Anda di halaman 1dari 38

Buku Ajar

Perawatan Antilock Brake System (ABS)


Rizky Arief Dharmawan

Malang
2019
A. Pengertian ABS (Anti-lock Brake System)
Sistem ABS adalah suatu sistem yang merupakan pengembangan dari
sistem rem pada kendaraan yang dilengkapi dengan sistem kontrol, dengan
pemasangan sensor putaran roda maka dapat diketahui apakah roda dalam
keadaan slip akibat perlambatan, kelengkapan lain dipasang juga unit aktuator
serta electronic control unit (ECU), sehingga sensor dapat memberikan sinyal ke
ECU untuk diolah sedemikian rupa dan menghasilkan sinyal output ke aktuator
guna mengkondisikan roda tidak terjadi slip.
ABS (Antilock Brake System ) adalah sistem rem yang mengontrol tekanan
minyak rem dan master cylinder ke setiap cylinder roda / caliper agar tidak terjadi
penguncian saat pengereman berlangsung. Lebih khusus lagi kontrol yang cukup
pada tekanan minyak rem agar selalu pada angka slip optimum antara roda dan
permukaan jalan, sehingga kendaraan dapat berhenti dengan baik dan cepat.
Dengan penerapan sistem kontrol tersebut pengereman optimal dapat
dipertahankan selama proses pengereman berlangsung dalam berbagai keadaan
(panik) dan kondisi jalan, sehingga perlambatan tetap optimal dan kendaraan
bergerak stabil serta kemampuan kendali berjalan normal.
ABS berfungsi untuk mencegah terjadinya roda mengunci/blokir saat
pengereman mendadak/penuh, sehingga kendaraan akan stabil. Kestabilan jalan
kendaraan saat pengereman sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :
1. Kondisi koefisien jalan (simetris/asimertis)
2. Pada aksel mana roda blokir
3. Jarak sumbu roda
Keuntungan sistim ABS adalah sebagal berikut:
1. Penguncian roda depan dapat dicegah pada saat terjadi pengereman secara
mendadak, sehingga pengendahan tetap stabil.
2. Penguncian roda belakang dapat dicegah pada saat terjadi pengereman
mendadak sehingga terhindar dari bagian belakang kendaraan memutar dan
steering terjaga tetap lurus.
3. Dengan menggunakan 3 (tiga) chanel atau 4 (empat) channel, pengaturan gaya
pengereman pada setiap roda depan, dan roda belakang baik secara bersamaan
maupun sendirl - sendiri. Dapat lebih mempertinggi stabilitas pengendaraan
walaupun pada saat koefisien gesek (y) antara roda dan permukaan jalan tidak
sama.
4. Electronic control mengatur gaya pengereman menuju koefisien yang
optimum gaya gesek antara roda dan permukaan jalan yang akan
memperpendek jarak pengereman.
5. ABS dapat bekerja secara konvensional dengn fungsi Fail-Safe bila ABS tidak
bekerjja dengan baik. Saat fungsi Fail-Safe aktif, lampu peringatan akan
menyala untuk mengingatkan pengemudi akan adanya masalah pada sistem
ABS.
6. Fungsi Self-Diagnostic juga dimasukkan untuk memudahkan perawatan dan
perbaikan.
B. Fungsi dan Cara kerja Komponen ABS

