Anda di halaman 1dari 8

BAB III

PROBLEM

1. Apa yang menyebabkan tekanan darahnya meningkat?


2. Bagaimana prinsip anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang bagi
pasien tersebut?
3. Bagaimana prinsip penatalaksanaan pada pasien tersebut?
BAB IV

PEMBAHASAN

A. Batasan
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140
mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan
selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Hipertensi merupakan
salah satu faktor risiko paling berpengaruh sebagai penyebab penyakit jantung
(kardiovascular).

B. Anatomi, Histologi, Fisiologi, Patofisiologi dan Patomekanisme Penyakit


1. Anatomi dan Histologi
Jantung adalah organ yang memompa darah melalui pembuluh darah
menuju ke seluruh jaringan tubuh. Sistem kardiovaskular terdiri dari darah,
jantung, dan pembuluh darah. Darah yang mencapai sel-sel tubuh dan
melakukan pertukaran zat dengan sel-sel tersebut harus di pompa secara terus-
menerus oleh jantung melalui pembuluh darah. Sisi kanan dari jantung,
memompa darah melewati paru-paru, memungkinkan darah untuk melakukan
pertukaran antara oksigen dan karbondioksida.
Ukuran jantung relatif kecil, pada umumnya memiliki ukuran yang
sama, tetapi memiliki bentuk yang berbeda seperti kepalan tangan setiap
orang. Dengan panjang 12cm, lebar 9cm, tebal 6cm, dan berat 250 gr pada
wanita dewasa dan 300 gr pada pria dewasa.

2. Fisiologi
Semua jaringan tubuh selalu bergantung pada aliran darah yang
disalurkan oleh kontraksi dan denyut jantung. Jantung mendorong darah
melintasi pembuluh darah untuk disampaikan dalam jumlah yang cukup.
Jantung berfungsi untuk menjalankan sistem sirkulasi dan transportasi dalam
tubuh. Pada dasarnya sistem sirkulasi terdiri dari 3 komponen dasar yaitu :
 Jantung berfungsi sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap
darah untuk menimbulkan gradien tekanan yang diperlukan agar darah
mengalir ke jaringan.
 Pembuluh darah berfungsi sebagai saluran untuk mengarahkan dan
mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan
kemudian mengembalikannya ke jantung.
 Darah berfungsi sebagai medium transportasi tempat bahan-bahan
yang akan disalurkan dilarutkan, diendapkan.

Siklus jantung adalah urutan kejadian mekanik yang terjadi selama


satu denyut jantung tunggal. Saat menuju akhir diastole (G) semua rongga
jantung berelaksasi. Katup antara atrium dan ventrikel terbuka (katup AV:
kanan, trikuspid ; kiri, mitral), karena tekanan atrium tetap sedikit lebih besar
daripada tekanan ventrikel sampai ventrikel benar-benar mengembang. Katup
aliran keluar pulmonal dan aorta (semilunar) menutup, saat arteri pulmonalis
dan tekanan aorta lebih besar daripada tekanan ventrikel. Siklus dimulai ketika
nodus sinoatrial menginisiasi denyut jantung.

3. Patofisiologi
Terjadinya hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor sebagai
berikut :
a. Curah jantung dan tahanan perifer
Mempertahankan tekanan darah yang normal bergantung
kepada keseimbangan antara curah jantung dan tahanan vaskular
perifer. Sebagian terbesar pasien dengan hipertensi esensial
mempunyai curah jantung yang normal, namun tahanan perifernya
meningkat. Tahanan perifer ditentukan bukan oleh arteri yang besar
atau kapiler, melainkan oleh arteriola kecil, yang dindingnya
mengandung sel otot polos. Kontraksi sel otot polos diduga berkaitan
dengan peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler.
Kontriksi otot polos berlangsung lama diduga menginduksi
perubahan sruktural dengan penebalan dinding pembuluh darah
arteriola, mungkin dimediasi oleh angiotensin, dan dapat
mengakibatkan peningkatan tahanan perifer yang irreversible. Pada
hipertensi yang sangat dini, tahanan perifer tidak meningkat dan
peningkatan tekanan darah disebabkan oleh meningkatnya curah
jantung, yang berkaitan dengan overaktivitas simpatis. Peningkatan
tahanan peifer yang terjadi kemungkinan merupakan kompensasi untuk
mencegah agar peningkatan tekanan tidak disebarluaskan ke jaringan
pembuluh darah kapiler, yang akan dapat mengganggu homeostasis sel
secara substansial.

