Anda di halaman 1dari 15

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang proses mental


dan perilaku. Perilaku dari manusia, berikut pula perilaku dari peserta
didik atau siswa akan mudah difahami apabila kita memahami proses
mentalnya. Proses mental inilah yang sering disebut dengan gejala-gejala
jiwa.

Mengingat pentingnya pemahaman tentang proses mental atau


gejala jiwa dalam belajar, kita sebagai pendidik sudah semestinya
memahami dan menerapkan pemahaman tentang proses mental terhadap
perserta didik kita. Kita juga perlu untuk memahami aktivitas dan proses
mental atau gejala jiwa manusia termasuk peserta didik khususnya dalam
proses pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


Dalam penyusunan makalah ini, penulis merumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1. Apa definisi dari Psikologi Pendidikan?
2. Apakah yang dimaksud dengan gejala-gejala jiwa?
3. Apa saja macam dan karakteristik dari gejala jiwa tersebut?
1.3 Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan, maka,
tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Memahami definisi dari psikologi pendidikan
2. Mengetahui hakikat dari gejala-gejala jiwa
3. Mengatahui macam dan karakteristik dari proses mental atau gejala
jiwa tersebut.

1
BAB II

Pembahasan

2.1 Definisi Psikologi Pendidikan

2.1.1 Definisi Psikologi

Psikologi berasal dari bahasa Yunani berupa Psychology


yang merupakan gabungan dan kata psyche dan logos. Psyche
yang mempunyai arti jiwa, dan logos yang mempunyai arti
pembahasan atau ilmu.

Istilah psyche atau jiwa masih belum dapat didefinisikan secara


jelas, karena jiwa merupakan objek bersifat abstrak dan tidak
dapat dilihat, tatepi meskipun begitu diyakini keberadaannya,
istilah jiwa dalam beberapa dasawarsa ini telah berganti menjadi
psikis.

Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990)


dinyatakan bahwa Psikologi adalah ilmu yang mempelajari
perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat secara
langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung. Dakir
(1993) menyatakan bahwa psikologi membahas tingkah laku
manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya. Muhibbin
Syah (2001) menyimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup
pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam
hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah
tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan
berbicara, duduk , berjalan dan lain sebgainya, sedangkan tingkah
laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain
sebagainya.
Dari beberapa definisi tersebut diatas dapat disimpulkan
bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari

2
tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam
hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku tersebut berupa
tingkah laku yang tampak maupun tidak tampak, tingkah laku yang
disadari maupun yang tidak disadari.

2.1.2 Definisi Pendidikan

Pendidikan berasal dari kata didik, mendidik berarti


memelihara dan membentuk latihan. Dalam kamus besar Bahasa
Indoneia (1991) Pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan
sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan

Poerbakawatja dan Harahap dalam Muhibbin Syah (2001)


menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha secara sengaja
dari orang dewasa untuk meningkatkan kedewasaan yang selalu
diartikan sebagai kemampuan untuk bertanggung jawab terhadap
segala perbuatannya.
Dari definisi-definisi tersebut diatas dapat penulis
simpulkan bahwa pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan
secara sadar dan sengaja untuk mengubah tingkah laku manusia
baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

2.1.3 Definisi Psikologi Pendidikan

Whiterington (1978) mendefinisikan psikologi pendidikan


sebagai studi sistematis tentang proses-proses dan faktor-faktor
yang berhubungan dengan pendidikan manusia.
Sumadi Suryabrata (1984) mendefinisikan psikologi
pendidikan sebagai pengetahuan psikologi mengenai anak didik
dalam situasi pendidikan.

3
Elliot dkk.(1999) menyatakan bahwa psikologi pendidikan
merupakan penerapan teori-teori psikologi untuk mempelajari
perkembangan, belajar, motivasi, pengajaran dan permasalahan yang
muncul dalam dunia pendidikan.

Dari bebrapa definisi yang telah disampaikan, dapat


didsimpulkan bahwa psikologi pendidikan adalah suatu penerapan
dari ilmu psikologi yang diterapkan dalam dunia pendidikan.
Dalam psikologi pendidikan ini dibahas tentang pengubahan sifat
dan pendewasaan manusia melalui proses pembelajaran dan
palatihan.

