Anda di halaman 1dari 22

SEMINAR AUDIT

PERTEMUAN KE-5

KASUS UNITED STATES SURGICAL


CORPORATION

OLEH:

OLEH KELOMPOK 2:

Putu Ayu Anggya Agustina (1781611016)


Kadek Ria Citra Dewi (1781611017)
A.A. Sg. Ary Nur Arista (1781611018)

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018
KASUS UNITED STATES SURGICAL CORPORATION

1. Kasus United States Surgical Corporation


Loon Hirsch mendirikan United States Surgical Corporation (USSC) –
Korporasi Bedah Amerika Serikat - tahun 1964 dengan modal yang sangat kecil
yakni dengan empat karyawan dan satu produk. Produk tersebut yakni perangkat
mekanik berat yang diedarkan di pasaran sebagai stapler bedah. Meskipun banyak
yang tidak percaya kepada Hirsch, namun Hirsch tetap membangun USSC
berbasis di Connecticut yang menjadi perusahaan publik besar dan
menguntungkan yang sahamnya diperdagangkan di bursa. Stapler bedah yang
Hirsch temukan merupakan revolusi teknik operasi di Amerika Serikat dan di luar
negeri.
Pada awal keberadaanya, USSC mendominasi industri stapel bedah kecil
yang Hirsch dirikan pada pertengahan 1960-an. Menjelang 1980, beberapa
perusahaan pesaing mencoba merebut pasar penjualan domestik dan internasional
USSC. Pesaing utama USSC pada saat itu adalah sebuah perusahaan yang dimiliki
oleh Alan Blackman. Perusahaan Blackman ini menjual produknya di pasar
internasional, kemudian berusaha memperluas penjualan di Amerika Serikat.
Hirsch menyatakan bahwa Blackman, yang merupakan mantan teman dan rekan,
telah melanggar hak paten USSC.
Pada awal 1980-an, USSC melakukan tindakan secara agresif untuk
melawan gangguan Blackman. Pertama, USSC mengadopsi strategi litigasi di
seluruh dunia untuk melawan hak Blackman memproduksi dan memasarkan
produknya. Kedua, perusahaan ini memulai program penelitian dan
pengembangan yang besar untuk menciptakan lini produk baru dengan teknologi
yang lebih maju daripada yang diproduksi oleh Blackman. Inisiatif ini
memerlukan komitmen jutaan dolar oleh USSC - sehingga mengancam
keuntungan perusahaan dan kemampuan Hirsch untuk meningkatkan modal
tambahan yang USSC butuhkan untuk membiayai pertumbuhan yang cepat.

1
Hirsch mampu mengatasi tantangan utama yang dihadapi perusahaannya,
sehingga USSC tetap mampu bertahan pada posisi dominan dalam industri stapel
bedah, sambil terus membukukan rekor keuntungan dan penjualan setiap tahun.
Pada pembukuan keuntungan dan penjualan sangat disayangkan akhirnya menjadi
masalah bagi perusahaan. Kecurigaan meningkat karena hasil operasional yang
dilaporkan USSC ini terlalu tinggi yang mendorong Securities and Exchange
Commission (SEC) untuk memulai penyelidikan. Pada tahun 1983, SEC
menyatakan beberapa tuduhan pelanggaran terhadap manajemen USSC, termasuk
Leon Hirsch. Dalam waktu yang singkat, perusahaan yang mengaudit USSC,
yaitu Ernst & Whinney, mengundurkan diri dan mencabut opini-opini audit yang
wajar tanpa pengecualian yang telah diterbitkan pada tahun 1980 dan 1981. Pada
tahun 1985, SEC mengeluarkan laporan investigasi atas USSC. SEC memutuskan
bahwa perusahaan telah menggunakan "berbagai perangkat yang dimanipulatif
untuk meningkatkan laba dalam laporan keuangan tahun 1980 dan 1981."
Tindakan penyelesaian permasalahan dengan SEC membuat manajemen
USSC harus menandatangani perjanjian dengan pihak SEC dengan mewajibkan
USSC harus mengurangi pendapatan yang dilaporkan sebelumnya sebesaar $26
juta. Eksekutif senior USSC menyetujui untuk mengembalikan bonus mereka
selama tahun 1980 dan 1981. Hirsch sendiri digaji lebih dari $300.000 untuk
USSC. Setelah penandatanganan perjanjian dengan SEC, Hirsch melaporkan
bahwa kritik yang ditujukan terhadap perusahaannya dan keputusan manajemen
yang diambil tidak sesuai. Hirsch menyatakan bahwa pertimbangan biaya
memotivasi dirinya untuk menerima sanksi SEC, yang mana penyelesaian dengan
SEC dipandang sebagai litigasi yang panjang, mahal, dan memerlukan waktu
yang lama.

2. Kronologis Kasus United States Surgical Corporation


1/27/82 Tim audit Ernst & Whinney menyelesaikan pekerjaan lapangannya
untuk perikatan USSC.

2/2/82 Paul Yamont, wakil presiden senior dan bendahara dari Barden
Corporation, melakukan panggilan telepon yang tidak kehendaki ke

2
William Burke, partner perikatan audit Ernst & Whinney untuk audit
Barden. Yamont menginformasikan Burke bahwa akuntan Barden
menemukan beberapa permintaan pembelian USSC dan invoice yang
sesuai yang tidak secara akurat menjelaskan bahwa pekerjaan yang
Lacey Manufacturing ( divisi dari Barden Corporation) lakukan untuk
USSC. Menurut Yamont, invoice dan permintaan pembelian ini secara
total sejumlah $ 1 juta, mengindikasikan pekerjaan Lacey kepada
USSC selama ini untuk memodifikasi alat-alat. Kenyataannya Lacey
telah memproduksi dan merakit produk untuk USSC. Burke langsung
mengunjungi barden untuk mendiskusikan masalah ini dengan
Yamont.

