Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

“DISLOKASI”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah KMB II

Dosen pengampu : Rahmawati Shoufiah,S.ST., M.Pd.

Disusun oleh:

1. Mariani P07220116101
2. Marisa Dwiyanda P07220116102
3. Meidyna Larasati P07220116103
4. Melita Ramadhani P07220116104
5. Miranda P07220116105

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PRODI D-III KEPERAWATAN
KELAS BALIKPAPAN

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang atas izin dan
kuasaNya makalah dengan judul ”KMB II” dapat diselesaikan.

Penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Sistem Muskuloskeletal program studi ilmu keperawatan. Penyusunan
makalah terlaksana dengan baik berkat dukungan dari banyak pihak. Untuk itu,
pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang
bersangkutan.

Kesalahan bukan untuk dibiarkan tetapi kesalahan untuk diperbaiki.


Walaupun demikian, dalam makalah ini kami menyadari masih belum sempurna.
Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan tugas
makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat bagi kami dan dapat dijadikan
acuan bagi pembaca terutama bagi ilmu keperawatan.

Balikpapan, 10 Agustus 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
Halaman Judul ................................................................................................. i
Kata Pengantar ................................................................................................. ii
Daftar Isi .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan ......................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Dislokasi .......................................................................... 4
B. Anatomi Fisiologi Sendi................................................................ 4
C. Klasifikasi Dislokasi ..................................................................... 6
D. Etiologi Dislokasi .......................................................................... 9
E. Patofisiologi Dislokasi ................................................................. 9
F. Manifestasi Klinis Dislokasi ........................................................ 10
G. Pemeriksaan Penunjang Dislokasi ............................................... 10
H. Penatalaksanaan Dislokasi ........................................................... 11
I. Komplikasi Dislokasi ................................................................... 12
J. Pathway Dislokasi ......................................................................... 13
K. Asuhan Keperawatan Dislokasi .................................................... 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 20
B. Saran .............................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 21

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dislokasi sendi merupakan keadaan di mana tulang- tulang yang
membentuk sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis. Dislokasi ini dapat
terjadi pada komponen tulangnya saja yang bergeser atau seluruh komponen
tulang terlepas dari tempat yang seharusnya (Mansjoer dkk., 2000).
Dislokasi terjadi saat ligarnen rnamberikan jalan sedemikian rupa
sehinggaTulang berpindah dari posisinya yang normal di dalam sendi.
Dislokasi dapat disebabkan oleh faktor penyakit atau trauma karena dapatan
(acquired) atau karena sejak lahir (kongenital) ( Kneale & Petterdavis, 2011).
Tingkat dislokasi yang lebih tinggi terlihat pada perempuan yang berusia >60
tahun. Penyebab tersering didapatkan 58,8% akibat jatuh. (Legiran dkk,
2015).
Dislokasi sendi merupakan salah satu dari cedera muskuloskeletal yang
cenderung terus meningkat dan akan mengancam kehidupan (Rasjad, 2003).
Dislokasi sendi umumnya jarang menyebabkan kematian, namun dapat
menimbulkan penderitaan fisik, stress mental, dan kehilangan banyak waktu.
Oleh karena itu, pada kasus dislokasi sendi akan meningkatkan angka
morbiditas dibanding angka mortalitas (Legiran dkk, 2015).
Pada keadaan akut, penatalaksanaan yang lama dan tidak cermat dapat
menimbulkan berbagai komplikasi salah satunya nekrosis vaskular dan
dislokasi berulang yang disbut juga luksasio habitualis (Sjamsuhidajat, 2010).
Penanganan yang cepat dan tepat merupakan kunci untuk menurunkan angka
morbiditas. Demikian pula dengan epidemiologi klinis dapat membantu
memahami patofisiologi gangguan ini sehingga dapat mengurangi morbiditas
lebih lanjut (Legiran dkk, 2015).
Gambaran kasus di atas menunjukkan pentingnya penyakit ini yang
belum mendapat perhatian mengenai besarnya resiko seseorang menderita
dislokasi. Maka dari itu, kami akan membahas mengenai dislokasi dalam
makalah ini dan berusaha mengurangi resiko lebih lanjut dari dislokasi
dengan meningkatkan asuhan keperawatan.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari Dislokasi ?
2. Bagaimana anatomi fisiologi sendi?
3. Apa klasifikasi Dislokasi ?
4. Apa etiologi Dislokasi ?
5. Bagaimana patofisiologi dari Dislokasi ?
6. Bagaimana manifestasi klinis dari Dislokasi?
7. Bagaimana pemeriksaan diagnostik dari Dislokasi ?
8. Bagaimana komplikasi dari Dislokasi ?
9. Bagaimana Penatalaksanaan dari Dislokasi ?
10. Bagaimana pathways Dislokasi ?
11. Bagaimana Asuhan Keperawatan Dislokasi ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa definisi Dislokasi.
2. Untuk mengetahui bagaimana anatomi fisiologi sendi.
3. Untuk mengetahui apa klasifikasi Dislokasi.
4. Untuk mengetahui apa etiologi Dislokasi.
5. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi Dislokasi.
6. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis Dislokasi.
7. Untuk mengetahui bagaimana pemeriksaan diagnostik Dislokasi.
8. Untuk mengetahui bagaimana komplikasi Dislokasi.
9. Untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan Dislokasi.
10. Untuk mengetahui bagaimana pathways Dislokasi.
11. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan dari Dislokasi.

