Anda di halaman 1dari 38

STEP 1

1. APGAR Score : Metode sederhana untuk menilai keadaan umum bayi setelah
dilahirkan. Terdapat 5 kriteria : warna kulit, bunyi jantung, respon reflex, tonus
otot, pernafasan. Interpretasi : 0-3 asfiksia berat, 4-6asfiksia ringan, 7-
10normal
2. Hyaline membrane disease : Nama lain dari sindrom gawat nafas (RPD)
keterlambatan maturitas paru-paru
3. Skor ballard dan Dubowitz :
 Skor ballard : menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian
neuromuscular dan fisik
 Skor Dubowitz : penilaian ballard menggunakan sistem dari dubowitz
4. Kurva lubschenko dan nelhause :
 Kurva lubschenko : kurva untuk menentukan pertumbuhan bayi meliputi
berat, panjang, dan ukuran kepala
 Kurva nelhause : kurva untuk menilai lingkar kepala dari bayi lahir
hingga berumur 18 tahun

STEP 2
1. Mengapa ketika bayi lahir tidak langsung menangis?
2. Mengapa GDS bayi 32 mg/dL? Apa nilai normalnya?
3. Mengapa dr. mengatakan adaptasi intrauterine dan ekstrauterin dari bayi buruk?
4. Bagaimana kriteria asfiksia?
5. Bagaimana cara melakukan resusitasi pada bayi dan apa saja indikasi resusitasi?
6. Apa interpretasi dari Apgar Score?
7. Apa pathogenesis dari scenario?
8. Bagaimana hubungan BMI ibu dengan kasus di scenario?
9. Mengapa bayi diberikan terapi infus dan NGT?
10. Apa faktor resiko dari makrosomia?
11. Apa saja DX dan DD dan bagaimana alur dx nya?
12. Apa penatalaksanaan dari scenario?
13. Jelaskan periode pertumbuhan dan perkembangan pada neonatus!
14. Jelaskan pentingnya kecukupan gizi neonatus!
15. Bagaimana penggunaan skor ballard dan Dubowitz, juga kurva lubschenko dan
nelhause?
16. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan dari bayi makrosomia?
17. Apa yang dimaksud dengan hyaline membrane disease dan bagaimana interpretasi
dari masing-masing grade?

STEP 7
1. Mengapa ketika bayi lahir tidak langsung menangis?
FISIOLOGI PERNAPASAN: TRANSISI INTRA KE EKSTRAUTERIN
 Sebelum lahir, seluruh oksigen yang digunakan oleh janin berasal dari
difusi darah ibu ke darah janin melewati membran plasenta. Hanya
sebagian kecil darah janin yang mengalir ke paruparu janin. Paru janin
tidak berfungsi sebagai jalur transportasi O2 atau ekskresi CO2 ataupun
keseimbangan asam basa pada janin. Paru-paru janin mengembang dalam
uterus akan tetapi kantung-kantung udara yang akan menjadi alveoli berisi
cairan bukan udara. Selain itu pembuluh arteriol konstriksi (mengkerut)
karena tekanan parsial oksigen (PO2) pada janin rendah. Sebelum lahir,
sebagian besar darah dari sisi kanan jantung tidak dapat memasuki paru
karena resistensi yang lebih rendah yaitu melewati duktus arteriosus
menuju aorta.
 Setelah lahir, bayi tidak lagi terhubung dengan plasenta dan akan
bergantung pada paru-paru sebagai sumber oksigen. Oleh sebab itu dalam
hitungan detik, cairan paru dalam alveoli harus diserap. Paru-paru harus
terisi udara yang mengandung oksigen dan pembuluh darah paru harus
membuka untuk meningkatkan aliran darah ke alveoli sehingga oksigen
dapat diabsorpsi dan dibawa ke seluruh tubuh
PERUBAHAN NORMAL SETELAH KELAHIRAN, meliputi
a. Cairan dalam alveoli diserap ke pembuluh limfe paru dan digantikan oleh
udara
b. Arteri umbilikalis konstriksi, kemudian arteri dan vena umbilikalis
menutup ketika tali pusat dijepit
c. Pembuluh darah paru relaksasi sehingga tekanan terhadap aliran darah
menurun karena mengembangnya alveoli oleh udara yang berisi oksigen
sehingga kadar oksigen dalam alveoli meningkat
MASALAH YANG DAPAT MENGGANGGU TRANSISI NORMAL
a. Paru tidak terisi udara meskipun sudah ada pernapasan spontan (ventilasi
tidak adekuat)
b. Tidak terjadi peningkatan tekanan darah sistemik (hipotensi sistemik)
c. Arteri pulmonal tetap konstriksi setelah kelahiran karena sebagian atau
seluruh paru gagal mengembang atau karena kekurangan oksigen sebelum/
selama persalinan (hipertesi pulmonal persisten neonatus)

Bila transisi normal tidak terjadi, cadangan oksigen ke jaringan berkurang


dan arteri di usus, ginjal, otot, dan kulit akan konstriksi. Suatu refleks pertahanan
hidup akan berusaha mempertahankan atau meningkatkan aliran darah ke jantung
dan otak untuk mempertahankan stabilitas pasokan oksigen. Redistribusi aliran
darah ini mempertahankan fungsi organ-organ vital. Akan tetapi, jika kekurangan
oksigen berlanjut, fungsi miokardial dan curah jantung akan mengalami
penurunan, tekanan darah menurun dan aliran darah ke semua organ juga akan
berkurang (irreversibel) sehingga menyebabkan kerusakan organorgan lain atau
kematian
2. Mengapa GDS bayi 32 mg/dL? Apa nilai normalnya?
3. Mengapa dr. mengatakan adaptasi intrauterine dan ekstrauterin dari bayi buruk?
System pernafasan :
 Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui
plasenta.
 Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru bayi.
 Sebelum terjadi pernafasan, neonatus dapat mempertahankan hidupnya dalam
keadaan anoksia lebih lama karena ada kelanjutan metabolisme anaerobik.
 Rangsangan untuk gerakan yang pertama :
1. Tekanan mekanis dari toraks sewaktu melewati jalan lahir
2. Penurunan paO2 dan kenaikan paCO2 merangsang kemoreseptor yang
terletak di sinus koratikus
3. Rangsangan dingin didaerah muka dapat merangsang permulaan gerakan
pernafasan.
4. Refleks deflasi Hering Breur
 Selama ekspirasi, setelah inspirasi dengan tekanan positif, terlihat suatu
inspiratory gasp
 Respirasi pada masa neonatus terutama diafragmatik dan abdominal dan
biasanya masih tidak teratur dalam hal frekuensi an dalamnya pernafasan
 Setelah paru berfungsi, pertukaran gas dalam paru sam dengan pada orang
dewasa, tetapi oleh karena bronkiolus relatif kecil, mudah terjadi air trapping.