b. Sistem renin-angiotensin
Sistem renin-angiotensin mungkin merupakan sistem endokrin
yang paling penting dalam mengontrol tekanan darah. Renin disekresi
dari aparat juxtaglomerular ginjal sebagai jawaban terhadap kurang
perfusi glomerular atau kurang asupan garam. Ia juga dilepas sebagai
jawaban terhadap stimulasi dan sistem saraf simpatis.
Renin bertanggung jawab mengkonversi substrat renin
(angiotensinogen) menjadi angotensin II di paru-paru oleh angiotensin
converting enzyme (ACE). Angiotensin II merupakan vasokontriktor
yang kuat dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah.
c. Sistem saraf otonom
Stimulasi sistem saraf otonom dapat menyebabkan konstriksi
arteriola dan dilatasi arteriola. Jadi sistem saraf otonom mempunyai
peranan yang penting dalam mempertahankan tekanan darah yang
normal. Ia juga mempunyai peranan penting dalam memediasi
perubahan yang berlangsung singkat pada tekanan darah sebagai
jawaban terhadap stres dan kerja fisik.

d. Peptida atrium natriuretik (atrial natriuretic peptide/ANP)


ANP merupakan hormon yang diproduksi oleh atrium jantung
sebagai jawaban terhadap peningkatan volum darah. Efeknya ialah
meningkatkan ekskresi garam dan air dari ginjal, jadi sebagai semacam
diuretik alamiah. Gangguan pada sistem ini dapat mengakibatkan
retensi cairan dan hipertensi.

4. Jenis-Jenis Penyakit Yang Berhubungan


a. Obesitas
Obesitas adalah keadaan penimbunan jaringan lemak tubuh yang
berlebihan dan ditandai dengan adanya gambaran klinis yang khas.
Pada anak dan remaja obesitas sering memberikan dampak masalah
sosial dan emosional, gangguan fungsi kardiovaskular misalnya
dislipidemia dan hipertensi, gangguan saluran nafas misalnya asma
dan obstructive sleep apnea syndrome (OSAS), non-alkoholic steato-
hepatitis (NASH), gang-guan toleransi glukosa, komplikasi ortopedi,
dll. Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan energi
dengan pengeluaran energi. Ketidakseimbangan energi ini dapat
disebabkan oleh asupan energi yang berlebih dan atau pengurangan
pengeluaran energi, baik untuk metabolisme, termoregulasi dan
aktivitas fisik.

b. Penyakit Jantung Koroner


PJK adalah penyakit yang disebabkan penumpukan plak pada
arteri koroner yang menyebabkan aliran darah ke miokardium
terbatas. Penyebab PJK yang paling umum adalah aterosklerosis.
Aterosklerosis ditandai dengan pembentukan plak aterosklerotik
akibat disfungsi endotel yang menjadi sasaran terjadinya fisur,
perdarahan dan trombosis. Keadaan ini dapat mengacaukan
keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen sehingga
mencetuskan iskemia atau infark miokard.
c. Stroke
Stroke merupakan salah satu penyakit serebrovaskuler yang
hingga saat ini dikategorikan sebagai penyebab kematian ketiga
setelah penyakit jantung dan keganasan. Penyakit ini disamping
sebagai penyebab kecacatan juga menyebabkan ketidakmampuan
penderita untuk bekerja.
5. Gejala Klinis
a. Obesitas
 Pertumbuhan berjalan dengan cepat disertai ketidakseimbangan
antara peningkatan berat badan yang berlebihan dibandingkan
dengan tinggi badannya.
 Jaringan lemak bawah kulit menebal hingga tebal libatan kulit
lebih daripada yang normal dan kulit nampak lebih kencang
 Kepala tampak relatif lebih kecil dibandingkan dengan tubuhnya
atau dibandingkan dengan dadanya (pada bayi)
 Bentuk pipi lebih tembem, hidung dan mulut tampak relatif lebih
kecil
 Pada dada terjadi pembesaran payudara yang dapat meresahkan
bila terjadi pada anak laki-laki
 Kelamin luar anak wanita tidak jelas ada kelainan, akan tetapi
pada anak laki-laki tampak relatif kecil
 Pubertas pada anak laki-laki terjadi lebih awal dan akibatnya
pertumbuhan kerangka lebih cepat berakhir sehingga tingginya
pada masa dewasa relatif lebih pendek
 Lingkar lengan asat dan paha lebih besar dari normal, tangan
relatif lebih kecil dan jari-jari bentuknya meruncing
b. Penyakit Jantung Koroner
 Rasa sakit berasal dari pembuluh koroner yang menyempit atau
tersumbat.
 Rasa sakit tidak enak seperti ditindih beban berat di dada bagian
tengah
 Rasa sakit di dada muncul mendadak dengan keluarnya keringat
dinggin yang berlangsung lebih dari 20 menit serta tidak
berkurang dengan istirahat.
 Sebagian penderita PJK mengeluh rasa tidak nyaman di ulu hati,
sesak nafas, dan mengeluh rasa lemasbahkan pingsan.