2/3/82 Ernst & Whinney menyetujui penerbitan siaran pers oleh manajemen
USSC yang melaporkan penjualan dan laba perusahaan untuk tahun
1981. (pada titik ini, Michael Hope, partner perserikatan audit USSC,
tidak menyadari masalah yang dibawa ke William Burke oleh Paul
Yamont.)

2/5/82 Burke mengunjungi lagi Yamont untuk membahas dugaan faktur yang
disalah artikan.

2/8/82 Dewan direksi Barden Corporations memilih untukmempertahankan


Ernst & Whinney untuk secara resmi menyelidiki faktur
disalahartikan.

2/10/82 Burke menghubungi Norman Strauss, direktur regional akuntansi dan


audit Ernst & Whinney di wilayah New York, dan memberitahu dia
keprihatinan Yamont ini. Strauss segera menginformasikan Bruce
Dixon, partner in charge Ernst & Whinney yang bertanggung jawab
atas wilayah New York, mengenai situasi Barden. Tak lama kemudian,
Dixon menghubugi Hope dan menginstruksikan dia untuk tidak
menandatangani audit USSC sampai biaya faktur dipertanyakan telah
diselidiki sepenuhnya. Dixon juga menginformasikan Robert Neary,
partner kepala teknis Ernst & Whinney ini, mengenai masalah tersebut

2/13/82 Burke mengirimkan manajer audit Ernst & Whinney untuk Barden
Corporation untuk menyelidiki faktur dan pesanan pembelian yang
dipertanyakan

2/15/82 Burke bergabung dengan manajer audit Ernst & Whinney di Barden
Corporation untuk tur fasilitas Lacey Manufaktur dan untuk
membahas fakturdan pesanan pembelianyang dipertanyakan dengan

3
Robert More, general managerLacey More menginformasikan kepada
Burke bahwa hampir semua biaya yang ditagihkan sedang ditinjau
adalah untuk pekerjaan produksi generik yang dilakukan untuk USSC
bukan untuk modifikasi peralatan.

2/18/82 Burke bertemu dengan dewan direksi Barden dan melaporkan bahwa
hasil penyelidikanErnst & Whinney menunjukkan bahwa pesanan
pembelian USSC dan faktur Barden yang sesuai menggambarkan sifat
pekerjaan yang dilakukan oleh Lacey Manufacturing untuk USSC.
Ketua dewan direksiBarden kemudian melaporkan bahwa
penyelidikan independen oleh firma hukum luar telah menghasilkan
kesimpulan yang sama. Direksi Barden mengambil suara untuk
mengharuskan semua Pekerjaan masa depan dilakukan untuk USSC
digambarkan dengan baik dalam faktur yang diserahkan untuk
pembayaran kepada perusahaan.

2/20/82 Hope dan Dixon tidak yakin bagaimana untuk melanjutkan audit
USSC, mengingat hasil investigasi Burke. Karena kekhawatiran
kerahasiaan, Hope tidak bisa mengangkat masalah ini langsung
dengan petugas USSC. Petugas Barden khawatir bahwa jika USSC
merasakan bahwa perusahaan mereka telah membawa masalah ini ke
perhatian Ernst & Whinney, USSC dapat mengakhiri hubungannya
dengan Barden. Akhirnya Hope dan Dixon memutuskan untuk
mengirim surat konfirmasi kepada Yamont dan More yang meminta
mereka untuk mengkonfirmasi bahwa sengketa $ 1 juta dalam biaya
adalah untuk modifikasi peralatan. (Hope dan Dixon menyadari
bahwa Yamont dan More akan menolak untuk menandatangani surat
konfirmasi.)

2/25/82 Yamont menghubunig Hope dan memberitahu dia bahwa ia tidak bisa
menandatangani surat konfirmasi karena ia menyadari bahwa biaya
yang disengketakan tidak untuk modifikasi peralatan. Menyusul
penolakan Yamont dan kemudian More untuk menandatangani surat
konfirmasi, pejabat Ernst & Whinney membahas masalah dengan
kedua manajemen USSC dan Barden. Akhirnya, para eksekutif dari
masing-masing perusahaan setuju untuk mengizinkan auditor dari
kedua tim Ernst & Whinney untuk memiliki akses bersama untuk
catatan akuntansi perusahaan mereka.

3/3/82 Hope bertemu dengan para eksekutif puncak USSC dan meminta
mereka untuk menghubungan pemahaman mereka tentang biaya yang
dikeluarkan oleh Lacey Manufacturing atas namaUSSC. Para pejabat

4
USSC menginformasikan Hope bahwa pada awal 1981, mereka telah
mengintruksikan More, General manager Lacey, untuk melakukan
perubahan peralatan tertentu yang akan menghasilkan peningkatan
efisiensi dalam produksi produk USSC. Para eksekutif kemudian
memberikan penjelasan yang rumit dan membingungkan mengapa
modifikasi peralatan dibeban pada basi per unit. (Sebelumnya,
perwakilan Ernst & Whinney telah mencatat bahwa biaya sengketa
yang ditagih ke USSC berdasarkan jumlah unit produk yang
diproduksi oleh Lacey biaya terkait dengan modifikasi peralatan
seharusnya ditagih dalam sekalilumpsum atau bahkan pemasangan
Faktanya bahwa biaya ditagih pada basis per-unit menyarankan bahwa
itu merupakan biaya produksi).

Hope meminta kontroler USSC untuk pesanan pembelian bahwa


perusahaan telah menempatkan kontraktor luar selain Barden (Lacey).
Hope mencari bukti biayatambahan yang disalahartikan. Dalam file
yang H diriview oleh Hope, ia menemukan biaya yang ditagihkan ke
USSC yang mirip dengan biaya modifikasi peralatan yang
disengketakan yang ditagihkan ke USSC oleh Barden. Pejabat USSC
menjamin Hope bahwa biaya yang dikeluarkan atas nama USSC oleh
vendor tersebut, pada kenyataannya, adalah untuk modifikasi
peralatan.

