Anda di halaman 1dari 39

WALK THROUGH SURVEY

PT. PUTRA BINTANG LIMA

19 Desember 2018

KESEHATAN KERJA DAN ERGONOMI

Disusun oleh:
Kelompok A2

dr. Yurika Elizabeth Susanti


dr. Hendry Wijaya
dr. Richard Firmansyah
dr. Kevin Alexander
dr. Prayogo James Anggono
dr. Novia Nathania Beatrice
dr. Lucy Amanda
dr. Christian
dr. Febiola
dr. Vanessa Aprilia Thomas
dr. Klarissa Chrishalim
dr. Grandy Ciputra
dr. Ivan Bintang Pratama
dr. Gabriela Stephanie Putri
dr. Marcel Hanardi
dr.Lidya Diantika Sigalingging
dr. Meiria Jubilanti Ompusunggu
dr. Hendar Fazrilullah
dr. Lazuardiah Anandi
dr. M. Endi Raharsadi

Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja


Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia
Periode 17-21 Desember 2018
Jakarta

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, penulis akhirnya dapat
menyelesaikan laporan Walk Through Survey di PT. Putra Bintang Lima dengan
baik. Selama proses penyusunan laporan ini penulis banyak mengamati dan belajar
hal baru yang dapat berguna bagi penulis yang nanti akan bekerja sebagai dokter
perusahaan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang telah
mendukung keberhasilan penyusunan laporan ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Pihak PT. Bina Okupasi Indonesia yang telah memfasilitasi kami dalam
melakukan kunjungan
2. Pihak PT. Putra Bintang Lima dan segenap staff yang telah menerima dan
memberikan banyak informasi kepada penulis
Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala
kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga laporan ini membawa
manfaat bagi pengembangan ilmu kedokteran okupasi dan dapat memberikan
masukan untuk kemajuan PT. Putra Bintang Lima.

Jakarta, 19 Desember 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................... 1


Kata Pengantar .................................................................................................. 2
Daftar Isi ............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 4
1.2 Dasar Hukum ............................................................................................... 5
1.3 Profil Perusahaan ......................................................................................... 6
1.4 Alur Produksi dan Pelaksanaan ................................................................... 6
1.5 Landasan Teori ............................................................................................ 16
BAB II PELAKSANAAN ...................................................................................... 29
2.1 Tanggal dan Waktu Pengamatan................................................................. 29
2.2 Lokasi Pengamatan ..................................................................................... 29
BAB III HASIL PENGAMATAN ........................................................................... 30
3.1 Fasilitas Pelayanan Kesehatan .................................................................... 30
3.2 Program Kesehatan ..................................................................................... 30
3.3 Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba ........................................................... 31
3.4 Pemeriksaan Kesehatan Awal, Berkala, dan Khusus................................... 31
3.5 Kesesuaian Pekerja dengan Alat ................................................................. 32
3.6 Program Pemenuhan Gizi ............................................................................ 33
3.7 Sepuluh Besar Penyakit pada Pelayanan Kesehatan .................................. 33
3.8 Penyakit Akibat Kerja ................................................................................... 34
3.9 Sarana P3K .................................................................................................. 34
3.10 Personil Kesehatan .................................................................................... 34
BAB IV PEMECAHAN MASALAH ...................................................................... 35
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 37
5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 37
5.2 Saran............................................................................................................ 37
BAB VI PENUTUP.............................................................................................. 39

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dewasa ini, pembangunan nasional berkembang seiring dengan berjalannya
perkembangan industri yang ditandai dengan modernisasi pada mekanisme
produksi. Yakni, terjadi peningkatan penggunaan mesin-mesin, pesawat-pesawat,
dan teknologi tinggi lainnya, serta bahan berbahaya. Namun, kemudahan dalam
proses produksi dapat pula meningkatkan jumlah dan jenis bahaya di tempat kerja.
Selain itu, tercipta lingkungan kerja yang kurang memenuhi syarat, proses dan sifat
pekerjaan yang berbahaya. Masalah tersebut akan sangat mempengaruhi dan
mendorong peningkatan jumlah maupun tingkat kecelakaan kerja.
Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam sebuah
perusahaan menjadi sebuah keharusan guna meminimalkan kejadian kecelakaan
kerja. Pada hakikatnya, faktor K3 berpengaruh terhadap efisiensi produksi dari suatu
perusahaan industri sehingga dapat mempengaruhi tingkat pencapaian
produktivitasnya. Karena pada dasarnya tujuan K3 adalah melindungi para tenaga
kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan dan untuk menciptakan
tenaga kerja yang sehat dan produktif. Kebijakan terkait penerapan Sistem
Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) melibatkan unsur
manajemen, tenaga kerja, dan kondisi lingkungan kerja yang terintegrasi dalam
rangka mencegah, mengurangi kecelakaan, dan penyakit akibat kerja, serta
terciptanya lingkungan kerja yang aman, efisien, dan produktif.
Ruang lingkup dari keselamatan dan kesehatan kerja meliputi pencegahan
kecelakaan, pencegahan kebakaran, pencegahan peledakan, pemasangan jalur
evakuasi, pelaksanaan P3K, manajemen APD, pemantauan lingkungan kerja,
pencegahan penyakit akibat kerja, pemantauan penerangan tempat kerja,
pemantauan iklim kerja, pemasanan ventilasi, pelaksanaan sanitasi industri dan
pemeriksaan kesehatan, pelaksanaan ergonomi, K3 angkat angkut, K3 konstruksi,
K3 bongkar muat dan penempatan barang, K3 listrik dan K3 di tempat kerja beresiko
tinggi. Semua lingkup tersebut dibagi menjadi 4 sektor, yaitu keselamatan kerja,
higien industri, ergonomi, dan kesehatan kerja.
Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap sebagai upaya pencegahan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang menghabiskan banyak biaya (cost)

4
perusahaan, melainkan harus dianggap sebagai bentuk investasi jangka panjang
yang memberi keuntungan yang berlimpah pada masa yang akan datang. Berbagai
macam permasalahan di bidang K3 masih banyak ditemukan terutama di negara 2
berkembang seperti Indonesia. Masalah yang masih ditemukan antara lain
kurangnya perhatian dari semua pihak akan pentingnya keselamatan kerja, masih
tingginya angka kecelakaan kerja dan rendahnya komitmen dari pemilik dan
pengelola usaha. Hal ini juga berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan untuk
dapat bersaing secara global.

1.2 DASAR HUKUM


Dengan alasan untuk melindungi para tenaga kerja dan pengembangan
usaha demi tercapainya tidak adanya kecelakaan dan penyakit akibat kerja maka
ada beberapa landasan yang digunakan oleh perusahaan, sebagai berikut :
1. UU No.I tahun 1970 tentang kesehatan dan keselamatan kerja.
2. UU No 13 tahun 2003 pasal 86 dan 87 tentang ketenagakerjaan.
3. UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan.
4. UU No 3 tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja.
5. Permenakertrans No.03/Men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja.
6. Kepres RI No.22 tahun 1993 tentang penyakit yang disebabkan oleh
pekerjaan atau lingkungan kerja.
7. Kepmenakertrans No.68 tahun 2004 tentang pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja.
8. Permenakertrans No.11/Men/VI/2005 tentang pencegahan penyalahgunaan
narkoba, psikotropika dan zat adiktif lainnya di tempat kerja.
9. Permenakertrans No.01/Men/1976 tentang kewajiban pelatihan hiperkes bagi
dokter perusahaan.
10. Permenakertrans No.01/Men/1979 tentang kewajiban pelatihan hiperkes bagi
paramedic perusahaan.
11. Permenakertrans No.Per 02/Men/1980 tentang pemeriksaan kesehatan
tenaga kerja dalam penyelanggaraan keselamatan kerja.
12. Permenakertrans No.Per 03/Men/1983 tentang pelayanan kesehatan kerja.
13. SE.Menakertrans No.SE.01/Men/1979 tentang pengadaan kantin dan ruang
makan.