SENSOR ECU HYDRAULIC MASTER


UNIT CYLINDER

KECEPATAN KOMPUTASI
PUTARAN DAN PENGATURAN TEKANAN
RODA KONTROL TEKANAN REM REM

CALIPER

GAYA
PENGEREMAN
ABS merupakan sistem tambahan pada sistem rem kendaraan terpasang
secara terpadu (integrated), dalam fungsi kerjanya keduanya bekerja bersama
mencapai tujuan sistem dan bila ABS terdapat gangguan/rusak tidak mengganggu
fungsi utama sistem rem sehingga ABS hanya sebagai fungsi tambahan untuk
meregulasi tekanan pada kondisi dan keadaan pengereman tertentu.
a. Tujuan Anti Lock Brake Syistem (ABS)
Ada beberapa tujuan yang dicapai pada kendaraan yang dilengkapi
dengan sistem ABS antara lain :
1) Kemampuan pengendalian stir baik saat pengereman penuh.
2) Stabilitas kendaraan tetap baik saat pengereman pada semua kondisi
jalan.
3) Jarak pengereman sekecil mungkin dapat tercapai.
b. Fungsi Komponen ABS
Komponen ABS memiliki fungsi masing-masing sehingga sistem
dapat bekerja sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Komponen-
komponen ABS antara lain :
1) Sensor Putaran dan Roda Gigi
Sensor putaran dan roda gigi berfungsi membangkitkan sinyal
listrik dengan menginduksikan arus bolak balik berdasarkan putaran roda
atau sinyal digital.

Tugas roda gigi merubah aliran garis gaya magnet dari sebuah
magnet permanen pada sensor.
Pada roda gigi terbuat dari bahan besi magnet
(Fero Magnetis), proses pembu-atan dengan
sinter atau pres potong dingin.
Jumlah gigi tergantung tipe ABS dan merk
kendaraan.
Contoh : 48 gigi/putaran roda
 Sedan = 40  60 gigi
 Bis dan Truk = 30  90 gigi
A

Perbandingan lebar puncak (A) dengan lebar


celah (B) harus persis sama dalam satu putaran
agar proses regulasi ABS berfungsi dengan
sempurna
Sifat : B
a) Kontrol unit akan mematikan sistem ABS (lampu ABS nyala) bila toleransi
perbandingan A/B besar, korosi terlalu besar dan kendaraan terpasang roda
dengan ukuran radius berbeda.
b) Diproduksikan dengan biaya kecil dan tahan karat.
Pemeriksaan :
a) Kerusakan mekanis/korosi
b) Keolengan run-uot terhadap sensor radial/aksial.
c) Kotoran terutama bukan penghantar magnetis
d) Ikatan terhadap poros (panas  goyang)
e) Keausan ban, spesifikasi ban terutama diameter aktifnya.
Sensor putaran roda induktif
Sensor ini adalah sensor pasif, ini berarti bahwa roda harus berputar
dengan putaran tertentu supaya sinyal dapat dibangkitkan.
Konstruksi :

Sensor ini adalah sensor pasif, ini berarti bahwa roda harus
berputar dengan putaran tertentu supaya sinyal dapat dibangkitkan.

Dalam kepala sensor terdapat magnet permanen, kumparan


pembangkit dan kabel penghubung semua komponen tersebut disemprot
plastik dalam rumah plastik yang kedap air.
Data teknis :
a) Jumlah lilitan  5000
b) Tahanan kumparan  1000 ohm
c) Tegangan PP :
 Pada saat celah udara maksimum dan 50 Hz  150 mV
 Pada saat celah udara minimum dan 50 Hz  2000 mV
d) Celah udara antara kepala sensor dengan roda gigi  0,2 - 2,9 mm
(tergantung merk kendaraan)
Cara Kerja:

Garis gaya magnet merubah apabila roda gigi melewati kepala


sensor, tiap gigi menimbulkan induksi positif dan tiap celah menimbulan
induksi negatif, ketinggian amplitudo naik pada putaran lebih tinggi
(frekuensi). Frekuensi sinyal hanya bisa diukur melalui kontrol unit
apabila amplitudo berada dalam batas tertentu. Kabel sensor harus
dilindungi dari gangguan elektro magnetis dengan jaring penghantar.
Untuk menentukan batas tegangan, celah udara harus sesuai dengan
spesifikasi kendaraan.
2) Kontrol Unit (ECU)
Adapun fungsi dari kontrol unit (ECU) sebagai berikut:

a) Menghitung percepatan / perlambatan roda, menghitung besaran slip


dan menentukan kecepatan reverensi kendaraan.
b) Menetapkan sinyal listrik untuk mengendalikan katup regulator
tekanan
c) Rangkaian keamanan memeriksa fungsi dari sinyal input sebelum dan
selama katup regulator tekanan bekerja, apabila fungsi ABS berhenti
maka lampu akan menyala.
d) Mengolah data dari sensor roda dan mengendalikan tekanan minyak
rem pada Cylinder Roda melalui Actuator.
e) Fail Safe, untuk mengembalikan sistem ke pengereman konvensional
bila terjadi kegagalan pada sistem ABS.
f) Self Diagnostik, untuk mendiagnosa kegagalan pada sistem.
3) Unit Hidraulis
Adapun fungsi dari unit hidraulis sebagai berikut:
a) Meregulasi tekanan rem umumnya pada tiga posisi kerja di setiap roda
b) Mempertahankan tekanan pada silinder roda
c) Menurunkan tekanan pada silinder roda walaupun pedal rem tetap
diinjak
d) Menaikkan tekanan pada silinder roda
Adapun komponen yang berada pada hidrolik unit sebagai berikut:
a) Solenoid Valve, mengatur tekanan minyak rem di Caliper dengan
mengatur posisi anchor.
b) Pompa, menurunkan tekanan minyak rem Caliper dengan mengalirkan
minyak rem ke Accumulator.
c) Accumulator, mensuplai minyak rem tekanan tinggi ke Caliper bila
diperlukan.
d) Reservoir Tank, sebagai tempat penyimpanan sementara untuk
menurunkan tekanan minyak rem dalam Caliper secara perlahan.
e) Feeling Valve, mencegah tekanan Accumulator berbalik ke Master
Cylinder sehingga rem tidak menyentak.
f) By Pass Check Valve, sebagai jalur kembali minyak rem dari Caliper
ke Master Cylinder saat rem dilepas.
g) Relief Valve, sebagai pencegah kelebihan tekanan dari Accumulator
yang dapat menyebabkan rem menyentak.
4) Lampu Indikator ABS
Lampu indikator ABS berfungsi memberikan informasi ke
pengemudi tentang kondisi sistem ABS yang ada pada kendaraan. Dalam
kondisi normal maka lampu akan mati ketika mesin hidup, tetapi akan
menyala ketika ada sistem yang rusak.

5) Switch pada Pedal


Switch pedal rem berfungsi memberikan informasi ke ECU apakah
terjadi pengereman atau tidak.

6) Sensor G (Perlambatan)
Sensor G berfungsi memberikan informasi tentang tingkat
perlambatan pada kendaraan. Biasanya ini digunakan pada kendaraan
dengan empat penggerak roda.
Fungsi :
a) Mengukur percepatan/perlambatan kendaraan.
b) Memberi informasi ke CPU saat pengereman dengan kondisi kritis.
Sensor G untuk pengukuran perlambatan kendaraan
Kendaraan dengan penggerak 4 roda permanen dan kopling visko
didefferensial pusat membutuhkan sebuah sensor yang mengukur
perlambatan, dengan demikian apabila perlambatan kecil dan ABS sudah
bekerja batas slip dari roda belakang akan diperkecil  kelebihan
pengereman pada roda belakang dapat dihindari.
Sensor G untuk mengukur percepatan kendaraan
Pada kendaraan dengan 4 WD kemungkinan bahwa semua empat
roda terjadi slip percepatan, dengan demikian hasil perhitungan kecepatan
reverensi salah maka akan lebih teliti dengan sensor G untuk mengukur
percepatannya.
Sensor G untumengukur gaya putaran kendaraan
Pada kendaraan dengan jarak sumbu roda pendek pada aksel depan
sering dipakai prinsip ABS regulasi GMA (menaikkan secara bertaha-
tahap)
Prinsip GMA harus dimatikan saat gaya putar kendaraan > 0,4 g

