibel atau normal maupun
resistan dengan sasaran pelayanan adalah komunitas (Mubarak, 2009).
Teori neuman berpijak pada metaparadigma keperawatan yang terdiri
dari klien, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan. Fokus kepelayanan
keperawatan adalah klien yang berinteraksi dengan lingkungan. Yang
terpenting adalah menjaga agar klien dapat berinteraksi dengan perubahan
yang ada. Model ini berdasarkan kepada teori Gestalt teori Stress dari Selye
dan teori sistem secara umum. Sistem Neuman lebih melihat pada hubungan
individu terhadap stress, reaksi terhadap stress serta faktor rekonstruksi yang
dinamis (Sumijatun, 2005).
Komponen utama dari model ini adalah adanya stress dan reaksi
terhadap stress. Klien dipandang sebagai suatu sistem terbuka yang memiliki
siklus input, proses, output dan feedback sebagai suatu pola organisasi yang
dinamis. Dengan menggunakan perspektif sistem ini, maka kliennya bisa
meliputi individu, kelompok, keluarga, komunitas atau kumpulan agregat
lainnya dan dapat diterapkan oleh berbagai disiplin keilmuan (Mubarak,
2009).
Tujuan ideal dari model ini adalah untuk mencapai stabilitas sistem
secara optimal. Apabila stabilitas tercapai maka akan terjadi revitalisasi dan
sebagai sistem terbuka maka klien selalu berupaya untuk memperoleh,
meningkatkan, dan mempertahankan keseimbangan diantara berbagai faktor,
baik didalam maupun diluar sistem yang berupaya untuk mengusahakannya.
Neuman menyebut gangguan-gangguan tersebut sebagai stressor yang
memiliki dampak negatif atau positif. Reaksi terhadap stressor bisa potensial
atau aktual melalui respon dan gejala yang dapat diidentifikasi (Hidayat, A.
Aziz Alimul, 2004).
3. Kerangka Konsep Neuman’s Health Systems Model
Model sistem Neuman memberikan cara pandang terhadap manusia
sebagai makhluk holistik (memandang manusia secara keseluruhan) meliputi
aspek fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual yang

2
berhubungan secara dinamis seiring dengan adanya respon-respon sistem
terhadap stressor baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Komponen
utama dari model ini adalah adanya stress dan reaksi terhadap stress. Klien
dipandang sebagai suatu sistem terbuka yang memiliki siklus input, proses,
output dan feedback sebagai suatu pola organisasi yang dinamis. Perspektif
sistem ini, kliennya meliputi individu, kelompok, keluarga, dan komunitas.
Tujuan ideal dari model ini adalah untuk mencapai stabilitas sistem secara
optimal. Apabila stabilitas tercapai maka akan terjadi revitalisasi dan sebagai
sistem terbuka maka klien selalu berupaya untuk memperoleh, meningkatkan,
dan mempertahankan keseimbangan diantara berbagai faktor, baik didalam
maupun diluar sistem yang berupaya untuk mengusahakannya. Neuman
menyebut gangguan-gangguan tersebut sebagai stressor yang memiliki
dampak negatif atau positif. Reaksi terhadap stressor bisa potensial atau aktual
melalui respon dan gejala yang dapat diidentifikasi.
Neuman menyajikan aspek-aspek model sistemnya dalam suatu
diagram lingkaran konsentris, yang meliputi variabel fisiologi, psikologis,
sosiokultural, perkembangan dan spiritual, basic structure dan energy
resources, line of resistance, normal line of defense, flexible line of defense,
stressor, reaksi, pencegahan primer, sekunder, tersier, faktor intrapersonal,
interpersonal dan ekstrapersonal, serta rekonstitusi. Adapun faktor
lingkungan, kesehatan, keperawatan dan manusia merupakan bagian yang
melekat pada model ini yang saling berhubungan dan mendukung ke arah
stabilitas sistem. Gambar sistem Neuman ada pada gambar berikut ini.

3
Menurut Neuman, terdapat 3 garis pertahanan yang dapat melindungi
individu dari stressor. Garis pertahanan tersebut yaitu garis pertahanan
fleksibel, normal dan perlawanan.
a. Garis pertahanan fleksibel (Flexible Line Of Defense)
Garis ini merupakan garis terluar yang berfungsi sebagai penyangga
stresor yang terus berubah dengan cepat dan dinamis dan sangat rentan
terhadap faktor internal. Pada komunitas, garis ini merupakan zona
buffer sebagai tingkat kesehatan dinamik yang dihasilkan dari respon
temporer. Respon ini berasal dari stresor lingkungan atau sosial.
b. Garis pertahanan normal (Normal Line Of Defense)
Garis ini merupakan lapisan kedua dan berkembang sepanjang waktu
untuk mempertahankan keadaan tetap. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi garis ini seperti misalnya pola koping, gaya hidup, dan