c. Stoke
 Hemidefisit motorik
 Hemidefisit sensorik
 Penurunan kesadaran
 Kelumpuhan nervus fasialis (VII) dan hipoglosus (XII) yang
bersifat sentral
 Gangguan fungsi luhur seperti kesulitan berbahasa (afasia) dan
gangguan fungsi intelektual (demensia)
 Buta separuh lapangan pandang (hemianopsia)
 Defisit batang otak

6. Pemeriksaan Fisik Penyakit


a. Obesitas
 Pengukuran BB, TB, BB/TB, body mass index (BMI) dan
tekanan darah
 Kulit kering, intoleransi terhadap dingin, konstipasi, cepat lelah
 Muka tembem, dagu rangkap, leher pendek
 Tonsil / adenoid
 Akumulasi lemak di leher dan badan, tetapi tidak pada
ekstremitas
 Pseudoacanthosis nigricans (hiperpigmentasi di kulit leher,
lipatan ketiak, di bawah payudara, daerah pinggang)

 Perkembangan seksual yang tidak sesuai untuk usianya (pubertas
praecox)
 Ginekomastia pada anak lelaki
 Perut membuncit dan pendular, striae ungu
 Ektremitas: kaki berbentuk X atau O , jari meruncing
 Genitalia: burried penis

b. Penyakit Jantung Koroner


 Denyut jantung
 Tekanan darah
 Suhu tubuh
 Kecepan respirasi

c. Stroke
 Tekanan darah
 Pemeriksaan jantung
 Neurologi

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Obesitas
 Darah perifer lengkap
 Profil lipid: trigliserida, kolesterol total, HDL dan LDL
 Tes toleransi glukosa oral, insulin puasa
 Fungsi hati: SGPT, SGOT
 Fungsi ginjal: ureum, creatinin, asam urat
Dilakukan sesuai indikasi:
 Fungsi tiroid
 Sekresi dan fungsi growth hormone
 Kalsium, fosfat dan kadar hormon paratiroid bila dicurigai
pseudohipoparatiroidisme
 Foto orofaring AP dan Lateral bila dicurigai hipertrofi
tonsiloadenoid
 Sleep studies untuk mendeteksi sleep apnea
 USG hati jika dicurigai NASH
 Echocardiography jika terindikasi secara klinis
 Pemindaian MRI otak dengan fokus hipotalamus dan hipofisis,
bila terindikasi secara klinis
 Pemeriksaan analisis kromosom jika terdapat dismorfisme
 Pemeriksaan analisis genetik jika diduga berkaitan dengan
sindrom tertentu
b. Penyakit Jantung Koroner
 EKG
 Teknik non-invasi penentuan klasifikasi koroner dan teknik
imaging (computed tomografi (CT) dan magnetic resonance
arteriography
c. Stroke
 EKG
 Laboratorium (kimia darah, kadar gula darah, analisis urin, gas
darah)
 Pemeriksaan radiologi (Rontgen dan CT scan)
DAFTAR PUSTAKA

Adha Nurjanah. 2012. Hubungan Antara Lama Hipertensi Dengan Angka Kejadian Gagal
Ginjal Terminal Di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Surakarta: Fakultas Kedokteran,
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Bianti Nuraini. 2014. Berbagai Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Hipertensi.
Lampung: Fakultas Kedokteran Unila, Universitas Lampung

Kowalski, Robert. 2010. Terapi Hipertensi: Program 8 minggu Menurunkan Tekanan Darah
Tinggi. Alih Bahasa: Rani Ekawati. Bandung: Qanita Mizan Pustaka

Udjianti, Wajan. 2011. Keperawatan Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.

Beri Nilai