Sensor G dengan air raksa. Saklar G berdasarkan sedikit air raksa


yang berada dalam tabung gelas dengan sudut pasang tertentu. Saat air
raksa naik memutuskan hubungan ke dua elektroda dalam gelas.
Saat mobil diam air raksa menghubungkan kedua elektroda (ON)
pada percepatan/ perlambatan tertentu, saat air raksa naik maka tidak ada
hubungan oleh air raksa (OFF). Batas kerja tergantung dari sudut
pemasangan sensor 1 = 0,27 G, sensor 2 = 0,45 G dan sensor 3 = 0,26G.
1. Prinsip Kerja ABS
Proses pengaturan dalam sistem anti blokir (ABS) merupakan rangkaian
proses tertutup yang berlangsung berulang-ulang. Tekanan dari silinder master
(1), mengalir melalui katup elektro magnetis (2) ke kaliper (3). Sensor putaran
roda (4) mengukur putaran dan mengirim sinyal putaran tersebut ke kontrol unit
ABS (5). Kontrol unit ABS (5) mengolah sinyal putaran dan menetapkan sinyal
out put dan mengirim sinyal ke katup elektro magnetis (2). Katup elektro
magnetis (2) berdasarkan sinyal out put dari kontrol unit mengatur tekanan rem
dari silinder master ke kaliper sesuai dengan kebutuhan (menaikkan, menahan dan
menurunkan tekanan).

2. Kelistrikan ABS
Skema komponen listrik ABS terdiri dari komponen utama yaitu :
Komponen ”1” dan ”2” merupakan unit pasangan komponen yang
membangkitkan sinyal listrik (input), Komponen ”3” pada umumnya juga disebut
Electronic Control Unit (ECU) yang tugasnya mengelola sinyal input dan
membangkitkan sinyal kontrol, komponen ”4” didalamnya terdapat ”katup elektro
hidraulis” dalam sistem kontrol unit ini bertugas sebagai aktor/aktuator yang
menerima sinyal kontrol sehingga katup-katup dapat bekerja secara elekrik
berdasarkan sinyal kontrol dari ECU. Ketiga komponen utama ini merupakan
komponen elektrik bekerja dalam sistem yang dapat mengendalikan/ meregulasi
tekanan hidrolis saat pengereman pada kondisi dan keadaan yang diharapkan.
Konfigurasi rangkaian komponen listrik pada rem ABS adalah merupakan sistem
kontrol elektronik aplikasi dan terintegrasi pada sistem rem mobil secara
sederhana dapat digambarkan skema blok diagram sebagai berikut:

AKTOR
( Unit

Dengan pengelompokan komponen seperti tersebut diatas maka akan


dapat membantu dan mempermudah dalam mengidentifikasi komponen dan jalur
pengabelan melalui pembacaan wiring maupun pengamatan langsung ke obyek
kendaraan. Pengelompokkan input prosesor dan output sudah lazim didapatkan
diberbagai literatur atau buku manual produk yang biasanya dilengkapi pula
dengan kode angka/huruf, simbul, bentuk soket dan warna kabel. Akan tetapi
dalam penyajian sistematika gambar tidak ada standar baku. (misalnya gambar
mesin, gambar bangunan dsb).
Pada umumnya kontrol unit ABS bekerja mengolah sinyal Input (sensor)
dan menghasilkan sinyal Output (Aktuator). Dibutuhkan beberapa sensor putaran
roda dan atau sensor ”G” untuk mengetahui secara persis sifat pengereman sesuai
jenis kendaraannya dan data lainnya untuk mendukung apakah ABS berfungsi
sebagai mana mestinya. Berikut adalah salah satu contoh wiring kelistrikan sistem
ABS :
3. Cara Kerja ABS
Sistem ABS berdasarkan aliran hidrolis, penggunaan katup dan cara
kerjanya ada beberapa macam :
a. Sistem Anti Blokir (ABS) Aliran Tertutup dengan Katup Magnet 2/2
(2 saluran/2 fungsi)
Pada sistem ini saat menurunkan tekanan aliran cairan rem
dihubungkan ke saluran masuk oleh pompa, dan juga terdapat 2 buah
katup, katup masuk 2/2 dan katup buang 2/2 dimana keduanya terdapat
perbedaan, dalam keadaan normal katup masuk (4) tidak dialiri listrik
posisi katup mengalirkan tekanan dan jika dialiri listrik posisi katup
bergeser tidak mengalirkan tekanan, dan juga pada katup buang (7)
keadaan normal tidak dialiri listrik katup pada posisi menutup aliran dan
jika dialiri listrik katup bergeser ke posisi mengalirkan tekanan.

