Anda di halaman 1dari 30

Kisah Mengharukan Uwais Al Qarni dan Ibunya Lengkap

Kisah Uwais Al Qarni dan Ibunya- di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini,
abanaonline.com akan menceritakan sebuah kisah yang sangat mengharukan. Beliau
adalah Uwais bin Amir Al Qarni seorang tabiin sekaligus teladan yang zuhud. Sehingga
sampai saat ini beliau dikenal sebagai hamba yang tak dikenal di dunia tapi sangat
terkenal di langit.

Yang jelas kisah perjalanan hidup Uwais Al Qarni dan ibunya, Insyaallah bisa menjadi
inspirasi bagi kita semua untuk selalu taat kepada orangtua terutama ibunya. Baiklah
berikut alur kisah Uwais Al Qorni lengkap mulai dari mengenal biografi atau latar belakang
sampai wafat.

Biografi Singkat Uwais Al Qarni

Nama beliau adalah Abu Amar bin Amir bin Jaz'i bin Malik Al Qorni Al Muradi Al Yamani.
Beliau dilahirkan di Yaman saat peristiwa hijrahnya Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam ke Madinah. Ia seorang tabiin yang hidup di zaman Rasulullah namun belum
pernah bertemu dengan beliau.

Uwais Al Qarni tidak memiliki saudara satupun, yang ia miliki hanyalah seorang ibu yang
sudah tua renta, buta dan lemah. Bahkan Uwais al Qarni sendiri juga mendapat ujian
yakni sebuah penyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Meskipun keadaan yang seperti
itu beliau tetap tumbuh menjadi pemuda yang shalih dan sangat berbakti kepada ibunya.
Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengujinya dengan berbagai
pujian di depan para sahabat.

Pandangan Rasulullah Terhadap Uwais Al Qarni

Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- menggambarkan tentang Uwais Al Qarni, beliau


bersabda, "Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah mencintai di antara makhlukNya
para sahabat yang tersembunyi (tidak terkenal) dan taat, rambut mereka kusut, wajah
mereka penuh debu, dan perut mereka kosong kecuali dari harta yang halal.

Mereka adalah orang-orang yang apabila meminta izin kepada para penguasa tidak akan
diizinkan, apabila melamar wanita wanita kaya tidak akan dinikahkan, apabila tidak hadir
tidak akan dicari-cari, apabila hadir tidak akan dipanggil, apabila mereka muncul maka
kemunculannya itu tidak akan membuat senang, apabila sakit tidak dijenguk dan apabila
meninggal dunia tidak disaksikan."

Para sahabat bertanya, "wahai Rasulullah, bagaimana hubungan kami dengan salah
seorang dari mereka?"

Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam-menjawab, "Dia adalah Uwais Al Qarni."

Mereka bertanya lagi, "Siapakah Uwais Al Qarni?"

Rasulullah bersabda, "Dia adalah seorang laki laki yang bermata biru, berambut pirang,
dadanya bidang, perawakannya sedang, dan kulitnya sawo matang. Dia senantiasa
menundukkan pandangannya, menaruh dagunya di tempat sujud, meletakkan tangan
kanannya di atas tangan kirinya sambil membaca Al Quran lalu menangisi dirinya sendiri.
Dia mengenakan pakaian dan mantel dari kain wol, tidak dikenal di kalangan penduduk
bumi, namun sangat terkenal di kalangan penghuni langit. Apabila dia bersumpah dengan
nama Allah maka dia pasti melaksanakannya dengan benar. Di bawah bahu sebelah
kirinya ada bintik putih.

Pada hari kiamat kelak akan dikatakan kepada hamba hamba Allah, 'Masuklah kalian ke
dalam surga.' Namun dikatakan kepada Uwais, 'Berhentilah dan berikanlah syafaat.' Lalu
dia meminta syafaat kepada Allah untuk orang orang yang jumlahnya sama dengan suku
Rabiah dan Mudhar.

Wahai Umar, wahai Ali, jika kalian berdua bertemu dengannya maka mintalah dia supaya
memohonkan ampunan bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian
berdua." [Al Hilyah, Abu Nu'man (II/81-82)

Kisah Uwais dan Ibunya

Dari hadits rasulullah di atas menunjukkan bahwa beliau memiliki banyak keutamaan dan
kemuliaan, sampai-sampai doanya selalu dikabulkan oleh Allah ta'ala. Lantas apa yang
membuatnya menjadi seperti itu?

Ya, hal itu disebabkan karena Uwais Al Qarni sangat berbakti kepada orangtuanya
terutama pada Ibunya. Salah satu kisahnya yang paling terkenal adalah saat
menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah. Berikut ceritanya.
Dahulu Uwais hanya memiliki ibu yang sudah tua. Apapun permintaan dan keinginan sang
ibu selalu ia turuti. Hanya satu permintaan ibunya yang kala itu sulit sekali ia turuti, yaitu
pergi haji

Zaman dulu jika harus pergi ke Makkah maka harus melewati gurun pasir yang tandus,
panas dan membutuhkan kendaraan serta bekal yang banyak untuk menuju Makkah.
Maka dari itu Uwais sangat kebingungan, di sisi lain ia adalah orang yang sangat miskin
dan tidak mempunyai perbekalan serta kendaraan untuk menghajikan ibunya.

Namun Dia tetap ingin menuruti permintaan ibunya. Uwais terus berpikir dan mencari cara
agar bisa menuruti permintaan ibunya tersebut. Akhirnya ia menemukan cara yang sangat
nekat. Uwais membeli seekor lembu dan membuat kandang di bukit. Setiap hari Uwais
menggendong lembu tersebut dari bawah sampai ke bukit, sehingga banyak yang
mengira Uwais sudah gila.

Tapi, tahukah Antum untuk apa Uwais melakukan hal tersebut? Ternyata hal itu
dilakukannya sebagai bentuk latihan agar kuat menggendong ibunya ke Makkah.
Subhanaallah.

Delapan bulan berlalu, lembu itu semakin gemuk dan ototnya Uwais pun semakin kuat.
Tibalah waktu musim haji, Uwais mendatangi ibunya dan menyanggupi permintaannya.
Namun ibunya benar-benar tidak mengira kalau Uwais akan menggendongnya sampai
Makkah. Baginya ini cara yang sangat nekat.

Akhirnya Uwais menggendong ibunya yang sudah lumpuh tersebut dari Yaman ke
Makkah untuk melaksanakan haji. Subhanallah, perjalanan yang sulit ia tempuh demi
baktinya pada sang ibu. Uwais berjalan dengan tegap dan kuat sampai ke Makkah bahkan
ketika tawaf pun Uwais tetap menggendong ibunya. Sang ibu sangat terharu dan
menangis karena telah melihat Ka'bah. Di hadapan Ka'bah Uwais al Qarni berdoa, "Ya
Allah ampunilah semua dosa ibuku." Ibunya pun bertanya, "Bagaimana dengan dosamu?"