4
cara yang digunakan individu dalam menghadapi stres. Garis pertahanan
akan tidak normal jika garis pertahanan fleksibelnya tidak dapat
melindungi secara adekuat.
c. Garis resistensi (Line Of Resistance)
Garis resistensi juga disebut garis perlawanan. Garis resisten melindungi
struktur dasar dan akan teraktivasi jika ada invasi dari stressor
lingkungan melalui garis normal. Garis perlawanan merupakan suatu
sistem yang dilakukan tubuh secara alami dana kan berusaha melindungi
agar tubuh tidak terkena dampak yang besar.
Stressor adalah kekuatan lingkungan yang menghasilkan ketegangan
dan berpotensial untuk menyebabkan sistem tidak stabil. Neuman
mengklasifikasi berdasarkan 3 hal yaitu intrapersonal, interpersonal dan
extrapersonal.
a. Stressor intrapersonal, tekanan yang bekerja dari dalam individu.
Misalnya respon autoimmun dan mekanisme koping.
b. Stressor interpersonal, tekanan yang bekerja diantara individu dan orang
lain yang memiliki pengaruh pada sistem. Misalnya ekspektasi peran.
c. Stressor ekstrapersonal, tekanan yang terjadi diluar lingkup sistem atau
individu. Misalnya sosial politik.
Intervensi merupakan tindakan-tindakan yang membantu untuk
memperoleh, meningkatkan dan memelihara sistem keseimbangan. Neuman
mengklasifikasikan intervensi menjadi 3 tingkat pencegahan, yaitu
pencegahan primer, sekunder dan tersier.
a. Pencegahan Primer
Pencegahan primer dilakukan sebelum sistem bereaksi terhadap
stresor, meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dan
sebagainya. Pencegahan mengutamakan pada penguatan garis fleksibel
dengan cara mencegah stressor dan mengurangi faktor resiko.
Intervensi dalam pencegahan primer dilakukan ketika resiko atau

5
stressor sudah ada tetapi belum terjadi reaksi. Strateginya mencakup
imunisasi, pendidikan kesehatan, olahraga dan perubahan gaya hidup.
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan setelah ada gejala dari stressor.
Pencegahan sekunder mengutamakan penguatan pada garis normal dan
mengurangi reaksi dari respon stessor agar melindungi stuktur dasar.
Jika pencegahan tidak berhasil dan rekonstruksi tidak dilakukan maka
struktur dasar tidak dapat mendukung sistem.
c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dilakukan setelah pengobatan. Intervensi
difokuskan pada readaptasi dan redukasi untuk mencegah kekambuhan
dan komplikasi (Tomey & Alligood 2006 ).
Rekonstruksi dilakukan sebagai peningkatan energi yang terjadi secara
berkaitan dengan tingkat stressor. (Neuman, 1995 dalam Sumijatun, 2005)
mendefinisikan rekonstitusi sebagai peningkatan energi yang terjadi
berkaitan dengan tingkat reaksi terhadap stressor. Rekonstitusi bisa
memperluas normal line defense ke tingkat sebelumnya, menstabilkan sistem
pada tingkat yang lebih rendah, dan mengembalikannya pada tingkat semula
sebelum sakit. Yang termasuk rekonstitusi adalah faktor-faktor interpersonal,
intrapersonal, ekstrapersonal dan lingkungan yang berkaitan dengan variabel
fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual.

4. Paradigma Keperawatan Menurut Neuman


Sistem Model Neuman menyediakan cara memandang domain
keperawatan yakni manusia, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan
(Neuman, 1995, dalam Parker & Smith, 2010).
a. Manusia menurut Neuman
Neuman memandang manusia atau klien secara keseluruhan
(holistic) yang terdiri dari:
1) Faktor fisiologis meliputi struktur dan fungsi tubuh
2) Faktor psikologis terdiri dari proses dan hubungan mental

6
3) Faktor sosial budaya meliputi fungsi sistem yang menghubungkan
sosial dan ekspektasi kultural dan aktivasi.
4) Faktor perkembangan sepanjang hidup.
5) Faktor spiritual pengaruh kepercayaan spiritual.
Klien juga dipandang mengalami kondisi yang bervariasi sesuai
stress yang dialami. Ketika stressor terjadi individu banyak membutuhkan
informasi atau bantuan untuk mengatasi stressor. Pemberian motivasi
merupakan rencana tindakan perawat untuk membantu perkembangan
klien.
Sistem klien diartikan dalam struktur dasar dan lingkaran-lingkaran
konsentrik yang saling berkaitan. Struktur dasar meliputi faktor dasar
kelangsungan hidup yang lebih umum dari karakter sehat dan sakit yang
merupakan gambaran yang unik dari sistem klien. Secara umum
gambaran keunikan sistem klien dari Neuman adalah range temperatur
normal, struktur genetik, pola respon, kekuatan dan kelemahan organ,
struktr ego dan pengetahuan atau kebiasaan.
Flexible Lines of Defense digambarkan sebagai lingkaran putus-
putus paling luar yang berperan memberikan respon awal atau
perlindungan pada sistem dari stressor. Garis ini diibaratkan sebagai suatu
accordion yang bisa menjauh atau mendekat pada normal line of defense.
Bila jarak antara flexible lines of defense dan normal lines of defense
meningkat maka tingkat proteksi juga harus meningkat. Line of defense
bertindak sebagai buffer untuk mempertahankan keadaan stabil dari
sistem klien. Bersifat dinamis dan dapat berubah dalam waktu yang relatif
singkat.
Normal Lines of Defense merupakan lingkaran utuh kedua yang
mencerminkan suatu keadaan stabil untuk individu, sistem atau kondisi
yang menyertai pengaturan karena adanya stressor yang disebut keadaan
wellness normal dan digunakan sebagai dasar untuk menentukan adanya