D. Manfaat
1. Manfaat teoritis
Dalam penyusunan makalah ini dapat memberikan sumbangan
pemikiran dalam memperkaya wawasan bagi dunia pendidikan khususnya
dunia pendidikan ilmu keperawatan dan sebagai sumber informasi dalam

2
menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran.

2. Manfaat praktis
1) Bagi mahasiswa
Dapat menambah wawasan ilmu bagi mahasiswa yang lain, dan
dapat menambah pertimbangan referensi.
2) Bagi insititusi
Sebagai masukan yang membangun guna meningkatkan kualitas
lembaga pendidikan yang ada, termasuk para pendidik yang ada
didalamnya.

3
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan
sendi. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau
terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari
mangkuk sendi) (Brunner & Suddarth, 2001).
Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi
bahu dan sendi pinggul (paha). Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi
itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang
pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor.
Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi (Muttaqin, 2008).
Dislokasi merupakan keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk
sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi)
(Brunner & Suddarth, 2002).

Dislokasi sendi dapat dibagi menjadi tiga yaitu :

1. Dislokasi Congonital : Dislokasi sendi yang terjadi sejak lahir akibat


kesalahan pertumbuhan.

2. Dislokasi Patologik : Dislokasi sendi akibat penyakit sendi atau jaringan


sekitar sendi.

3. Dislokasi Traumatic : Dislokasi sendi akibat kedaruratan ortopedi (


seperti pasokan darah, susunan syaraf rusak, dan mengalami stress berat,
kematian jaringan akibat anoksia ) yang disebabkan oleh cedera dimana sendi
mengalami kerusakan akibat kekerasan.

2. Anatomi Fisiologi Sendi


Sendi merupakan suatu engsel yang membuat anggota tubuh dapat
bergerak dengan baik, juga merupakan suatu penghubung antara ruas tulang
yang satu dengan yang lainnya, sehingga kedua tulang tersebut dapat
digerakkan sesuai dengan jenis persendiannya (Sloane, 2003).

4
Fungsi utama sendi adalah untuk memberikan gerakan fleksibel dalam
tubuh. Macam tipe persendian:
1. Sinartosis
Adalah persendian yang tidak bisa digerakkan. Contoh : persendian
tulang tengkorak.
2. Diartosis
Adalah persendian yang memungkinkan terjadinya pergerakkan. Contoh
: persendian tulang telapak tangan dengan pergelangan tangan.
3. Amfirtosis
Adalah persendian yang dihubungkan oleh jaringan tulang rawan
sehingga memungkinkan terjadinya sedikit gerakan. Contoh : persendian
atara tibia dan fibula.

