Anda di halaman 1dari 11

Tugas Makalah

Pembentukan Negara Madinah

Disusun Oleh :

Muhammad Fajar 15010104032


Cili Astuti 15010104034
Fitri Wulandari 15010104030

FAKULTAS TARBIYAH & ILMU KEGURUAN


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KENDARI
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga Saya dapat
menyelesaikan makalah ini tentang Pembentukan Negara Madinah.
Makalah ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu saya
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar saya
dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata saya berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inpirasi terhadap pembaca.

Kendari, 4 Oktober 2018

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam sejarah, peradaban Islam tidak dapat dipisahkan dari sejarah seorang
tokoh agung yang dilahirkan dalam lingkungan masyarakat jahiliah. Dia adalah
Muhammad bin ‘Abdullah. Perjalanan kehidupannya adalah sebuah sejarah
kepemimpinan yang sangat penting bagi umat manusia. Secara umum,
kepemimpinannya dapat dibagi ke dalam dua periode, yaitu periode Mekkah dan
Madinah. Periode Mekkah adalah masa yang dimulai dari diangkatnya beliau menjadi
Rasul hingga hijrah ke Madinah. Sedangkan periode Madinah adalah masa ketika
Nabi Muhammad berada di Madinah membentuk tatanan konstitusi pemerintahan,
sosial kemasyarakatan hingga beliau wafat.
Kepemimpinan Muhammad SAW pada masa hidupnya telah memberikan arti
penting dalam sejarah peradaban manusia pada umumnya, dan Islam pada khususnya.
Kepemimpinan beliau dipandang tidak hanya sebatas sebagai pemimpin agama, akan
tetapi juga sebagai pemimpin negara. Namun, ada sebagian orang yang menyangkal
pernyataan ini. Oleh karena itulah, tulisan singkat ini akan membahas kepemimpinan
Nabi Muhammad saw periode Mekkah, periode Madinah hingga terbentuknya sebuah
negara. Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman tentang Muhammad
sebagai pemimpin agama dan Negara dalam tinjauan historis atau sejarah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah kepemimpinan Rasulullah di Mekkah?


2. Bagaimanakah kepemimpinan Rasulullah di Madinah Hingga terbentuknya
sebuah Negara ?
3. Apa saja kunci sukses Rasulullah dalam kepemimpinannya ?

C. Tujuan Perumusan Masalah

1. Untuk mengetahui kepemimpinan Rasulullah di Mekkah


2. Untuk mengetahui kepemimpinan Rasulullah di Madinah Hingga terbentuknya
sebuah Negara
3. Untuk mengetahui kunci sukses Rasulullah dalam kepemimpinannya
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kepemimpinan Nabi Muhammad Periode Mekkah

Sebelum menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dipersiapkan secara matang
untuk menerima tugas-tugas kerasulan, persiapan tersebut setidak-tidaknya berlangsung
melalui tiga hal, yaitu pengalaman, pengenalan, dan peran sertanya secara aktif dalam
kehidupan sosial bangsanya. Pengalaman dalam kehidupan dan keterlibatannya langsung
dalam kehidupan bangsanya, baik sebagai pengembala, pedagang maupun sebagai anggota
masyarakat merupakan suatu persiapan matang untuk menerima tugas kerasulan. Juga
penderitaan dalam kehidupan, dimana sejak kecil beliau sudah ditinggal kedua orang tuanya,
memberi didikan untuk mandiri dan bersifat sabar.
Keterlibatan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan bangsanya, Nabi Muhammad
mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya tanpa harus larut di dalamnya, semisal
Nabi Muhammad SAW menyembah Allah menurut ajaran Nabi Ibrahim dan beliau tidak
pernah menyembah berhala bahkan sangat membencinya.
Disamping itu juga, Nabi Muhammad SAW sering melakukan tahannus yaitu
menjauhkan diri dari kehidupan ramai dan berkhalwat mendekatkan diri kepada Allah SWT
untuk mengharap petunjuk-Nya. Ibn Khaldun mengatakan: Muhammad sering kali
mengasingkan diri untuk berfikir tentang alam semesta dan pencipta alam semesta itu. Tiap
tahun beliau mengasingkan diri di Gua Hira’ selama sebulan lamanya.1 Hingga akhirnya
tepat pada tanggal 17 Ramadhan 611 M, Malaikat Jibril muncul dihadapannya,
menyampaikan wahyu Allah yang pertama (surat al-‘Alaq 1-5). Dengan turunnya wahyu
pertama itu, berarti Muhammad telah dipilih sebagai nabi. Dalam wahyu pertama ini, beliau
belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama.
Setelah wahyu pertama itu datang, Jibril tidak muncul lagi untuk beberapa lama,
sementara Nabi Muhammad menantikannya dan selalu datang ke Gua Hira’. Dalam keadaan
menanti itulah turun wahyu yang kedua (al-Muddaststir: 1-7).2 Dengan turunnya wahyu itu,
mulailah Rasulullah berdakwah. Fadil SJ mengemukakan ada tiga tahapan yang merupakan
dakwah Rasulullah untuk membersihkan tauhid dari unsur-unsur kemusyrikan.