B. System peredaran darah :


 Pada masa fetus darah dari plasenta melalui vena umbilikalis sebagian ke hati,
sebagian langsung ke serambi kiri jantung kemudian ke bilik kiri jantung.
 Dari bilik kiri darah di pompa melalui aorta ke seluruh tubuh. Dari bilik kanan
darah di pompa sebagian ke paru dan sebagian ke duktus arteriosus ke aorta.
 Setelah bayi lahir, paru akan berkembang mengakibatkan tekanan arteriil dalam
paru menurun.
 Tekanan dalam jantung kanan turun, sehingga tekanan jantung kiri lebih besar
daripada tekanan jantung kanan, yang mengakibatkan menutupnya foramen ovale
secara fungsional.
 Hal ini terjadi pada jam-jam pertama setelah kelahiran. Oleh karena tekanan
dalam paru turun dan tekanan dalam aorta desenden naik dan pula karena
rangsangan biokimia (PaO2 yang naik), duktus arteriosis berobliterasi.
 Hal ini terjadi pada hari pertama. Aliran darah paru pada hari pertama ialah 4-5
liter/menit/m2. aliran darah sistemik pada hari pertama rendah , yaitu 1.96
liter.menit/m2 dan bertambah pada hari kedua dan ketiga (3.54 liter/menit/m2)
karena penutupan duktus arteriosus.
 Tekanan darah pada waktu lahir dipengaruhi oleh jumlah darah yang melalui
transfusi plasenta dan pada jam-jam pertama sedikit menurun, untuk kemudian
naik lagi dan menjadi konstan kira-kira 85/40 mmHg.
B. System gastrointestinal :
 Traktus digestivus pada neonatus relatif lebih berat dan lebih panjang
dibandingkan dengan orang dewasa
 Pada neonatus traktus digestivus mengandung zat yang berwarna hitam
kehijauan yang terdiri dari mukopolisakarida dan disebut mekonium
 Pengeluaran mekonium biasanya dalam 10 jam pertama dan dalam 4 hari
biasanya tinja sudah berbentuk dan berwarna biasa
 Enzim dalam traktus digestivus biasnya sudah terdapat pada neonatus, kecuali
amilase pankreas
 Aktifitas enzim proteolitik pada neonatus dengan berat badan lahir 4000gr
besarnya 6 kali aktifitas enzim tersebut pada neonatus dengan berat badan lahir
1000gr
 Aktifitas lipase telah ditemukan pada fetus 7-8 bulan
 Pada bayi prematur, aktifitas lipase masih kurang bila dibandingkan dengan
bayi cukup bulan
C. System endokrin :
 Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu.
 Pada waktu bayi baru lahir, kadang-kadang hormone tersebut masih berfungsi,
misalnya dapat dilihat pembesaran kelenjar air susu pada bayi laki-laki ataupun
perempuan. Kadang-kadang dapat dilihat gejala ‘withdrawal’, misalnya
pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai haid dari bayi perempuan.
 Kelenjar adrenal pada waktu lahir relative lebih besar bila dibandingkan
dengan orang dewasa (0,2% dari berat badan dibandingkan dengan 0,1% dari
berat badan pada orang dewasa)
 Kelenjar tiroid sudah sempurna terbentuk sewaktu lahir dan sudah mulai
berfungsi sejak beberapa bulan sebelum lahir.
D. Hati
 Kenaikan kadar protein
 Penurunan kadar lemak dan glikogen
 Enzim hati blm bgtu aktif, misalnya enzim dehidrogenase UDPG dan
transferase glukoronil srg kurang shg neonatus memperlihatkan gejala ikterus
fisiologis
 Detoksifikasi jg blum sempurna, pemberian kloramfenikol dng dosis
>50mg/kgBB/hari dpt menimbulkan ’gray baby syndrome’
E. Metabolisme
 Pd jam2 pertama, energi didapatkan dari pembakaran karbohidrat
 Pd hari ke dua energi berasal dari pembakaran lemak
 Stlah mendapat susu pd hari ke enam, energi 60% didapatkan dr lemak dan
40% dr karbohidrat
F. Keseimbangan asam basa
 pH darah saat lahir rendah krn glikolisis anaerobik
G. SSP
 Sewaktu lahir fungsi motorik terutama ialah subkortikal
 Mielinisasi tjd setelah bayi berumur 2bulan
H. Imunoglobulin
 Pd neonatus tdk terdapat sel plasma pd sumsum tulang dan lamina propria
ileum dan apendiks
 Pd bayi baru lahir, hanya tdp globulin gama G, yaitu imunologi dr ibu yg
didapat mell plasenta krn berat molekulnya kecil
 Ig dlm colostrum berguna sbg proteksi lokal dlm traktus digestivus, misalnya
utk strain E.coli
(IKA, Buku Kuliah 3, Cetakan ke sebelas, 2007, FKUI)
1. Perbedaan Intrauterin dan Ekstrauterin
Intrauterine Ekstrauterine
Lingkungan Cairan Udara
fisik
Suhu luar Pada Berubah – ubah
umumnya
tetap
Gizi Tergantung Tergantung
pada zat – zat pada
gizi yang tersedianya
terdapat bahan makanan
dalam darah dan
ibu kemampuan
saluran cerna
Penyediaan Berasal dari Berasal dari
oksigen ibu ke janin paru – paru ke
melalui pembuluh paru
plasenta – paru
Pengeluaran Dikeluarkan Dikeluarkan
hasil ke sistem melalui paru –
metabolism peredaran paru, kulit,
darah ibu ginjal, dan
saluran
pencernaan
Stimulasi Terutama Bermacam –
sensoris kinestetik atau macam stimuli
vibrasi
(Tumbuh Kembang Anak, Soetjiningsih)
 Proses adaptasi bayi dari intrauterine ke ekstra uterina
o Factor yang mempengaruhi perubahan fungsi
a) maturasi  mempersiapkan fetus untuk transisi dari kehidupan intrauterine ke
ekstrauterin dan hal ini berhubungan erat dengan masa gestasi dibandingkan berat
badan lahir
b) adaptasi  diperlukan oleh neonatus untuk dapat tetap hidup dalam
lingkungan baru
c) toleransi  misalnya keadaan hipoksia, kadar gula darah rendah, perubahan
pH darah yang dratis bisa ditoleransi oleh fetus
o RespirasiSelama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas
melalui plasenta, tapi setelah lahir perukaran gas melalui paru-paru. Rangsangan
untuk gerakan pernapasan
o Tekanan mekanis dari toraks sewaktu melalui jalan lahir
o Penurunan paO2 dan kenaikan paCO2 merangsang kemoreseptor yang terletak
di sinus karotikus
o Rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang permulaan gerakan
napas
o Refleks deflasi Hering Breur
o Metabolisme
o Pada jam pertama  energi didapatkan dari pembakaran karbohidrat
o Pada hari ke dua  energi didapatkan dari pembakaran lemak
o Lebih kurang pada hari keenam  mendapat susu sehingga energi didapat
dari lemak 60 % dan 40% dari karbondioksiida
o Jantung dan sirkulasi darah
o Fetus  dari plasenta mll vena umbilikalis
o Lahirparu berkembang, tek arterii dlm paru menurun,tek jantung kiri > tek
jantung kanan shg foramen ovale menutup.
o Traktus digestivus
o Pd neonatus mengandung zat yang berwarna hitam kehijauan : mekonium
o Keluar dlm 10jam pertama dan dlm 4hari tinja sdah berbentuk dan berwarna
biasa.
o Hati
o Stlah lahir  terjadi kenaikan kadar protein dan penurunan kadar lemak dan
glikogen
o Produksi panasBila suhu sekitar turun aktifitas otot, shivering, non
shivering dan thermogenesis (NST) pembakaran ’brown fat’.
o Keseimbangan asam-basapH darah waktu lahir rendah krn glikolisis
anaerobik
o Keseimbangan air dan fungsi ginjal
o Bayi baru lahir banyak kadar air dan kadar natrium > kalium.
o Fungsi ginjal blm sempurna : jmlh nefronmatur belum banyak, ada
ketidakseimbangan antara luas permukaan glomerulus dan volume tubulus
proksimal, renal blood flow kurang
o Kelenjar endokrin
o Uterus dpt hormon dari ibu
o Bayi lahir kdng hormon masih berfungsi, kelenjar tiroidsudah sempurna.
o Susunan saraf pusat
o Stlh lahir  jmlh cairan otak berkurang,lemak dan protein
bertambahmielinisasi  bayi berumur 2 bulan
o Imunoglobulin
o Neonatus  tdk ada sel plasma pada sumsum tulang dan lamina propria ileum
dan apendiks
o Bayi lahir hanya mendapat Ig G dari ibu mll plasenta
o Bila ada virus, reaksi imunologi dapat terjadi dgn pembentukan sel plasma dan
IgA,IgG,IgM.
Sumber : buku ajar IKA jilid 3 oleh staf pengajar IKA FK UI hal 1037-1039
4. Bagaimana kriteria asfiksia?
 Vigorous baby.
Skor APGAR 7 – 10 .dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak
memerlukan tindakan istimewa
 Mild moderate asphyxia (asfiksia sedang)
skor APGAR 4 – 6.Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung
> 100 / menit , tonus otot kurang baik atau baik , sianosis , refleks
iritabilitas tdk ada
 Asfiksia berat
Skor APGAR 0 – 3.Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung
<100/menit , tonus otot buruk , sianosis berat dan kadang2 pucat , refleks
iritabilitas tdk ada
a. asfiksia berat dengan henti jantung
Dimaksudkan dengan henti jantung ialah keadaan :
i. bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit
sebelum lahir lengkap
ii. bunyi jantung bayi menghilang postpartum
(Buku Ilmu Kesehatan Anak, jilid 3, Staf pengajar FK UI
hal 1076 )
 Asfiksia Livida ( biru )
 Asfiksia Pallida ( putih )

PERBEDAAN ASFIKSIA PALLIDA ASFIKSIA LIVIDA

Warna Kulit Pucat Kebiru – kebiruan

Tonus otot Sudah kurang Masih baik

Reaksi rangsangan Negative Positif

Bunyi jantung Tak teratur Masih teratur

Prognosis Jelek Labih baik

5. Bagaimana cara melakukan resusitasi pada bayi dan apa saja indikasi resusitasi?
 Indikasi
Kondisi yang memerlukan resusitasi neonatus misalnya :
a. Sumbatan jalan napas : akibat lendir / darah / mekonium, atau akibat lidah
yang jatuh ke posterior.
b. Kondisi depresi pernapasan akibat obat-obatan yang diberikan kepada ibu
misalnya obat anestetik, analgetik lokal, narkotik, diazepam, magnesium
sulfat, dan sebagainya
c. Kerusakan neurologis
d. Kelainan / kerusakan saluran napas atau kardiovaskular atau susunan saraf
pusat, dan / atau kelainan-kelainan kongenital yang dapat menyebabkan
gangguan pernapasan / sirkulasi
e. Syok hipovolemik misalnya akibat kompresi tali pusat atau perdarahan
resusitasi lebih penting diperlukan pada menit-menit pertama kehidupan.
Jika terlambat, bisa berpengaruh buruk bagi kualitas hidup individu
selanjutnya.
(www.geocities.com)
 Tujuan atau prinsip dasar
Prisip dasar :
a. Memberikan lingkungan yang baik pada byi dan mengusahakan saluran
nafas tetap bebas serta merangsang timbulnya pernafasan , yaitu agar
oksigenasi dan pengeluaran CO2 berjalan lancar
b. Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi yang menunjukkan
usaha pernafasan lemah
c. Melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi
d. Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik
(Sumber : buku ajar IKA jilid 3 oleh staf pengajar IKA FK UI
hal 1077-1078)
 Penilaian status klinik
digunakan penilaian apgar untuk menentukan keadaan bayi pada menit ke
1 dan ke 5 sesudah lahir.
Nilai pada menit pertama : untuk menentukan seberapa jauh diperlukan
tindakan resusitasi. Nilai ini berkaitan dengan keadaan asidosis dan
kelangsungan hidup.
Nilai pada menit kelima : untuk menilai prognosis neurologik.

Ada pembatasan dalam


penilaian apgar ini, yaitu :
1. Resusitasi segera dimulai
bila diperlukan, dan tidak
menunggu sampai ada
penilaian pada menit
pertama.
2. Keputusan perlu-
tidaknya resusitasi maupun penilaian respons resusitasi dapat cukup
dengan menggunakan evaluasi frekuensi jantung, aktifitas respirasi dan
tonus neuromuskular, daripada dengan nilai apgar total. Hal ini untuk
menghemat waktu.

Perencanaan berdasarkan
perhitungan nilai apgar
1. Nilai apgar menit pertama
7 - 10 : biasanya bayi hanya
memerlukan tindakan
pertolongan berupa
penghisapan lendir / cairan
dari orofaring dengan menggunakan bulb
syringe atau suction unit tekanan rendah. Hati-hati, pengisapan yang
terlalu kuat / traumatik dapat menyebabkan stimulasi vagal dan
bradikardia sampai henti jantung.
2. Nilai apgar menit pertama 4 - 6 : hendaknya orofaring cepat diisap dan
diberikan o2 100%. Dilakukan stimulasi sensorik dengan tepokan atau
sentilan pada telapak kaki dan gosokan selimut kering pada
punggung. Frekuensi jantung dan respirasi terus dipantau ketat. Bila
frekuensi jantung menurun atau ventilasi tidak adekuat, harus diberikan
ventilasi tekanan positif dengan kantong resusitasi dan sungkup
muka. Jika tidak ada alat bantu ventilasi, gunakan teknik pernapasan
buatan dari mulut ke hidung-mulut.
3. Nilai apgar menit pertama 3 atau kurang : bayi mengalami depresi
pernapasan yang berat dan orofaring harus cepat diisap. Ventilasi
dengan tekanan positif dengan o2 100% sebanyak 40-50 kali per
menit harus segera dilakukan. Kecukupan ventilasi dinilai dengan
memperhatikan gerakan dinding dada dan auskultasi bunyi napas. Jika
frekuensi jantung tidak meningkat sesudah 5-10 kali napas, kompresi
jantung
harus
dimulai.
Frekuensi :
100 sampai
120 kali
per menit,
dengan 1
kali ventilasi setiap 5 kali kompresi (5:1).