"Dengan terampuninya dosa ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari ibu
yang akan membawaku ke surga." Jawab Uwais dengan tulus dan ikhlas.

Allah memberikan karuniaNya kepada Uwais, kesembuhan pada penyakit sopaknya.


Hanya tertinggal bulatan putih pada tengkuknya (ada yang mengatakan pada telapak
tangan). Hal itu sebagai tanda agar Uwais mudah dikenali sesuai sabda Nabi kepada
Umar dan Ali, bahwa kelak mereka akan bertemu dengan pemuda yang mempunyai
tanda bulat putih pada telapak tangannya, yaitu Uwais al Qarni.

Itulah sepenggal kisah Uwais al Qarni dan Ibunya. Selanjutnya bagaimana kisah
pertemuan Uwais dan Umar bin Khattab radiyallahuanhu?

Kisah Mengharukan Uwais dan Umar bin Khattab

Setelah beberapa tahun yang lalu, apabila telah datang kepada Umar sekelompok dari
Yaman, beliau selalu bertanya, "Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin
Amir?" Umar benar-benar tidak pernah lupa akan sabda nabi shalallahu alaihi wassalam.
Oleh karenanya Umar selalu mengkhususkan pertanyaan dengan menyebut namanya
langsung kepada penduduk dari Yaman.

Hingga akhirnya Umar ditaqdirkan Allah untuk bertemu Uwais yang zuhud. Saat utusan
dari Yaman datang kepadanya, dia kembali bertanya, "Apakah di antara kalian ada yang
bernama Uwais bin Amir?" Mereka menjawab, "ya." Lalu Umar pun berjalan mendatangi
Uwais dan bertanya, "Apakah engkau Uwais bin Amir?"
Dia menjawab, "Ya."

Umar bertanya lagi, "Dari Bani Murad kemudian Bani Qaran?"

Uwais menjawab, "Ya."


Umar bertanya lagi, "Apakah engkau pernah terkena penyakit belang, lalu Allah
menyembuhkannya kecuali yang tersisa hanya sebesar dirham?"

Uwais menjawab, "ya"

Umar bertanya lagi, "Apakah engkau memiliki Ibu?" Uwais menjawab, "ya."

Umar Bin Khattab pun berkata, "Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam-
bersabda , 'Akan datang kepada Uwais bin Amir bersama utusan yang datang dari Yaman
dari Bani Murad, dia memiliki penyakit belang lalu Allah menyembuhkannya kecuali yang
tersisa hanya sebesar dirham, dia memiliki seorang ibu yang sangat dia taati dan dia
perlakukan dengan baik.

Apabila dia bersumpah atas nama Allah maka dia akan melaksanakannya dengan benar,
jika engkau mampu untuk meminta kepadanya agar dia memohonkan ampunan untukmu,
maka lakukanlah.'

Dari hadits nabi di atas, maka Umar memohon agar Uwais mau mendoakan ampunan
untuknya. Umar berkata, "Mohonkanlah ampunan untukku wahai Uwais."

Uwais menjawab, "Apakah pantas orang sepertiku memohonkan ampunan untuk orang
sepertimu wahai Amirul Mukminin?"

Namun Umar terus mengulangi permohonannya. Maka Uwais pun memohonkan


ampunan untuknya seraya berdoa, " Ya Allah ampunilah Umar Bin Khattab."

Kemudian Umar Bin Khattab kembali bertanya, "Kemana engkau akan pergi ?"

Uwais menjawab, "Aku akan pergi ke Kufah."

Umar berkata, "Bolehkah aku menuliskan surat untukmu kepada penguasa di sana?"

Uwais menjawab, "Aku lebih senang jika berada di antara orang-orang awam yang tidak
terkenal di sana."
Lalu Umar melanjutkan perkataannya kepada Uwais, "Siapakah orang yang engkau
tinggalkan di Yaman?"

Uwais menjawab, "Aku meninggalkan ibuku." Kemudian Umar terus mendesak lagi untuk
memohonkan ampunan baginya,

Umar pun berkata kepada Uwais, "Sejak hari ini engkau adalah saudaraku maka
janganlah engkau meninggalkan aku."

Pada saat itu Uwais melepaskan diri dari tangan Umar dan pergi ke Kufah untuk mencari
rezeki serta mendekatkan diri kepada majelis para ulama dan orang-orang zuhud di
negeri Irak.

Ketika Uwais hendak meninggalkan Umar bin Khattab untuk pergi ke Kufah, Umar bin
Khattab berkata kepadanya, "Tetaplah di tempatmu, semoga Allah merahmatimu. Sampai
aku masuk ke Makkah lalu memberimu tunjangan hidup dari harta pemberian pribadiku
dan beberapa helai pakaian dari pakaian milikku."

Kemudian Umar menyakinkan lagi seraya berkata, "Tunggulah di sini wahai Uwais,
tempat ini tempat perjanjian antara aku dan engkau."

Maka Uwais berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tidak ada tempat perjanjian antara aku
dan engkau, aku tidak yakin engkau akan mengenali aku lagi setelah hari ini, apa yang
dapat aku lakukan dengan tunjangan itu wahai Amirul Mukminin dan apa yang dapat aku
lakukan dengan pakaian itu? Bukankah engkau melihat saat ini aku mengenakan pakaian
dari mantel kain wol? Pada saat engkau bertemu aku lagi, bisa jadi aku telah merobeknya,
bukankah engkau melihat kedua sandalku ini ditambal? Pada saat engkau bertemu aku
lagi, bisa jadi keduanya telah usang.

Wahai Amirul Mukminin di antara aku dan engkau ada rintangan yang menghalangi dan
tidak dapat dilampaui kecuali orang yang kurus dan memiliki sedikit harta, maka
jadikanlah aku orang yang sedikit hartanya. Semoga Allah merahmatimu wahai Amirul
Mukminin, engkau dan aku akan berpisah di tempat ini."

Lalu Umar pun pergi ke Mekkah seraya mengucapkan salam perpisahan kepada Uwais
yang berlalu pergi sambil menggiring untanya, lalu dia memberikan unta itu kepada
pemiliknya, dia meninggalkan penggembalaan dan setelah itu dia hanya menghadapkan
dirinya untuk beribadah. Nah begitulah kisah Uwais al Qarni bersama Khalifah Umar bin
Khattab radiyallahuanhu.

Wafatnya Uwais Al Qarni

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab yang merupakan masa dimana penaklukan
Islam sedang berlangsung begitu dahsyat, kaum muslimin pergi untuk memerangi Negeri
Azerbaijan dan mencoba untuk menaklukkannya, maka jatuhlah panji-panji kemusyrikan
dan berjayalah panji-panji Islam di semua tempat.