5
14. SE.Dirjen binawas No.SE.86/BW/1989 tentang perusahaan catering yang
mengelola makanan bagi tenaga kerja.
15. Permenakertrans No.Per 05/MEN/VIII/2008 tentang pertolongan pertama
pada kecelakaan di tempat kerja.

1.3 PROFIL PERUSAHAAN


a. Sejarah perusahaan
PT Putra Bintang Lima adalah perusahaan industri topi baret di Indonesia,
berdomisili di kawasan Cakung yang didirikan pada tahun 2013
b. Customers
Instansi POLRI dan TNI di wilayah Jakarta
c. Jumlah pegawai perusahaan
Jumlah pegawai kurang lebih 150 orang.
d. Jam kerja
Senin-Jumat 08.00 – 17.00 , Sabtu 08.00 – 12.30
e. Asuransi
BPJS Ketenagakerjaan untuk semua pekerja tetap, sedangkan pekerja
kontrak ditanggung perusahaan

1.4 ALUR PRODUKSI DAN PELAKSANAAN


1.4.1 Spesifikasi dan Metode Pelaksanaan Pekerjaan dalam Pembuatan Baret
A. BAHAN :
 Material Baret : 100% Wool
 Kain rajut pelipit / Tatakan Keringat : 100% Polyester
 Benang Jahit : 100% Spun Polyester
 Mata Ayam / Ventilator : Kuningan Oksidasi Hitam
 Pelapis Mata Ayam / Ventilator : Original Kulit
 Pelindung Emblem : Busa EVA
 Pembungkus Pelindung Emblem :100% Rayon Filamen (Satin)
 Pita Webing Pengikat Lingkar Kepala :100% Polyester
 Label :100% Satin Polyester
 Lembaran Penutup Label : Plastik

6
B. KONSTRUKSI
 Bentuk : Topi Baret
 Ukuran : Size 53 – 60
Keliling Lingkaran Panjang Penampang
Ukuran Lubang Kepala penutup luar kepala Keterangan
(ukuran dalam cm) (ukuran dalam cm)

53 53± 0,5 41 ± 0,2 Panjang pita webbing


pengikat lingkar kepala
54 54± 0,5 41± 0,2
ditambah 10 cm dari keliling
55 55± 0,5 42 ± 0,2 lingkaran lubang kepala.

56 56± 0,5 42 ± 0,2

57 57± 0,5 42 ± 0,2

58 58± 0,5 43 ± 0,2

59 59± 0,5 43 ± 0,2

60 60± 0,5 43 ± 0,2

C. CARA PEMBUATAN
Cara Pembuatan Baret KRI TNI AL sebagai berikut :
1. Baret terdiri dari bagian penampang penutup luar kepala & lubang kepala
2. Pembuatan baret melalui proses :
 Perajutan
 Linking
 Soom
 Penimbangan
 Pencelupan
 Pembentukan
 Pemanasan
 Pencukuran
 Penjahitan
 Setting
 Finishing

7
Penjahitan dengan ketentuan sebagai berikut :
1). Bagian luar dan dalam baret merupakan bagian penutup kepala dibuat
dari kain rajut bahan dari serat wool 100 % melalui proses penggarukan.
2). Pemasangan pelipit dari bahan kain rajut polyester 100% dengan
lebar 10 mm yang berfungsi sebagai tatakan keringat. Pada bagian
belakang pelipit diberi lubang untuk jalan keluar kain pita webbing.
3). Pelindung emblem berbentuk setengah lingkaran dipasang pada
posisi ¼ lingkaran baret berlawanan dengan pemasangan mata ayam.
Pelindung emblem dibungkus dengan kain rayon filament 100 %.
4). Dua buah mata ayam yang dipasang dengan kuat dan rapih
menembus lapisan luar dan dalam pada bagian samping kiri, kedua mata
ayam letaknya 3,5 cm dari tepi baret dan berjarak 1,7 cm satu dengan
lainnya.
5). Seluruh jahitan harus kuat dan rapih dengan kerapatan jahitan 4 boog
atau 5 tusukan jarum per cm.
3. Penandaan. Ditengah-tengah pembungkus pelindung emblem dibawah
plastik bening yang berbentuk empat persegi panjang diberi kode produksi
dan terdapat Logo TNI AL yang dibuat dari pita rayon warna putih dicetak
warna hitam yang tidak luntur dan yang tidak mudah mengelupas.
4. Pengemasan. Tiap satu buah baret dimasukkan ke dalam kantong plastik
tebal 0,05 mm dan ditutup dengan pleseter. Tiap 5 buah baret diikat disatukan
dengan staples, kemudian 250 buah baret dimasukkan ke dalam kotak
karton.

GAMBAR BARET DAN EMBLEM

8
Berikut keterangan bagaimana proses pembuatan baret dilaksanakan:
1. Persiapan

➢ Persiapan awal untuk proses pembuatan baret adalah dimulai dari


bahan baku baret yang terbuat dari 100% Wool. Benang ini
dikumpulkan berdasarkan masing – masing LOT. Hal ini dilakukan
untuk menghindari kemungkinan permasalahan yang akan didapatkan
diproses pewarnaan.

➢ Setelah bahan baku berupa benang wool sudah terkumpul


berdasarkan LOT nya, kemudian dilanjut dengan proses perajutan
2. Perajutan

➢ Proses perajutan adalah proses pembuatan benang dari berupa


gulungan benang menjadi bentuk baret. Proses ini adalah awal
pembentukan baret sebelum berlanjut ke proses berikutnya.

➢ Proses perajutan ini dilakukan di mesin knitting atau mesin rajut


khusus benang , mesin di setting sedemikian rupa untuk menghasilkan
bentuk baret yang di inginkan

➢ Setelah proses perajutan selesai, selanjutnya hasil yang didapat


kemudian di kumpulkan sesuai dengan LOT masing – masing supaya
tidak tercampur, kemudian dilanjutkan dengan proses linking.
3. Linking

➢ Proses linking ini adalah proses untuk menyambung hasil rajutan


benang yang masih berbentuk setengan lingkaran yang dihasilkan dari
proses perajutan di awal tadi. Setelah hasil rajutan di-linking maka
benang wool akan menjadi bentuk lingkaran penuh.

➢ Hasil benang rajutan yang sudah di-linking harus dikumpulkan sesuai


dengan LOT masing-masing yang kemudian akan di proses dengan
tahap berikutnya yaitu soom.
4. Soom

➢ Proses soom ini adalah bagian proses yang dilakukan setelah


perajutan dan linking. Proses ini adalah bagian untuk menutup bagian
atas rajutan yang masih berlubang.

9
➢ Lubang dari hasil rajutan di-soom atau dijelujur mengikuti arah jalur
hasil rajutan sehingga tidak ada bagian yang berlubang lagi.

