Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia adalah sebuah negara yang secara geologis terletak di dalam
jalur lingkaran bencana gempa (ring of fire). Jalur sepanjang 1.200 km dari Barat
sampai Timur Indonesia yang merupakan batas-batas tiga lempengan besar dunia
yaitu lempeng Indo-Australia, Euresia dan Pasifik, akan berpotensi memicu
berbagai kejadian alam yang besar. Berada pada pertemuan tiga sistem
pegunungan (Alpine Sunda, Circum Pacific dan Circum Australia), lebih 500
gunung api (128 aktif), negara kepulauan, 2/3 air, 500 sungai besar dan kecil
(30% melintasi wilayah padat penduduk), jumlah penduduk besar dan tidak
merata, keanekaragaman suku, agama, adat, budaya, golongan. Sehingga 87%
wilayah Indonesia adalah wilayah rawan bencana.
Kondisi geografis Indonesia tersebut berpeluang untuk terjadinya bencana
alam akibat dari pergerakan bumi. Bencana alam yang sering terjadi di Indonesia
antara lain gempa bumi, letusan gunung merapi, banjir bandang, tanah lonsor dan
lainnya. Akibat dari bencana alam ini menimbulkan korban jiwa, pengungsi yang
tidak sedikit, kehilangan harta benda dan hancurnya infrastruktur dan fasilitas
publik. Bencana ini memberikan kerugian dan penderitaan baik bagi masyarakat
maupun pemerintah. Jelas bahwa masalah penanganan bencana merupakan salah
satu permasalahan utama yang dihadapi bangsa Indonesia. Tentunya penanganan
bencana bukanlah perkara mudah, butuh waktu, tenaga dan finansial yang cukup
besar.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan sebelum bencana dapat berupa
pendidikan peningkatan kesadaran bencana (disaster awareness), latihan
penanggulangan bencana (disaster drill), penyiapan teknologi tahan bencana
(disaster-proof), membangun sistem sosialyang tanggap bencana, dan perumusan
kebijakan-kebijakan penanggulangan bencana (disaster management policies).
Untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan cepat, tepat
memerlukan komponen-komponen antara lain : SDM, sarana-prasarana, logistik-
medis (obat-obatan, bahan-bahan alat medis habis pakai, dll), komunikasi-
transportasi. Permasalahan padalogistik medis sangat komplek. Disatu sisi

1
memberikan pelayanan pada para pelaku pelayanan kesehatan (dokter, paramedik,
rumah sakit, Puskesmas, Posko Bencana).

B. Tujuan
1. Mahasiswa mengerti tentang sistem manajemen bencana terbuka dan dapat
menambah wawasan masyarakat secara umum sehingga dapat turut serta
dalam upaya penanggulangan bencana.
2. Untuk mengetahui bagaimana Tahapan dan Kegiatan Manajemen Bencana
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip penanggulangan bencana
4. Untuk mengetahui Kebijakan Manajemen Bencana
5. Untuk mengetahui bagaimana Manajemen Dari Bencana Gempa Bumi

2
BAB II
MANAJEMEN BENCANA

A. Pendahuluan
Penanggulangan bencana atau yang sering didengar dengan manajemen
bencana (disaster management) adalah serangkaian upaya yang meliputi
penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan
pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Konsep manajemen
bencana saat ini telah mengalami pergeseran paradigma dari pendekatan
konvensional menuju pendekatan holistik (menyeluruh). Pada pendekatan
konvensial bencana itu suatu peristiwa atau kejadian yang tidak terelakkan dan
korban harus segera mendapatkan pertolongan, sehingga manajemen bencana
lebih fokus pada hal yang bersifat bantuan (relief) dan tanggap darurat
(emergency response).
Selanjutnya paradigma manajemen bencana berkembang kearah
pendekatan pengelolaan risiko yang lebih fokus pada upaya-upaya pencegahan
dan mitigasi, baik yang bersifat struktural maupun non-struktural di daerah-daerah
yang rawan terhadap bencana, dan upaya membangun kesiap-siagaan.
Sebagai salah satu tindak lanjut dalam menghadapi perubahan paradigma
manajemen bencana tersebut, pada bulan januari tahun 2005 di kobe-jepang,
diselengkarakan konferensi pengurangan bencana dunia (world conference on
disaster reduction) yang menghasilkan beberapa substansi dasar dalam
mengurangi kerugian akibat bencana, baik kerugian jiwa, sosial, ekonomi dan
lingkungan. Substansi dasar tersebut yang selanjutnya merupakan lima prioritas
kegiatan untuk tahun 2005-2015 yaitu :
1. Meletakkan pengurangan risiko bencana sebagai prioritas nasional maupun
daerah yang pelaksanaannya harus didukung oleh kelembagaan yang kuat.
2. Mengidentifikasi, mengkaji dan memantau risiko bencana serta menerapkan
sistem peringatan dini
3. Memanfaatkan pengetahuan, inovasi dan pendidikan membangun kesadaran
kesadaran keselamatan diri dan ketahanan terhadap bencana pada semua
tingkat masyarakat.
4. Mengurangi faktor-faktor penyebab risiko bencana

3
5. Memperkuat kesiapan menghadapi bencana pada semua tingkatan masyarakat
agar respons yang dilakukan lebih efektif