7
deviasi dari keadaan wellness untuk sistem klien. Berbagai stressor dapat
menginvasi normal line defense jika flexible lines of defense tidak dapat
melindungi secara adekuat. Jika itu terjadi maka sistem klien akan
bereaksi yang akan tampak pada gejala ketidakstabilan atau sakit dan
akan mengurangi kemampuan sistem untuk mengatasi stressor tambahan.
Normal lines of defense terbentuk dari beberapa variabel dan perilaku
seperti pola koping individu, gaya hidup dan tahap perkembangan.
Lines of Resistance merupakan serangkaian lingkaran putus-putus
yang mengelilingi struktur dasar. Artinya garis resisten ini melindungi
struktur dasar dan akan teraktivasi jika ada invasi dari stressor lingkungan
melalui garis normal pertahanan (normal line of defense). Misalnya
adalah mekanisme sistem immun tubuh. Jika lines of resistance efektif
dalam merespon stressor tersebut, maka sistem depan berkonstitusi, jika
tidak efektif maka energi berkurang dan bisa timbul kematian.
Hubungan dari berbagai variabel (fisiologi, psikologis, sosiokultur,
perkembangan dan spiritual) dapat mempengaruhi tingkat penggunaan
flexible lines of defense terhadap berbagai reaksi terhadap stressor.
b. Lingkungan menurut Neuman

Menurut Neuman lingkungan adalah seluruh faktor-faktor internal


dan eksternal yang berada di sekitar klien . Neuman mengatakan baik
lingkungan internal maupun ekternal pada manusia memiliki hubungan
yang harmonis dan keduanya mempunyai keseimbangan yang bervariasi,
dimana keseimbangan atau keharmonisan antara lingkungan internal dan
eksternal tersebut dipertahankan. Pengaruh lingkungan terhadap klien
atau sebaliknya bisa berdampak positif atau negatif. Stressor yang berasal
dari lingkungan meliputi tiga hal yaitu intrapersonal, interpersonal dan
extrapersonal. Neuman membagi lingkungan menjadi 3 yaitu :

8
1) Lingkungan internal yaitu lingkungan intrapersonal yang ada dalam
sistem klien.
2) Lingkungan eksternal adalah lingkungan yang berada diluar sistem
klien. Kekuatan-kekuatan dan pengaruh interaksi yang berada diluar
sistem klien.
3) Lingkungan yang diciptakan merupakan pertukaran energi dalam
system terbuka dengan lingkungan internal dan eksternal yang bersifa
dinamis.Lingkungan ini tujuannya adalah untuk memberikan stimulus
positif kearah kesehatan klien.
c. Sehat menurut Neuman

Kesehatan adalah konsep ketiga dalam model Neuman. Dia percaya


bahwa kesehatan dan penyakit merupakan suatu kesatuan. Kesehatan
disamakan dengan stabilitas sistem optimal (yang terbaik pada waktu
tertentu). Gerakan klien terhadap kesehatan ada ketika lebih banyak
energi dibangun dan disimpan dari pada yang dikeluarkan. Gerakan klien
terhadap penyakit dan kematian terjadi ketika lebih banyak energi yang
dibutuhkan daripada yang tersedia untuk mendukung kehidupan. Tingkat
kesehatan tergantung pada jumlah energi yang dibutuhkan untuk kembali
menjaga stabilitas sistem. Sistem stabil ketika lebih banyak energi
tersedia dari yang sedang digunakan. Kesehatan dipandang sebagai
bagian dari tingkat dalam kisaran normal, naik dan turun selama
kehidupan. Perubahan ini akibat faktor dari struktur dasar dan
menunjukkan kepuasan atau tidak puas dengan sistem klien terhadap
stresor lingkungan.

d. Keperawatan menurut Neuman

Neuman menyatakan bahwa keperawatan memperhatikan manusia


secara utuh dan keperawatan adalah sebuah profesi yang unik yang
mempertahankan semua variabel yang mempengaruhi respon klien

9
terhadap stressor. Melalui penggunaan model keperawatan dapat
membantu individu, keluarga dan kelompok untuk mencapai dan
mempertahankan level maksimum dari total wellness. Keunikan
keperawatan adalah berhubungan dengan integrasi dari semua variable
yang mana mendapat perhatian dari keperawatan .

