Anda di halaman 1dari 24

ADAB MAKAN DAN MINUM SEORANG MUSLIM DITINJAU DARI SEGI KESEHATAN (1)

Oleh Fitria Dewi Larasati dan Alliffabri Oktano


Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Makan dan minum adalah kebutuhan setiap makhluk hidup. Tanpa makan dan minum manusia tak akan mampu
membentuk peradaban kehidupan. Sebagai muslim apapun kegiatannya, apapun makanannya, apapun minumannya
pasti dianjurkan memulainya minimal dengan mengucapkan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah. Inilah yang
diajarkan Islam kepada penganutnya. Belum lagi adab makan dan minum lainnya yang bila kita hubungkan dengan
kesehatan ternyata memberikan efek positif lagi diberkahi. Misalnya saja Islam melarang umatnya untuk makan dan
minum sambil berdiri ataupun larangan bernafas dan meniup air minum. Kenapa demikian? Lalu, bagimana dengan
adab-adab lainnya? Mari kita bahas.

Islam mengatur adab dalam berbagai hal, salah satunya saat makan dan minum. Berikut ini adalah beberapa adab
makan yang sesuai dengan tuntunan Islam yang sejalan dalam memelihara kesehatan.

1. Membaca basmallah saat memulai dan mengakhirinya dengan hamdalah

Di antara sunnah Nabi adalah mengucapkan bismillah sebelum makan dan minum dan mengakhirinya dengan
memuji Allah.

Menyebut nama Allah sebelum makan akan mencegah setan dari ikut berpartisipasi menikmati makanan tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya syaitan turut menikmati makanan yang tidak
disebut nama Allah padanya. Syaitan datang bersama anak gadis tersebut dengan maksud supaya bisa turut
menikmati makanan yang ada karena gadis tersebut belum menyebut nama Allah sebelum makan. Oleh karena itu
aku memegang tangan anak tersebut. Syaitan pun lantas datang bersama anak Badui tersebut supaya bisa turut
menikmati makanan. Oleh karena itu, ku pegang tangan Arab Badui itu. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya
sesungguhnya tangan syaitan itu berada di tanganku bersama tangan anak gadis tersebut.” (HR Muslim no. 2017).

Apabila kita baru teringat kalau belum mengucapkan bismillah sesudah kita memulai makan, maka hendaknya kita
mengucapkan bacaan yang Nabi ajarkan sebagaimana dalam hadits berikut ini, dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu kalian hendak makan, maka hendaklah
menyebut nama Allah. Jika dia lupa untuk menyebut nama Allah di awal makan, maka hendaklah mengucapkan
bismillahi awalahu wa akhirahu.” (HR Abu Dawud no. 3767 dan dishahihkan oleh al-Albani).

Apabila kita selesai makan dan minum lalu kita memuji nama Allah maka ternyata amal yang nampaknya sepele ini
menjadi sebab kita mendapatkan ridha Allah. Dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji
Allah sesudahnya atau meneguk minuman lalu memuji Allah sesudahnya.” (HR Muslim no. 2734).

2. Makan dan minum menggunakan tangan kanan dan tidak menggunakan tangan kiri

Dari Jabir bin Aabdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlah kalian
makan dengan tangan kiri karena syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019) dari Umar
radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian hendak
makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya
minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan
menggunakan tangan kirinya.” (HR Muslim no. 2020).

Imam Ibnul Jauzi mengatakan, meskipun demikian jika memang terdapat alasan yang bisa dibenarkan yang
menyebabkan seseorang tidak bisa menikmati makanan dengan tangan kanannya karena suatu penyakit atau sebab
lain, maka diperbolehkan makan dengan menggunakan tangan kiri. Dalilnya firman Allah, “Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286).

Apa rahasia di balik sunnah ini?

Lakukanlah percobaan sederhana ini; siapkan dua mangkuk nasi, yang satu diaduk memakai tangan dan yang
satunya diaduk memakai sendok. Lalu diamkan selama beberapa jam. Lihat hasilnya.

Ternyata, nasi yang diaduk memakai tangan, sudah basi terlebih dulu. Sedangkan nasi yang diaduk pakai sendok,
tahan tidak basi hingga lebih 24 jam. Hal ini, karena di sela-sela jari tangan terdapat enzim pengurai, yang
memudahkan alat pencerna dalam lambung manusia.

Bagaimanapun, salah satu penelitian yang dilakukan oleh Dr Charles Gerba dari University of Arizona , mengatakan
bahwa kita tidak mungkin menghalangi kuman dan bakteri masuk ke dalam lingkungan kita. Namun kita bisa
memerangi kuman dengan cara mencuci tangan setiap sebelum dan selesai beraktivitas. Cairan pembersih masih
dianjurkan karena fungsinya adalah menghancurkan membran sel bakteri sehingga aktivitasnya nyaris terhenti.
Lagipula, tubuh sudah memiliki sistem kekebalan sendiri yang bisa dioptimalkan dengan berbagai cara.

Banyak orang beralasan makan menggunakan sendok sebagai alasan lebih higienis dibandingkan makan dengan
tangan. Padahal belum tentu benar. Menurut penelitian, sendok dan tangan memungkinkan terjadinya kontaminasi
dengan bakteri. Sendok bisa lebih bersih dari tangan jika sendok memang dikondisikan pada suatu tempat yang
higienis. Paling tidak, kelembapan udara di ruangan selama sendok itu didiamkan tidaklah tinggi sebab uap air
adalah medium bakteri berpindah tempat. Namun apakah sendok sendok di rumah kita mendapat penjagaan ketat
seperti itu?

Bagaimana dengan tangan ? Tangan sering terkontaminasi dengan bakteri akibat aktifitas tubuh kita. Sehingga jika
kondisi tangan sebelum dicuci, jelas persentasi bakteri dalam tangan akan lebih besar dibandingkan pada sendok
yang baru saja dicuci. Maka kita perlu mencuci tangan kita. Ini tidak membunuh bakteri namun menghapus bakteri.
Kondisinya sama seperti kita menghapus minyak pada tangan kita dengan sabun.

Pada kondisi yang sama sama telah dicuci baik sendok maupun tangan, tangan memiliki kebersihan yang lebih
terjamin. Karena tangan mengandung enzim RNAase yang disekresikan oleh tangan kita. Enzim ini berfungsi untuk
kekebalan tubuh kita dan proteksi terhadap bakteri. Enzim ini selalu disekresikan. Ketika tangan kamu kotor, enzim
ini sedang mengikat bakteri sehingga aktifitas bakteri itu tidak dapat maksimal. Namun jika sangat kotor maka
persentase bakteri akan jauh lebih besar sehingga bakteri akan menaklukan pengaruh dari RNAase. Saat tangan
kamu dicuci, bakteri terkikis sehingga persentase enzim menjadi lebih banyak. Saat kamu makan, enzim ini terus
mengikat bakteri dan masuk ke dalam tubuh kamu. Enzim tersebut membunuh bakteri selama proses pencernaan.

Bagaimana dengan sendok? ketika sendok dicuci, tidak semua bakteri terkikis. Termasuk masih menempelnya
bakteri yang membahayakan tubuh sebab bakteri tidak sepenuhnya merugikan. Ketika makan dengan sendok,
bakteri yang membahayakan tersebut akan masuk ke dalam tubuh tanpa adanya perlawanan dari enzim RNAase.

Lalu bagaimana dengan pemakaian cairan pembersih? Tidak apa apa, sebab sistem kerjanya adalah merusak lapisan
membran terluar pada bakteri sehingga bakteri akan lebih non aktif.

Maha Besar Allah dengan segala ilmuNya. Makan dengan menggunakan tangan adalah sunnah. Karena memang
memakai tangan itu lebih safety dibandingkan memakai sendok. Bahkan nabi mengemut kelima jarinya satu persatu
setelah makan.

3. Memakan makanan yang berada di dekat kita

Umar bin Abi Salamah meriwayatkan, “Suatu hari aku makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku
mengambil daging yang berada di pinggir nampan, lantas Nabi bersabda, “Makanlah makanan yang berada di
dekatmu.” (HR. Muslim, no. 2022)

4. Anjuran makan dari pinggir piring

Makan dari arah pinggir atau tepi dan memakan apa yang ada disekitarnya (yang terdekat) merupakan bimbingan
Rasulullah SAW, karena pada bimbingan beliau terkandung barakah dam merupakan penampilan adab yang baik.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Umar bin Abi Salamah: “Wahai anak! Sebutlah nama Allah
dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada disekitarmu (didekatmu).” (HR. Al Bukhari dan
Muslim).

Diriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda, “Jika kalian makan, maka janganlah
makan dari bagian tengah piring, akan tetapi hendaknya makan dari pinggir piring. Karena keberkahan makanan
itu turun dibagian tengah makanan.” (HR Abu Dawud no. 3772, Ahmad, 2435, Ibnu Majah, 3277 dan Tirmidzi,
1805. Imam Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan shahih.”)

5. Cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan

Tentang cuci tangan, ajaran Islam juga mewajibkan membasuh tangan saat berwudhu, yang dilakukan minimal 5
kali dalam sehari sebelum shalat. Selain itu, ada pula hadist yang menjelaskan mengenai perilaku mencuci tangan
ini: Idzastaiqodzo ahadukum min naumihi falyaghsil yadahu. Potongan hadist ini berarti, “Apabila salah satu darimu
bangun tidur maka hendaknya dia mencuci tangannya”. (HR. Muslim).

Hadist ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan diri terutama tangan. Baru bangun
tidur saja dianjurkan mencuci tangan, apalagi jika sehabis melakukan kegiatan yang memungkinkan tangan kita
tercemar berbagai kuman penyakit seperti: sehabis BAB, bekerja di sawah, di kebun, di pasar, di rumah dan lain
lain.

Tangan kita perlu dicuci dengan benar yaitu menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun, terutama sebelum
makan atau memegang makanan, membuat atau menyiapkan makanan, menyuapi bayi dan lain lain. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa praktek cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat mencegah infeksi kulit dan mata, serta
menurunkan hampir separuh kasus diare dan sekitar seperempat kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).

Masih banyak lagi contoh-contoh ajaran Islam yang tertera di Alqur’an dan Hadits yang sangat memperhatikan
kebersihan dan kesehatan. Surat Al Baqarah Ayat 222 misalnya, menjelaskan mengenai orang-orang yang mau
bertaubat dan yang menjaga kebersihan sangat dimuliakan oleh Allah, karena Allah akan mencintainya. Dan orang
orang yang memelihara kebersihan ini dijanjikan surga oleh Allah, seperti diterangkan dalam salah satu hadits
riwayat Thabraani, “Sesungguhnya Allah membangun Islam di atas kebersihan. Dan tidak akan masuk surga kecuali
orang-orang yang memelihara kebersihan”.