B. Tahapan dan kegiatan dalam Manajemen Bencana


1. Pencegahan (prevention)
Upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana (jika mungkin
dengan meniadakan bahaya). Misalnya :
a. Melarang pembakaran hutan dalam perladangan
b. Melarang penambangan batu di daerah yang curam
c. Melarang membuang sampah sembarangan
2. Mitigasi Bencana (Mitigation)
Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana (UU 24/2007) atau upaya yang dilakukan
untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Bentuk
mitigasi :
a. Mitigasi struktural (membuat chekdam, bendungan, tanggul sungai,
rumah tahan gempa, dll.)
b. Mitigasi non-struktural (peraturan perundang-undangan, pelatihan, dll.)
3. Kesiapsiagaan (Preparedness)
Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan
berdaya guna (UU 24/2007) Misalnya: Penyiapan sarana komunikasi, pos
komando, penyiapan lokasi evakuasi, Rencana Kontinjensi, dan sosialisasi
peraturan / pedoman penanggulangan bencana.
4. Peringatan Dini (Early Warning)
Serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin
kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu
tempat oleh lembaga yang berwenang (UU 24/2007) atau Upaya untuk
memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan akan segera
terjadi. Pemberian peringatan dini harus :
a. Menjangkau masyarakat (accesible)

4
b. Segera (immediate)
c. Tegas tidak membingungkan (coherent)
d. Bersifat resmi (official)
5. Tanggap Darurat (response)
Upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk
menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan
korban dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.
6. Bantuan Darurat (relief)
Merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan dasar berupa :
a. Pangan
b. Sandang
c. Tempat tinggal sementara
d. Kesehatan, sanitasi dan air bersih
7. Pemulihan (recovery)
Proses pemulihan darurat kondisi masyarakat yang terkena
bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan
semula. Upaya yang dilakukan adalah memperbaiki prasarana dan pelayanan
dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar puskesmas, dll).
8. Rehabilitasi (rehabilitation)
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek
pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada
wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau
berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pascabencana.Upaya langkah yang diambil setelah
kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki rumahnya,
fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan menghidupkan kembali roda
perekonomian.
9. Rekonstruksi (reconstruction)
Program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan
fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada
kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelumnya. Rekonstruksi adalah

5
pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada
wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat
dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian,
sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran
serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah
pasca bencana.

Dengan melihat manajemen bencana sebagai sebuah kepentingan


masyarakat kita berharap berkurangnya korban nyawa dan kerugian harta benda.
Dan yang terpenting dari manajemen bencana ini adalah adanya suatu langkah
konkrit dalam mengendalikan bencana sehingga korban yang tidak kita harapan
dapat terselamatkan dengan cepat dan tepat dan upaya untuk pemulihan pasca
bencana dapat dilakukan dengan secepatnya.

Pengendalian itu dimulai dengan membangun kesadaran kritis masyarakat


dan pemerintah atas masalah bencana alam, menciptakan proses perbaikan total
atas pengelolaan bencana, penegasan untuk lahirnya kebijakan lokal yang
bertumpu pada kearifan lokal yang berbentuk peraturan nagari dan peraturan
daerah atas menejemen bencana. Yang tak kalah pentingnya dalam manajemen
bencana ini adalah sosialisasi kehatian-hatian terutama pada daerah rawan
bencana.

C. Prinsip-Prinsip Penanggulangan Bencana


Prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana berdasarkan pasal 3 uu
no. 24 tahun 2007, yaitu:
1. Cepat dan tepat. Yang dimaksud dengan “prinsip cepat dan tepat” adalah
bahwa dalam penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara cepat dan
tepat sesuai dengan tuntutan keadaan.
2. Prioritas. Yang dimaksud dengan “prinsip prioritas” adalah bahwa apabila
terjadi bencana, kegiatan penanggulangan harus mendapat prioritas dan
diutamakan pada kegiatan penyelamatan jiwa manusia.
3. Koordinasi dan keterpaduan. Yang dimaksud dengan “prinsip koordinasi”
adalah bahwa penanggulangan bencana didasarkan pada koordinasi yang
baik dan saling mendukung. Yang dimaksud dengan “prinsip keterpaduan”

6
adalah bahwa penanggulangan bencana dilakukan oleh berbagai sektor secara
terpadu yang didasarkan pada kerja sama yang baik dan saling mendukung.
4. Berdaya guna dan berhasil guna. Yang dimaksud dengan “prinsip berdaya
guna” adalah bahwa dalam mengatasi kesulitan masyarakat dilakukan dengan
tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya yang berlebihan. Yang dimaksud
dengan “prinsip berhasil guna” adalah bahwa kegiatan penanggulangan
bencana harus berhasil guna, khususnya dalam mengatasi kesulitan
masyarakat dengan tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya yang
berlebihan.
5. Transparansi dan akuntabilitas. Yang dimaksud dengan “prinsip transparansi”
adalah bahwa penanggulangan bencana dilakukan secara terbuka dan dapat
dipertanggungjawabkan. Yang dimaksud dengan “prinsip akuntabilitas”
adalah bahwa penanggulangan bencana dilakukan secara terbuka dan dapat
dipertanggungjawabkan secara etik dan hukum.
6. Kemitraan.
7. Pemberdayaan
8. Nondiskriminatif. Yang dimaksud dengan “prinsip nondiskriminasi” adalah
bahwa negara dalam penanggulangan bencana tidak memberikan perlakuan
yang berbeda terhadap jenis kelamin, suku, agama, ras, dan aliran politik apa
pun.
9. Nonproletisi. Yang dimaksud dengan ”nonproletisi” adalah bahwa dilarang
menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana,
terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana.

D. Kebijakan Manajemen Bencana


Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan manajemen bencana mengalami
beberapa perubahan kecenderungan seperti dapat dilihat dalam tabel. Beberapa
kecenderungan yang perlu diperhatikan adalah:
 Konteks politik yang semakin mendorong kebijakan manajemen bencana
menjadi tanggung jawab legal.
 Penekanan yang semakin besar pada peningkatan ketahanan masyarakat atau
pengurangan kerentanan.

