Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI KLINIK
Yang dilaksanakan di
PRAKTEK DOKTER HEWAN BERSAMA (PDHB)
DRH. CUCU KARTINI SAJUTHI DKK. JAKARTA UTARA
Kasus Interna Mandiri
FELINE PANLEUKOPENIA VIRUS

Oleh:
Sylvia Dean Setiyolaras

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
1. Tinjauan Kasus
1.1 Anamnesa
Seorang klien membawa anjing berumur 6 bulan ke PDHB 24 Jam Drh. Cucu K.
Sajuthi dkk bagian poliklinik, dengan keluhan 2 – 3 hari tidak mau makan, tidak mau minum,
muntah-muntah dan 2 minggu yang lalu dilakukan steril
(2 Mei 2018).
1.2 Signalement
Nama hewan : Guu
Jenis Hewan/Breed : Kucing
Warna rambut : Tricolor
Jenis kelamin : Betina
Umur : 6 bulan
Berat badan : 2 kg
1.3 Gejala Klinis
Temuan klinis menunjukkan bahwa hewan mengalami dehidrasi, suhu tubuh 40oC,
jahitan tidak menutup, basah, berkerak merah-merah dan belum merapat, agak bereaksi saat
palpasi abdominal serta ada luka di gusi kiri bawah.
1.4 Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum
Tingkah laku : Lesu, tiduran
Perawatan : Baik
Gizi : Kurus (BCS: 3/5 )
Pertumbuhan badan : Baik
Sikap berdiri : Tidak bias berdiri tegak
Ekspresi wajah : Lesu
Adaptasi lingkungan : Merespon lingkungan
Temperatur tubuh : 40,1ºC
Frekuensi nadi : 84X/menit
Frekuensi napas : 72X/menit
Capillary refill time (CRT) : <2 detik
2. Kulit dan rambut
Aspek rambut : Tidak kusam, kulit bersih
Kerontokan : Rontok
Kebotakan : Tidak ada kebotakan
Turgor kulit : <2 detik
Permukaan kulit : Rata, tidak ditemukan kerak
Bau kulit : Bau khas kulit
3. Kepala dan leher
a. Inspeksi
Ekspresi wajah : Tidak bereaksi
Pertulangan wajah : Kompak
Posisi telinga : Tegak
Posisi kepala : Kompak
Mata dan orbita kiri
Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna
Silia : Tidak ada kelainan
Konjungtiva : Jaundice, basah, tidak ada lesi
Membrana niktitan : Tidak terlihat
Mata dan orbita kanan
Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna
Silia : Tidak ada kelainan
Konjungtiva : Pink rose, basah, tidak ada lesi
Membrana niktitan : Tidak terlihat
Bola mata kiri
Sklera : Kemerahan
Kornea : Bening, basah, mengkilat
Iris : Kuning
Pupil : Ada refleks, hitam, tidak ada kelainan
Limbus : Rata, tidak ada kelainan
Refleks pupil : Refleks terhadap cahaya
Lensa : Tidak ada kelainan
Vasa injeksio : Tidak ada

Bola mata kanan


Sklera : Kemerahan
Kornea : Bening, basah, mengkilat
Iris : Kuning
Pupil : Ada refleks, hitam, tidak ada kelainan
Limbus : Rata, tidak ada kelainan
Refleks pupil : Refleks terhadap cahaya
Lensa : Tidak ada kelainan
Vasa injeksio : Tidak ada
Hidung dan sinus
Bentuk pertulangan : Simetris
Aliran udara : Lancar pada kedua lubang hidung
Cermin hidung : Bersih
Kelembapan : Kering
Mulut dan rongga mulut
Defek bibir : Tidak ada
Mukosa : Pink, basah
Lidah : Pink, tidak ada kelainan
Gigi geligi : Tidak ada kelainan
Telinga
Posisi : Tegak
Bau : Bau khas serumen telinga
Permukaan daun telinga : Bersih, pucat
Krepitasi : Tidak ada
Refleks panggilan : Tidak ada
Leher
Perototan : Kompak
Trakhea : Teraba, tidak ada refleks batuk
Esofagus : Teraba
Kelenjar pertahanan daerah leher
Lgl. Mandibularis
Ukuran : Tidak ada perubahan
Konsistensi : Kenyal