➢ Hasil yang sudah di-soom dikelompokan kembali sesuai LOT masing –


masing untuk kemudian berlanjut ke proses penimbangan.
5. Penimbangan

➢ Proses penimbangan ini dilakukan untuk mengelompokan berat rajutan


setiap buahnya. Pengelompokan berat dilakukan sesuai permintaan
pemesanan .

➢ Proses penimbangan dilakukan supaya setiap topi baret menjadi


sama rata.

➢ Pengelompokan berat dikumpulkan berdasarkan LOT masing –


masing, untuk selanjutnya masuk ke proses pencelupan.
6. Pencelupan

➢ Proses pencelupan ini adalah proses dimana hasil rajutan menjadi


berwarna sesuai dengan warna yang diinginkan.

➢ Proses pewarnaan ini dilakukan harus per LOT dan berat yang sama,
hal ini supaya mendapatkan hasil warna yang sama.

➢ Setiap proses pencelupan terdiri dari 150-250 buah, disesuaikan


dengan kapasitas mesin celupnya.

➢ Hasil yang sudah dicelup dikelompokkan berdasarkan LOT warna dan


berat untuk dilanjutkan ke proses moulding/cetak.
7. Moulding / Pembentukan Baret

➢ Proses moulding ini adalah proses dimana hasil pencelupan dibentuk


menjadi baret dengan ukuran yang sudah disesuaikan .

➢ Proses moulding dilakukan berdasarkan kelompok berat, hal ini


dilakukan untuk mempermudah proses pembentukan dan
pengelompokan ukuran yang diinginkan.

➢ Setelah dilakukan proses moulding, baret dimasukkan ke dalam oven


untuk dilakukan proses pemanasan.

10
8. Pemanasan / Pengovenan

➢ Pada proses ini baret dimasukan ke oven untuk dipanaskan sampai


baret menjadi kering.

➢ Suhu panas yang digunakan berdasarkan kebutuhan dan disesuaikan


dengan kondisi baretnya, setelah proses pemanasan selesai kemudian
berlanjut ke pencukuran.
9. Pencukuran

➢ Proses pencukuran ini dilakukan untuk menghilangkan serat dan bulu


yang timbul dari hasil pencelupan dan moulding.
10. Penjahitan dan Setting

➢ Proses penjahitan ini adalah proses dimana pelipit kepala dipasangkan


di baret, pelipit yang digunakan disesuaikan dengan permintaan, ada
yang berbentuk webing tape atau berbentuk kulit asli.

➢ Proses penjahitan juga dilakukan untuk pemasangan tali pengikat


kepala .

➢ Proses penjahitan ini sekaligus dilakukan bersama dengan proses


setting, untuk mendapakan ukuran lingkar kepala yang disesuaikan
dengan jumlah yang di inginkan.

➢ Proses penjahitan dan setting dilakukan untuk mendapatkan ukuran


kepala baret. Setelah proses penjahitan dan setting ini selesai,
dilanjutkan ke tahap finishing.
11. Finishing

➢ Proses finishing adalah proses pembersihan benang hasil penjahitan


sebelumnya.

➢ Setelah proses buang benang atau pembersihan sisa-sisa benang


jahit, kemudian berlanjut ke proses pengemasan. Pengemasan
dilakukan untuk memasukan baret ke dalam plastik. Setalah proses ini
selesai, maka proses dilanjutkan dengan pengepakan.
12. Pengepakan

➢ Pengepakan adalah proses pemasukan baret yang sudah di-finishing


ke dalam karton box atau peti, sesuai dengan permintaan.

11
➢ Proses pengepakan ini dilakukan sesuai permintaan apakah isinya
solid size (ukuran sama semua) atau assorted size (ukuran campur-
campur ).

1.4.2 Spesifikasi dan Metode Pelaksanaan Pekerjaan dalam Pembuatan


Emblem Baret POLRI
A. BENTUK / DESAIN
1. Bentuk/disain emblem baret Polri seperti pada gambar di bawah, yaitu :
a. Gambar Tribrata di kelilingi pita menyerupai huruf ”S” yang saling berhadapan
dan gambar untaian buah padi sebanyak 17 butir di bagian atas dan gambar
8 untaian bunga kapas di bagian bawah warna.
b. Warna dasar emblem menunjukkan kegunaan sesuai fungsinya :
1). Warna merah untuk baret Korbrimob;
2). Warna kuning muda untuk baret Polsabhara
3). Warna hitam untuk baret Polsatwa
4). Warna biru laut untuk baret Polairud
5). Warna merah maroon untuk baret Satwal
6). Warna biru langit untuk baret Provos
c. Bagian belakang dilengkapi tiga buah baut untuk pemasangan pada baret
lengkap dengan mur berbentuk bulat pipih sebagai pengaman.
B. BAHAN DAN WARNA
a. Plat bahan logam tebal 1 mm dengan persyaratan teknis sebagai berikut:
Hasil uji komposisi bahan:
a) Tembaga (Cu) : 66,47
b) Seng (Zn) : 33,05
c) Besi (Fe) : 0,12
d) Iridium (Ir) : 0,36
b. Paku ulir/ring bahan logam kuningan diameter 1mm
c. Mur berbentuk bulat pipih diameter 10 mm, tebal 2 mm
d. Kawat berbentuk bulat
e. Cat pewarna
f. Bahan kimia untuk proses penyepuhan/pelapisan
g. Logam emas 24 K untuk proses pelapisan emas

12
h. Cairan lacquer untuk sebagian hardener
C. CARA PEMBUATAN DAN METODE PEMBUATAN EMBLEM
Langkah awal sebelum proses pembuatan logam adalah persiapan bahan baku
berupa lembaran kuningan dengan ketebalan yang disesuaikan dengan permintaan.
Selanjutnya dilakukan proses selanjutnya sebagai berikut :
a. Pemotongan bahan
Pelat logam tebal 1 mm berbentuk empat persegi panjang dipotong
memakai mesin potong elektrik sesuai ukuran emblem.
b. Pemanasan
Potong pelat logam tersebut kemudian dipanaskan untuk melunakkan
bahan plat sehingga mudah diproses.
c. Pengepresan
Potongan plat logam yang sudah dipanaskan kemudian dilanjutkan
dengan proses pengepresan menggunakan mesin punch sesuai
bentuk emblem.
d. Pemotongan
Plat logam yang sudah terbentuk relief emblem, selanjutnya dipotong
memakai mesin punch.
e. Proses pemasangan paku ulir
Paku ulir dipasangkan pada bagian belakang emblem dengan cara
disolder sebanyak 3 (tiga) buah dengan posisi dua di atas dan sebuah
di bawah.
f. Proses pemolesan
Hasil cetakan emblem selanjutnya dipoles menggunakan mesin poles
sehingga permukaan menjadi halus tanpa mengurangi relief gambar.
g. Proses pelapisan/pewarnaan
Proses pelapisan dan pewarnaan melalui tahapan sebagai berikut :
1) Pencucian untuk menghilangkan debu/kotoran.
2) Pelapisan vernekel melalui sistem elektro (electro nickel plated
system).
3) Pencucian kembali untuk menghilangkan debu/kotoran.
4) Pelapisan emas melalui sistem elektro (electro gold plated
system) yang menghasilkan kilap tinggi dan tahan lama.