7
 Solusi manajemen bencana ditekankan pada pengorganisasian masyarakat dan
proses pembangunan.

Dalam penetapan sebuah kebijakan manajemen bencana, proses yang pada


umumnya terjadi terdiri dari beberapa tahap, yaitu penetapan agenda,
pengambilan keputusan, formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, dan
evaluasi kebijakan. Di dalam kasus Indonesia, Pemerintah Pusat saat ini berada
pada tahap formulasi kebijakan (proses penyusunan beberapa Peraturan
Pemerintah sedang berlangsung) dan implementasi kebijakan (BNPB telah
dibentuk dan sedang mendorong proses pembentukan BPBD di daerah).
Sementara Pemerintah Daerah sedang berada pada tahap penetapan agenda dan
pengambilan keputusan. Beberapa daerah yang mengalami bencana besar sudah
melangkah lebih jauh pada tahap formulasi kebijakan dan implementasi
kebijakan.

Kebijakan manajemen bencana yang ideal selain harus dikembangkan


melalui proses yang benar, juga perlu secara jelas menetapkan hal-hal sebagai
berikut:

 Pembagian tanggung jawab antara Pemerintah Pusat dan Daerah.


 Alokasi sumberdaya yang tepat antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta
antara berbagai fungsi yang terkait.
 Perubahan peraturan dan kelembagaan yang jelas dan tegas.
 Mekanisme kerja dan pengaturan antara berbagai portofolio lembaga yang
terkait dengan bencana.

Sistem kelembagaan penanggulangan bencana yang dikembangkan di


Indonesia dan menjadi salah satu fokus studi bersifat kontekstual. Di daerah
terdapat beberapa lembaga dan mekanisme yang sebelumnya sudah ada dan
berjalan. Kebijakan kelembagaan yang didesain dari Pemerintah Pusat akan
berinteraksi dengan lembaga dan mekanisme yang ada serta secara khusus dengan
orang-orang yang selama ini terlibat di dalam kegiatan penanggulangan bencana.

8
BAB III
MANAJEMEN BENCANA GEMPA BUMI

A. Pengertian

Gempa bumi merupakan berguncangnya bumi yang disebabkan oleh


tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas gunung berapi atau
runtuhan batuan.

B. Manajemen Pra Bencana Gempa Bumi


1. Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang
tepat guna dan berdaya guna (UU 24 Tahun 2007).
Kesiapsiagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam UU 24 Tahun
2007 dilakukan melalui :
a. Penyusunan dan uji coba rencana penanggulangan kedaruratan bencana
b. Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini
c. Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar
d. Pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme
tanggap darurat
e. Penyiapan lokasi evakuasi
f. Penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tetap
tanggap darurat bencana
g. Penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan
pemulihan prasarana dan sarana

2. Deteksi Dini Bencana Gempa Bumi


Peringatan dini dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat dan tepat
dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana serta mempersiapkan
tindakan tanggap darurat. Peringatan dini sebagaimana dimaksud dilakukan
melalui :
a. Peringatan dini dimaksud dilakukan dengan cara:
1) Pengamatan gejala bencana

9
2) Analisis hasil pengamatan gejala bencana
3) Pengambilan keputusan oleh pihak yang berwenang
4) Penyebarluasan informasi tentang peringatan bencana
5) Pengambilan tindakan oleh masyarakat.
b. Pengamatan gejala bencana sebagaimana dimaksud dilakukan oleh instansi
atau lembaga yang berwenang sesuai dengan jenis ancaman bencananya,
dan masyarakat untuk memperoleh data mengenai gejala bencana yang
kemungkinan akan terjadi, dengan memperhatikan kearifan lokal.
c. Instansi/lembaga yang berwenang menyampaikan hasil analisis kepada
BNPB dan/atau BPBD sesuai dengan lokasi dan tingkat bencana, sebagai
dasar dalam mengambil keputusan dan menentukan tindakan peringatan
dini.
d. Dalam hal peringatan dini ditentukan, seketika itu pula keputusan
disebarluaskan melalui dan wajib dilakukan oleh lembaga pemerintah,
lembaga penyiaran swasta, dan media massa untuk mengerahkan sumber
daya.
e. Pengerahan sumberdaya diperlakukan sama dengan mekanisme pengerahan
sumberdaya pada saat tanggap darurat.
f. BNPB dan/atau BPBD mengkoordinir tindakan yang diambil oleh
masyarakat untuk menyelamatkan dan melindungi masyarakat.

Alur Tahap Peringatan dini Gempa Bumi oleh BMKG :

a. Peringatan Dini 1
Memuat informasi parameter gempa, waktu terjadi, posisi episenter (lintang,
bujur), kedalaman, kekuatan, skala intensitas di beberapa lokasi, dan potensi
tidak terjadi/ terjadi tsunami, serta tingkat ancaman tsunami
b. Peringatan Dini 2
Memuat informasi perkiraan ketinggian landaan tsunami serta prakiraan
waktu dan kawasan yang akan terlanda tsunami
c. Peringatan Dini 3
Memuat informasi kondisi kejadian tsunami pada daerah-daerah lain yang
terlanda tsunami

10
d. Peringatan Dini 4
Memuat informasi bahaya tsunami sudah berakhir

3. Pencegahan dan Mitigasi Bencana Gempa Bumi


Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana Gempa Bumi antara lain:
a. Memastikan bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran atau
gempa.
b. Memastikan perkuatan bangunan dengan mengikuti standard kualitas
bangunan.
c. Pembangunan fasilitas umum dengan standard kualitas yang tinggi.
d. Memastikan kekuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.
e. Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan
hunian di daerah rawan bencana.
f. Penerapan zonasi daerah rawan bencana dan pengaturan penggunaan lahan.
g. Membangun rumah dengan konstruksi yang aman terhadap gempa bumi.
h. Kewaspadaan terhadap resiko gempa bumi.
i. Selalu tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi goncangan gempa bumi.
j. Sumber api, barang-barang berbahaya lainnya harus ditempatkan pada
tempat yang aman dan stabil.
k. Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan dan kewaspadaan
masyarakat terhadap gempa bumi.
l. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencanadengan pelatihan
pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.
m. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggatian, dan peralatan
perlindungan masyarakat lainnya.
n. Rencana kontingensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam
menghadapi gempa bumi.