Abdullah bin Salamah salah seorang pahlawan pada pertempuran Azerbaijan, dia
bercerita tentang wafatnya Uwais Al Qarni. "Kami memerangi Azerbaijan pada masa
pemerintahan sahabat Umar Bin Khattab dan pada saat itu Uwais Al Qarni ada bersama
kami, setelah kami kembali dari pertempuran kami merasakan bahwa dia sakit maka kami
pun membawanya dan mengobatinya semampu kami, namun dia tidak dapat bertahan
dan meninggal dunia, lalu Kami pun berhenti dan ternyata di sana ada sebuah kuburan
yang telah digali, air yang mengalir terus-menerus, kain kafan dan balsam. Maka kami
pun memandikannya, mengkafaninya, menshalatkannya dan menguburkannya.

Lalu sebagian dari kami berkata kepada sebagian yang lain, "Seandainya kita kembali
lagi ke tempat itu maka kita pasti mengenali kuburannya." Kemudian kami kembali lagi ke
sana, namun kami tidak menemukan kuburan atau bekas apapun.

Berita meninggalnya Tabiin Uwais al Qarni telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah
penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al Qarni sebenarnya. Selama ini tidak ada
yang mengetahuinya sehingga banyak penduduk Yaman yang tidak tahu keutamaannya.
Selain itu hal ini juga disebabkan karena permintaan Uwais kepada Umar agar
merahasiakan tentangnya.

Dan setelah meninggal para penduduk Yaman baru mendengar sabda Nabi mengenai
Uwais yang terkenal di langit dan tidak di bumi.

Subhanallah, kisah Uwais al Qarni sangat patut dijadikan pelajaran untuk kita semua. Ia
memiliki amalan yang sangat mulia, berbakti pada ibunya sehingga banyak orang yang
meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi Nabi sudah menyampaikan jauh-
jauh hari bahwa doa Uwais akan terkabulkan. Sungguh mengharukan [Kitab Ashrut Tabiin
(kisah para tabiin), Syaikh Abdul Mun'im Al Hasyimi, Ummul Qura II/307-323 dengan
banyak perubahan bahasa dan tata letak].

KISAH WALIYYULLAH UWAIS ALQORNI


Tahukah kamu siapakah Uwais al-Qarni? Uwais al-Qarni merupakan pemuda
yang disebut-sebut namanya oleh Rasullulah saw kepada para sahabat
baginda.

Rasullulah saw pernah berpesan kepada Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra
bahawa akan lahir di kalangan tabiin seorang yang sangat makbul doa yang
akan lahir di zaman kamu (zaman selepas kewafatan Rasullulah saw).

Tujuan Rasullulah saw menyuruh Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra mencari
Uwais al-Qarni tidak lain ialah meminta Uwais al-Qarni berdoa kepada Allah
supaya mengampunkan dosa-dosa sahabat (Saidina Umar ra dan Saidina Ali
ra).

Marilah kita lihat apa istimewanya Uwais al-Qarni sehingga Rasullulah saw
meminta sahabat mencari dan meminta doa darinya.
Memang benarlah kata-kata Rasulullah S.A.W, Uwais al-Qarni akhirnya muncul
di zaman Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra. Kedua-dua mereka yang memang
menunggu dan mencari kabilah-kabilah yang datang dari Yaman ke Madinah,
akhirnya bertemu juga dengan Uwais al-Qarni. Pada pandangan mata kasar
mereka, tidak mungkin dia adalah orang yang Rasulullah saw sebut-sebutkan
ini kerana, Uwais Al-Qarni dianggap sebagai seorang yang kurang waras di
kalangan orang awam atau penduduk setempat.

Uwais Al-Qarni adalah seorang yang berpenyakit sopak di seluruh tubuh


badannya, yakni sejenis penyakit kulit yang tidak digemari ramai. Walaupun
begitu, beliau adalah seorang yang soleh yang amat mengambil berat tentang
ibunya yang uzur dan lumpuh. Beliau begitu tekun untuk mendapatkan
keredhaan ibunya. Bapa beliau meninggal dunia ketika beliau masih kecil lagi.
Beliau berpenyakit sopak sejak dilahirkan dan ibunya menjaganya sampai
beliau dewasa.

Suatu hari ibunya memberitahu kepada Uwais Al-Qarni bahawa dia ingin sekali
untuk mengerjakan ibadat haji. di Mekah. Ibunya menyuruh Uwais Al-Darni
supaya berikhtiar agar beliau dapat membawanya ke Mekah untuk
menunaikan haji. Sebagai seorang yang miskin, Uwais Al-Qarni tidak berdaya
untuk mencari perbelanjaan untuk ibunya kerana pada zaman itu kebanyakan
orang pergi menunaikan haji dari Yaman ke Mekah perlu menyediakan
beberapa ekor unta yang dipasang di atasnya ‘Haudat’. Haudat ialah sebuah
rumah kecil yang diletakkan di atas unta untuk melindungi diri daripada cuaca
panas matahari dan hujan.

Uwais tidak mampu menyediakan perbelanjaan untuk ibunya pergi


mengerjakan haji apatah lagi untuk memiliki unta.

Namun atas permintaan ibunya yang sangat Uwais kasihi. Uwais Al-Qarni
mendapat suatu ilham. Beliau membeli seekor anak lembu yang baru lahir dan
sudah habis menyusu. Beliau membuat sebuah rumah di atas ‘Tilal’ (tanah
tinggi). Rumah untuk lembu itu dibina di atas bukit, apa yang beliau lakukan
ialah pada petang hari beliau akan mendukung anak lembu untuk naik ke atas
Tilal. Pagi esoknya beliau akan mendukung lembu itu turun dari Tilal tersebut
untuk diberi makan. Itulah yang dilakukannya setiap hari. Ada ketikanya dia
mendukung lembu itu mengelilingi bukit tempat dia memberi lembu itu makan.
Perbuatan yang dilakukannya ini menyebabkan orang mengatakan beliau
kurang waras.
Memang pelik, membuatkan rumah untuk lembu di atas bukit, kemudian setiap
hari mengusung lembu, petang dibawa naik, pagi dibawa turun bukit.

Namun sebenarnya jika dilihat di sebaliknya, Uwais al-Qarni seorang yang


bijak. Lembu yang asalnya hanya 20kg, selepas 6 bulan lembu itu sudah
menjadi 100kg. Otot-otot tangan dan badan Uwais Al-Qarni pula menjadi kuat
hinggakan dengan mudah mengangkat lembu seberat 100kg turun dan naik
bukit setiap hari.

Selepas 8 bulan, apabila sampai musim haji. Rupa-rupanya perbuatannya


selama ini adalah satu persediaan untuk beliau membawa ibunya mengerjakan
haji. Beliau telah memangku ibunya dari Yaman sampai ke Mekah dengan
kedua tangannya. Di belakangnya beliau meletakkan barang-barang keperluan
seperti air, roti dan sebagainya. Lembu yang beratnya 100kg boleh didukung
dan dipangku inikan pula ibunya yang lebih ringan. Beliau membawa
(mendukung dan memangku) ibunya dengan kedua tangannya dari Yaman ke
Mekah, mengerjakan Tawaf, Saie dan di Padang Arafah dengan senang sahaja.
Uwais juga memangku ibunya dengan kedua tangannya pulang semula ke
Yaman dari Mekah.

