Anda di halaman 1dari 19

TUGAS

BIMBINGAN KONSELING KELUARGA


KONSELING PENDEKATAN STRUKTUR KELUARGA
Dosen Pengampu: Noviyanti Kartika Dewi, S.Pd

Kelompok 5 / BK 5A
Purbo Suryo Bowono (10121005)
Chika Ayu Putri (10121007)
Dina Ayu Pamungkas (10121015)
Elina Wati (10121016)
Qonik Kus Armanda (10121017)

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
IKIP PGRI MADIUN
2012

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah berkat limpahan rahmat dan hidayah dari Allah SWT. Kami
dapat menyelesaikan tugas menyusun Makalah dalam Mata kuliah Konseling
keluarga tentang pendekatan struktur keluarga.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Noviyanti Kartika Dewi, S.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah
Konseling Keluarga dalam menyelesaikan tugas ini dengan penuh
kesabaran.
2. Teman-teman yang turut membantu dalam menyelesaikan Makalah
Konseling Keluarga ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu kami berharap kritik dan saran dari pembaca.
Akhirnya semoga langkah dan usaha kami mendapat ridho dari Allah
SWT. serta bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Madiun, Desember 2012

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Struktur Keluarga 3
B. Masalah-Masalah Keluarga 4
C. Peran Konselor Keluarga 5
D. Proses dan Tahapan Konselor Keluarga 6
E. Pendekatan Struktural Keluarga 7
F. Contoh Kasus Pendekatan Struktural Keluarga 8
BABIII PENUTUP
A. Kesimpulan 10
B. Saran 10
DAFTAR PUSTAKA 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Upaya menghubungkan konseling dengan situasi keluarga sebenarnya
telah berlangsung sejak lama. Beberapa teori tentang konseling dan
psikoterapi, diantaranya psikoanalisis, memberikan penekanan bahwa
masalah yang dihadapi klien berhubungan dengan kehidupan keluarganya,
khususnya pada kehidupan masa lalunya. Dalam konteks ini jelas bahwa
aspek keluarga sebenarnya sudah menjadi perhatian ahli konseling dalam
memahami masalah yang dihadapi klien.
Perkembangan belakangan disadari bahwa pelaksanaan konseling
dapat melibatkan anggota keluarga yang lain, terutama yang memiliki kaitan
dengan masalah anak. Kelurga tidak hanya dilihat sebagai faktor yang
menimbulkan masalah bagi klien, tetapi menjadi bagian yang perlu dilibatkan
dalam penyelesaian anak. Hal ini barangkat dari pandangan bahwa keluarga
dan anggota keluarga merupakan system yang mempengaruhi kehidupan anak
atau anggota keluarga lain. Jika hendak mengubah “masalah” yang dialami
anggota keluarganya, diantaranya harus mengubah “sistem” yang ada dalam
keluarganya. Keterlibatan anggota keluarga dalam penyelesaian masalah
klien diharapkan dapat membantu mempercapat mengatasi masalah klien.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari konseling keluarga ?
2. Apa saja masalah-masalah yang ada di dalam keluarga ?
3. Apakah pendekatan struktur keluarga itu ?
4. Bagaimana contoh kasus pendekatan konseling keluarga ?

C. TUJUAN
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan konseling keluarga.
2. Mengetahui masalah-masalah yang ada di dalam keluarga.
3. Mengetahui apa yang dimaksud dengan struktur keluarga.

iv
4. Mengetahui contoh kasus pendekatan konseling keluarga.