C. Manajemen Saat Gempa Bumi


a. Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi
Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk

11
yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban,
harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengurusan pengungsi,
penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
Dalam melaksanakan kegiatan tanggap darurat dibentuk suatu sistem
penanganan darurat bencana yang digunakan oleh semua instansi/lembaga
dengan mengintegrasikan pemanfaatan sumberdaya manusia, peralatan dan
anggaran atau yang disebut dengan sistem komando tanggap darurat. Adapun
tugas dan fungsi pokok komando tanggap darurat adalah sebagai berikut:
1) Komando Tanggap Darurat Bencana memiliki tugas pokok untuk:
Merencanakan operasi penanganan tanggap darurat bencana.
2) Mengajukan permintaan kebutuhan bantuan.
3) Melaksanakan dan mengkoordinasikan pengerahan sumberdaya untuk
penanganan tanggap darurat bencana secara cepat tepat, efisien dan efektif.
4) Melaksanakan pengumpulan informasi dengan menggunakan rumusan
pertanyaan sebagai dasar perencanaan Komando Tanggap Darurat
Bencana tingkat kabupaten/kota/provinsi/nasional.
5) Menyebarluaskan informasi mengenai kejadian bencana dan pananganan
nya kepada media massa dan masyarakat luas.

Fungsi Komando Tanggap Darurat Bencana adalah mengkoordinasikan,


mengintegrasikan dan mensinkronisasikan seluruh unsur dalam organisasi
komando tanggap darurat untuk penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda,
pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan pengurusan pengungsi, penyelamatan
serta pemulihan sarana dan prasarana dengan segera pada saat kejadian bencana.
Berikut upaya tanggap darurat pada saat terjadi gempa bumi yang dikutip dari
BNPB, 2012.

Jika sedang berada di luar rumah/ruangan :

1. Menjauhi bangunan tinggi, tembok, tiang/pusat listrik, papan reklame, serta


pohon;
2. Mencari tempat terbuka, misalnya lapangan;
3. Menghindari benda-benda ‘dengan risiko’, seperti rak hingga jendela kaca.

12
Jika sedang berada di atas/dalam kendaraan :
1. Menghentikan kendaraan;
2. Menghindari tempat-tempat tertentu, seperti di bawah jembatan (baik
jembatan penyeberangan maupun jembatan layang).

Jika sedang berada di alam terbuka :

1. Menghindari lereng dan jurang, serta bersikap waspada terhadap reruntuhan


batu atau tanah longsor (jika kamu berada di kawasan pegunungan);
2. Pindah ke daerah yang lebih tinggi untuk menghindari potensi tsunami (jika
kamu berada di kawasan pantai).

Berikut adalah langkah-langkah jika gempa berpotensi tsunami :

1. Jangan panik. Ini penting;


2. Ikuti arah jalur evakuasi tsunami atau pergi ke tempat yang lebih tinggi.
Ingat, gelombang tsunami bisa mencapai 24 meter;
3. Perhatikan selalu keadaan di sekitar lautan/pantai. Jika air laut surut dari
batas normal, tsunami mungkin terjadi. Jangan ragu untuk memperingatkan
orang-orang;
4. Jangan jadikan gelombang tsunami sebagai tontonan. Please deh, kalau
gelombang tsunami bisa kita lihat, berarti kita sedang ada di kawasan yang
berbahaya;
5. Jika tidak memungkinkan pergi ke dataran tinggi, carilah gedung dengan
konstruksi yang kuat dan bertingkat. Pergilah ke lantai yang paling aman
(setidaknya lantai 3) untuk menyelamatkan diri;
6. Jika kamu ikut terhanyut oleh gelombang, hindari bersikap panik dan carilah
benda terapung yang bisa digunakan sebagai rakit, seperti batang pohon;
7. Hindari meminum air laut, usahakan badanmu tetap berada di permukan air
untuk bernapas;
8. Bertahanlah di atas atap rumah jika gelombang tsunami membawamu ke
sana. Tetaplah tenang dan tunggu air surut;
9. Jika memungkinkan, kenakanlah jaket hujan.

13
b. Bantuan Darurat Bencana Gempa Bumi
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 22 Tahun 2008
Bantuan darurat bencana adalah bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
pada saat tanggap darurat. Pendanaan dan pengelolaan bantuan bencana
ditujukan untuk mendukung upaya penanggulangan bencana secara berdaya
guna, berhasilguna, dan dapat dipertanggung jawabkan.
Pengaturan pendanaan dan pengelolaan bantuan bencana meliputi:
a. Sumber dana penanggulangan bencana
b. Penggunaan dana penanggulangan bencana
c. Pengelolaan bantuan bencana
d. Pengawasan, pelaporan, pertanggungjawaban pendanaan dan pengelolaan
bantuan bencana.