Setelah pulang semula ke Yaman, ibunya bertanya:

“Uwais, apa yang kamu doakan sepanjang kamu berada di Mekah?”

Uwais Al-Qarni menjawab:

“Saya berdoa minta supaya Allah mengampunkan semua dosa-


dosa ibu”.

Ibunya bertanya lagi:

“Bagaimana pula dengan dosa kamu?”

Uwais Al-Qarni menjawab:

“Dengan terampun dosa ibu, ibu akan masuk syurga. Cukuplah ibu
ridha dengan saya, maka saya juga masuk syurga.”

Ibunya berkata lagi:


“Ibu inginkan supaya engkau berdoa agar Allah hilangkan sakit
putih (sopak) kamu ini.”

Uwais Al-Qarni berkata:

“Saya keberatan untuk berdoa kerana ini Allah yang jadikan. Kalau
tidak ridha dengan kejadian Allah, macam saya tidak bersyukur
dengan Allah Ta’ala.”

Ibunya menambah:

“Kalau ingin masuk ke syurga, mesti taat kepada perintah ibu. Ibu
perintahkan engkau berdoa.”

Akhirnya Uwais Al-Qarni tidak ada pilihan melainkan mengangkat tangan dan
berdoa. Beliau lalu berdoa seperti yang diminta oleh ibunya supaya Allah
menyembuhkan putih yang luar biasa (sopak) yang dihidapinya itu.

Allah SWT lalu menyembuhkan serta merta, hilang putih sopak di seluruh
badannya kecuali tinggal satu tompok sebesar duit syiling di tengkuknya.
Tanda tompok putih kekal pada Uwais Al-Qarni kerana permintaannya, kerana
sopak ini adalah satu anugerah, maka inilah tanda pengenalan yang disebut
Rasulullah saw kepada Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra:

“Tandanya kamu nampak di belakangnya ada satu bulatan putih,


bulatan sopak. Kalau berjumpa dengan tanda itu, dialah Uwais al-
Qarni.”

Tidak lama kemudian, ibunya meninggal dunia. Beliau telah menunaikan


kesemua permintaan ibunya. Selepas itu beliau telah menjadi orang yang paling
tinggi martabatnya di sisi Allah. Saidina Umar ra dan Saidina Ali ra dapat
berjumpa dengan Uwais Al-Qarni dan seperti yang diperintahkan oleh
Rasulullah S.A.W, mereka meminta supaya beliau berdoa agar Allah SWT
berkenan mengampuni semua dosa-dosa mereka berdua.

Ketika Uwais al-Qarni berjumpa Saidina Umar dan Saidina Ali, beliau berkata:
“Aku ini datang dari Yaman ke Madinah kerana aku ingin
menunaikan wasiat Rasulullah S.A.W kepada kamu iaitu supaya
kamu berdua berjumpa dengan aku.”

Maka Uwais Al-Qarni pun telah mendoakan untuk mereka berdua.

Setelah itu Saidina Umar, yang ketika itu memegang jawatan Khalifah, saidina
umar mahu membuat surat kepada Gabenor Kufah supaya melayan Uwais Al-
Qarni dengan layanan yang istimewa. Namun begitu ditolak dengan baik oleh
Uwais Al-Qarni.

Lalu Uwais Al-Qarni menjawab dengan lembut :

“Berada di tengah-tengah orang ramai sehingga tidak


dikenali lebih aku sukai.”

Diriwayatkan semasa kewafatan beliau, terlalu ramai “orang” yang


menyempurnakan jenazah beliau. Daripada urusan memandikan sehinggalah
dibawa ke liang lahad. Agak menghairankan kerana pada masa hidup beliau
tiada orang yang memperdulikan beliau yang miskin. Malah ada yang
menganggap beliau seorang yang gila. Siapakah “orang-orang” tersebut.
Mereka itu adalah penduduk-penduduk langit yang terdiri daripada malaikat-
malaikat.

KISAH UWAIS WALIYULLAH UWAIS ALQORNI

Demikianlah kisah Uwais Al-Qarni yang amat taat dan kasih kepada ibunya.
Seorang Wali Allah yang tidak terkenal di bumi, tetapi amat terkenal di langit.
Wallahua’lam.

KISAH UWAIS AL-QORNI

Sesungguhnya aku merasakan nafas ar-Rahman, nafas dari Yang Maha Pengasih,
mengalirkepadaku dari Yaman! Demikian sabda Nabi SAW tentang diri Uwais, yang
kemudian dalam tradisi tasawuf menjadi contoh bagi mereka yang memasuki tasawuf
tanpa dituntun oleh sang guru yang hidup. Para sufi yang mengaku dirinya telah
menempuh jalan tanpa pembaiatan formal kemudian disebut dengan istilah Uwaisi.
Mereka ini dibimbing langsung oleh Allah di jalan tasawuf, atau telah ditasbihkan oleh wali
nabi yang misterius, Khidhir.

Uwais yang bernama lengkap Uwais bin Amir al-Qarani berasal dari Qaran, sebuah desa
terpencil di dekat Nejed. Tidak diketahui kapan beliau dilahirkan. Ia kilahirkan oleh
keluarga yang taat beribadah. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan kecuali dari kedua
orang tuanya yang sangat ditaatinya.

Untuk membantu meringankan beban orang tuanya, ia bekerja sebagai penggembala dan
pemelihara ternak upahan. Dalam kehidupan kesehariannya ia lebih banyak menyendiri
dan bergaul hanya dengan sesama penggembala di sekitarnya. Oleh karenanya, ia tidak
dikenal oleh kebanyakan orang disekitarnya, kecuali para tuan pemilik ternak dan
sesamanya, para penggembala.

Hidupnya amat sangat sederhana. Pakaian yang dimiliki hanya yang melekat di tubuhnya.
Setiap harinya ia lalui dengan berlapar-lapar ria. Ia hanya makan buah kurma dan minum
air putih, dan tidak pernah memakan makan yang dimasak atau diolah. Oleh karenanya,
ia merasakan betul derita orang-orang kecil disekitarnya. Tidak cukup dengan empatinya
yang sedemikian, rasa takutnya kepada Allah mendorongnya untuk selalu berdoa kedapa
Allah : Ya Allah, janganlah Engkau menyiksaku, karena ada yang mati karena kelaparan,
dan jangan Engaku menyiksaku karena ada yang kedinginan.