5
6
3. Etiologi
Dislokasi disebabkan oleh : (Rejo, 2013)
1. Usia
Faktor usia sangat menentukan karena mempengaruhi kekuatan serta
kekenyalan jaringan. Misalnya pada umur 30 – 40 tahun kekuatan otot
akan relative menurun. Elastisitas tendon dan ligamen menurun pada
usia 30 tahun.
2. Terjatuh atau kecelakaan
Dislokasi dapat terjadi apabila terjadi kecelakan atau terjatuh sehingga
lutut mengalami dislokasi.
3. Pukulan
Dislokasi lutut dapat terjadi apabila mendapat pukulan pada bagian
lututnya dan menyebabkan dislokasi.
4. Tidak melakukan pemanasan
Pada atlet olahraga sering terjadi keseleo karena kurangnya pemanasan.
5. Cedera olahraga
Pemain basket dan kiper pemain sepak bola paling sering mengalami
dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak sengaja menangkap
bola dari pemain lain.
6. Patologis
Terjadinya ‘tear’ ligament dan kapsul articuler yang merupakan
kompenen vital penghubung tulang.
7. Terjadi infeksi di sekitar sendi.

4. Patofisiologi
Dislokasi biasanya disebabkan oleh jatuh pada tangan. Humerus
terdorong ke depan, merobek kapsul atau menyebabkan tepi glenoid teravulsi.
Kadang-kadang bagian posterolateral kaput hancur. Mesti jarang prosesus
akromium dapat mengungkit kaput ke bawah dan menimbulkan luksasio
erekta (dengan tangan mengarah lengan ini hampir selalu jatuh membawa
kaput ke posisi di bawah karakoid). Dislokasi terjadi saat ligarnen
memberikan jalan sedemikian rupa sehingga tulang berpindah dari posisinya

7
yang normal di dalam sendi. Karena terpeleset dari tempatnya, maka sendi
itupun menjadi macet. Selain macet, juga terasa nyeri. Sebuah sendi yang
pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor.
Akibatnya, sendi itu akan gampang dislokasi lagi (Rejo, 2013).

8
5.Pathway Dislokasi

Infeksi
Usia Trauma (Cedera) Kelainan Kongenital
(Bawaan)

Elastisitas tendon ↓ Terlepasnya kompresi


jaringan tulang kesatuan Deformitas /
sendi malforasi bawaan

Merusak struktur sendi,


ligamen

Kompresi jaringan tulang


yang terdorong kedepan

Ligamen memberikan
jalan

Tulang pindah dari posisi


normal

Dislokasi

Bentuk tulang Pertumbuhan & Pergesekan terus- Perubahan status


berubah perkembangan tulang menerus kesehatan
terganggu

Inflamasi Ansietas
Kesulitan dalam Perubahan bentuk (peradangan ) pada
menggerakkan fisik yang tidak tulang
sendi normal
Pelepasan Menekan free
Gg. Mobilitas Gg. Citra Tubuh mediator kimia nerve ending
Fisik

Sakit pada
Nyeri Akut
otot/sendi
9
6. Tanda dan Gejala

Gejala Dislokasi
Berikut ini adalah beberapa gejala dislokasi, di antaranya adalah:

 Sendi bengkak dan memar.

 Bagian sendi yang terkena berwarna merah atau menghitam.

 Bentuk sendi menjadi tidak normal.

 Terasa sakit ketika bergerak.

 Mati rasa di sekitar area sendi.

7. Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar-X (Rontgen)
Pemeriksaan rontgen merupakan pemeriksaan diagnostik noninvasif
untuk membantu menegakkan diagnosa medis. Pada pasien dislokasi sendi
ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi dimana tulang dan
sendi berwarna putih.
2. CT-Scan
CT-Scan yaitu pemeriksaan sinar-X yang lebih canggih dengan bantuan
komputer, sehingga memperoleh gambar yang lebih detail dan dapat
dibuat gambaran secara 3 dimensi. Pada pasien dislokasi ditemukan
gambar 3 dimensi dimana sendi tidak berada pada tempatnya.
3. MRI
MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang magnet
dan frekuensi radio tanpa menggunakan sinar-X atau bahan radio aktif,
sehingga dapat diperoleh gambaran tubuh (terutama jaringan lunak)
dengan lebih detail. Seperti halnya CT-Scan, pada pemeriksaan MRI
ditemukan adanya pergeseran sendi dari mangkuk sendi (Doengeos, 2008).