Mengenai cuci tangan sesudah makan, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidur dalam keadaan tangannya masih bau daging
kambing dan belum dicuci, lalu terjadi sesuatu, maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR.
Ahmad, no. 7515, Abu Dawud, 3852 dan lain-lain, hadits ini dishahihkan oleh al-Albani).

6. Tidak duduk sambil bersandar

Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian
Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau, “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.”
(HR Bukhari).

Duduk sambil bersandar dalam hadits tersebut adalah segala bentuk duduk yang bisa disebut duduk sambil
bersandar, dan tidak terbatas dengan duduk tertentu. Makan sambil bersandar dimakruhkan dikarenakan hal tersebut
merupakan duduknya orang yang hendak makan dengan lahap.

7. Tidak tengkurap

Termasuk gaya makan yang terlarang adalah makan sambil tengkurap. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu beliau
mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jenis makanan: yaitu duduk dalam jamuan
makan yang menyuguhkan minum-minuman keras dan makan sambil tengkurap.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majjah.
Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani.

Cara duduk pertama yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau mengatakan, “Aku melihat Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan kurma sambil duduk dengan meletakkan pantat di atas lantai dan
menegakkan dua betis kaki.” (HR Muslim)

Dan cara duduk kedua, diriwayatkan dari Abdullah bin Busrin, “Aku memberi hadiah daging kambing kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memakannya sambil duduk berlutut. Ada seorang Arab Badui
mengatakan, “Mengapa engkau duduk dengan gaya seperti itu? Lalu Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah
menjadikanku seorang hamba yang mulia dan tidak menjadikanku orang yang sombong dan suka menentang.” (HR
Ibnu Majah, sanad hadits ini dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 9/452).

8. Segera makan ketika makanan sudah siap

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika makan malam sudah disajikan
dan Iqamah shalat dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari larangan dalam hadits di atas adalah supaya kita tidak melaksanakan shalat dalam keadaan sangat ingin
makan, sehingga hal tersebut mengganggu shalat kita dan menghilangkan kekhusyukannya. Tetapi, jika makanan
sudah disajikan namun kita tidak dalam kondisi terlalu lapar, maka hendaknya kita lebih mengutamakan shalat dari
pada makan.

9. Makan dengan tiga jari

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati
jari-jari tersebut sesudah selesai makan.

Dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu makan
dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR Muslim no. 2032 dan
lainnya)
Berkenaan dengan hadits ini Ibnu Utsaimin mengatakan, “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yaitu jari
tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan tidak rakus dan ketawadhu’an. Akan tetapi hal
ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari. Adapun makanan yang tidak bisa
dimakan dengan menggunakan tiga jari, maka diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga jari, misalnya nasi.
Namun, makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari maka hendaknya kita hanya menggunakan tiga
jari saja, karena hal itu merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarah Riyadhus shalihin Juz VII
hal 243)

Dengan menggunakan tiga jari (jempol, telunjuk, dan jari tengah), makanan yang masuk ke mulut lebih seimbang
jumlahnya dengan jumlah enzim, sehingga enzim amilase dan lisozim yang diproduksi kelenjar saliva mencerna
makanan dengan maksimal . sehingga makanan menjadi lembut dan mudah dicerna.

10. Menjilati jari dan sisa makanan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian
makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.”
(HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031).

Dengan menjilati atau menghisap jari maka dapat merangsang proses keluarnya air liur dan enzyme (sejenis alat
percerna makanan) lebih banyak, sehingga pencernaan lebih sempurna.

11. Mengambil makanan yang jatuh

Termasuk dalam tuntunan cara makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam adalah mengambil bila makanan
tersebut terjatuh dari tangan. Ini bukan berarti bahwa Islam tidak menjaga kebersihan dan kesehatan. Oleh
karenanya ketika mengambil makanan yang jatuh tersebut harus dibersihkan bila terdapat kotoran padanya. Dalam
hal ini seseorang tidak boleh beranggapan bahwa mengambil makanan yang jatuh termasuk merusak adab Islam.

Mari cermati apa yang diajarkan dan dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam kepada umatnya
“Apabila terjatuh makanan salah seorang dari kalian, maka ambillah lalu bersihkan kotoran yang ada padanya
kemudian makanlah dan jangan membiarkannya bagi setan.” (HR. Muslim no. 2033).

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam menyebutkan salah satu adab makan dan minum yaitu
apabila ada makanan yang terjatuh, dianjurkan bagi kita untuk mengambilnya bila tidak terdapat kotoran padanya,
dan bila padanya ada kotoran maka hendaklah kita member-sihkannya bila memungkinkan.

Bila tidak memungkinkan apa yang harus diperbuat? Al-Imam An-Nawawi mengatakan “Di dalam hadits-hadits ini
terdapat beberapa sunnah (di antaranya) disunnahkan mengambil dan memakan makanan yang jatuh setelah
dibersihkan dari kotoran, yang demikian ini bila makanan itu tidak terjatuh pada tempat najis. Bila terjatuh pada
tempat yang najis, maka makanan tersebut akan menjadi najis dan harus dibasuh jika memungkinkan. Bila tidak
memungkinkan maka dia memberikannya untuk binatang dan jangan dia membiarkan untuk setan.” (Syarah Shahih
Muslim, 7/204)

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam ini mengingatkan kepada kita jangan sampai kita membiarkan
kesempatan bagi setan untuk menyantap makanan yang pada akhirnya mendapatkan kekuatan untuk mengganggu
Bani Adam.

Telah dinukilkan oleh pengarang kitab Ar-Raudhah An-Nadiyyah, dari salah seorang ulama bahwa dia berkata
“Salah seorang sahabat kami berziarah (mengunjungi) kami, lalu kami keluarkan makanan baginya. Di saat mereka
makan, banyak makanan yang berjatuhan dari tangannya dan berserakan di tanah. Dia berusaha dengan penuh
kesungguhan untuk mengambilnya dan kemudian memakannya, lalu aku menjauh darinya dan hal ini menjadikan
yang hadir terheran-heran. Pada suatu hari ada seseorang kesurupan, lalu setan tersebut berbicara melalui lisannya
dan di antara percakapannya adalah “Sesungguhnya aku akan melewati orang yang sedang makan dan makanan itu
sangat mengundang selera. Orang tersebut tidak mau memberiku sedikitpun, aku berusaha menyambarnya dari
tangannya lalu dia mencabutnya balik dari tanganku.” (At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 3/81)

12. Tidak mengambil makanan lebih dari satu

Larangan ini berlaku pada saat makan bersama tidak pada saat sendirian, dari Syu’bah dari Jabalah beliau bercerita:
“Kami berada di Madinah bersama beberapa penduduk Irak, ketika itu kami mengalami musim paceklik. Ibnu
Zubair memberikan bantuan kepada kami berupa kurma. Pada saat itu, Ibnu Umar melewati kami sambil
mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengambil makanan lebih dari satu
kecuali sesudah minta izin kepada saudaranya.” (HR Bukhari no. 2455 dan Muslim no 2045) Ibnul Jauzi
mengatakan, “Hadits ini berlaku pada saat makan bersama-sama. Pada saat makan bersama biasanya orang hanya
mengambil satu kurma saja. Maka jika ada orang yang mengambil lebih dari satu, maka berarti dia lebih banyak
daripada yang lain. Sehingga harus minta izin terlebih dahulu dari orang lain.” (Kaysful Musykil, 2/565)
7 Adab Makan dan Minum Sesuai Sunnah Rosulullah SAW, Cek No.5 yaa
By Azizah AzizahPosted on 29/05/2018

Sebelumtidur.com – Pengertian adab makan dan minum dalam Islam memiliki pengertian yaitu mempraktikan cara
makan dan minum yang sesuai dengan syariat Islam. Adab makan dan minum sesuai sunnah Rosulullah yang
telah diajarkan beliau.

Islam memang agama yang penuh dengan perhatian, bahkan untuk makan dan minum aja ada aturannya. Aturan
atau adab ini dilakukan bukan sembarangan tapi ternyata memiliki manfaat yang luar biasa.

Contohnya Rosulullah memerintahkan untuk makan tidak terlalu kenyang. Menurut penelitian jika manusia makan
terlalu kenyang maka akan memberatkan fungsi lambung, hati, dan jantung sehingga dapat mengganggu
metabolisme tubuh.

Hadits adab makan dan minum,

“Jika salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan menggunakan tangan kanan dan jika minum, minumlah
juga dengan tangan kanannya. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kirinya dan juga minum dengan
tangan kirinya.” (H.R. Muslim dan Nasa’i)

Adab Makan dan Minum Sesuai Sunnah

Nahh sobat kali ini kita akan membahas tentang adab makan dan minum yaa, pastinya sesuai dengan sunnah
Rosulullah.

1. Makan dan minum diawali dengan basmalah


Hadits adab makan dan minum

Makan minum diawali dengan basmalah selanjutnya mengakhirinya dengan hamdalah. Yaa mengingat Allah
disetiap kegiatan termasuk makan dan minum menjadi adab yang benar.

“Wahai Ghulam, sebutlah nama Allah (bismillah) makanlah dengan tangan kananmu dan mkanlah makanan yang
ada di hadapanmu” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dengan mengucapkan doa akan membuat makanan yang kita makan menjadi berkah, makanan yang berasal dari
rezeki yang halal dan dimasukan ke dalam tubuh dengan cara yang baik pula akan membuat badan menjadi ringan
untuk beribadah.

2. Tidak makan secara berlebihan


“Makan dan minumlah dan jangan berlebih lebihan..” (Q.S. Al A’raf: 31)

Bahkan Allah sudah menuliskannya dalam Alquran bahwa ketika makan dan minum kita dilarang untuk berlebih
lebihan. Kenapa? Ternyata tidak baik untuk kesehatan.

Makan yang berlebihan akan membuat tubuh menghasilkan radikal bebas yang siap mengancam kesehatan.
Meningkatkan kadar kolesterol dan membuat asam urat menjadi tinggi. Selain itu juga akan mengganggu
pencernaan dan bisa mengakibatkan radang lambung.

Jantung yang bekerja terlalu keras akan mengakibatkan dia menjadi kelelahan dan dampaknya bisa terkena penyakit
jantung. Macam macam penyakit jantung berbahaya bisa membunuh seseorang dengan cepat.

Nahh rahasia dibalik sunnah Rosulullah ini memang unik yaa, jadi jangan sepelekan tentang sunnah karena pasti ada
manfaat yang tidak disangka sangka.