13
5) Pewarnaan pada bagian dasar sesuai fungsi (merah, hitam,
kuning, biru langit, biru langit atau merah maron)
i Proses pengeras permukaan emblem
Proses pengeras permukaan menggunakan cairan lacquer sehingga
permukaan cat pada emblem menjadi tidak mudah tergores.
j. Proses Pemasangan mur/ring pada bagian belakang emblem.
D. UKURAN
Ukuran Emblem Baret Brimob, Polsatwa, Polair dan Satwal
1) Tinggi emblem , mm : 49
2) Lebar emblem, mm : 70
3) Kancing pengaman
a) Tinggi baut, mm : 7
b) Diameter baut, mm : 2
c) Tebal mur, mm : 2
d) Diameter mur, mm : 10
E. GAMBAR. Lihat pada lampiran.
F. KETENTUAN LAIN
a. Pengujian Emblim Baret dilakukan menurut cara/metode sesuai dengan
Standar Nasional Indonesia (SNI).
b. Penandaan, pemasangan kode produksi pada dilakukan pada setiap
kemasan emblem baret pada lembaran kertas karton warna putih ukuran
90 x 12cm, masing-masing kertas karton disablon kode produksi dibagian
atasnya berbentuk empat persegi panjang tulisanwarna hitam yang tidak
luntur dan tidak mudah pudar.
1) Garis bingkai
a) Panjang, mm : 60
b) Lebar, mm : 25
2) Tulisan POLRI.
a) Panjang, mm : 30
b) Lebar, mm : 7
3) Gambar lambang Tribrata
a) Tinggi, mm : 30
b) Lebar, mm : 28
4) Tulisan kode produksi, tinggi, mm : 6

14
Contoh kode produksi : 15. 099 yang artinya Angka 15 menunjukan
tahun anggaran 2015.
Angka 099 menunjukan nomor registrasi perusahaan.
c. Sebelum Emblem Baret dikemas, harus diadakan pemeriksaan terhadap
semua Emblem sehingga tidak ada barang yang cacat terkemas dalam
peti, hal-hal yang perlu diperhatikan :
1) Tidak terdapat bagian-bagian yang tajam yang membahayakan
pemakai.
2) Proses pelapisan/pewarnaan harus baik, rata, tidak mengotori
bagian relif dan tahan lama.
3) Hasil polesan permukaan halus dan mengkilat.
d. Selanjutnya dilakukan pengemasan.Tiap jenis emblem dipasangkan pada
kertas karton manila warna putih yang telah dicantumkan kode produksi
kemudian dimasukan kedalam kantong plastik tebal 0,05 mm. Selanjutnya
sebanyak 200 buah dimasukan kedalam kotak karton ukuran 25 x 25 x
25cm. Setiap 12 kotak karton dikemas kedalam peti pengepakan ukuran
75 x 50 x 50cm lengkap dengan packing list dan sesuai persyaratan
pengemasan.
G. G A M B A R.
Lihat pada lampiran.
H. LAIN-LAIN.
Ketentuan-ketentuan barang mengenai emblem baret Polri bertentangan
dengan spesifikasi teknis bekal umum ini dinyatakan tidak berlaku lagi, untuk
ukuran dan pengemasan ± 1-2 cm masih dapat ditoleransi.

Gambar E dan G

15
1.5 LANDASAN TEORI
ERGONOMI
Ergonomi menurut Badan Buruh Internasional (ILO=International Labor
Organization) adalah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa
untuk mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara
optimum agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan. Pada prosesnya
dibutuhkan kerjasama antara lingkungan kerja (ahli hiperkes), manusia (dokter dan
paramedik) serta mesin perusahaan (ahli tehnik). Kerjasama ini disebut segitiga
ergonomi.
Tujuan dari ergonomi adalah efisiensi dan kesejahteraan yang berkaitan erat
dengan produktivitas dan kepuasan kerja. Adapun sasaran dari ergonomi adalah
seluruh tenaga kerja baik sektor formal, informal dan tradisional.
Pendekatan ergonomi mengacu pada konsep total manusia, mesin dan
lingkungan yang bertujuan agar pekerjaan dalam industri dapat berjalan secara
efisien, selamat dan nyaman. Dengan demikian dalam penerapannya harus
memperhatikan beberapa hal yaitu: tempat kerja, posisi kerja, proses kerja.
Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut: 1) meningkatkan
kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban kerja tambahan (fisik
dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan kepuasan kerja,
2) meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas
kerjasama sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan
sistem kebersamaan dalam tempat kerja, 3) berkontribusi di dalam keseimbangan
rasional antara aspek-aspek teknik, ekonomi, antropologi dan budaya dari sistem
manusia-mesin untuk tujuan meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.
Adapun manfaat pelaksanaan ergonomi adalah menurunnya angka kesakitan
akibat kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan kompensasi
berkurang, stress akibat kerja berkurang, produktivitas membaik, alur kerja
bertambah baik, rasa aman karena bebas dari gangguan cedera, kepuasan kerja
meningkat.
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :
1. Teknik
2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan

16
otot dan persendian
5. Anthropometri
6. Sosiologi
7. Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up
take dan aktivitas otot.
8. Desain, dll.
Aplikasi/penerapan Ergonomik pada tenaga kerja:
1. Posisi Kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki
tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja.
Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan
berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi
waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus
dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
3. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.
Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak
digunakan daripada kata-kata.
4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan
kepala, bahu, tangan, punggung, dll. Beban yang terlalu berat dapat
menimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan persendian
akibat gerakan yang berlebihan.
Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur.
Supervisi medis yang biasanya dilakukan terhadap pekerja antara lain :
1. Pemeriksaan sebelum bekerja.
Bertujuan untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya.
2. Pemeriksaan berkala
Bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan
mendeteksi bila ada kelainan.

17
3. Nasehat
Harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada wanita
muda dan yang sudah berumur.

KESEHATAN KERJA
Kesehatan kerja adalah upaya penyeserasian antara kapasitas kerja, beban
kerja, dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh
produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan 1992 Pasal 23). Kesehatan kerja
bertujuan untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik,
mental dan sosial bagi masyarakat pekerja dan masyarakat yang berada di
lingkungan perusahaan. Aplikasi kesehatan kerja berupa upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif.
Promosi kesehatan merupakan ilmu pengetahuan dan seni yang membantu
seseorang untuk mengubah gaya hidup menuju kesehatan yang optimal, yaitu
terjadinya keseimbangan kesehatan fisik, emosi, spiritual dan intelektual. Tujuan
promosi kesehatan di tempat kerja adalah terciptanya perilaku dan lingkungan kerja
sehat juga produktivitas yang tinggi. Tujuan dari promosi kesehatan adalah:
 Mengembangkan perilaku kerja sehat
 Menumbuhkan lingkungan kerja sehat
 Menurunkan angka absensi sakit
 Meningkatkan produktivitas kerja
 Menurunnya biaya kesehatan
 Meningkatnya semangat kerja
Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja yang
disebabkan oleh alat/mesin dan masyarakat yang berada di sekitar lingkungan kerja
ataupun penyakit menular umumnya yang bisa terjangkit pada saat melakukan
pekerjaan yang diakibatkan oleh pekerja. Upaya preventif diperlukan untuk
menunjang kesehatan optimal pekerja agar didapat kepuasan antara pihak pekerja
dan perusahaan sehingga menimbulkan keuntungan bagi kedua belah pihak.
Aplikasi upaya preventif diantaranya pemakaian alat pelindung diri dan pemberian
gizi makanan bagi pekerja.