Neuman (1981) menyatakan bahwa dia memandang model sebagai


sesuatu yang berguna untuk semua profesi kesehatan dimana mereka dan
keperawatan mungkin berbagi bahasa umum dari suatu pengertian.
Neuman juga percaya bahwa keperawatan dengan perspektif yang luas
dapat dan seharusnya mengkoordinasi pelayanan kesehatan untuk pasien
supaya fragmentasi pelayanan dapat dicegah.

5. Analisis Kekuatan dan Kelemahan Konsep


a. Kekuatan
1) Neuman menggunakan diagram yang jelas, diagram ini digunakan
dalam semua penjelasan tentang teori sehingga membuat teori terlihat
menarik. Diagram ini mempertinggi kejelasan dan menyediakan
perawat dengan tantangan–tantangan untuk pertimbangan
2) Model sistem Neuman lebih flexible biasa digunakan pada area
keperawatan pendidikan dan pelatihan keperawatan.

b. Kelemahan
1) Model Sistem Neuman dapat digunakan oleh semua profesi kesehatan,
sehingga untuk profesi keperawatan menjadi tidak spesifik
2) Penjelasan tentang perbedaan stressor interpersonal dan ekstrapersonal
masih dirasakan belum ada perbedaan yang jelas
3) Model system Neuman tidak membahas secara detail tentang perawat
–klien, padahal hubungan perawat klien merupakan domain penting
dalam Asuhan Keperawatan
4) Model sistem Neuman berguna untuk pasien tapi tidak mudah untuk
dapat memprediksi atau menggambarkan hubungan interaksi pasien
dalam setiap faktor (Parker & Smith, 2010).

10
Berdasarkan penjelasan diatas maka model sistem Neuman dapat digunakan
oleh mahasiswa keperawatan baik dalam praktek keperawatan, pendidikan
dan penelitian. Sedangkan kelemahan dari teori ini dapat dijadikan dasar bagi
mahasiswa untuk dapat dikembangkan lewat penelitian-penelitian dibidang
keperawatan.

6. Instrumen Pengkajian dan Intervensi the Neuman Systems Model


Penilaian klien dan Diagnosa Keperawatan digunakan untuk memandu
proses keperawatan dimana perawat mengumpulkan data yang komprehensif
secara holistik untuk menentukan dampak atau kemungkinan dampak stres
lingkunganpada sistem klien yang memvalidasi data dengan klien sebelum
merumuskan diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan yang
dipilih diprioritaskan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang relevan.
Tujuan keperawatan ditentukansecara bersama-sama oleh pemberi pelayanan
kesehatan, pasien, dan sistem pasien,yang disepakati pada tindakan
pencegahan sebagai strategi intervensi. Kesepakatan bersama pada tujuan dan
intervensi sejalan dengan tanggung jawab dalam pelayanan kesehatan saat
ini sebagai upaya memberikan hak klien yang terkaitdengan isu
kesehatan (Parker & Smith, 2010).
Instrumen pengkajian pasien dan diagnosis keperawatan dengan
pencegahan primer, sekunder, dan tersier sebagai intervensi
dikembangkan untuk memberkan tindakan keperawatan yang tepat dengan
masing-masing tipologi pencegahan.Terdapat petunjuk yang jelas untuk
menuliskan tindakan keperawatan yang tepat (Neuman, 2002, dalam Parker &
Smith, 2010), dimana mahasiswa didorong untuk meninjau sebelum menulis
tindakan keperawatan tersebut. Perlu diingat bahwa stresalamiah dan ancaman
terhadap pasien dengan sistem pasien merupakan hal yang pertama ditentukan
untuk setiap jenis pencegahan sebelum tindakan keperawatan lainnya
dimulai. Stres yang sama dapat mempengaruhi efek atau reaksi pasien. Hasil

11
keperawatan ditentukan oleh keberhasilan dari intervensi dan evaluasi tujuan
setelah intervensi.