2.2 Pengertian Gejala Jiwa

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, psikologi merupakan


ilmu yang mempelajari proses mental dan perilaku pada manusia. Perilaku
manusia akan lebih mudah dipahami jika kita juga memahami proses
mental yang mendasari perilaku tersebut. Demikian juga kita akan lebih
mudah memahami perilaku siswa jika kita memahami proses mental yang
mendasari perilaku siswa tersebut Mengingat pentingnya pemahaman
tentang proses mental tersebut, maka dalam bab ini akan dijelaskan
beberapa akfivitas atau proses mental yang umum terjadi pada manusia,
khususnya yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Proses mental
juga sering disebut dengan gejala jiwa.

2.3 Macam-Macam Gejala-Gejala Jiwa dan Karakteristiknya


2.3.1 Gejala Jiwa Kognisi (Pengenalan)
Istilah cognitive beasal dari kata cognition yang
mempunyai padanan kata atau sinonim knowing yang mempunyai
arti mengetahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) merupakan
pemerolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dala
perkembangannya istilah kognisi berkembang menjadi suatu ranah
psikologis manusia yang meliputi setiap peilaku mental yang

4
berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan
informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan.
Gejala kognisi meliputi:
1. Pengamatan
Pengamatan merupakan proses mengenal segala
sesuatu yang ada disekitar kita dengan menggunakan alat
indera. Panca indera dimilik oleh baik manusia maupun hewan.
Namun manusia dianugerahi akal yang menjadikan manusia
berbeda dengan makhluk Tuhan yang lainnya.
Proses dalam pengamatan adalah sebagai berikut:
a. Harus ada perhatian yang ditujukan kepada perangsang
b. Ada perangsang yang mengenai alat indera kita
c. Ada alat indera syang menangkap perangsang
d. Ada urat syaraf yang membawa perangsang ke otak
e. Ada otak yang menyadarinya.
2. Tanggapan
Tanggapan sebagai salah satu fungsi jiwa yang
pokok, dapat diartikan sebagai gambaran ingatan dari
pengamatan, ketika objek yang diamati tidak lagi berada
dalam ruang dam waktu pengamatan. Jadi, jika proses
pengamatan sudah berhenti, dan hanya tinggal kesan-
kesannya saja, peristiwa demikian ini disebut tanggapan.
Tanggapan disebut “laten” (tersembunyi, belum
terungkap), apabila tanggapan tersebut ada di bawah sadar,
atau tidak kita sadari, dan suatu saat bisa disadarkan kembali.
Sedang tanggapan disebut “aktual”, apabila tanggapan
tersbut kita sadari.
Perbedaan antara tanggapan dan pengamatan:
a. Pengamatan terikat pada tempat dan waktu, sedang pada
tanggapan tidak terikat waktu dan tempat.
b. Objek pengamatan sempurna dan mendetail, sedangkan
objek tanggapan tidak mendetail dan kabur.

5
c. Pengamatan memerlukan perangsang, sedang pada
tanggapan tidak perlu ada rangsangan.
d. Pengmatan bersifat sensoris, sedang pada tanggapan
bersifat imaginer.
3. Fantasi
Fantasi adalah daya jiwa untuk membentuk atau
mencipta tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan
tanggapan yang sudah ada,
Jenis-jenis fantasi adalah sebagai berikut:
Jenis Fantasi:
a. Fantasi Mencipta
Fantasi yang terjadi atas inisiatif atau kehendak
sendiri, tanpa bantuan orang lain atau jenis fantasi yang
mampu menciptakan hal-hal baru. Fantasi macam ini
biasanya lebih banyak dimilki oleh para seniman, anak-
anak, dan para ilmuwan.
b. Fantasi Tuntunan atau Terpimpin
Fantasi yang terjadi dengan bantuan pimpinan atau
tuntunan orang lain. Dalam hal ini misalnya kalau kita
sedang membaca buku, kita mengikuti pengarang buku
itu dalam ceritanya.
Fungsi Pokok Fantasi adalah sebagai berikut:
a) Fantasi mengh-abstrahir (mengabstraksi)
Fantasi dengan menyaring atau memisahkan
sifat-sifat tertentu dari tanggapan yang sudah ada.
Misalnya anak yang belum pernah melihat gurun
pasir, maka dalam berfantasi, dibayangkan dengan
seperti lapangan tanpa pohon-pohon disekitarnya dan
tanahnya malulu pasir semua bukan rumput.