Ketaatan dan kecintaannya kepada Allah, juga termanifestasi dalam kecintaannya dan
ketaatannya kepada Rasulullah dan kepada kedua orang tuanya, sangat luar biasa. Di
siang hari, ia bekerja keras, dan dimalam hari, ia asik bermunajat kepada Allah swt. Hati
dan lisannya tidak pernah lengah dari berdzikir dan bacaan ayat-ayat suci al-Quran,
meskipun ia sedang bekerja. Ala kulli hal, ia selalu berada bersama Tuhan, dalam
pengabdian kepada-Nya.

Rasulullah saw menuturkan keistimewaan Uwais di hadapan Allah kepada Umar dan Ali
bahwa dihari kiamat nanti, disaat semua orang dibangkitkan kembali, Uwais akan
memberikan syafaat kepada sejumlah besar umatnya, sebanyak jumlah domba yang
dimiliki Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak).
Karena itu, Rasulullah menyarankan kepada mereka berdua agar menemuinya,
menyampaikan salam dari Rasulullah, dan meminta keduanya untuk mendoakan
keduanya, yang digambarkan bahhwa Uwais memiliki tinggi badan yang sedang dan
berambut lebat, dan memiliki tanda putih sebesar dirham pada bahu kiri dan telapak
tangannya.

Sejak Rasulullah menyarankan keduanya untuk menemuinya, sejak itu pula keduanya
selalu penasaran ingin segera bertemu dengan Uwais. Setiap kali Umar maupun Ali
bertemu dengan rombongan orang-orng Yaman, ia selalu berusaha mencaru tahu dimana
keberadaan Uwais dari rombongan yang ditemuinya. Namun, keduanya selalu gagal
mendapatkan informasi tentang Uwais.

Barulah setalah Umar diangkat menjadi khalifah, informasi tentang Uwais keduanya
perolih dari serombongan orang Yaman, Ia tampak gila, tinggal sendiri dan tidak brgaul
dengan masyarakat. Ia tidak makan apa yang dimakan oleh kebanyakan orang, dan tidak
tampak susan atau senang. Ketika orang-orang tersenyum ia menangis, dan ketika orang-
orang menangis ia tersenyum. Demikian kata rombongan orang-orang Yaman tersebut.
Mendengar cerita orang-orang Yaman tersebut, Umar dan Ali segera berangkat menuju
tempat yang ditunjukkan oleh orang-orang Yaman tadi.

Akhirnya, keduanya bertemu dengan Uwais di suatu tempat terpencul. Abi Naim al-
Afshani menuturkan dialog yang kemudian terjadi antara Umar dan Ali dengan Uwai al-
Qarani sebagai berikut:

Umar : Apa yang anda kerjakan disini ?

Uwais : Saya bekerja sebagai penggembala

Umar : Siapa nama Anda?

Uwais : Aku adalah hamba Allah

Umar : Kita semua adalah hamba Allah, akan tetapi izinkan kami untuk mengetahui anda
lebih dekat lagi

Uwais : Silakan saja.

Umar dan Ali : Setelah kami perhatikan, andalah orang yang pernah diceritakan oleh
Rasulullah SAW kepada kami. Doakan kami dan berilah kami nasehat agar kami beroleh
kebahagiaan dunia dan di akherat kelak.

Uwais : Saya tidak pernah mendoakan seseorang secara khusus. Setiap hari saya selalu
berdoa untuk seluruh umat Islam. Lantas siapa sebenarnya anda berdua.

Ali : Beliau adalah Umar bin Khattab, Amirul Muminin, dan saya adalah Ali bin Abi Thalib.
Kami berdua disuruh oleh Rasulullah SAW untuk menemui anda dan menyampaikan
salam beliau untuk anda.

Umar : Berilah kami nasehat wahai hamba Allah

Uwais : Carilah rahmat Allah dengan jalan taat dan penuh harap dan bertawaqal kepada
Allah.

Umar :Terimakasih atas nasehat anda yang sangat berharga ini. Sebagai tanda terima
kasih kami, kami berharap anda mau menerima seperangkat pakaian dan uang untuk
anda pakai.

Uwais : Terimakasih wahai Amirul muminin. Saya sama sekali tidak bermaksud menolak
pemberian tuan, tetapi saya tidak membutuhkan apa yang anda berikan itu. Upah yang
saya terima adalah 4 dirham itu sudah lebih dari cukup. Lebihnya saya berikan kepada
ibuku. Setiap hari saya cukup makan buah kurma dan minum air putih, dan tidak pernah
makan makan yang di masak. Kurasa hidupku tidak akan sampai petang hari dan kalau
petang, kurasa tidak akan sampai pada pagi hari. Hatiku selalu mengingat Allah dan
sangat kecewa bila sampai tidak mengingat-Nya.

Ketika orang-orang Qaran mulai mengetahui keduduka spiritualnya yang demikian tinggi
di mata Rasulullah saw, mereka kemudian berusaha untuk menemui dan memuliakannya.
Akan tetapi, Uwais yang sehari-harinya hidup penuh dengan kesunyian ini, diam-diam
meninggalkan mereka dan pergi menuju Kufah, melanjutkan hidupnya yang sendiri. Ia
memilih untuk hidup dalam kesunyian, hati terbatas untuk yang selain Dia.

Tentu saja, kesunyian disini tidak identik dengan kesendirian (pengasingan diri). Hakekat
kesendirian ini terletak pada kecintaanya kepada Tuhan. Siapa yang mencintai Tuhan,
tidak akan terganggu oleh apapun, meskipun ia hidup ditengah-tengah keramaian. Alaisa
Allah-u bi Kafin abdahu?

Setelah seorang sufi bernama Harim bin Hayyam berusaha untuk mencari Uwais setelah
tadak menemukannya di Qaran. Kemudian ia menuju Basrah. Di tengah perjalanan
menuju Basrah, inilah, ia menemukan Uwais yang mengenakan jubah berbulu domba
sedang berwudhu di tepi sungai Eufrat. Begitu Uwais beranjak naik menuju tepian sungai
sambil merapikan jenggotnya. Harim mendekat dan memberi salam kepadanya.

Uwais : menjawab: Wa alaikum salam, wahai Harim bin Hayyan.Harim terkejut ketika
Uwais menyebut namanya.Bagaimana engakau mengetahui nama saya Harim bin
Hayyan? tanya Harim. Rohku telah mengenal rohmmu, demikian jawan Uwais.

Uwais : kemudian menasehati Harim untuk selalu menjaga hatinya. Dalam arti
mengarahkannya untuk selalu dalam ketaatan kepada-Nya melalui mujahadah, atau
mengarahkan diri dirinya untuk mendengar dan mentaati kata hatinya.

Meski Uwais menjalani hidupnya dalam kesendirian dan kesunyian, tetapi pada saat-saat
tertentu ia ikut berpartisipasi dalam kegiatan jihad untuk membela dan mempertahankan
agama Allah. Ketika terjadi perang Shiffin antara golongan Ali melawan Muawiyah, Uwais
berdiri di golongan Ali. Saat orang islam membebaskan Romawi, Uwais ikut dalam barisan
tentara Islam. Saat kembali dari pembebasan tersebut, Uwais terserang penyakit dan
meninggal saat itu juga. (t.39 H).