18
Upaya kuratif merupakan langkah pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
bagi pekerja. Upaya penatalaksanaan penyakit yang timbul pada saat bekerja
merupakan langkah untuk meningkatkan kepuasan pekerja dalam bekerja, sekaligus
memberi motivasi untuk pekerja supaya memiliki kesehatan yang optimal. Penyakit
yang sering timbul dalam suatu lokasi pekerjaan dapat menjadi tolak ukur dalam
mengambil langkah promosi dan pencegahan, sehingga tujuan pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan kerja optimal dilaksanakan.
Salah satu aspek yang harus diimplementasikan dalam kesehatan kerja adalah
adanya pemeriksaan kesehatan bagi tenaga kerja, baik sejak awal sebelum bekerja,
selama bekerja, maupun sesudah bekerja. Tujuan dari pemeriksaan kesehatan ini
ditujukan agar selain tenaga kerja yang diterima di awal berada dalam kondisi
kesehatan setinggi-tingginya,juga untuk memantau status kesehatan pekerja dan
juga meminimalisir dan mendeteksi dini apakah ada penyakit akibat kerja yang
ditimbulkan akibat proses produksi.
Sarana P3K di tempat kerja diatur dalam Permenakertrans RI No.
15/MEN/VIII/2008. Dalam Permenakertrans tersebut, dijabarkan bahwa Pertolongan
Pertama Pada Kecelakaan di tempat kerja (P3K) adalah upaya memberikan

19
Rasio Jumlah Petugas P3K di Tempat Kerja
pertolongan pertama secara cepat dan tepat kepada pekerja/buruh/dan/atau orang
lain yang berada di tempat kerja, yang mengalami sakit atau cidera di tempat kerja.
Fasilitas P3K yang dimaksud dalam Permenakertrans ini meliputi ruang P3K,
kotak P3K dan isinya sesuai standar, alat evakuasi dan alat transportasi, fasilitas
tambahan berupa alat pelindung diri dan/atau peralatan khusus di tempat kerja yang
memiliki potensi bahaya yang bersifat khusus. Pengusaha wajib menyediakan ruang
P3K dalam hal proses produksi mempekerjakan pekerja/buruh 100 orang atau lebih
atau kurang dari 100 orang dengan potensi bahaya tinggi.
Ruang P3K juga diatur standarnya, salah satunya meliputi lokasi yang harus
dekat dengan toilet/kamar mandi, jalan keluar, mudah dijangkau, dan dekat dengan
tempat parkir kendaraan.
Kotak P3K juga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut, yaitu terbuat dari
bahan yang kuat dan mudah dibawa, berwarna dasar putih dengan lambang P3K
berwarna putih dengan lambang P3K berwarna hijau dengan isi kotak sesuai
dengan Permenakertrans yang mengatur. Penempatan kotak P3K juga harus pada
tempat yang mudah dilihat dan dijangkau dengan diberi tanda arah yang jelas dan

20
cukup cahaya serta mudah diangkat apabila digunakan dan disesuaikan dengan
jumlah tenaga kerja yang ada, dan dalam hal tempat kerja dengan unit kerja berjarak
500 meter atau lebih masing-masing unit kerja harus menyediakan kotak P3K sesuai
jumlah pekerja/buruh.

GIZI KERJA
Gizi kerja adalah gizi/nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk
memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja tambahan.
Gizi kerja menjadi masalah disebabkan beberapa hal yaitu rendahnya kebiasaan
makan pagi, kurangnya perhatian pengusaha, kurangnya pengetahuan tenaga kerja
tentang gizi, tidak mendapat uang makan, serta jumlah, kapan dan apa dimakan
tidak diketahui. Efek dari gizi kerja yang kurang bagi pekerja adalah:
▪ Pekerja tidak bekerja dengan maksimal
▪ Pertahanan tubuh terhadap penyakit berkurang
▪ Kemampuan fisik pekerja yang berkurang
▪ Berat badan pekerja yang berkurang atau berlebihan
▪ Reaksi pekerja yang lamban dan apatis,
▪ Pekerja tidak teliti
▪ Efisiensi dan produktivitas kerja berkurang
Jenis pekerjaan dan gizi yang tidak sesuai akan menyebabkantimbulnya
berbagai penyakit seperti obesitas, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit
degenerative, arteriosklerotik, hipertensi, kurang gizi dan mudah terserang infeksi
akut seperti gangguan saluran nafas. Ketersediaan makanan bergizi dan peran
perusahaan untuk memberikan informasi gizi makanan atau pelaksanaan pemberian
gizi kerja yang optimal akan meningkatkan kesehatan dan produktivitas yang
setinggi-tingginya.

PENYAKIT AKIBAT KERJA


Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat
kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat
Kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease.
Upaya Kesehatan Kerja adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban
kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa

21
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh
produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan Tahun 1992 Pasal 23).
WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja:
a. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya
Pneumoconiosis
b. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya
Karsinoma Bronkhogenik.
c. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara
faktor-faktor penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis.
d. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada
sebelumnya, misalnya asma.
Pada simposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan pekerjaan
yang diselenggarakan oleh ILO (International Labour Organization) di Linz, Austria,
dihasilkan definisi menyangkut
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik
atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu
agen penyebab yang sudah diakui.
Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan adalah penyakit yang
mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan memegang peranan
bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang
mempunyai etiologi kompleks
Penyebab beberapa penyakit tersebut timbul karena suatu faktor, tergantung
pada bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara
kerja, sehingga tidak mungkin disebutkan satu per satu. Pada umumnya faktor
penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan:
o Golongan fisik :
suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang sangat
tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik.
o Golongan kimiawi :
bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang
terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas,
larutan, awan atau kabut.
o Golongan biologis :
bakteri, virus atau jamur

22
o Golongan fisiologis :
biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja
o Golongan psikososial :
lingkungan kerja yang mengakibatkan stress.
Penyakit akibat kerja juga perlu dilakukan beberapa tahap diagnose, yang
sebelumnya perlu dilakukan pendekatan sistematisuntuk mendapatkan informasi
yang diperlukan dan menginterpretasinya secara tepat yaitu sebagai berikut :
1) Tentukan Diagnosis klinisnya
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan
memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya
dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik
ditegakkan baru dapat dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut
berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.
2) Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja
adalah esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan
pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat
pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup:

o Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh


penderita secara khronologis
o Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan Bahan yang diproduksi
o Materi (bahan baku) yang digunakan
o Jumlah pajanannya
o Pemakaian alat perlindungan diri (masker)
o Pola waktu terjadinya gejala
o Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami
gejala serupa)
o Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan
(MSDS, label, dan sebagainya)
3) Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan
penyakit tersebut
Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung
pendapat bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita.

23
Jika dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang
menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa
penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung, perlu
dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat
menyebabkan penyakit yang diderita (konsentrasi, jumlah, lama, dan
sebagainya).
4) Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat
mengakibatkan penyakit tersebut.

Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan
tertentu, maka pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting
untuk diteliti lebih lanjut dan membandingkannya dengankepustakaan yang
ada untuk dapat menentukan diagnosis penyakit akibat kerja.
5) Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat
mempengaruhi
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya,
yang dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD,
riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat.
Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang
mengakibatkan penderita lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang
dialami.
6) Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab
penyakit
Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah
penderita mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab
penyakit. Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat
digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja.
7) Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya
Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan
berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti
telah disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab
langsung suatu penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat
suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini perlu dibedakan pada waktu
menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai

24
penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa
adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada
saat ini.Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan
apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa
tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya memperberat
penyakit.