Lobulasi : Jelas
Perlekatan : Mobile
Suhu kulit : Tidak ada kelainan
Kesimetrisan : Simetris
4. Thoraks
a. Sistem pernapasan
Inspeksi
Bentuk rongga thoraks : Simetris
Tipe pernapasan : Costoabdominal
Ritme pernapasan : Ritmis/teratur
Intensitas : Dangkal
Frekuensi : 72X/menit
Trakhea : Teraba
Refleks batuk : Tidak ada
Palpasi
Penenkanan rongga : Tidak ada reaksi kesakitan
thoraks
Penekanan M. : Tidak ada reaksi kesakitan
intercostalis
Perkusi : Tidak ada perluasan
Gema perkusi : Terlihat
b. Sistem peredaran darah
Inspeksi
Ictus cordis : Terlihat
Auskultasi
Frekuensi : 84X/menit
Intensitas : Sedang
Ritme : Ritmis
Suara ikutan : Tidak ada
Sinkron pulsus dan : Sinkron
jantung
5. Abdomen dan organ pencernaan
Inspeksi
Ukuran rongga abdomen : Tidak ada kelaian
Bentuk rongga abdomen : Simetris
Palpasi
Epigastikus : Tidak ada reaksi kesakitan
Mesogastrikus : Tidak ada reaksi kesakitan
Hipogastrikus : Tidak ada reaksi kesakitan
Auskultasi
Suara peristaltik usus : Tidak terdengar
Suara borboritmis : Tidak terdengar
Anus
Daerah sekitar anus : Kotor
Refleks sphincter ani : Ada
Kebersihan perianal : Kotor
6. Sistem urogenital
Ginjal : Teraba saat dilakukan palpasi, berada
di daerah epigastrium, tidak ada
kelainan, simetris kanan dan kiri
Vesika urinaria : Teraba, ada bentukan keras, tidak ada
reaksi kesakitan saat dipalpasi
7. Sistem saraf
Tengkorak : Pertulangan jelas
Kolumna vertebralis : Tidak ada reaksi sakit saat dipalpasi
Refleks gerak : Ada
Gangguan kesadaran : Tidak ada
8. Alat Gerak
Inspeksi
Perototan kaki depan : Simetris dan kompak
Perototan kaki belakang : Simetris dan kompak
Spasmus otot : Tidak ada
Tremor : Tidak ada
Cara berjalan : Koordinatif, tidak ada kelainan
Bentuk pertulangan : Tidak ada kelainan
Tuber coxae dan tuber : Simetris
ischii
Palpasi struktur pertulangan
Kaki kanan depan : Tegas, kompak
Kaki kanan belakang : Tegas, kompak
Kaki kiri depan : Tegas, kompak
Kaki kiri belakang : Kompak, tidak ada kelainan
Konsistensi pertulangan : Kompak, tidak ada kelainan
Reaksi daat palpasi : Tidak ada reaksi kesakitan
Panjang kaki depan ka/ki : Sama panjang, simetris
Panjang kaki belakang : Sama panjang, simetris
ka/ki
Reaksi saat palpasi otot : Tidak ada reaksi rasa sakit
Limfoglandula popliteal
Ukuran : Tidak ada perubahan
Konsistensi : Kenyal, tidak ada kelainan
Lobulasi : Berlobul jelas. tidak ada kelainan
Perlekatan : Tidak ada
Suhu kulit : Tidak ada kelainan
Kesimetrisan : Simetris
1.5 Diferensial Diagnosa
Berdasarkan anamnesa, gejala klinis dan pemeriksaan fisik, maka diferensial
diagnosa untuk kucing Guu adalah food intolerance, food intoxication dan feline
panleukopenia virus.

1.6 Diagnosa Penunjang


Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan adalah
a. Test kit Feline Panleukopenia Virus (FPV)
Adanya gejala muntah mengarahkan diagnosa adanya infeksi parvo virus,
muntah akibat adanya gangguan pada sistem gastrointestinalnya. Salah satu penyakit
yang menyerang sistem gastrointestinal adalah FPV, sehingga dokter memutuskan
untuk melakukan uji cepat antigen rapid test FPV. Dari uji cepat tersebut kucing Guu
positif terinfeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV).