3. Tidak meniup makanan


Meniup makanan saat panas sepertinya sudah menjadi kebiasaan yaa, padahal itu bukan adab makan dan minum
sesuai sunnah.

Meniup makanan akan menyebabkan tersebarnya mikroorganisme, virus, dan bakteri yang selanjutnya akan masuk
dalam tubuh dan menyebar ke seluruh badan.

Contohnya orang yang menderita penyakit TBC yang kadang tidak disadari pengidapnya dan akan mudah menular
melalui pernafasan. Jika penderita TBC meniup makanannya bisa jadi akan menyebar ke makanan kita.
4. Mengambil makanan yang terdekat
Pengertian adab makan dan minum

Mengambil makanan yang terdekat seperti hadits adab makan dan minum berikut ini,

“Bacalah Basmalah & ambillah makanan yg ada didekatmu.” (H.R. Bukhari)

Yaa, ini berkaitan dengan kesopanan, tidak jarang ketika menghadiri suatu acara yang kemudian dihidangkan
banyak makanan maka lebih baik mengambil makanan yang ada di dekat kita.

Walaupun ada makanan disana yang sangat kita senangi tapi letaknya jauh. Rasanya tidak etis ketika tangan kita
kemana mana untuk mengambil makanan. Untuk lebih baiknya meminta bantuan teman yang dekat dengan makanan
tersebut sehingga akan mendekat pada kita dan mudah untuk mengambilnya.

5. Makan dan minum sambil duduk tidak berdiri


Sesuai hadits adab makan dan minum,

“Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang untuk minum berdiri”. Qatadah
(seorang tabi’in) berkata : “Kami bertanya kepada Anas, ‘Bagaimana dengan makan sambil berdiri?’ Anas
menjawab, ‘Yang demikian itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR. Muslim).

Menurut penelitian membuktikan bahwa di dalam ginjal seperti ada pintunya. Nahh pintu ini adalah penyaringan
darah sebelum darah di edarkan ke seluruh tubuh.

Saat makan dan minum sambil berdiri maka saringan ini akan tertutup sehingga makanan yang masuk ke tubuh tidak
disaring dan langsung diedarkan dengan darah. Penyakit yang menyerang darah padahal sangat mengerikan yaa.

Sedangkan saat duduk maka makanan dan minuman yang masuk akan disaring terlebih dahulu. Penyaringan ini
akan memfilter zat zat berbahaya yang masuk ke tubuh.

6. Makan dengan bersama sama


Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan satu orang itu cukup untuk dua orang. Makanan dua orang
itu cukup untuk empat orang. Makanan empat orang itu cukup untuk delapan orang.” (H.R. Muslim)

Makan secara bersama sama memang sepertinya terlihat enak yaa. Makan secara bersama akan meperlihatkan
kerukunan dan kebersamaan dari semua orang yang ada disana.

Makan bersama akan memudahkan pembagian makanan, jika makanan sedikit tapi dimakan bersama akan saling
menyisihka makanan untuk yang belum kenyang, tapi jika makan sendiri sendiri makanan yang sisa bisa jadi
terbuang.

7. Tidak mencaci makanan


Pengertian adab makan dan minum menurut sunnah berarti melakukan makan minum sesuai contoh yang diberikan
Rosulullah. Yang terakhir kita bahas yaitu tidak mencaci makanan.

“..makanannya gak enak, rasanya aneh, aku gak suka..”

“..kok ada yaa orang masak dan hasilnya makanan seperti ini, siapa yang mau makannya..”

Nahh mencela makanan bukanlah sunnah Rosulullah, makanan yang diperoleh adalah hasil dari mencari rezeki di
jalan yang halal tapi kenapa disia siakan seperti itu.

Ketika makanan yang ada tidak kita sukai lebih baik diam dan tidak memakannya, tapi kalau suka segera
memakannya bukan malah mencelanya.

Bagaimana sobat sebelumtidur.com tentang adab makan dan minum sesuai sunnah Rosulullah?? Bisa
mempraktekannya yaa, kan gampang, dibuat untuk kebiasaan yaa sobat.
Islam merupakan agama yang mengatur seluruh segi kehidupan kita. Mulai dari beribadah, bersosialisaisi, hingga
adab-adab dalam melakukan sesuatu, seperti makan pun diatur dalam Islam. Makan dan minum adalah hal yang
setiap orang lakukan setiap hari, sehingga kebanyakan orang menyepelekan hal ini. Dengan melakukan makan dan
minum sesuai dengan adab atau tata cara yang diatur dalam Islam, maka itu juga mencerminkan seseorang memiliki
akhlaq yang baik dan akan dihitung oleh Allah sebagai bentuk ibadah jika disertai dengan niat yang baik. Rasulullah
‫ ﷺ‬bersabda:

“Sesungguhnya setiap perbuatan dilandaskan pada niat, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang
diniatkan..” (1)

Lantas, sebenarnya bagaimana sih tata cara makan dan minum yang diajarkan oleh Rasulullah ‫ ﷺ‬dalam Islam?
Simak penjelasan di bawah ini!

Islam mengajarkan kepada kita untuk menikmati makanan yang halalan, yaitu bahwa makanan itu halal zat dan cara
memperolehnya, serta toyyiban yang artinya baik atau tidak mudarat terhadap yang mengkonsumsinya. Setelah
memilih makanan yang halal dan tidak membahayakan diri, maka selanjutnya kita juga harus memperhatikan tata
cara makan yang benar menurut agama Islam.

Berikut adalah tata cara makan dan minum yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ‫ﷺ‬.

1. Dilarang makan dan minum pada bejana emas dan perak. Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:

“Janganlah kalian memakai kain sutra dan yang bergaris sutra (dibaj adalah jenis kain persia. Pen.) dan
jangan pula kalian minum pada bejana emas dan perak serta makan pada piring yang terbuat dari emas dan perak
sebab dia (semua disebutkan di atas) adalah bagi mereka di dunia dan bagi kalian di akhirat.” (2)

2. Membagi perutmu menjadi tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga
untuk bernafas, Rasulullah ‫ ﷺ‬bersabda:

Tidaklah seorang anak Adam mengisi sesuatu yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah bagi anak Adam
beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika dia harus mengerjakannya maka hendaklah dia
membagi sepertiga untuk mkanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya.” (3)

3. Tidak dianjurkan makan yang banyak. (4)

4. Tidak berlebihan dalam variasi makanan, sebagian ulama Abu Hanifah berkata: Termasuk berlebihan jika
terdapat di atas meja makan roti dengan jumlah yang melebihi kebutuhan orang yang makan, dan termasuk
berlebihan menyediakan bagi diri makanan yang beragam. (5)

5. Menggunakan tangan kanan dan memakan makanan yang dekat. (6)

ُ ‫يَا‬
َ ،‫غالَ ُم‬
َ‫س ِ ِّم هللاَ َو ُك ْل بِيَمِ ْينِكَ َو ُك ْل مِ َّما يَ ِليْك‬

“Wahai nak, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang ada di dekatmu.” (HR.
Al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

6. Dilarang makan sambil ittika’ (berbaring), Rasulullah bersabda: Sesungguhnya aku tidak makan secara
berbaring. (7) Di antara bentuk berbaring tersebut adalah:

1. Berbaring ke sebelah kiri.


2. Duduk Bersila.
3. Bertopang pada salah satu tangan dan makan dengan tangan yang lain.
4. Bersandar pada sesuatu, seperti bantal atau hamparan di bawah tempat duduk seperti yang
dilakukan para pembesar.

7. Mendahulukan makan dari shalat pada saat makanan sudah dihidangkan, berdasarkan sabda Nabi:
“Apabila makan malam sudah dihidangkan maka mulailah dengan makan malam dan janganlah tergesa-gesa
sampai dia selesai makan malam.” (8)

8. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, berdasarkan sabda Nabi:

“Barangsiapa yang tidur sementara tangannya dipenuhi bau daging dan dia belum mencucinya lalu ditimpa
oleh sesuatu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri.”(9)

9. Membaca Basmalah pada permulaan makan. Jika lupa di awal, maka membaca:

10. Setelah selesai makan maka dia mengucapkan salah satu do’a yang telah diajarkan oleh Rasulullah, yaitu:

“Segala puji bagi Allah, pujian yang berlimpah lagi baik dan berkah yang senantiasa dibutuhkan, diperlukan
dan tidak bisa ditingalkan wahai rabb kami.”(10)

Atau membaca do’a:

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan aku makan dengan makanan ini, dan menjadikannya sebagai rizki
bagiku tanpa daya dan upaya dariku.” (11)

11. Tidak bertanya tentang asal makanan, dijelaskan dalam sebuah hadits:

“Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi saudaranya semuslim lalu dia menyuguhkan kepadanya
makanan maka hendaklah dia memakannya tanpa bertanya tentang (asal) makanan tersebut dan jika dia
memberinya minum maka hendaklah meminumnya tanpa bertanya tentang asal minuman tersebut.” (12)

12. Dianjurkan menyeragamkan makanan antara semua yang hadir.

13. Dibolehkan mendahulukan sebagian makanan kepada teman duduknya sebagai bentuk sifat lebih mengutamakan
orang lain atas dirinya.

14. Dibolehkan memberikan makan kepada orang yang meminta-minta dan kucing dengan syarat orang yang
memberikan makanan tidak terganggu dengan tindakan tersebut. (13)

15. Dianjurkan makan dari apa-apa yang ada di pinggir piring bukan dari atasnya (bagian tengah makanan). (14)

16. Dianjurkan makan dengan menggunakan tiga jari(15) dan menjilat tangan(16), berdasarkan hadits Ka’ab bin Malik
radhiallahu anhu bahwa Rasulullah makan dengan tiga jari dan mejilati tangannya sebelum
membersihkannya” (17) dan hikmah menjilat jari-jari adalah karena perintah Nabi Muhammad yang memerintahkan
menjilati jari-jari dan piring tempat makan dan bersabda: “Kalian tidak mengetahui di bagian makanan manakah
keberkahan tersebut.” (18)

17. Dianjurkan mengambil suapan yang terjatuh dan membersihkan apa-apa yang menempel lalu memakannya. (19)

18. Tidak disyari’atkan mencium makanan, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimhullah Ta’ala.

19. Dianjurkan memakan makanan setelah hilang panasnya. (20)

20. Dilarang mencela dan menghina makanan, sebagimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah tidak
pernah mencela makanan sedikitpun, apabila beliau menyukainya maka beliau memakannya dan jika tidak
menginginkannya maka beliau meninggalkannya.(21) Imam Nawawi rahimahullah berkata: Dan di antara adab
makan yang harus adalah makanan tersebut tidak dicela, seperti mengatakan: makanan ini asin atau kecut. (22)

21. Mengutamakan minum dengan cara duduk, dan Nabi Muhammad menghardik seorang yang minum dengan cara
berdiri(23), namun dibolehkan minum secara berdiri berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa
dia memberi minum kepada Rasulullah dari air zamzam, lalu beliau meminumnya, sementara beliau tetap berdiri. (24)

22. Dimakruhkan bernafas dan meniup di dalam bejana (tempat minum). (25)
23. Dianjurkan bernafas (di luar bejana) tiga kali ketika seseorang sedang minum. Disebutkan dalam sebuah riwayat
bahwa Nabi bernafas (di luar bejana) tiga kali saat minum, dan beliau menegaskan bahwa hal itu lebih
mengenyangkan, memuaskan dan lezat.”(26) Dan dibolehkan minum dengan satu kali nafas, sebab Nabi Muhammad
tidak mengingkari seseorang yang sedang minum (dengan satu kali nafas), dan beliau berkata: Sesungguhnya aku
tidak kenyang (minum) dengan satu kali nafas”.