7. Instrumen dalam Implementasi Model Teori


Dalam pelaksanaan Model Neuman, dirancang beberapa sistem model yaitu
Sistem Model Neuman format proses keperawatan, Sistem Model Neuman
penilaian dan Model Neuman alat intervensi (Neuman, 2002, dalam Parker &
Smith, 2010):
a. Sistem Model Neuman, format proses keperawatan memandu pengolahan
informasi dan kegiatan diarahkan pada tujuan keperawatan. Neuman
menggunakan proses keperawatan dalam tiga kategori yaitu: diagnosis
keperawatan, tujuan keperawatan dan hasil keperawatan. Format Neuman
proses keperawatan telah di validasi oleh mahasiswa program doktor.
Validasi dan utulitas didukung dalam berbagai bidang pendidikan
keperawatan dan praktek.
b. Penilaian klien dalam menentukan diagnosa keperawatan di gunakan
untuk memandu proses keperawatan. Perawat mengumpulkan data yang
komprehensif, holistik untuk menentukan dampak atau kemungkinan
dampak stres klien pada sistem lingkungan, maka perawat memvalidasi
data klien sebelum menetukan suatu diagnosa keperawatan. Bila hasil
sudah ada maka ditentukan diagnosa keperawatan prioritas yang terkaiat
dan relevan dengan pengetahuan. Tujuan keperawatan ditentuken bersama
dengan sistem asuhan klien-klien. Bersama-sama menentukan
pencegahan sebagai strategi intervensi.
c. Tujuan dan intervensi ditentukan dan disepakati secara konsisten dalam
sistem perawatan kesehatan untuk klien terkait dengan masalah
kesehatan. Pengkajian klien, diagnosis keperawatan dengan pencegahan
primer, sekunder, dan tersier seperti intervensi adalah yang dikembangkan
dalam melakukan tindakan keperawatan yang sesuai dengan masing-

12
masing tipologi pencegahan. Ada petunjuk yang jelas untuk untuk
mendorong dan meninjau kembali sebelum menulis tindakan keperawatan
tersebut. Perlu diingat bahwa sifat stres dan ancaman mereka untuk
sistem klien-klien yang pertama ditentukan untuk setiap jenis pencegahan
sebelum tindakan keperawatan lainnya dimulai. stressor yang sama bisa
menghasilkan dampak variabel/ reaksi. Dalam hal ini ditentukan oleh
intervensi dan evaluasi akhir setelah intervensi.

Daftar pustaka
Hidayat, A. Aziz Alimul.2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.
Mubarak, W. I.2009. Pengantar Keperawatan Komunitas 1. Jakarta: CV.
Sagung Seto.
Parker, Marilyn E., Marlaine C. Smith.2010. Nursing Theories and Practice
(3rd ed.). Philadelphia: F.A. Davis Company.
Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan Volume I. Jakarta: EGC.
Sumijatun. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas. Jakarta: EGC.

B. Teori Model Konsep Keperawatan Dorothy E. Johnson


1. Konsep Utama dan Defenisi Dalam Teori Keperawatan
Model konsep dan teori keperawatan menurut Johnson adalah dengan
pendekatan sistem perilaku, dimana individu dipandang sebagai sistem
perilaku yang selalu ingin mencapai keseimbangan dan stabilitas baik di
lingkungan internal maupun eksternal. Selain itu, individu juga memiliki
keinginan dalam mengatur dan menyesuaikan dari pengaruh yang
ditimbulkanya. Teori keperawatan Dorothy Johnson diukur dengan behavioral
system theory (teori sistem perilaku). Johnson memfokuskan pada perilaku
yang dipengaruhi oleh kehadiran aktual dan tak langsung makhluk sosial lain
yang telah ditunjukkan mempunyai signifikansi adaptif utama.
a. Konsep Perilaku

13
Johnson mendefiniskan perilaku seperti yang disepakati oleh para ahli
biologi dan perilaku, yaitu suatu keluaran dari struktur intraorganisme
dan proses yang terkoordinasi didalamnya serta dimunculkan dan
direspon untuk mengubah stimulasi sensori. Johnson menitikberatkan
pada perilaku yang dipengaruhi secara aktual atau potensial terhadap
segala sesuatu yang membutuhkan adaptasi atau penyesuaian keadaan
yang bermakna (Johnson, 1980 dalam Alligood, 2010)
b. Konsep Sistem
Johnson menggunakan definisi sistem yang dicetuskan oleh Rapoport
(1968) yaitu “Suatu sistem adalah suatu keseluruhan fungsi sebagai
semua bagian yang memiliki ketergantungan antar bagian yang
menyusun didalamnya”. Johnson sepakat dengan pendapat yang
diungkapkan oleh Chin yang menyatakan bahwa “adanya suatu
organisasi, interaksi, interdependensi dan integrasi dari seluruh unsur
pendukungnya”. Selain itu, seorang manusia berusaha untuk
mempertahankan suatu keseimbangan melalui perubahan dan
penyesuaian terhadap kekuatan yang mempengaruhinya (Johnson, 1980
dalam Aligood 2010)
c. Konsep Sistem Perilaku
Suatu sistem perilaku mencakup cara-cara berperilaku yang terpola,
berulang dan memiliki tujuan. Cara berperilaku ini membentuk suatu
fungsi unit yang tertata dan terintegrasi yang membedakan dan
membatasi interaksi antara seseorang dan dengan lingkungannya serta
membentuk suatu relasi antara seseorang dengan benda, peristiwa dan
situasi yang ada pada lingkungan tempatnya berada. Biasanya suatu
perilaku dapat dideskripsikan dan dijelaskan. Manusia sebagai suatu
sistem perilaku berusaha untuk mencapai stabilitas dan keseimbangan
dengan melakukan perubahan dan adaptasi, kondisi ini akan berhasil
jika menggunakan fungsi yang efektif dan efisien yang ada dalam
dirinya.