Pemeriksaan Hasil Satuan Kisaran Normal
Hematologi : Kucing
Sel Darah Putih (WBC) 0,5 10^3/µl 5.5 – 19.5
Sel Darah Merah 8,24 10^6/µl 5.0 – 10.0
(RBC)
Hemoglobin (Hb) 11,4 g/dL 8.0 – 15.0
Hematokrit (HCT) 29,9 % 24.0 – 45.0
MCV 36,3 fL 39.0 – 55.0
MCH 13,8 Pg 12.5 – 17.5
MCHC 38,1 g/dL 30.0 – 36.0
Trombosit (PLT) 71 10^3/µl 300 – 800
Limfosit 74,2 % 20.0 – 55.0
Monosit - % 1.0 – 4.0
Eosinofil - % 2.0 – 12.0
Granulosit 25,8 % 35.0 – 78.0
Limfosit 0,4 10^3/µl 1.5 – 7.0
Monosit - 10^3/µl 0.0 – 0.85
Eosinofil - 10^3/µl 0.0 – 1.5
Granulosit 0,1 10^3/µl 2.5 - 14
RDW 12,8 % 13.0 – 17.0
PCT 0,08 % 0.0 – 2.9
MPV 11,7 fL 12.0 – 17.0
PDW 8,7 % 0.0 – 50.0

b. Hematologi Darah
Tabel 1. Pemeriksaan hematologi (16 Mei 2018)
Pemeriksaan hematologi merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk
mengetahui keadaan darah dan komponen-komponennya. Pemeriksaan hematologi kucing
Guu pada tanggal 16 Mei 2018 menunjukkan penurunan yang signifikan pada jumlah sel
darah putih (WBC), trombosit, limfosit dan granulosit.
1.7 Diagnosa
Berdasarkan anamnesa, gejala klinis dan pemeriksaan penunjang (test kit dan
hematologi), maka kucing Guu didiagnosa mengalami Feline Panleukopenia Virus (FPV).
1.8 Prognosa
Dubius Infausta
1.9 Terapi
Tabel 2. Obat yang digunakan untuk terapi
Merek Zat aktif Dosis Fungsi
dagang
Ampicillin® Ampicillin 10-20 Antibiotik
sodium mg/kgBB
®
Ranitidine 2,5 mg/kgBB Histamin (H2) antagonist
®
Ondansetron Ondansetron 0,2 mg/kgBB Antiemetik
hydrochloride
bernofarm
®
Primperan Metoklopramide 0,2-0,5 Antiemetik
mg/kgBB
Biodin® ATP 0,1 ml/kg BB Penambah energi tubuh
Mg Aspartate
K aspartate
Na selenite
Vitamin B12
®
Cefotaxime Cefotaxime Antibiotik
sodium
Neuropogen® Filgrastim

Cefat® Cefadroxil 22 mg/kgBB Aksi sama dengan antibiotik


betalaktam, menghambat
pembentukan dinding sel
®
Pronicy Cyproheptadine 1,1 mg/kgBB Antihistamin dan
hydrochloride meningkatkan nafsu makan
®
Surbex-Z Vitamin, Zn Multivitamin
Fluimucil® Acetylcystein 35-50 Sebagai antidota keracunan
mg/kgBB parasetamol pada kucing dan
digunakan untuk mengobati
infeksi sal. pernafasan atas
Isoprinosine® Methisoprinol Immunomodulator untuk
penyakit virus dan defisiensi
sistem imun
Cordicep Antioksidan
Hematophan® Natrium 0,1 mg/kgBB Suplemen vitamin untuk
kakodilat, hematopoetika
amonium sitrat,
metionin,
histidin,
triptopan,
vitamin B12
Vitamin C Meningkatkan sistem imun
TF Menyeimbangkan sistem imun
1.10 Rekam Medis
Tabel 2. Rekam Medis Kucing Guu
Tanggal Keadaan Umum Pengobatan
16/5/18 (pagi) T: 40oC, lesu, selaput lendir semu rose, bab (-), Ampicillin 0,2 cc,
bak ok, jahitan ada sedikit belum menutup, test Primperan 0,1 cc,
cpv (+++) Hembio @0,2 cc
(sore) T: 40,5oC, lesu, infus ok, ada yang belum rapat Cefotaxime 0,2 cc
jahitannya, perianal kotor, nausea
17/5/18 (pagi) T: 38,9oC, self grooming, mata berair, makan Ampicillin 0,2 cc,
susah disuap, bab (-), vomit (-) Ondansetron 0,2 cc,
Hembio @0,2 cc,
Cefotaxime 0,2 cc
(sore) T: 38oC, infus ok, belekan, vomit (-), bab (-), luka
masih agak basah
20/5/18 (pagi) T: ok, vomit (-), bab (-), belekan, luka masih agak Ampicillin 0,2 cc,
basah, perianal sedikit iritasi, makan disuap Ondansetron 0,2 cc,
kurang, stomatitis Hembio @0,2 cc,
Cefotaxime 0,2 cc,
treatment mata
(sore) T: 38,6oC, tidak lesu, OD belekan, tidak lesu, Filgrastim 0,04 cc
makan disuap lumayan, jahitan belum terlalu TF 1 caps (malam)
nutup agak jendol + iritasi + benyek, iritasi
perianal sampai paha dalam cukup parah, vomit
(-), diare (+), infus ok
21/5/18 (pagi) T: 39,8oC, lesu, jahitan jendol, stomatitis di lidah, Ampicillin 0,2 cc,
belekan, hidung kering, vulva discharge mucoid, Ondansetron 0,2 cc,
