Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

PT Pupuk Sriwidjaja Palembang adalah perusahaan yang didirikan sebagai


pelopor produsen pupuk urea di Indonesia pada tanggal 24 Desember 1959 di
Palembang, Sumatera Selatan. Dengan nama PT Pupuk Sriwidjaja (persero). Pusri
memulai operasional usaha dengan tujuan utama untuk melaksanakan dan
menunjang kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan
pembangunan nasional, Khususnya di industri pupuk dan kimia lainnya. Sejarah
panjang Pusri sebagai pelopor produsen pupuk nasional selama lebih dari 50
tahun telah membuktikan kemampuan dan komitmen dalam melaksanakan tugas
penting yang diberikan oleh pemerintah.
Selain sebagai produsen pupuk nasional, Pusri juga mengemban tugas
dalam melaksanakan usaha perdagangan, pemberian jasa dan usaha lain yang
berkaitan dengan industri pupuk. Pusri bertanggung jawab dan melaksanakan
distribusi dan pemasaran pupuk bersubsidi kepada petani sebagai bentuk
pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) untuk mendukung program pangan
nasional dengan memprioritaskan produksi dan pendistribusian produk bagi petani
di seluruh wilayah Indonesia. Penjualan pupuk urea non subsidi sebagai
pemenuhan kebutuhan pupuk sektor perkebunan, industri maupun ekspor menjadi
bagian kegiatan perusahaan yang lainnya di luar tanggung jawab pelaksanaan
Public Service Obligation (PSO).
Sebagai perusahaan yang bertanggung jawab atas kelangsungan industri
pupuk nasional, Pusri telah mengalami berbagai perubahan dari manajemen dan
wewenang yang sangat berkaitan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah. Saat ini
Pusri secara resmi beroperasi dengan nama PT Pupuk Sriwidjaja Palembang
dengan tetap menggunakan brand dan merek dagang Pusri.

1.1 Sejarah dan Perkembangan Pabrik


Perencanaan pembangunan pabrik pupuk kimia di percaya kepada Biro
Perancangan Negara (BPN), yang berada langsung dibawah perdana menteri Ir.
Juanda dengan Mr. Ali Budiarjo dan Prof. Otong Kosasih, Masing-masing sebagai

1
2

Dirjen dan Wakil Dirjen BPN untuk membuat rancangan proyek pupuk urea yang
kemudian dimasukkan dalam rancangan pembangunan lima tahun pertama (1956-
1960) .
Biro Perancangan Negara (BPN) sebagai bagian dari rencana pembanguan
5 tahun 1 ( REPELITA I ) periode 1956-1960 diberi kepercayaan untuk
perencanaan pembangunan pabrik pupuk urea pertama di Indonesia. BPN
melakukan studi kelayakan pembangunan pabrik pupuk tersebut, di lanjutkan
dengan pemilihan lokasi yaitu di Sumatera Selatan, dan percobaan lapangan
penggunaan pupuk urea. Proyek perindustrian pabrik pupuk urea ini kemudian di
limpahkan kepada Departemen Perindustrian dan Pertambangan dengan nama
“Proyek Pupuk Urea 1”.
PT. PUSRI Palembang didirikan berdasarkan Akte Notaris Eliza Pondag
nomor 177 tanggal 24 Desember 1959 dan diumumkan dalam Lembaran Berita
Negara Republik Indonesia nomor 46 tanggal 7 Juni 1960. PT. Pusri memiliki
kantor pusat dan pusat produksi di Palembang, Sumatera Selatan. Nama “PT
Pupuk Sriwidjaja” merupakan gagasan Prof. Otong Kosasih dan dr Rachman
Subandi. Nama Sriwidjaja diambil sebagai nama perusahaan untuk mengabdikan
sejarah kejayaan kerajaan Sriwidjaja di Palembang, Sumatera Selatan yang sangat
di segani di Asia Tenggara hingga Daratan Cina, pada abad ke-tujuh Masehi.
PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang merupakan anak perusahaan dari PT
Pupuk Sriwidjaja (Persero) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
dengan pemilik saham tunggal yaitu pemerintah Republik Indonesia melalui
departemen keuangan dan departemen perindustrian selaku penguasa pemegang
saham. PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang menjalankan usaha di bidang produksi
dan pemasaran produk. Perusahaan yang juga dikenal dengan sebutan PT. Pusri
ini diawali dengan didirikannya perusahaan pupuk pada tanggal 24 desember
1959, merupakan produsen pupuk urea pertama di Indonesia.
Mulai tahun 1979, Pusri diberi tugas oleh pemerintah melaksanakan
pendistribusian dan pemasaran produk pupuk bersubsidi kepada petani sebagai
bentuk pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) untuk mendukung program
pangan nasional dengan memprioritaskan produksi dan pendistribusian pupuk
bagi petani diseluruh wilayah Indonesia.
3