3/5/82 Hope dan Burke bertemu dengan para eksekutif senior USSC dan
More dari Lacey Manufacturing. Di hadapan Mores, salah satu
eksekutif USSC menjelaskan lagi bahwa perubahan
tagihanperalatanyang diminta oleh USSC pada awal 1981. More
menunjukkan bahwa dia setuju dengan ikarakterisasi biaya tersebut.
(Tentu saja, More sebelumnya menyatakan bahwa jumlah sengketa
merupakan biaya produksi, bukan peralatan. More membenarkan
perubahan dalam opininya dengan menyatakan bahwa sebelumnya ia
"tidak berpikir tentang hal tersebut.")

3/10/82 Hope dan Burke berkeliling ke fasilitas Lacey Manufacturing untuk


memperoleh pemahaman yang lebih baik dari proses produksi
perusahaan. More diminta untuk bertindak sebagai pemandu partnet
Ernst & Whinney dalam tour. Sesaat sebelum jadwal tour dimulai,
seorang eksekutif senior bersama USSC datang secara tiba-tiba di
Lacey dan meminta izin untuk menemani yang lainnya dalam tour.
Selama tourr, More menjelaskan bahwa personil produksi
membebankan waktu mereka kepekerjaan peralatan atau pekerjaan

5
produksi. Ia juga mencatat bahwa personil tersebut sering secara tidak
sengaja membebankan biaya peralatan ke pekerjaan produksi.

3/11/82 Selama panggilan konferensi melibatkan Ernst & Whinney, dan


konsul hukum internal dan ekternal kantor CPA, Hope menjelaskan
prosedur audit tambahan yang dilakukan untuk menganalisi biaya
tooling yang disengketakan. Dia kemudian melaporkan
kesimpulannya bahwa biaya yang disengkatan melibatkan modifikasi
tooling, bukan pekerjaan produksi generik.Personel Ernst & Whinney
setuju dengan Hope.

3/14/82 untuk medukung kesimpulan tentang beban yang disengketakan


adalah untuk modifikasi tooling, Hope mengintruksikan untuk
mendapatkan surat konfirmasi bertandatangan dari Yamont dari
Barden Corporation mengenai efek tersebut. Saat meminta tanda
tangan surat Yamont menolak, dan dia akan selesai pada akhir
Pebruari.

2/15/82 Hope memilih untuk tidak menginvestigasi lebih lanjut beban tolling
yang dipertanyakan yang ditemukan pada tanggal 3 Maret – beban
tolling ditagihkan kepada USSC oleh vendor selain Lacey
Manufacturing. Berdasarkan item tersebut Hope membuat catatan
pada kertas kerja USSC. Diskusikan dengan partner audit lain pada 3-
15-82. Meskipun penjelasannya tidak lengkap, nilanya tidak material.

3/16/82 More menandatangani surat konfirmasi Ernst & Whinney terkait


dengan beban modifikasi tooling yang penandatangannannya ditolak
Yamont.

3/17/82 Hope menandatangani opini audit wajar tanpa pengecualian pada


laporan keuangan USSC pada tahun 1981 yang setelahnya
dipermasalahkan.

3. Analisis Kasus United States Surgical Corporation


3.1 Pelanggaran yang dilakukan United States Surgical Corporation
1) Eksekutif USSC membebankan biaya produksi inventory ke dalam akun
aset jangka panjang.
2) Tindakan yang dilakukan eksekutif USSC yang menutupi pelanggaran
yang dilakukannya terhadap pihak audit.

6
3) USSC mencatat pengiriman persediaan untuk tenaga penjualan sebagai
transaksi penjualan. Pengiriman persediaan ini kemudian dilaporkan
sebagai pendapatan.
4) Manajemen USSC secara sengaja melakukan pengiriman berlebihan
persediaan ke tempat penjualan.
5) USSC menyalahgunakan aturan akuntansi yang memungkinkan
kapitalisasi beban pengurusan legal untuk pengembangan dan
mempertahankan hak paten. USSC tidak memiliki paten yang terdaftar di
Australia, pengeluaran ini harus segera dibebankan pada operasional
bukannya ditangguhkan dalam pembukuan aset.

3.2 Kelalaian yang dilakukan Auditor Ernst & Whinney


1) Proses audit yang dilakukan kurang maksimal, hal ini dikarenakan pihak
auditor Ernst & Whinney hanya fokus pada fee audit yang diberikan oleh
perusahaan.
2) Pihak auditor Ernst & Whinney telah gagal dalam melaksanakan
prosedur analitis selama tahap perencanaan dari audit tahun 1981,
sehingga saldo pembukuan lebih dari dua kali lipat pada akhir tahun 1980
sampai akhir 1981.
3) Kelalalian auditor Ernst & Whinney dalam mendeteksi dalam
pengeluaran litigasi yang ditangguhkan pada paten akuntansi, sehingga
berakibat pada timbulnya risiko audit yang tinggi.
4) Kegagalan auditor dalam upaya pencegahan terhadap USSC dalam
mengkapitalisasi jumlah yang material dari biaya produksi pada divisi
mold&dies, sehingga hal ini berdampak pada peningkatan yang signifikan
dari aset dan penurunan dari HPP.

3.3 Dampak dari Kasus United States Surgical Corporation


3.3.1 Dampak bagi Masyarakat

7
Akibat dari dilakukannya pelanggaran peraturan akuntansi yang
memungkinkan kapitalisasi terhadap sejumlah besar biaya produksi oleh USSC
dalam kasus ini, maka masyarakat menjadi tidak percaya untuk menjadi
pelanggan pada United States Surgical Corporation (USSC).