10
8. Penatalaksanaan
Penanganan medis secepatnya adalah solusi untuk dislokasi persendian.
Obat penghilang rasa sakit juga dapat diberikan selama penanganan medis
(Davies K, 2007).
1. Medis (Rejo, 2013)
1) Farmakologi
a) Analsik yang berfungsi untuk mengatasi nyeri otot, sendi, sakit
kepala, nyeri pinggang. Efek samping dari obat ini adalah
agranulositosis. Dosis : sesudah makan, dewasa : sehari 3×1 kapsul,
anak : sehari 3×1/2 kapsul.
b) Bimastan yang berfungsi untuk menghilangkan nyeri ringan atau
sedang, kondisi akut atau kronik termasuk nyeri persendian, nyeri
otot. Efek samping dari obat ini adalah mual, muntah,
agranulositosis, aeukopenia. Dosis : dewasa; dosis awal 500mg lalu
250mg tiap 6 jam.
2. Non medis
i. Dislokasi reduksi : dikembalikan ke tempat semula dengan
menggunakan anastesi jika dislokasi berat.
RICE
a) R : Rest (istirahat).
b) I : Ice (kompres dengan es).
c) C : Compression (kompresi/pemasangan pembalut tekan)
d) E : Elevasi (meninggikan bagian dislokasi)

9. Komplikasi
Komplikasi dislokasi meliputi :
2. Komplikasi dini
a) Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera. Pasien tidak dapat mengerutkan
otot deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati rasa pada otot
tersebut.

11
b) Fraktur dislokasi.
c) Kerusakan arteri : pecahnya arteri karena trauma dapat ditandai dengan
tidak adanya nadi, CRT (capillary refill time) menurun, sianosis pada
bagian distal, hematoma melebar, dan dingin pada ekstremitas yang
disebabkan oleh tindakan darurat spilinting, perubahan posisi pada yang
sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
3. Sindrome kompartemen
Sindrom kompartemen merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan
parut. Hal ini disebabkan oleh edema atau perdarahan yang menentukan
otot, saraf dan pembuluh darah, atau karena tekanan dari luar seperti gips
dan pembebatan yang terlalu kuat
4. Kekakuan sendi bahu
Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu.
Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi
abduksi.
5. Dislokasi yang berulang
Terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian
depan leher glenoid (Rejo, 2013).

10. Konsep Dasar Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan untuk
mengumpulkan data pasien dengan menggunakan tehnik wawancara,
observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang tetapi pada
pasien dislokasi difokuskan pada:
1) Identitas klien dan penanggung jawab
a) Data Demografi
1) Biodata
Nama :
Usia :
Alamat :

12
Agama :
Status Pernikahan :
Pekerjaan :
2) Penanggung Jawab
Nama :
Usia :
Agama :
Pekerjaan :
Alamat :
Hub. Dengan klien :
b. Keluhan utama
Pasien mengeluhkan adanya nyeri. Kaji penyebab, kualitas, skala
nyeri dan kapan nyeri meningkat dan kapan nyeri dirasakan menurun.
c. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluhkan nyeri pada bagian yang terjadi dislokasi,
pergerakan terbatas, pasien melaporkan penyebab terjadinya cidera.
d. Riwayat kesehatan yang lalu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab dislokasi,
serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat
memperparah keadaaan klien dan menghambat proses penyembuhan.
2. Pemeriksaan Fisik
a) Tampak adanya perubahan kontur sendi pada ekstremitas yang
mengalami dislokasi.
b) Tampak perubahan panjang ektremitas pada daerah yang mengalami
dislokasi.
c) Ada nyeri tekan pada daerah dislokasi.
d) Tampak adanya lebam pada daerah dislokasi sendi.
e) Kaji 14 kebutuhan dasar Henderson. Untuk dislokasi dapat difokuskan
pada :
1) Rasa nyaman : pasien dengan dislokasi biasanya mengeluhkan
nyeri pada bagian yang dapat mengganggu kenyamanan klien.

13
2) Gerak dan aktivitas : pasien dengan dislokasi dimana sendi tidak
berada pada tempatnya semula harus diimobilisasi. Klien dengan
dislokasi pada ekstremitas dapat mengganggu gerak dan aktivitas
klien.
3) Makan dan minuman : pasien yang mengalami dislokasi teutama
pada bagian rahang sehingga klien mengaalami kesulitan
mengunyah dan menelan. Efeknya bagi tubuh yaitu
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
4) Rasa aman (ansietas) : pasien yang mengalami dislokasi tentunya
mengalami gangguan rasa aman atau cemas dengan kondisinya.