Cara kerja ABS aliran tertutup dengan katup magnet 2/2 sebagai berikut:
1) Fase Menaikkan Tekanan
Tidak ada arus listrik ke katup masuk maupun katup buang, Katup
masuk membuka saluran dan katup buang menutup. Pedal rem diinjak
maka cairan rem mengalir menuju kaliper melalui katup masuk 2/2
Terjadi pengereman.dimana naiknya tekanan tergantung seberapa
besar injakan pedal Tekanan terus naik hingga terjadi slip (roda tidak
berputar tetapi kecepatan kendaraan masih tinggi).
2) Fase Menahan Tekanan
Jika slip roda masih hampir mendekati 20%. Hanya katup masuk yang
diberi arus listrik  Katup masuk bergeser pada posisi menutup
saluran. Dan katup buang tetap pada posisi menutup  Tekanan pada
kaliper tertahan. Maka tekanan dipertahankan untuk itu dengan
tertahannya tekanan dan dalam waktu yang sama energi kinetik
kendaraan juga turun, terjadilah suatu kondisi dimana tekanan rem
lebih besar maka slip naik lagi melebihi hingga 20%.

3) Fase Menurunkan Tekanan


Katup masuk dan katup buang diberi arus listrik akibatnya Katup
masuk tetap menutup saluran dan katup buang pada posisi membuka
saluran  Tekanan kaliper turun mengalir ke tabung penyimpan
tekanan rendah dan selanjutnya dipompakan kembali ke saluran
silinder master  Pedal rem naik.

Dengan Terjadi penurunan slip dan kecepatan juga naik yang


akibatnya slip kembali turun kurang dari 20%, langkah berikutnya
menaik- kan kembali tekanan kembali pada proses menaikkan tekanan
yaitu katup masuk dan katup buang kembali tidak di beri arus artinya
kembali ke fase awal menaikkan tekanan. Seterusnya proses kembali
ke-fase menaikkan tekanan lagi demikian seterusnya proses berulang
dengan siklus sebagai berikut : - Fase menaikkan tekanan - Fase
menahan tekanan - Fase menurunkan tekanan.
b. Sistem Anti Blokir Aliran Tertutup dengan Katup Magnet 3/3 (3
saluran/ 3 fungsi)

Cara kerja ABS aliran tertutup dengan katup magnet 3/3 sebagai berikut:
1) Fase Menaikkan Tekanan
Tidak ada arus listrik ke katup magnet 3/3  katup pada posisi
membuka saluran dari silinder master ke kaliper dan menutup saluran
ke penyimpan tekanan rendah. Tekanan silinder master mengalir
melelui katup magnet 3/3 ke kaliper  terjadi pengereman  , pedal
rem turun.
2) Menahan Tekanan
Katup magnet 3/3 diberi arus listrik sebesar 2 amper  katup pada
posisi menutup ketiga saluran  tekanan pada kaliper tertahan Saluran
hidraulis dari kaliper rem diposisi katup berarus 2 amper menyebabkan
tidak ada hubungan ke silinder master maupun ke saluran buang
akibatnya tekanan hidraulik terperangkap dan tekanannya
dipertahankan tetap atau dalam posisi ini adalah posisi menahan
tekanan dan selanjutnya posisi ini dipertahankan sampai kondisi
slipnya naik dan memerlukan tahapan proses berikutnya yakni
menurunkan tekanan.