24. Diharamkan duduk di hadapan hidangan minuman keras. (27)


25. Disunnahkan menghabiskan sisa makanan yang ada pada piring atau nampan tempat makan. (28)
26. Termasuk etika makan adalah tidak makan di jalanan.
27. Termasuk etika makan adalah tidak melihat kepada wajah orang-orang yang sedang makan.
28. Termasuk etika makan adalah tidak berbicara dengan sesuatu yang menjijikkan atau mengundang ketawa orang
yang sedang makan.
29. Termasuk etika makan tidak memuntahkan sesuatu yang telah ditelan ke dalam nampan tempat makanan, dan
tidak pula mencium bau makanan

Referensi
1. Bukhari
2. Bukhari no: 5426, Muslim no: 206
3. Dishahihkan oleh Albani dalam kitab silsilatus shahihah no: 2265.
4. Bukhari no: 5393, Muslim 2060, 182.
5. Al-Adabus Syar’iyah no: 3/193.
6. Bukhari no: 5376, Muslim no: 2022.
7. Abu Dawud no: 3774 dan dishahihkan oleh Albani
8. Bukhari no: 674, Muslim no: 559.
9. Ahmad no: 7515, Abu Dawud no: 3852 dan dishahihkan oleh Albani
10. Bukhari 5459
11. Turmudzi no: 3458 dan dihasankan oleh Albani no : 3348.
12. Imam Ahmad dalam Musnadnya 2/399, hadits ini dishahihkan oleh yang alim Albani rahimhullah dalam
kitab Silsilatus Shahihah no: 627.
13. Al-Adabus Syar’iyah 3/182.
14. Abu Dawud no:3772. Dan bagian tengah dikhususkan bagi turunnya berkah sebab bagian tersebut adalah
bagian yang paling adil.
15. Dan jari yang dipergunakan menyantap makanan adalah Jari telunjuk, ibu jari dan jari tengah, kecuali
makanan tersebut sejenis tsarid (makanan roti yang direndam dalam kuah) atau yang sejenisnya maka
diperbolehkan makan dengan lima jari-jarinya. Ibnul Qoyyim rahimhullah mengatakan: Cara makan yang
paling mulia yaitu makan dengan menggunkan tiga jari-jari, sebab orang yang sombong makan dengan
satu jari sementara orang yang kuat makan dengan lima jari sekligus dan mendorong makanan tersebut
dengan tenang.
16. Dan cara menjilat jari-jari adalah memulai menjilat yang dengan jari tengah, kemudian jari telunjuk dan
ibu jari, dan hadits tentang masalah ini diriwayatkan oleh Al-Thabrani dalam kitab Al-Mu’ajmul Ausath.
Saat itu mereka belum mempunyai tissu untuk membersihkan tangan mereka.
17. Muslim no: 20222.
18. Muslim no: 2033.
19. Sisilatus Shahihah no: 1404
20. Albani berkata di dalam kitabnya: Irwa’ul Galil no: 1978: Shahih dan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 7/2580.
21. Bukahri no: 5409
22. Fathul Bari, Ibnu Hajar no: 9/548
23. Dari Anas radhiallahu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang minum secara berdiri. HR. Muslim
no: 2024.
24. Bukhari no: 1637
25. Bukhari no: 5630, Al-Hafiz berkata di dalam kitabnya: Fathul Bari 10/80: Larangan tentang meniup di
dalam bejana didasarkan pada beberapa hadits, begitu juga dengan larangan bernafas padanya, sebab
bisa saja saat bernafasnya terjadi perubahan pada mulutnya karena pengaruh makanan atau karena
jarang bersiwak dan berkumur, atau karena nafas tersebut naik bersama dengan gas yang terdapat di
dalam lambung, dalam masalah ini meniup lebih keras dari sekedar bernafas.
26. Bukhari no: 45631.
27. Ahmad no: 14241.
28. Al-Adabus Syar’iyah no: 3/161.
24 Adab Makan dan Minum Sesuai Sunnah Rasul Agar Berkah, Sehat dan Tidak Makan-Minum Bersama Setan

lustrasi. (Foto: pulsk.com)

Syahida.com – Seperti apakah sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam saat makan dan minum? Berikut ini
adalah 24 etika makan dan minum sesuai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:

1. Makanan Seorang Muslim: Baik dan Halal


a. Firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (QS.
Al-Baqarah: 172)

b. Firman Allah Ta’ala, “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka
dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf
dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan
mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al-A’raf: 157)

2. Membaca Basmalah Saat Makan dan Memulai dengan yang Terdekat


a. Dari Umar bin Abu Salamah r.a, ia berkata, “Saat masih kecil di pangkuan Rasulullah, tanganku bergerak ke sana-
ke mari di piring, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai anak, ucapkanlah
‘Bismillah,’ makanlah dengan tangan kanan dan makanlah yang terdekat denganmu.” Setelah itu berubahlah cara
makanku seperti itu. 1

b. Dari Ibnu Mas’ud r.a berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Siapa yang lupa untuk menyebut nama Allah ketika memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan saat ingat,
‘Bimillahi fi awwalihi wa akhirhi (Dengan nama Allah di awal dan di akhir makanan).” Maka ia seperti
menghadapi makanan baru lagi dan mencegah apa yang tadi sudah didapat setan.” 2

3. Makan dan Minum dengan Menggunakan Tangan Kanan


Dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian makan, maka makanlah dengan menggunakan tangan kanan, dan jika ia minum,
maka minumlah dengan menggunakan tangan kanan, karena sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan
menggunakan tangan kiri.” 3

4. Bernafas di Luar Bejana ketika Hendak Minum


Dari Anas r.a berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bernafas tiga kali ketika hendak minum dan
bersabda,

“Sesungguhnya yang demikian itu lebih segar, lebih steril dan lebih memuaskan.” 4

5. Cara Memberi Minum Orang Lain


Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diberi susu penuh, sedang di sebelah kanannya
seorang Arab Badui dan di sebelah kirinya Abu Bakar. Beliau meminumnya kemudian memberikannya kepada Arab
Badui seraya beliau bersabda, “Dari kanan kemudian ke kanannya.” 5

6. Tidak Minum Sambil Berdiri


a. Dari Abu Said Al-Khudri r.a, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri. 6

b. Dari Abu Hurairah r.a, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat seorang lelaki minum sambil berdiri, kemudian
bersabda, “Muntahkanlah” Ia berkata, “Kenapa?” Beliau bersabda, “Apakah kamu suka minum bersama seekor
kucing?” Ia menjawab, “Tidak.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya ikut minum bersama kamu sesuatu yang lebih
buruk dari seekor kucing, yaitu setan.” 7

7. Tidak Makan dan Minum dari Tempat yang Terbuat dari Emas dan Perak
Dari Hudzaifah r.a, ia berkata, “Aku mendengar Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Janganlah kamu
memakai sutra dan kain diibaj ‘sutra yang lebih halus’; dan janganlah minum dengan menggunakan bejana yang
terbuat dari emas atau perak. Janganlah makan dengan menggunakan piring dari emas atau perak, karena perabot
itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan untuk kita di akhirat.” 8

8. Tata Cara Makan


a. Dari Kaab bin Malik r.a, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam makan dengan menggunakan tiga
jari, dan beliau menjilati tangannya sebelum membersihkannya.” 9

Ilustrasi. (Foto: wartakesehatan.com)

b. Dari Anas r.a, jika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam makan beliau menjilati ketiga jarinya. Anas berkata,
“Rasulullah bersabda, “Jika suapan kalian terjatuh, maka hendaklah diambil dan dibersihkan dari penyakit
(kotoran), kemudian dimakan serta tidak meninggalkannya untuk setan.” Beliau memerintahkan untuk
menghabiskan sisa makanan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak tahu dari sisi makanan mana yang
mengandung berkah.” 10

c. Dari Ibnu Umar r.a, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang (umatnya) menelan dua kurma
sekaligus sebelum meminta izin kepada teman-temannya.” 11

d. Dari Ibnu Umar r.a, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Hendaklah setiap orang di antara kalian makan
dengan menggunakan tangan kanannya, minum dengan menggunakan tangan kanan, mengambil dengan
menggunakan tangan kanan, dan memberi dengan menggunakan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan
dengan menggunakan tangan kiri, minum dengan menggunakan tangan kiri, memberi dengan menggunakan tangan
kiri dan mengambil dengan menggunakan tangan kiri.” 12

9. Kadar (Ukuran) Makan yang Baik


Dari Miqdam bin Ma’dikarib r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
‘Tidaklah anak Adam memenuhi bejana lebih buruk dari memenuhi perutnya. Cukuplah bagi bani Adam makanan
yang dapat menegakkan tulang rusuknya, kalau tidak boleh tidak (harus memenuhi perutnya) hendaklah 1/3
(perutnya) untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk nafasnya.” 13

10. Tidak Mencaci Makanan


Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah mencaci makanan sama
sekali, jika beliau tidak menyukainya maka beliau memakannya, jika beliau tidak suka beliau meninggalkannya.” 14

11. Tidak Makan Secara Berlebihan


Dari Ibnu Umar r.a, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Orang kafir makan dengan tujuh usus, sedangkan orang mukmin makan dengan satu usus.” 15

12. Keistimewaan Makan dan Membaginya


a. Dari Jabir bin Abdullah r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
‘(Jatah) makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan makanan
empat orang cukup untuk delapan orang.” 16

b. Dari Abdullah bin Amr r.a, seorang lelaki bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang perbuatan
yang paling baik dalam Islam. Beliau bersabda,