6
b) Fantasi Mengkombinir
Fantasi dengan mengabungkan dua atau lebih
tanggapan-tanggapan yang sudah ada, disusun
menjadi satu tanggapan baru. Misalnya: Tanggapan
badan singa + kepala manusia = Spinx di kota Mesir
c) Fantasi Mendeterninir
Fantasi dimana tanggapan lama dilengkapi,
disempurnakan dan mendapatkan ketentuan yang
lebih jelas dan terbatas sehingga tercipta tanggapan
baru

4. Daya Ingatan
Ingatan (memory) ialah kekuatan jiwa untuk menerima,
menyimpan, dan mereproduksi kesan-kesan.
Sifat Daya ingatan itu tidak sama pada tiap orang, oleh
karena itu, sifat daya ingatan dibedakan menjadi:
a) Ingatan yang mudah dan cepat: orang yang memiliki
daya ingatan inidnegan cepat dan mudah menyimpan dan
mencamkan kesan-kesan.
b) Ingatan yang luas dan teguh: sekaligus seseorang dapat
menerima banyak kesan dan dalam daerah yang luas
c) Ingatan yang setia: kesan yang telah diterimanya itu tetapi
tidak berubah, tetap sebagimana waktu menerimanya.
d) Ingatan yang patuh: kesan-kesan yang telah dicamkan
dan disimpan itu dengan cepat dapat direprodusir

5. Berfikir
Ialah hasil proses berfikir yang merangkum sebagian
dari kenyataan yang dinyatakan dengan satu perkataan.
Dalam hal ini misalnya pengertian “sepeda” merangkum
segala jenissepeda yang kita ketahui, dan kita
menyatakannya dengan satu perkataan yaitu “sepeda”.

7
Dalam berfikir, seseorang menghubungkan pengertian
satu dengan pengertian lainnya dalam rangka mendapatkan
pemecahan persoalan yang dihadapi. Dalam pemecahan
persoalan, individu membeda-bedakan, mempersatukan dan
berusaha menjawab pertanyaan, mengapa, untuk apa,
bagaimana, dimana dan lain sebagainya.
Hal-hal yang berhubungan dengan berfikir adalah:
a. Pengertian
b. Keputusan
c. Kesimpulan

6. Intelegensi
Intelligensi ialah kesanggupan rohani untuk
menyesuaikan diri kepada situasi yang baru dengan
menggunakan berfikir menurut tujuannya. Seseorang dapat
dikatakan berbuat intelligen kalau dalam situasi tertentu, ia
dapat berbuat dengan cara-cara yang tepat. Artinya, ia
dapat memecahkan kesulitan-kesulitan, soal-soal yang
terdapat dalam situasi itu. Dengan kata lain, ia dapat
menyesuaikan diri dengan situasi yang baru itu.
2.3.2 Gejala Jiwa Konasi (Kemauan)
Kemauan merupakan salah satu fungsi hidup kejiwaan
manusia, dapat diartikan sebagai aktifitas psikis yang mengandung
usaha aktif dan berhubungan dengan pelaksanaan suatu tujuan.
Tujuan adalah titik akhir dari gerakan yang menuju pada sesuatu
arah. Adapun tujuan kemampuan adalah pelaksanaan suatu tujuan-
tujuan yang harus diartikan dalam suatu hubungan. Misalnya,
seseorang yang memiliki suatu benda, maka tujuannya bukan pada
bendanya, akan tetapi pada mempunyai benda itu”, yaitu berada
dalam relasi (hubungan), milik atas benda itu. Seseorang yang
mempunyai tujuan untuk menjadi sarjana, dengan dasar kemauan,
ia belajar dengan tekun, walaupun mungkin juga sambil bekerja.