3.3.2 Dampak bagi Pemerintah


Adanya kecurangan melakukan kapitalisasi terhadap sejumlah besar biaya
produksi yang dilakukan oleh USSC, maka dalam hal ini memberi dampak pada
pelaporan keuangan yang tidak relevan sehingga melanggar peraturan yang
ditetapkan pemerintah dan akan berimplikasi pada menurunnya pendapatan
negara.

3.3.3 Dampak bagi Investor


Investor yang menanamkan modal pada United States Surgical
Corporation (USSC) tentu mengalami kerugian akibat menurunnya harga
saham karena pelanggaran peraturan akuntansi yang dilakukan oleh
United States Surgical Corporation (USSC).

3.4 Tindakan yang Seharusnya dilakukan Auditor Ernst & Whinney


1) Auditor Ernst & Whinney seharusnya menggali informasi sebanyak-
banyaknya dari berbagai narasumber terkait dengan penyajian dan
perhitungan yang dilaporkan United States Surgical Corporation sehingga
auditor dapat mendeteksi salah saji material dalam laporan keuangan
tersebut.
2) Auditor Ernst & Whinney seharusnya memiliki sikap skeptisme terhadap
United States Surgical Corporation selaku pihak klien yang diauditnya.
Sikap skeptisme ini merupakan suatu sifat kehati-hatian atau kewaspadaan
terhadap bukti atau kondisi perusahaan yang diaudit. Auditor tidak boleh
percaya sepenuhnya terhadap informasi yang diberikan oleh kliennya
sebelum menemukan kebenaran dari informasi tersebut. Dalam hal ini,
bukan berarti auditor dilarang untuk mempercayai informasi dari kliennya

8
tetapi auditor harus bersikap hati-hati dalam setiap tindakan dan keputusan
yang akan diambil karena ada konsekuensi hukum yang harus diterimanya.
3) Penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama yang
menekankan pada tanggung jawab professional auditor berdasarkan
standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan. Kecermatan dan
keseksamaan ini terkait dengan tindakan yang dilakukan oleh auditor dan
bagaimana kesempurnaan pekerjaan tersebut. Misalkan, kecermatan dan
keseksamaan dalam hal kertas kerja audit yang mengharuskan bahwa
isinya cukup menunjang pendapat yang diberikan oleh auditor dan
penyajiannya harus mengikuti pedoman yang tercantum dalam standar
auditing.
4) Auditor Ernst & Whinney seharusnya dalam melakukan suatu audit, tidak
hanya berfokus pada fee audit yang diberikan sehingga tidak melakukan
proses audit dengan maksimal. Tindakan ini, dapat merusak integritas
kantor akuntan publik Ernst & Whinney, sehingga kepercayaan public
terhadap kantor akuntan publik Ernst & Whinney akan menurun.

3.5 Jawaban Kasus


1) Pertanyaan no 1
Identifikasi prosedur audit bahwa, jika yang digunakan oleh Ernst &
Whinney Audit USSC 1981, mungkin telah mendeteksi kelebihan pembukuan
aktiva sewa guna usaha dan dipinjamkan yang dihasilkan dari akuntansi yang
tidak tepat untuk aset pensiunan.
Jawaban
Tindakan auditor Ernst & Whinney yang dinilai lalai oleh SEC pada audit
tahun 1981, hal ini dikarenakan kurangnya sikap skeptisme auditor Ernst &
Whinney terhadap beberapa akun yang memiliki nilai yang kurang wajar
berdasarkan GAAP.

2) Pertanyaan no 2

9
Tahun 1981, USSC memperpanjang masa manfaat beberapa aset tetap dan
nilai sisa dari aset yang sama untuk pertama kalinya. Apakah ini diperbolehkan
berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum? Dengan mengasumsikan ini
perubahan telah berdampak material terhadap kondisi keuangan dan hasil usaha
USSC, bagaimana seharusnya perubahan yang telah diungkapkan dalam laporan
keuangan perusahaan? Bagaimana seharusnya perubahan ini mempengaruhi opini
audit 1981 Ernst & Whinney? (Asumsikan bahwa audit saat pelaporan berlaku
pada saat itu.)
Jawaban
Tindakan USSC memperpanjang masa manfaat beberapa aset tetap dan
nilai sisa dari aset yang sama untuk pertama kalinya sesaui dengan Peraturan
Akuntansi Berterima Umum (PABU) memang diperbolehkan, namun hal ini harus
tetap berpedoman pada pada penyusutannya tetap dengan memperhatikan
penggolongan masa manfaat atas aktiva tetap sesuai dengan Peraturan Akuntansi
Berterima Umum (PABU). USSC juga diwajibkan untuk memberikan penjelasan
secara menyeluruh terhadap tindakan yang dilakukannya kepada auditor Ernst &
Whinney, sehingga auditor dapat mengubah opini audit sesuai dengan fakta dan
bukti yang sebenarnya terjadi. Alasan terkait memperpanjang masa manfaat
beberapa aset tetap dan nilai sisa dari aset yang sama harus diungkapkan USSC
ketika pada kondisi seperti di bawah ini:
a) Terjadi perubahan karakteristik fisik / penggunaan aset tetap
b) Terjadi perbaikan Aset Tetap yang menambah Masa Manfaat atau kapasitas
manfaat.
c) Terdapat kekeliruan dalam penetapan Masa Manfaat Aset Tetap yang baru
diketahui di kemudian hari.

3) Pertanyaan no 3
Siapkan laporan keuangan umum untuk USSC untuk periode 1979-1.981.
Juga hitung likuiditas, solvabilitas, aktivitas, dan rasio profitabilitas utama untuk
1980 dan 1981. Dengan memperhatikan data ini, identifikasi sebagai item berisiko
tinggi untuk laporan keuangan Audit USSC tahun 1981.
Jawaban
10
Jenis Raiso proksi 1981 1980 1979
Likuiditas Curent ratio 5,37 4,48 2,92
Solvabilitas Debt to equity 0,52 0,55 0,68
ratio
Aktivitas Total asset 0,54 0,72 0,86
turn over
Profitabilitas ROI 0,06 0,07 0,07
Pada Item laporan keuangan audit USSC tahun 1981 yang memiliki risiko
tinggi adalah rasio aktivitas total asset turn over yang rendah dibandingkan tahun-
tahun sebelumnya, padahal pada tahun ini penjualan meningkat.