Jika frekuensi jantung tetap di bawah


100 kali per menit setelah 2-3 menit,
usahakan melakukan intubasi
endotrakea.

Gunakan laringoskop dengan daun


lurus (magill). Gunakan stilet untuk
menuntun jalan pipa.
Stilet jangan sampai keluar dari
ujung pipa. Posisi pipa diperiksa
dengan auskultasi.
Kalau frekuensi jantung tetap kurang dari 100 setelah intubasi, berikan 0.5
- 1 ml adrenalin (1:10.000). Dapat juga secara intrakardial atau
intratrakeal, tapi lebih dianjurkan secara intravena.
Jika tidak ada ahli yang berpengalaman untuk memasang infus pada vena
perifer bayi, lakukan kateterisasi vena atau arteri umbilikalis pada tali
pusat, dengan kateter umbilikalis. Sebelum penyuntikan obat, harus
dipastikan ada aliran darah yang bebas hambatan. Dengan demikian
pembuluh tali pusat dibuat menjadi drug/fluid transport line.

Jangan memasukkan larutan hipertonik seperti glukosa 50% atau natrium


bikarbonat yang tidak diencerkan melalui vena umbilikalis, karena dapat
merusak parenkim hati.
(www.geocities.com)
 Langkah-langkah
(Buku Ajar Neonatologi, Cetakan Pertama, 2008, IDAI)
6. Apa interpretasi dari Apgar Score?
Pembagian asfiksia neonatorum :
 Vigorous baby
Skor APGAR 7 – 10 .dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak
memerlukan tindakan istimewa
 Mild moderate asphyxia (asfiksia sedang)
skor APGAR 4 – 6.Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung
> 100 / menit , tonus otot kurang baik atau baik , sianosis , refleks
iritabilitas tdk ada
 Asfiksia berat
Skor APGAR 0 – 3.Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung
<100/menit , tonus otot buruk , sianosis berat dan kadang2 pucat , reflex
iritabilitas tidak ada
a. Asfiksia berat dengan henti jantung
Dimaksudkan dengan henti jantung ialah keadaan :
i. Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit
sebelum lahir lengkap
ii. Bunyi jantung bayi menghilang postpartum
(Buku Ilmu Kesehatan Anak, jilid 3, Staf pengajar
FK UI hal 1076 )
7. Apa pathogenesis dari scenario?
Makrosomia adalah bayi yang dilahirkan dengan berat badan lebih dari 4000
gr. Dari berbagai penelitian didapatkan informasi bahwa hiperinsulinisme dan
peningkatan penggunaan zat makanan dapat mengakibatkan peningkatan ukuran
badan janin. Hiperglikemia maternal dapat merangsang hiperglikemia dan
hiperinsulinisme janin, sehingga menyebabkan terjadinya makrosomia.
Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat
yang menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui.
Glukosa dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga
kadarnya dalam darah janin hampir menyerupai kadar glukosa darah Ibu. Ketika
insulin Ibu tidak dapat mencapai janin, maka kadar glukosa darah Ibu juga akan
mempengaruhi kadar glukosa darah pada janin. Saat kehamilan, plasenta
memproduksi hormon insulin untuk dapat memenuhi kebutuhan glikogen pada
janin. Pada Ibu dengan diabetes militus, produksi insulin plasenta akan
meningkatkan sejumlah glukosa darah yang masuk melalui sawar plasenta.
Glukosa darah yang tinggi pada Ibu akan menimbulkan respon penambahan kadar
insulin untuk dapat mengubah glukosa menjadi glikogen dalam tubuh janin
Perubahan glukosa menjadi glikogen yang berlebih akan disimpan oleh janin
dalam hati, thymus, kelenjar adrenal, otot, serta lemak. Hal tersebut yang memacu
penimbunan lemak dan glikogen serta terjadinya organomegali pada jaringan yang
sensitif terhadap insulin. Kadar glukosa yang berlebih, akan mengakibatkan
banyak glikogen yang diproduksi dan mengakibatkan cadangan glikogen janin
meningkat. Hal tersebut menimbulkan pertumbuhan janin yang melebihi ukuran
seharusnya
Pengaturan fisiologis kadar glukosa darah sebagian besar tergantung dari
ekstrasi glukosa, sintesis glikogen, dan glikogenoksis dalam hati. Sedangkan
pengendalian kadar glukosa terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping
beberapa hormon lain seperti estrogen, steroid dan plasenta laktogen. Glukogen,
epninefrin, glukokortikoid, dan Growth Hormone membentuk suatu mekanisme
Counterregulator yang mencegah timbulnya hipoglikemi akibat pengaruh insulin
pasif. Akibat lambatnya penyerapan makanan maka terjadi hiperglikemi yang
relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin. Menjelang aterm kebutuhan
insulin meningkat sehingga mencapai 3 kali dari keadaan normal, hal ini disebut
tekanan diabetogenik dalam kehamilan. Secara fisiologis telah terjadi resistensi
insulin yaitu bila ditambah dengan insulin eksogen, maka tidak mudah menjadi
hipoglikemia. Tetapi bila seorang Ibu tidak mampu meningkatkan produksi
insulin (hipoinsulin), maka dapat mengakibatkan hiperglikemi atau diabetes
kehamilan (diabetes yang timbul hanya dalam kehamilan). Resistensi insulin juga
disebabkan oleh adanya hormon estrogen, progresteron, kortisol, prolaktin, dan
plasenta laktogen. Hormon tersebut mempengaruhi reseptor insulin pada sel
sehingga mengurangi afinitas insulin
8. Bagaimana hubungan BMI ibu dengan kasus di scenario?
9. Mengapa bayi diberikan terapi infus dan NGT?
10. Apa faktor resiko dari makrosomia?
Makrosomia disebabkan oleh beberapa hal, yaitu terjadinya hiperglikemia dan
hiperinsulinisme pada janin (akibat hiperglikemia Ibu), kehamilan dengan Indeks
Masa Tubuh (IMT) Ibu di atas normal, Ibu obesitas, dan bayi lewat bulan.
Terdapat tiga faktor utama penyebab makrosomia yaitu faktor genetik, kenaikan
berat badan Ibu yang berlebihan karena pola makan yang berlebih, dan Ibu
hamil yang menderita diabetes mellitus.
Faktor genetik berperan dalam menyebabkan kelahiran makrosomia. Orangtua
yang tinggi dan gemuk tentunya lebih berpeluang melahirkan bayi berukuran
besar pula. Ibu hamil dengan berat badan berlebih, baik sebelum hamil ataupun
mengalami pertambahan berat badan yang pesat selama kehamilan, juga perlu
memantau dan mengendalikan berat badannya. Pasalnya, wanita obesitas berisiko
lebih besar melahirkan bayi makrosomia. Data menyebutkan, sekitar 15- 30%
wanita yang melahirkan bayi makrosomia memiliki berat badan 90 kg atau lebih
Saat hamil, gula darah Ibu cenderung meningkat, kadar gula darah yang tidak
terkontrol inilah yang dapat memicu pertumbuhan janin menjadi besar. Terdapat
hubungan antara kadar gula darah Ibu selama masa kehamilan dengan berat bayi
lahir, dimana Ibu dengan kadar gula darah tinggi memiliki resiko untuk
melahirkan bayi makrosomia sebanyak 10,8 kali lebih besar dibandingkan dengan
Ibu yang memiliki kadar gula darah normal. Oleh karena itu, Ibu hamil dianjurkan
untuk memeriksakan kadar gula darahnya selama masa kehamilan dan
mengontrolnya agar selalu dalam batas normal
 Diabetes Melitus pada Ibu
Diabetes melitus ibu pada waktu kehamilan disebut juga diabetes
gestasional sesuai kriteria ADA adalah ibu hamil dengan gula darah puasa
≥5.3 mmol/L atau 95 mg/dL atau gula darah 1 jam ≥10.0 mmol/L atau 180
mg/dL atau gula darah 2 jam ≥8.6 mmol/L atau 155 mg/dL. Insidensi
penyakit membran hialin cukup tinggi pada bayi baru lahir dengan ibu
yang menderita dibetes mellitus. Kelebihan insulin pada bayi mengganggu
axis glukokortikoid yang mengatur fungsi dan sintesis surfaktan. Sintesis
surfaktan yang berperan penting dalam terjadinya penyakit membran
hialin dipengaruhi oleh hormon insulin yang cenderung menghambat
fungsi surfaktan. Hal ini menjelaskan mengapa bayi baru lahir dari ibu
yang menderita diabetes melitus beresiko terkena penyakit membran
hialin.
 Komplikasi
Kelahiran makrosomia dapat membahayakan janin itu sendiri. Bentuk
komplikasi yang terjadi misalnya adalah distorsia bahu, peningkatan
cedera lahir, insiden kelainan kongenital, tingkat depresi nilai Apgar yang
lebih tinggi, dimasukkannya bayi ke dalam perawatan intensif neonatus,
serta peningkatan risiko kelebihan berat badan pada masa selanjutnya
Bayi makrosomia berisiko mengalami hypoglikemia, hypocalsemia,
hyperviskocity, dan hyperbilirubinemia. Selain itu, bayi makrosomia
berisiko tinggi mengalami obesitas di kehidupan selanjutnya, hal tersebut
merupakan masalah yang sangat serius karena penyakit-penyakit yang
terkait obesitas termasuk dalam penyebab utama morbiditas dan mortalitas
di banyak populasi
11. Apa saja DX dan DD dan bagaimana alur dx nya?
Alur Diagnosis
 Anamnesis : Gangguan/ kesulitan waktu lahir, lahir tidak bernafas atau
menangis.
 Pemeriksaan fisik: Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan
kelanjutan dari anoksia atau hipoksia janin.Diagnosis anoksia atau hipoksia janin
dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya tanda-tanda gawat janin.
Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu :
a. Denyut jantung janinPeningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak
banyak artinya, akan tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per
menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda
bahaya.
b. Mekonium dalam air ketubanMekonium pada presentasi sungsang tidak ada
artinya, akan tetapi pada presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan
oksigenisasi dan harus diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada
presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal
itu dapat dilakukan dengan mudah.
c. Pemeriksaan pH darah janinDengan menggunakan amnioskop yang
dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan
diambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis
menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu
dianggap sebagai tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia
d. Dilakukan pemantauan nilai APGAR pada menit ke-1 dan menit ke-5, bila
nilai APGAR 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit
sampai skor mencapai 7. Nilai APGAR berguna untuk menilai keberhasilan
resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai
resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis.
 Pemeriksaan penunjang :
a. Foto polos dada
b. USG kepala
c. Laboratorium : darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit
 Pemeriksaan diagnostik:
a. Analisa gas darah
b. Elektrolit darah
c. Gula darah
d. Baby gram (rontgen dada)
e. USG (kepala)
12. Apa penatalaksanaan dari scenario?
13. Jelaskan periode pertumbuhan dan perkembangan pada neonatus!
A. Tahap Pertumbuhan
Masa neonatus dibagi menjadi 2, yaitu:
 Masa Portunate
Masa portunate pada bayi berlangsung antara 15 - 30 menit pertama
sejak bayi lahir sampai tali pusatnya dipotong.
Tindakan-tindakan atau bantuan yang diberikan pada bayi baru lahir
(BBL) antara lain :
 Membersihkan muka bayi, daerah mata, hidung dan mulut
 Melaksanakan penilaian APGAR Skor pada menit pertama dan menit
kedua. APGAR Skor meliti A=Apperence (Warna Kulit), Pulse = Denyut
Jantung, Gremace (Kepekaan Refleks), A=Activity (Tonus Otot-
Keaktifan Bayi), R= Respiratory (Usaha Nafas-Pernafasan)
 Membebaskan jalan nafas bayi dengan cara ; menghisap lendir, darah,
air ketuban yang terhisap bayi.
 Memotong tali pusat bayi yang terhubung dengan ari-ari sehingga ibu
dan bayi terpisah, mengikat dan merawat tali pusat.
 Membersihkan badan bayi dari segala kotoran dengan menggunakan
minyak, air hangat, sabun.
 Membungkus badan bayi agar tidak kedinginan.
 Membawa bayi ke ibunya untuk disusukan dan agar ibu lebih kenal
lebih dini dengan bayinya.
 Melaksanakan pengukuran anthropometris bayi meliputi panjang
badan, berat badan, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar lengan.
 Melakukan pemeriksaan pada seluruh tubuh bayi untuk mengetahui
apakah bayi lahir dalam kondisi cacat/tidak yang meliputi pemeriksaan
pada ; anus, sekitar kepala, anggota gerak dan anggota tubuh lainnya.
 Memberi dan memakaikan pakaian bayi
 Memasang dan memberi identitas bayi dan merawat mata dalam
keadaan bersih, rapi dan terbungkus hangat bayi dibawa ke ruang
perawatan.
 Masa Neonate
Masa neonate berlangsung pada saat pengguntingan tali pusat,
anak menjadi individu yang terpisah dan "berdiri sendiri".
Masa ini ditandai dengan penyesuaian terhadap lingkungan baru.
Menurut kriteria kesehatan penyesuaian tercapai ditandai dengan
terlepasnya tali pusat. Sedangkan menurut kriteria psikologi, penyesuaian
tercapai apabila telah mencapai kembali berat badan yang berkurang
setelah lahir dan mulai menampakkan tanda-tanda kemajuan
perkembangan dalam tingkah laku (masa plateu).
4 (empat) pemnyesuaian utama yang harus dilakukan sebelum anak dapat
memperoleh kemajuan perkembangan tingkah laku, yaitu :
 Perubahan suhu dalam rahim ibu dengan suhu lingkungan
 Perubahan pernafasan, sebelum lahir bayi bernafas dengan plasenta
dan setelah lahir bernafas dengan paru-paru.
 Menghisap dan menelan sebagai cara untuk memperoleh makanan
yang semula dari plasenta melalui tali pusat.
 Cara pembuangan melalui organ-organ sekresi yang mana sebelum
lahir melalui plasenta dan tali pusat.
Keempat proses penyesuaian tersebut terlihat dengan menurunnya
berat badan fisiologis selama minggu pertama.
Hari pertama sampai dengan minggu kedua dari kelahiran, berat badan
bayi akan menurun karena bayi mulai kehilangan cairan melalui buang air
besar dan kecil, melalui keringat, uap air melalui pernafasan sedangkan
pemasukan tidak mencukupi, sebab pemasukan air susu ibu (ASI) masih
kurang.
Turunnya berat badan tersebut disebut penurunan berat badan
fisiologis apabila penurunan berat badan tersebut tidak boleh lebih dari 10
% dari berat badan lahir.
Pada masa neonatus, bayi akan lebih banyak tidur dan untuk
mempertahankan hidupnya neontaus diperalati dengan beberapa
kemampuan-kemampuan antara lain :
 Insting
Insting adalah suatu kemampuan yang telah ada sejak lahir, bersifat
psikofisis (mempunyai segi psikis dan fisik/jasmani) yang tujuan
utamanya adalah memberikan reaksi terhadap lingkungan dengan
rangsangan yang khas dan terjadi tanpa belajar. Misalanya ; reaksi
menyusui, kebutuhan akan rasa aman, insting sosial yang memungkinkan
anak berkomunikasi dengan lingkungan misalnya senyum bila ibu
mengajak bayi bicara.
 Reflek
Refleks adalah suatu gerakan yang terjadi secara otomatis/spontan
tanpa disadari pada bayi yang normal.
Perkembangan motorik bayi diawali dengan reflek-reflek yang
sebagian sudah terjadi dalam kandungan. Reflek-reflek ini akan
berkurang sejalan dengan pertumbuhan usianya.
Macam-macam reflek pada bayi antara lain :
 Tonic Neck reflek (reflek tonus leher) adalah gerakan spontan otot
kuduk pada bayi normal dimana bila bayi ditengkurapkan, maka secara
spontak bayi akan memiringkan kepalanya.
 Rooting reflek (reflek menghisap) adalah merupakan reflek terpenting
dimana apabila ada sesuatu yang menyentuh daerah sekitar mulut bayi,
maka bayi akan membuka mulutnya dan memiringkan kepalanya ke arah
yang menyentuh.
 Graps reflek (reflek menggenggam), apabila tangan kita menyentuh
telapak tangan bayi, maka bayi akan berusaha menggenggam tangan kita
dengan kuat. Reflek ini juga berlaku pada kedua kaki. Reflek ini akan
menghilang setelah bayi melewati bulan-bulan pertama.
 Moro Reflek, Menurut pengertian para ahli, reflek moro adalah suatu
reaksi emosional yang timbul di luar kemauan atau kesadaran bayi.
Reflek ini akan timbul atau muncul ketika bayi diangkat atau direnggut
secara kasar dari gendongannya. Bayi seolah-olah mendekatkan tubuhnya
pada orang yang mendekpanya. Reflek ini sering diikuti tangisan keras
dari bayi. Reflek moro tidak mempunyai fungsi yang nyata dan akan
hilang dengan sendirinya dalam waktu yang relatif singkat.
 Kemampuan untuk belajar.
 Masa Neonatus (lahir-14 hari)
Setelah lahir, bayi mengalami periode neonatus, yaitu periode bayi
yang baru lahir (neonate) hingga berusia 10–14 hari. Selama masa ini,
bayi harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang seluruhnya baru di
luar rahim ibu. Pertumbuhan untuk sementara terhenti.
 Penampilan Fisis
Perbandingan berbagai bagian tubuh bayi baru lahir sangat berlainan
dengan proporsi janin, balita, anak besar atau dewasa; ukuran kepalanya
relatif besar, muka berbentuk bundar, mandibula kecil, dada lebih bundar,
dan batas antrieor posterior kurang mendatar, abdomen lebih membuncit,
ekstrimitas relatif lebih pendek.
Berat badan bayi baru lahir adalah kira-kira 3000 g, biasanya anak
laki-laki lebih berat dari anak perempuan. Lebih kurang 95% bayi cukup
bulan mempunyai berat badan antara 2500 – 4500 g.
Panjang badan rata-rata waaktu lahir adalah 50 cm, lebih kurang 95%
diantaranya menunjukkan panjang badan sekitar 45 –55 cm.
Pertumbuhan fisik adalah hasil dari perubahan bentuk dan fungsi dari
organism.
1. Pertumbuhan janin intrauterine
Pertumbuhan pada masa janin merupakan pertumbuhan yang paling
pesat yang dialami seseorang dalam hidupnya. Dinamika
pertumbuhan antenatal ini sangat menakjubkan yaitu sejak konsepsi
sampai lahir. Pada masa embrio yaitu 8 minggu pertama kehamilan, sel
telur yang telah dibuahi berdiferensiasi secara tepat menjadi organisme
yang mempunyai bentuk anatomis seperti manusia. Pada sistem-sistem
tertentu organogenesis diteruskan sampai lebih dari 8 minggu.
2. Pertumbuhan setelah lahir
a. Berat badan
Pada bayi yang lahir cukup bulan, berat badan waktu lahir akan
kembali pada hari ke 10. Berat badan menjadi 2 kali berat badan waktu
lahir pada bayi umur 5 bulan, mejadi 3 kali berat badan lahir pada umur 1
tahun, dan menjadi 4 kali berat badan lahir pada umur 2 tahun. Pada masa
prasekolah kenaikan berat badan rata-rata 2 kg/tahun. Kemudian
pertumbuhan konstan mulai berakhir dan dimulai“ pre adolescent growth
spurt” ( pacu tumbuh pra adolesen ) dengan rata-rata kenaikan berat
nadan adalah 3-3,5 kg/tahun, yang kemudian dilanjutkan dengan
“ adolescent growth spurt” ( pacu tumbuh adolesen ). Dibandingkan
dengan anak laki-laki , “growth spurt” ( pacu tumbuh ) anak perempuan
dimulai lebih cepat yaitu sekitar umur 8 tahun, sedangkan anak laki-laki
baru pada umur sekitar 10 tahun. Tetapi pertumbuhan anak perempuan
lebih cepat berhenti adripada anak laki-laki. Anak perempuan umur 18
tahun sudah tidak tumbuh lagi, sedsangkan anak laki-laki baru berhenti
tumbuh pada umur 20 tahun. Kenaikan berat badan anak pada tahun
pertama kehidupan, kalau anak mendapat gizi yang baik, adalah berkisar
anatara :
700 – 1000 gram/bulan pada triwulan I
500 – 600 gram/bulan pada triwulan II
350 – 450 gram/bulan pada triwulan III
250 – 350 gram/bulan pada triwulan IV
b. Tinggi badan
Tinggi badan rata-rata pada waktu lahir adalah 50 cm. Secara garis
besar, tinggi badan anak dapat diperkirakan, sebagai berikut :
1 tahun 1,5 x TB lahir
4 tahun 2 x TB lahir
6 tahun 1,5 x TB setahun
13 tahun 3 x TB lahir
Dewasa 3,5 x TB lahir ( 2 x TB 2 tahun )
Menurut Berhman,1992 adalah sebagai berikut :
 Lahir : 50 cm
 Umur 1 tahun : 75 cm
 2-12 tahun : umur (tahun) x 6 + 77
Dilihat dari proporsi antara kepala, badan, serta anggota gerak maka
akan tampak perbedaan yang jelas antara janin, anak-anak dan dewasa,