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rontgen untuk mengetahui dimana lokasi dari dislokasi.
b. Pemeriksaan CT-Scan digunakan untuk melihat ukuran dan lokasi
tumor dengan gambar 3 dimensi.
c. Pemeriksaan MRI untuk pemeriksaan persendian dengan menggunakan
gelombang magnet dan gelombang frekuensi radio sehingga didapatkan
gambar yang lebih detail.
4. Diagnosa
1) Nyeri akut b.d penyebab cedera.
2) Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan muskuloskeletal.
3) Gangguan citra tubuh b.d perubahan bentuk fisik.
4) Ansietas b.d perubahan status kesehatan.

5. Intervensi keperawatan

Dx. 1 : Nyeri b.d penyebab cedera


Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasional
 Tujuan : setelah 1. Kaji skala nyeri dengan PQRST. 1. Mengetahui intensitas
dilakukan tindakan 2. Berikan lingkungan yang nyeri klien.
keperawatan 3x24 jam tenang. 2. Meningkatkan
diharapkan nyeri pasien 3. Tingkatkan tirah baring, bantu istirahat/relaksasi.

14
berkurang/hilang (di kebutuhan perawatan diri yang 3. Menurunkan gerakan
buktikan dengan skala penting. yang dapat
nyeri : nyeri ringan 0-4). 4. Ajarkan teknik relaksasi dan meningkatkan nyeri.
 Kriteria Hasil : distraksi pada pasien. 4. Teknik relaksasi
1. Pasien mampu 5. Kolaborasi pemberian analgetik. distraksi dapat
mengontrol nyeri mengalihkan pikiran
(tahu penyebab nyeri, pasien pada nyeri
mampu menggunakan sehingga nyeri
teknik nonfarmakologi berkurang.
untuk mengurani 5. Analgetik dapat
nyeri). menurunkan
2. Pasien melaporkan intensitas nyeri
bahwa nyeri pasien.
berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri.
3. Pasien mampu
mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri).
4. Pasien menyatakan
rasa nyaman setelah
nyeri berkurang.

Dx 2 : Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan muskuloskeletal


Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasional
 Tujuan : setelah 1. Kaji tingkat mobilitas klien. 1. Mengetahui tingkat
dilakukan tindakan 2. Berikan latihan ROM aktif mobilisasi klien dan
keperawatan 3x24 jam maupun pasif setidaknya 4x melakukan intervensi
diharapkan mobilitas sehari jika memungkinkan. selanjutnya.

15
fisik pasien adekuat. 3. Ajarkan metode berpindah dari 2. Latihan ROM dapat
 Kriteria Hasil : tempat tidur. mengembalikan fungsi
1. Melaporkan 4. Anjurkan penggunaan alat dari otot serta
peningkatan toleransi bantu. meningkatkan mobilitas
aktivitas termasuk di sendi.
aktivitas sehari hari. 3. Meningkatkan aktivitas
2. Pasien dapat secara bertahap dapat
mobilisasi dengan mengurangikelemahan.
baik. 4. Memberikan alat bantu
dapat meringankan
mobilisasi dan
mencegah resiko tinggi
terhadap cedera atau
mencegah keadaan
yang lebih parah.

Dx 3 : Gangguan citra tubuh b.d perubahan bentuk fisik


Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasional
 Tujuan : setelah 1. Kaji konsep diri pasien. 1. Dapat mengetahui
dilakukan tindakan 2. Kembangkan BHSP dengan kondisi pasien.
keperawatan 2x24 jam pasien. 2. Menjalin hubungan
diharapkan pasien akan 3. Dorong klien agar mau saling percaya antara
memiliki kembali citra mengungkapkan pikiran dan pasien dengan
tubuh yang positif. perasaannya terhadap perubahan perawat.
 Kriteria Hasil : penampilan tubuhnya. 3. Mengetahui masalah
1. Pasien mampu 4. Identifikasi mekanisme koping pasien dan membantu
mengidentifikasi yang digunakan. untuk
kekuatan personal. 5. Dukung mekanisme koping memecahkannya.