v
BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN KONSELING KELUARGA


Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling
pada situasi yang khusus. Konseling keluarga ini secara khusus
memfokuskan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi
keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga.
Menurut D. Stanton konseling keluarga dapat dikatakan sebagai
konseling khusus karena sebagaimana yang selalu dipandang oleh
konselor terutama konselor keluarga, konseling keluarga sebagai (1)
sebuah nodalitas yaitu klien adalah anggota dari suatu kelompok, yang (2)
dalam proses konseling melibatkan keluarga inti atau pasangan (Capuzzi,
1991).
Konseling keluarga memandang keluarga cara keseluruhan bahwa
anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahklan dari anak
(klien) baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya.
Sebagai suatu sistem permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga
akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain.
Menurut Crane (1995) salah seorang konselor behavioral,
konseling keluarga merupakan proses pelatihan terhadap orangtua dalam
hal metode mengendalikan perilaku yang positif dan membantu orangtua
dalam perilaku yang dikehendaki. Dalam pengertian ini konseling
keluarga tidak bermaksud untuk mengubah kepribadian, sifat, dan karakter
orang-orang yang terlibat, tetapi lebih mengusahakan perubahan dalam
sistem keluarga melalui pengubahan perilaku, utamanya orangtua. Asumsi
yang dikembangkan adalah pengubahan perilaku dari anggota sistem yang
signifikan (orangtua) akan mengarah perubahan secara tibal balik
(reciprocal) terhadap perilaku anggota sistem yang lain. Dengan demikian
perubahan perilaku orangtua atau orang yang berpengaruh menjadi fokus

vi
dalam mengubah perilaku anggota keluarga lain (klien) yang merupakan
akibat dari perilakunya.
Atas dasar penjelasan-penjelasan diatas jelas bahwa dalam
konseling keluarga yang menjadi unit terapi adalah keluarga sehubungan
dengan masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga tersebut. Hal
tersebut berbeda dengan konseling individual karena yang menjadi unit
terapi adalah individu sekalipun masalah yang dihadapi dan yang
dipecahkan adalah berhubungan dengan keluarganya. Dalam beberapa hal
konseling keluarga tampaknya menguntungkan. Semua anggota keluarga
mengerti dan bertanggungjawab terhadap upaya perbaikan perilaku anak.
Konseling ini menjadi sangat efektif terutama untuk mengatasi masalah-
masalah anak yang berhubungan dengan sikap dan perilaku orangtua
sepanjang berinteraksi dengan anak.

B. MASALAH-MASALAH KELUARGA
Pada masa lalu menurut Moursund (1990), konseling keluarga
terfokus pada salah satu atau dua hal, yaitu : (1) keluarga dengan anak yang
mengalami gangguan yang berat seperti gangguan perkembangan dan
skizofrenia, yang menunjukkan jelas-jelas mengalami gangguan; dan (2)
keluarga yang salah satu atau kedua orangtua tidak memiliki kemampuan,
menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam memberi kelola anggota
keluarga, dan biasanya memiliki berbagai masalah.
Permasalahan pertama berhubungan dengan keadaan orangtua,
banyak dijumpai orangtua tidak berkemampuan mengelola rumah
tangganya, menelantarkan kehidupan rumah tangganya sehingga tidak
terjadi kondisi yang berkeseimbangan dan penuh konflik, atau memberi
perlakuan secara salah (abuse) kepada anggota keluarga lain dan sebagainya
merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti dan
berkeinginan membangun kehidupan keluarga yang lebih stabil, mereka
membutuhkan konseling.

vii
Permasalahan kedua, karena mengalami kondisi yang kurang
harmoni di dalam keluarga akibat stressor perubahan-perubahan budaya,
cara-cara baru dalam mengatur keluarganya, dan cara menghadapi dan
mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan
konseling keluarga masalah yang dihadapi dan dikonsultasikan kepada
konselor antara lain : keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap
harapan orangtua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan diantara
anggota keluarga karena kerja diluar daerah, dan anak yang mengalami
kesulitan belajar atau sosialisasi.
Berbagai permasalahan-permasalahan keluarga dapat diselesaikan
melalui konseling keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk
mengatasi masalah-masalah jika semua anggota keluarga bersedia untuk
mengubah sistem keluarganya yang telah ada dengan cara-cara baru untuk
membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah.