stomatitis iritasi, iritasi perianal (++), makan Hembio @0,2 cc,
disuap recovery ok. Tes FIV +FeLV (-). Cefotaxime 0,2 cc, vit
C 1 cc
o
(sore) T: 38,5 C, mata berair, conjungtivitis, ulcer di Treatment mata
lidah, selaput lendir pucat, vomit (-), diare (-)
2. Pembahasan
Berdasarkan anamnesa kucing Guu sudah 2 – 3 hari tidak mau makan, tidak mau minum,
muntah-muntah dan 2 minggu yang lalu dilakukan steril. Dokter melakukan pemeriksaan dan
didapatkan hasil suhu kucing Guu 40oC (demam), dehidrasi, jahitan steril tidak menutup, basah,
berkerak merah-merah dan belum merapat, agak bereaksi saat palpasi abdominal serta ada luka
di gusi kiri bawah. Adanya gejala muntah, dehidrasi dan demam mengarahkan diagnosa adanya
infeksi parvo virus, sehingga diperlukan pemeriksaan lanjutan menggunakan uji cepat antigen
rapid test Feline Panleukopenia Virus (FPV). Hasil yang didapatkan dari uji tersebut kucing Guu
positif terinfeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV).
Feline Panleukopenia Virus (FPV) adalah suatu penyakit kucing yang disebabkan oleh
virus feline parvo single-stranded yang sangat menular pada semua anggota felidae (Kruse et al.,
2010). Feline Panleukopenia Virus dan Canine Parvovirus tergolong kedalam genus
Protoparvovirus subfamily Parvovirinae dari family Parvoviridae. CPV-1 dan CPV-2
menyerang anjing, CPV-2 pertama kali menjadi penyakit emerging, selanjutnya variasi antigen
CPV-2a,b,c berkembang dan menginfeksi spesies lain, seperti kucing namun FPV ini tidak dapat
menyerang anjing (Allison, 2014). FPV sering disebut juga feline distemper, feline infectious
enteritis, cat fever dan cat typhoid. Penyakit ini dapat menyerang segala umur kucing dan dapat
menimbulkan kematian, terutama pada anak kucing.
Virus FPV sangat tahan terhadap lingkungan dan masih dapat bertahan hidup di kandang
sampai 1 tahun. Virus berkembang selama 1-2 hari, namun virus dapat menular di lingkungan
selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. Masa inkubasi virus FPV berkisar 4
sampai 5 hari dengan perkembangan yang cepat hingga menyebabkan kematian (Demester et al.,
2010). Menurut Greene (2012) virus ini sangat stabil dan dapat hidup 1 tahun pada suhu ruangan
dan hidup pada material organik, virus ini resisten terhadap pemanasan dibawah 90oC serta
desinfektan alkohol 70% dan beberapa cairan seperti iodine, phenol dan cairan yang
mengandung amoniak, akan tetapi dapat diinaktivasi dengan sodium hypocloride 5.25%,
formaldehid 4%, asam peracetic, sodium hidroksida, glutaraldehid 1% dalam 10 menit dalam
temperatur ruangan.
Feline Panleukopenia Virus (FPV) menyebabkan infeksi sistemik. Virus ini ditularkan
melalui rute fecal oral, kemudian virus bereplikasi di jaringan oropharynx dan tersebar ke
seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh darah (viremia) (Truyen dan Mosti, 2009). Replikasi
dari single strand DNA kemudian menginfeksi dan menghancurkan sel-sel yang aktif melakukan
pembelahan yang tinggi yaitu pada sumsum tulang, sel intestine dan jaringan limfoid (Resibois,
2007), sehingga menyebabkan penurunan jumlah leukosit dan enteritis.
Virus bereplikasi dalam sel yang sedang pembelahan dalam fase S dari siklus sel.
Replikasi virus menyebabkan sel tidak dapat bermitosis sehingga menyebabkan hilangnya sel
dari kripta dan tidak mempunyai kemampuan absorbsi sehingga ingesta dalam lumen usus
tampak encer. Selain itu, pada saluran pencernaan, virus FPV akakn menyebabkan ulcer dan
enteritis, sehingga menyebabkan kondisi diare, dehidrasi dan infeksi sekunder oleh bakteri
(Truyen dan Mosti, 2009). Dehidrasi dan infeksi bakteri yang parah menyebabkan kematian pada
hewan yang terinfeksi FPV.