Fadil SJ. Pasang Surut Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah (Malang: UIN-Malang
Press. 2008), 93-94.
2 Badri yatim. Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2011), 18-19.
Pertama, secara rahasia (sembunyi-sembunyi), dalam arti batas keluarga terdekat dan
para sahabat, melalui pendekatan pribadi. Seperti mula-mula istri beliau sendiri yaitu
Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar sahabat beliau, lalu Zaid bekas budak beliau.
Kedua, dilakukan secara semi rahasia, artinya mengajak keluarga yang lebih luas dibanding
pada tahap pertama, terutama keluarga yang tergabung dalam rumpun Bani Abdul Muthalib.
Ketiga, dilakukan secara terang-terangan dan terbuka dihadapan masyarakat umum.3 Hal ini
terjadi setelah turun ayat 94 surat al-Hijjr yang berisi perintah untuk berdakwah secara
terang-terangan.
Namun, dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad tidak mudah karena mendapat
tantangan dari kaum kafir Quraisy. Hal tersebut timbul karena beberapa faktor, yaitu sebagai
beriktu:
1. Secara politis, mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan
kekuasaan. Mereka menganggap dengan tunduknya kepada Muhammad
dan memerima ajarannya berarti tunduk pula kepada Bani Abdul
Muthallib.
2. Secara sosial, mereka menganggap bahwa ajaran Muhammad sangat
bertentangan dengan realitas orang Arab. Nabi Muhammad menyerukan
persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya.
3. Secara religius, apa yang dibawa Muhammad khususnya tentang
kebangkitan kembali dan pembalasan di hari akhir, disamping
bertentangan dengan keyakinan mereka selama ini, juga telah
menimbulkan ketakutan luar biasa bagi mereka, akibat perilaku mereka
yang tidak kenal dengan nilai-nilai kemanusiaan.
4. Secara ideologis, taklid kepada nenek moyang sudah berakar pada
bangsa Arab, sehingga sangat berat bagi mereka untuk meninggalkan
agama nenek moyang dan mengikuti agama Islam.
5. Secara ekonomi, mereka merasa dirugikan, karena dalam ajaran Islam
dikenalkan istilah halal dan haram yang selama ini mereka tidak
mengenalnya. Seperti kebiasaan riba (rintener) dan merengkuk keuntungan
dari orang yang tak berdaya.4

3 Fadil SJ. Pasang Surut Peradaban Islam , 96.


4 Nur Hasan. Buku Ajar Sejarah Peradaban Islam (Pamekasan: STAIN Pamekasan Press. 2006), 16.
Dari beberapa uraian diatas telah mencerminkan bahwa dalam kepemimpinan
Nabi Muhammad pada peridoe Mekkah ini adalah sebagai Rasul yang mengajak dan
berdakwah kepada masyarakat untuk memeluk agama Islam.

