Anda di halaman 1dari 3

DELIK PEMILU DAN/ATAU PEMILIHAN DALAM KUHP WvS YANG

DIADOPSI OLEH PERUNDANG-UNDANGAN PEMILU

YUDDIN CHANDRA NAN ARIF, SH.MH.


(Divisi Hukum & Pengawasan KPU Kabupaten Bima)

Induk/payung peraturan hukum pidana di Indonesia adalah Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP). Nama asli dari KUHP ini adalah Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie
(WvSNI) yang diberlakukan di Indonesia pertama kali dengan Koninklijk Besluit (Titah Raja)
Nomor : 33, 15 Oktober 1915 dan mulai diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1918. Setelah
Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada Tahun 1945, untuk mengisi kekosongan hukum
pidana yang diberlakukan di Indonesia maka dengan dasar Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945,
WvSNI tetap diberlakukan. Pemberlakuan WvSNI menjadi hukum pidana ini menggunakan
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana di Indonesia. Dalam
Pasal VI Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 disebutkan bahwa nama Wetboek van Srafrecht
voor Nederlandsch Indie (WvSNI) diubah menjadi Wetboek van Srafrecht (WvS) dan dapat
disebut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).
Oleh karena perjuangan bangsa Indonesia belum selesai pada Tahun 1946 dan munculnya
dualisme KUHP setelah tahun tersebut, maka pada Tahun 1958 dikeluarkan Undang-undang
Nomor 73 Tahun 1958 yang memberlakukan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 bagi seluruh
wilayah Republik Indonesia. Berdasarkan Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 jo. Pasal 192
Konstitusi RIS 1949 jo. Pasal 142 UUDS 1950, maka sampai kini masih diberlakukan KUHP yang
lahir pada tanggal 1 Januari 1918. Perubahan yang penting dari KUHP ciptaan dan warisan
Belanda tersebut diadakan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946. Dengan KUHP itu,
maka mulai 1 Januari 1918 berlakulah satu macam Hukum Pidana untuk semua golongan
penduduk Indonesia (unifikasi Hukum Pidana).
Yang menarik dan menjadi perhatian khusus dalam tulisan ini adalah terkait dengan dimuatnya
norma-norma pasal yang berkaitan dengan delik Pemilihan Umum (Pemilu) dan/atau Pemilihan di
dalam KUHP (WvS) tersebut. Pasal-Pasal tersebut sudah ada sejak diberlakukannya di Indonesia
pertama kali dengan Koninklijk Besluit (Titah Raja) Nomor : 33, 15 Oktober 1915 dan mulai
diberlakukan sejak tanggal 1 Januari 1918, yang otomatis Indonesia masih dijajah oleh Belanda
sehingga praktis Pemilu dan/atau Pemilihan belum ada. Tampaknya ketentuan dalam WvSNI
Belanda diambil begitu saja untuk Hindia Belanda, oleh karena di Negeri Belanda memang sudah
dilaksanakan Pemilu dan/atau Pemilihan pada masa itu. Di Indonesia, Pemilu Nasional barulah
dilaksanakan sesudah Indonesia merdeka, tepatnya di Tahun 1955 yang merupakan Pemilu
Nasional pertama.
Delik Pemilu dan/atau Pemilihan di dalam KUHP (WvS) dapat dilihat dalam Buku Kedua Tentang
Kejahatan Bab IV Kejahatan Terhadap Melakukan Kewajiban dan Hak Kenegaraan, yaitu Pasal
148, Pasal 149, Pasal 150, Pasal 151, dan Pasal 152. Adapun delik-delik Pemilu menurut
ketentuan pasal-pasal KUHP (WvS) tersebut meliputi :

1. Merintangi Orang Menjalankan Haknya Dalam Memilih (Pasal 148 KUHP (WvS))

Delik menghalangi orang lain mempergunakan hak pilihnya dalam suatu pemilihan dengan bebas
dan secara tidak terganggu yang diatur dalam Pasal 148 KUHP (WvS) tersebut terdiri dari unsur-
unsur sebagai berikut :

1. Unsur subjektif : opzettelijk, artinya dengan sengaja;


2. Unsur objektif :
o Pada waktu diadakan pemilihan berdasarkan sesuatu peraturan umum;
o Dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan;
o Menghalangi atau merintangi seseorang;
o Mempergunakan hak pilihnya dengan bebas dan secara tidak terganggu
(Lamintang, Delik?Delik Khusus: Kejahatan?Kejahatan Terhadap Kepentingan Hukum
Negara, 1987, Hal., 344).