“Memberi makanan, dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau
kenal.” 17

c. Dari Abu Ayyub Al-Anshari r.a, ia berkata, “Jika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima makanan
beliau memakan sebagian dan mengirimkan sisanya kepadaku.” 18

13. Memuji Hidangan


Dari Jabir bin Abdullah r.a, Nabi SAW bertanya kepada tuan rumah tentang lauk-pauk yang dihidangkan. Mereka
berkata, “Kita tidak memiliki makanan kecuali khal (cuka, sejenis asinan).” Kemudian beliau minta agar dibawakan
khal, dan memakannya seraya bersabda, “Sebaik-baik lauk-pauk adalah khal dan sebaik-baik lauk pauk adalah
khal.” 19

14. Tidak Meniup Minuman


Dari Abu Said Al-Khudri r.a, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang minum dari lubang
tempat air, dan melarang meniup minuman.” 20
15. Pemberi Air Minum Hendaknya Meminum Terakhir Kali
Dari Abu Qatadah r.a berkata, “Rasulullah berkhutbah kepada kami dan di akhir khutbahnya beliau bersabda,
“Sesungguhnya orang yang memberi minum suatu kaum maka dialah yang minum terakhir kali.” 21

16. Berkumpul untuk Makan Bersama

Ilustrasi. (Foto: rindubaitullah.wordpress.com)

Dari Wahsyi bin Harb, dari bapaknya, dari kakeknya, “Para sahabat Rasulullah berkata, ‘Ya Rasulullah, kami makan
namun tidak merasa kenyang.’ Beliau bersabda, ‘Mungkin kalian berpencar-pencar (ketika makan).’ Mereka
berkata, ‘Benar.’ Beliau bersabda, “Berkumpullah ketika makan, dan sebutlah nama Allah atasnya, maka Dia akan
memberikan makan kalian.” 22

17. Menghormati Tamu dan Melayaninya Sendiri


a. Firman Allah Ta’ala, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-
malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”.
Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal”. Maka dia pergi dengan diam-
diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka.
Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan“. (QS. Adz-Dzariyat: 24-27)

b. Dari Abu Syuraih Al-Ka’bi r.a, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menghormati tamunya, masa pelayanannya
sehari semalam, masa bertamunya tiga hari dan setelah itu adalah sedekah, tidak halal baginya (tamu) untuk
menetap di tempatnya sampai membuat tuan rumah terganggu.” 23

18. Posisi Duduk ketika Makan


a. Dari Abu Juhaifah r.a, ia berkaa, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya aku makan
tidak dengan bersandar.” 24

b. Dari Anas r.a berkata, “Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam duduk dengan menegakkan kedua
betis dan paha (muq’i) ketika makan kurma.” 25

c. Dari Abdullan bin Bisr r.a, ia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diberi hadiah daging kambing,
saat memakan daging tersebut, beliau duduk bersimpuh. Seorang Badui berkata, ‘Duduk (pertemuan) apa ini? Beliau
bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikanku hamba yang mulia, tidak menjadikanku sebagai orang yang diktator
dan pembangkang.” 26

19. Sifat Makan Orang Sibuk


Dari Anas r.a, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diberi kurma, kemudian Rasulullah membaginya sambil
berjalan tergesa-gesa, kemudian memakannya dengan cepat. Dalam riwayat Zuhair, “Makan dengan terburu-buru.”
27

20. Kencangkan (Tutup) Minuman dan Menyebut Nama Allah Saat Tidur
Dari Jabir r.a, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tutuplah pintumu, sebutlah nama Allah, matikan
lampu dan sebutlah nama Allah, kencangkan (tutup) minumanmu dan sebutlah nama Allah, tutuplah bejanamu dan
sebutlah nama Allah, meski kamu menutupinya dengan sesuatu (yang bukan tutupnya).” 28

21. Makan Bersama Pembantu


Dari Abu Hurairah r.a, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika pembantu salah seorang di antara kalian
datang membawa makanan, jika kalian tidak memintanya duduk bersama maka hendaklah mengambilkan untuknya
satu makanan atau dua makanan, sesuap atau dua suap. Karena dialah yang menangani panasnya makanan dan
pengolahannya.” 29

22. Mendahulukan Makan Malam daripada Shalat Isya


Dari Anas bin Malik r.a, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

“Jika makan malam telah dihidangkan sedang shalat (Isya) sudah didirikan maka dahulukanlah makan malam.” 30

23. Tata Cara Makan yang Benar di Sebuah Nampan


Dari Ibnu Abbas r.a, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Jika salah seorang di antara kalian mengonsumsi
makanan di sebuah nampan, maka jangan memulainya dari bagian tengah, tapi dari bagian pinggir, karena
keberkahan terdapat di bagian tengah.” 31
24. Bacaan Setelah Makan
Dari Muadz bin Anas r.a, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang usai makan, kemudian
berdoa, “Alhamdulilahil Ladzii Ath’amani Hadzath Tha’sama wa Razaqanihi Min Ghairi Haulim Minnii Walaa
Quwwah’ (Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, dan memberi rezekiku ini tanpa kesusahan
dan kekuatan dariku), maka akan dimaafkan segala dosa yang telah lalu darinya.” 32 [Syahida.com/ANW]

———

Catatan Kaki:

1
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (5376) lafazh ini baginya, dan Muslim No. (2022)

2
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Ibnu Hibban No. (5213) dan dikeluarkan juga oleh Ibnu As-Sunni No. (461), lihat
As-Silsilah Ash-Shahihah No. (198).

3
Dikeluarkan oleh Muslim No.(2020)

4
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (5361)dan Muslim No. (2028) lafazh ini baginya.

5
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (2352)dan Muslim No. (2029) lafazh ini baginya.

6
Dikeluarkan oleh Muslim No. (2025).

7
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Ahmad No. (7990) dan dikeluarkan juga oleh Ad-Darimi No. (2052), lihat As-
Silsilah Ash-Shahihah No. (175).

8
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (5426) lafazh ini baginya, dan Muslim No. (2067).

9
Dikeluarkan oleh Muslim No. (2032).

10
Dikeluarkan oleh Muslim No. (2034).

11
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (2455)dan Muslim No. (2045) lafazh ini baginya.

12
Hadits shahih, dikeluarkan oleh Ibnu Majah No. (3266) , Shahih Sunan Ibni Majah No. (2643), lihat As-Silsilah
Ash-Shahihah No. (1236).

13
Hadits sahih, dilkeluarkan oleh At-Tirmidzi No. (2380) dan lafazh ini baginya, Shahih Sunan At-Tirmidzi No.
(1939), dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah No. (3349), Shahih Sunan Ibni Majah No. (2704).

14
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (5409) lafazh ini baginya, dan Muslim No. (2064)

15
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (5393), dan Muslim No. (2060) lafazh ini baginya

16
Dikeluarkan oleh Muslim No. (2059).

17
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (6236) lafazh ini baginya, dan Muslim No. (39)

18
Dikeluarkan oleh Muslim No. (2053).

19
Dikeluarkan oleh Muslim No. (2052).

20
Hadits Sahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud No. (3722) lafazh ini baginya, Shahih Sunan Abi Dawud No. (3165),
dan dikeluarkan juga oleh At-Tirmidzi No. (1887), Shahih Sunan At-Tirmidzi No. (1538).

21
Dikeluarkan oleh Muslim No. (681).

22
Hadits Hasan, dikeluarkan oleh Abu Dawud No. (3764) lafazh ini baginya, Shahih Sunan Abi Dawud No. (3199),
dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah No. (3286), Shahih Sunan Ibni Majah No. (2657).

23
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (6135) lafazh ini baginya, dan Muslim No. (48)

24
Dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (5398).
25
Dikeluarkan oleh Muslim No. (2044)

26
Hadits Sahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud No. (3773) lafazh ini baginya, Shahih Sunan Abi Dawud No. (3207),
dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah No. (3262) lafazh ini baginya, Shahih Ibni Majah No. (2640).

27
Dikeluarkan oleh Muslim No. (2044).

28
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (3280) lafazh ini baginya, dan Muslim No. (2012)

29
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (5460) lafazh ini baginya, dan Muslim No. (1663)

30
Muttafaq Alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari No. (5463) lafazh ini baginya, dan Muslim No. (557)

31
Hadits sahih, dikeluarkan oleh Abu Dawud No. (3772) lafazh ini baginya, Shahih Sunan Abi Dawud No. (3206),
dan dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah No. (3277), Shahih Ibni Majah No. (2650).

32
Hadits hasan, dikeluarkan oleh Abu Dawud No. (4023) lafazh ini baginya, Shahih Sunan Abi Dawud No. (3394)
dan dikeluarkan oleh Ibnu Majah No. (3285), Shahih Sunan Ibni Majah No. (2656).

===

Sumber: Kitab Ensiklopedi Islam Al-Kamil, Karya: Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah at-Tuwaijiri,
Penerjemah: Achmad Munir Badjeber, M.Ag., Futuhal Arifin, Lc., Ibnu Muhammad, Lc., M. Rasyikh, Lc., Penerbit:
Darus Sunnah

Sumber: https://www.syahida.com/2016/03/31/4570/24-adab-makan-dan-minum-sesuai-sunnah-rasul-agar-
berkah-sehat-dan-tidak-makan-minum-bersama-setan/#ixzz5a6SNmSEe
Follow us: @syahidacom on Twitter | syahidacom on Facebook
PENDAHULUAN
Rasulullah merupakan suri teladan yang patut di contoh oleh seluruh umat di dunia ini, beliau di utus oleh
Allah untuk menjadi panutan bagi seluruh umat. Rasul telah memberikan contoh dalam berbagai hal dalam
kehidupan ini, dari masalah yang kecil hingga masalah yang berat demikianlah kesempurnaan beliau yang hujjahnya
sangat jelas dan terang, sehingga tidak ada suatu permasalahan yang tersisa melainkan telah di jelaskan olehNya.
Pada makalah ini akan di jelaskan tentang pemaparan etika makan dan minum. Sebagaimana kita ketahui
bahwa makan dan minum merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia untuk hidup. Dari makanan juga manusia
dapat melakukan aktivitasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Rasulullah telah banyak menjelaskan tentang
bagaimana tata cara makan dan minum yang baik sesuai dengan kadarnya masing-masing.
Tata cara makan dan minum merupakan hal yang penting dan dilakukan berulang-ulang setiap harinya.
Tata cara makan dan minum merupakan bagian alamiah hidup yang membawa manfaat bagi yang melakukannya.
Islam mengatur tentang variasi dan jumlah asupan, kebersihan makanan, kebiasaan makan bersama dan lain-lain.
Dengan demikian makan dan minum harus dilakukan dengan benar, baik dilakukan sendiri, bersama keluarga
ataupun dengan teman-teman.
Secara khusus pada makalah ini akan menjelaskan tentang etika makan dan minum yang baik sesuai
dengan hadis Nabi.
II. HADIS DAN TERJEMAHNYA
A. Hadis Tentang Tata Cara Makan di Meja Makan
‫ و ُك ْل‬,‫س ِم هللا‬ ُ َ ‫ "يا‬: ‫ فقال‬,ِ‫يش في الصحْ فَة‬
َ , ‫غال ُم‬ ُ ِ‫ِي تَط‬ ُ ُ‫ ُكنت‬: ‫ قال‬,‫عن عمربن ابي سلمة‬
ْ ‫ وكان‬,‫غال ًما في َحجْ ِر النبي صلى هللا عليه وسلم‬
ْ ‫َت َيد‬
) ‫ و ُك ْل مِ ما َ ِليْك"(رواه مسلم والطبراني والبيهقى‬, ‫بِيَمِ ْينِك‬
Dari umar bin abi salamah ia berkata: “Sewaktu aku kecil pada masa nabi SAW. tanganku selalu bergerak
kesana kemari dalam piring makan, karena itu Nabi berkata: hai Anak sebutlah nama Allah, makanlah dengan
tangan kanan engkau, dan makanlah yang ada di sekitarmu”. ( HR. Muslim, thabrani dan baihaqi )1[1]
B. Perintah Makan Menggunakan Tangan Kanan