Dana penanggulangan bencana menjadi tanggungjawab bersama antara


Pemerintah dan pemerintah daerah. Dana penanggulangan bencana
sebagaimana dimaksud dapat berasal dari APBN; APBD; dan/atau Masyarakat.
Penggunaan dana siap pakai terbatas pada pengadaan barang dan/atau jasa
untuk:

a. Pencarian dan penyelamatan korban bencana Pertolongan darurat


b. Evakuasi korban bencana
c. Kebutuhan air bersih dan sanitasi
d. Pangan
e. Sandang
f. Pelayanan kesehatan; dan
g. Penampungan serta tempat hunian sementara.

Penggunaan dana siap pakai dilaksanakan berdasarkan pedoman yang


ditetapkan oleh Kepala BNPB.

D. Manajemen Pasca Gempa Bumi


Manajemen pemulihan (pasca bencana) adalah pengaturan upaya
penanggulangan bencana dengan penekanan pada faktor-faktor yang dapat
mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana

14
dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana secara
terencana, terkoordinasi, terpadu dan menyeluruh setelah terjadinya bencana.

1. Rehabilitasi Bencana Gempa Bumi


Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan
publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca
bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar
semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah
pascabencana. Rehabilitasi dilakukan melalui kegiatan Perbaikan lingkungan
daerah bencana. Merupakan kegiatan fisik perbaikan lingkungan untuk
memenuhi persyaratan teknis, sosial, ekonomi, dan budaya serta ekosistem
suatu kawasan. Kegiatan perbaikan fisik lingkungan sebagaimana dimaksud
mencakup lingkungan kawasan permukiman, kawasan industri, kawasan usaha,
dan kawasan bangunan gedung.

2. Rekonstruksi Bencana Gempa Bumi


Rekonstruksi adalah perumusan kebijakan dan usaha serta langkah-
langkah nyata yang terencana baik, konsisten dan berkelanjutan untuk
membangun kembali secara permanen semua prasarana, sarana dan sistem
kelembagaan, baik di tingkat pemerintahan maupun masyarakat, dengan
sasaran utama tumbuh berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan
budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi
masyarakat sipil dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat di wilayah
pasca bencana. Lingkup pelaksanaan rekonstruksi dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Program Rekonstruksi Fisik
Rekonstruksi fisik adalah tindakan untuk memulihkan kondisi fisik
melalui pembangunan kembali secara permanen prasarana dan sarana
permukiman, pemerintahan dan pelayanan masyarakat (kesehatan,
pendidikan dll), prasarana dan sarana ekonomi (jaringan perhubungan, air
bersih, sanitasi dan drainase, irigasi, listrik dan telekomunikasi dll),
prasarana dan sarana sosial (ibadah, budaya dll.) yang rusak akibat
bencana, agar kembali ke kondisi semula atau bahkan lebih baik dari

15
kondisi sebelum bencana. Cakupan kegiatan rekonstruksi fisik mencakup,
tapi tidak terbatas pada, kegiatan membangun kembali sarana dan
prasarana fisik dengan lebih baik dari hal-hal berikut seperti prasarana dan
sarana; sarana sosial masyarakat; penerapan rancang bangun dan
penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana.
b. Program Rekonstruksi Non Fisik
Rekonstruksi non fisik adalah tindakan untuk memperbaiki atau
memulihkan kegiatan pelayanan publik dan kegiatan sosial, ekonomi serta
kehidupan masyarakat, antara lain sektor kesehatan, pendidikan,
perekonomian, pelayanan kantor pemerintahan, peribadatan dan kondisi
mental/sosial masyarakat yang terganggu oleh bencana, kembali ke
kondisi pelayanan dan kegiatan semula atau bahkan lebih baik dari kondisi
sebelumnya. Cakupan kegiatan rekonstruksi non-fisik di antaranya adalah:
1) Kegiatan pemulihan layanan yang berhubungan dengan kehidupan
sosial dan budaya masyarakat.
2) Partisipasi dan peran serta lembaga/organisasi kemasyarakatan, dunia
usaha, dan masyarakat.
3) Kegiatan pemulihan kegiatan perekonomian masyarakat.
4) Fungsi pelayanan publik dan pelayanan utama dalam masyarakat.
5) Kesehatan mental masyarakat.

16
Simulasi Manajemen Bencana Ditempat Terbuka

Diceritakan disuatu Desa Cangkudu, Kabupaten Cijengkol hiduplah beberapa


keluarga yang wataknya berbeda beda. Suatu pagi di warkop Mbak Nay Nay........

Bu eka : Mba – Mba saya pesen the nya satu gelas.

Mbak Nay – Nay : Oh iya monggo pak..ditunggu yo..

Bu eka : Eh ada ustzh. ani juga (sambil bersalaman)

Ustazah : Iya bu ngeteh nih

Mbak Nay – Nay : Ini tehnyaa bu.

Secara tidak sengaja di televisi yang ditayangkan di warung


Mbak Nay – Nay kebetulan menayangkan berita, dan di televisi itu ditayangkan
berita bencana alam gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta.

Reporter Selin : Gempa Bumi Yogyakarta Mei 2006 adalah peristiwa gempa
Bumi tektonik kuat yang mengguncang DIY dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006
kurang lebih pukul 05:55:03 WIB selama 57 detik. Gempa tersebut berkekuataan
5,9 pada skala Richter. Walaupun hiposenter gempa berada di laut, tetapi tidak
mengakibatkan tsunami. Gempa juga dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo,
Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan disejumlah kota di
Provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek, Magetan,
Pacitan Blitar,dan Surabaya. Kerusakannya pun cukup parah seperti gedung
gedung rusak ,situs kuno dan lokasi wisata pun ikut rusak.

