Anda di halaman 1dari 11

HUBUNGAN KEBIASAAN MEMBACA DENGAN PENURUNAN

KETAJAMAN PENGLIHATAN ANAK SEKOLAH DI SD SANTO


ANTONIUS 02 BANYUMANIK SEMARANG

Ahmad Fahrur Rozi *)


Rosalina, S.Kp., M.Kes. **) Dwi Novitasari, S.Kep., Ns., M.Sc.**)
*) Mahasiswa Program Studi Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
**) Dosen Program Studi Keperawatan STIKES Ngudi Waluyo Ungaran

ABSTRAK
Penurunan tajam penglihatan pada anak usia sekolah merupakan, masalah
kesehatan yang penting. Kelainan refraksi biasa disebabkan oleh adanya faktor
kebiasaan membaca terlalu dekat, pencahayaan, durasi, posisi sehingga
menyebabkan kelelahan pada mata. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui
hubungan kebiasaan membaca dengan ketajaman penglihatan pada anak usia
sekolah SD Santo antonius Banyumanik, Semarang.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian
case control atau kasus control. Penelitian telah dilakukan di SD Santo
Antonius Banyumanik, Semarang pada agustus 2015 dengan jumlah popolasi
490 dengan mengunakan teknik Sampling Purposive di dapatkan sampel 84
responden Alat pengambilan data menggunakan kartu snellen dan kuesioner.
Analisa data yang digunakan adalah Chi Square .
Hasil uji Chi Square didapatkan p value 0,047≤0,05 sehingga ada
hubungan yang signifikan antara Kebiasaan Membaca Dengan Penurunan
Ketajaman Penglihatan di SD Santo Antonius 02 Banyumanik Semarang.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan siswa siswi SD Santo Antonius
02 Banyumanik Semarang mengubah kebiasaan membacanya yang salah
menjadi benar dan berkurang angka kejadian anak mengalami penurunan
ketajaman penglihatan.

Kata kunci : kebiasaan membaca dan penurunan ketajaman penglihatan


Daftar pustaka : 40 Pustaka (2004-2014)

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
ABSTRACT

Decrease in visual acuity in children of school age is, important health


problem. Ordinary refractive disorders caused by factors habit of reading too closely,
lighting, duration, position, causing eyestrain. This study aims at knowing the
relationship with the reading habits of visual acuity in children of school age Santo
antonius Banyumanik, Semarang.
The method used in this study is a case-control study or case control.
Research has been conducted in elementary school St. Anthony Banyumanik,
Semarang in August 2015 the number of popolasi 490 by using purposive sampling
technique in getting samples of 84 respondents used the card data retrieval tool
Snellen and questionnaires. Analysis of the data used is Chi Square.
Chi Square test results obtained p value 0,047≤0,05 so that there is a
significant correlation between Reading Habits With the decline in sharpness of
vision at Santo Antonius 02 Banyumanik Semarang.
Based on the results of the study are expected to elementary school students
of Santo Antonius 02 Banyumanik Semarang change the habit of reading it wrong to
be right, and reduced the incidence of child decreased visual acuity.

Keywords : reading habits and decreased vision acuity


Bibliographes : 40 (2004-2014)

PENDAHULUAN
Visus mata (ketajaman penglihatan) Barat dan Papua (masing-masing 0,4%)
merupakan kemampuan sistem (Riskesdas, 2013).
penglihatan untuk membedakan Kelelahan mata disebabkan oleh
berbagai bentuk (Anderson, 2007). stres yang terjadi pada fungsi
Penglihatan yang optimal hanya dapat penglihatan. Stres pada otot akomodasi
dicapai bila terdapat suatu jalur saraf dapat terjadi pada saat seseorang
visual yang utuh, mata yang sehat serta berupaya untuk melihat pada objek
kemampuan fokus mata yang tepat berukuran kecil dan pada jarak yang
(Riordan-Eva, 2007). Prevalensi dekat dalam waktu yang lama. Pada
penurunan pengelihatan terparah kondisi demikian, otot-otot mata akan
penduduk umur 6 tahun keatas secara bekerja secara terus menerus dan lebih
nasional sebesar 0,9 persen. Prevalensi dipaksakan. Ketegangan otot-otot
penurunan pengelihatan terparah yang pengakomodasi (otot-otot siliar) makin
paling tinggi terdapat di Lampung besar sehingga terjadi peningkatan asam
(1,7%), diikuti Nusa Tenggara Timur, laktat dan sebagai akibatnya terjadi
Jawa Tengah dan Kalimantan Barat kelelahan mata, stress pada retina dapat
(masing-masing 1,6%). Provinsi dengan terjadi bila terdapat kontras yang
prevalensi penurunan pengelihatan berlebihan dalam lapangan penglihatan
terparah yang paling rendah adalah DI dan waktu pengamatan yang cukup
Yogyakarta (0,3%) diikuti oleh Papua lama (Ilyas, 2010). Kebiasaan membaca