Demikianlah sekelumit tentang Uais al-Qarani, kemudian hri namanya banyak di puji oleh
masyarakat. Yunus Emre misalnya memujinya dalam satu sajak syairnya :
Kawan tercinta kekasih Allah;

Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani.

Dia tidak berbohong ; dan tidak makan makan haram

Di tanah Yaman, Uwais al-Qarani

Di pagi hari ia bangun dan mulai bekerja,

Dia membaca dalam dzikir seribu satu malam Allah;

Dengan kata Allahu Akbar dia menghela unta-unta

Di tanah Yaman, Uwais alQarani

Negeri Yaman negeri di sebelah kanan , negeri asal angin sepoi-sepoi selatan yang
dinamakan nafas ar-rahman, Nafas dari Yang Maha Pengasih, yang mencapai Nabi
dengan membawa bau harum dari ketaatan Uwais al-Qarani, sebagaimana angin sepoi-
sepoi sebelumnya yang mendatangkan keharuman yang menyembuhkan dari kemeja
Yusuf kepada ayahnya yang buta. Yakub (QS, 12: 95), telah menjadi simbul dari Timur
yang penuh dengan cahaya, tempat dimana cahaya muncul, yang dalam karya Suhrawadi
menggambarkan rumah keruhanian yang sejati. Negeri di sebelah kanan itu adalah tanah
air Uwais al-Qarani yanag memeluk Islam tanpa pernah betemu dengan nabi. Hikmah
Yamaniyyah, Kebijaksanaan Yaman, dan Hikmah Yamaniyyah,filosofi Yanani,
bertentangan, sebagaimana makrifat intuitif dan pendekatan intelektual, sebagaimana
Timur dan Barat.

Doa dan Dzikir

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari diri Uwais al-Qarani, kemudian menjadi landasan
dalam tareqat-tareqat sufi, selain baktinya yang luar biasa terhadap kedua orang tuanya
dan sikap zuhudnya, adalah doa dan dzikirnya. Uwais tidak pernah berdoa khusus untuk
seseorang, tetapi selalu berdoa untuk seluruh umat kaum muslim. Uwais juga tidak
pernah lengah dalam berdzikir meskipun sedang sibuk bekerja, mengawasi dan
menggiring ternak-ternaknya.

Doa dan dzikir bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Hakekatnya
adalah satu. Sebab, jelas doa adalah salah satu bentuk dari dzikir, dan dzikir kepadaKu
hingga ia tidak sempat bermohon (sesuatu) kepada-Ku, maka Aku akan mengaruniakan
kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang diminta orang yang berdoa kepada-Ku.
Uwais selalu bedoa untuk seluruh muslimin. Doa untuk kaum muslim adalah salah satu
bentuk perwujudan dari kepedulian terhadap urusan kaum muslim. Rasulullah saw.
Pernah memperingatkan dengan keras: Siapa yang tidap peduli dengan urusan kaum
muslim, maka ia tidak termasuk umatku. Dalam hal ini, Rasulullah saw menyatakan
bahwa permohonan yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang untuk
saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan dan mendahulukan doa untuk
selain dirinya. Dan Uwais lebih memilih untuk medoakan seluruh saudaranya seiman.

Suatu ketika Hasan bin Ali terbangun tengah malam dan melihat ibunya, Fatimah az-
Zahra, sedang khusu' berdoa. Hasan yang pensasaran ingin tahu apa yang diminta
ibunya dalam doanya berusaha untuk menguping. Namun Hasan agak sedikit kecewa,
karena dari awal hingga akhir doanya, ibunya, hanya meminta pengampunan dan
kebahagian hidup untuk seluruh kaum muslimin di dunia dan di akhirat kelak. Selesai
berdoa, segera Hasan bertanya kepada ibunya perihal doanya yang sama sekali tidak
menyisakan doanya untuk dirinya sendiri. Ibunya tersenyum, lalu menjawab bahwa
apapun yang kita panjatkan untuk kebahagiaan hidup kaum muslim, hakekatnya,
permohonan itu akan kembali kepada kita. Sebab para malaikat yang menyaksikan doa
tersebut akan berkata Semoga Allah mengabulkanmu dua kali lipat.

Dari prinsip tersebut, para sufi kemudian menarik suatu prinsip yang lebih umum yang
padanya bertumpu seluruh rahasia kebahagiaan. Apa yang kita cari dalam kehidupan ini,
harus kita berikan kepad orang lain. Jika kebajikan yang kita cari, berikanlah; jika
kebaikan, berikanlah; jika pelayanan, berikanlah. Bagi para sufi, dunia adalah kubah, dan
perilaku seseorang adalah gema dari pelaku yang lain. Secuil apapun kebaikan yang kita
lakukan, ia akan kembali. Jika bukan dari seseorang, ia akan datang dari orang lain. Itulah
gemanya. Kita tidak mengetahui dari mana sisi kebaikan itu akan datang, tetapi ia akan
datang beratus kali lipat dibanding yang kita berikan.

Demikianlah, berdoa untuk kaum mulim akan bergema di dalam diri yang tentu saja akan
berdampak besar dan positif dalam membangun dan meningkatkan kualitas kehidupan
spiritual seseorang. Paling tidak, doa ini akan memupus ego di dalam diri yang merupakan
musuh terbesar, juga sekalihgus akan melahirkan dan menanamkan komitmen dalam diri
rasa Cintadan prasangka baikterhadap mereka, yang merupakan pilar lain dari ajaran sufi,
sebagai manifestasi cinta dan pengabdian kepada Allah swt.

Uwais tidak pernah lengah untuk berdzikir, mengingat dan mnyebut-nyebut nama Allah
meskipun ia sedang sibuk mengurus binatang ternaknya. Dzikir dalam pengertiannya,
yang umum mencakup ucapan segala macam ketaatan kepada Allah swt. Namun yang
dilakukan Uwais disini adlah berdzikir dengan menyebut nama-nama Allah dan meningat
Allah, juga termasuk sifat-sifat Allah.

Ibn Qayyim al-Jauziyyah ketika memaparkan berbagai macam faedah dzikir dalm
kitabnya al-wabil ash-shayyab min al-kalim at-thayyib menyebutkan bahwa yang paling
utama pada setiap orang yang bramal adalah yang paling banyak berdzikir kepad Allah
swt. Ahli shaum yang paling utama adalah yang paling banyak dzikirnya; pemberi
sedekah yang paling baik adalah yang paling banyak dzikirnya; ahli haji yang paling utama
adalah yang paling banyak berdzikir kepada Allah swt; dan seterusnya, yang mencakup
segala aktifitas dan keadaan.