Pada induk yang sedang bunting, penularan virus FPV dapat melalui intraplasental dan
dapat menginfeksi embrio atau fetus, sehingga menyebabkan kematian embrio, mumifikasi dan
abortus. Infeksi pada saat partus dapat menyebabkan kerusakan pada epitel germinal cerebellum
pada fetus, sehingga akan mengakibatkan hypoplasia cerebral, inkoordinasi dan tremor. Hal ini
disebabkan karena cerebellum merupakan bagian dari sistem saraf pusat yang mengatur
keseimbangan dan pergerakan.
Gejala Klinis dari hewan yang terinfeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV) antara lain,
diare, membran mukosa pucat dan tremor otot (Van Vuuren et al., 2000). Gejala lain yang
mungkin tampak, yaitu depresi, muntah, dehidrasi dan mortalitasnya tinggi (Tilley dam Smith,
2011). Penurunan nafsu makan, lethargy dan keluarnya discharge dari hidung dapat pula
mengindikasikan FPV (AVMA, 2010). Gejala klinis yang tampak pada kucing Guu yaitu
dehidrasi, tidak mau makan. Gejala klinis pada kucing Guu tampak menyerupai gejala klinis
FPV, meskipun tidak semua gejala klinis FPV terlihat pada kucing Guu.
Pemeriksaan penunjang dalam kasus ini dapat dilakukan pemeriksaan rapid test kit feline
panleukopenia virus dan pemeriksaan hematologi. Rapid test kit Feline Panleukopenia Virus
(FPV) merupakan alat deteksi menggunakan imunokromatografi untuk mendeteksi kualitatif
antigen FPV pada feses kucing (Bionote, 2008). Prinsip imunokromatografi, yaitu mengenali
antigen atau antibodi target dari berbagai spesimen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan
antibodi yang ditempelkan pada strip membran nitroselulosa sebagai tempat bergeraknya
antibodi. Aliran kapiler digunakan untuk memindahkan mikropartikel berwarna pada antibodi
terkonjugasi yang berikatan dengan antigen target di membran nitroselulosa. Hasil tes positif
dihasilkan pada penangkapan kompleks antigen atau antibodi yang ditunjukkan dengan
pembentukan garis berwarna. Antibodi kontrol mengikat kelebihan konjugat dan bertindak
sebagai garis kontrol. Garis kontrol merupakan indikator validitas tes (El-Moamly, 2014).
a b

c d

Gambar 5.1. Hasil pengujian rapid test kit FPV Ag (Bionote, 2008).
(a) hasil negatif FPV yang ditunjukkan dengan 1 strip pada garis
C; (b) hasil positif FPV yang ditunjukkan dengan munculnya 2
strip pada garis C dan T; dan (c dan d) invalid FPV yang
ditunjukkan dengan tidak munculnya garis atau 1 strip pada
garis T.
Pemeriksaan hematologi merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui
keadaan darah dan komponen-komponennya. Pemeriksaan hematologi kucing Guu menunjukkan
penurunan jumlah sel darah putih yaitu 0,5 x 10^3/µl dari nilai normal jumlah sel darah putih 5.5
– 19.5 x 10^3/µl. Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) mengindikasikan adanya (1)
infeksi virus, hiperplenism, leukemia (2) obat (antimetabolit, antibiotik, kemoterapi) (3) anemia
aplastik/pernisiosa (4) multiple mioloma. Penurunan jumlah sel darah putih pada kucing Guu
dapat disebabkan karena adanya infeksi virus Feline Panleukopenia Virus (FPV). Infeksi FPV
pada sumsum tulang akan menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih, dikarenakan sumsum
tulang sebagai penghasil leukosit fungsinya menurun. Infeksi dari Leukosit yang bersirkulasi
pada jaringan atau sering diasosiasikan limfosit akan menginduksi terjadinya limfopenia akut
dan neutrofilia (Pollock, 1982). Pada fase ini leukosit terus menurun dibawah 2000-3000 sel/µl
(Decaro, 2012). Virus panleukopenia juga menyebabkan perubahan pada sumsum tulang
belakang yang menghambat eritropoisis, sehingga akan menyebabkan anemia dan
trombositopenia (Harvey, 2012).
Hasil hematologi kucing Guu menunjukkan penurunan limfosit yaitu 0.4 x 10^3/µl dari
nilai normal limfosit 1.5 – 7.0 x 10^3/µl. Limfopenia pada kucing Guu dapat disebabkan karena
adanya infeksi virus Feline Panleukopenia Virus (FPV). Menurut Bijanti dkk., (2010) limfopenia
dapat disebabkan karena pemberian kortikosteroid, lisis limfosit pada penyakit Canine
Distemper pada anjing dan kemungkinan juga akibat infeksi FPV.