َ ‫ب َف ْل َي ْش َربُ ِبيَمِ ْي ِن ِه فَاِن الش ْي‬


ُ‫طانَ َيا ْ ُك ُل ِب ِش َما ِل ِه َو َي ْش َرب‬ َ ‫ " اِذَا ا َ َك َل ا َ َحدُ ُك ْم فَ ْل َيا ْ ُك ْل ِبيَمِ ْي ِن ِه َواِذَا‬:‫عن ابي هريرة عن النبي صلى هللا عليه وسلم قال‬
َ ‫ش ِر‬
)‫بِ ِش َما ِل ِه ( رواه مسلم والنسائ في السنان الكبرى‬
Dari abi hurairah ra dari Nabi SAW bersabda: “ jika salah seorang dari kalian makan, makanlah dengan
menggunakan tangan kanan dan jika minum, minumlah juga dengan tangan kanannya. Sesungguhnya syaitan itu
makan dengan tangan kirinya dan juga minum dengan tangan kirinya. ( HR. Muslim dan Nasa’i di dalam sunan
Kubro) 2[2]

C. Perintah Makan, Minum, dan Berpakaian Tanpa Berlebihan

َ ‫صدقُواْ فِي َغي ِْر‬


‫س َرفٍ َو ََل َمخِ ْيلَ ٍة ( رواه‬ ُ َ‫ ُكا ُ ْوا َو ْش َربُواْ َو ْالب‬: ‫ انه قال‬, ‫عن عمرو بن شعيب عن ابيه عن جده عن النبي صلى هللا عليه وسلم‬
َ َ ‫س ْوا َوت‬
)‫البيهقى في شعب اَليمان‬
Dari umar bin syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi SAW, sesungguhnya Nabi Bersabda:
makanlah, minumlah, berpakaianlah dan shodaqohlah tanpa berlebihan dan sikap sombong.( HR. Baihaqi pada
bab iman)3[3]
D. Membagi Perut Menjadi 3 Bagian

َ‫ص ْل َبهُ فَا ِْن َكان‬


ُ َ‫ب اب ِْن اَدَ َم لُقَ ْي َمةٌ يُق ِْمن‬ ْ ‫عا َء ش ًَّرا مِ ْن َب‬
ِ ‫ بِ َح ْس‬,ِ‫طنِه‬ ُّ ِ‫ َما َمالَ َء اَدَم‬:‫سو َل هللا صلى هللا عليه وسلم قال‬
َ ‫ي ِو‬ ُ ‫عن المقدام بن معدي كرب اَن َر‬
ٌ ُ‫ث ِلش ََرا بِه وثُل‬
) ‫ث ِلنَ ْفسِه ( رواه الترمذى وابن حبان‬ ٌ ُ‫طعَامِ ه وثُل‬ ٌ ُ‫َلَم َحاَلةَ فَاع ًِال َفثُل‬
َ ‫ث ِل‬
Dari miqdam bin ma’dikariba sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:“Tidaklah seorang anak Adam
mengisi sesuatu yang lebih buruk dari perutnya sendiri , cukuplah bagi anak adam beberapa suap yang dapat
menegakkan tulang punggungnya, jikapun ingin berbuat lebih, maka sepertiga untuk makanan dan sepertiga untuk
minum dan sepertiga lagi untuk nafasnya. ( HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban)4[4]
III. PEMBAHASAN
Seorang muslim bilamana makan hendaknya di niatkan agar kuat dalam melaksanakan ibadah. Namun
Nabi SAW. Melarang seseorang yang berniat akan berpuasa terus menerus, karena setiap anggota tubuh mempunyai
hak yang harus dipenuhi yaitu makan dan minum.
Berikut ini beberapa etika islam dalam hal makan dan minum secara umum yang kami ambil dari beberapa
hadis Nabi di atas.
1. Membaca Basmallah
Pada hadis ini menceritakan Umar Ibn Abi Salamah pada saat masih kecil dan sewaktu ia tinggal bersama
Nabi, pada waktu beliau masih dalam masa kanak-kanak ia diasuh langsung oleh Nabi, ia selalu makan bersama-
sama dengan Nabi, dan mengambil apa saja yang dia sukai walaupun makanan itu tidak terletak di dekatnya, dan
tidak memelihara adab makan bersama-sama. Karena telah menjadi kebiasaan orang Arab makan dalam sebuah
piring.
Atas perbuatan Umar tersebut, Nabi menyuruh umar untuk memakan apa yang ada di hadapannya saja
dengan menggunakan tangan kanan dan membaca basmallah di waktu akan memulai makan.
Membaca basmallah ketika makan bersama-sama menurut pendapat ulama adalah sunnah kifayah. Jika
telah ada yang membacanya, tidak lagi di tuntut untuk membaca semuanya. Namun dalam pada itu tetap disukai
supaya masing-masing membacanya, karena menurut pendapat jumhur, sunnat kifayat sama dengan fardu kifayah
yang mula-mulanya dituntut terhadap semuanya.5[5]
Membaca basmallah menurut Muhammad ‘Allan Ash-shodiqy Asy-Syafi’I Al-Makky adalam membaca
secara lengkap ‫بسم هللا الرحمن الرحيم‬, dan makan yang ada di sekitarnya maksudnya adalah makanan yang ada di
hadapannya, yaitu jika makanan itu hanya satu macam makanan yang tersaji, namun jika ada bermacam-macam
makanan yang tersaji maka boleh makan dan mengambil dari sekitarnya.6[6]
2. Menggunakan Tangan Kanan
Nabi memerintahkan kita untuk makan dengan menggunakan tangan kanan karena menurut riwayat setan
makan dengan menggunakan tangan kirinya. Tangan kanan lebih mulia daripada tangan kiri dan biasanya tangan
kanan lebih kuat daripada tangan kiri. Dalam kitab Ar Risalah dan Al umm, Imam Syafi’i mewajibkan kita untuk
makan dengan menggunakan tangan kanan karena ada ancaman terhadap orang yang makan dengan tangan kiri.
Namun menurut imam ibnu hajar al asqalani dalam syarh fathul bari pendapat imam syafi’I mewajibkan makan
menggunakan tangan kanan itu tidak ada dasar yang pasti.7[7]
Dalam shohih muslim yang diriwayatkan oleh Salamah ibn Al-Akwa’,
‫ قال ( ا َ ََل‬. ‫ ََل ا َ ْستَطِ ي ُع‬:‫ بِ ِش َما ِل َها فقال ( ُك ْل بِيَمِ ْينِك) قال‬. ‫ اَن اَبَاهُ َحدثَهُ اِن َر ُج ًال ا َ َك َل عند رسول هللا ص م‬: ‫عن بن سلمة بن اَلكوع‬
.‫ فما رفعها الى فيه‬: ‫ قال‬. ‫طعْتَ ) َما َمنَ َعهُ اَِل ْال ِك َب ُر‬
َ َ ‫اِ ْست‬
Dari Ibn Salamah bin Al-Akwa’ sesungguhnya Dia diberi tahu oleh Ayahnya, bahwasanya seorang laki-
laki makan di samping rasulullah SAW. Dengan menggunakan tangan kirinya. Rasulullah bersabda: “ makanlah
dengan tangan kananmu”, Dia menjawab: Saya tidak bisa makan dengan tangan kanan. Maka Nabi berkata: “
Apakah engkau tidak bisa makan dengan tangan kanan.? Hanya ketakaburan yang menghalanginya.” Akwa’
berkata: Maka mulai waktu itu dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya lagi.8[8]
Nabi juga mengajarkan kepada para sahabatnya untuk menggunakan tangan kanan untuk melakukan hal-hal
yang baik. Khalifah Umar bin Khattab r.a, bahkan menyuruh bendaharanya untuk membayar pelayan yang
menolong seseorang yang tangan kanannya terluka berat dalam peperangan.
Beberapa orang tertentu mungkin memiliki masalah yang membuatnya tidak dapat menggunakan tangan
kanannya, seperti lumpuh dan lain-lain. Dalam hal ini mereka di beri keringanan. An-Nawawi mengatakan: “ jika
seseorang yang memiliki alasan yang kuat dan benar untuk tidak makan dan minum menggunakan tangan kanannya,
seperti penyakit atau cidera, maka hal ini bukan menjadi larangan”.9[9]
Nabi menyuruh Umar supaya makan menggunakan tangan kanannya. Hal ini adalah karena setan menurut
riwayat, makan dengan tangan kiri. Dan karena tangan kanan, biasanya lebih mulia dan lebih kuat dari pada tangan
kiri, begitu juga diwaktu minum.10[10]
Islam memberikan keringanan bagi orang yang mempunyai kekurangan seperti halnya orang kidal. Apabila
orang tersebut masih kuat menggunakan tangan kanan, maka tetap dianjurkan menggunakan tangan kanan karena
termasuk sunnah Rosul. Walaupun sudah terbiasa bagi mereka menggunakan tangan kiri, tetapi mereka harus
berusaha dan membiasakan menggunakan tangan kanannya. Seperti yang terkandung dalam surat Al-Insyirah ayat
6:
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
3. Makan dan minum tanpa berlebihan
Islam mengajarkan untuk menjaga jadwal menu makan dengan baik. Manusia diajarkan mengonsumsi
berbagai variasi makanan dengan cukup dan tidak berlebih-lebihan. Baik Al Qur’an maupun Hadis banyak
membahas tentang hal ini, sebelum ilmu pengetahuan menemukan konsep angka kecukupan gizi righ dietary
allowance ).
Al-Qur’an menyatakan secara berkali-kali larangan untuk makan berlebih-lebihan. Manusia cukup
mengonsumsi makanan sesuai dengan angka kecukupan gizi. Allah berfirman dalam surah Thaha Ayat 81:
Artinya : “makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah
melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. dan Barangsiapa ditimpa oleh
kemurkaan-Ku, Maka Sesungguhnya binasalah ia”.
Menguatkan apa yang dijelaskan Al-Qur’an, nabi Muhammad juga bersabda dalam hadisnya untuk makan
secukupnya, cukup untuk membuat orang bertahan hidup.11[11]