4) Pertanyaan no 4
Faktor-faktor apa dalam hubungan auditor-klien membuat
ketidakseimbangan kekuatan dalam mendukung klien? Diskusikan langkah-
langkah dimana staff bisa ambil untuk meminimalkan konsekuensi negatif dari
ketidakseimbangan kekuatan ini.
Jawaban
Faktor-faktor yang membuat ketidakseimbangan kekuatan dalam
mendukung klien yakni tindakan yang dilakukan perusahaan yang ingin diberikan
opini wajar tanpa pengecualian dalam laporan keuangan yang diaudit. Pada kasus
ini, auditor terbukti lalai dalam mengaudit perusahaan USSC dikarenakan
kekhawatiran kantor akuntan publik dan auditor apabila kedepannya terjadi
pergantian auditor (audit switching) sebagai hasil dari tindakannya dalam
memberikan opini yang diberikan tidak sesuai yaitu wajar tanpa pengecualian.
Seharusnya pihak auditor dapat memberikan saran terlebih dahulu sebelum
dikeluarkannya opini audit, jika saran tersebut tidak dijalankan oleh USSC maka
auditor patut menjunjung tinggi sikap independen dengan tidak memihak
kliennya walaupun dampak dari perbuatan tersebut berisiko adanya pergantian
auditor (audit switching).

5) Pertanyaan 5
Mengenai biaya yang dikeluarkan untuk USSC oleh Barden, identifikasi
(a) bukti-bukti yang Hope kumpulkan yang mendukung klaim USSC bahwa

11
biaya yang terlibat modifikasi perkakas dan (b) bukti audit yang mendukung
posisi bahwa biaya adalah biaya produksi generik. Apa yang umumnya standar
auditing sarankan atas kriteria evaluatif kunci yang auditor harus pertimbangkan
ketika menilai bukti audit? Mengingat kriteria ini, apakah Anda percaya Hope
dibenarkan dalam memutuskan bahwa biaya tersebut adalah untuk modifikasi
peralatan? Mengapa atau mengapa tidak?
Jawaban
Standar audit yang berlaku atas pemeriksaan bukti audit yakni relevan,
mengumpulkan sumber yang jelas, ketepatan waktu, dan objektivitas.
Berdasarkan, tindakan yang dilakukan Hope terkait memodifikasi peralatan
tersebut, maka Kami tidak akan mudah percaya yang dikarenakan bukti yang
ditemukan dilapangan tidak relevan, sumber tidak jelas dan ketepatan waktu yang
terlambat dan tidak objektif.

6) Pertanyaan 6
Menurut pendapat Anda, apakah Hope melakukan penyelidikan yang
memuaskan bahwa ada biaya peralatan yang mencurigakan yang dibayarkan dan
dicatat oleh USSC? Jika tidak, apa langkah-langkah tambahan yang harus ia telah
ambil untuk lebih mengeksplorasi kemungkinan ini? Jika Hope percaya ada
beberapa kemungkinan bahwa kliennya telah melakukan tindakan ilegal, apa
prosedur audit tambahan, jika ada, apakah itu tepat? (Asumsikan bahwa standar
auditing yang saat ini berlaku efektif pada saat itu.)
Jawaban
Menurut pendapat kami bahwa penyelidikan hope tidak memuaskan yang
dikarenakan surat konfirmasi yang tujuannya untuk mendukung kesimpulan
mengenai biaya yang disengketakan untuk modifikasi perkakas ditolak oleh
yamont dari Barden Corporation. Langkah-langkah tambahan yang harus
dilakukan untuk mengeksplorasi kemungkinan ini adalah memperbaiki sistem
internal perusahaan serta pada prosedur audit harus dilakukan penelusuran bukti
pengiriman barang dan tembusan faktur penjualan untuk transaksi-transaksi yang
berhubungan dengan saldo hutang tersebut.

12
7) Pertanyaan 7
Ketika CPA Perusahaan memiliki dua klien audit yang bertransaksi bisnis
dengan satu sama lain, apakah dua tim audit diizinkan untuk berbagi informasi
mengenai klien mereka? Mengapa atau mengapa tidak?
Jawaban
CPA perusahaan dengan memiliki dua klien audit yang bertransaksi, tidak
diperbolehkan untuk berbagi informasi klien yang satu dengan klien yang lainnya.
Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan infomasi dari klien yang diaudit
sehingga kerahasiaan privat perusahaan klien akan tetap terjaga.