Syaikh Alawi dalam al-Qawl al-Mutamad, menyebutkan bahwa mulianya suatu nama
adalah kerena kemuliaan pemilik nama itu, sebeb nama itu mengandung kesan
sipemiliknya dalam lipat tersembunyi esensi rahasianya dan maknanya. Berdzikir dan
mengulang-ulang Asma Allah, Sang Pemilik kemuliaan, dengan demikian, tak diragukan
lagi akan memberikan sugesti, efek, dan pengaruh yang sangat besar. Al-Ghazali
menyatakan bahwa yang diperoleh seorang hamba dari nama Allah adalah taalluh
(penuhanan), yang berarti bahwa hati dan niatnya tenggelan dalam Tuhan, sehingga yang
dilihat-Nya hanyalah Dia.

Dan hal ini, dalam pandangan Ibn Arabi, berarti sang hamba tersebut menyerap nama
Allah, yang kemudian merubahnya dengan ontologis. Demikianlah, setiap kali kita
menyerap asma Allah lewat dzikir kepada-Nya, esensi kemanusiaan kita berubah. Kita
mengalami tranformasi. Yanag apada akhirnya akan membuahkan akhlak al-karimah
yang merupakan tujuan pengutusan rasulullah Muhammad saw.

Dilihat dari sudut pandang psikologis sufistik, pertama-tama dzikir akan memberi kesan
pada ruh seseorang, membentuknya membangun berbagai kualitas kebaikan, dan
kekuatan inspirasi yang disugestikan oleh nama-nama itu. Dan mekanisme batiniah
seseorang menjadi semakin hidup dari pengulangan dzikir itu, yang kemudian mekanisme
ini berkembang pada pengulangan nama-nama secara otomatis.

Jadi jika seseorang telah mengilang dzikirnya selama satu jam, misalnya, maka
sepanjang siang dan malam dzikir tersebut akan terus berlanjut terulang, karena jiwanya
mengulangi terus menerus. Pengulangan dzikir ini, juga akan terefleksi pada ruh semesta,
dan mekanisme universal kemudian mengulanginya secara otomatis. Dengan kata lain,
apa yang didzikirkan manusia dengan menyebutnya berulang-ulang. Tuhan kemudian
mulai mengulanginya, hingga termaterialisasi dan menjadi suatu realita di semua tingkat
eksistensi. Wallahu alam bis-shawab.[ ]

AMALAN ISTIMEWAH UWAIS AL-QORNI

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah,
pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya
menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada
tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang
menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit. Dia, jika
bersumpah demi Allah pasti terkabul.

Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil
agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi
syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang
ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin,
banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk,
tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai
pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi
olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu
dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”. Pemuda dari Yaman ini telah
lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh.
Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais
bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar
menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu
tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.

Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak
mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di
malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan
Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan
Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak
luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah
seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu
merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke
Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di
Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah
sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah
“bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.

Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang
kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia
beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya Di ceritakan ketika terjadi
perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh
musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan
batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW,
sekalipun ia belum pernah melihatnya.

Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia
dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia
mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari
Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar
diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata
: “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau
kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan
keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat
menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah
Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang
begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas
yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW
yang selama ini dirindukannya.

Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam
Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW
tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari
jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak
perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau
pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,
agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya,
pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan
berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah
r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan
melangkah pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang
mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat
kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi
sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke
Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya
terlalu lama.

Rasulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni),
perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika,
apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan
bukan penghuni bumi”.

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu
Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat
akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan
kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari
Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai
ia dicari oleh beliau berdua.

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada
rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w.
mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu
mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan
kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi
salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah
Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada
ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar
! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ?
“Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan :
“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya,
ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali
k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata
kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais,
Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan
kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan
membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara
dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus
dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari
selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.

NASEHAT IMAM UWAIS AL QORNI

Imam Uwais Al-Qarni* mengatakan: “Allah SWT tidak menerima ibadah dan ketaatanmu meskipun
itu sebanyak ibadah seluruh penghuni langit dan bumi, sampai engkau percaya kepada jaminan-
Nya.” Lalu, beliau ditanya, “Apa yang engkau maksud dengan percaya kepada jaminan-Nya itu?”
Beliau menjawab, “Yakinlah kepada jaminan Allah untuk memberi rezeki kepadamu. Yakinlah
dengan itu, lalu curahkan dirimu untuk beribadah kepada-Nya.” --Dikutip dari Kitab Minhajul
‘Abidin karya Imam Al-Ghazali

*Seorang pemuda yang hidup di masa Nabi Muhammad SAW yang tidak terkenal bagi penghuni
bumi tetapi terkenal bagi penghuni langit.

SHOLAWAT UWAIS AL-QORNI

َّ‫ﻟَﻚَ ﻣَﻌْﻠُﻮْﻡٍ ﻛُﻞِّ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﻭَﻋِﺘْﺮَﺗِﻪٖ ﺁﻟِﻪٖ ﻭَﻋَﻠٰﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻋَﻠﻰٰ ﺻـﻞِّ ﺍﻟﻠّٓﻬُﻢ‬. ُ‫ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺃﺳْﺘَﻐْﻔِﺮ‬. َ‫ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻭَﺍَﺗُﻮْﺏُ ﺍﻟْﻘَﻴُّﻮْﻡُ ﺍﻟْﺤَﻲُّ ﻫُﻮَ ﺇِﻟَّﺎ ﻻَﺇِﻟٰﻪ‬. ُّ‫ﻳَﺎﺣَﻲ‬
‫ ُﻡْ ُّﻮﻴَﻗﺎَﻳ‬.

Allaahumma Shalli ‘alaa Sayyidinaa Muhammadiun Wa Aalihii Wa’itratihii bi ‘Adadi Kulli Ma’ luumil-
laka. Astaghfirullaah al 'azhim. La ilaahaa illaa huwal Hayyul Qayyuumu Wa Atuubu ilaih. Yaa Hayyu
Yaa Qayyuum.

Artinya : Ya Allah, limpahkan Berkah shalawat atas Nabi Muhammad dan atas keluarga besarnya
dan keturunannya menurut jumlah segala sesuatu yang diketahui-Mu. Saya memohon
pengampunan dari Yang Maha Agung, Tiada Dia selain Allah, Yang Maha Sempurna Hidup dan
Diri berkelanjutan dan aku berbalik kepada-Nya dengan pertobatan. Wahai Yang Sesungguhnya
Hidup dan Maha Sempurna.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang
lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal
menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus
dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk
ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-
laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya
kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu
kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki
itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal
dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya.
“Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca
bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu.
Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami
,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin
tahu, siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian
kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-
orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian.
Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.“Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a.
Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami
menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan
seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah.
Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk
memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada
orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak
menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga
selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi
jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali
ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat
ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang
bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-
hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan
orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ
selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman
tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ?
Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya
hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah
menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah
kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para
malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat
itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi
menjadi terkenal di langit.
AMALIYAH UWAIS AL-QORNI

Kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni patut diambil ibrahnya. Tabiin ini
memiliki amalan mulia, bakti pada orang tua. Banyak orang yang
meminta doa kebaikan melalui perantara Uwais.