4. Menyisakan Sepertiga Perut Untuk Udara


Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Miqdam, bahwasanya Nabi memerintahkan kita untuk makan
yang cukup dan tidak memenuhi seluruh perut kita dengan makanan. Tetapi dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga
untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk udara.
Sebagai ilustrasi, jika sebuah blender yang diisi penuh sampai ke atas dan kemudian mesinnya di hidupkan,
maka blender itu bisa pecah atau rusak. Perut manusia bukan blender, tetapi sebagai penghalus, berfungsi juga
sebagai pemecah, pencampur, dan pengolah makanan, segalanya menjadi satu.
Pembatasan makanan tidak berarti anjuran untuk menahan lapar terus menerus yang membuat orang lapar
gizi. Al-hadis mengajarkan untuk makan setelah lapar, dan berhenti sebelum kenyang. namun yang dimaksud lapar
di sini bukanlah lapar dalam pengertian lapar gizi.
Dengan demikian , islam telah mengajarkan pola makan yang seimbang. Pola makan yang berlebihan
merupakan sesuatu yang dilarang oleh Allah. Telah terbukti dalam literatur kesehatan bahwa makanan yang
berlebihan merupakan dasar dari berbagai penyakit. Kelebihan makanan dapat membuat obesitas yang menambah
resiko berbagai penyakit seperti diabetes, hipertensi, jantung, dan lain-lain. Untuk menjaga agar terbiasa tidak
makan berlebihan, islam juga mengatur puasa wajib di bilan ramadan dan puasa sunat di hari lainnya. 12[12]
Adab/Tata Cara Makan dan Minum Menurut Islam :1
March 11, 2013haningabi fiqih ibadah, islam 2 Comments

Sebenarnya Islam telah datang sebagai agama yang sempurna, yang tidak saja mengatur tata cara beribadah kepada
Allah (hubungan dengan Sang Pencipta), namun juga mengatur hubungan dengan sesama, makhluk hidup lain,
lingkungan, maupun hubungan terhadap diri sendiri.
Salah satu aturan dalam Islam yang berkenaan dengan hubungan terhadap diri sendiri adalah adab/aturan cara makan
dan minum.
Islam tidak menganggap persoalan makan dan minum hanya sekedar persoalan dunia, tetapi juga ada kaitannya
dengan ibadah.
Hal ini tergantung pada niat dan motivasi manusia itu sendiri terhadap apa yang dilakukannya.
Rasulullah SAW adalah suri tauladan umat dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam hal kesehatan, ajaran-ajaran
beliau sudah banyak dibuktikan oleh penelitian-penelitian modern akan kebenaran manfaatnya yang besar.
Salah satu ajaran beliau adalah adab-adab makan yang membawa kesehatan dan keberkahan sepanjang zaman.
Agar kita tetap bisa menjaga akhlak dengan meneladani Rasul dalam urusan makan dan minum sekaligus
mendapatkan pahalanya, berikut diuraikan tata cara dan budaya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yaitu sebagai
berikut:

1. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang tertidur sedang di kedua tangannya terdapat bekas gajih/lemak
(karena tidak dicuci) dan ketika bangun pagi ia menderita suatu penyakit, maka hendaklah dia tidak menyalahkan
kecuali dirinya sendiri.”

2. Tidak mencela makanan yang tidak disukai.

Abu Hurairah ra. berkata : “Rasulullah SAW tidak pernah sedikit pun mencela makanan. Bila beliau berselera,
beliau memakannya. Dan jika beliau tidak menyukainya, maka beliau meninggalkannya.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Jabir ra. bahwa Rasulullah SAW pernah berkata kepada keluarganya (istrinya) tentang lauk pauk. Mereka
menjawab : “Kami hanya punya cuka”. Lalu beliau memintanya dan makan dengannya, seraya bersabda : “Sebaik-
baik lauk pauk ialah cuka (al-khall), sebaik-baik lauk pauk adalah (yang mengandung) cuka.” (HR. Muslim)

Penelitian Dr. Masaru Emoto dari Jepang dalam bukunya ’The True Power of Water’ menemukan bahwa unsur air
ternyata hidup. Air mampu merespon stimulus dari manusia berupa lisan maupun tulisan.
Ketika diucapkan kalimat yang baik atau ditempelkan tulisan dengan kalimat positif, maka air tersebut akan
membentuk struktur kristal yang indah dan bisa memiliki daya sembuh untuk berbagai penyakit.
Sebaliknya, jika diucapkan maupun ditempelkan kalimat umpatan, celaan atau kalimat negatif lainnya, maka air
tersebut akan membentuk struktur kristal yang jelek dan bisa berpengaruh negatif terhadap kesehatan.

3. Diniatkan untuk beribadah kepada Allah SWT.

yaitu dengan makan diharapkan kebutuhan biologis akan makanan terpenuhi, yang nantinya akan diolah oleh tubuh
menjadi energi, dan dengan energi tubuh yang dihasilkan dari makanan dan minuman tersebut kita gunakan untuk
beribadah kepada Allah SWT.
Dengan niat ibadah itu berarti kita bisa mengurangi semangat nafsu kebinatangan dan membawa pada sikap totalitas
kerelaan terhadap rezeki yang diberikan Allah kepada kita (qana’ah). Hal ini sesuai dengan hadist Nabi saw.

“Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan bagi setip orang adalah apa yang
diniatkannya”. (HR. Bukhori).

4. Membaca Basmalah dan Hamdalah.

Memulainya dengan membaca “basmalah” serta doa. Hal ini merupakan manifestasi ibadah dalam bentuk yang
paling minimal.
Sebab bila tidak menyebut nama Allah, setan niscaya akan turut makan bersamanya, dan dengan demikian hilanglah
nilai ibadahnya.
Lantas apa bedanya dengan orang kafir? Dalam sebuah hadis Nabi disebutkan:

Dan dari Jabir berkata: saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang masuk dalam
rumahnya dengan mengucapkan “bismillah” ketika masuk dan ketika hendak makan, maka setan berkata kepada
temannya: ‘tiada tempat tinggal dan tiada bagian makanan bagimu disini’. Sedangkan bila orang itu masuk tanpa
menyebut nama Allah, maka setan akan berkata:’Kamu dapat bermalamdi rumah ini’. Kemudian jika waktu makan
tidak menyebut nama Allah, setanpun berkata: ‘kamu dapat bermalam dan makan disini’.” (HR.Muslim).
Rasulullah SAW bersabda : “Jika seseorang di antara kamu hendak makan, maka sebutlah nama Allah SWT. Dan
jika ia lupa menyebut nama-Nya pada awalnya, maka bacalah, ’Bismillahi awwalahu wa akhirahu’ (Dengan
menyebut nama Allah SWT pada awalnya dan pada akhirnya).”(HR. Abu Dawud)

Jika lupa di awal makan, maka ucapkanlah segera saat teringat.


Rasulullah SAW telah bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah r.a, sebagai berikut: “Bila salah
seorang diantara kamu hendak makan maka ucapkanlah “bismillah”, namun bila ia lupa di awalnya, maka
ucapkanlah ‘bismillahi awwaluhu wa akhiruhu’(dengan nama Allah dari mula hingga akhir). (HR. Turmidzi)

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah SAW tersenyum, beliau menjelaskan ketika seorang
Muslim tidak membaca Basmalah sebelum makan, maka syaitan akan ikut makan dengannya. Namun, ketika
Muslim tersebut teringat dan menyebut nama Allah SWT, maka syaitan pun langsung memuntahkan makanan yang
sudah dimakannya.

Rasulullah SAW juga bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT meridhai seorang hamba yang ketika makan suatu
makanan lalu dia mengucapkan Alhamdulillah. Dan apabila dia minum suatu minuman maka dia pun mengucapkan
Alhamdulillah.” (HR. Muslim, Ahmad dan Tirmidzi)

5. Makan dengan tangan kanan.

Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa ‘alaa aalihi wa sallam bersabda,“Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah
dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR Bukhari no. 5376 dan Muslim
2022).

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian
makan dengan tangan kiri karena syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019)

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara
kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum
maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga
minum dengan menggunakan tangan kirinya.” (HR Muslim no. 2020)

Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “karena tangan kiri digunakan untuk cebok dan memegang hal-hal yang najis dan
tangan kanan untuk makan, maka tidak sepantasnya salah satu tangan tersebut digunakan untuk melakukan
pekerjaan tangan yang lain.” (Kasyful Musykil, hal 2/594).

6. Memakan makanan yang terdekat dahulu.

Umar bin Abi Salamah ra. bercerita : “Saat aku belia, aku pernah berada di kamar Rasulullah SAW dan kedua
tanganku seringkali mengacak-acak piring-piring. Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ’Nak, bacalah Bismillah,
makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan baik yang terdekat.” (HR. Bukhari)

Dalam hadis lain juga dikatakan, “Sesungguhnya termasuk pemborosan (perbuatan yang berlebihan dan dimurkai
Allah) bila kamu makan apa saja yang kamu (bernafsu) ingin memakannya”. (HR. Ibnu Majah)

7. Tenang, perlahan dan tidak terburu buru.

Janganbersikap rakus sehingga tampak mulut penuh dengan suapan, dan jangan meniup-niup makanan atau
minuman yang menunjukkan sikap tidak sabar.

Dari Ibnu Abas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian minum dengan sekali tegukan seperti
minumnya unta, tetapi minumlah dengan dua atau tiga kali tegukan. Ucapkanlah ‘bismillah’ jika kalian minum dan
‘alhamdulillah’ jika kalian selesai minum”. (HR. Turmidzi).