KASUS PELANGGARAN AUDIT DI INDONESIA YANG SAMA


DENGAN KASUS UNITED STATES SURGICAL CORPORATION

13
1. Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance)
Sunprima Nusantara Pembiayaan sering disingkat menjadi SNP adalah
perusahaan pembiayaan yang berdiri sejak tahun 2000, sempat vacum selama 2
tahun dan kemudian Columbia Group mengambil alih kepemilikannya pada tahun
2002 dari Hari Darmawan pendiri bisnis ritel Matahari, tetapi PT. SNP baru
beroperasi secara penuh pada tahun 2004. SNP terutama bergerak dalam bidang
consumer finance yang disebut Prima Finance, dan dealer utama yang 100%
pembiayaannya didukung oleh PT. SNP adalah semua konsumen Columbia Retail.
Produk yang dibiayai adalah semua kebutuhan rumah tangga, seperti semua
produk elektronik, furniture, hand phone, komputer, motor roda dua. Selain
produk tersebut PT. SNP juga melakukan pembiayaan untuk produk-produk
produktif seperti hand tractor dan motor roda 3. SNP Finance juga menyalurkan
pembiayaan lain seperti pembiayaan waralaba, pembiayaan restoran, dan
pembiayaan katawan perusahaan. Namun, sebagian besar pembiayaan SNP
Finance mengalir ke pembeli elektronik dan furnitur di gerai Columbia. NP
Finance juga mulai menyalurkan pembiayaan melalui e-commerce. Beberapa e-
commerce yang telah menjadi mitra SNP Finance antara lain Mataharimall.com,
Bhinneka.com. dan Plaza Kamera.
Sepanjang 2018, SNP Finance menyalurkan pembiayaan Rp 4,2 triliun.
Jumlah tersebut naik 8,4% dibandingkan pembiayaan sepanjang tahun 2016. Per
31 Desember 2017, sebesar 66,66% saham SNP Finance dikuasai oleh Leo
Chandra dan keluarga melalui PT Cipta Pratama Mandiri. Sementara 33,34%
sisanya dikuasai Leo Chandra secara langsung. Leo Chandra merupakan pendiri
dan pemegang saham pengendali Grup Columbia yang bergerak di segmen
pembiayaan perabot rumah tangga dan retailer. Jaringan Grup Columbia terdiri
atas 358 gerai dan 27 gerai mibil yang tersebar di seluruh Indonesia.
Kasus ini diawali dari perusahaan pembiayaan milik Grup Columbia, PT
Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance), gagal membayar kupon Medium
Term Notes (MTN) V SNP Tahun 2017 Tahap II dengan tepat waktu. Pada saat
bersamaan, SNP Finance juga tengah menghadapi proses Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (PKPU). Seharusnya, pembayaran bunga MTN V/2017 Tahap

14
II jatuh tempo pada 9 Mei 2018. Berdasarkan surat Kustodian Sentral Efek
Indonesia (KSEI) tertanggal 8 Mei 2018, SNP Finance seharusnya telah
menyediakan dana yang cukup dan telah efektif di rekening KSEI selambat-
lambatnya satu hari bursa sebelum tanggap pembayaran. Namun, surat yang
diteken Direktur KSEI Syafrudin itu menyatakan, SNP Finance tidak bisa
memenuhi kewajiban tersebut. Sehingga, pembayaran bunga pertama MTN V
SNP Tahap II yang seharusnya dilaksanakan pada 9 Mei 2018 ditunda.
Kemudian SNP Finance menerbitkan MTN V/2017 Tahap II pada Februari
2018 lalu. MTN bertenor 24 bulan yang akan jatuh tempo pada 9 Februari 2020
itu menawarkan kupon 10,5% per tahun. Terjadinya kegagalan pembayaran bunga
MTN V Tahap II, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) pada Rabu (9/5),
menurunkan peringkat utang SNP Finance dari CCC menjadi SD alias selective
default sehingga Pefindo juga menurunkan peringkat MTN V SNP Tahun 2017
Tahap II menjadi D alias default dari sebelumnya CCC.
Di samping itu, MTN SNP Finance lainnya, yakni MTN I/2017, MTN
II/2017, MTN III/2017, MTN IV/2017, MTN V/2017 Tahap I, dan MTN VI/2018,
Pefindo masih mempertahankan peringkat CCC. Namun, Pefindo mengingatkan,
peringkat perusahaan dan seluruh MTN dapat diturunkan menjadi D jika SNP
Finance tidak bisa memenuhi seluruh kewajiban keuangannya pada saat jatuh
tempo. Sehari sebelumnya, Selasa (8/5), Pefindo telah memangkas peringkat
utang SNP Finance dari A menjadi CCC dan menempatkan peringkat SNP
Finance pada "Credit Watch dengan Implikasi Negatif". Penurunan peringkat
tersebut mencerminkan kekhawatiran Pefindo terkait kesiapan SNP Finance
melakukan pembayaran pokok MTN II/2017 Tahap I Seri A senilai Rp 200 miliar
yang akan jatuh tempo pada 27 Juni 2018.
Berdasarkan keterangan resmi yang Pefindo rilis pada 9 Mei 2018, Analis
Pefindo Handhayu Kusumowinahyu dan Hendro Utomo menjelaskan, obligor
dengan peringkat SD menandakan obligor gagal membayar satu atau lebih
kewajiban finansialnya yang jatuh tempo. Sementara efek utang mendapat
peringkat D saat terjadi gagal bayar. Efek utang dengan peringkat CCC, menurut
Pefindo, rentan untuk gagal bayar dan bergantung pada kondisi bisnis dan

15
keuangan yang lebih menguntungkan untuk bisa memenuhi komitmen keuangan
jangka panjang.
Terdapat ketidakjelasan penyebab SNP Finance gagal membayar kupon
MTN V Tahap II. Namun, Hendro mengatakan bahwa kinerja keuangan SNP
Finance hingga akhir tahun 2017 masih menunjukkan hasil yang baik. Pefindo
sampai saat ini belum memperoleh informasi terbaru mengenai kinerja SNP
Finance per kuartal I 2018, laporan keuangan audit per 31 Desember 2017, dan
informasi mengenai sumber dana pembayaran kupon dan MTN yang akan jatuh
tempo. Hendro mengatakan, Pefindo telah berupaya mengontak SNP Finance
untuk memperoleh informasi tersebut. Tiga pekan lalu, SNP Finance masih
memberikan respons kepada Pefindo.
Selain menghadapi bunga dan pokok utang yang akan jatuh tempo, SNP
Finance saat ini juga tengah menghadapi proses PKPU. Pada 19 April lalu, SNP
Finance telah dimohonkan pernyataan pailit. Permohonan itu dilayangkan oleh
Herlina Rahardjo dan Fredi Iman Santoso di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat (PN
Jakpus) dengan nomor perkara 10/Pdt.Sus-Pailit/2018/PN Niaga Jkt.Pst. Sidang
pertama berlangsung pada 2 Mei 2018.
Ketika menanggapi permohonan pailit tersebut, pada 2 Mei 2018, SNP
Finance mengajukan permohonan PKPU di PN Jakpus dengan nomor perkara
52/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Jkt.Pst. Pada 4 Mei 2018, Majelis Hakim Pengadilan
Niaga pada PN Jakpus telah mengabulkan permohonan PKPU Sementara selama
36 hari sampai berita ini tidak diberitakan kembali, manajemen SNP Finance
belum memberikan konfirmasi kepada kontan. Direktur Utama SNP Finance
Donni Satria dan Direktur Keuangan SNP Finance Rudi Asmawi tidak merespons
panggilan maupun pesan singkat kontan.
Kemudian kasus selajutnya terkait dengan masalah audit, mengutip laman
Kementerian Keuangan, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (30/8/2018). Hali ini
juga dikutip dari data resmi Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), dalam
melakukan audit laporan keuangan SNP tahun buku 2012 sampai dengan 2016,
mereka belum sepenuhnya menerapkan pengendalian sistem informasi terkait data
nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan. Akuntan publik tersebut belum

