Anda di halaman 1dari 4

BUDIDAYA HIDROPONIK JILID 2

Omset Penjualan Tanaman Hidroponik

Nah, pada artikel kali ini saya sebagai penulis akan memberikan sudut pandang dari segi
omset penjualan tanaman hidroponik ini. Merujuk pada artikel saya sebelumnya, telah saya
uraikan secara terperinci seputar tehnik pembudidayaan tanaman hidroponik yang mulai saya
geluti sejak tahun 2017 saat program Go-green mulai dicanangkan oleh Menteri Keuangan yang
sesui instruksi beliau kepada Wakil Menteri Keuangan, para Pejabat Eselon I, para Pimpinan
Satuan Kerja Organisasi eselon II/III/IV, para Pejabat Pembuat Komitmen, dan para Pejabat
Fungsional/Pegawai dilingkungan Kementerian Keuangan melalui Instruksi Menteri Keuangan
Nomor 346/IMK.01/2017 tanggal 17 April 2017 tentang Gerakan Efisiensi Sebagai Bagian
Implementasi Penguatan Budaya Kementerian Keuangan, antara lain agar melaksanakan upaya
efisiensi anggaran birokrasi Budaya bertanam dengan sistem hidroponik semakin diminati
masyarakat di perkotaan.

Oleh sebab itu, lingkungan KPPN Luwuk telah melaksanakan instruksi ibu menteri
dengan melaksanakan penghijauan dilingkungan kantor dengan metode pembudidayaan
hidroponik. Hal ini juga sudah menjadi tren seiring meningkatnya kesadaran masyarakat dalam
menjalankan pola hidup sehat melalui konsumsi sayuran dan buah yang higienis. Maka kami
memberikan contoh awal mulai dari lingkungan kerja kami. Hasilnya pun sudah kami nikmati
secara bersama-sama. Baik dalam bentuk konsumsi pribadi bagi karyawan KPPN sendiri atau
kami lakukan penjualan kepada masayarakat, target yang menjadi sasaran penjualannya mulai
dari kalangan ibu rumah tangga, pasar tradisional, supermarket, hingga beberapa usaha mikro
yang sering menggunakan sayur mayur sebagai bahan baku jualannya. Tanaman hidroponik
menjadi salah satu peluang usaha agribisnis yang cukup menjanjikan.

Sejak 2015, pasar sayuran hidroponik terus mengalami pertumbuhan dengan kisaran
10%-20% per tahun. Sayuran hidroponik memberikan penampilan lebih bersih karena tidak
terkena noda tanah seperti hasil pertanian pada umumnya. Selain itu, kebanyakan sayuran
hidroponik juga tidak perlu pestisida karena serangan hama seperti ulat yang minim, sehingga
perawatan terhadap tanaman ini relative lebih sederhana.
Kondisi ini membuat peluang usaha tanaman hidroponik sangat menjanjikan. Pelaku
usahanya bisa memperoleh omzet Rp40 juta per bulan lho. Menggiurkan ya?

Dibandingkan pertanian konvensional, bisnis hidroponik memiliki beberapa kelebihan.


Di antaranya dari sisi efisiensi lahan. Usaha ini tidak bergantung kepada lahan luas dan tanah,
karena media tanam hidroponik adalah air dan oksigen. Selain itu, tanaman hidroponik ini juga
tidak butuh yang terlalu banyak pupuk. Tidak hanya itu, tanaman hidroponik juga memiliki
kualitas lebih bersih dibandingkan dengan tanaman bermedia tanah. Faktor inilah yang membuat
nilai jual produk hidroponik tinggi. Baiknya lagi, hama dan penyakit yang menyerang tanaman
hidroponik lebih mudah ditangani karena terlokasir.