Infeksi FPV pada sumsum tulang akan menyebabkan terjadinya trombositopenia, yaitu
penurunan kadar trombosit dalam darah. Hasil hematologi kucing Guu menunjukkan penurunan
trombosit yaitu 71 x 10^3/µl dari nilai normal trombosit 300 - 800 x 10^3/µl. Adanya infeksi
virus dan bakteri pada pembuluh darah akan menyebabkan vaskulitis (Truyen dan Mosti, 2009).
Pada keadaan tersebut menyebabkan permeabilitas kapiler menurun, saat terjadi trauma maka
akan memudahkan pendarahan, dalam keadaan normalnya gejala ini akan memacu trombosit
untuk melakukan penyumbatan dan pembekuan darah, namun karena jumlah trombosit rendah
maka akan menyebabkan darah mudah keluar dari pembuluh darah. Trombositopenia adalah
salah satu faktor yang disebabkan oleh DIC (Disseminated Intravascular Coagulation)
merupakan diagnosis kompleks yang melibatkan komponen pembekuan darah akibat penyakit
lain yang mendahuluinya. Pembentukan fibrin yang terus-menerus disertai jumlah trombosit
yang terus menurun menyebabkan perdarahan dan terjadi efek antihemostatik dari produk
degradasi fibrin, pasien akan mudah berdarah di mukosa saat terjadi trauma (Corrigan, 2005).
Virus panleukopenia yang menyerang sumsum tulang akan menyebabkan trombositopenia,
dengan menurunnya produksi trombosit akibat infeksi virus panleukopenia yang menyebabkan
menurunnya koagulasi darah.
Prognosa pada kasus Feline Panleukopenia Virus (FPV) yaitu dubius sampai infausta.
Menurut Kruse et al., (2010) FPV merupakan penyakit infeksius dengan tingkat mortalitas yang
tinggi. Prognosis pada hewan yang terkena FPV dan FPV diketahui lebih awal serta segera
dibawa ke dokter hewan adalah dubius. Namun banyak anak kucing (kitten) yang datang dalam
kondisi berat maka akan sulit dan berakhir dengan fatal. Hewan yang sudah tua dan sudah
divaksin memiliki prognosis dubius. Namun hewan yang belum pernah divaksin akan memiliki
prognosis dubius sampai infausta. Tingkat mortalitas pada kucing yang terkena FPV lebih dari
90% (Acton, 2013).
Pencegahan dapat dilakukan dengan memisahkan anak kucing yang rentan dan hewan tua
yang tidak divaksin dengan kucing lain sampai diimunisasi dengan benar. Dilakukan imunisasi
pasif untuk melindungi kucing muda dengan riwayat vaksinasi yang tidak lengkap atau kucing
dewasa yang tidak di vaksin. Diberikan serum anti-FPV secara subkutan/ intraperitoneal yang
dapat melindung selama 2-4 minggu dan hewan tidak boleh dilakukan vaksinasi dalam 3 minggu
imunisasi pasif. Pemberian vaksinasi dilakukan 2 kali pada usia 8-9 minggu, vaksinasi diulang 3-
4 minggu kemudian sangat direkomendasikan. Pengulangan atau booster dilakukan 1 tahun
kemudian. Vaksinasi pada kucing muda yang tinggal di breeder kucing dapat dilakukan vaksinasi
ke-3 pada usia 16-20 minggu. Pengulangan dapat dilakukan 3 tahun sekali (Truyen, 2009)
Tindakan awal yang diberikan pada kucing Guu, yaitu diberikan antibiotik Ampicillin ®
(ampicillin sodium dosis 20 mg/kgBB), antiemetika Ondansetron® (ondansetron dosis 0,2
mg/kgBB dan antasida Ranitidine® (ranitidine dosis 2,5 mg/kgBB). Terapi yang diberikan pada
kucing Guu selama di rawat inap, yaitu antibiotik Ampicillin ® (ampicillin sodium dosis 20
mg/kgBB), pemacu pertumbuhan dan hematopoietika Hematopan B12®, penguat otot dan daya
tahan tubuh Biodin®, antiemetika Ondansetron® (ondansetron dosis 0,2 mg/kgBB), vitamin C
(absorbic acid dosis 50mg/kgBB), antiemetik Primperan ® (metoklopramide dosis 0,2-0,5
mg/kgBB), Neuropogen® (filgrastim) dan Transfer Factor (TF).