Diantara ibrahnya adalah:

Pertama, VISIONER: Terbetik lah kabar dari pembawa cerita


terpercaya.

Umar berkata, “Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah saw


bersabda: “Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin ‘Amir
bersama serombongan pasukan dari Yaman. Ia berasal dari Murad
kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh
darinya kecuali bagian satu dirham. Ia punya seorang ibu dan sangat
berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka
akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia
meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya.”

Allah SWT lebih tahu apa yang pas untuk agenda kita kedepan.

Firman Allah SWT: “Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi.


Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (QS Al-Hadiid
[57]: 05)

Nabi Muhammad saw tidak bertemu, tidak pernah melihatnya, tapi


bisa menceritakan dengan baik perihal Uwais Al-Qarni. Cerita Uwais
Al-Qarni ini berlanjut pada Abubakar, Umar dan Ali Radiallahuanhum.

Uwais adalah orang yang berorientasi jauh kedepan, yakni akhirat.


Karena itu meski dia tidak dikenal dibumi, dia sangat terkenal di
langit. Ketika Uwais meninggal penduduk Yaman dibuat heran,
karena seluruh rangkaian prosesi jenazahnya sudah ada yang
mengurus. Ternyata yang berebut mengurus jenazah Uwais adalah
para malaikat yang mulia.

Kedua, AMAL UNGGULAN Selain itu, Allah SWT akan membuka pintu
langit bagi hamba yang pengabdiannya melebihi batas ukuran
manusia (luar biasa). Hamba yang memiliki amalan unggulan.
Menggendong ibunya sejauh Yaman dan Makkah untuk ibadah haji,
menempuh perjalanan selama enam bulan, tentu ini amalan diluar
kemampuan manusia biasa. Itu hanya bisa dikerjakan oleh langkah
raksasa dan kemauan setebal baja.

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah dibawa masuk ke


dalam surga beriringan. Apabila mereka sampai tepian surga pintu-
pintu surga pun terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-
penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah
kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya."
(QS Az-Zumar [39]: 73)

Ketiga, IKHLAS Setiap aktivitas bermuara hanya pada ridha Allah


SWT. Setan pun tidak mampu menggoda orang yang ikhlas.

Ia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan


bahwa aku sesat, sungguh aku pasti akan jadikan (maksiat) terasa
indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka
semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas.” (QS Al-Hijr [15]:
39-40)

Ketika Umar dan Ali ra bertemu dan meminta Uwais untuk


mendoakannya, maka Uwais mengajukan syarat; Agar setelah
peristiwa ini tidak ada lagi Uwais. Tidak lagi menyebut-nyebut
namanya, Umar dan Ali pun setuju. Sejak itu nama Uwais pun
menghilang bagai ditelan bumi. Padahal sejak nabi menyebut
namanya perlu 3 masa untuk menemukannya, masa nabi saw,
ABubakar dan barulah pada masa Khalifah Umar Uwai ditemukan oleh
Ali bin Abi Thalib. Di awal pertemuan, Uwais sempat mengecohnya,
bahwa dirinya hanyalah Abdullah!

Benar, Ikhlas adalah urusan khalik dengan makhluk, tapi kita bisa
menilai seorang hamba ikhlas atau tidak dari keistiqomahannya. Bila
istiqomah tegak lurus, maka kemenangan itu tinggal menunggu
waktunya. Orang Istiqomah itu mampu menangkap keinginan Allah
SWT untuk dilaku nyata dalam kehidupan ini. Bagi orang yang
istiqomah, maka kemenangan itu akan dibuktikan oleh Allah SWT
dimuka bumi. Istiqomah akan membuka pintu-pintu langit, hingga
doa kita bisa langsung didengar Allah SWT.

Keempat Kesempitan jadi PELUANG. Penderitaan Uwais sangat


lengkap, selain Yatim sejak kecil dia juga miskin plus penyakitan
(sopak). Penyakit kulit ini menjijikan hingga orang enggan mendekat.
Ketika sembuh menyisakan sedikit tanda, sebesar dirham. Siapa
nyana, tanda itulah yang disebut nabi Muhammad saw, hingga Umar
ra dan Ali ra menemukannya.
KISAH UWAIS AL-QORNI TIDAK SENGAJA TERTIDUR
Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Aku pergi ke tempat Uwais Al-Qarni. Aku mendapati beliau sedang
duduk setelah selesai menunaikan shalat subuh.”

Aku berkata (pada diriku, pent), “Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk
waktu zuhur, beliau mengerjakan shalat zuhur, dan begitu masuk waktu ashar, beliau shalat ashar.
Selesai shalat ashar, beliau duduk sambil berzikir hingga tiba waktu maghrib. Setelah shalat
maghrib, beliau menunggu waktu isya’, kemudian shalat isya’. Selesai shalat isya’, beliau
mengerjakan shalat hingga menjelang subuh. Setelah shalat subuh, beliau duduk dan tanpa
sengaja tertidur. Tiba-tiba saja beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, ‘Ya Allah,
aku berlindung kepada-Mu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa kenyang.’”
(Az-Zuhdul Awa’il, Musthafa Hilmi, 84)

Uwais Al-Qarni Anak yang Makbul Doanya kerana Ketaatan pada ibunya dan merupakan
Penghuni Langit

“Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada
kedua orang tuanya.” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena
penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan
sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa
merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,”
pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati
padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak
perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki
kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk
apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak
bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila... Uwais
gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh
apa yang dilakukannya tersebut.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu
itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari,
anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram,
begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah
sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan
untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta
Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan
ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata
telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari
ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia
untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih
ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah
tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali
Uwais.
Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti
akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan
datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan
meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak
bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR
Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia
mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu
sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al
Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau
sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a.,
istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi,
tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang.
Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya
untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan
terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan
salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya
dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan
kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang
taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan
para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi
dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat
meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al
Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia,
perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata,
“Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni
langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula
oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al
Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin
Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi
Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya
hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali
bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.
Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah.
Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi
Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka.
Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta
mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi
menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam.
Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam
Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan
tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak
tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak
tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit.
Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar
jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi
siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya,
ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin
Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia
berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar
dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais
Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar
berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya.
Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui
orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di
mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di
bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah
menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di
sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa
ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.
Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal
yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus
jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan
orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ
selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau
Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki
apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari
wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang
tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka
adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah
tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais
Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan
permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan
tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh
Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda
Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah
(yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).