16
menerapkan pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas akun piutang
pembiayaan konsumen dan melaksanaan prosedur yang memadai terkait proses
deteksi risiko kecurangan serta respons atas risiko kecurangan. Di samping itu,
PPPK juga menyatakan sistem pengendalian mutu akuntan publik tersebut
mengandung kelemahan. Pasalnya, sistem belum bisa mencegah ancaman
kedekatan antara personel senior (manajer tim audit) dalam perikatan audit pada
klien yang sama untuk suatu periode yang cukup lama. Kementerian Keuangan
menilai bahwa hal tersebut berdampak pada berkurangnya skeptisisme profesional
akuntan.
Berdasarkan hasil dari pemeriksaan tersebut, maka sanksi administratif
dijatuhkan kepada KAP Marlinna dan Merliyana Syamsul, serta KAP Satrio Bing
Eny (SBE) dan Rekan yang terafiliasi Deloitte Indonesia. Sanksi ini diberlakukan
sehubungan dengan pengaduan Otoritas Jasa Keuangan yang menginformasikan
adanya pelanggaran prosedur audit oleh KAP yang dinyatakan oleh bendahara
negara. Keputusan tersebut muncul setelah kasus pembobolan kredit 14 bank yang
dilakukan SNP Finance dengan nilai kerugian Rp 14 triliun terkuak seperti
diketahui, laporan keuangan tahunan SNP Finance diaudit oleh kedua AP tersebut
dan mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Namun, berdasarkan
hasil pemeriksaan OJK ternyata SNP Finance terindikasi menyajikan laporan
keuangan yang tidak sesuai dengan kondisi keuangan yang sebenarnya.
Laporan keuangan yang telah diaudit tersebut, digunakan SNP Finance
untuk mendapatkan kredit dari perbankan dan menerbitkan surat utang jangka
menegah atau Medium Term Note (MTN). Penerbitan MTN ini berpotensi
mengalami gagal bayar dan menjadi kredit bermasalah, seperti yang dipaparkan
oleh Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK Anto Prabowo,
dalam keterangan resminya pada Senin, 1 Oktober 2018. OJK menjatuhkan sanksi
administratif berupa pembatalan pendaftaran untuk KAP Marlinna dan Merliyana
Syamsul, serta KAP Satrio Bing Eny (SBE) dan Rekan. Pembatalan pendaftaran
ini baru berlaku efektif setelah mereka menyelesaikan audit Laporan Keuangan
Tahunan Audit (LKTA) 2018 atas klien yang masih memiliki kontrak dan KAP ini
juga dilarang untuk menambah klien baru. Selain itu, Kementerian Keuangan

17
hukuman bagi Kantor Akuntan Publik Satrio Bing, Eny & Rekan (Deloitte
Indonesia) diberi sanksi berupa rekomendasi untuk membuat kebijakan dan
prosedur dalam sistem pengendalian mutu akuntan publik terkait ancaman
kedekatan anggota tim perikatan senior. Deloitte Indonesia juga diwajibkan
mengimplementasikan kebijakan dan prosedur serta melaporkan pelaksanaannya
paling lambat 2 Februari 2019.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Keuangan Hadiyanto
mengatakan sanksi diberikan untuk memperbaiki KAP Marlinna dan Merliyana
Syamsul. "Sanksi administratif diberikan untuk membuat kebijakan dan prosedur
dalam sistem pengendalian mutu akuntan publik yang lebih baik," katanya di
Gedung DPR, Selasa (26/9). Berdasarkan koordinasi OJK dengan Kementerian
Keuangan melalui Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK), KAP Marlinna
dan Merliyana Syamsul tersebut dinilai telah melakukan pelanggaran berat dan
telah dikenakan sanksi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Kementerian
Keuangan menilai bahwa hal tersebut berdampak pada berkurangnya skeptisisme
profesional akuntan. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, Kementerian
Keuangan menjatuhkan sanksi administratif kepada mereka berupa pembatasan
pemberian jasa audit terhadap entitas jasa keuangan selama 12 bulan yang mulai
berlaku tanggal 16 September 2018 sampai dengan 15 September 2019. Selain itu,
OJK menilai KAP Marlinna dan Merliyana Syamsul telah melakukan pelanggaran
berat sehingga melanggar Peraturan OJK (POJK) Nomor 13/POJK.03/2017
tentang Penggunaan Jasa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik. Ada tiga hal
yang menjadi dasar pertimbangan OJK ketika mengenakan sanksi tersebut.
Pertama, dua orang akuntan publik tersebut dianggap telah memberikan opini
yang tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Kedua, besarnya
kerugian industri jasa keuangan dan masyarakat yang ditimbulkan atas opini AP
terhadap Laporan Keuangan SNP Finance. Ketiga, OJK khawatir kepercayaan
masyarakat terhadap sektor jasa keuangan menurun akibat dari kualitas penyajian
laporan keuangan tahunan oleh akuntan publik.