Sebagian besar kematian akibat FPV disebabkan karena dehidrasi dan infeksi bakteri
sekunder, oleh karena itu pemberian cairan infus sangat penting untuk menunjang kesembuhan.
Pemberian terapi cairan bertujuan untuk mengurangi dehidrasi dan memberikan asupan energi
pada hewan yang mengalami dehidrasi dan penurunan nafsu makan (Merck, 2005). Cairan infus
yang diberikan disesuaikan dengan tingkat dehidrasi kucing Guu. Berdasarkan tingkat
dehidrasinya, kucing Guu termasuk dalam dehidrasi tingkat moderat atau sedang (7%), ditandai
dengan CRT 2 detik. Banyaknya terapi cairan yang diberikan pada kucing Guu, adalah sebagai
berikut:
Terapi cairan = [% dehidrasi x BB x 1000] + [(30 x BB) + 70]
= [7% x 2 x 1000] + [(30 x 2) + 70]
= 140 + 130
= 270 mL/hari
Antibiotik broad spectrum wajib diberikan sebagai langkah mencegah bakterimia, karena
pada FPV terjadi neutropenia yang akan memfasilitasi terjadinya sepsis (Truyen, 2009).
Penggunaan antibiotik broad spectrum yang spesifik terhadap gram negatif dan anaerob
sangatlah direkomendasikan, diantaranya amoxicillin/ clavulanic acid, piperacillin yang
dikombinasikan dengan aminoglikosida, fluoroquinolon, cephalosporin atau piperacillin/
tazobactam, namun harus diperhatikan pula efek smping dari obat-obatan tersebut. Pengobatan
pada kucing Guu diberikan antibiotik Ampicillin ® (ampicillin sodium) bertujuan untuk
mengurangi mikroorganisme, terutama bakteri untuk mencegah infeksi sekunder akibat FPV
pada kucing Guu. Ampicillin merupakan antibiotik golongan β-laktam yang berperan
menghambat transpeptidase, merusak formasi dinding sel bakteri dan menyebabkan lisis sel
bakteri (Lawrence and Anthony, 2013). Pemberian Ondansetron® bertujuan untuk mengurangi
kondisi muntah pada kucing Guu. Ondansetron® merupakan serotonin antagonis yang bekerja
dengan menghambat reseptor serotonin tipe 3 (5-HT3) sehingga efektif dalam menghambat
stimulasi emesis (Papich, 2011). Pemberian antasida berupa Ranitidine ® bertujuan untuk
mencegah peningkatan asam lambung dan muntah. Ranitidine merupakan antagonis histamin2
(H2 blocker) yang berperan menurunkan sekresi asam lambung (Papich, 2011).
Pemberian vitamin C (absorbic acid dosis 50mg/kgBB) bertujuan untuk meningkatkan
sistem imunitas dari hewan. Vitamin C berperan dalam mencegah kerusakan sel, memelihara
jaringan tubuh dan sistem imunitas. Pemberian Hematopan B12® dan Biodin® bertujuan untuk
memacu pertumbuhan dan hematopoietika, penguat otot dan daya tahan tubuh. Pengobatan saat
di Rawat Inap I PDHB Sunter diberikan antibiotik Cefotaxime sebagai antibiotik utama untuk
FPV. Cefotaxime® adalah antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yang bersifat
bakterisidal dan bekerja dengan menghambat sintesis mukopeptida pada dinding sel bakteri.
Cefotaxime sangat stabil terhadap hidrolisis beta laktamase, maka Cefotaxime digunakan sebagai
alternatif lini pertama pada bakteri yang resisten terhadap penisilin. Cefotaxime memiliki
aktivitas spektrum yang lebih luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Aktivitas
Cefotaxime lebih besar terhadap bakteri gram negatif, sedangkan aktivitas terhadap bakteri gram
positif lebih kecil. Antibiotik Cefotaxime dapat diberikan secara intravena dan intramuskular,
karena diabsorbsi di small intestine. Masa paruh eliminasi pendek sekitar 1 jam dan dosis yang
digunakan adalah 30-80 mg/kgBB diberikan selama 3 hari (Tennant, 2007). Primperan® dapat
digunakan sebagai antiemetik pada anjing dan kucing. Neuropogen® yang mengandung bahan
aktif filgrastim merupakan sejenis obat yang disebut faktor stimulasi granulosit-koloni manusia
rekombinan (G-CSF). Filgrastim digunakan untuk memperbaiki kadar neutrofil rendah dalam
darah dan dengan demikian mengurangi durasi dan tingkat keparahan neutropenia.