Sementara itu Mbak Nay-Nay, Ustazah ani dan bu eka membicarakan akan
hal itu. Bu eka takut akan bencana itu dan ia pun panik gak karuan sampai
berkeringatan, Ustazah ani pun sebisanya menenangkan bu eka.

Bu eka dengan segera pergi kerumah Pak RT karena mendengar keluhan


dan rasa takut dari Mbak Nay-Nay dan ustz ani.

Bu eka : Assalamu’alaikum Pak RT.

17
Pak RT : Wa’alaikum bu, kalau boleh saya tahu ada apa

Bu eka : Ini pak tadi ditelevisi ditayangkan tentang bencana


gempa, saya ingin menyampaikan keluh kesah dari warga
mereka ketakutan ketika mendengar kata gempa.

Pak RT : Lalu bagaimana bu?

Bu Eka : Bagaimana solusinya pak supaya warga tidak ketakutan.

Pak RT : Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada Bu


eka karena sudah menyampaikan masalah dari warga.
Untuk menjawab pertanyaan dari bu eka tadi. Kebetulan
saya mempunyai kenalan yang bekerja di BMKG saya akan
menelepon beliau dan menanyakan langkah selanjutnya apa
yang harus kita lakukan.

Bu eka : Iya terimakasih pak ,saya mau pamit dulu pak soalnya
masih banyak pekerjaan di mesjid.

Pak RT segera menelpon temanya yang berkerja di BMKG itu dan dengan
segera pun temanya Pak RT yang bernama Drs. Hj Meilin menyetujui untuk
mengadakan sosialisasi didesa Cangkudu keesokan harinya.Tidak lupa, Pak RT
pun menelepon sebagian warga untuk memberitahu bahwa besok akan datang
penyuluh bencana alam gempa dari BMKG di Desa.

Keesokan harinya Pak RT memukul mukulkan kentongan untuk


memberitahu kepada seluruh warga bahwa akan di adakan penyuluhan di balai
desa . Semua warga pun ikut berkumpul tak lama Drs.Hj Meilin datang dan
bersalama kepada seluruh warga dahulu sebelum beliau bersosialisasi.

Pak RT terlebih dahulu bertegur sapa dengan warganya dan


menyampaikan maksudnya beliau mengumpulkan warga di balai desa ini dan
menjelaskan maksud didatangkannya Drs.Hj Meilin.

Pak RT : Assalamu’alaikum, selamat siang pak bu . Sebelumnya


saya mengucapkan maaf karena sudah mengganggu waktu

18
bapak bapak dan ibu ibu. Saya mengundang ibu ibu dan
bapak bapak kesini karena saya mau memberitahukan
tentang bencana gempa melalui teman saya yang bernama
Drs.Hj Meilin beliau ini dari BMKG.

Drs.Hj Meilin : Hay ibu bapak perkenalkan nama saya Meilin.

Pak RT : Dan karena waktu waktu ini sedang gencar tentang


bencana alam gempa yang terjadi di Yogyakarta pada
beberapa hari yang lalu, untuk itu saya berinisiatif
mengundang Drs.Hj Meilin kesini, sebelumnya saya juga
mendengar beberapa warga yang ketakutan ketika
mendengar kata gempa. Semoga dengan adanya sosialisasi
ini kita dapat mengantisifasi bencana alam yang
diakibatkan oleh gempa.

Semua warga : Aminnn..

Mbak Nay – Nay dan Bu eka masih ketakutan sementara Ustz ani berusaha
untuk tetap tenang.

Pak RT : Pak bu supaya kita tidak terbengong bengong mari kita


mendengarkan dengan seksama sosialisasi dari Drs.Hj Meilin. Untuk itu
dipersilahkan kepada beliau.

Drs.Hj Meilin. : Terimakasih kepada pak RT,Ibu-Ibu bapak-bapak dengan


datangnya saya kesini mau bersosialisasi mengenai bencana alam gempa
sebelumnya sempat ada yang tahu apa itu gempa?

Mbak Nay-Nay : Gempa teh yang menimbulkan bangunan rusak ya.

Bu eka : Terus yang begini bukan (sambil menggerakan semua


badannya).

Drs.Hj Meilin : Memang benar apa yang ibu dan bapak bilang.

19
Supaya kita lebih paham saya akan menjelaskannya,sebelum ke inti dari
gempa saya sedikit akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai Bencana secara
umum. Bencana secara umum terbagi menjadi 3 bagian: Bencana alam, non alam
dan sosial. Yang akan kita bahas adalah Bencana alam memang banyak sekali
jenis dari bencana alam misalnya gunung meletus, gempa,tanah longsor, tsunami,
kebakaran hutan dan banjir. Lalu isu bencana apa yang memnyebabkan warga di
sini resah?

Semua Warga : Gempa bu.

Drs.Hj Meilin : Oh Gempa, begini ibu ibu. Gempa merupakan peristiwa


alam berupa getaran atau goncangan tanah yang terjadi
pada kulit bumi dan umumnya diawali oleh patahnya
lapisan tanah/batuan serta lepasnya energi secara
mendadak. Kalau diupamakan Gempa itu seperti karet
gelang yang ditarik secara tiba tiba dan dilepaskannya pun
secara tiba tiba.

Semua warga ada yang mengerti ada juga yang masih memikirkan apa
yang penyuluh itu katakan.

Drs.Hj Meilin : Ya sudah saya akan menjelaskan.” Gempa bumi itu


merupakan peristiwa alam yang disebabkan oleh pergeseran
lempeng pada kulit tanah sehingga berakibat kita bergerak”.

Pak RT : Setelah ibu bernyanyi saya menjadi lebih mengerti .

Mbak Nay Nay : Selanjutnya apa yang kita harus lakukan supaya selamat
dari gempa?