Pada tahun 1997, Pusri ditunjuk sebagai perusahaan induk membawahi


empat BUMN yang bergerak di bidang industri pupuk dan petrokimia, yaitu PT.
Petrokimia Gresik di Gresik, Jawa Timur, PT. Pupuk kujang di Cikampek, Jawa
Barat, PT. Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur, dan PT. Pupuk Iskandar
Muda di Lhokseumawe, Nangroe Aceh Darussalam; serta BUMN yang bergerak
di bidang Engineering, Procurement & Construction (EPC), yaitu PT. Rekayasa
Industri ( berkantor pusat di Jakarta). Pada tahun 1998, anak perusahaan Pusri
bertambah satu BUMN lagi, yaitu PT. Mega Eltra di Jakarta yang bergerak di
bidang perdagangan.
Pada tahun 2010 dilakukan pemisahan (spin off) dari Perusahaan
Perseroan (Persero) PT. Pupuk Sriwidjaja disingkat PT. Pusri (Persero) kepada PT.
Pupuk Sriwidjaja Palembang serta telah terjadinya pengalihan hak dan kewajiban
PT. Pusri (Persero) kepada PT. Pusri Palembang sebagaimana tertuang di dalam
RUPS-LB tanggal 24 Desember 2010 yang berlaku efektif 1 Januari 2010
sebagaimana dituangkan dalam perubahan anggaran dasar PT. Pupuk Sriwidjaja
Palembang melalui Akte Notaris Fathiah Helmi, SH nomor 14 tanggal 12
November 2010 yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM tanggal 13
Desember 2010 nomor AHU-57993.AH.01.01 tahun 2010.
Bermula dengan satu unit pabrik berkapasitas 100.000 ton urea per tahun,
perusahaan ini mengalami perkembangan pesat sepanjang tahun 1972 hingga
1994 dengan di bangunnya beberapa pabrik baru. Pembangunan beberapa pabrik
tersebut meningkatkan kapasitas produksi PT. Pusri hingga mencapai 2.260.000
ton urea per tahun. Pabrik pupuk urea pertama PT. Pusri diberi nama Pusri-I.
Start-up pabrik ini dimulai pada tanggal 16 Oktober 1963 dengan kapasitas
produksi sebesar 180 ton ammonia/hari dan 300 ton urea/hari.
PT. Pusri memperluas produksinya dengan pembangunan pabrik baru
dikarenakan kebutuhan pupuk dalam negeri yang semakin meningkat sebagai
akibat dari meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan juga kebutuhan beras
nasional. Perluasan pabrik Pusri mulai direncanakan pada tahun 1965 melalui
penandatanganan perjanjian kerjasama antara Departemen Perindustrian dengan
Perusahaan Engineering Toyo Menko dari Jepang, namun rencana tersebut
menemui kegagalan akibat kejadian G30S/PKI. Untuk menindak lanjuti rencana
4

perluasan pabrik tersebut kemudian diadakan studi kelayakan bersama John Van
Der Volk & Associate dari Amerika Serikat pada tahun 1968. Pada tahun 1972
mulai didirikanlah pabrik baru yang disebut pabrik Pusri-II dengan kapasitas
terpasang 660 ton ammonia/hari dan 1150 ton urea/hari. Pembangunan pabrik
Pusri-II selesai pada tahun 1974, pembangunan ini dikerjakan oleh kontraktor dari
Amerika Serikat, MW Kellog Overseas Corporation, dan dari Jepang, Toyo
Engineering Corporation.
Perluasan pabrik kembali dilakukan dengan membangun dua pabrik baru
yaitu pabrik Pusri-III dan Pusri-IV dalam jangka waktu yang relatif hampir
bersamaan, dikarenakan kebutuhan pupuk dalam negeri semakin meningkat
dengan sangat pesat. Pabrik Pusri-III di bangun pada tanggal 21 Mei 1975 dengan
kapasitas produksi urea 1725 ton/ hari dengan proses Mitsui Toatsu Total Recycle
(MTTR) C-Improved oleh Kellog Overseas Corp dan Toyo Engineering
Corporationn (TEC). Pabrik Pusri-IV mulai di bangun dengan kapasitas terpasang
dan proses yang sama, lima bulan setelah pembangunan pabrik Pusri-III.
Pabrik Pusri-I dihentikan operasinya pada tahun 1985 karena di pandang
tidak efisien lagi. Untuk menggantikan pabrik Pusri-I, pada tahun 1990 mulai di
bangun pabrik baru yang diberi nama pabrik Pusri-IB. Pabrik Pusri-IB memiliki
kapasitas 446.000 ton ammonia per tahun dengan menggunakan proses Kellog
dan kapasitas pabrik urea 570.000 ton urea per tahun dengan menggunakan
proses Advanced Process for Cost and Energy Saving (ACES) dari Toyo
Engineering Corporation (TEC). Pabrik ini merupakan pabrik yang dibangun
dengan konsep hemat energi dan menggunakan sistem kendali komputer
“Distributed Control System”. Konstruksi pabrik ini dilaksanakan oleh
PT.Rekayasa Industri.
Pabrik Pusri-II dihentikan operasinya pada tahun 2016 karena dipandang
tidak efesien lagi. Untuk mneggantikan pabrik Pusri-II, pada tahun 2013 mulai di
bangun pabrik baru yang diberi nama pabrik Pusri-IIB. Pabrik Pusri-IIB memiliki
kapasitas 2000 metrik ton per hari dengan menggunakan proses KBR purifier dan
kapasitas pabrik urea 2750 metrik ton per hari dengan menggunakan proses
Advanced Process for Cost and Energy Saving 21 (ACES 21) dari Toyo
5