14
Fokus unik dari Model Sistem Perilaku adalah manusia sebagai sistem
perilaku (Johnson, 1968, 1978a, 1980, 1990a). Lebih khusus lagi, fokus dari
Model Sistem Perilaku adalah pada tingkah laku sosial, yaitu ciri dan tindakan
yang dapat diamati dari manusia yang memperhitungkan keberadaan aktual
atau tersirat dari makhluk social lainnya. Secara khusus, fokusnya adalah pada
bentuk perilaku yang telah terbukti memiliki signifikansi adaptif utama
(Fawcett, 2005).
Johnson (1990) juga menekankan bahwa penerimaan sistem perilaku
sebagai klien adalah komponen utama dari model keperawatan ini. Johnson
mengklaim bahwa konsep manusia sebagai sistem perilaku, atau gagasan
bahwa pola respons spesifik manusia membentuk keseluruhan yang
terorganisir dan terpadu adalah asli dengan dirinya, sejauh yang ia tahu
(Johnson, 1980).

2. Konsep dan Teori Keperawatan Menurut Dorothy E.Jhonson


Teori model sistem perilaku Johnson membahas konsep metaparadigma
dari manusia, lingkungan, dan keperawatan. Sistem perilaku mempunyai
beberapa aktivitas yang dilakukan, bagian dari sistem akan membentuk suatu
subsistem yang memiliki aktivitas yang lebih spesifik. Suatu subsistem adalah
suatu sistem kecil yang mempunyai tujuan dan fungsi tersendiri yang dapat
dipelihara sepanjang hubungan dengan subsistem atau lingkungan yang lain
tidak terganggu. Ketujuh subsistem yang teridentifikasi oleh Johnson bersifat
terbuka, terkait satu dengan lainnya dan saling berhubungan satu dengan
lainnya. Input dan hasil (output) merupakan komponen dari subsistem tersebut
(Grubbs, 1980 dalam Alligood, 2010). Manusia adalah suatu sistem yang
mempunyai tujuh subsistem yang berinteraksi satu dengan lainnya yaitu ;
1. Subsistem Affiliative-attachment
Diidentifikasi sebagai sistem respon pertama yang berkembang dalam
individu, oleh karenanya merupakan respon paling kritis. Subsistem ini
membentuk landasan untuk semua organisasi sosial. Terdapat fungsi

15
survival dan security. Fungsi optimal dari subsistem ini memungkinkan
adanya inklusi sosial, kedekatan, serta pemeliharaan ikatan sosial yang
kuat.
2. Subsistem Dependency
Dalam konteks yang luas, subsistem ketergantungan mengembangkan
perilaku pemberian pertolongan (helping behavior) yang memunculkan
adanya suatu respon terhadap kebutuhan pemberian asuhan keperawatan.
Konsekuensinya adalah bantuan persetujuan, perhatian/pengenalan dan
bantuan fisik. Pengembangannya, perilaku ketergantungan berubah dari
perilaku bergantung dengan orang lain secara total menjadi.
3. Subsistem Ingesti
Subsistem ingesti dan eliminasi seharusnya tidak dipandang sebagai
mekanisme input dan output dari system. Subsistem ini berhubungan
dengan tingkah laku sekitar yang berkaitan dengan siapa, apa, bagaimana,
berapa banyak, dan dibawah kondisi apa kita makan. Sub sistem ini
memberikan fungsi yang luas dari kepuasan terhadap intake makanan/
selera makan. Perilaku ini biasanya berhubungan dengan sosial,
psikologis, dan sistem biologi.
4. Subsistem Eliminasi
Subsistem ini berhubungan denagn tingkah laku dalam mengeksresikan
bahan buangan dari dalam tubuh. Subsistem ini memiliki persamaan
dengan subsistem ingesti, dimana faktor sosial dan psikologis dipanadang
sebagai faktor yang dapat mempengaruhi aspek biologis dari subsistem
ini.
5. Subsistem Seksual
Subsistem ini memiliki fungsi ganda yaitu hasil (procreation) dan
Kepuasan (gratification). Perilaku dapat bervariasi berdasarkan jenis
kelamin dan prinsip-prinsipnya. Respon system ini diawali dengan
perkembangan peran identitas sex, dan mencakup perilaku peran sex yang
luas.
6. Subsistem Aggressive-protective