yaitu sebagai berikut :
 pada waktu janin umur 2 bulan, kepala tampak besar dan memanjang,
dimana ukuran panjang kepala hampir sama panjang badan ditambah
tungkai bawah. Anggota gerak sangat pendek.
 Pada waktu lahir, kepala relatif masih besar, muka bulat, ukuran
antero-posterior dada masih lebih besar, perut membuncit dan anggota
gerak relatif lebih pendek. Sebagai titik tengah tinggi badannya adalah
setinggiumbilikus.
 Pada dewasa anggota gerak lebih panjang dan kepala secara
proporsional kecil, sehingga sebagai titik tengah adalah setinggi
simfisis pubis.
 Masa bayi (2 minggu– 2 tahun)
Secara bertahap, bayi belajar mengendalikan ototnya agar dapat bergantung
pada dirinya sendiri. Sistem saraf mulai berkembang mendukung perkembangan
otot untuk membentuk sistem kesadaran awal. Kapasitas otak meningkat untuk
memicu aktivitas respon, terutama merespon pada hal-hal yang dilihat.
 Masa kanak-kanak (2 tahun–pubertas/remaja)
 Masa kanak-kanak dini (2–6 tahun)
Masa ini merupakan masa prasekolah/prakelompok. Anak mulai berusaha
mengendalikan lingkungannya dan menyesuaikan diri secara sosial. Keterampilan
fisik sudah mulai tampak berupa aktivitas aktif
 Akhir masa kanak-kanak
Pada periode ini, kematangan organ seksual mulai terjadi dan memasuki masa
remaja yang berbeda-beda untuk setiap jenis kelamin. Perempuan
mengalalaminya pada usia 6–13 tahun, sedangkan laki-laki pada usia 12–14
tahun. Perkembangan utamanya adalah sosialisasi pada masa sekolah
atau kelompok.
 Masa remaja atau pubertas
Pubertas merupakan masa yang tumpang tindih antara masa akhir kanak-
kanak dan masa remaja awal. Masa puber berlangsung antara usia 11–15 tahun
pada wanita dan 12–16 tahun pada laki-laki. Pada masa ini, perubahan fisik yang
cukup nyata terjadi terutama pada wanita. Ciri pubertas pada laki-laki berarti
dimulainya produksi sperma (sel kelamin jantan) dari kematangan organ
reproduksi. Tanda kematangan organ reproduksi ini adalah peristiwa “mimpi
basah” yang dialami oleh setiap laki-laki. Tanda-tanda kelamin sekunder
yang muncul, yaitu menguatnya otot-otot tubuh, bertambahnya ukuran tulang
menjadikan tubuh bertambah tinggi dan besar. Selain itu, rambut-rambut halus,
seperti kumis, di ketiak atau pubis (rambut kemaluan) mulai tumbuh, dan suara
menjadi terdengar lebih berat. Bagi wanita, perubahan fisik yang terjadi, yaitu
pinggul dan payudara membesar, kematangan organ reproduksi, serta
tumbuh rambut halus di area kemaluan.
Selain itu, haid (mentruasi) terjadi pertama kali pada usia 10–16 tahun. Saat
haid pertama kali datang dinamakan menarche, yaitu puncak dari serangkaian
perubahan seorang gadis yang sedang menginjak dewasa. Perubahan
timbul karena serangkaian interaksi antara beberapa kelenjar di dalam tubuh.
Pengendali utama haid adalah hypothalamus. Selama haid, hypothalamus
mengirim sejumlah faktor pencetus FSH (Follicle Stimulating Hormone) atau
hormon yang menstimulasi pertumbuhan folikel ovarium kepada kelenjar bawah
otak yang membuat FSH. Jumlah FSH dalam darah meningkat dan
merangsang sel-sel folikel telur tumbuh dan membentuk estrogen
sehingga kandungan estrogen dalam darah meningkat. Estrogen
merangsang penebalan dinding rahim. Sementara itu, di dalam ovarium
diproduksi sel telur. Setelah matang, dilepas ke saluran telur (tuba fallopi) menuju
ke rahim. Pembuahan biasanya terjadi dalam tuba fallopi. Jika sel telur yang
menuju rahim tidak dibuahi maka sel telur akan keluar melalui vagina bersama
luruhan dinding rahim yang banyak mengandung pembuluh darah. Peristiwa
seperti inilah yang disebut haid atau mentruasi. Pola haid pada setiap wanita
berbeda-beda dan biasanya terbentuk secara teratur dalam waktu 4–6 tahun sejak
menarche (kira-kira pada usia 17–19 tahun). Haid umumnya datang sebulan sekali
dan terputus ketika mengandung serta berhenti ketika usia 45 tahun. Siklus haid
dihitung sejak hari pertama haid hingga hari terakhir sebelum haid berikutnya.
Kebanyakan siklus haid wanita sekitar 22–35 hari dengan rata-rata 28 hari.
 Masa dewasa
Masa dewasa merupakan masa pertumbuhan fisik berhenti. Organ-organ tubuh
telah mengalami kematangan termasuk tingkat berpikir dan mentalnya. Pada masa
ini, setiap manusia biasanya berpikir untuk mencari pekerjaan, menikah, dan
menjalani tugas kehidupannya dengan baik
 Masa tua (manula)
Masa ini ditandai dengan terjadinya penurunan fungsi fisiologis organ-organ
tubuh. Kulit mulai berubah menjadi keriput dan rambut berubah menjadi putih
(uban). Kerja sel-sel tulang pun mulai tidak aktif sehingga rentan akan
osteoporosis (tulang rapuh). Pada masa ini, wanita akan mengalami menopause,
yaitu berhentinya fungsi organ reproduksi yang ditandai dengan berhentinya
siklus menstruasi. Secara terus menerus, penuaan fisik berlanjut, keseimbangan
serta fungsi alat-alat tubuh tidak berjalan dengan baik sampai
mengalami kematian. Keenam masa tahapan perkembangan manusia di atas
secara alamiah akan dialami oleh setiap manusia
B. Tahap Perkembangan
Menurut Hurlock dalam bukunya yang berjudul Child Development,
perkembangan anak dibagi menjadi 5 periode, yaitu :
 periode pra lahir yang dimulai dari saat pembuahan sampai lahir.
Pada periode ini terjadi perkembangan fisiologis yang sangat cepat
yaitu pertumbuhan seluruh tubuh secara utuh.
 Periode neonatus adalah masa bayi yang baru lahir. Masa ini
terhitung mulai 0 sampai dengan 14 hari. Pada periode ini bayi
mengadakan adaptasi terhadap lingkungan yang sama sekali baru
untuk bayi tersebut yaitu lingkungan di luar rahim ibu.
 Masa bayi adalah masa bayi berumur 2 minggu sampai 2 tahun.
Pada masa ini bayi belajar mengendalikan ototnya sendiri sampai
bayi tersebut mempunyai keinginan untuk mandiri
 Masa kanak-kanak terdiri dari 2 bagian yaitu masa kanak-kanak
dini dan akhir masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak dini adalah
masa anak berusia 2 sampai 6 tahun, masa ini disebut juga masa
pra sekolah yaitu masa anak menyesuaikan diri secara sosial. Akhir
masa kanak-kanak adalah anak usia 6 sampai 13 tahun, biasa
disebut sebagai usia sekolah.
 Masa puber adalah masa anak berusia 11 sampai 16 tahun. Masa
ini termasuk periode yang tumpang tindih karena merupakan 2
tahun masa kanak-kanak akhir masa awal remaja. Secara fisik
tubuh anak pada periode ini berubah menjadi tubuh orang dewasa.
14. Jelaskan pentingnya kecukupan gizi neonatus!
Gizi (nutrients) merupakan ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk
melakukan fungsinya, yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara
jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan. Disamping untuk kesehatan,
gizi dikaitkan dengan potensi ekonomi seseorang, karena gizi berkaitan dengan
perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas kerja
Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh, zat gizi terbagi menjadi
dua, yaitu zat gizi makro dan zat gizi mikro. Zat gizi makro adalah zat gizi yang
dibutuhkan dalam jumlah besar. Zat gizi yang termasuk kelompok zat gizi makro
adalah karbohidrat, lemak, dan protein. Zat gizi mikro adalah zat gizi yang
dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah kecil atau sedikit tetapi ada dalam makanan.
Zat gizi yang termasuk kelompok zat gizi mikro adalah mineral dan vitamin.
Energi dalam makanan terutama diperoleh dari karbohidrat, protein, dan
lemak. Energi diperlukan untuk kelangsungan proses-proses di dalam tubuh
seperti proses peredaran dan sirkulasi darah, denyut jantung, pernafasan,
pencernaan, proses fisiologi lainnya, untuk bergerak atau melakukan pekerjaan
fisik. Energi dalam tubuh dapat timbul karena adanya pembakaran karbohidrat,
protein dan lemak, karena itu agar energi tercukupi perlu pemasukan makanan
yang cukup dengan mengkonsumsi makanan yang cukup dan seimbang. Protein
diperlukan oleh tubuh untuk membangun sel-sel yang telah rusak, membentuk zat-
zat pengatur seperti enzim dan hormon, membentuk zat anti energi dimana tiap
gram protein menghasilkan sekitar 4,1 kalori
Protein sebagai pembentuk energi tergantung macam dan jumlah bahan
makanan yang dikonsumsi. Untuk menentukan nilai energi dan protein dalam
tubuh dapat memperhatikan angka-angka protein tiap bahan makanan. Konsumsi
makanan seseorang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan makan yaitu tingkah laku
manusia dalam memenuhi kebutuhannya akan makan yang meliputi sikap,
kepercayaan dan pemilihan makanan
Konsumsi makanan merupakan faktor utama yang berperan terhadap status
gizi seseorang. Metode pengukuran konsumsi pangan untuk individu, antara lain
metode recall 24 jam, metode estimated food recall, metode penimbangan
makanan (food weighing), metode dietary history, dan metode frekuensi makanan
(food frequency)
Angka Kecukupan Gizi (AKG) adalah banyaknya zat-zat minimal yang
dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan status gizi yang adekuat. AKG yang
dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing kelompok
umur, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, kondisi khusus (hamil dan
menyusui) dan aktivitas fisik
Angka kecukupan zat gizi individu dapat diperoleh dari perbandingan antara
asupan zat gizi dengan standar angka kecukupan gizi seseorang
Klasifikasi tingkat konsumsi dibagi menjadi empat dengan cut of points masing-
masing sebagai berikut : Baik : ≥ 100% AKG
 Sedang : 80-90% AKG
 Kurang : 70-80% AKG
 Defisit : < 70% AKG