Engineering Corporation (TEC). Konstruksi ini dilaksanakan oleh Konsorsium


PT. Rekayasa Industri.
Berikut ini adalah data pembangunan dan spesifikasi pabrik Pusri-I, Pusri-
II, Pusri-III, Pusri-IV, Pusri-IB, dan Pusri-IIB:
1. Pusri-I
Studi Kelayakan Ekonomi : Gass Bell & Associates
Pelaksanaan Konstruksi : Morrison Knudsen of Asia Inc. (AS)
Penandatanganan Kontrak : 1 Maret 1961
Mulai Konstruksi : Oktober 1961
Selesai Konstruksi : Agustus 1963
Produksi Pertama : 16 Oktober 1963
Biaya : US $33 juta
Sumber Dana : Bank Exim (Jepang)
Kapasitas Terpasang : Ammonia 180 ton/hari
Urea 300 ton/hari
Proses Pembuatan : Ammonia-Gidler
Urea-MTC Total Recycle B (Jepang)
Kebutuhan Gas Alam : 12.500 MMSCF
Sumber Gas Alam : Stanvac

2. Pusri-II
Studi Kelayakan Ekonomi : John Van der Valk
Pelaksanaan Konstruksi : Kellog Overseas Corp. (AS)
Toyo Engineering Corp. (Jepang)
Penandatanganan Kontrak : 7 Agustus 1972
Mulai Konstruksi : 7 Desember 1972
Selesai Konstruksi : 6 Agustus 1974
Produksi Pertama : 6 Agustus 1974
Biaya : US $86 juta
Sumber Dana : USAID
OECF
IDA Bank Asia
Pemerintah RI
Kapasitas Terpasang : Ammonia 660 ton/hari
Urea 1.150 ton/hari
Proses Pembuatan : Ammonia-Kellog
Urea-MTC Total Recycle C-Improved
(TRCI)
Kebutuhan Gas Alam : 40.000 MMSCF
Sumber Gas Alam : Pertamina Pendopo - Prabumulih

3. Pusri-III
Studi Kelayakan Ekonomi : PT. Pusri Palembang
6

Pelaksanaan Konstruksi : Kellog Overseas Corp. (AS)


Toyo Engineering Corp. (Jepang)
Penandatanganan Kontrak : 7 Agustus 1974
Mulai Konstruksi : 21 Mei 1975
Selesai Konstruksi : November 1976
Produksi Pertama : Desember 1976
Biaya : US $192 juta
Sumber Dana : Bank Dunia
Pemerintah RI
Kapasitas Terpasang : Ammonia 1000 ton/hari
Urea 1.725 ton/hari
Proses Pembuatan : Ammonia-Kellog
Urea-MTC Total Recycle C-Improved
(TRCI)
Kebutuhan Gas Alam : 50.000 MMSCF
Sumber Gas Alam : Pertamina Pendopo - Prabumulih

4. Pusri-IV
Studi Kelayakan Ekonomi : PT. Pusri Palembang
Pelaksanaan Konstruksi : Kellog Overseas Corp. (AS)
Toyo Engineering Corp. (Jepang)
Penandatanganan Kontrak : 7 Agustus 1975
Mulai Konstruksi : 25 Oktober 1975
Selesai Konstruksi : Juli 1977
Produksi Pertama : Oktober 1977
Biaya : US $186 juta
Sumber Dana : Dana Pembangunan Saudi Arabia
Kapasitas Terpasang : Ammonia 1000 ton/hari
Urea 1.725 ton/hari
Proses Pembuatan : Ammonia-Kellog
Urea-MTC Total Recycle C-Improved
(TRCI)
Kebutuhan Gas Alam : 50.000 MMSCF
Sumber Gas Alam : Pertamina Pendopo - Prabumulih

5. Pusri-IB
Studi Kelayakan Ekonomi : PT. Pusri Palembang
Pelaksanaan Konstruksi : PT. Rekayasa Industri (Indonesia)
Penandatanganan Kontrak : 14 November 1989
Mulai Konstruksi : Agustus 1990
Selesai Konstruksi : Desember 1992
Produksi Pertama : Desember 1994
7

Biaya : US $247,5 juta


Sumber Dana : PT. Pusri
Pemerintah RI
Bank Exim (Jepang)
Kapasitas Terpasang : Ammonia 1.350 ton/hari
Urea 1.725 ton/hari
Proses Pembuatan : Ammonia-Kellog
Urea-ACES
Kebutuhan Gas Alam : 55.000 MMSCF
Sumber Gas Alam : Pertamina Pendopo - Prabumulih

6. Pusri-IIB
Studi Kelayakan Ekonomi : PT. Pusri Palembang
Pelaksanaan Konstruksi : Konsorsium PT. Rekayasa Industri -
Toyo Engineering Corporation
Penandatanganan Kontrak : 14 Desember 2012
Mulai Konstruksi : 8 April 2013
Selesai Konstruksi : November 2015
Produksi Pertama : 3 November 2016
Biaya : US $600 juta
Sumber Dana : Bank BCA
Bank BRI
Bank BNI
Bank Mandiri
Bank Sumsel Babel
Bank Jabar-Banten
UOB Indonesia
Kapasitas Terpasang : Ammonia 2.000 metrik ton/hari
Urea 2.750 metrik ton/hari
Proses Pembuatan : Ammonia – KBR Purifier
Urea-ACES 21
Kebutuhan Gas Alam : 62 MMSCFD
Sumber Gas Alam : PT. Pertamina EP
PT. Medco Energi Internasional
PT. Pertamina Gas

PT. Pupuk Sriwidjaja yang semula hanya memiliki satu pabrik dengan
proses optimalisasi dan modifikasi telah membuat PT. Pusri mampu memproduksi
total 2.280.000 ton urea/tahun dan 1.324.000 ton ammonia/tahun. Perkembangan
pabrik PT. Pusri dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Data Perkembangan Pabrik PT. Pusri Palembang
8