8
Dalam istilah sehari-hari, kemauan dapat disamakan dengan
kehendak dan hasrat. Kehendak ialah suatu fungsi jiwa untuk dapat
mencapai sesuatu yang merupakan kekuatan dari dalam dan
tampak dari luar sebagai gerak-gerik.
Gejala Konasi terbagi atas:
a. Dorongan
b. Keinginan
c. Hasrat
d. Kecenderungan
e. Hawa nafsu
f. Kemauan
Pribadi memberikan corak dan menentukan, sesudah
memilih dan mengambil keputusan. Perbuatan memilih dan
mengambil keputusan ini disebut dengan keputusan kata hati.

2.3.3 Gejala Jiwa Emosi (Perasaan)


Perasaan termasuk gejala jiwa yang dimiliki oleh
semua orang dan tingkatannya tidak sama. Perasaan tidak
termasuk gejala mengenal, walaupun demikian, perasaan sering
juga berhubungan dengan gejala mengenal .
Jenis-jenis Emosi (perasaan) adalah sebagai berikut:
1. Perasaan-perasaan jasmaniyah: jenis perasaan ini sering
pula disebut perasaan tingkat rendah yang terbagi sebagai
berikut:
a) Perasaan sensoris: yaitu perasaan yang berhubungan
dengan stimulus terhadap indra, misalnya: dingin, hangat,
pahit, asam dan sebagainya.
b) Perasaan vital: yaitu perasaan yang berhubungan
dengan kondisi jasmani pada umumnya, misalnya lelah,
lesu, lemah, segar, sehat dan sebagainya.
2. Perasaan-perasaan rohaniah: sering pula disebut sebagai
perasaan luhur (tingkat tinggi), yang terdiri dari:

9
a) Perasaan intelektual: yaitu perasaan yang
berhubungan dengan kesanggupan intelektual dalam
mengatasi suatu masalah, misalnya: senang atau puas
ketika berhasil (perasaan intelektual positif), kecewa
atau jengkel ketika gagal (perasaan intelektual negatif).
b) Perasaan kesusilaan (etis): yaitu perasaan yang
berhubungan dengan baik-buruk atau norma,
misalnya: puas ketika mampu melakukan hal yang
baik, atau menyesal ketika melakukan hal yang tidak
baik.
c) Perasaan estetis (keindahan); yaitu perasaan yang
berhubungan dengan penghayatan dan apresiasi
tentang sesuatu yang indah tau tidak indah. Perasaan
ini timbul jika seseorang mengamati sesuatu yang indah
atau yang jelek. Yang indah menimbulkan perasaan
positif, yang jelek menimbulkan perasaan yang negatif.
d) Perasaan sosial (kemasyarakatan): yaitu perasaan
yang cenderung untuk mengikatkan diri dengan
orang-orang lain, misalnya: perasaan cinta sesama
manusia, rasa ingin bergaul, ingin menolong, rasa
simpati atau setia kawan dan sebagainya.
e) Perasaan harga diri: yaitu perasaan yang berhubungan
dengan penghargaan diri seseorang, misalnya: rasa
senang, puas, dan bangga akibat adanya pengakuan
dan penghargaan dari orang lain atau sebaliknya.
f) Perasaan ketuhanan (religius): yaitu perasaan yang
berkaitan dengan kekuasaan dan eksistensi dari
Tuhan. Manusia merupakan satu-satunya yang
dianugrahkan perasaan ini oleh Tuhan. Perasaan ini
digolongkan pada peristiwa psikis yang paling luhur dan
mulia. Menurut pandangan filsafat ketuhanan
(theologi) menusia disebut “homo divinans” yaitu

10
manusia senantiasa memilki kepercayaan terhadap
Tuhan dan hal-hal yang bersifat ghaib.

2.3.4 Gejala Jiwa Campuran


Gejala campuran meliputi Perhatian, Sugesti, dan kelelahan.
1. Perhatian

Perhatian adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada


sesuatu obyek baik di dalam maupun diluar dirinya.
Faktor yang mempengaruhi perhatian :
˗ Pembawaan
˗ Latihan dan kebiasaan
˗ Kebutuhan
˗ Kewajiban
˗ Keadaan jasmani
˗ Suasana jiwa
˗ Suasana di sekitar
˗ Kuat atau tidaknya perangsang dari obyek itu sendiri