C. PERAN KONSELOR KELUARGA


Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling keluarga dan
perkawinwn dikemukakan oleh satir (Cottone, 1992) diantaranya sebagai berikut :
a. Konselor berperan sebagai ”facilitative a comfortable”, membantu klien
melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri.
b. Konselor menggunakan kemampuan treatment melalui setting peran interaksi.
c. Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga.
d. Membelajarkan klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk
bertanggungjawab dan melakukan self-control.
e. Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi
dan menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota
keluarga.
f. Konselor menolak perbuatan-perbuatan penilaian dan membantu menjadi
congruence dalam respon-respon anggota keluarga.

viii
D. PROSES DAN TAHAPAN KONSELING KELUARGA
Pada mulanya seorang klien datang ke konselor untuk mengkonsultasikan
masalahnya. Biasanya datang pertama kali ini lebih bersifat ”identifikasi pasien”. Tetapi
untuk tahap penanganan (treat) diperlukan kehadiran anggota keluarganya. Menurut Satir
tidak mungkin mendengarkan peran, status, nilai, dan norma keluarga atau kelompok jika
tidak ada anggita keluarga yang hadir. Jadi dalam pandangan ini anggota keluarga yang
lain harus datang ke konselor (Brammer dan Shostrom, 1982).
Kehadiran klien ke konselor dapat dilangsungkan sampai 3 kali dalam seminggu.
Tahapan konselinh keluarga secara garis besar dikemukakan oleh Crane (1995:231-232)
yang mencoba menyusun tahapan konseling keluarga untuk mengatasi anak berperilaku
oposisi. Dalam mengatasi problem, Crane menggunakan pendekatan behavioral yang
disebutkan terdapat 4 tahap secara berturut-turut sebagai beriku.
a. orangtua membutuhkan untuk dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal
ini dapat dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sessi pengajaran.
b. Setelah orangtua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya
konselor menunjukkan kepada orangtua bagaimana cara mengimplementasikan ide
tersebut. Pertama kali mengajarkan kepada anak, sedangkan orangtua melihat
bagaimana melakukannya sebagai ganti pembicaraan tentang bagaimana hal itu
dikerjakan.
Secara tipikal orangtua akan membutuhkan contoh yang menunjukkan bagaimana
mengkonfrontasikan anak-anak yang beroposisi. Sangat penting menunjukkan
kepada orangtua yang kesulitan memahami dan menerapkan cara yang tepat dalam
memperlakukan anaknya.
c. Selanjutnya orangtua mencoba mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah
mereka pelajari menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat memberi
koreksi jika dibutuhkan.
d. Setelah terapis memberi contoh kepada orangtua cara menangani anak secara tepat
orangtua mencoba menerapkannya dirumah. Saat dicoba dirumah konselor dapat
melakukan kunjungan untuk mengamati kemajuan yang dicapai. Jika masih
diperlukan penjelasan lebih lanjut terapis dapat memberi contoh lanjutan girumah
dan diobservasi orangtua, selanjutnya orangtua mencoba sampai mereka merasa
dapat menangani kesulitannya, mengatasi masalah sehubungan dengan masalah
anaknya.

ix
E. PENDEKATAN STRUKTURAL KELUARGA
Minuchin (1974) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi
karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat.
Seringkali dalam membangun struktur dan transaksi ini batas-batasss antara
subsitem dari sistem keluarga itu tideak jelas.
Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusun kembali
keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota
keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga yang bermasalah perlu di
rumuskan kembali struktur keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan
pola hubungan yang baru yang lebih sesuai.
Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan memperkaya
pemahaman konselor untuk melihat masalah apa yang seang terjadi, apakah
soal struktur, pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan
sebagainya. Berangkat dari analisi terhadap masalah yang dialami oleh
keluarga itu konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk membantu
keluarga.
Dalam pendekatan ini suatu patologi keluarga muncul akibat dari
perkembangan rekasi yang disfungsional. Fungsi-fungsi keluarga meliputi
struktur keluarga, sub-systems dan keterikatannya. Peraturan-peraturan
tertutup dan terbuka dan hirarki-nya harus dimengerti dan dirubah untuk
membantu penyesuaian keluarga pada situasi yang baru.
Peran konselor adalah memetakan aktivitas mental dan kerja
keluarga dalam sesi konseling. Seperti sutradara teater, mereka memberi
instruksi pada keduanya untuk berinteraksi melalui ajakan-ajakan dan
rangkaian aktivitas spontan.