Tahun
Kapasitas Pelaksanaan
Pabrik Mulai Lisensor Proses
Terpasang Konstruksi
Operasi
218.000 ton
Kellog
Kellog MTC, Total Ammonia/tahun
Pusri II 1974 Overseas
Recycle C-Improved 570.000 ton
Corp. (AS)
Urea/tahun
330.000 ton
Kellog
Kellog MTC, Total Ammonia/tahun
Pusri III 1976 Overseas
Recycle C-Improved 570.000 ton
Corp. (AS)
Urea/tahun
330.000 ton
Kellog
Kellog MTC, Total Ammonia/tahun
Pusri IV 1977 Overseas
Recycle C-Improved 570.000 ton
Corp. (AS)
Urea/tahun
Kellog Advanced
Process For Cost 446.000 ton
PT. Rekayasa
and Energy Saving Ammonia/tahun
Pusri IB 1995 Industri
(ACES) of Toyo 570.000 ton
(Indonesia)
Engineering Urea/tahun
Corporation

Kellog Advanced Konsorsium


Process For Cost 2.000 metrik ton PT. Rekayasa
and Energy Saving Ammonia/hari Industri –
Pusri IIB 2016
21 (ACES 21) of 2.750 metrik ton Toyo
Toyo Engineering Urea/hari Engineering
Corporation Corporation

Sumber : www.pusri.co.id. 2018

1.1.1 Pengertian dan Makna Lambang Perusahaan


9

1. Lambang PT. PUSRI yang berbentuk huruf “U” melambangkan singkatan


“Urea”. Lambang ini telah terdaftar di Dirjen Haki Departemen
Kehakiman dan HAM nomor 021391.
2. Setangkai padi dengan jumlah butiran 24 melambangkan tanggal akte
pendirian PT. PUSRI.
3. Butiran-butiran urea berwarna putih sejumlah 12 melambangkan bulan
Desember pendirian PT. PUSRI.
4. Setangkai kapas yang mekar dari kelopaknya, butir kapas yang mekar
berjumlah 5 buah kelopak yang pecah berbentuk 9 retakan ini
melambangkan angka 59 sebagai tahun pendirian PT.PUSRI.
5. Perahu Kajang merupakan ciri khas kota Palembang yang terletak di
tepian sungai Musi.
6. Kuncup teratai yang akan mekar, merupakan imajinasi pencipta akan
prospek perusahaan di masa datang.
7. Komposisi warna lambang kuning dan biru benhur dengan dibatasi garis-
garis hitam tipis yang melambangkan keagungan, kebebasan cita-cita,
serta kesuburan, ketenangan, dan ketabahan dalam mengejar dan
mewujudkan cita-cita itu.

1.1.2 Visi dan Misi Perusahaan


Berdasarkan SK direktur PT. PUSRI No. SK/DIR/207/2012 tanggal 11
Juni 2012.
a. Visi Perusahaan, “Menjadi Perusahaan Pupuk Terkemuka Tingkat
Regional”
b. Misi Perusahaan, “Memproduksi serta memasarkan pupuk dan produk
agribisnis secara efisien, berkualitas prima dan memuaskan
10

pelanggan”.

PT. Pupuk Sriwidjaja ditunjuk oleh pemerintah menjadi perusahaan induk


(Holding Company), berdasarkan PP No. 28/1997. Sejak pemerintah Indonesia
mengalihkan seluruh sahamnya yang ditempatkan di Industri Pupuk dalam Negeri
dan di PT. Mega Eltra kepada PT. Pusri, melalui Peraturan Pemerintah (PP) nomor
28 tahun 1997 dan PP nomor 34 tahun 1998, maka PT. Pusri yang berkedudukan
di Palembang, Sumatera Selatan, menjadi Induk Perusahaan (Operating Holding)
dengan membawahi 6 (enam) anak perusahaan termasuk anak perusahaan
penyertaan langsung yaitu PT. Rekayasa Industri, masing-masing perusahaan
bergerak dalam bidang usaha :
1. PT. Petrokimia Gresik yang berkedudukan di Gresik, Jawa Timur.
Memproduksi dan memasarkan pupuk urea, ZA, SP-36/SP-18,
Phonska, DAP, NPK, ZK, dan industri kimia lainnya serta pupuk
organik.
2. PT. Pupuk Kujang, yang berkedudukan di Cikampek, Jawa Barat.
Memproduksi dan memasarkan pupuk urea dan industri kimia
lainnya.
3. PT. Pupuk Kalimantan Timur, yang berkedudukan di Bontang,
Kalimantan Timur. Memproduksi dan memasarkan pupuk urea dan
industri kimia lainnya.
4. PT. Pupuk Iskandar Muda, yang berkedudukan di Lhokseumawe,
Nangroe Aceh Darussalam. Memproduksi dan memasarkan pupuk
urea dan industri kimia lainnya.
5. PT. Rekayasa Industri, yang berkedudukan di Jakarta, bergerak
dalam penyediaan jasa Engineering, Procurement & Construction
(EPC) guna membangun industri gas & minyak bumi, pupuk, kimia
dan petrokimia, pertambangan, pembangkit listrik (panas bumi,
batubara, micro-hydro, diesel).
6. PT. Mega Eltra, yang berkedudukan di Jakarta dengan bidang usaha
utamanya adalah perdagangan umum.