Ancaman pidananya tunggal-maksimum yaitu pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 4 (empat)
bulan.

2. Suap Menyuap (Pasal 149 KUHP (WvS))

Delik yang diatur dalam Pasal 149 KUHP (WvS) itu hanya melekat unsur-unsur objektif, masing-
masing yakni :

1. Pada waktu diselenggarakan pemilihan berdasarkan sesuatu peraturan umum;


2. Menyuap orang lain dengan pemberian atau janji;
3. Agar orang lain tersebut tidak mempergunakan hak pilihnya atau agar ia mempergunakan hak
pilihnya dengan cara tertentu (, Hal., 357).

3. Tipu Muslihat Pada Suara Pemilih (Pasal 150 KUHP (WvS))

Delik dalam Pasal 150 KUHP (WvS) hanya melekat unsur-unsur objektif, yakni :

1. Pada waktu diselenggarakan suatu pemilihan berdasarakan suatu peraturan umum;


2. Melakukan sesuatu tindakan yang sifatnya menipu;
3. Hingga suara seorang pemilih menjadi tidak sah atau;
4. Hingga orang lain daripada yang dimaksudkan oleh pemilih menjadi terpilih (, Hal., 373).
5. Memakai Nama Orang Lain Untuk Ikut Dalam Pemilihan (Pasal 151 KUHP (WvS))

Delik dalam Pasal 151 KUHP (WvS) terdiri dari unsur-unsur :

1. Unsur subjektif : opzettelijk atau dengan sengaja;


2. Unsur-unsur objektif :

 Mengaku dirinya sebagai orang lain;


 Turut serta dalam suatu pemilihan yang diadakan berdasarkan suatu peraturan umum (, Hal., 377).

5. Menggagalkan Pemungutan Suara Yang Telah Dilakukan atau Tipu Muslimat yang
Menyebabkan Putusan Pemungutan Suara itu Lain Dari Yang Seharusnya (Pasal 152
KUHP (WvS))

Unsur-unsur delik dalam ketentuan Pasal 152 KUHP (WvS) adalah :

1. Unsur subjektif : opzettelijk atau dengan sengaja;


2. Unsur-unsur objektif :

 Pada waktu diadakan pemilihan berdasarkan aturan-aturan umum;


 Menggagalkan pemungutan suara yang telah diadakan;
 Melakukan sesuatu tindakan yang bersifat menipu;
 Yang menyebabkan putusan pemungutan suara itu lain;
 Lain dari yang seharusnya diperoleh berdasarkan kartu-kartu pemungutan suara yang masuk
secara sah atau berdasarkan suara-suara yang dikeluarkan secara sah (, Hal., 382).

Dilihat dari letak pasal-pasal ketentuan pidana yang berada di dalam KUHP (WvS) yaitu di Buku
II Bab IV maka tindak pidana Pemilu/Pemilihan dianggap sebagai “kejahatan” (Perspektif KUHP
(WvS)). Ketentuan-ketentuan tesebut, telah di adopsi dalam Peraturan Perundang-undangan
Pemilu dan/atau Pemilihan (Undang-undang No. 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan Umum
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah, Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden, dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan
Walikota menjadi Undang-undang sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8
Tahun 2015 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan
Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-undang) dengan rumusan norma yang lebih
spesifik dan tegas dengan ancaman pidana yang disesuaikan perkembangan hukum pidana
berdasarkan doktrin konsekuensi dari perbuatan pidana tersebut.