Energi
Energi dalam makanan berasal dari nutrisi karbohidrat, protein,
dan lemak. Setiap gram protein menghasilkan 4 kalori, lemak 9 kalori dan
karbohidrat 4 kalori. Distribusi kalori dalam makanan anak yang dalam
keseimbangan diet (balanced diet) ialah 15% berasal dari protein, 35% dari lemak
dan 50% dari karbohidrat. Kelebihan energi yang tetap setiap hari sebanyak 500
kalori, dapat menyebabkan kenaikan berat badan 500 gram dalam seminggu
Protein
Nilai gizi protein ditentukan oleh kadar asam amino esensial.
Akan tetapi dalam praktek sehari-hari umumnya dapat ditentukan dari asalnya.
Protein hewani biasanya mempunyai nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan
dengan protein nabati. Protein telur dan protein susu biasanya dipakai sebagai
standar untuk nilai gizi protein.
Nilai gizi protein nabati ditentukan oleh asam amino yang kurang (asam amino
pembatas), misalnya protein kacang-kacangan. Nilai protein dalam makanan
orang Indonesia sehari-hari umumnya diperkirakan 60% dari pada nilai gizi
protein telur
Lemak
Lemak merupakan komponen struktural dari semua sel-sel
tubuh, yang dibutuhkan oleh ratusan bahkan ribuan fungsi fisiologis tubuh. Lemak
terdiri dari trigliserida, fosfolipid dan sterol yang masing-masing mempunyai
fungsi khusus bagi kesehatan manusia. Sebagian besar (99%) lemak tubuh adalah
trigliserida. Trigliserida terdiri dari gliserol dan asam-asam lemak. Disamping
mensuplai energi, lemak terutama trigliserida, berfungsi menyediakan cadangan
energi tubuh, isolator, pelindung organ dan menyediakan asam-asam lemak
esensial
Vitamin & Mineral
Pada dasarnya dalam ilmu gizi, nutrisi atau yang lebih dikenal
dengan zat gizi dibagi menjadi 2 macam, yaitu makronutrisi dan mikronutrisi.
Makronutrisi terdiri dari protein, lemak, karbohidrat dan beberapa mineral yang
dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang besar. Sedangkan mikronutrisi
(mikronutrient) adalah nutrisi yang diperlukan tubuh dalam jumlah sangat sedikit
(dalam ukuran miligram sampai mikrogram), seperti vitamin dan mineral
vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan tubuh
dalam jumlah sangat kecil. Vitamin dibagi menjadi 2 kelompok yaitu vitamin
yang larut dalam air (vitamin B dan C) dan vitamin yang tidak larut dalam air
(vitamin A, D, E dan K).
Mineral merupakan bagian dari tubuh dan memegang peranan
penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh, baik pada tingkat sel, jaringan, organ
maupun fungsi tubuh secara keseluruhan, berperan dalam berbagai tahap
metabolisme, terutama sebagai kofaktor dalam aktivitas enzim-enzim
15. Bagaimana penggunaan skor ballard dan Dubowitz, juga kurva lubschenko dan
nelhause?
 Skor Ballard & Dubowitz
Ballard score merupakan suatu versi sistem Dubowitz. Pada prosedur
ini penggunaan kriteria neurologis tidak tergantung pada keadaan bayi
yang tenang dan beristirahat, sehingga lebih dapat diandalkan selama
beberapa jam pertama kehidupan. Penilaian menurut Ballard adalah
dengan menggabungkan hasil penilaian maturitas neuromuskuler dan
maturitas fisik. Kriteria pemeriksaan maturitas neuromuskuler diberi skor,
demikian pula kriteria pemeriksaan maturitas fisik. Jumlah skor
pemeriksaan maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan,
kemudian dengan menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa
gestasinya
A. Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur
intrinsiknya bersamaan dengan hilangnya bertahap lapisan
pelindung, yang kaseosa vernix. Oleh karena itu, mengental,
mengering dan menjadi kusut dan / atau kulit, dan mungkin
mengembangkan ruam sebagai pematangan janin berlangsung.
Fenomena ini dapat terjadi di berbagai langkah pada janin individu
tergantung di bagian atas kondisi ibu dan lingkungan intrauterin.
Sebelum pengembangan epidermis dengan perusahaan stratum
korneum, kulit transparan dan mematuhi agak ke jari pemeriksa.
Kemudian menghaluskan, mengental dan menghasilkan pelumas,
dengan vernix, yang menghilang menjelang akhir kehamilan.
Pada jangka panjang dan pasca-panjang, janin dapat mengalihkan
mekonium ke dalam cairan ketuban. Hal ini dapat menambahkan
efek untuk mempercepat proses pengeringan, menyebabkan
mengelupas, retak, dehidrasi, dan menanamkan sebuah perkamen,
kemudian kasar, penampilan untuk kulit. Untuk tujuan penilaian,
alun-alun yang menggambarkan kulit bayi yang paling dekat harus
dipilih
B. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus menutupi tubuh janin. Dalam
ketidakdewasaan ekstrim, kulit tidak memiliki apapun lanugo. Hal
ini mulai muncul di sekitar minggu 24 sampai 25 dan biasanya
berlimpah, terutama di bahu dan punggung atas, pada minggu 28
kehamilan. Penipisan terjadi pertama di atas punggung bawah,
mengenakan pergi sebagai kurva tubuh janin maju ke posisinya
matang, tertekuk. Daerah kebotakan muncul dan menjadi lebih
besar dari daerah lumbo-sakral. Pada sebagian besar janin kembali
tanpa lanugo, yaitu, bagian belakang adalah sebagian besar botak.
Variabilitas dalam jumlah dan lokasi lanugo pada usia kehamilan
tertentu mungkin disebabkan sebagian ciri-ciri keluarga atau
nasional dan untuk pengaruh hormonal, metabolisme, dan gizi
tertentu. Sebagai contoh, bayi dari ibu diabetes khas memiliki
lanugo berlimpah di pinnae mereka dan punggung atas sampai
mendekati atau melampaui penuh panjang kehamilan. Untuk tujuan
penilaian, pemeriksa memilih alun-alun yang paling dekat
menggambarkan jumlah relatif lanugo pada daerah atas dan bawah
dari punggung bayi.
C. Garis Telapak Kaki
Bagian ini berhubungan dengan kaki besar lipatan di telapak kaki.
Penampilan pertama dari lipatan muncul di telapak anterior di bola
kaki. ini mungkin berhubungan dengan fleksi kaki di rahim, tetapi
dikontribusikan oleh dehidrasi kulit. Bayi non-kulit putih asal telah
dilaporkan memiliki lipatan kaki sedikit pada saat lahir. Tidak ada
penjelasan yang dikenal untuk ini. Di sisi lain, percepatan
dilaporkan jatuh tempo neuromuskuler pada bayi hitam biasanya
mengkompensasi ini, mengakibatkan pembatalan efek lipatan kaki
tertunda. Oleh karena itu, biasanya tidak ada over-atau di bawah-
perkiraan usia kehamilan karena ras ketika total skor dilakukan.
Bayi sangat prematur dan sangat tidak dewasa tidak memiliki
lipatan kaki terdeteksi. Untuk lebih membantu menentukan usia
kehamilan ini bayi, mengukur panjang kaki atau tumit-jari jarak
sangat membantu. Hal ini dilakukan dengan menempatkan kaki
bayi pada pita pengukur metrik dan mencatat jarak dari belakang
tumit ke ujung jari kaki yang besar.
 Untuk tumit-jari jarak kurang dari 40 mm, mencetak dua
dikurangi (-2) diberikan;
 bagi mereka antara 40 dan 50 mm, skor minus satu (-1).
D. Payudara
Tunas payudara terdiri dari jaringan payudara yang dirangsang
untuk tumbuh dengan estrogen ibu dan jaringan lemak yang
tergantung pada status gizi janin. pemeriksa catatan ukuran areola
dan kehadiran atau tidak adanya stippling (diciptakan oleh papila
berkembang dari Montgomery). Pemeriksa kemudian palpates
jaringan payudara di bawah kulit dengan memegangnya dengan ibu
jari dan telunjuk, memperkirakan diameter dalam milimeter, dan
memilih alun-alun yang sesuai pada lembar skor. Di bawah-dan
over-gizi janin dapat mempengaruhi variasi ukuran payudara pada
usia kehamilan tertentu. Efek estrogen ibu dapat menghasilkan
ginekomastia neonatus pada kedua hari keempat kehidupan
ekstrauterin.
E. Mata / Telinga
Pinna dari telinga janin perubahan itu konfigurasi dan peningkatan
konten tulang rawan sebagai kemajuan pematangan. Penilaian
meliputi palpasi untuk ketebalan tulang rawan, kemudian melipat
pinna maju ke arah wajah dan melepaskannya. Pemeriksa mencatat
kecepatan yang pinna dilipat terkunci kembali menjauh dari wajah
ketika dirilis, kemudian memilih alun-alun yang paling dekat
menggambarkan tingkat perkembangan cartilagenous.
Pada bayi yang sangat prematur, pinnae mungkin tetap terlipat
ketika dirilis. Pada bayi tersebut, pemeriksa mencatat keadaan
pembangunan kelopak mata sebagai indikator tambahan
pematangan janin. Pemeriksa tempat ibu jari dan telunjuk pada
kelopak atas dan bawah, dengan lembut memindahkan mereka
terpisah untuk memisahkan mereka. Bayi yang sangat belum
dewasa akan memiliki kelopak mata menyatu erat, yaitu,
pemeriksa tidak akan dapat memisahkan fisura palpebra baik
dengan traksi lembut. Bayi sedikit lebih dewasa akan memiliki satu
atau kedua kelopak mata menyatu tetapi satu atau keduanya akan
sebagian dipisahkan oleh traksi cahaya ujung jari pemeriksa.
temuan ini akan memungkinkan pemeriksa untuk memilih pada
lembar:
 skor dua dikurangi (-2) untuk sedikit menyatu, atau
 minus satu (-1) untuk longgar atau kelopak mata sebagian
menyatu.
Pemeriksa tidak perlu heran menemukan variasi yang luas dalam
status kelopak mata fusi pada bayi individu pada usia kehamilan
tertentu, karena nilai kelopak mata un-fusi dapat dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang terkait dengan stres intrauterin dan humoral
tertentu.
F. Genitalia Pria
Testis janin mulai turun mereka dari rongga peritoneum ke dalam
kantong skrotum pada sekitar minggu 30 kehamilan. Testis kiri
kanan mendahului dan biasanya memasuki skrotum pada minggu
ke-32. Kedua testis biasanya teraba di atas untuk menurunkan
kanal inguinalis pada akhir minggu ke-33 untuk ke-34 kehamilan.
Bersamaan, kulit skrotum mengental dan mengembangkan rugae
lebih dalam dan lebih banyak. Testis ditemukan di dalam zona
rugated dianggap turun. Dalam prematuritas ekstrim skrotum ini
datar, halus dan muncul dibedakan seksual. Pada jangka panjang
untuk pasca-panjang, skrotum dapat menjadi terjumbai dan benar-
benar dapat menyentuh kasur ketika bayi terletak terlentang.
Catatan: Dalam kriptorkismus benar, skrotum pada sisi yang
terkena tampak tidak berpenghuni, hipoplasia dan dengan rugae
terbelakang dibandingkan dengan sisi yang normal, atau, untuk
kehamilan tertentu, ketika bilateral. Dalam kasus seperti itu, sisi
normal harus mencetak gol, atau jika bilateral, skor yang serupa
dengan yang diperoleh untuk kriteria kematangan lain harus
diberikan.
G. Genitalia Wanita
Untuk memeriksa bayi perempuan, pinggul harus hanya sebagian
diculik, yaitu, sekitar 45 ° dari horizontal dengan bayi berbaring
telentang. Penculikan berlebihan dapat menyebabkan klitoris dan
labia minora untuk tampil lebih menonjol, sedangkan adduksi
dapat menyebabkan labia majora untuk menutupi atas mereka.
Dalam prematuritas ekstrim, labia dan klitoris yang datar sangat
menonjol dan mungkin menyerupai lingga laki-laki. Sebagai
pematangan berlangsung, klitoris menjadi kurang menonjol dan
labia minora menjadi lebih menonjol. Menjelang panjang, baik
klitoris dan labia minora surut dan akhirnya diselimuti oleh labia
majora memperbesar. Labia mayora mengandung lemak dan
ukuran mereka dipengaruhi oleh nutrisi intrauterin. Lebih-gizi
dapat menyebabkan labia majora besar di awal kehamilan,
sedangkan di bawah-gizi, seperti pada retardasi pertumbuhan
intrauterin atau pasca-jatuh tempo, dapat mengakibatkan labia
majora kecil dengan klitoris relatif menonjol dan labia minora larut
kehamilan. Temuan ini harus dilaporkan seperti yang diamati,
karena skor yang lebih rendah pada item ini dalam kronis stres atau
pertumbuhan janin terhambat dapat diimbangi dengan skor lebih
tinggi pada neuro-otot item tertentu
 Maturitas Neuromuskuler
A. Postur
Otot tubuh total tercermin dalam sikap yang disukai bayi saat
istirahat dan ketahanan untuk meregangkan kelompok otot
individu. Sebagai pematangan berlangsung, janin meningkat secara
bertahap mengasumsikan nada fleksor pasif yang berlangsung
dalam arah sentripetal, dengan ekstremitas bawah sedikit di depan
ekstremitas atas. Bayi prematur terutama pameran dilawan nada
ekstensor pasif, sedangkan istilah bayi mendekati menunjukkan
nada fleksor semakin kurang menentang pasif. Untuk mendapatkan
item postur, bayi ditempatkan terlentang (jika ditemukan rawan)
dan pemeriksa menunggu sampai bayi mengendap dalam posisi
santai atau disukai. Jika bayi ditemukan telentang manipulasi,
lembut (fleksi jika diperpanjang, memperpanjang jika tertekuk)
dari ekstremitas akan memungkinkan bayi untuk mencari posisi
dasar kenyamanan. Fleksi pinggul tanpa hasil penculikan di posisi
katak-kaki seperti yang digambarkan dalam postur persegi #
3. Fleksi hip diiringi penculikan digambarkan oleh sudut lancip di
pinggul di alun-alun postur #
4. Sosok yang paling dekat menggambarkan postur disukai bayi
dipilih.
B. Jendela pergelangan tangan
Pergelangan fleksibilitas dan / atau resistensi terhadap ekstensor
peregangan bertanggung jawab untuk sudut yang dihasilkan dari
fleksi pada pergelangan tangan.
Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi dan berlaku tekanan lembut
pada dorsum tangan, dekat jari-jari. Dari pra-sangat panjang untuk
pasca-panjang, sudut yang dihasilkan antara telapak tangan dan
lengan bawah bayi diperkirakan; > 90 °, 90 °, 60 °, 45 °, 30 °, dan
0 °. Alun-alun yang tepat pada lembar skor dipilih.
C. Gerakan lengan membalik
Manuver ini berfokus pada nada fleksor pasif otot bisep dengan
mengukur sudut mundur berikut perpanjangan sangat singkat dari
ekstremitas atas. Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa
tempat satu tangan di bawah siku bayi untuk dukungan.
Mengambil tangan bayi, pemeriksa sebentar set siku dalam fleksi,
maka sesaat meluas lengan sebelum melepaskan tangan. Sudut
mundur yang lengan mata air kembali ke fleksi dicatat, dan alun-
alun yang sesuai dipilih pada lembar skor. Bayi yang sangat
prematur tidak akan menunjukkan apapun mundur lengan. #
4 persegi dipilih hanya jika ada kontak antara kepalan bayi dan
wajah. Ini terlihat dalam jangka panjang dan bayi pasca. Perawatan
harus diambil untuk tidak memegang lengan dalam posisi
diperpanjang untuk jangka waktu lama, karena hal ini
menyebabkan kelelahan fleksor dan menghasilkan skor yang palsu
rendah karena untuk mundur fleksor miskin.
D. Sudut popliteal
Manuver ini menilai pematangan nada fleksor pasif sendi lutut
dengan pengujian untuk ketahanan terhadap perpanjangan
ekstremitas bawah. Dengan berbaring telentang bayi, dan dengan
popok kembali bergerak, paha ditempatkan lembut pada perut bayi
dengan lutut tertekuk penuh. Setelah bayi telah rileks dalam posisi
ini, pemeriksa lembut menggenggam kaki di sisi dengan satu
tangan sementara mendukung sisi paha dengan lainnya. Perawatan
diambil tidak untuk mengerahkan tekanan pada paha belakang,
karena hal ini dapat mengganggu fungsi mereka. Kaki
diperpanjang sampai resistensi pasti untuk ekstensi dihargai. Pada
beberapa bayi, kontraksi hamstring dapat digambarkan selama
manuver ini. Pada titik ini terbentuk pada sudut lutut oleh atas dan
kaki bagian bawah diukur.
Catatan:
a) Hal ini penting bahwa pemeriksa menunggu sampai bayi
berhenti menendang aktif sebelum memperpanjang kaki.
b) Posisi terang akan mengganggu kehamilan sungsang dengan ini
manuver untuk 24 sampai 48 jam pertama usia karena kelelahan
berkepanjangan fleksor intrauterin. Tes harus diulang setelah
pemulihan telah terjadi; bergantian, skor yang sama dengan yang
diperoleh untuk item lain dalam ujian dapat diberikan.
E. Scarf Sign (Tanda selendang)
Manuver ini tes nada pasif fleksor tentang korset bahu. Dengan
bayi terlentang berbaring, pemeriksa menyesuaikan kepala bayi
untuk garis tengah dan mendukung tangan bayi di dada bagian atas
dengan satu tangan. ibu jari tangan lain pemeriksa ditempatkan
pada siku bayi.
Pemeriksa dorongan siku di dada, penebangan untuk fleksi pasif
atau resistensi terhadap perpanjangan otot fleksor bahu korset
posterior. Titik pada dada yang siku bergerak dengan mudah
sebelum resistensi yang signifikan dicatat. Tengara mencatat dalam
rangka meningkatkan kematangan adalah:
 jilbab penuh di tingkat leher (-1);
 aksila kontralateral baris (0);
 baris puting kontralateral (1);
 proses xyphoid (2);
 baris puting ipsilateral (3), dan
 aksila ipsilateral baris (4).
F. Tumit ke Telinga
Manuver ini mengukur nada fleksor pasif tentang korset panggul
dengan tes fleksi pasif atau resistensi terhadap perpanjangan otot
fleksor pinggul posterior. Bayi ditempatkan terlentang dan tertekuk
ekstremitas bawah dibawa untuk beristirahat di kasur bersama
bagasi bayi.
Pemeriksa mendukung paha bayi lateral samping tubuh dengan
satu telapak tangan. Sisi lain digunakan untuk menangkap kaki
bayi di sisi dan tarik ke arah telinga ipsilateral.
Para menebang pemeriksa untuk ketahanan terhadap perpanjangan
fleksor panggul korset posterior dan catatan lokasi dari tumit mana
resistensi yang signifikan adalah dihargai. Tengara mencatat dalam
rangka meningkatkan kematangan termasuk resistensi terasa ketika
tumit pada atau dekat:
 telinga (-1);
 hidung (0);
 dagu tingkat (1);
 baris puting (2);
 daerah pusar (3),
 femoralis lipatan (4).
 Kurva Lubschenko