x
F. KONSELING KELUARGA STRUKTURAL : SALVADOR
MINUCHIN
Konseling keluarga struktural yang dikembangkan oleh Minuchin
berangkat dari teori sistem. Hal ini tampak pada konsep dan
intervensinyadalam konseling keluarga yang menekankan pada keseluruhan
dan keaktifan dari sistem keluarga yang terorganisasi. Selanjutnya Minuchin
memfokuskan perhatian pada interaksi dan aktivitas para anggota keluarga
untuk dapat menentukan organisasi dan struktur keluarga. Penekanannya
terletak pada : bagaimana, kapan, dan kepada siapa anggota keluarga saat ini
berhubugan. Hal ini penting untuk memahami dan kemudian berusaha
mengubah struktur sistem keluarga.
Teori dan teknik konseling keluarga struktural ini dikembangkan pada
akhir tahun 1976 oleh minuchin. Orientasi struktural dirancang terutama
sekali untuk menangani masalah keluarga dan mungkin juga para single-
parent families (keluarga-keluarga yang hanya dipimpin oleh ibu atau ayah
saja). Pendekatan struktural ini dipengaruhi oleh pendekatan problem solving
dari Jay Haley (1976) dan network therapy dari Ross Speck (1973).
Praktik konseling keluarga struktural berdasarkan konsep-konsep
kunci, yaitu :
1. Keluarga Sebagai Suatu Sistem
Minuchin mengatakan bahwa keluarga adalah “multibodied organism”
organisme yang terdiri dari banyak badan. Keluarga adalah satu kesatuan
(entity) atau organisme. Ia bukanlah merupakan kumpulan (collection)
individu-individu. Ibrat amoeba, keluarga mempunyai kmponen-
komponen yang membentuk organisme keluarga itu. Kerena itu dalam
konseling keluarga struktural dikatakan “pasien” adalah keluarga dan
masalah serta gejala-gejalanya merupakan fungsi kesehatan dari keluarga
tersebut. Masalah dan gejala-gejala itu merupakan hasil ciptaan interaksi
dan struktur keluarga secara sistematik.
2. Fungsi Subsistem
Di dalam keluarga terdapat beberapa subsistem, yaitu :

xi
a. Marital Subsystem merupakan sistem perkawinan antara sepasang
manusia yaitu suami dan istri. Peranan utama perkawinan adalah
untuk mencapai kepuasan atas dasar cinta dan penghargaan
(Terkelsen, 1980). Subsistem ini mempunyai peran tersendiri dan
jelas berbeda dengan peran sebagai orangtua terhadap anak-anaknya.
Marital Subsystem berkaitan dengan perhatian masing-masing
anggota suami-istri. Sedangkan subsistem orangtua berkaitan dengan
pola transaksi dalam memberikan perhatian terhadap anak-anak
mereka.
b. Parental Subsystem yaitu subsistem keluarga yang terdiri dari
orangtua (ayah-ibu). Peran utamanya adalah memberikan perhatian,
kasih sayang, dan membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi
manusia yang berguna. Subsistem terdiri dari ayah ibu saja, akan
tetapi bisa juga terdiri dari orangtua ditambah anggota keluarga lain
(nenek-kakek) bahkan badan lain seperti panti penitipan anak-anak.
Peranan-peranan subsistem ini saling tumpang tindih.
c. Sibling System yaitu subsistem anak-anak dalam sistem keluarga
(sibling = saudara kandung). Diantara anak-anak terdapat suatu
interaksi. Mereka belajar berhubungan dengan keluarga dan teman-
teman diluar keluarga. Mereka bereksplorasi dan bereksperimen
terhadap dunia luar. Hal ini menciptakan hubungan dengan saudara-
saudara dan teman-teman dan dikembangkan dalam hubungan sosial
dirumah dan diluar rumah,
3. Aturan-aturan sistem keluarga
Adalah aturan tentang siapa dan bagaimana berpartisipasi dalam sistem
keluarga. Aturan-aturan dikeluarga bertujuan agar sistem keluarga lebih
baik. Karena itu seluruh anggota keluarga harus memahaminya.
Aturan-aturan keluarga ada yang fleksibel dan ada pula yang kaku. Jika
aturan fleksibel tidak berarti baik karena prinsip aturan tidak hilang tapi
caranya disesuaikan dengan keadaan. Tapi kalau terlalu fleksibel
akhirnya peraturan itu tembus mudah berubah. Hal ini membuat keadaan