16
2. Pasien mampu yang digunakan. 4. Mengetahui
mendeskripsikan secara 6. Jelaskan tentang pengobatan, mekanisme koping
faktual perubahan perawatan, kemajuan dan yang digunakan
fungsi tubuh. prognosis penyakitnya. pasien.
3. Pasien mampu 5. Dukungan dapat
mempertahankan meningkatkan citra
interaksi sosial. tubuh positif.
6. Perkembangan
kemajuan mengenai
penyakit dapat
meningkatkan citra
tubuh positif pasien.

Dx 4 : Ansietas b.d perubahan status kesehatan


Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasional
 Tujuan : setelah 1. Kaji tingkat ansietas klien. 1. Mengetahui tingkat
dilakukan tindakan 2. Gunakan pendekatan yang kecemasan pasien dan
keperawatan 2x24 jam menyenangkan. menentukan
diharapkan ansietas 3. Bantu pasien mengungkapkan intervensi selanjutnya.
pasien teratasi. rasa cemas atau takutnya. 2. Menggali
 Kriteria Hasil : 4. Kaji pengetahuan pasien tentang pengetahuan dari
1. Pasien tampak rileks. prosedur yang akan dijalaninya. pasien dan
2. Pasien tidak tampak 5. Berikan informasi yang benar mengurangi
bertanya-tanya. tentang prosedur yang akan kecemasan pasien.
3. Postur tubuh, ekspresi dijalani pasien. 3. Agar perawat
wajah, bahasa tubuh 6. Pahami prespektif pasien mengetahui seberapa
dan tingkat aktivitas tehadap situasi stress. tingkat pengetahuan
menunjukkan 7. Temani pasien untuk pasien tentang
berkurangnya memberikan keamanan dan penyakitnya.
kecemasan. mengurangi tingkat kecemasan. 4. Agar pasien mengerti
tentang penyakitnya

17
dan tidak cemas lagi.

18
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dislokasi merupakan keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk
sendi tidak lagi berhubungan secara anatomis (tulang lepas dari sendi) yang
disebabkan oleh usia, kecelakaan, cedera olahraga, pukulan, dan patologis.
Dislokasi yang berkepanjangan dapat menyebabkan cedera saraf, fraktur
dislokasi, kekakuan, dan dislokasi berulang.

B. Saran
Sebagai tenaga profesional tindakan perawat dalam penanganan masalah
keperawatan khususnya dislokasi harus dibekali dengan pengetahuan yang
luas dan tindakan yang dilakukan harus rasional sesuai gejala penyakit.

19
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth Smeltzer C. Suzanne, Bare G. Brenda. 2002. Keperawatan


medikal bedah, Edisi 8 Volume 3. Jakarta : EGC.
Brunner dan Suddarth Smeltzer C. Suzanne, Bare G. Brenda. 2001. Buku Ajar
Keperawatan-Medikal Bedah, Edisi 8 Volume 3. Jakarta : EGC.
Davies, K. 2007. Buku Pintar Nyeri Tulang dan Otot. East Sussex: The Ivy.
Doengeos, M. E. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan Dan Dokumentasi
Keperawatan Edisi Ke 3. Jakarta : EGC.
Kneale, Julia & Petterdavis. 2011. Keperawatan Ortopedik & Trauma. Jakarta:
EGC.
Legiran, Nur Rachmat Lubis, Fadhli Aufar Kasyfi. 2015. Dislokasi Sendi Bahu:
Epidemiologi Klinis dan Tinjauan Anatomi. Diakses dari :
http://eprints.unsri.ac.id/5722/1/LK_2015_Dislokasi_Sendi.pdf pada tanggal
6 Oktober 2017.
Mansjoer, A. dkk., 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapius.
Muttaqin A, 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskleletal. Jakarta : EGC.
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : MediAction.
Rasjad, C. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi Edisi Ketiga. Jakarta : PT.
Yarsif Watampone (Anggota IKAPI).
Rejo. 2013. Gambaran Pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan
Dislokasi. Diakses dari : http://akpermus.ac.id pada tanggal 7 Oktober 2017.
Sjamsuhidajat, R., Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta :
EGC.
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula/Ethel Sloane. Alih
Bahasa James Veldman. Editor Edisi Bahasa Indonesia Palupi Widyastuti.
Jakarta : EGC.

https://www.scribd.com/document/364922255/Dislokasi-Deal

20