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
adalah kegiatan membaca yang telah dibagi dua kelompok yaitu kelompok
mendarah daging pada diri seseorang kasus dan kelompok kontrol total
(dari segi kemasyarakatan, kebisaan populasi berjumlah 490 Dari jumlah
adalah kegiatan membaca yang telah populasi di dapatkan kelompok kasus
membudaya dalam suatu masarakat). dan kontrol 42 responden yang
Dampak Kebiasaan membaca mengalami penurunan penglihatan dan
Terhadap penurunan ketajaman tidak mengalami penurunan penglihatan
pengelihatan kelelahan mata timbul setiap kelompok kasus maupun
sebagai stres intensif pada fungsi-fungsi kelompok kontrol berjumlah 42
mata seperti terhadap otot-otot responden sehingga total 84 responden
akomodasi pada pekerjaan yang perlu untuk kelompok kasus dan kelompok
pengamatan secara teliti atau terhadap kontrol, Pengambilan sampel
retina sebagai akibat ketidaktepatan mengunakan teknik sampling purposive.
kontras (Suma’mur, 2006). Sebelum melakukan penelitian
Perumusan Masalah melakukan proses perizinan kepada
Penalitian Berdasarkan uraian latar kepala sekolah SD Santo Antonius 02
belakang di atas, maka peneliti Banyumanik Semarang sehingga dapat
merumuskan masalah penelitian melakukan penelitian pada tanggal 3
sebagai berikut : “ Apakah ada dan 4 agustus 2015. Saat pada tanggal 3
Hubungan kebiasaan membaca agustus 2015 saya melakukan penelitian
dengan penurunan ketajaman pada kelompok kasus sebelum saya
penglihatan pada anak usia sekolah melakukan penelitian saya memberi
di SD Santoantonius Banyumanik, penjelasan proses penelitian saya
Semarang kepada anak-anak, sesudah memberi
Tujuan penelitian Mengetahui penjelasan saya langsung melakukan
hubungan kebiasaan membaca dengan pemeriksaan ketajaman penglihatan
ketajaman penglihatan pada anak usia oleh perawat.
sekolah SD Santoantonius profesional sejumlah 42
Banyumanik, Kabupaten Semarang. responden untuk kelompok kasus
sesudah pemeriksaan langsung
METODE PENELITIAN dilakukan pengisian kuesioner, untuk
Penelitian case control atau kasus kelompok kontrol pada tanggal 4
control adalah suatu penelitian (survei) agustus 2014 dilakukan sama
analitik yang menyangkut bagaimana pemeriksaan dan pengisian kuesioner
faktor resiko dipelajari dengan pada kelompok kontrol.
menggunakan pendekatan retrospective. Analisa data Penelitian melakukan
Penelitian telah dilakukan di SD Santo analisis univariat dengan tujuan yaitu
Antonius Banyumanik, Semarang pada untuk mendiskripsikan variabel
3 Agustus 2015 kebiasaan membaca dengan penurunan
Populasi dalam penelitian ini ketajaman pengelihatan anak usia
adalah anak usia sekolah yang sedang sekolah yang disajikan dalam bentuk
sekolah di SD Santo Antonius 02 tabel distribusi frekuensi. Analisis
Banyumanik, Semarang dengan jumlah bivariat menggunakan chi- square
yaitu 490 siswa usia sekolah. Sempel melalui bantuan program komputer.