2. Sugesti
Sugesti adalah pengaruh atas jiwa atau perbuatan
seseorang, sehingga pikiran, perasaan dan pikirannya
terpengaruh, dan dengan begitu orang mengakui apa yang di
kehendaki dari padanya.
Cara untuk menyugesti :
- Dengan membujuk
- Dengan memuji
- Dengan menakut – nakuti
- Dengan menunjukan kekurangan atau kelebihan

3. Kelelahan
Adalah gejala berkurangnya manusia untuk melakukan
sesuatu.

11
Sebab-sebab terjadinya kelelahan:
1) Kelelahan disebabkan oleh pekerjaan jasmani. Misalnya,
olahraga.
2) Kelelahan disebabkan oleh pekerjaan jiwa. Misalnya,
memikirkan masalah yang sulit/pelik.
Macam-macam kelelahan:
1) Kelelahan jasmani
2) Kelelahan Rohani
Hubungan kelelahan jasmani dan rohani yaitu pekerjaan
jasmani dapat menimbulkan kelelahan jasmani pun dapat
menimbulkan kelelahan rohani.

12
BAB III
Penutup
3.1 Simpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan
adalah suatu penerapan dari ilmu psikologi yang diterapkan dalam dunia
pendidikan. Dalam psikologi pendidikan ini dibahas tentang pengubahan
sifat dan pendewasaan manusia melalui proses pembelajaran dan
palatihan.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, psikologi merupakan


ilmu yang mempelajari proses mental dan perilaku pada manusia.
Perilaku manusia akan lebih mudah dipahami jika kita juga memahami
proses mental yang mendasari perilaku tersebut. Demikian juga kita akan
lebih mudah memahami perilaku siswa jika kita memahami proses
mental yang mendasari perilaku siswa tersebut Mengingat pentingnya
pemahaman tentang proses mental tersebut, maka dalam bab ini akan
dijelaskan beberapa akfivitas atau proses mental yang umum terjadi pada
manusia, khususnya yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.
Proses mental juga sering disebut dengan gejala jiwa.
Macam-macam gejala jiwa adalah sebagai berikut:

1. Gejala kognisi (pengenalan), yang meliputi pengamatan, tanggapan,


fantas, daya ingat, berfikir dan fantasi
2. Gejala Konasi (kemauan), terbagi atas dorongan, keinginan, hasrat,
kecenderungan, hawa nafsu, dan kemauan
3. Gejala Emosi (perasaan), meliputi perasaan-perasaan jasamaniah dan
perasaan-perasaan rohaniah
4. Gejala campuran, meliputi Perhatian, Sugesti, dan kelelahan

3.2 Saran
Sebagai pendidik, hendaknya kita dapat memahami tentang
peranan psikologi pendidikan dalam proses pembelajaran. Terlebih juga
memahai tentang gejala-gejala jiwa yang terjadi pada manusia.

13
Gejala-jiwa atau proses mental sangat perlu difahami oleh pendidik, hal
ini dimaksudkan agar lebih dapat memahami proses mental yang dialami
oleh peserta didik, agar kita dapat menerapkan tindakan apa yang akan
kita lakukan apabila dihadapkan dalam suatu masalah dalam proses
pembelajaran.

14
DAFTAR RUJUKAN
Mardianto. 2008. Psikologi Pendidikan. (Online) http://mardianto-
iainsu.blogspot.com/. Diakses 26 Nopember 2014.
Perdana, Andrean. 2013. Gejala Kognisi, Konasi, Emosi Dan CampuranManusia.
(Online) http://www.yuwonoputra.com/2013/07/gejala-kognisi-konasi-
emosi-campuran.html. diakses: 26 Nopember 2014.

Utomo, Bagus. 2013. Gejala Jiwa Kognisi, Emosi, Konasi, dan Campuran.
(Online) http://embesgang.blogspot.com/2013/05/gejala-jiwa-kognisi-
emosi-konasi-dan.html. Diakses: 26 Nopember 2014.

Wanny. 2011. Gejala-Gejala Jiwa yang dapat Memepengaruhi Kehidupan


Manusia. (Online) http://wannypoenya.blogspot.com/2011/06/makalah-
psikologi-gejala-gejala-jiwa.html. Diakses: 2 Desember 2014.

15

Beri Nilai