Anda di halaman 1dari 6

A.

Definisi Kejang
Kejang merupakan perubahan perilaku yang bersifat sementara dan tiba-
tiba yang merupakan hasildari aktivitas listrik yang abnormal dalam otak.
Perubahan terjadi karena adanya geseran nilai normal yang menyeimbangkan
eksitasi dan inhibisi didalam susunan saraf pusat karena terlalu banyak faktor
yang dapat mempengaruhi nilai normal eksibilitas susunan saraf pusat maka
ada banyak penyebab yang dapat menimbulkan kejang. (Unhas. 2016)
Kejang merupakan sebuah manifestasi klinis yang sering dijumpai di
ruang gawat darurat. Hampir 5% anak berumur dibawah 16 tahun pernah
mengalimi kejang, kejang diindikasi sebagai adanya gangguan neurologis.
Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten
dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik,
dan atau otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik di neuron
otak, Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau
kejang berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran.
(Kania,Nia. 2010)
Kejang juga bisa terjadi ketika bayi baru lahir, pada bayi baru lahir
kejang terjadi Karena cedera karena saat persalianan, kekurangan oksigen dan
bayikuning. Sedang pada anak-anak, kejang bisa terjadi karena infeksi otak,
trauma kepala, kekurangan cairan karena diare atau muntaber, epilepsi atau
ayan serta febris konvulsi atau kejang demam. Kejang yang sering terjadi
pada usia anak-anak dari usia 6 bulan sampai 5 tahun yaitu kejang demam,
kejang yang terjadi karena akibat dari timbulnya demam yang tinggi atau
demam dengan suhu diatas 39 ºC. (Kakalang,Jenyfer.dkk.2016)
Menurut Price S.A yang dikutip oleh indrawati dalam jurnal Kejang
Demam dan Penatalaksanaanya mendefinisikan Kejang Demam atau Step
adalah kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas
38ºC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (diluar ringga
tengkorak). Kejang demam biasanya timbul pada saat suhu tubuh tinggi atau
demam, Demamnya sendiri dapat disebabkan oleh berbagai sebab, tetapi
yang paling utama adalah infeksi. Demam yang disebabkan oleh imunisasi
juga dapat memprovokasi terjadinya kejang demam. (Indrawati,2009 ).
Bila kejang didahului oleh demam terjadi pada anak umur kurang dari 6 bulan
atau lebih dari 5 tahun, pikirkan kemungkinan lain seperti infeksi SSP, atau
epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. Kejang demam dibagi dua
yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam
kompleks adalah kejang demam dengan lamanya lebih dari 15 menit, kejang
fokal / parsial atau fokal / persial menjadi umum dan berulang dalam 24 jam.
Kejang demam sederhana merupakan kejang demam yang berlangsung
singkat, kurang dari 15 menit, umumnya berhenti sendiri, bentuk kejang
umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal Kejang demam sederhana
merupakan 80% diantara seluruh kejang demam. (Ismet, 2017)
Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit atau kejang
berulang lebih dari 2 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar.
Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam. Kejang fokal adalah kejang
parsial satu sisi atau kejang umum yang didahului kejang parsial . Kejang
berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1 hari, diantara 2 bangkitan
kejang anak sadar. Kejang berulang terjadi pada 16 % diantara anak yang
mengalami kejang demam.(Ismet, 2017)

B. Etilogi
Kejang paling sering terlihat pada pasien kritis. Dalam sebuah penelitian
pasien dengan serangan kejang onset terbaru dalam perawatan intensif care
unit diperoleh hasil lebih dari sepertiga kejang disebabkan oleh gangguan
metabolisme akut seperti hiponatremia, dan delapan orang pasien diperoleh
kejangya disebabkan oleh penggunaan obat antiaritmia atau antibiotic
Penyebab tersering kejang pada anak. (Kania,Nia. 2010):
1. Kejang demam
2. Infeksi: meningitis, ensefalitis
3. Gangguan metabolik: hipoglikemia, hiponatremia, hipoksemia,
4. hipokalsemia, gangguan elektrolit, defisiensi piridoksin, gagal ginjal,
5. gagal hati, gangguan metabolik bawaan
6. Trauma kepala
7. Keracunan: alkohol, teofilin
8. Penghentian obat anti epilepsi
9. Lain-lain: enselopati hipertensi, tumor otak, perdarahan intrakranial,
10. Idiopatik

C. Patofisiologi
Mekanisme dasar terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik yang
berlebihan pada neuron-neuron dan mampu secara berurutan merangsang sel
neuron lain secara bersama-sama melepaskan muatan listriknya. Hal tersebut
diduga disebabkan oleh;
a. Kemampuan membran sel sebagai pacemaker neuron untuk
melepaskan muatan listrik yang berlebihan;
b. Berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gama amino butirat
(GABA) atau
c. Meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam glutamat dan
aspartat melalui jalur eksitasi yang berulang. 3,4,5 Status epileptikus
terjadi oleh karena proses eksitasi yang berlebihan berlangsung terus
menerus, di samping akibat ilnhibisi yang tidak sempurna (Kania,Nia.
2010)