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
HASIL PENELITIAN kelompok kasus di dapatkan 20/40
A. Univariat untuk kelompok kasus sebanyak 16
1. Kebiasaan Membaca (31,0%) untuk vius 20/40 sebanyak 16
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi (38,1%) visus 20/50 sebanyak 9
Responden Berdasarkan (21,4%) visus 20/60 sebanyak 1 (2,4%)
Kebiasaan Membaca di SD Santo visus 20/80 sebanyak 2 (4,8%) untuk
Antonis 02 Banyumanik kelompok kontrol tidak ada yang
Semarang mengalami penurunan penglihatan hasil
Kebiasaan kasus % kontrol % total visus menunjukan 20/15 dan 20/20 .
membaca
Buruk 29 69,0 19 45,2 48 B. Bivariat
Baik 13 31,0 23 54,8 36
jumlah 42 100,0 42 100,0 84 Tabel 4.3 “Hubungan
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa Kebiasaan
kebiasaan membaca buruk untuk Membaca Dengan Penurunan
kelompok kasus 29 (69,0%) sedangkan Ketajaman Penglihatan di SD
kebiasaan baik sebanyak 13 (31,0%) Santo Antonius 02
untuk kelompok kontrol kebiasaan Banyumanik Semarang”
buruk sebanyak 19 (45,2%) sedangkan Kebias Penurunan total P O
kebiasaan baik 23 anak (54,8%). aan ketajaman val R
memb penglihatan ue
2. Pemeriksaan ketajaman aca kasus kontrol
f % f % f %
penglihatan
Buruk 29 69,0 1 45, 4 57, 0,0 2,
9 2 8 1 47 70
Table 4.2 Distribusi Frekuensi 0
Responden Berdasarkan Baik 13 31,0 2 54, 3 42,
pemeriksaan Ketajaman 3 8 6 9
Penglihatan di SD Santo Antonis jumlah 42 100 4 10 8 10
02 Banyumanik Semarang 2 0 4 0
Hasil kelompok total
visus kasus Kontrol Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa
mata f % f % f % persentase responden yang mengalami
20/15 0 0 14 33,3 14 16,7 penurunan ketajaman penglihatan dan
20/20 0 0 28 66,7 28 33,3 mempunyai kebiasaan membaca yang
20/25 1 2,4 0 0 1 1,2 buruk (57,1%) lebih besar daripada
20/30 13 31,0 0 0 13 15,5
persentase responden yang mengalami
20/40 16 38,1 0 0 16 19,0
20/50 9 21,4 0 0 9 10,7 penurunan ketajaman penglihatan dan
20/60 1 2,4 0 0 1 1,2 mempunyai kebiasaan membaca yang
20/80 2 4,8 0 0 2 2,4 baik (42,9%).
total 42 100,0 42 100,0 84 100,0
PEMBAHASAN
tabel 4.2 menunjukkan bahwa hasil A. Gambaran Kebiasaan
visus mata responden yang tinggi dari Membaca
pemeriksaan visus mata untuk Hasil penelitian kepada 84
responden, didapatkan bahwa rata-rata
[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan
kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
kebiasaan membaca pada anak usia sehingga dalam ruangan perlu
sekolah di SD Santo Antonius 02 diciptakan lingkungan yang nyaman
Banyumanik Semarang, sebesar 48 anak bagi mata (Hadisudjono, 2007).
(57,1 %) memiliki kebiasaan buruk Sebanyak 50 (59%) anak dalam
sedangkan yang memiliki kebiasaaan kuesioner menjawab cukup dan nyaman
baik 36 anak (42,9 %) dan yang paling untuk pencahayaannya sedangkan 34
banyak ketegori buruk sebanyak 48 (40%) anak menjawab lingkungannya
responden. Jumlah kuesoner yang saya pencahayaannya redup dan terang
berikan kepada responden sebanyak 84 kurangnya memperhatikan pencahayaan
kuesoner didapatkan 23 (20%) di rumah maupun disekolah jika
responden menjawab benar dan 61 membaca pada kondisi redup maka
(70%) responden menjawab salah. Hasil akan membuat mata semakin keras
penelitian menunjukkan bahwa anak untuk berokomodasi akan membuat
usia sekolah yang memiliki kebiasaan mata lelah dan sebaliknya jika membaca
membaca, rata-rata yang dibutuhkan dengan pencahayaan terang. Maka dari
lebih dari 2 jam/ hari lebih tanpa dijeda itu harus selalu memperhatikan anak
istirahat sehingga mata mengalami ketika membaca agar terhindar dengan
kelelahan. Kelelahan adalah suatu penurunan penglihatan dini. Pheasant
mekanisme perlindungan tubuh agar (2005).
tubuh terhindar dari kerusakan lebih Posisi mata terhadap obyek yang
lanjut sehingga terjadi pemulihan kecil dan dekat penting untuk
setelah istirahat. Kelelahan diatur secara diperhatikan. hasil kuesioner jarak
sentral oleh otak, secara umum gejala membaca 30 cm sebanyak 51 (60%)
kelelahan dapat dimulai dari yang anak sedangkan yang membaca dengan
sangat ringan sampai perasaan yang jarak lebih atau kurang dari 30 sebanyak
sangat melelahkan (Tarwaka, 2004). 33 (39%) anak. Pandangan mata
Kebiasaan membaca pada anak sekolah terhadap obyek yang terlalu dekat dan
yang buruk disebabkan banyak faktor terus menerus lebih dari dua jam dapat
yaitu anak sekolah sering membaca menyebabkan kelelahan mata terutama
dengan posisi tiduran sebanyak 16 didalam ruangan yang penerangannya
(10%) anak menjawab dengan tiduran. kurang dari 200 lux (Mangoenprasedjo,
Posisi membaca buku tiduran adalah 2005).
kebiasaan yang menyenangkan. B. Gambaran Penurunan
kebiasaan ini memerlukan perhatian Ketajaman Penglihatan (visus
khusus karena cukup berisiko, Posisi ini mata)
akan menyebabkan mata mudah lelah. Berdasarkan hasil penelitian di atas
Ini membuat jarak buku dengan mata bahwa anak usia sekolah yang
semakin dekat. Saat berbaring, tubuh kebiasaan membaca di SD Santo
tidak bisa relaks karena otot mata akan Antonius 02 Banyumanik Semarang
menarik bola mata ke arah bawah, (kelompok kasus) sebanyak 42
mengikuti letak buku yang sedang responden (50,0 % ) yang mengalami
dibaca. penurunan pengelihatan dan pada
Mata yang sering terakomodasi (kelompok kontrol) yang tidak
dalam waktu lama akan cepat mengalami penurunan ketajaman
menurunkan kemampuan melihat jauh, penglihatan sebanyak 42 responden