Modal Bisnis Hidroponik

Untuk memulai usaha ini, modal keuangan paling penting dialokasikan untuk pembelian
peralatan. Alat-alat dan bahan yang dibutuhkan untuk memulai usaha hidroponik adalah pompa
air, tendon air, alat NFT (Nutrient Film Technique), tray, jaring atau net, wadah, pipa PVC,
timbangan, gunting, pisau, timba, selang, sewa lahan, dan lainnya.

Berapa biaya yang diperlukan untuk melengkapi berbagai perlengkapan ini? Memang tidak
sedikit. Namun, jika Anda sudah memiliki beberapa item di rumah dan lahan milik sendiri, maka
Anda akan menghemat yang harus dikeluarkan

Biaya Operasional Bisnis Hidroponik

Adapun biaya operasional mencakup biaya benih tanaman serta biaya pendukung
lainnya. Untuk pembenihan, Anda bisa menyiapkan benih tanaman hidroponik yang Anda
perkirakan sesuai permintaan pasar. Seperti benih cabe, sawi, selada, bawang, dan benih buah-
buahan lainnya.

Ambil contoh untuk produk selada. Berdasarkan penuturan para petani yang sudah
berpengalaman, biaya produksi tanaman selada mencapai Rp20 ribu per kilogram. Kelihatannya
cukup besar ya? Tapi jangan salah, harga jualnya juga setimpal. Di supermarket, selada dihargai
Rp35.000 per kg. Jadi dari satu kilogram selada, Anda bisa memperoleh untung sekitar
Rp15.000. Itu untuk volume satu kilogram. Hitung saja jika kapasitas produksi Anda setiap kali
panen dalam skala kwintal, bahkan ton per bulan.

Selain biaya pembenihan, Anda juga harus mengeluarkan modal untuk biaya pendukung
lainnya. Di antaranya vitamin, karung, botol plastik bekas, media tanam, pupuk, vaksin, obat-
obatan, biaya transportasi bahan bakar minyak, air, listrik, dan lainnya. Tahap paling penting
dalam merintis dan mengembangkan setiap usaha adalah cara pemasarannya. Karena pada titik
inilah keuntungan usaha terjadi. Di sini, Anda harus pintar-pintar memasarkan produk agar cepat
kembali modal. Pada tahap awal, Anda bisa menawarkan ke lingkungan terdekat. Misalnya ke
tetangga, teman, rekan kerja, saudara dan lainnya.

Namun agar usaha ini lebih berkembang dan dikenal secara luas, Anda bisa menawarkan
kerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya, restauran, rumah makan, pabrik, kantor, hotel,
asrama, rumah sakit, jasa catering, dan lainnya. Dengan begitu, usaha tanaman hidroponik Anda
akan semakin dikenal dan dipercayai untuk menjadi supplier mereka. Anda juga bisa
memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai sarana pemasaran dengan berjualan secara
online. Misalnya dengan membuat website khusus, blog atau di media social.

Kelemahan Bisnis Hidroponik

Selain kelebihannya, tentu saja bisnis hidroponik memiliki kekurangan. Layaknya sebuah usaha,
Anda wajib mengetahui kelemahan dari usaha hidroponik ini guna mengantisipasi kerugian yang
potensial terjadi.

Hal yang perlu Anda ketahui dari bisnis hidroponik, kompetisi usaha ini sekarang cukup ketat
karena banyak orang yang terjun ke sana. Oleh karena tingkat persaingannya yang tinggi, Anda
mesti merancang merintis bisnis hidroponik Anda dengan konsep yang berbeda dengan pesaing.
Misalnya dari sisi jenis tanaman, kualitas bahkan layanannya. Anda harus bisa memastikan
bahwa tanaman hasil hidroponik Anda selalu dalam kondisi segar saat dipasarkan.

Begitupun, kondisi tersebut jangan sampai membuat Anda mengurungkan niat untuk berbisnis
hidroponik. Bisnis apapun selalu dalam suasana kompetisi. Ciptakan inovasi baru, dan majulah
dalam persaingan tanpa gentar. Selamat mencoba.