3) Menurunkan Tekanan
Katup magnet 3/3 diberi arus listrik 5 amper  katup pada posisi tetap
menutup saluran dari silinder master dan membuka saluran dari kaliper
ke saluran penyimpan tekanan. Tekanan kaliper turun mengalir ke
tabung penyimpanan tekanan dan selanjutnya dipompakan kembali ke
saluran silinder master  pedal rem naik.

c. Sistem Anti-lock Brake System (ABS) Aliran Terbuka

Keterangan :
1. Pedal rem 8. Lampu kontrol ABS
2. Sensor posisi pedal rem 9. Sensor putaran roda depan kiri
3. Penguat gaya rem 10. Sensor putaran roda depan kanan
4. Unit hidraulis 11. Sensor putaran roda belakang
kanan
5. Pompa tekanan tinggi 12. Sensor putaran roda belakang kiri
6. Silinder master 13. Kontrol unit ABS
7. Reservoir
Skema Sistem ABS Aliran Terbuka

Keterangan :
1. Pedal rem 6. Kaliper
2. Silinder master 7.
3. Reservoir 8. Katup buang
4. Katup masuk 9. Pompa tekanan tinggi
5. Katup anti balik 10. Katup anti balik
Cara Kerja ABS aliran terbuka dengan katup magnet 2/2, sebagai berikut :
1) Menaikkan tekanan :
Katup masuk dan katup buang tidak diberi
arus listrik  Katup masuk pada posisi membuka
saluran dan katup buang menutup saluran.
Tekanan cairan rem mengalir melalui katup
masuk ke kaliper  Terjadi pengereman.
2) Menahan tekanan :

Katup masuk diberi arus listrik dan katup


buang tetap tidak berarus  Katup masuk pada
posisi menutup saluran dari silinder master ke
kaliper juga katup buang masih pada posisi
menutup  Tekanan pada kaliper tertahan.

3) Menurunkan tekanan :
Katup masuk dan katup buang diberi arus
listrik  katup masuk pada posisi menutup saluran
dan katup buang membuka saluran.
Tekanan cairan rem pada kaliper mengalir
melalui katup buang ke reservoir  Tekanan turun
pompa tekanan tinggi mengisap cairan dari
reservoir dan ditekan ke dalam sa-luran rem 
Pedal rem bergerak naik sampai batas tertentu.
Cara Kerja ABS aliran terbuka dengan katup magnet 3/3, sebagai berikut :
4) Menaikkan tekanan :

Tidak ada arus listrik ke katup magnet 3/3 


katup pada posisi membuka saluran dari silinder
master ke kaliper dan menutup saluran ke
penyimpan tekanan rendah.
Tekanan silinder master mengalir melelui
katup magnet 3/3 ke kaliper  terjadi pengereman
 , pedal rem turun

5) Menahan tekanan :

Katup magnet 3/3 diberi arus listrik sebesar 2


amper  katup bergeser pada posisi menutup
ketiga saluran  tekanan pada kaliper tertahan

6) Menurunkan tekanan :