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
(50,0 % ) dari total kelompok kasus dan elektronik. Gangguan pada mata
kelompok kontrol sebanyak 84 disebabkan adanya kejadian berulang
responden (100,0 % ). Visus mata yang menyebabkan bayangan tidak
(ketajaman penglihatan) jatuh pada retina sehingga
merupakan kemampuan sistem mengakibatkan seseorang mengalami
penglihatan untuk membedakan penurunan ketajaman penglihatan.
berbagai bentuk (Anderson, 2007). Menurut Pheasant (2005), kemudahan
Penglihatan yang optimal hanya dapat seseorang untuk melihat suatu obyek
dicapai bila terdapat suatu jalur saraf kerja di lingkungan sangat dipengaruhi
visual yang utuh, stuktur mata yang oleh beberapa faktor, antara lain
sehat serta kemampuan fokus mata yang Tingkat Pencahayaan (Illumination
tepat (Riordan-Eva, 2007). Levels), Bentuk Obyek Kerja,
Kekontrasan, Durasi (Lama Waktu)
C. Hubungan kebiasaan membaca untuk Melihat Obyek Kerja, Jarak
dengan penurunan ketajaman Melihat Obyek Kerja. Maka berlama-
penglihatan pada anak usia lama menatap buku akan berdampak
sekolah di SD Santo Antonius pada kesehatan mata khususnya
02 Banyumanik Semarang penurunan visus mata. Hal ini sesuai
Berdasarkan hasil analisis data dari dengan penelitian yang dilakukan oleh
penelitian di SD Santo Antonius 02 Nourmayanti (2010) dalam
Banyumanik Semarang, didapatkan data penelitiannya mengatakan bahwa
dari mengalami penurunan ketajaman tingkat pencahayaan dapat
penglihatan dan mempunyai kebiasaan mempengaruhi kelelahan mata yang
membaca yang buruk (57,1%) lebih salah satunya adalah penurunan
besar daripada persentase responden ketajaman penglihatan.
yang mengalami penurunan ketajaman Gangguan pada mata disebabkan
penglihatan dan mempunyai kebiasaan adanya kejadian berulang yang
membaca yang baik (42,9%). Hasil uji menyebabkan bayangan tidak jatuh
Chi Square didapatkan p value pada retina sehingga mengakibatkan
0,047≤0,05 sehingga ada hubungan seseorang mengalami penurunan
yang signifikan antara kebiasaan ketajaman penglihatan. Apabila
membaca dengan penurunan ketajaman seseorang berada di tempat yang sangat
penglihatan di SD Santo Antonius 02 terang untuk waktu yang lama, maka
Banyumanik Semarang. banyak sekali fotokimiawi yang
Kebiasaan membaca dengan terdapat didalam sel batang dan sel
durasi yang cukup lama akan membuat kerucut diubah menjadi retinal dan
mata lelah dan membuat mata merah, opsin. Selanjutnya sebagian
gangguan mata lainnya, dan masalah besar retinal dalam sel batang dan sel
visual lainya yang timbul seperti kerucut akan banyak berkurang,
gangguan sakit kepala dan sakit leher akibatnya sensitivitas terhadap cahaya
atau bahu. Selain itu kecendrungan juga turut berkurang (Guyton & Hall,
membaca di dalam ruangan akan 2006). Dampak membaca terhadap
memicu kerja mata untuk melihat kelelahan mata timbul sebagai stres
sangat dekat, misalnya ketika membaca intensif pada fungsi-fungsi mata seperti
menggunakan buku maupun media terhadap otot-otot akomodasi pada

