Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

SLE adalah penyakit autoimun sistemik yang ditandai dengan adanya


autoantibodi terhadap autoantigen, pembentukan kompleks imun, dan disregulasi
sistem imun, sehingga terjadi kerusakan pada beberapa organ tubuh. Perjalanan
penyakit SLE bersifat eksaserbasi yang diselingi periode sembuh. Pada setiap
penderita, peradangan akan mengenai jaringan dan organ yang berbeda.

Etiologi utama SLE sampai saat ini belum diketahui, namun beberapa faktor
predisposisi dapat berperan dalam patogenesis terjadinya penyakit ini. Diantara
beberapa faktor predisposisi tersebut, sampai saat ini belum diketahui faktor yang
paling dominan berperan dalam timbulnya penyakit ini. Berikut ini beberapa
faktor predisposisi yang berperan dalam timbulnya penyakit SLE; faktor genetik,
faktor imunilogi, faktor hormonal, faktor lingkungan, stres, dan penggunaan obat
tertentu.

Lupus eritematosus terdiri dari SLE (systemik lupus erytematosus) dan DLE
(Dischoid Lupus Erytematosus), beda dengan D, LE yang hanya bermanifestasi
pada kulit, SLE adalah tipe LE yang dapat bermanifestasi ke organ-organ lain
selain kulit, yaitu dapat berupa bermanifestasi berupa gejala konstitusional
(demam, malaise, dll), bermanifestasi pada kulit, muskuloskeletal, paru,
kardiovaskular, ginjal, hapar, hemopoetik, dan neuropsikiatrik.

Prevalensi SLE diberbagai negara sangat bervariasi antara


2.9/100.000-400/100.000. Dalam 30 tahun terakhir, SLE telah menjadi salah satu
penyakit reumatik utama di dunia. SLE lebih sering ditemukan pada ras tertentu
seperti bangsa Negro, Cina dan mungkin juga Filipina. Faktor ekonomi dan
geografi tidak mempengaruhi distribusi penyakit. SLE dapat ditemukan pada
semua usia, namun paling banyak pada usia 15-40 tahun (masa reproduksi).
Frekuensi pada wanita dibandingkan dengan pria yaitu berkisar (5,5-9) : 1. Pada
SLE yang disebabkan obat, rasio ini lebih rendah, yaitu 3:2.

1
2

Diagnosis SLE dapat ditegakkan menggunakan kriteria ARA/SLICC


(systemil lupus international collaborating clinics), yang terdiri dari 11 kriteria,
kriteria tersebut dilihat dari gejala klinis dan hasil pemeriksaan penunjang
(laboratorium, serologi, dll), dimana apabila terdapat 4 kriteria positif dari 11
kirteria tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut menderita SLE.

Sebelum penderita SLE diberi pengobatan, harus diputuskan dulu apakah


penderita tergolong yang memerlukan terapi konservatif, atau imunosupresif yang
agresif. Pada umumnya, penderita SLE yang tidak mengancam nyawa dan tidak
berhubungan dengan kerusakan organ, dapat diterapi secara konservatif. Bila
penyakit ini mengancam nyawa dan mengenai organ-organ mayor, maka
dipertimbangkan pemberian terapi agresif yang meliputi kortikosteroid dosis
tinggi dan imunosupresan lainnya.