Katup magnet 3/3 diberi arus listrik 5 amper


 katup bergeser pada posisi tetap menutup
saluran dari silinder master dan membuka saluran
dari kaliper ke reservoir.
Dan selanjutnya agar pedal rem tidak turun
maka pompa pengembali diaktifkan mengalirkan
cairan rem ke saluran master.
d. Sifat – sifat ABS:
1) Tiga tahap pengaturan tekanan : menaikkan, menahan dan menurunkan
tekanan.
2) Dibutuhkan pengendalian secara khusus pada motor pompa tekanan
tinggi
3) Dibutuhkan sensor putaran motor pompa tekanan tinggi
4) Dibutuhkan sensor posisi sensor penekanan pedal rem
5) Keamanan hidraulis cukup baik bila katup buang menutup rapat
6) Katup buang harus baik sekali agar terjaga faktor keamanannya

e. Contoh penggunaan:
1) ATE (Teves) Mark 4, Add-On dengan/tanpa sensor pedal
2) ATE Mark 2, dengan pompa tekanan tinggi
3) Bendix Addonix, Bendix Antiskid.
4. Perawatan Komponen ABS
Peralatan :
 Kotak Alat  Multimeter
 Solder  Osciloskop
Bahan :
 Cairan rem DOT-4
 Timah
 Bensin
Uraian Kerja :
Sebelum melakukan pekerjaan harap diperhatikan hal-hal yang terkait
dengan keselamatan kerja, antara lain :
a. Melepas dan memasang ABS Hydraulic Unit.
1) Lepaskan kabel negatif battery
2) Lepaskan konektor ABS Hydraulic Unit (1) dengan menarik pengunci
(2)

[A]: Melepas C: Tarik untuk melepas


[B]: D: Dorong untuk
Menghubungkan menghubungkan
Langkah Kerja
- Lakukan identifikasi komponen-komponen sistem kelistrikan Rem ABS

1. 5.
2. 6.
3. 7.
4.
a. Lampu Peringatan ABS
Prosedur pemeriksaan :
1) ON-kan kunci kontak.
2) Cek apakah lampu peringatan ABS (1) menyala selama ± 2 detik lalu
mati.

3) Jika nyala terus berarti ada masalah pada sistem ABS, periksa dengan
ScanTool atau kedipan lampu peringatan ABS.
b. Lampu peringatan EBD (Lampu Peringatan Rem)
Prosedur pemeriksaan :
1) ON-kan kunci kontak.
2) Cek apakah lampu peringatan EBD (1) harus menyala saat
di”handbrake”

3) Turunkan rem tangan dengan kunci kontak ON dan cek apakah lampu
peringatan mati. Jika tidak mati, cek juga volume reservoir di master
rem.
c. Sensor Putaran Roda Depan

1. Sensor putaran roda depan


2. Clamp bolt No. 1
3. Clamp bolt No. 2
4. Conector
5. Sensor Ring

Pemeriksaan :
Tegangan Output
1) OFF-kan kunci kontak
2) Dongkrak kendaraan
3) Hubungkan AVO meter diantara 2 terminal pada konektor (1).
4) Putar roda dengan tangan ¾ sampai 1¼ putaran per detik, periksa
tegangan AC.
AVO meter Osiloscope Kesimpulan
Tegangan AC
5) Jika tidak sesuai, periksa sensor, ring dan pemasangan.
Tahanan
1) Lepas konektor sensor putaran roda (4)
2) Ukur tahanan sensor putaran diantara 2 terminal pada konektor
dengan AVO meter
3) Ukur tahanan sensor putaran antara salah satu terminal pada konektor
dengan bodi sensor

TAHANAN HASIL STANDAR KESIMPULAN


Antara 2 terminal 1.2 – 1.6 Ω
Terminal – bodi Tak
sensor terhingga
Continouinitas /hubungan kabel (aerio)

Lakukan tes continounitas/hubungan kabel antara konektor ABS


Hydraulic Unit dengan konektor sensor putaran roda depan pada tabel
dibawah ini :
NO TERMINAL HASIL KESIMPULAN
1 A dengan E15-21
2 B dengan E15-22
3 C dengan E15-19
4 D dengan E15-18
d. Sensor Putaran Roda Belakang

1. Sensor putaran roda belakang


2. Clamp bolt No. 1
3. Clamp bolt No. 2
4. Sensor Ring
5. Konektor
Pemeriksaan :
Tegangan Output
1) OFF-kan kunci kontak
2) Dongkrak kendaraan
3) Hubungkan AVO meter diantara 2 terminal pada konektor (1).
4) Putar roda dengan tangan ¾ sampai 1¼ putaran per detik, periksa
tegangan AC.