 Kurva Nellhause
16. Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan dari bayi makrosomia?
17. Apa yang dimaksud dengan hyaline membrane disease dan bagaimana interpretasi
dari masing-masing grade?
 Definisi
HMD disebut juga respiratory distress syndrome (RDS) atau Sindroma
Gawat Nafas (SGP) tipe 1, yaitu gawat napas pada bayi kurang bulan yang
terjadi segera atau beberapa saat setelah lahir, ditandai adanya kesukaran
bernafas, (pernafasan cuping hidung, grunting, tipe pernapasan dispnea /
takipnea, retraksi dada, dan sianosis) yang menetap atau menjadi progresif
dalam 48 – 96 jam pertama kehidupan. Penyebabnya adalah kurangnya
surfaktan. Gagal nafas dapat didiagnosa dengan analisis gas darah. Edema
sering didapatkan pada hari ke-2, disebabkan oleh retensi cairan dan
kebocoran kapiler. Diagnosa dapat dikonfirmasi dengan foto rontgen. Pada
pemeriksaan radiologist ditemukan pola retikulogranuler yang uniform,
gambaran ground glass appearance dan air bronchogram. Namun
gambaran ini bukan patognomonik RDS
 Etiologi & Patofisiologi
 Pembentukan Paru & Surfaktan
Pembentukan paru dimulai pada kehamilan 3 - 4
minggu dengan terbentuknya trakea dari esofagus. Pada 24
minggu terbentuk rongga udara yang terminal termasuk
epitel dan kapiler, serta diferensiasi pneumosit tipe I dan II.
Sejak saat ini pertukaran gas dapat terjadi namun jarak
antara kapiler dan rongga udara masih 2 -3 kali lebih lebar
dibanding pada dewasa. Setelah 30 minggu terjadi
pembentukan bronkiolus terminal, dengan pembentukan
alveoli sejak 32 – 34 minggu.
Surfaktan muncul pada paru-paru janin mulai usia
kehamilan 20 minggu tapi belum mencapai permukaan
paru. Muncul pada cairan amnion antara 28-32 minggu.
Level yang matur baru muncul setelah 35 minggu
kehamilan.
Surfaktan mengurangi tegangan permukaan pada
rongga alveoli, memfasilitasi ekspansi paru dan mencegah
kolapsnya alveoli selama ekspirasi. Selain itu dapat pula
mencegah edema paru serta berperan pada sistem
pertahanan terhadap infeksi.
Komponen utama surfaktan adalah
Dipalmitylphosphatidylcholine (lecithin) – 80 %,
phosphatidylglycerol – 7 %, phosphatidylethanolamine – 3
%, apoprotein (surfactant protein A, B, C, D) dan
cholesterol. Dengan bertambahnya usia kehamilan,
bertambah pula produksi fosfolipid dan penyimpanannya
pada sel alveolar tipe II. Protein merupakan 10 % dari
surfaktan., fungsinya adalah memfasilitasi pembentukan
film fosfolipid pada perbatasan udara-cairan di alveolus,
dan ikut serta dalam proses perombakan surfaktan
 Etiologi
Kegagalan mengembangkan functional residual
capacity (FRC) dan kecenderungan dari paru yang terkena
untuk mengalami atelektasis berhubungan dengan tingginya
tegangan permukaan dan absennya phosphatydilglycerol,
phosphatydilinositol, phosphatydilserin,
phosphatydilethanolamine dan sphingomyelin
Pembentukan surfaktan dipengaruhi pH normal, suhu
dan perfusi. Asfiksia, hipoksemia, dan iskemia pulmonal;
yang terjadi akibat hipovolemia, hipotensi dan stress
dingin; menghambat pembentukan surfaktan. Epitel yang
melapisi paru-paru juga dapat rusak akibat konsentrasi
oksigen yang tinggi dan efek pengaturan respirasi,
mengakibatkan semakin berkurangnya surfaktan
 Patofisiologi
Imaturitas paru secara anatomis dan dinding dada yang
belum berkembang dengan baik mengganggu pertukaran
gas yang adekuat. Pembersihan cairan paru yang tidak
efisien karena jaringan interstitial paru imatur bekerja
seperti spons. Edema interstitial terjadi sebagai resultan dari
meningkatnya permeabilitas membran kapiler alveoli
sehingga cairan dan protein masuk ke rongga laveoli yang
kemudian mengganggu fungsi paru-paru. Selain itu pada
neonatus pusat respirasi belum berkembang sempurna
disertai otot respirasi yang masih lemah
Alveoli yang mengalami atelektasis, pembentukan
membran hialin, dan edema interstitial mengurangi
compliance paru-paru; dibutuhkan tekanan yang lebih
tinggi untuk mengembangkan saluran udara dan alveoli
kecil. Dinding dada bagian bawah tertarik karena diafragma
turun dan tekanan intratorakal menjadi negatif, membatasi
jumlah tekanan intratorakal yang dapat diproduksi. Semua
hal tersebut menyebabkan kecenderungan terjadinya
atelektasis. Dinding dada bayi prematur yang memiliki
compliance tinggi memberikan tahanan rendah
dibandingkan bayi matur, berlawanan dengan
kecenderungan alami dari paru-paru untuk kolaps. Pada
akhir respirasi volume toraks dan paru-paru mencapai
volume residu, cencerung mengalami atelektasis
Kurangnya pembentukan atau pelepasan surfaktan,
bersama dengan unit respirasi yang kecil dan berkurangnya
compliance dinding dada, menimbulkan atelektasis,
menyebabkan alveoli memperoleh perfusi namun tidak
memperoleh ventilasi, yang menimbulkan hipoksia.
Berkurangnya compliance paru, tidal volume yang kecil,
bertambahnya ruang mati fisiologis, bertambahnya usaha
bernafas, dan tidak cukupnya ventilasi alveoli menimbulkan
hipercarbia. Kombinasi hiperkarbia, hipoksia, dan asidosis
menimbulkan vasokonstriksi arteri pulmonal dan
meningkatnkan pirau dari kanan ke kiri melalui foramen
ovale, ductus arteriosus, dan melalui paru sendiri. Aliran
darah paru berkurang, dan jejas iskemik pada sel yang
memproduksi surfaktan dan bantalan vaskuler
menyebabkan efusi materi protein ke rongga alveoli
Pada bayi imatur, selain defisiensi surfaktan, dinding
dada compliant, otot nafas lemah dapat menyebabkan
kolaps alveolar. Hal ini menurunkan keseimbangan
ventilasi dan perfusi, lalu terjadi pirau di paru dengan
hipoksemia arteri progresif yang dapat menimbulkan
asidosis metabolik. Hipoksemia dan asidosis menimbulkan
vasokonstriksi pembuluh darah paru dan penurunan aliran
darah paru. Kapasitas sel pnuemosit tipe II untuk
memproduksi surfaktan turun. Hipertensi paru yang
menyebabkan pirau kanan ke kiri melalui foramen ovale
dan duktus arteriosus memperburuk hipoksemia
Aliran darah paru yang awalnya menurun dapat
meningkat karena berkurangnya resistensi vaskuler paru
dan PDA. Sebagai tambahan dari peningkatan permeabilitas
vaskuler, aliran darah paru meningkat karena akumulasi
cairan dan protein di interstitial dan rongga alveolar.
Protein pada rongga alveolar dapat menginaktivasi
surfaktan
Berkurangnya functional residual capacity (FRC) dan
penurunan compliance paru merupakan karakteristik HMD.
Beberapa alveoli kolaps karena defisiensi surfaktan,
sementara beberapa terisi cairan, menimbulkan penurunan
FRC. Sebagai respon, bayi premature mengalami grunting
yang memperpanjang ekspirasi dan mencegah FRC
semakin berkurang