B. Pembentukan Negara Madinah

Setelah peristiwa Isra’ dan Mi’raj, suatu perkembangan besar bagi kemajuan
dakwah Islam muncul. Perkembangan datang dari sejumlah penduduk Yastrib yang
berhaji ke Mekkah. Mereka terdiri dari suku Khazraj dan ‘Aus yang masuk islam dari
tiga gelombang. Pertama, pada tahun sepuluh kenabian, beberapa orang Khazraj
berkata kepada Nabi: Bangsa kami telah lama terlibat dalam permusuhan, yaitu antara
suku Khazraj dan ‘Aus. Mereka benar-benar merindukan perdamaian. Kiranya Tuhan
mempersatukan mereka kembali dengan perantaraan engkau dan ajaran-ajaran yang
engkau bawa. Oleh karena itu, kami akan berdakwah agar mereka mengetahui agama
yang kami terima dari engkau ini.
Kedua, pada tahun keduabelas kenabian delegasi Yastrib, terdiri dari sepuluh
orang suku Khazraj dan dua orang suku ‘Aus serta seorang wanita meyatakan ikrar
kesetiaan pada nabi di suatu tempat bernama Aqabah. Ikrar ini disebut bai’ah aqabah
pertama. Ketiga, pada musim haji berikutnya jama’ah haji yang datang dari Yastrib
berjumlah 73 orang membai’ah kepada Rasul. Atas nama penduduk Yastrib, mereka
meminta kepada Nabi agar berkenan pindah ke Yastrib. Mereka berjanji akan
membela Nabi dari segala ancaman. Perjanjian ini disebut bai’ah aqabah kedua.5
Setelah kaum musyrikin Quraisy mengetahui adanya perjanjian antara Nabi
dan orang-orang Yastrib itu, mereka kian giat melancarkan intimidasi terhadap kaum
muslimin. Hal ini membuat nabi segera memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah
ke Yastrib. Dalam waktu dua bulan, hampir semua kaum muslimin yang berjumlah
kurang lebih 150 orang telah meninggalkan kota Mekkah.
Setelah terjadinya hijrah yang diawali peristiwa bai’ah aqabah tersebut berarti
elemen esensial bagi masyarakat politik (Negara) terpenuhi. Elemen tersebut antara
lain adalah: pertama, adanya ikatan dengan suatu wilayah dalam hal ini adalah
Madinah. Dengan diterimanya Nabi oleh penduduk Madinah secara otomatis terdapat
ikatan dengan wilayah tersebut. Kedua, masyarakat yang memiliki kesadaran sosial
yakni kerjasama antara perasaan dan pikiran untuk mencapai tujuan umum. Ketiga,

5 Badri yatim. Sejarah Peradaban Islam, 24.


adalah institusi. Peristiwa hijrah tersebut telah merubah status masyarakat muslim
yang dulunya hanya kumpulan masyarakat biasa menjadi masyarakat politik, yang
memiliki otoritas politik.
Periode dakwah Nabi di Madinah, ajaran Islam banyak berkenaan dengan
persoalan kemasyarakatan. Hal ini berdasarkan wahyu yang turun kepada Nabi lebih
banyak menekankan pada pembentuan dan pembinaan kemasyarakatan. Oleh karena
itu, kedudukan Nabi ketika di Madinah bukan hanya sebagai Rasul, melainkan juga
kepala Negara. 6 Dengan kata lain, dalam diri nabi terkumpul dua kekuasaan,
kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai Rasul secara
otomatis merupakan kepala Negara.
Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan Negara baru itu, Nabi segera
meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan
masjid, selain untuk shalat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum
muslimin dalam mempertalikan jiwa mereka, disamping sebagai tempat
bermusyawarah masjid juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan.
Dasar kedua, adalah ukhuwah islamiyah, persaudaraan sesama muslim. Nabi
mempersaudarakan anatara golongan muhajirin, orang-orang yang hijrah dari mekkah
ke madinah, dan Anshar, penduduk Madinah yang sudah masuk Islam dan ikut
membantu kaum muhajirin tersebut.
Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak
beragama Islam. Di Madinah, disamping orang-orang Arab Islam, juga terdapat
golongan masyarakat Yahudi dan orang-orang Arab yang masih menganut agama
nenek moyang mereka. Untuk menjaga stabilitas tersebut, Nabi mengadakan
perjanjian dengan penduduk Madinah. Sebuah piagam yang menjamin kebebasan
bersama orang-orang Yahudi sebagai suatu komunitas dikeluarkan. Dalam perjanjian
itu jelas disebutkan bahwa Rasulullah menjadi kepala pemerintahan karena sejauh
menyangkut peraturan dan tata tertib umum, otoritas mutlak diberikan kepada beliau.
Dalam bidang sosial, dia juga meletakkan dasar persamaan antar sesame manusia.
Perjanjian ini, dalam pandangan ketatanegaraan sekarang, sering disebut konstitusi
Madinah.7 Dasar keempat, meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial untuk
masyarakat baru. Ketika masyarakat Islam terbentuk maka diperlukan dasar-dasar
yang kuat bagi masyarakat yang baru terbentuk tersebut. Oleh karena itu, ayat-ayat al-