2. Kronologis Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance)

18
1) Perusahaan pembiayaan milik Grup Columbia, PT Sunprima Nusantara
Pembiayaan (SNP Finance) gagal membayar kupon Medium Term Notes
(MTN) V SNP Tahun 2017 Tahap II dengan tepat waktu. Pada saat
bersamaan, SNP Finance juga tengah menghadapi proses Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
2) Laporan keuangan yang telah diaudit tersebut, digunakan SNP Finance
untuk mendapatkan kredit dari perbankan dan menerbitkan surat utang
jangka menegah atau Medium Term Note (MTN).
3) SNP Finance menerbitkan MTN V/2017 Tahap II pada Februari 2018 lalu.
MTN bertenor 24 bulan yang akan jatuh tempo pada 9 Februari 2020 itu
menawarkan kupon 10,5% per tahun. Terjadinya kegagalan pembayaran
bunga MTN V Tahap II, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) pada Rabu
(9/5), menurunkan peringkat utang SNP Finance dari CCC menjadi SD
alias selective default sehingga Pefindo juga menurunkan peringkat MTN V
SNP Tahun 2017 Tahap II menjadi D alias default dari sebelumnya CCC.
4) Pada 19 April 2018, SNP Finance telah dimohonkan pernyataan pailit.
Permohonan itu dilayangkan oleh Herlina Rahardjo dan Fredi Iman
Santoso di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat (PN Jakpus) dengan nomor
perkara 10/Pdt.Sus-Pailit/2018/PN Niaga Jkt.Pst. Sidang pertama
berlangsung pada 2 Mei 2018.

3. Analisis Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance)


3.1 Pelanggaran yang dilakukan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP
Finance)
1) SNP Finance menerbitkan MTN V/2017 Tahap II pada Februari
2018.
2) Kegagalan pembayaran bunga MTN V Tahap II, Pemeringkat Efek
Indonesia (Pefindo) pada Rabu (9/5), menurunkan peringkat utang SNP
Finance dari CCC menjadi SD alias selective default sehingga Pefindo
juga menurunkan peringkat MTN V SNP Tahun 2017 Tahap II menjadi D
alias default dari sebelumnya CCC.

19
3) Pembobolan kredit 14 bank yang dilakukan SNP Finance dengan
nilai kerugian Rp 14 triliun.

3.2 Kelalaian yang dilakukan KAP Satrio Bing Eny & Rekan
Kelalaian yang dilakukan oleh KAP Satrio Bing Eny & Rekan adalah
laporan keuangan tahunan SNP Finance yang diaudit oleh Kantor Akuntan Publik
(KAP) Satrio Bing Eny dan Rekan oleh dua orang akuntan publik, yakni Marlinna
dan Merliyana Syamsul memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada
SNP Finance walaupun diketahui telah terjadi kasus pembobolan kredit 14 bank
yang dilakukan SNP Finance dengan nilai kerugian Rp 14 triliun.

3.3 Dampak dari Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance)


3.3.1 Dampak bagi Masyarakat
Akibat dari dilakukannya pembobolan kredit 14 bank, maka masyarakat
menjadi tidak percaya untuk menjadi pelanggan pada SNP Finance.

3.3.2 Dampak bagi Pemerintah


Adanya kecurangan yang dilakukan toko SNP Finance terkait laporan
keuangan yang telah diaudit tersebut, digunakan SNP Finance untuk mendapatkan
kredit dari perbankan dan menerbitkan surat utang jangka menegah atau Medium
Term Note (MTN), maka dalam hal ini memberi dampak pada pemerintah bahwa
negara mengalami kerugian administrasi negara seperti yang diungkap oleh
bendahara negara.

3.3.3 Dampak bagi Investor


Investor yang menanamkan modal pada SNP Finance, tentu mengalami
kerugian secara finansial akibat pelaggaran bisnis karena peringkat utang SNP
Finance dari A menjadi CCC dan menempatkan peringkat SNP Finance pada
"Credit Watch dengan Implikasi Negatif".

20
3.4 Tindakan yang Seharusnya dilakukan KAP Satrio Bing Eny & Rekan
1) Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio Bing Eny dan Rekan oleh dua orang
akuntan publik (AP) dari KAP tersebut, yakni Marlinna dan Merliyana
Syamsul seharusnya tidak memberikan opini wajar tanpa pengecualian
kepada SNP Finance yang mempunyai motif mencari keuntungan yang
merugikan masyarakat, pemerintah, dan investor.
2) Auditor Marlinna dan Merliyana Syamsul seharusnya memiliki sikap
independen terhadap SNP Finance selaku pihak klien yang diaudit dengan
tidak melakukan pelanggaran kode etik profesi dan ingkar dari tanggung
jawab terhadap profesi.
3) Penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama yang
menekankan pada tanggung jawab professional auditor berdasarkan
standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan terkait dengan tindakan
yang dilakukan oleh auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaan
tersebut, seperti keseksamaan dalam hal kertas kerja audit yang menunjang
opini auditor berdasarkan pedoman standar auditing.
4) Auditor harus memiliki sikap integritas, dimana tindakan ini dapat
menunjang rasa percaya publik terhadap pendapat yang kita berikan.
Integritas ini mengharuskan seorang auditor untuk bersikap jujur.
5) Auditor harus bertindak secara objektif terhadap klien yang akan diaudit.
Sikap objek merupakan suatu sikap yang mengharuskan auditor bersikap
adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias,
serta bebas dari benturan kepentingan atau berada di bawah pengaruh
pihak lain, sehingga laporan audit yang dihasilkan akan dapat diterima
oleh publik.

21