xii
menjadi kacau. Sebaliknya ada pula aturan keluarga yang kaku. Hal ini
bisa menimbulkan stress anggota keluarga.
4. Keterlibatan Perilaku Anggota Keluarga
Perilaku egois menyebabkan terganggunya sistem keluarga. Faktor
penyebabnya ialah karena masing-masing anggota keluarga memiliki
aturan-aturannya sendiri dalam berinteraksi dalam sistem keluarga. Hal
ini menjurus kepada kontak yang sangat minim diantara anggota
keluarga. Untuk berinteraksi sangat sulit. Karena itu semua anggota
keluarga harus memahami aturan-aturan kehidupan dan masing-masing
melakukan dalam perilakunya.
Untuk mencapai kestabilan keluarga dalam suatu sistem maka pola-pola
interaksi anggota keluarga berjalan secara evolusi. Sistem keluarga
berfungsi untuk saling membantu memungkinkan kemandirian dari
anggota keluarga. Konseling keluarga struktural tidak menginginkan
paradigm organisasi yang sama untuk semua keluarga. Ada beberapa
kriteria letak keberfungsian keluarga menurut Aponte dan Van Deusen
(1981) yang dilihatnya dari tiga dimensi, yaitu :
a Dimensi Batas / Aturan
Struktural keluarga yang fungsional terdapat batas-batas atau aturan-
aturan yang dapat dimengerti dengan baik dan fleksibel. Akan tetapi
pada sistem keluarga yang tak fungsional terdapat sebaliknya.
Definisi Boundaris (batasan/aturan) menunjuk pada derajad mudah
atau tidaknya batas-batas sistem itu tembus. Jika batas-batas itu amat
mudah untuk tembus maka akan terjadi hanya sedikit perbedaan
bahkan mungkin tidak ada perbedaan sama sekali antara individu-
individu, antara subsistem atau antara sistem keluarga dengan
lingkungannya. Artinya terjadi campur aduk perilaku tidak karuan.
Hal ini menyebabkan rendahnya toleransi untuk menunjang
kemandirian dan menghambat individu dalam keluarga.
b Masalah Blok dalam Keluarga

xiii
Dalam keluarga yang kurang fungsional bisa terjadi blok-blikan
dalam keluarga. Keadaan ini dinamakan jua Minuchin triangulation.
Artinya ibu dan anak laki-laki itu membentuk blok untuk melawan
suaminya. Keadaan ini terjadi karena fungsi sistem dalam keluarga
sedang sakit.
c Masalah Kekuasaan
Power (kekuasaan) adalah kemampuan relatif individu atau
subsistem untuk melaksanakan fungsinya. Kemampuan ini bukanlah
sifat dari diri seseorang, akan tetapi tergantung pada karakteristik
hubungan, kemampuan anggota keluarga untuk berbuat sesuatu
berkaitan erat dengan kemauan anggota lain untuk menerima atau
memahami perbuatan itu, atau mengikutinya. Hal ini tergantung
pada waktu, peran, dan situasi.
G. KENALAI STRUKTUR KELUARGA
Menurut aliran struktural sebelum melakukan praktik khususnya treatment
terhadap keluarga, maka terlebih dahulu assessment terhadap pola interaksi
keluarga saat itu. Konselor keluarga harus mampu memahami dan
mengembangkan konsep masalah. Juga diusahakan untuk memahami
pandangan umum keluarga mengenai masalah itu, terutama dari perspektif
individu-individu memandang masalah tersebut.
Menurut Minuchin (1794) ada 6 hal yang perlu diperhatikan jika konselor
keluarga akan menilai pola-pola interaksi keluarga saat ini :
1. Kenali struktur keluarga, pola-pola transaksional yang mereka sukai dan
alternatif-alternatif yang tersedia.
2. Nilai fleksibilitas sistem dan kapasitasnya untuk perluasan dan
pengstrukturan kembali seperti dengan mengubah aliansi fan koalisi
sistem dalam berespon terhadap perubahan keadaan.
3. Menguji daya resonasi sistem keluarga, kesensitifan terhadap aksi
anggota lain. Perilaku anggota keluarga bergerak dari amat amat sensitif
hingga biasa saja (masa bodoh) dengan kasi (perkataan, perbuatan, dan
lain lain) anggota keluarga.