16
Fungsi dari subsistem ini meliputi perlindungan dan pemeliharaan.
Perilaku yang ditekankan pada perlindungan, penjagaan atau
pemeliharaan diri sendiri. Johnson memperlihatkan bahwa subsistem ini
sebagai suatu hal yang membangkitkan respon defensif dari seorang
individu ketika jiwanya terancam bahaya. Subsistem ini tidak termasuk
perilaku dengan tujuan untuk melukai individu lain.
7. Subsistem Achievement
Merupakan suatu upaya untuk manipulasi terhadap lingkungan.
Subsistem ini berfungsi dalam mengkontrol sebuah aspek dari diri atau
lingkungan terhadap beberapa standart kebaikannya. Area dari perilaku
subsistem ini meliputi kemampuan intelektual, fisik, kreatifitas, mekanis
dan ketrampilan social. Subsistem ini akan mempengaruhi perilaku
individu untuk mengontrol lingkungannya (Alligood, 2014; Fawcett,
2005).

Setiap subsistem dibentuk oleh serangkaian respon perilaku atau


kecenderungan respon atau sistem tindakan yang mempunyai kesamaan niat

17
dan tujuan. Diatur oleh niat atau usaha (beberapa jenis struktur motivasi
intraorganisme) mempunyai respon yang bisa dibedakan, dikembangkan dan
dimodifikasi sepanjang waktu melalui kematangan pribadi, pengalaman dan
proses belajar. Hal tersebut ditentukan perkembangan secara terus menerus
dari faktor fisik, biologis dan psikologis yang bekerja dalam situasi yang
komplek dan saling keterkaitan (Alligood, 2014).
Tiap subsistem digambarkan dan dianalisa dalam konteks kebutuhan
struktural dan fungsional. Empat elemen struktural yang telah diidentifikasi
meliputi:
1. Niat atau tujuan konsekensi utama dari perilaku terhadap niat atau tujuan
yang tercakup didalamnya;
2. Secara umum terdiri dari dua jenis, yaitu: persiapan ( preparatory) atau
apa yang seseorang biasa akan lakukan, dan perserative, kebiasaan untuk
mempertahankan keadaan tertentu;
3. Pilihan yang mewakili perilaku seorang pasien ketika melihat dirinya
sendiri dalam berbagai situasi yang menyertainya;
4. Tindakan atau perilaku yang ditunjukkan (Grubbs,1980; Johnson, 1980
dalam Alligood, 2010).
Sistem tersebut memainkan peranan yang sangat penting baik ketika
seseorang akan menentukan suatu pilihan dan dalam perilaku yang sering
ditunjukkan (Alligood, 2014).
Masing-masing subsistem mempunyai tiga persyaratan fungsional,
yaitu perlindungan ( protection), pengembangan (nurturance) dan
perangsangan ( stimulation). Persyaratan fungsional ini harus dipenuhi
melalui upaya yang dilakukan oleh individu sendiri, atau dengan bantuan dari
pihak luar yaitu dari perawat. Untuk mengembangkan dan mempertahankan
stabilitas dari subsistem, masing-masing harus mempunyai persediaan
persyaratan fungsional yang biasanya disediakan oleh lingkungan. Namun
dengan demikian, selama seseorang mengalami sakit atau pada saat ada
ancaman terhadap kesehatan, maka perawat menjadi salah satu sumber dari
prasyarat fungsional. Respon subsistem tersebut dikembangkan oleh motivasi,

18
pengalaman, dan belajar serta dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis,
dan sosial (Johnson, 1980 dalam Alligood, 2014).
Sistem perilaku berusaha untuk mencapai keseimbangannya dengan
menyesuaikan terhadap stimulus internal dan lingkungan. Sistem menjaga
hubungannya dengan lingkungan sekitarnya, sistem ini muncul secara aktif
dan tidak pasif. Perawat berada diluar dari sistem perilaku namun masih bisa
tetap bisa berinteraksi dengan sistem tersebut. Setiap ketidakseimbangan yang
terjadi dalam sistem perilaku menghasilkan kebutuhan akan tindakan
keperawatan (Brown, 2006 dalam Alligood, 2014).
Intervensi keperawatan dapat berupa hal yang sangat umum. Jika sumber
utama itu mempunyai struktur stressor, maka perawat dapat memfokuskan
pada pencapaian tujuan yang dikaitkan dengan visi-misi dari masing-masing
bagian. Tujuan dari keperawatan adalah untuk mempertahankan atau
menyimpan kembali dari tingkatan sistem perilaku pada saat hal tersebut
diinginkan atau mungkin untuk dicapai (Johnson, 1978 dalam Alligood,
2014).