Pada tahun 2010, dilakukan Pemisahan (Spin Off) dari Perusahaan


Perseroan (Persero) PT. Pupuk Sriwidjaja disingkat PT. Pusri (Persero) kepada PT.
11

Pupuk Sriwidjaja Palembang serta telah terjadinya pengalihan hak dan kewajiban
PT. Pupuk Sriwidjaja (Persero) kepada PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang
sebagaimana tertuang didalam RUPS-LB tanggal 24 Desember 2010 yang berlaku
efektif 1 Januari 2011 sebagaimana telah dituangkan dalam Perubahan Anggaran
Dasar pada PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang melalui Akte Notaris Fathiah Helmi,
SH. nomor 14 tanggal 12 November 2010 yang telah disahkan oleh Menteri
Hukum dan HAM tanggal 13 Desember 2010 nomor AHU-57993.AH.01.01 tahun
2010.
Sejak tanggal 18 April 2012, Menteri BUMN Dahlan Iskan meresmikan
PT. Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) sebagai nama induk perusahaan
pupuk yang baru, menggantikan nama PT. Pusri (Persero). Hingga kini PT. Pupuk
Sriwidjaja Palembang tetap menggunakan brand dan merk dagang Pusri.
Pada sejarah perkembangannya, PT. Pusri mendapat berbagai penghargaan
dari dalam dan luar negeri. Dalam laporan ini hanya dicantumkan penghargaan-
penghargaan yang berhubungan dengan kinerja pabrik dan keselamatan kerja di
PT. Pusri.

1.2 Lokasi dan Tata Letak Pabrik


Pabrik Pupuk Sriwidjaja didirikan sekitar 7 km dari pusat kota Palembang,
ditepi sungai musi yang merupakan sungai terbesar di Palembang. Alasan
pemilihan daerah tepi sungai musi sebagai lokasi pabrik antara lain :
1. Letaknya berdekatan dengan wilayah operasi perkilangan minyak
Pertamina sehingga bahan baku gas akan mudah untuk diperoleh dan
tersedia dalam jumlah yang cukup besar.
2. Sungai musi merupakan sumber air yang tidak pernah kering sepanjang
tahun yang menunjang bahan baku pembuatan steam dan keperluan utilitas
lainnya, disamping sebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil
pabrik.
3. Letaknya berjarak sekitar 198 km dengan tambang Bukit Asam yang tidak
jauh dari kota Palembang, yang banyak mengandung batubara yang dapat
dijadikan sebagai cadangan bahan baku yang sangat potensial jika
persediaan gas bumi sudah menipis, kemudian berjarak sekitar 14,2 km
12

dengan kereta api. Luas tanah yang digunakan untuk lokasi pabrik 20,4723
hektar, ditambah untuk lokasi perumahan karyawan seluas 26,7095 hektar.
Disamping itu lokasi sebagai cadangan disiapkan tanah seluas 41,7965
hektar yang dimaksudkan untuk persediaan perluasan komplek pabrik dan
Perumahan karyawan bila diperlukan di kemudian hari.
Lokasi dan tata letak PT. Pusri berlokasi di Jalan Mayor Zein yang
berbatasan dengan :
1. Sebelah Utara adalah Sekojo
2. Sebelah Barat adalah Lemabang
3. Sebelah Timur adalah Sungai Lais
4. Sebelah Selatan adalah Sungai Musi
Kompleks perindustrian PT. Pusri terletak tepat di tepi Sungai Musi.
Bagian depan kompleks menghadap ke Jl. Mayor Zen. Bagian depan kompleks
industri merupakan gedung Kantor Pusat. Kantor Pusat merupakan kantor Staff
Direksi dan Administrasi Umum PT. Pusri. Di dalam kompleks tersebut juga
tedapat kompleks perumahan karyawan yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas,
seperti rumah sakit, Fasilitas olahraga, Gedung pertemuan, Perpustakaan umum,
Rumah makan, Masjid, dan sebagainya. Selain itu, terdapat juga penginapan yang
diperuntukkan bagi tamu PT. Pusri. Kompleks perumahan dan kompleks pabrik
dibatasi oleh pagar dan terdapat dua buah gerbang masuk kompleks pabrik yang
dijaga aparat keamanan. Empat buah pabrik terletak berkelompok-kelompok
mengelilingi daerah tangki penyimpanan Ammonia.
Setiap pabrik terdapat rumah kompresor dimana pada tempat tersebut
kompresor dan pompa diletakkan menjadi satu. Alasan pengelompokkan ini
adalah karena kompressor adalah peralatan yang sangat berisik, sehingga harus
dikelompokkan agar suara bising tidak tersebar kemana-mana. Selain itu,
kompressor yang di operasikan PT. PUSRI menggunakan tenaga khusus. Jika
kompressor dikelompokkan menjadi satu, penanganan kondensat menjadi lebih
mudah. Hal yang sama juga dilakukan dengan boiler. Boiler dan GTG (Gas
Turbin Generator) diletakkan berdekatan agar kehilangan panas akibat
transportasi yang panjang dapat dihindari. Daerah yang agak mengarah ke sungai
Musi digunakan sebagian daerah pengantongan ke arah dermaga khusus PT.
PUSRI atau yang lebih dikenal Dersus Pusri.
13

Tata letak kompleks dan Lokasi Pabrik II-B PT. PUSRI Palembang dapat dilihat
pada Gambar 1 berikut ini :