xiv
4. Meninjau kehidupan suasana keluarga, menganalisa faktor-faktor
penunjang dan faktor-faktor yang menimbulkan stress dalam ekologi
keluarga.
5. Menguji tahap perkembangan keluarga dan penampilan keluarga dalam
melakukan tugas sesuai dengan tahap tersebut.
6. Jelajahi cara-cara yang digunakan “pasien yang ditandai” atau gejala-
gejala yang selalu dia lakukan dan pertahankan dalam pola interaksi
sistem keluarga.
Disamping itu konselor perlu melakukan observasi pemahaman terhadap
berbagai perilaku anggota keluarga, ciri-ciri non verbal seperti nada suara,
ekspresi wajah dan kontak mata dengan anggota keluarga lain.
Setelah melakukan assessment terhadap situasi pola-pola interaksi
keluarga seperti dikemukakan diatas, maka kita perlu menetapkan tujuan
konseling keluarga.
Teknik konseling dalam pendekatan struktural berguna untuk menunjang
intervensi konselor, akan tetapi bukan merupakan teknik yang mandiri, lebih
banyak merupakan bagian dari keseluruhan proses terapi. Hal ini banyak
tergantung pada penyesuaian diri konselor dalam dan responsif terhadap
anggota keluarga. Minuchin menyebutnya “the process of joining” dari
konselor amat penting. Karena itu ia mengemukakan hanya 3 teknik
konseling sehubungan dengan “joining”.
1. Akomodasi
Suatu teknik dimana konselor berperilaku dalam cara-cara yang
sama dengan gaya keluarga, langkah keluarga dan keistimewaan-
keistimewaan atau keanehan keluarga. Dalam teknik ini terdapat 2
komponen penting, yaitu :
a. Konselor berusaha untuk mengubah perilakunya supaya sesuai dengan
gaya sistem keluarga.
Adaptasi diperlukan agar penampilan perilaku terapeutik konselor
menjadi beragam, luwes, tidak kaku. Konselor hatus senag dan
waspada mendengarkan kisah-kisah, simbol-simbol, dan makna kata

xv
bersayap dari anggota keluarga. Bersamaan dengan itu konselor
mengikuti isi apa yang dikatakan mereka.
Hal yang amat penting dalam akomodasi ini adalah adanya kemauan
konselor untuk mengalami secara pribadi pengaruh yang kuat dari
emosi keluarga, yaitu emosi dalam transaksi itu. Konselor harus
mengajak keluarga berbuat dengan cara-cara pribadinya masing-
masing dan sementara itu secara konseptual konselor mengorganisir
pengalaman tersebut. Jika akomodasi berjalan dengan lancar maka
semua anggota keluarga akan terbagi isu-isu emosional kepada
konselor. Perubahan perilaku mudah terjadi.
b. Komponen kedua didalam teknik akomodasi ialah penghargaan dan
rasa hormat terhadap adanya struktur keluarga.
Ikut dulu dalam aturan permainan keluarga, kemudian nanti baru
masukkan aturan baru yang sehat kedalam sistem keluarga. Satu cara
yang baik dalam berkomunikasi di keluarga ialah dengan
menunjukkan pembicaraan kepada seorang juru bicara keluarga. Jika
pada tahap awal ini knselor langsung mengintervensi kasus, maka
kemungkinan konselor akan ditolak.
2. Mengikuti Jalan