3. Asumsi Utama Teori Dorothy


a. Keperawatan
Keperawatan menurut Johnson adalah suatu kekuatan eksternal
yang menjaga keteraturan dan kesatuan dari perilaku seseorang untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Hal ini dilakukan dengan cara
menyediakan sumbersumber dari dalam diri pasien ketika sedang stress
atau mengalami ketidakseimbangan sistem perilaku. Menurut Johnson
(1980), keperawatan memberikan bantuan dari luar diri pasien baik
sebelum, selama dan sesudah terjadinya gangguan keseimbangan sistem
sehingga memerlukan adanya rangkaian pengetahuan, gangguan dan
kendali. Keperawatan tidak hanya bergantung pada pengobatan medis
akan tetapi dapat membantu mempercepat pengobatan medis.
b. Manusia

19
Menurut Johnson (1980), manusia dipandang sebagai suatu sistem
perilaku yang mempunyai pola yang terjadi secara berulang untuk
menghubungkan seseorang dengan lingkungannya. Manusia merupakan
suatu sistem perilaku dimana manusia mengenali stresor fisik ,psikologis
dan sosial yang bekerja diluar diri. Keseimbangan sistem perilaku
memerlukan keteraturan dan perilaku yang konstan. Keseimbangan sitem
perilaku akan tercapai jika seseorang mampu beradaptasi terhadap
stressor yang muncul dari luar diri untuk tetap menjaga fungsi efisien dan
efektif dari seseorang.
c. Kesehatan
Johnson merefleksikan kesehatan sebagai suatu keadaan yang
dinamis, seimbang, teratur, terintegrasi seluruh sub sistem dari sistem
perilaku. Seseorang dikatakan sehat jika mampu mencapai keseimbangan
sistem perilaku menuju kepada perilaku fungsional yang akhirnya
mencapai beberapa keadaan diantaranya pengeluaran energi yang lebih
sedikit daripada energy yang dibutuhkan, kemampuan bertahan secara
biologis dan sosial, dan beberapa tingkatan dari kebutuhan pribadi telah
tercapai.
d. Lingkungan
Teori Johnson mengemukakan bahwa lingkungan adalah semua
faktor yang bukan dari sistem perilaku. Perawat bisa memanipulasi
beberapa aspek dari lingkungan sehingga tujuan untuk mencapai
keseimbangan sistem perilaku bias tercapai bagi seorang pasien (Brown,
2006). Sistem perilaku menentukan dan membatasi interaksi antara
seseorang dan lingkungannya dan membangun suatu hubungan antara
seseorang terhadap benda, peristiwa, dan situasi yang terdapat dalam
lingkungan tersebut. Sistem perilaku berupaya untuk mempertahankan
keseimbangan untuk merespon faktor lingkungan dengan cara
menyesuaikan diri dengan kekuatan yang memengaruhi seseorang.
Lingkungan juga merupakan sumber dari perlindangan, pemeliharaan,

20
dan stimulasi yang diperlukan sebagai syarat untuk memelihara
kesehatan.
Dari hasil analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa kekuatan pada
konsep perilaku ini adalah Johnson memberikan kerangka acuan bagi perawat
yang bersangkutan dengan perilaku klien tertentu. Model perilaku Johnson
dapat digeneralisasikan di seluruh jangka hidup dan lintas budaya. Sedangkan
kelemahan dari konsep ini adalah Johnson tidak secara jelas menggambarkan
hubungan antar konsepnya dalam subsistem. Kurangnya definisi yang jelas
untuk hubungan timbal balik antara dan antara subsistem membuat sulit untuk
melihat seluruh sistem perilaku sebagai suatu entitas. Kurangnya keterkaitan
yang jelas antara konsep menciptakan kesulitan dalam mengikuti logika kerja
Johnson.

Daftar Pustaka
Alligood, Martha, R & Tomey, Ann, M.2010. Nursing Theorist and Their
Work, Seventh Edition. St.Louis.Missouri: Mosby Elsivier.
Alligood, Martha, R.2014. Nursing Theorist and Their Work, Eight Edition.
St.Louis.Missouri: Mosby Elsivier.
Brown, V. M.2006. Behavioral System Model. In A. M. Tomey & M. R.
Alligood (Eds.), Nursing theorists and their work (6th ed., pp. 386-404)
Philadelpia: Mosby/Elsevier
Fawcett, J.2005.Contemporary Nursing Knowledge : Analysis and Evaluation
of Nursing Models and Theories (2nd ed). Philadelpia : F.A. Davis.
Grubbs, J.1980. An Interpretation of the Johnson Behavioral System Model
for Nursing Practice In J. P. Riehl & C. Roy (Eds), Conceptual
models for nursing practice (pp.217-254). New York: Appleton-
Century-Crofts.
Johnson, D. E.1978. Implications fo Research – The Johnson Behavioral
System Model. Paper presented at the Second Annual Nurse Educator
Conference, New York City

21
Johnson, D. E.1990. The Behavioral System Model For Nursing In M. E.
Parker (Ed. Nursing theories in practice. New York: National League
for Nursing.

22

Anda mungkin juga menyukai