Gambar. 1.1 Tata Letak Kompleks PT. PUSRI Palembang


Sumber: Humas PT. PUSRI, 2018

1.3 Struktur Organisasi dan Sistem Manajemen Perusahaan


1.3.1 Struktur Organisasi PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang
PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang berbentuk perseroan terbatas (PT)
dengan Sistem organisasi line and Staff Organization, dimana proses manajemen
14

di PT. Pusri dilakukan berdasarkan Total Quality Control Management (TQCM)


dengan melibatkan seluruh pimpinan dan karyawan dalam rangka peningkatan
mutu secara kontiyu. Tugas operasional, sesuai dengan SK/DIR/240/2011 tanggal
21 Oktober 20011, pengoperasian PT. Pusri dipimpin oleh Dewan Direksi yang
terdiri dari Direktur utama yang membawahi 4 orang direktur, yaitu :
1. Direktur Produksi
2. Direktur Keuangan dan Pemasaran
3. Direktur Tekbang
4. Direktur SDM dan Umum
Di bawah Direksi dibentuk sub-direktorat pada unit penunjang dan
kompartemen pada unit Operasional dengan tugas sebagai koordinator aktivitas
kepala biro atau kepala departemen. Kepala kompartemen atau yang sekarang
disebut sebagai General Manager. Kompartemen membawahi departemen yang
di pimpin oleh seorang kepala dinas yang langsung di bawahi kompartemen.
Direktur Produksi membawahi Departemen produksi yang terbagi seperti berikut :
1. Divisi Operasi
Divisi ini dipimpin oleh seorang General Manager dan bagian shift serta
Superintenden yang masing-masing bertugas mengkoordinir jalannya operasi.
Ass. Manager yang masing masing membawahi tiga superintenden yaitu :
1. Superintenden Operasi Utilitas
2. Superintenden Operasi Ammonia
3. Superintenden Operasi Urea
Superintenden Operasi dibantu oleh Seorang Ass. Superintenden Operasi dan
membawahi langsung foremen senior, foremen, koordinator operator, operator
senior dan operator lapangan.
a. General Manager
General Manager berkedudukan dibawah Direktur yang membawahi
beberapa manager. General Manager bertugas sebagai pimpinan di suatu
kompartemen yang meliputi kompartemen produksi, kompartemen pemasaran,
kompartemen jasa teknik dan pengembangan usaha, kompertemen keuangan dan
kompartemen SDM dan Umum. General Manager bertanggung jawab kepada
direktur.
b. Manager
Manager berkedudukan dibawah seorang General Manager dan bertanggung
jawab kepada General Manager. Manager memimpin suatu departemen, misalnya
Departemen Produksi.
c. Staff Manager
15

Seorang Staff Manager berkedudukan langsung dibawah seorang Manager


dan bertanggung jawab kepada Manager.

d. Superintendent
Superintendent bertanggung jawab langsung ke Manager. Superintendent
memimpin suatu bagian di dalam dinas tertentu. Misalnya bagian utilitas pada
Departemen Operasi Pusri II-B
e. Assistant Superintendent
Assistant Superintendent bertugas untuk membantu kinerja seorang
Superintendent dan mewakili tugas Superintendent apabila Superintedent tidak
berada ditempat. Assistant Superintendent bertanggung jawab kepada Staff
Manager.
f. Senior Foreman
Senior Foreman bertanggung jawab kepada Superintendent dan bertugas
untuk memimpin suatu seksi tertentu. Senior Foreman membawahi beberapa
Foreman.
g. Foreman
Foreman atau kepala regu bertugas untuk mengkoordinir regu yang sedang
bertugas pada shift kerja tertentu dan membantu kinerja seorang Senior Foreman
h. Koordinator Operator
Koordinator Operator bertugas untuk mengkoordinir operator yang bertugas
dilapangan. Koordinator Operator bertanggung jawab kepada senior Foreman.
i. Operator Senior
Operator Senior bertugas untuk melaksanakan suatu kontrol operasi pada
pabrik yang berada dikontrol panel dan bertanggung jawab kepada senior
Foreman
j. Operator Lapangan
Operator lapangan bertugas untuk mengoperasikan peralatan yang ada di
lapangan pabrik sesuai instruksi dari operator kontrol panel dan bertanggung
jawab kepada senior Foreman.

2. Divisi Pemeliharaan
Divisi Pemeliharaan bertugas memelihara dalam memperbaiki alat-alat
pabrik yang berhubungan dengan operasi pabrik. Divisi pemeliharaan dipimpin
oleh seorang General Manager Pemeliharaan, yang membawahi manager
pemeliharaan mekanikal, manager pemeliharaan listrik dan instrument, manager
16

perbengkelan, manager jaminan dan pengendalian kualitas, dan manager


perencanaan dan pengendalian Turn Around.

3. Divisi Pengendalian Pabrik keselamatan kerja dan lingkungan


Divisi Pengendalian pabrik keselamatan kerja dan lingkungan bertugas
membantu divisi operasi dalam hal pengamatan operasi, persiapan dan
pengendalian mutu bahan baku serta bahan pendukung, perhitungan produksi,
evaluasi kondisi operasi serta studi untuk melakukan modifikasi pabrik dan
peningkatan efisiensi.
Departemen pengendalian pabrik keselamatan kerja dan lingkungan,
membawahi 3 divisi yaitu :
a. Dinas perencanaan dan pengendalian Produksi
Dinas perencanaan dan pengendalian produksi dipimpin oleh seorang
manager perencanaan dan pengendalian produksi yang membawahi :
1. Staff Teknik Proses dan Teknik Proses 2
2. Dinas Administrasi Teknik Proses, tugas utama sebagai berikut :
a. Memonitor dan mengevaluasi kondisi operasi pabrik sehingga dapat
dioperasikan pada kondisi yang optimum.
b. Mengendalikan dan mengevaluasi kualitas dan kuantitas hasil-hasil
produksi
c. Memberikan bantuan yang bersifat teknik kepada unit-unit yang
terkait.
d. Merencanakan modifikasi peralatan produksi serta tambahan unit
produksi dalam rangka peningkatan efisiensi dan produktifitas.
e. Memberikan rekomendasi pengganti katalis, resin dan bahan sejenis.