Pada demam, kenaikan suhu 10 C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme


basal 10 - 15 % dan kebutuhan O2 meningkat 20 %. Pada seorang anak
berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh
dibandingkan dengan orang dewasa (hanya 15%) oleh karena itu, kenaikan
suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan dalam
waktu singkat terjadi difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran
listrik. dengan bantuan neurotransmitter, perubahan yang terjadi secara tiba-
tiba ini dapat menimbulkan kejang. (Ngastiyah,2005)

D. Penatalaksanaan
Dalam dalam jurnal Kejang Demam dan Penatalaksanaanya yang ditulis oleh
Indrawati tahun 2009 bahwa penatalaksanaan kejang ada dua yaitu:
1. Penatalaksana Medis
Menurut Livingston (2001) penatalaksanaan medis ada:
a. Menghentikan kejang secepat mungkin Diberikan antikonvulsan
secara intravena jika klien masih kejang.
b. Pemberian oksigen
c. Penghisapan lendir kalau perlu
d. Mencari dan mengobati penyebab. Pengobatan rumah profilaksis
intermitten. Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat
campuran anti konvulsan dan antipiretika.
2. Penatalaksanaan keperawatan
a. Semua pakaian ketat dibuka
b. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
c. Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen
d. Monitor suhu tubuh, Cara paling akurat adalah dengan suhu rektal
e. Obat untuk penurun panas, pengobatan ini dapat mengurangi
ketidaknyamanan anak dan menurunkan suhu 1 sampai 1,5 ºC.
f. Berikan Kompres Hangat
Mengompres dilakukan dengan handuk atau washcloth (washlap atau
lap khusus badan) yang dibasahi dengan dibasahi air hangat (30ºC)
kemudian dilapkan seluruh badan. Penurunan suhu tubuh terjadi saat
air menguap dari permukaan kulit. Oleh karena itu, anak jangan
“dibungkus” dengan lap atau handuk basah atau didiamkan dalam air
karena penguapan akan terhambat. Tambah kehangatan airnya bila
demamnya semakin tinggi. Sebenarmya mengompres kurang efektif
dibandingkan obat penurun demam. Karena itu sebaiknya
digabungkan dengan pemberian obat penurun demam, kecuali anak
alergi terhadap obat tersebut.
g. Menaikkan Asupan Cairan Anak
Anak dengan demam dapat merasa tidak lapar dan sebaiknya tidak
memaksa anak untuk makan. Akan tetapi cairan seperti susu (ASI atau
atau susu formula) dan air harus tetap diberikan atau bahkan lebih
sering. Anak yang lebih tua dapat diberikan sup atau buah-buahan
yang banyak mengandung air.
h. Istirahatkan Anak Saat Demam
Demam menyebabkan anak lemah dan tidak nyaman. Orang tua
sebaiknya mendorong anaknya untuk cukup istirahat. Sebaiknya tidak
memaksa anak untuk tidur atau istirahat atau tidur bila anak sudah
merasa baikan dan anak dapat kembali ke sekolah atau aktivitas
lainnya ketika suhu sudah normal dalam 24 jam.(Nita,2004)

DAPUS

Unhas.2016. Bahan Ajar 1 Kejang E-Book. Makassar:Med Unhas


https://med.unhas.ac.id/kedokteran/wpcontent/uploads/2016/09/Ba
ha-Ajar-1-_-Kejang.pdf ( Diakses pada tanggal 01 Desember 2018
pada Pukul 16.00)

Kania, Nia. 2010. Kejang Pada Anak. Bandung : Pustaka Unpad


dhttp://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2010/02/kejang_pad
a_anak.pdf ( Diakses pada tanggal 01 Desember 2018 pada Pukul
16.00)

Ismet. 2017. Kejang demam. Riau : Jurnal Kesehatan Melayu


Universitas Riau, 1(1), 41-44. http://jkm.fk.unri.ac.id ( Diakses
pada tanggal 01 Desember 2018 pada Pukul 16.00)

Irdawati. 2009. Kejang Demam dan Penatalaksanaanya. Surakarta:


Berita Ilmu Keperawatan UMS. ISSN 1979-2697, Vol 2 No.3, 143-
146.https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/2377/
KEJANG%20DEMAM%20DAN%20PENATALAKSANAANNY
A.pdf;sequence=1( Diakses pada tanggal 01 Desember 2018 pada
Pukul 16.00)

Kakalang, P Jenyfer. 2016. Profil kejang demam di Bagian Ilmu


Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Manado :
Unsrat Jurnal e-Clinic (eCl) Volume 4, Nomor 2.
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/article/view/14396 (
Diakses pada tanggal 01 Desember 2018 pada Pukul 16.00)