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
pekerjaan yang perlu pengamatan secara mata untuk kelompok kasus di
teliti atau terhadap retina sebagai akibat dapatkan 20/40 untuk kelompok
ketidaktepatan kontras. menurut kasus sebanyak 16 (31,0%) untuk
Suma’mur (2006 vius 20/40 sebanyak 16 (38,1%)
Menurut Ilyas (2010), kelelahan mata visus 20/50 sebanyak 9 (21,4%)
disebabkan oleh stres yang terjadi pada visus 20/60 sebanyak 1 (2,4%)
fungsi penglihatan. Stres pada otot visus 20/80 sebanyak 2 (4,8%)
akomodasi dapat terjadi pada saat untuk kelompok kontrol tidak
seseorang berupaya untuk melihat pada ada yang mengalami penurunan
obyek berukuran kecil dan pada jarak penglihatan hasil visus
yang dekat dalam waktu yang lama. menunjukan 20/15 dan 20/20 .
pada kondisi demikian, otot-otot mata 3. Ada hubungan yang signifikan
akan bekerja secara terus menerus dan antara kebiasaan membaca
lebih dipaksakan. Ketegangan otot-otot dengan penurunan ketajaman
pengakomodasi (otot-otot siliar) makin penglihatan pada anak usia
besar sehingga terjadi peningkatan asam sekolah di SD Santo Antonius 02
laktat dan sebagai akibatnya terjadi Banyumanik Semarang. p value
kelelahan mata, stress pada retina dapat 0,047
terjadi bila terdapat kontras yang
berlebihan dalam lapangan penglihatan
dan waktu pengamatan yang cukup
lama.