4. Divisi Laboratorium
Divisi laboratorium bertugas menganalisa, mengontrol dan mengawasi
mutu bahan baku dan bahan penunjang serta hasil produksi pabrik. Divisi
laboratorium ini terdiri dari tiga bagian laboratorium, yaitu :
a. Bagian Laboratorium Kimia Analisis, membawahi :
1. Seksi Analasis Instrumen
2. Seksi Laboratorium Penguji Mutu
3. Seksi Laboratorium pengujian dan standar
b. Bagian Laboratorium Kontrol produksi, membawahi :
1. Seksi Shift Laboratorium kontrol produksi I membawahi
Laboratorium Kontrol Pusri I-B dan II
2. Laboratorium Pusri II membawahi Laboratorium Kontrol Pusri III dan
IV
c. Bagian Laboratorium Penunjang Sarana, membawahi :
1. Seksi Penyelidikan dan Distrbusi Saran
17

2. Seksi Laboratorium Kalibrasi


3. Seksi Laboratorium Harian Alat dan Instrument

5. Divisi Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup


Divisi ini berada di bawah departemen produksi yang dibagi menjadi tiga
dinas yaitu : Divisi Lingkungan Hidup, Divisi Pemeriksaan Teknik, dan Divisi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Divisi ini dipimpin oleh seorang Manager
yang dibantu oleh :
a. Dinas Pemerikasaan Teknik, terdiri atas :
1. Bagian Pemeriksaan Teknik Lapangan 1
2. Bagian Pemerikasaan Teknik Lapangan
3. Seksi Pemeriksaan Teknik Bengkel
b. Dinas Keselamatan dan Lingkungan Hidup, terdiri atas :
1. Bagian Pengendalian Pencemaran
2. Bagian Pengendalian Lingkungan Hidup
c. Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Keselamatan Kerja
1. Bagian Penanggulangan Kebakaran dan Keselamatan Kerja
2. Kelompok Teknik Keselamatan Kerja
3. Bagian hygienes dan Pemeriksaan Kesehatan
d. Dinas Administrasi Umum dan Keuangan Produksi

1.3.2 Struktur Organisasi Dinas Operasi Pusri


Struktur organisasi perusahaan Dinas Operasi Pusri-III termasuk ke dalam
Departemen Prduksi II, yang tugas departemen ini adalah mengkoordinasikan
jalannya Pusri-III dan Pusri-IV melalui Dinas Operasi Pusri-III dan Dinas Operasi
Pusri-IV. Sedangkan untuk Pusri-IB dan Pusri-II dikoordinasikan di bawah
Dapartemen Produksi I.
Pabrik Pusri-IIB dipimpin oleh seorang Manager Dinas Operasi Pusri-IIB
yang bertanggung jawab terhadap operasional pabrik Pusri-IIB secara
keseluruhan. Manager Dinas Operasi Pusri-IIB dibantu oleh 3 orang
superintendent, yaitu:
1. Superintendent Operasi Utilitas
2. Superitendent Operasi Ammonia
3. Superintendent Operasi Urea
Setiap Superintendent dibantu oleh Assistant Superintendent yang
membawahi langsung :
1. Senior Foreman
2. Kepala Regu/ forement
18

3. Koordinator lapangan
4. Operator Senior (panel)
5. Operator lapangan
Serta seorang Senior Foreman, bertugas sebagai pengkoordinir kegiatan di
lapangan antara unit kerja pabrik dan shift, mengawasi kerja operator untuk setiap
shift, dan sekaligus sebagai penanggung jawab operasional pabrik pada jam
kerjadiluar day shift. Operator yang mengoperasikan pabrik terdiri dari operator
senior, yang bertugas di control panel room, dan operator lapangan. Operator-
operator tersebut bekerja sesuai shift yang telah dijadwalkan dan diketuai oleh
seorang kepala seksi shift, dengan pembagian kerja sebagai berikut:
a. Day Shift : 07.00 – 15.00
b. Swing shift : 15.00 – 23.00
c. Night shift : 23.00 – 07.00
Dalam satu siklus kerja operator (pegawai shift) terdapat 4 regu yang
mana 3 regu bertugas dan 1 regu libur secara bergantian. Selain operator dan
karyawan lapangan yang jadwal kerjanya dibagi per shift karena membutuhkan
waktu 24 jam, terdapat pula karyawan non shift (pegawai administrasi) dan
jabatan setingkat kepala bagian ke atas dengan jadwal kerja :
1. Hari Senin – Kamis : 07.30 – 16.30 diselingi istirahat 12.00 – 13.00
2. Hari Jum’at : 07.30 – 17.00 diselingi istirahat pukul 11.30 – 13.00
3. Hari Sabtu dan Minggu libur.