NARKOBA DAN HIV-AIDS


Narkoba
Banyak sekali orang mendengar kata narkoba,tetapi mereka tak tahu apa itu
narkoba,banyak yang mengartikan narkoba adalah kepanajangan dari kata narkotika
dan obat berbahaya,namun itu kepnjangan yang salah,yang benar adalah singkatan
dari narkotika, psikotropika, dan bahan aditif lainnya.
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain
"narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan
Republik Indonesiaa adalah napza yang merupakan singkatan dari Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif .Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza",
mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi
penggunanya. Menurut pakar kesehatan,narkoba sebenarnya adalah
senyawasenyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat
hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu.
Melalui pertolongan dokter, banyak jenis narkoba yang bermanfaat untuk
kesembuhan dan keselamatan manusia. Masalahnya, apabila narkoba
disalahgunakan, bukan manfaat yang didapat, melainkan malapetaka. Jadi,yang
harus hindari adalah penyalahgunaannya, bukan narkobanya. Jasa narkotika dan
psikotropika sangat besar dimasa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
Tindakan oprasi (pembedahan) yang dilakukan oleh dokter harus didahului
dengan pembiusan, padahal obat bius tergolong narkotika. Kemudian, Orang yang
mengalami stress atau gangguan jiwa diberi obat-obatan yang tergolong
psikotropika oleh dokter agar dapat sembuh.
Dengan perhatian seperti itu, narkoba tidak selalu memberikan dampak buruk.
Banyak sekali jenis-jenis narkoba yang bermanfaat dalam bidang kedokteran. Maka,
sikap anti narkoba adalah keliru, yang benar adalah anti penyalahgunaanya. Jadi,
yang harus kita hindari bukanlah narkoba, melainkan penyalahgunaannya.

25
Narkoba memiliki berbagai jenis diantaranya narkotika, psikotropika, dan bahan
aditif lainnya.
1. Narkotika
Narkotika adalah zat atau obat yang bersal dari tanaman atau bahan
tanaman, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran
dan hilangnya rasa.Narkotika memiliki daya adiksi (ketagihan) yang sangat
berat. Narkotika juga memiliki daya toleran (penyesuaian) dan daya habitual
(kebiasaan), ketiga sifat narkotika inilah yang menyebabkan pemakai
narkotika tidak dapat lepas dari cengkramannya.
2. Psikotropika
Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alami maupun
sintesis, yang memiliki sifat proaktif melalui pengaruh selektif pda susunan
saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas normal dan
perilaku. Psikotropika adalah obat yang dugunakan oleh dokter untuk
mengobati gangguan jiwa (psyche). Berdasarkan undang-undang no. 5 tahun
1997, psikotropika dapat dikelompokan ke dalam 4 golongan.
a. Golongan petama adalah psikotropika dengan daya aditif yang sangat
kuat, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan, dan sedang di
teliti khasiatnya. Contoh adalah Ekstasi.
b. Golongan kedua adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat serta
berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah
amfetamin, metamfetamin, metakualon, dan sebagainya.
c. Golongan ketiga adalah psikotropika dengan daya adiksi sedang serta
berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah lumbal,
buprenorsina, flenitrazepam, dan sebagainya.
3. Golongan keempat adalah psikotropika yang memiliki daya adiktif ringan serta
berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contonya adalah nitrazepan
(mogadon, dumolid), diazepam, dan lain-lain.
4. Prekursor narkotika
Prekursor narkotika adalah zat atau bahn pemula atau bahan kimia yang
dapat digunakan dalam pembuatan narkotika.
5. Bahan adiktif lainnya

26
Golongan adiktif lainnya adalah zat-zat yang dapat menimbulkan
ketergantungan. Contohnya rokok, kelompok alkohol dan minuman lain yang
memabukkan dan menimbulkan ketagihan, dan thinner dan zat-zat lainnya.

HIV/AIDS
Prinsip – prinsip kunci dari ILO tentang HIV/AIDS dan dunia kerja yang
berlaku bagi semua aspek pekerjaan dan semua tempat kerja, termasuk sektor
kesehatan:
1. Isu Tempat Kerja
HIV/ AIDS adalah isu tempat kerja, karena dia mempengaruhi angkatan kerja,
dan karena tempat kerja dapat memainkan peran vital dalam membatasi
penularan dan dampak epideminya.
2. Non Diskriminasi
Tidak ada diskriminasi terhadap pekerja berdasarkan status HIV yang nyata
atau dicurigai.
3. Kesetaraan Gender
Hubungan gender yang lebih setara dan pemberdayaan wanita adalah
penting untuk mencegah penularan HIV dan membantu masyarakat
mengelola dampaknya
4. Lingkungan Kerja yang Sehat
Tempat kerja harus meminimalkan risiko pekerjaan, dan disesuaikan dengan
kesehatan dan kemampuan pekerja.
5. Dialog Sosial
Kebijakan dan program HIV/AIDS yang sukses membutuhkan kerjasama dan
saling percaya antara pengusaha, pekerja dan pemerintah
6. Tidak boleh melakukan skrining untuk tujuan rekrutmen
Tes HIV di tempat kerja harus dilaksanakan secara sukarela dan rahasia,
tidak boleh digunakan untuk menskrining pelamar atau pekerja.
7. Kerahasiaan
Akses kepada data perseorangan, termasuk status HIV pekerja, harus
dibatasi oleh aturan dan kerahasiaan.
8. Melanjutkan Hubungan Pekerjaan
Pekerja dengan penyakit yang berkaitan dengan HIV harus dibolehkan
bekerja dalam kondisi yang sesuai selama dia mampu secara medik.

27
9. Pencegahan
Mitra sosial mempunyai posisi yang unik untuk mempromosikan upaya
pencegahan melalui informasi, pendidikan dan dukungan bagi perubahan
perilaku.
10. Kepedulian dan dukungan
Pekerja berhak mendapat pelayanan kesehatan yang terjangkau.

28
BAB II
PELAKSANAAN

2.1. TANGGAL DAN WAKTU PENGAMATAN


Kunjungan perusahaan ke PT Putra Bintang Lima ini dilakukan pada hari Rabu, 19
Desember 2018 pukul 09.00-11.00 WIB.

2.2 LOKASI PENGAMATAN


PT Putra Bintang Lima, Jl. Raya Penggilingan Komplek Aneka Elok No. 44 RT 002/
RW 007, Kel. Penggilingan, Kec. Cakung, Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia.

29
BAB III
HASIL PENGAMATAN

3.1 FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN


Fasilitas pelayanan kesehatan yang terdapat di PT. Putra Bintang Lima yaitu :
a. Klinik kesehatan:
Tidak ada klinik kesehatan di PT. Putra Bintang Lima.
b. Dokter perusahaan:
Tidak ada dokter perusahaan di PT. Putra Bintang Lima.
Jika ada pekerja yang sakit, perusahaan membawa pekerja tersebut ke klinik atau
Puskesmas yang jaraknya dekat dengan perusahaan.

3.2 PROGRAM KESEHATAN


Program Promotif
Tidak ada penyuluhan kesehatan maupun poster mengenai penggunaan APD yang
benar, namun ada satu buah poster kesehatan pekerja (5R).

Program Preventif
Tidak ada dokter perusahaan yang berwenang melakukan pemeriksaan para
pekerja secara berkala. Penggunaan APD tidak berjalan dengan baik di perusahaan.
Pada area pencukuran terdapat mesin vakum untuk menyedot debu pada bagian
atas ruangan agar tidak berterbangan, tetapi karena pekerja mengeluh panas dan
bising, sehingga mesin tersebut tidak digunakan.