AVO meter Osiloscope Kesimpulan


Tegangan AC
5) Jika tidak sesuai, periksa sensor, ring dan pemasangan.
Tahanan:
1) Lepas konektor sensor putaran roda (5)
2) Ukur tahanan sensor putaran diantara 2 terminal pada konektor
dengan AVO meter
3) Ukur tahanan sensor putaran antara salah satu terminal pada konektor
dengan bodi sensor
TAHANAN HASIL STANDAR KESIMPULAN
Antara 2 terminal 1.2 – 1.6 Ω
Terminal – bodi Tak
sensor terhingga
Continouinitas /hubungan kabel (aerio)

Lakukan tes continounitas/hubungan kabel antara konektor ABS


Hydraulic Unit dengan konektor sensor putaran roda belakang pada tabel
dibawah ini :
NO TERMINAL HASIL KESIMPULAN
1 E dengan E15-15
2 F dengan E15-16
3 G dengan E15-25
4 H dengan E15-24
e. Stop Lamp Switch
Prosedur pemeriksaan :
1) Injak pedal rem, lampu rem belakang harus nyala.
2) Jika tidak nyala :
a) Periksa bolam lampu
b) Lakukan tes continounitas/hubungan kabel antara konektor ABS
Hydraulic Unit dengan konektor Switch Rem pada tabel dibawah
ini :
NO TERMINAL HASIL KESIMPULAN
1 dengan Batt /Fuse
1
ACC
2 2 dengan E15-3
f. Diagnosis Switch Terminal
Prosedur pemeriksaan :
1) ON-kan Kunci kontak
2) Jamper terminal A dan B pada monitor konektor, lampu ABS harus
berkedip.
3) Jika tidak berkedip, OFF-kan kunci kontak :
a) Periksa bolam lampu
b) Lakukan tes continounitas/hubungan kabel antara konektor ABS
Hydraulic Unit dengan Monitor Konektor pada tabel dibawah ini :
NO TERMINAL HASIL KESIMPULAN
1 A dengan 15-20
2 B dengan Ground
g. Sirkuit Serial Data Link
Prosedur pemeriksaan :
1) OFF-kan Kunci kontak
2) Lakukan tes continounitas/hubungan kabel antara konektor ABS
Hydraulic Unit dengan Data Link Conektor (DLC) pada tabel dibawah
ini :

NO TERMINAL HASIL KESIMPULAN


1 A dengan Ground
B dengan BATT/Fuse
2
ACC
3 C dengan 15-5
3) Dari hasil pemeriksaan hubungan kabel komponen-komponen diatas,
lengkapi diagram sirkuit wiring ABS dibawah ini :

[A]: Terminal arrangement of 9. ABS hydraulic unit / control 19. To ECM, TCM, SDM
ABS hydraulic unit / control module assembly and A/C control module (if
a: Upside
module assembly 10. ABS fail-safe relay (transistor) 20. Stop lamp
equipped)
1. Battery 11. ABS pump motor relay 21. Brake light switch
2. Main fuse box (transistor)
12. Pump motor 22. G sensor (For 4WD
3. Ignition switch 13. Solenoid valves modelBrake
23. only)fluid level switch

4. Circuit fuse box 14. Right-rear wheel speed sensor 24. Parking brake switch
5. Combination meter 15. Left-rear wheel speed sensor 25. Monitor connector
6. ABS warning lamp 16. Right-front wheel speed sensor 26. Internal memory
7. EBD warning lamp 17. Left-front wheel speed sensor 27. Power control unit
(Brake warning
8. Lamp lamp)
driver module 18. Data link connector

Referensi
Manual Book Suzuki Aerio/Baleno