D. Keterbatasan
Penelitian ini hanya membahas B. Saran
tentang kebiasaan membaca dengan 1. Bagi orang tua anak
penurunan ketajaman pengelihatan Diharapkan orang tua anak
pada anak sekolah masih ada faktor- dapat memperhatikan waktu
faktor yang mempengaruhi membaca, posisi membaca,
ketajaman penglihatan seperti pencahayaan saat membaca, jarak
keturunan, bermain game, menonton membaca pada anak khususya saat
tv, dan jenis kelamin yang tidak membaca yang bisa berdampak
diteliti. buruk pada kesehatan mata anak.
KESIMPULAN DAN SARAN Ada baiknnya jika orang tua
A. KESIMPULAN mengawasi anak dengan memberi
1. kebiasaan membaca buruk untuk pengertian pada anak membaca
kelompok kasus 29 (69,0%) harus dengan duduk, jika mata
sedangkan kebiasaan baik sudah mulai lelah di istirahatkan.
sebanyak 13 (31,0%) untuk 2. Bagi penelitian selanjutnya
kelompok kontrol kebiasaan Mengingat beberapa keterbatasan
buruk sebanyak 19 (45,2%) dalam penelitian ini maka perlu
sedangkan kebiasaan baik 23 dilakukan penelitian selanjutnya
anak (54,8%). mengenai faktor lain yang
2. hasil visus mata responden yang menyebabkan perubahan ketajaman
tinggi dari pemeriksaan visus penglihatan (visus mata).

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
DAFTAR PUSTAKA Pheasant, (2005). Ergonomics, Works,
Departemen Kesehatan RI. (2009). and Health. USA: Aspen
Upaya Kesehatan Kerja Sektor Publisher Inc.
Informal di Indonesia. Jakarta : Sugihartati, rahma. 2010. Membaca,
Departemen Kesehatan. gaya hidup dan capitalisme.
Fachrian Dedy, dkk. (2009). Prevalensi Yogyakarta: graham ilmu.
Kelainan Ketajaman Penglihatan Ilyas, H . 2010. Ilmu Penyakit Mata.
pada Pelajar SD “X” Jatinegara Badan Penerbit FKUI. Jakarta.
Jakarta Timur. Jakarta; Majalah Hurlock, EB. (2008). Psikologi
Kedokteran Indonesia Perkembangan Suatu
Ganong, William F. (2005). Fisiologi Pendekatan Sepanjang
Kedokteran, diterjemahkan Rentang Kehidupan. Jakarta:
oleh H.M. Djauhari E. Edisi 9. Airlangga.
Jakarta: buku kedokteran EGC. Dewi, M. (2011). Pengaruh Kebiasaan
Gondhowiardjo, T.D. (2009). Pengaruh Anak dalam Bermain game dan
Bermain Komputer Pada membaca pada Komputer
Kesehatan Mata Anak-Anak. terhadap Kesehatan Mata. KTI
Jakarta : Ilmu Penyakit Mata : SMA Negeri 1 Jember.
RS. Cipto Mangunkusumo. Supriati, F. 2012. Faktor-Faktor Yang
Guyton & Hall. (2006). Fisiologi Berkaitan Dengan Kelelahan
Kedokteran II. Jakarta : EGC. Mata Pada Karyawan Bagian
Wong, D. L. (2008). Buku Ajar Administrasi Di PT. Indonesia
Keperawatan Pediatrik. Jakarta: Power UPB. Jurnal Kesehatan
EGC. Masyarakat UNDIP (online)
WHO. (2009). Deskription And Volume 1, Nomor 2, Halaman
Classification Of Visual 720-730
Display Terminal In VDT And (http://ejournals1.undip.ac.id/in
Woker’s Health, Genewa, dex.php /jkm) diakses 12
WHO Ofsset Publication, p. september 2014.
99. Burns, P.C,. Betty, D. dan Ross,
Riskesdas.(2013). Riset Kesehatan E.P.2005. Teaching reading in
Dasar tahun 2013. Jakarta: today’s elementary schools.
Badan Penelitian Chicago: rand mc. Nally
Pengembangan Kesehatan college publishing company.
Kementrian Kesehatan RI. Kairupan, T. 2012. Hubungan Antara
Wijaya, M. 2010. Prevalensi Aktivitas Fisik Dan Screen
Penurunan Ketajaman Time Dengan Status Gizi Pada
Penglihatan Pada SiswaSiswi Siswa Siswa SMP Kristen Eben
Sekolah Dasar Kelas 4-6. Haezar 2. (Tesis) : Universitas
(online) Sam Ratulangi Program Pasca
(http://repository.usu.ac.id/bitst Sarjana Program Studi IKM.
ream/ Supartini, y. (2004). Buku ajar konsep
123456789/21449/appendix.pd dasar keperawatan
f) diakses 21 september 2014. anak.Jakarta: EGC