30
Gambar Ruang Proses Pencukuran
Program Kuratif
Jika terdapat pekerja yang sakit atau terjadi kecelakaan kerja, pekerja diobati
dengan sarana P3K yang tersedia di perusahaan, atau pasien berobat ke klinik
swasta atau Puskesmas yang berlokasi dekat dengan perusahaan. Jika kasus berat
atau yang memerlukan penanganan lebih lanjut, pekerja langsung dibawa ke RS
terdekat. BPJS Ketenagakerjaan diberikan pada pekerja tetap, sedangkan pekerja
kontrak biayanya ditanggung oleh perusahaan.
Program Rehabilitatif
Para pekerja yang mengalami keluhan diberikan waktu untuk istirahat dengan syarat
adanya surat keterangan dokter dan diupayakan dapat bekerja kembali di
lingkungan sebelumnya.

3.3 PENCEGAHAN HIV AIDS DAN NARKOBA


Perusahaan tidak melakukan program pencegahan HIV/AIDS dan narkoba.

3.4 PEMERIKSAAN KESEHATAN AWAL, BERKALA, DAN KHUSUS


Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Bpk. Agus Salim
selaku pekerja dan Ibu Peni selaku penganggung jawab operasional PT. Putra
Bintang Lima, pemeriksaan kesehatan baik di awal pada saat penerimaan pekerja,
pemeriksaan kesehatan berkala semasa bekerja, maupun pemeriksaan kesehatan

31
khusus lainnya seperti audiometri, spirometri, pemeriksaan mata, dan sebagainya
belum dilakukan. Status kesehatan pekerja hanya diketahui berdasarkan hasil
wawancara pekerjaan yang menanyakan mengenai kondisi kesehatan saat ini dan
riwayat pengobatan sebelumnya.
Selain itu, tidak ditemukan juga adanya tenaga kesehatan maupun dokter
yang bertugas sebagai penanggung jawab kesehatan di tempat kerja. Data
pelaporan mengenai status kesehatan pekerja juga tidak ditemukan.

3.5 KESESUAIAN PEKERJA DENGAN ALAT


a. Sikap Kerja
Hasil pengamatan mengenai sikap kerja dari tenaga kerja menunjukkan adanya
ketidaksesuaian dengan aspek ergonomis, terbukti dengan tidak sesuainya tinggi
meja dan kursi dengan tubuh pekerja sehingga bagi pekerja yang tubuhnya tinggi
posisi duduk agak membungkuk. Bahkan ada pekerja dibagian pengeleman bekerja
dalam posisi jongkok. Tidak disediakan kursi yang adjustable tinggi dan pendeknya
yang bisa disesuaikan dengan tinggi badan pekerja.
b. Cara Kerja
Hasil pengamatan mengenai cara kerja, tenaga kerja yang duduk dan berdiri
selama proses kerja memiliki jumlah yang seimbang. Cara kerja diamati dari 2 sisi
yaitu;
1. Posisi kerja kurang ergonomis karena pekerja yang tinggi harus
membungkukkan badan dan pekerja yang memiliki postur pendek juga tidak
bekerja dalam kondisi ergonomis.
2. Proses kerja hampir seluruh pekerja menggunakan masker namun tidak
menggunakan topi/kerudung untuk kepala.
3. Tidak ada safety shoes.
4. Pada tempat pengepresan, pekerja hanya menggunakan sarung tangan di
satu tangan saja.
c. Beban Kerja
Hasil pengamatan didapatkan, karyawan pabrik bekerja:
Hari Senin-Jumat pk. 08.00 – 17.00 WIB, dengan waktu istirahat 12.00 – 13.00. Hari
Sabtu pk. 08.00 – 12.30.
Pekerja mendapatkan jatah cuti sebanyak 12 hari dalam setahun, dan
sudah termasuk libur hari raya (cuti bersama). Waktu kerja ini dapat berubah apabila

32
ada target pengiriman yang tidak tercapai, pekerja dapat bekerja sampai dengan
pukul 21.00.
d. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja sempit sehingga karyawan tidak dapat bergerak leluasa dan
efisien. Tidak ada ruangan lain untuk menyimpan hasil produksi, sehingga kardus-
kardus yang berisi hasil produksi disimpan di ruang proses produksi. Pada bagian
pemintalan dan pengeleman tidak tersedia tempat duduk untuk pekerja. Pada
bagian pemintalan dan pewarnaan dipenuhi dengan mesin sehingga menghasilkan
kebisingan. Sebagian besar tempat kerja berdebu, terutama di bagian pencukuran
sehingga diperlukan pemakaian APD selama bekerja di lingkungan kerja. Ada
pendingin ruangan (AC) di ruang pemintalan, dan kipas angin di ruang lain namun
jumlahnya tidak mencukupi. Di ruang pewarnaan, tidak ada pendingin ruangan
walaupun panas mesin yang digunakan untuk pewarnaan dan moulding mencapai
100 derajat Celsius.

3.6 PROGRAM PEMENUHAN GIZI


PT. Putra Bintang Lima belum mempunyai program untuk pemenuhan gizi para
karyawan, terlihat bahwa belum tersedianya sarana seperti dapur karyawan, kantin,
ataupun pengadaan catering perusahaan. Sebagai kompensasi, perusahaan
memberikan uang makan kepada para karyawan dan memberikan susu 3x dalam
seminggu. Mayoritas karyawan di PT. Putra Bintang Lima menyiapkan sendiri bekal
makanan dari rumah untuk dibawa ke pabrik dan sebagian kecil lain biasa membeli
makanan dari para penjual di sekitar pabrik.
Selain itu, perusahaan juga telah menyiapkan konsumsi air minum dari sumur
yang difilter, penyaring filter diganti setiap 2-3 hari sekali atau pekerja biasanya
membeli sendiri air mineral botol saat istirahat.

3.7 SEPULUH BESAR PENYAKIT PADA PELAYANAN KESEHATAN


Jumlah penyakit terbanyak yang diderita tenaga kerja di perusahaan PT. Putra
Bintang Lima tidak dapat diketahui, dikarenakan tidak terdapat sarana pelayanan
kesehatan di perusahaan serta sistem pencatatan penyakitnya.

33
3.8 PENYAKIT AKIBAT KERJA
Penyakit akibat kerja yang terjadi di perusahaan ini sampai saat ini belum ada
pelaporan data. Beberapa pekerja melaporkan adanya trauma seperti tangannya
teriris saat melakukan pemotongan bahan dan saat memproses bahan.

3.9 SARANA P3K


Perusahaan telah menyediakan sarana P3K di kantor HRD. Adapun isi kotak P3K
tersebut terdiri dari: pembalut steril (kassa gulung steril), plester, betadine, gunting,
alkohol 70%, dan obat-obatan. Kotak P3K digunakan jika terjadi kecelakaan akibat
kerja yang ringan yang masih dapat ditangani sendiri atau sebelum dirujuk ke
Klinik/Rumah Sakit terdekat.

3.10 PERSONIL KESEHATAN


Pada PT Putra Bintang Lima tidak terdapat petugas kesehatan seperti klinik dan
tenaga kesehatannya (dokter maupun paramedik). Jika ada tenaga kerja yang sakit
biasanya mereka ke P3K untuk mendapat obat2an dan jika butuh pemeriksaan
dokter mereka akan diperiksakan di klinik dekat perusahaan. Belum ada pelatihan
K3 untuk pegawai perusahaan.
Dampak yang terjadi dari hal ini adalah tidak adanya pelayan kesehatan yang
memadai dan akses cepat bagi para tenaga kerja. Belum ada upaya dari
perusahaan dalam pengadaan pelayanan maupun tenaga kesehatan.