Dalam hadis lain disebutkan: “Dari Abi Qatadah RA, sesungguhnya Nabi SAW telah melarang bernafas dalam air
minumannya “.(HR.Muttafaqun ALaihi)

8. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Dari Mikdam bin Ma’dikarib ra. menyatakan pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Tiada memenuhi
anak Adam suatu tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah untuk anak Adam itu beberapa suap yang
dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada cara lain, maka sepertiga (dari perutnya) untuk
makanannya, sepertiga lagi untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernafas.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)
9. Mengambil makanan dan minuman secukupnya.

sehingga bisa dihabiskan tanpa sisa. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.Artinya :

Dari Jabir katanya, Rosululloh saw. menyuruh membersihkan sisa makanan yang di samping piring maupun yang
di jari, seraya bersabda : “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dibagian manakah makananmu yang
mengandung berkah”. (HR. Muslim).

10. Makan Sambil duduk, dan tidak berdiri.

Hal ini seiring dengan hadis Nabi: Dari Qatadah, dari Anas dari Rasulullah SAW, bahwa sesungguhnya Nabi SAW
telah melarang orang minum sambil berdiri”. Lalu Qatadah bertanya kepada Anas: Kalau makan bagaimana? Ia
pun menjawab: “Hal itu (makan dengan cara berdiri) lebih busuk dan jahat”. (HR. Ahmad, Muslim dan Turmidzi)
16 Cara Makan Rasulullah Sesuai Sunnah Rasul
Nabi Muhammad SAW adalah suri tauladan bagi umat islam dan segala perilakunya menjadi pedoman hidup bagi
seluruh manusia. Tidak hanya akhlak yang mulia dan tuntunannya dalam beribadah (baca cara meningkatkan akhlak
terpuji), Rasul juga mencontohkan pada umatnya bagaimana cara melakukan sesuatu dengan baik dan benar seperti
halnya saat makan. Berikut ini adalah beberapa anjuran dan cara makan rasulullah berdasarkan hadits.(baca kisah
teladan nabi muhammad SAW dan keutamaan cinta Rasulullah SAW bagi umat muslim).

ads

1. Makan secukupnya dan tidak berlebihan

Rasul selalu menganjurkan umatnya untuk makan secukupnya dan menghindari perilaku boros. Tidak hanya itu
Rasul juga menyebutkan bahwa perut atau lambung terbagi menjadi tiga bagian, sepertiga untuk udara, sepertiga
untuk makanan dan sepertiga untuk minuman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini (baca juga
makanan halal dan makanan haram menurut islam)

Hendaklah kamu makan, minum,berpakaian, dan bersedekah dengan tidak berlebihan dan sombong (HR Ahmad
dan Abu Daud)

Sesungguhnya termasuk pemborosan bila kamu makan apa saja yang kamu bernafsu memakannya (HR Ibnu
Maajah)

Adapun sebenarnya kekenyangan dapat mengeraskan hai. memberatkan tubuh, mengurangi kecerdasan,
menyebabkan ngantuk dan tidur lebih banyak serta melemahkan seseorang untuk beribadah

2. Berwudhu sebelum dan sesudah makan

Tidak hanya sebelum melakukan shalat wajib maupun shalat sunnah, Rasul juga berwudhu sebelum makan untuk
menghindari gangguan setan dan menghilangkan kefakiran sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini
(baca cara berwudhu yang benar )

Berwudhu sebelum makan menghilangkan kefakiran, dan berwudhu setelah makan menghilangkan gangguan setan

3. Makan dengan tangan kanan

Seorang muslim hendaknya mengikuti sunnah Rasul untuk senantiasa makan dengan tangan kanan dan menurut para
ilmuwan hal ini bermanfaat bagi kesehatan terutama untuk melatih saraf sensorik pada tangan. Sebagaimana
disebutkan dalam hadits berikut

Hendaklah kamu sekalian makan dengan tangan kanan. Sebab setan makan dan minum dengan tangan kirinya (HR
Muslim)

4. Membaca Basmalah

Mengawali segala sesuatu dengan basmalah sangat dianjurkan bagi umat islam karena dengan membaca basmalah
seseorang dapat menghindari gangguan setan yang dapat melemahkan iman dan ibadah seseorang. Adapun jika lupa
membaca basmalah sebelum makan maka bacalah kalimat “Bismillahi Awwa-lahu wa Akhirahu” seperti yang
disebutkan dalam hadits

Jika lupa membaca Bismillah, bacalah “Bismillahi Awwa-lahu wa Akhirahu” (Dengan nama Allah dari mula
hingga akhir) (HR Abu Dawud dan Attirmidzi)

5. Duduk saat makan dan tidak bersandar atau berdiri

Seorang muslim Hendaknya tidak makan atau minum sambil berdiri maupun menyandar dan makan maupun minum
sambil duduk lebih utama dan sebaiknya makanan yang dimakan diletakkan di atas tanah untuk menjaga
kerendahan diri. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW

“ Aku tidak makan sambil bersandar. Aku adalah seorang hamba, maka aku minum seperti minumnya hamba dan
makan pun seperti makannya seorang hamba”

Janganlah seorang di antara kalian minum sambil berdiri (HR Muslim)

6. Tidak mencela makanan


Seperti apapun makanan yang didapat dan diperoleh apabila kita tidak menyukainya sebaiknya jangan mencela
makanan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW

Rasulullah SAW tidak pernah mencela makanan; Jika ia suka dimakannya, jika tidak suka ditinggalkannya (HR Al
Bukhari dan Muslim)

7. Dianjurkan untuk makan bersama

Rasulullah jarang makan sendirian, beliau SAW selalu mengajak orang lain untuk makan bersamanya oleh karena
itu seorang muslim hendaknya mengajak orang lain untuk makan misalhnya keluarganya. Makanan yang baik dalam
islam adalah makanan yang banyak orang memakannya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut (baca
keutamaan bersedekah)

Rasulullah SAW tidak pernah makan sendirian (HR Anas RA)

Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang (HR Al Bukhari
dan Muslim)

8. Bersabar untuk mengambil makanan saat makan bersama

Jika makan bersama dengan orang lain atau banyak orang maka Rasul menganjurkan untuk bersabar hingga
orangtua atau pemimpin mengambil makanan terlebih dahulu dan orang yang menyajikan makanan akan makan
setelah orang lain makan. Rasulullah SAW bersabda: Yang melayani minuman suatu kaum, hendaknya dialah yang
terakhir orang yang minum (HR Attirmidzi)

9. Tidak meniup makanan

Terkadang kita suka meniup makanan saat makanan masih panas, hal ini sebenarnya harus dihindari karena Rasul
melarang kita untuk meniup makanan tatkala masih panas. Hal ini juga telah dibuktikan oleh para ahli kesehatan asa
kini bahwa meniup makanan tidaklah baik untuk kesehatan. Sebagaimana hadits berikut ini

Rasulullah SAW melarang orang untuk meniup-niup minuman/makanan (HR Abu Dawud)

10. Makan dari tepian piring

Jika memakan makanan maka makanlah dari sisi pinggiran atau tepi piring makan hingga ke tengahnya seperti yang
senantiasa dicontohkan oleh Rasulullah SAW

Berkat itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari tepi-tepinya dan jangan makan dari tengah-
tengahnya (HR Abu Dawud,Attirmidzi)

11. Mengunyah secara perlahan dan mengecilkan suapan

Rasulullah selalu menyantap makanan dengan mengecilkan suapannya dan mengunyahnya hinga berkali-kali. Selain
itu Rasul tidak menyuapkan makanan sebelum suapan yang sebelumnya selesai ditelan. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW

“Kecilkan suapan dan baguskan Mengunyahnya”

“Janganlah mengulurkan tangan pada suapan yang lain sebelum menelan suapan pertama”

12. Tidak menggunakan perkakas makan yang terbuat dari emas dan perak

Makan dengan perkakas emas dan perak adalah kebiasaan kaum kafir oleh karena itu Rasul melarang umatnya untuk
tidak menggunakan perkakas yang terbuat dari logam tersebut. (baca kisah mualaf dan sejarah yahudi)

Rasulullah SAW melarang kami minum dan makan dengan perkakas makan dan minum dari emas dan perak
(Mutafaq ‘alaih)

13. Minum dari gelas dan tidak minum sekali teguk


Selain makan dengan perlahan Rasul pun menganjurkan untuk minum dengan benar yakni tidak meminum air dalam
gelas dengan sekali teguk dan juga tidak meminumnya langsung dari teko, sebagaimana disebutkan dalam hadits
berikut ini

Jangan minum sekaligus, ambillah jeda (ambil nafas) dua sampai tiga kali . Rasulullah jika minum bernafas sampai
tiga kali (HR Al Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW melarang orang yang minum dengan membalik mulut kendi langsung ke mulutnya (HR Al Bukhari
dan Muslim)

14. Menghabiskan makanan yang diambil

Rasul menganjurkan kita untuk makan secukupnya dan senantiasa menghabiskan makanan yang diambil untuk
menghindari perilaku boros dan mubazir serta untuk mendapatkan berkat dari makanan secara utuh. Rasulullah
SAW bersabda

Kamu tidak mengetahui di bagian yang manakah makananmu yang berkat (HR Muslim)

15. Membaca hamdalah setelah selasai makan

Makanan yang kita dapatkan dan makan setiap hari adalah pemberian dan rezeki dari Allah SWt oleh sebab itu
setelah makan Rasul senantiasa mengucapkan syukur dengan membaca hamdalah. Sebagaimana disebutkan dalam
hadits berikut ini

Rasulullah SAW jika selesai makan dan mengangkat hidangannya membaca: alhamdulillahi hamdan katsiran
thoyyiban mubaarokan fihi, ghoiro makfiyin wala mustaghnan ‘anhu rabbana (segala puji bagi Allah, pujian yang
sebaik-baiknya, yang baik dan berkat. Tiada terbalas, dan tidak dapat tidak, tentu kami membutuhkan kepadanya,
wahai Tuhan kami) (HR Al Bukhari)

16. Tidak memberikan makanan yang tidak disukai pada orang lain

Rasul senang berbagi makanan dengan orang lain tetapi beliau tidak pernah memberikan suatu makanan yang tidak
disukai oleh dirinya sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini

Janganlah kamu memberi makanan yang kamu sendiri tidak suka memakannya (HR Ahmad)

Demikianlah cara makan Rasulullah yang semestinya dapat ditiru oleh umat islam karena apa yang dicontohkan oleh
Rasul pastilah memiliki sisi positif dan manfaat yang besar bagi manusia. Selain itu kita hendaknya menghindari
makanan haram dan minuman haram (baca minuman keras dalam islam) yang berdampak buruk bagi tubuh. (baca
juga akibat makan makanan haram)