Berikut ini adalah struktur organisasi korporat dari PT.PUSRI


STRUKTUR ORGANISASI PT. PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG

Direktur Utama

Direktur Direktur Keuangan Direktur Teknik & Direktur SDM


Produksi & Pemasaran Pengembangan & Umum

General Manager General Manager General Manager Jasa General


Teknik & Perekayasaan Manager SDM
Operasi Keuangan

General Manager General Manager General menejer General Manager


Perencanan & Umum
Pemeliharaan Pemasaran Pengenmangan usaha

General Manager
Perlengkapan

Sumber: Humas PT. PUSRI, 2018


19

1.4 Pemasaran
Pada tahun 1979, PT Pusri ditunjuk sebagai pengadaan dan penyaluran
seluruh jenis pupuk bersubsidi, baik yang berasal dari produksi dalam negeri
maupun luar ngeri untuk memenuhi kebutuhan program intensifikasi pertanian
melalui keputusan menteri perdagangan dan Koperasi No. 56/KP/II/1979.
Berdasarkan penunjukan tersebut, PT Pusri bertanggung Jawab dalam
memasarkan dan mendistribusikan berbagai jenis pupuk hingga sampai ditangan
petani ( Pipe Line Distirbution Pattern) dengan menekankan mekanism distribusi
pada faktor biaya ( Last Cost Distribution Pattern ). Untuk dapat memenuhi
kewajiban tersebut, PT Pusri memiliki sistm distribusi sebagaimana dapat dilihat
pada gambar 1.2 dan 1.3 berikut ini.
( Pipe Line Distribution Pattern )

Pupuk Kantong
Pupuk Curah
Gambar 1.2. Jalur pengadaan dan Distribusi Pupuk Dalam Negeri
20

Gambar 1.3. Pengadaaan dan Distribusi Pupuk Impor

Pada Tanggal 1 Desember 1998, Pemerintah menghapus tata niaga pupuk,


baik produksi dalam negeri maupun impor. Keputusan pemerintah tersebut
membuat setiap pabrik pupuk berhak untuk memasarkan sendiri produknya di
Indonesia, meskipun begitu untuk mencegah persaingan yang tidak sehat
pemerintah menentukan daerah-daerah penyaluran untuk setiap pabrik pupuk
yang ada. Adanya keputusan pemerintah ini hanya berlaku pada tata niaga pupuk
nasional dan tidak mempengaruhi status PT Pusri sebagai sebuah Holding
company.
Pada tahun 2001, tata niaga pupuk kembali diatur oleh pemerintah melalui
keputusan Menteri Perindag RI No.93/MPP/Kep/3/2001, dimana unit niaga Pusri
dan atau Produsen melaksanakan penjualan pupuk di lini III ( Kabupaten )
sedangkan dari kabupaten sampai ke tangan petani dilaksanakan oleh distributor
(BUMN, swasta, dan Koperasi ).
Pada tahun 2003, dikeluarkan kebijakan tambahan mengenai tata niaga
pupuk, yaitu keputusan Menteri Perindag RI No70/MPP/2003 tanggal 11 Februari
2003 yang menyatakan tentang tata niaga pupuk yang bersifat rayonisasi. PT Pusri
tidak lagi bertanggung jawab untuk pengadaaan dan penyediaan pupuk secara
nasional namun dibagi dalam beberapa rayon. Mulai Mei 2003, PT Pusri
mengatur distribusi untuk delapan provinsi, yaitu Sumatera Barat, Jambi,
21

bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Jawa Tengah, dan


Banten.
Surat Keputusan No.306/MPP/Kep/4/2003 yang mengatur tentang
perubahan atas Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan
No.70/MPP/Kep/2003 tentang pengadaan dan penyaluran Pupuk Bersubsidi untuk
sektor pertanian. SK ini mengatur tentang syarat-syarat bagi Importir, serta tata
cara pengadaan pupuk bersubsidi dan non subsidi melalui impor.
Terakhir, dalam rangka lebih meningkatkan kelancaran pengadaan dan
pendistribusian pupuk bersubsidi, maka Pemerintah menerbitkan Surat Keputusan
nomor : 336/MPP/Kep/5/2004 tanggal 27 Mei 2004 yang menegaskan kembali
tanggung jawab masing-masing produsen, distributor, pengencer, serta
pengawasan terhadap pelaksanaannya dilapangan. Sarana distribusi dan
pemasaran yang dimiliki PT Pusri meliputi :
1. Satu buah kapal ammonia, yaitu MV Sultan Machmud Badaruddin II
2. Tujuh buah kapal pengangkut pupuk curah dan satu unit kapal sewa
berdaya muat masing-masing 66500 ton, yaitu MV Pusri Indonesia, MV
Abusamah, MV Sumantri Brojonegoro, MV Mochtar Prabumangkunegara,
MV Julianto Mulio Diharjo, MV Ibrahim Zahier, dan MV Otong Kosasih
3. Empat unit pengantongan pupuk di Belawan, Cilacap, Surabaya, dan
Banyuwangi, serta 1 UPP ( Unit Pengantongan Pupuk ) sewa di Semarang
4. Gerbong kereta api sebanyak 595 buah
5. Gudang persediaan pupuk sebanyak 107 unit dan gudang sewa sebanyak
261 unit
6. Pemasaran Pusri Daerah ( PPD ) sebanyak 25 unit di ibukota provinsi
7. Pemasaran Pusri Kabupaten ( PKK ) sebanyak 180 kantor di ibu kota
kabupaten
8. Empat unit Kantor Perwakilan Pusri di produsen pupuk lain, Yaitu :
 PT Pupuk Kujang
 PT Pupuk Iskandar
 PT Petrokimia Gresik
 PT Pupuk Kalimantan Timur
22

Anda mungkin juga menyukai