6 Nur Hasan. Buku Ajar Sejarah Peradaban Islam, 20-21.


7 Badri yatim. Sejarah Peradaban Islam, 26.
Qur’an yang diturunkan ditujukan kepada pembinaan hukum. Ayat-ayat ini kemudian
diberi penjelasan oleh Rasulullah sehingga terdapat dua sumber hukum dalam Islam
yaitu al-Qur’an dan Hadist. Dari kedua sumber hukum Islam tersebut didapat suatu
sistem untuk bidang politik, yaitu musyawarah. Dan untuk bidang ekonomi
dititikberatkan pada jaminan keadilan sosial, serta dalam bidang kemasyarakatan,
diletakkan pula dasar-dasar persamaan derajat antara manusia, dengan penekanan
bahwa yang menentukan derajat manusia adalah ketakwaan.8

C. Kunci Sukses Kepemimpinan Rasulullah

Sebelum membahas tentang kunci sukses kepemimpinan Rasulullah terlebih dahulu


kita lihat apa itu pemimpin dan kepemimipinan. Sebab apa yang dimaksud dengan pemimin
dan kepemimpinan tidaklah sama. Kepemimpinan ialah kemampuan memimpin dari seorang
pemimpin. Pemimpin ialah orang yang memimpin satu unit organisasi atau kelompok
masyarakat.
Pada titik ini memang layak dimunculkan pertanyaan dimana letak kunci kesuksesan
kepemimpinan Rasulullah selain memang karena memang mendapat petunjuk, bantuan dan
perlindungan Allah SWT. Ada beberapa kunci yang bisa dikemukakan dan sepantasnya
diteladani oleh umatnya.
1. Akhlak Nabi yang terpuji tanpa tercela.
2. Karakter Rasulullah yang tahan uji, tangguh, ulet, sederhana dan
bersemangat baja.
3. System dakwah Nabi yang menggunakan metode imbauan yang
diwarnai oleh hikmah kebijaksanaan.
4. Tujan perjuangan Nabi yang jelas menuju ke arah menegakkan keadilan
dan kebenaran serta menghancurkan yang batil, tanpa pamrih kepada
harta, kekuasaan dan kemuliaaan duniawi.
5. Prinsip persamaan
6. Prinsip kebersamaan.
7. Mendahulukan kepentingan dan keselamatan pengikut bawahan.
8. Memberikan kebebasan berekreasi dan berpendapat serta pendelegasian
wewenang.
9. Tipe kepemimpinan kharismatik dan demokratis.9