34
BAB IV
PEMECAHAN MASALAH

Dari hasil walk though survey yang kami lakukan, maka pemecahan masalah yang
dapat dilakukan adalah :
 Perusahaan harus mempunyai P2K3 yang sesuai dengan PERMENAKER RI
NO/04/MEN/1987.
 Perusahaan memiliki klinik perusahaan dan dokter perusahaan untuk menjadi
penanggung jawab kesehatan kerja, serta agar pekerja yang sakit dapat segera
ditangani.
 Perusahaan memberikan penyuluhan hiperkes dan kesehatan kerja (K3) kepada
tenaga kerja minimal 1 bulan sekali dan memasang media iklan berupa poster
atau sejenisnya untuk mengingatkan tenaga kerja akan pentingnya kesehatan
dan keselamatan dalam bekerja.
 Perusahaan melengkapi sarana APD bagi tenaga kerja dan memberi peringatan
bagi tenaga kerja yang tidak menggunakan APD pada saat bekerja serta
memberikan pengetahuan bagaimana cara menggunakan alat pelindung diri
yang benar bagi tenaga kerjanya.
 Perusahaan melakukan upaya pencegahan HIV/AIDS, antara lain dengan
pembinaan serta pemeriksaan HIV/AIDS sesuai KepMenakertrans No. 68 tahun
2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja.
 Perusahaan melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba, antara lain
dengan tes skrining narkoba, sesuai dengan PerMenakerTrans No.
PER.11/MEN/VI/2005 tentang Pencegahan dan Penanggulangan
Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif
Lainnya di Tempat Kerja.
 Perusahaan melakukan pemeriksaan kesehatan awal sebelum diterima untuk
bekerja dan bagi pekerja yang belum pernah diperiksa dalam 3 bulan terakhir
dilakukan oleh dokter. Pemeriksaan kesehatan yang dimaksud berupa
pemeriksaan fisik dan penunjang yang dianggap perlu.
 Perusahaan melakukan pemeriksaan kesehatan berkala minimal 1 (satu) kali
selama 1 tahun.

35
 Perusahaan membuat pelaporan hasil pemeriksaan kesehatan dan disampaikan
maksimal 2 (dua) bulan setelah dilakukan pemeriksaan kepada Direktur
Jenderal Bina-lindung Tenaga Kerja melalui Kantor Wilayah Ditjen Bina-lindung
Tenaga Kerja setempat.
 Perusahaan melakukan pengadaan ruang makan atau kantin guna memenuhi
kebutuhan gizi para karyawan sehingga dapat berdampak para meningkatnya
hasil produktivitas.
 Perusahaan atau tenaga medis di sarana pelayanan kesehatan perusahaan
perlu melakukan pencatatan jumlah penyakit yang diderita oleh tenaga kerja di
perusahaan.
 Perusahaan memasang pemberitahuan mengenai nama dan lokasi kotak P3K di
tempat kerja pada tempat yang mudah terlihat dan dijangkau. Perusahaan juga
sebaiknya melengkapi isi dari kotak P3K tersebut.

36
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapatkan dari hasil walk through survey yang kami lakukan
adalah:
a. Perusahaan bekerja sama dengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat
dengan lokasi perusahaan, yakni Klinik dan Puskesmas terdekat untuk
menangani masalah kesehatan pada pekerja.
b. Program kesehatan (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif)
 Promotif: terdapat 1 (satu) buah poster promosi kesehatan di area pabrik.
 Preventif: penggunaan APD untuk tindakan preventif belum dilaksanakan
dengan baik dan pekerja belum sepenuhnya mematuhi aturan yang ada.
 Kuratif: perusahaan bekerja sama dengan fasilitsk kesehatan terdekat
terhadap penanganan kesehatan pekerja dan setiap pekerja mendapatkan
BPJS Ketenagakerjaan.
 Rehabilitatif: perusahaan memberikan waktu istirahat kepada pekerja yang
sakit, sesuai dengan surat keterangan dokter.
c. Belum ada pemeriksaan kesehatan awal, berkala, dan khusus pada para
pekerja.
d. Pencegahan HIV/AIDS dan Narkoba belum dilakukan oleh perusahaan.
e. Kesesuaian pekerja dengan alat masih kurang, ditandai dengan sikap dan cara
kerja yang tidak ergonomis. Beban waktu kerja sudah sesuai, tidak melebihi
batas maksimal waktu kerja per hari. Lingkungan kerja kurang kondusif untuk
bekerja.
f. Belum ada program pemenuhan gizi pekerja, kantin, atau ruang makan di
lokasi perushaan.
g. Belum ada pencatatan penyakit yang terjadi pada karyawan perusahaan.
h. Sarana P3K tersedia di lokasi perusahaan.
i. Belum ada personil kesehatan terlatih atau tenaga kesehatan medis dalam
lingkungan perusahaan

5.2 SARAN
Dari hasil walk through survey yang kami lakukan, maka kami ajukan beberapa
saran, yaitu:
a. Perusahaan harus mempunyai P2K3 yang sesuai dengan PERMENAKER RI
NO/04/MEN/1987.
b. Perusahaan memiliki klinik perusahaan dan dokter perusahaan untuk menjadi
penanggung jawab kesehatan kerja, serta agar pekerja yang sakit dapat
segera ditangani.

37
c. Perusahaan memberikan penyuluhan hiperkes dan kesehatan kerja (K3)
kepada tenaga kerja dan memasang media promosi kesehatan yang di tempat
mudah dilihat.
d. Perusahaan melengkapi sarana APD bagi tenaga kerja dan memberi
peringatan bagi tenaga kerja yang tidak menggunakan APD pada saat bekerja
serta memberikan pengetahuan bagaimana cara menggunakan alat pelindung
diri yang benar bagi tenaga kerjanya
e. Perusahaan melakukan upaya pencegahan HIV/AIDS sesuai KepMenakertrans
No. 68 tahun 2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di
Tempat Kerja.
f. Perusahaan melakukan pencegahan penyalahgunaan narkoba, sesuai dengan
PerMenakerTrans No. PER.11/MEN/VI/2005 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika,
Psikotropika, dan Zat Adiktif Lainnya di Tempat Kerja
g. Perusahaan melakukan pemeriksaan kesehatan awal, berkala dan khusus
pada pekerja
h. Perusahaan membuat pelaporan hasil pemeriksaan kesehatan dan pencacatan
jumlah penyakit yang diderita oleh tenaga kerja.
i. Perusahaan melakukan pengadaan ruang makan atau kantin guna memenuhi
kebutuhan gizi para karyawan.
j. Perusahaan memasang pemberitahuan mengenai nama dan lokasi kotak P3K
di tempat kerja pada tempat yang mudah terlihat dan dijangkau.

38
BAB VI
PENUTUP

Dari hasil walk through survey yang kami lakukan ke PT. Putra Bintang Lima,
didapatkan bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam sistem manajemen
kesehatan dan keselamatan kerja (SMK3).
Semoga makalah ini dapat membantu dan memberikkan masukkan untuk
perusahaan dalam memperbaiki SMK3 di lingkungan perusahaan.

39