Anda di halaman 1dari 2

ALFIN ALAFANTA

180706009
Pengantar Sejarah Indonesia

MASA PRA SEJARAH DI INDONESIA

Zaman atau masa pra sejarah adalah suatu masa dalam sejarah dimana kehidupan manusia
belum mengenal tulisan atau aksara. Masa ini juga dikenal dengan sebutan
zaman nirleka yang berarti zaman tanpa aksara. Zaman ini ditandai dengan masa kehidupan
manusia yang masih menggunakan tradisi lisan untuk merekam dan mewariskan masa
lalunya karena belum mengenal tulisan dan juga, cara hidup yang masih primitif dalam
segala aspek kehidupan.

A. Perkembangan Kehidupan Masa Pra Sejarah di Indonesia

Perkembangan kehidupan masyarakat pra sejarah di Indonesia secara garis besar dapat
dibedakan menjadi tiga masa yaitu:

1. food Gathering, dimana pada awal periode di awali dengan masa ketika manusia
masih hidup secara nomaden dan hanya sekedar berburu atau mengumpulkan
makanan. Pada masa ini, mereka masih hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya. Mereka hidup dengan cara berburu untuk mengumpulkan makanannya dan
hanya bergantung pada hasil alam. Karena itu mereka tidak pernah tinggal menetap,
mereka mencari tempat tinggal yang dapat memenuhi kebutuhan mereka, dan ketika
lingkungan tersebut sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka lagi, mereka akan
mencari tempat tinggal baru. Alat yang digunakan pada masa ini merupakan alat-alat
sederhana yang terbuat dari batu, seperti kapak genggam yang dapat mendukung
kegiatan berburu mereka.

2. food Producing, adalah masa dimana masyarakat mulai menemukan cara untuk
menghasilkan makanannya sendiri Pengetahuan dan pola pikir yang semakin
berkembang membuat mereka lebih mengenal dan memahami kondisi lingkungan
tempat tinggalnya. Pada saat itu mereka mulai bercocok tanam sebagai cara untuk
menghasilkan makanannya sendiri selain dari berburu. Mereka banyak menanam
tanaman jenis umbi-umbian dengan sistem ladang berpindah, yaitu mereka
bergantung dengan kondisi kesuburan tanah dan curah hujan lingkungan tersebut,
apabila lingkungan yang dijadikan lokasi bercocok tanam kurang menghasilkan maka
mereka akan mencari lahan lain untuk bercocok tanam. Pada masa ini mereka mulai
bisa mengontrol kebutuhan makanan mereka sehinga mereka mulai bisa tinggal
menetap. Selain itu peralatan yang digunakan adalah seperti gerabah yang dibuat dari
tanah liat yang dibakar, serta terdapat beberapa perhiasan yang terbuat dari batu dan
kayu.

3. masa perundagian, atau dikenal dengan istilah undagi yaitu,masa dimana orang-orang
telah memiliki keterampilkan dalam pekerjaan tertentu. dampak dari hal ini,
kehidupan masyarakat pada masa itu mengalami perkembangan yang pesat terutama
dalam bidang teknologi. hal ini terlihat dari banyaknya hal-hal baru yang ditemukan
dan semakin canggihnya peralatan sehari-hari yang digunakan. Beberapa peninggalan
pada masa itu antara lain seperti neraca dan kapak corong yang terbuat dari perunggu
serta beberapa peninggalan bangunan seperti Menhir (sejenis tugu dari batu) dan
punden berundak (bangunan menyerupai tangga dari batu).

B. Sistem Kepercayaan Masyarakat Masa Pra Sejarah di Indonesia


Secara garis besar sistem kepercayaan masyarakat pada zaman pra sejarah dapat
dibagi kedalam beberapa kelompok diantaranya :

1. Animisme, adalah kepercayaan terhadap roh nenek moyang yang masih dapat
mempengaruhi kehidupan di dunia. Mereka percaya bahwa roh-roh tersebut dapat
mendiami berbagai jenis objek seperti batu, pohon dan sebagainya. Mereka juga
melakukan berbagai kegiatan spiritual seperti memberikan sesajian atau kegiatan
penghormatan lainnya terhadap roh-roh tersebut.

2. Dinamisme, adalah kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Masyarakat pada masa itu
percaya bahwa segala sesuatu mempunyai kekuatan gaib yang dapat mempengaruhi
keberhasilan maupun kegagalan mereka dalam kehidupan. Kegiatan spiritualnya pun
tidak jauh berbeda dengan kepercayaan animisme, mereka melakukan berbagai ritual
untuk menghomati segala objek yang mereka anggap keramat.

3. Totenisme, adalah kepercayaan terhadap beberapa hewan tertentu seperti ular,


harimau, sapi dan sebagainya yang dianggap suci dan memiliki kekuatan gaib
sehingga pantas untuk mereka puja. Pada masa itu, mereka membangun berbagai jenis
bangunan dan peti-peti mayat khusus untuk melakukan kegiatan atau ritual
penghormatan terhadap kepercayaannya.