8 Samsul Munir Amin. Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Amzah. 2010), 69.
9 Nourouzzaman Shiddiqi. Jeram-Jeram Peradaban Muslim (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
1996), 102.
Dari beberapa kunci sukses yang diterapkan Nabi Muhammad SAW dapt
disimpulkan bahwaw kepemimpinan yang dijalankan oleh Rasulullah menitikberatkan
“lisanul hal” (tindak-tanduk perbuatan). Kesederhanaan sebagai pemimpin tampak
pada kehidupan beliau. Hal ini tercermin dalam sifat-sifat kepribadian Rasulullah.
Abdurrahman Azzam, mantan Sekretaris Jenderal Liga Arab yang terkenal
menamakan Nabi Muhammad “Bathaul abthal” satu-satunya pahlawan dari segala
pahlawan di dunia. Karena demikan, dalam bukunya yang memakai judul itu,
menyebut sifat-sifat kepemimpinan yang istimewa dari Nabi Muhammad sebanyak 13
buah.
Sedangkan Muhammad Jad Maula Bey memakai pandangan yang jauh lebih
luas lagi di dalam bukunya “Muhammad SAW al-Mastau al-Kamil” Nabi Muhammad
adalah contoh pemimpin yang paling utama. Dalam pandangan kita belumlah suatu
buku yang begitu lengkapnya menggambarkan kebesaran dan keutamaan Nabi
Muhammad sebagai seorang pemimpin dunia yang penuh sukses, seperti buku
karangan Maula Bey. Buku yang tebalnya472 halaman, terbagi atas 13 bab.
Menceritakan tentang sifat yang dimiliki Nabi menjadi dua kelompok.
1. Sifat-sifat utama diri pribadinya yaitu:
a. Kehormatan kelahirannya.
b. Bentuk dan potongan sempurna
c. Perkataannya yang fasih dan lancer
d. Kecerdasan akal yang sempurna
e. Ketabahan dan keberanian
f. Tidak terpengaruh oleh duniawi
g. Hormat dan respect terhadap dirinya
2. Sifat-sifat utama kemasyarakatan yaitu:
a. Murah hati dan dermawan
b. Manis pergaulan
c. Tidak lekas marah atas barang yang tidak disenangi dan suka
memaafkan
d. Arif bijaksana dalam pimpinan
e. Contoh utama dalam memegang pimpinan
f. Teguh dalam pendirian.10

10 Imam Munawwir. Kebangkitan Islam dan Tantangan-Tantangan Yang Dihadapi Dari Masa Ke
Masa (Surabaya: PT Bina Ilmu. 1984), 35-36
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Nabi Muhammad SAW mempunyai dua kedudukan dalam dakwah dan


risalahnya yakni kedudukan sebagai kepala Agama dan kepala Negara. Dengan kata
lain, dalam diri Rasulullah terdapat dua unsur kekuasaan yakni kekuasaan spiritual
dan duniawi. Sehingga kedudukannya sebagai rasul secara otomatis juga sebagai
kepala Negara.
Sebagai kepala Negara Rasulullah meletakkan empat dasar-dasar utama dalam
membangun pemerintahan di Madinah yakni pembangunan masjid, ukhuwah
Islamiyah, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama
Islam, meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi, dan sosial untuk masyarakat baru.
Sehingga dalam pemerintahan Islam di Madinah dibawah kepemimpinan Nabi
Muhammad SAW mengalami perubahan yang signifikan baik dari ekonomi, sosial,
politik, pendidikan, budaya dan keagamaan.
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munawwir. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah. 2010.


Hasabullahm Heshan-Helminski, Kabir. Sejarah Islam. Yogyakarta: Diglosia. 2009.
Hasan, Nur. Buku Ajar Peradaban Islam. Pamekasan: STAIN Pamekasan Press.
2006.
Munawwir, Imam. Kebangkitan Islam dan Tantangan-Tantangan Yang Dihadapi
Dari Masa Ke Masa. Surabaya: PT Bina Ilmu. 1984.
Shiddiqi, Nourouzzaman. Jeram-Jeram Peradaban Muslim. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. 1996.
SJ, Fadil. Pasang Surut Sejarah Peradaban Islam Dalam Lintasan Sejarah. Malang:
UIN Malang Press. 2008.
Syalabi. Sejarah Dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka al-Husna. 2007.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah. Jakarta: Rajawali Press.
2011.