Drs.Hj Meilin : Ibu saya boleh menjawabnya?. Menurut sebuah artikel


yang saya baca bila kita berada dirumah hendaknya kita
harus : jangan panik dan berlari keluar ,berlindung dibawah
meja atau tempat tidur,bila tidak ada lindungi kepala
dengan bantal atau benda yang lainnya,jauhi rak
buku,lemari, dan kaca jendela, hati hati terhadap langit –

20
langit yang mungkin runtuh , benda benda yang tergantung
didinding dan sebagainya.

Ustz ani : Bu bagaimana kalau gempa terjadi dan saya sedang berada
dimesjid?

Bu eka : Bu saya juga mau bertanya. Bila saya sedang disawah dan
tiba tiba terjadi gempa lalu saya harus apa?

Seorang Warga : Bu saya juga mau bertanya bila gempa terjadi dan anak
saya sedang bermain bola saya harus bagaimana.

Drs.Hj Meilin :Pertanyaan yang cukup bagus jadi begini ibu pak ,bila kita
sedang dimesjid hal yang paling utama dilakukan adalah
jangan panik karena bila kita panik semua yang ada
dipikiran kita akan hilang, selanjutnya bila ada tempat
ceramah bersembunyilah kedalam,bila sempat bapak berlari
maka berlari lah ke tempat yang terbuka supaya tidak
ketimpa reruntuhan. Sebelumnya apa ada yang tahu bila kita
terjadi gempa disawah dan dilapang apa yang harus
dilakukan?.

Mbak Nay – Nay : Bu (Sambil mengacungkan tangannya) karena kedua


tempat tersebut sama sama merupakan tempat terbuka maka
yang harus dilakukan adalah jangan panik dan menyebabkan
kepanikan hindari tebing juga pepohonan, bukan begitu bu?

Drs.Hj Meilin : Memang betul bu, apa ada yang mau bertanya lagi?

Pak RT :Bu mengapa gempa di Yogyakarta menimbulkan banyak


korban dan juga banyak bangunan yang rusak?.

Drs.Hj Meilin :Yang pertama adalah kurangnya pengetahuan masyarakat


akan tanda tanda bencana alam, minimnya informasi dari
pemerintah, kurangnya kesadaran masyarakat dan ketidak
pedulian sebagian masyarakat yang mengenali tanda tanda

21
bencana. Dengan adanya sosialisasi ini saya berharap agar
dapat meminimalisir korban. Ada lagi yang mau bertanya?

Mbak Nay Nay : Ketika kita ingin mencari informasi terkait bencana alam
bagaimana bu?

Pak RT : Saya boleh menjawabnya? Yang pertama Kantor Kepala


Desa/Lurah/Camat, Kantor polisi atau/TNI,
Puskesmas/Rumah Sakit, Posko bencana, kordinator
kampung,BNPB/BPBD,PMI,LSM yang menangani
bencana. Itu yang saya tahu mah

Drs.Hj Meilin : Betul sekali pak.

Ustz ani : Bu lalu apa yang harus kita lakukan setelah terjadi gempa
itu? Apakah ada yang akan membantu kita bila terjadi
bencana alam ?

Drs.Hj Meilin : Bila berada dalam bangunan, keluar dari bangunan


tersebut dengan tertib dan jangan menggunakan tangga
berjalan atau lift. Lakukan P3K dan minta pertolongan
apabila terjadi luka parah. Periksa lingkungan sekitar,
periksa segala hal yang dapat membahayakan (Kebocoraan
gas, arus pendek atau aliran, pipa air). Jangan masuk
kedalam bangunan yang sudah terjadi gempa, kemungkinan
masih terdapat reruntuhan. Dengarkan informasi dari media
elektronik Pasti ada bu karena pemerintah sudah
menyiapkan Satlak PBB (Satuan Pelaksanaan
Penanggulangan dan Pengungsi), Satkorlak PBP (Satuaan
Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana dan
pengungsi), SAR, PMI, BMKG, LSM dan media cetak
maupun elektronik. Ada yag mau bertanya lagi?

22
Semua warga hanya menggelengkan kepalanya.

Drs.Hj Meilin : Bila sedang mengendarai kendaraan: Segera hentikan di


tempat terbuka, jangan berhenti di atas jembatan atau
dibawah jembatan layang/ jembatan penyebrangan. Bila
sedang berada di pusat perbelanjaan, bioskop, dan lantai
dasar mal: Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari
kepanikan, Ikuti semua petunjuk dari pegawai atau satpam.
Bila sedang berada di dalam lift: Jangan menggunakan lift
saat terjadi gempa atau kebakaraan, Lebih baik
menggunakan tangga darurat, Jika kamu merasakan getaran
gempa saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua
tombol. Bila sedang berada di kereta api: Berpeganglah
dengan erat pada tiang, sehingga kamu tidak akan terjatuh
seandainya keretadihentikan secara mendadak.

Bersikap tenanglah mengikuti penjelasaan dari petugas


kereta api. Bila sedang berada di gunung/ pantai:
Menjauhlah langsung ke tempat aman, Di pesisir pantai,
bahayanya datang dari tsunami, Jika kamu merasakan
getaran dan tanda – tanda tsunami tampak, cepatlah
mengungsi ke dataran tinggi.

Pak RT : Apa ada yang mau bertanya lagi?

Semua Warga : Tidak pak sudah jelas sekali pembahasannya.

Pak RT : Untuk itu saya tutup dulu acara sosialisasi ini.


Wassalamu’alaikum.

Semua warga pun berpamitan kepada Pak RT dan Bu Meilin. Sambil


pulang mereka membicarakan apa yang disosialisasikan tadi. Tidak lama
kemudian Bu Meilin pamit kepada pak RT karena dikantornya masih banyak
tugas yang harus dikerjakan.