Perkembangan kucing Guu mulai membaik setelah terapi di rawat inap selama 5 hari,
kemudian kucing Guu diperbolehkan untuk pulang. Racikan obat oral yang diberikan untuk
kucing Guu, yaitu Cefat® 40 mg adalah antibiotik dengan kandungan cefadroxil didalamnya,
Pronicy® ¼ tab dengan kandungan cyproheptadine hydrochloride, Pronicy® bersifat sebagai
antihistamin dan meningkatkan nafsu makan, sehingga diharapkan nafsu makan kucing Guu
meningkat dengan pemberian Pronicy® ini. Ranitidine® yang bertujuan untuk mencegah
peningkatan asam lambung dan muntah. Surbex-Z® 1/5 tab mengandung vitamin dan Zn sebagai
suplemen. Fluimucil® 125 mg mengandung acetylcystein sebagai antidota keracunan parasetamol
pada kucing dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernafasan atas. Isoprinosine ® ¼ tab
mengandung methisoprinol sebagai Immunomodulator untuk penyakit virus dan defisiensi
sistem imun serta diberikan Cordicep 1/5 tab.
3. Kesimpulan
Kucing Guu datang dengan keluhan 2-3 hari tidak mau makan, tidak mau minum,
muntah-muntah, dan 2 minggu yang lalu dilakukan steril. Bardasarakan anamnesa, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang kucing Guu didiagnosa mengalami Feline Panleukopenia Virus
(FPV) dengan prognosa dubius sampai infausta. Terapi yang diberikan pada kucing Guu yaitu
dengan pemberian terapi suportif. Pencegahan terhadap FPV dengan melakukan vaksinasi pada
kucing usia 6-9 minggu dan pengulangan vaksin perlu dilakukan.
4. Daftar Pustaka
Acton, Q. A. 2013. Issues in Veterinary Research and Medicine. Scholar Editions.
AtlantasAmerican Veterinary Medical Association [AVMA]. 2010. Feline
Panleukopenia. American Veterinary Medical Association. USA.
Bijanti, R; M. G. A. Yuliani; R. S. Wahjuni; dan R. B Utomo. 2010. Buku Ajar Patologi
Klinik Veteriner. Airlangga University Press. Surabaya
Bionote. 2008. Antigen Rapid FPV Ag Test Kit. Bionote. Korea.
Decaro, N, Bounavoglia, C. 2012. Canine Parvovirus- A Review of Epidemiological and
Diagnostic Aspect with Amphasis on Type 2c.
El-Moamly, A. A. 2014. Immunochromatographic Techniques: Benefit for The Diagnosis
of Parasitic Infections. Austin Chromatogr, Volume I Issue 4-2014
Greene, C. E. 2012. Infectious Disease of the Dog and Cat. Missouri: Elsevier
Lawrence, K; and M. Anthony. 2013. The Effects of Ampicillin on the Growth of
Escherichia coli. Departement of Microbiology North Carolina State University.
Papich, D. C. 2011. Saunders Handbook of Veterinary Drugs: Small and Large Animal.
Elsevier-Saunders. Philadelphia, USA.
Pollock, R. V. 1982. Experimental Canine Parvovirus Infection in Dogs. Cornell. Vet. 72,
203-119.
Syafriati, T. 2004. Deteksi Antibodi Penyakit Feline Panleukopenia pada Kucing dengan
Menggunakan Teknik ELISA. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan
Veteriner, 761-766.
Tilley, L. P; and F.W.K. Smith. 2011. Blackwell’s Five Minute Veterinary Consult:
Canine and Feline. JohnWiley and Sons Inc. USA.
Truyen, U; and K. Mosti. 2009. Feline Panleukopenia. J Feline Med Surg 2009; 11: 538-
546.
Vuuren, M. V; A. Steinel; T. Goosen; E. Lane; J. V. D Lugt; J. Pearson; and U. Truyen.
2000. Feline Panleukopenia Virus Revisited: Molecular Characteristic and
Pathological Lession Associated with Three Recent Isolates. Journal of South
African Veterinary Association 71(3):140-143 (En). Departement of Veterinary
Tropical Disease. Faculty of Veterinary Science. University of Pretoria.

Resep Kucing Guu

R/ Cefat 40 mg
Pronicy ¼ tab
Ranitidine 5 mg
m.f. caps dtd no XVI
s2dd cap I pc

1
R/ Surbex-Z /5 tab
Fluimucil 125 mg
Isoprinosin ¼ tab
1
Cordicep /5 tab
m.f. caps dtd no XVI
s2dd cap I pc