Secara singkat dapat diterangkan bahwa dalam tubuh


terjadi lingkaran setan yang terdiri dari:
atelektasishipoksiaasidosistransudasipenurunan
aliran darah paruhambatan pembentukan substansi
surfaktanatelektasis. Hal ini akan berlangsung terus
sampai terjadi penyembuhan atau kematian bayi
Bobak, Lowdermik. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4.
Jakarta : EGC
Leifer, Gloria. 2007. Introduction to maternity & pediatric nursing. Saunders
Elsevier : St. Louis Missouri
Prwawirohardjo, Sarwano. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina
Pustaka
Mansjoer. (2002). Kapita selekta kedokteran. Edisi III. Jakarta: FKUI.: EGC.
Wong. Donna L. (2004). Pedoman klinis keperawatan pediatrik. Jakarta:
EGC.
 Radiologi
Gambaran radiologis memberi gambaran penyakit membran hialin.
Gambaran yang khas berupa pola retikulogranular, yang disebut dengan
ground glass appearance, disertai dengan gambaran bronkus di bagian
perifer paru (air bronchogram).
Terdapat 4 stadium:
a. Stadium 1: pola retikulogranular(ground glass appearance)
b. Stadium 2: stadium 1 + air bronchogram
c. Stadium 3: stadium 2 + batas jantung-paru kabur
d. Stadium 4: stadium 3 + white lung appearance

Anda mungkin juga menyukai