23
Setelah beberapa hari kemudian terjadilah getaran gempa yang sangat
dahsyat.

 Ustz ani selamat karena beliau berlari ke tempat terbuka


 Pak RT sempat mengalami luka sedikit karena ketika beliau memukul
kentongan, kentongan itu mengenai kakinya.
 Mbak Nay Nay mengalami luka karena tertimpa warungnya
 Bu eka mengalami luka sedikit karena tertimpa dahan pohon.

Setelah gempa terjadi Pak RT menelepon Dr.Hj Meilin dan dengan segera
beliau menanggapi teleon dari Pak RT kemudian beliau mengajak suster Maya.
Sebelum datang Dr.Hj Meilin Pak RT dan Ustz ani berusaha menyelamatkan
warga yang lainya. Dr.Hj Meilin mengurus semua bantuan diposko pengungsian,
Pak RT membantu Dr.Hj Meilin mengangkat bantuan yang diberikan oleh
pemerintah, dan suster Maya menyelamatkan para korban dan membantu para
korban untuk dipindahkan ke posko pengungsian.

Setelah para korban dibawa ke posko, Suster maya mengobati semua


korban. Untuk mengembalikan pemikiran mereka supaya tidak mengingat ngingat
masalah gempa yang terjadi beberapa hari lalu, Suster Maya mengadakan
penyuluhan.

Suster Maya : Apa kalian sudah merasa baikan?

Mbak Nay Nay : Secara fisik baik suster tapi pikiran saya masih dihari
kemarin masih membayangkan ketika saya harus ketiban
warung saya dan untungnya ada bu Ustz yang
menyelamatkan saya sesudah terjadi bencana gempa.

Pak RT : Saya juga harus berlari lari memukul mukulkan kentongan


dan akhirnya kaki saya harus terluka.

Suster Maya : Ya sudah sebelumnya saya berterimakasih kepada Pak RT


dan Mbak Nay Nay sudah mengemukakan
pendapatnya.Sebelumnya saya akan mengadakan
permainan kekompakan. Setuju?

24
Ustz ani : Permainan apa dan untuk apa?

Suster Maya : Supaya kalian tidak mengingat ngingat saat terjadi


gempa.saya akan membagi dua kelompok yang pertama
anak anak akan bermain dengan Dr Hj Meilin dan Ibu Ibu
juga bapak-bapak akan bermain bersama Saya. Silahkan
anak anak untuk mendekat kepada Dr Hj Meilin.

Anak anak dan Dr Hj Meilin memainkan permainan mencari yang


dibicarakan oleh Dr Hj Meilin. Contohnya: Meilin mengatakan Ibu membutuhkan
kayu, selanjutnya anak anak harus mencari kayu disekitar pengungsian dan setelah
ditemukan nanti di depan sudah disediakan balon. Balon itu ada dua ada yang
merupakan hadiah ada juga yang merupakan hukuman. Sementara itu Suster
Maya menyuruh kepada Ustz ani, Pak RT, Bu eka dan Mbak Nay nay untuk
membentangkan sarung yang diatas sarung itu berisi gelas yang dipenuhi ari.
Gelas pada air itu tidak boleh tumpah, sehingga mereka harus berhati hati dan
butuh kekompakan . Sama juga seperti membersihkan dan memperbaiki bangunan
setelah gempa mereka perlu bergotongroyang maka dari itulah game ini diadakan
dan sebagai pemecah pemikiran mereka mengenai gempa yang terjadi beberapa
hari yang lalu. Akhirnya, mereka pun menunjukan wajah senangnya.

Beberapa harinya kemudian pak RT berinisiatif mengadakan perbaikan


bangunan dan membersihkan sisa sisa reruntuhan. Kegiatan tersebut pun tidak
terlepas dari sorot kamera sang wartawan dan suara merdu sang Reporter yang
menyampaikan beritanya.Kegiatan tersebut pun dibantu oleh Suster Maya dan Dr
Hj Meilin dan kegiatan tersebut berlangsur ceria dengan kegotongroyongan yang
penuh dari semua warga.

Selanjutnya, Mbak Nay Nay menyiapkan secangkir air untuk menyuguhi


para pekerja. Dan acara tersebut berakhir dengan mengangkat secangkir air
mereka yang disugui oleh Mbak Nay Nay kemudian mereka meminumnya pun
secara bersamaan dan disitulah rasa kebersamaan itu ada. Selanjutnya, Dr Hj
Meilin dan Suster Maya pamit pulang. Dan akhirnya pun Desa Cijengkol kembali

25
sejahtera sebelum ada kejadian gempa itu, Desa Cijengkol pun terkenal sampai
pelosok Indonesia berkat dari sorot kamera dari sang wartawan.

26
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penanggulangan bencana terdiri dari 3 tahap, yaitu manajemen pra
bencana, manajemen saat bencana, dan manajemen pasca bencana. Manajemen
pra bencana mencakup kegiatan kesiap siagaan, deteksi dini, pencegahan , dan
mitigasi. Manajemen saat bencana mencakup kegiatan tanggap darurat, dan
bantuan darurat. Manajemen pasca bencana mencakup kegiatan pemulihan,
rehabilitasi, dan rekonstruksi.

B. Saran
Masalah penanggulangan bencana tidak hanya menjadi beban pemerintah
atau lembaga-lembaga yang terkait. Tetapi juga diperlukan dukungan dari
masyarakat umum. Diharapkan masyarakat dari tiap lapisan dapat ikut
berpartisipasi dalam upaya penanggulangan bencana.

27