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
Masidah, s. (2006). Perkembangan kemampuan membaca. Jakarta:
anak usia pra sekolah materi depdikbud.
disempurnakan pada pelatihan Eanes, 2008. Content area literacy:
trening for trainer (TFT) teaching for today and
tingkat maksimal lembaga tomorrow. Bonn: dermar
pendidikan pra sekolah publishers, ITP An
Gunarsa, S.D. (2006). Psikologis international thomoson
Praktis : Anak, Remaja dan publising company.
Keluarga. Jakarta : PT BPK Prastiti (2007: 20). Jenis-jenis
Gunung Mulia. Membaca . Jakarta: depdikbud.
Pheasant, Stephen. (2005). Tarigan, H.G. 2008. Membaca
Ergonomics, Works, and Health. sebagai suatu keterampilan
USA: Aspen Publisher Inc. berbahasa. Bandung: ikip-
Piaget. (2005). Psychology Themes STIA
and Variations. USA: Suma’mur, PK. (2006). Higiene
Wadsworth. Perusahaan Dan Kesehatan
Erickson. (2007). Kerja. Jakarta : Sagung Seto.
Developmental Psychology. Heany. (2009). Tinjauan Faktor
USA: Wadsworth Pencahayaan Terhadap
Riodan-Eva. (2007). General Kelelahan Mata di
Ophtalmology. USA: The Mc Departemen Develovepment
Graw-Hill Companies. PT Hardaya Aneka Shoes
Leat. (2009). Assessing Industri Tanggerang Tahun
Children’s Vision: A 2001. Depok: Unversitas
Handbook. (Online), Indonesia.
(http://repository.usu.ac.id/bitst Arianti Melita, 2013. Hubungan
ream/123456789/21449/4/Cha Antara Riwayat Miopia Di
pter%20II.pdf), diaskes Keluarga Dan Lama Aktivitas
November 2014. Jarak Dekat Dengan Miopia
Tampubolon, DP.2005. kemampuan Pspd Untan.
membaca: teknik membaca http://www.jurnal.untan.ac.id/in
efektif dan efisiensi. Bandung : dex.php/j
angkasa. fk/article/view/3768/3770
Crawley dan mauntain, 2007.
Strategies for guiding content Sasraningrat, Muhammmad Ihsan.
reading. 2011. Gambaran Tingkat
Boston : allyn and bacon Pengetahuan dan Sikap Siswa
Shafi’ie, 2006, burns SD Islam Rumaha Cireundeu
dkk.,2005. Pengajaran Kelas 5 dan 6 Terhadap Miopia
membaca di kelas-kelas awal dan Faktor Yang
sekolah dasar. Jakarta: Mempengaruhinya Tahun
depdikbud. 2011.
lamb dan Arnold (2005), Faktor- http://perpus.fkik.uinnjkt.ac.id/
faktor yang memengaruhi file_
digital/1.RISET%20Muhamma

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
d%20Ihsa
n%20Sasraningrat.pdf
Supartoto, 2013. Anak
Perempuan Di Yogyakarta
Lebih Banyak Menderita
Miopi.
http://www.ugm.ac.id/id/post/p
age? id=622

Guyton & Hall. (2006). Fisiologi


Kedokteran II. Jakarta : EGC.
Notoadmodjo, S. (2010). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta :
Rineka Cipta.
Sugiyono. (2012). Statistika untuk
penelitian. Bandung: Penerbit
Alfabeta.
Arikunto. (2006). Metodologi
Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek edisi 5. Jakarta:
Renika Cipta

[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan


kebiasaan membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo
Antonius 02 banyumanik, kota semarang.
[Ahmad Fahrur Rozi / STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN, 2015] hubungan kebiasaan
membaca dengan penurunan ketajaman penglihatan di SD Santo Antonius 02 banyumanik, kota
semarang.