H. CONTOH KASUS PENDEKATAN STRUKTURAL KELUARGA


Didalam sebuah keluarga terdapat sebuah struktur, yaitu ayah
sebagai kepala keluarga, ibu sebagai ibu rumah tangga, dan anak sebagai
seseorang yang dilindungi dalam keluarga. Apabila dalam struktur keluarga
tersebut tidak berjalan semestinya, maka akan timbul sebuah masalah dalam
keluarga tersebut.
Contoh kasus :
Ibu Tuti adalah seorang wanita karier, dia bekerja di sebuah bank dan selalu
pulang larut malam. Hal ini membuatnya tidak mempunyai banyak waktu
untuk keluarganya khususnya untuk mengurus anaknya yang masih berusia
6tahun yang seharusnya memperoleh kasih sayang darinya. Pekerjaan

xvi
rumahnya terbengkalai karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya
dikantor. Karena tuntutan ekonomi yang membuat bu Tuti harus bekerja
keras. Sedangkan suami Ibu Tuti yaitu bapak Arip hanya bekerja serabutan
yang hasilnya tidak menentu, ini membuat bapak Arip harus mengerjakan
pekerjaan rumah dan mengasuh anak yang seharusnya dilakukan oleh bu Tuti.
Dengan keadaan ini menimbulkan masalah karena adanya struktur keluarga
yang salah yaitu ibu Tuti yang seharusnya menjadi ibu rumah tangga harus
menjadi tulang punggung keluarganya. Sedangkan bapak Arip yang
seharusnya menjadi tulang punggung keluarga justru menggantikan peran ibu
Tuti sebagai ibu rumah tangga. Akibat dari struktur keluarga yang tidak
sesuai hal ini menimbulkan berbagai masalah didalam keluarga bapak Arip,
seperti mereka sering bertengkar karena ibu Tuti merasa bapak Arip tidak
bertanggung jawab terhadap anggota keluarganya dan tidak berperan
selayaknya kepala keluarga.
Untuk menyelesaikan masalah keluarga tersebut harus mengubah struktur
dalam keluarga yang berarti menyusun kembali keutuhan dan menyembuhkan
perpecahan antara dan seputar anggota keluarga. Oleh karena itu dijumpai
keluarga seperti bapak Arip perlu dirumuskan kembali struktur keluarga itu
dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih
sesuai. Dalam kasus keluarga pak Arip ini hendaknya pak Arip sebagai
kepala keluarga yang bertanggung jawab atas anggota keluarganya
mempunyai pekerjaan yang layak dan ibu Tuti mengurus pekerjaan rumah
tangga dan mengurus anak dirumah. Jika hal ini sudah dilakukan maka secara
otomatis akan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang
lebih sesuai.

xvii
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling


pada situasi yang khusus. Konseling keluarga ini secara khusus
memfokuskan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi
keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Konseling
keluarga memandang keluarga cara keseluruhan bahwa anggota keluarga
adalah bagian yang tidak mungkin dipisahklan dari anak (klien) baik dalam
melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Masalah keluarga
sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun
tidak tepat. Beberapa masalah yang terjadi di dalam keluarga seperti
keluarga dengan anak yang mengalami gangguan yang berat seperti
gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukkan jelas-jelas
mengalami gangguan, dan keluarga yang salah satu atau kedua orangtua
tidak memiliki kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah
dalam memberi kelola anggota keluarga, dan biasanya memiliki berbagai
masalah.

B. Saran

Dalam pendekatan struktural konselor harus mampu memetakan


aktivitas mental dan kerja keluarga dalam sesi konseling. Seperti sutradara
teater, mereka memberi instruksi pada keduanya untuk berinteraksi melalui
ajakan-ajakan dan rangkaian aktivitas spontan. Selain itu seorang konselor
dituntut untuk mampu menguasai dan memahami berbagai macam Bimbingan dan
konseling diluar sekolah dan Bimbingan dan Konseling didalam sekolah, yang
salah satu macam dari Bimbingan dan Konseling diluar sekolah adalah Konseling
Keluarga perlu dipelajari oleh seorang Konselor sebagai acuhan dalam proses
konseling. Kritik dan saran yang bersifat membangun penulis harapkan agar dalam
penulisan selanjutnya bisa menjadi lebih baik.

xviii
DAFTAR PUSTAKA

Latipun. (2006). Psikologi Konseling Edisi Ketiga. Malang : UMM Press


Sochib, Moh. (1998). Pola Asuh Orangtua dalam Membantu Anak
Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta : Rineka Cipta

xix