Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

PEMBAHASAN

Setelah melakukan asuhan keperawatan An. T dengan gangguan sistem

hematologi pada kasus leukemia, di Ruang Perawatan Anak Perjan RS DR. Wahidin

Sudirohusodo Makassar tanggal 14 – 16 Juli 2004.

Pada bab ini akan dibahas tentang kesenjangan antara teori dan tinjauan kasus

yang telah dibahas pada bab II dan bab III. Untuk memudahkan pembahasan penulis

menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian, diagnosa

keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

A. Pengkajian

Pada pengkajian pasien dengan leukemia gejala klinik yang dikemukakan

pada teori umumnya sama dengan yang ditemukan pada saat praktek yaitu pucat,

demam, hepatomegali, splenomegali, penurunan kadar Hb dan trombosit serta

peningkatan kadar leukosit di atas normal.

Adanya temuan data yang lain dari teori seperti, pernafasan cepat dan abses

di punggung disebabkan oleh perdarahan desakan diafragma oleh hati dan limpa

sertea gangguan sirkulasi akibat anemi yang berat. Abses di punggung diakibatkan

oleh penyembuhan luka yang tidak sempurna setelah dilakukan tindakan fungsi sum-

sum tulang. Selain itu tindakan pengobatan dan hospitalisasi turut berperan dalam

perbedaan data tersebut.

51
B. Diagnosa Keperawatan

Setelah pengkajian, pengelompokan data dan analisa data maka dapat

dirumuskan diagnosa keperawatan yang ditemukan penulis pada landasan teori yaitu:

1. Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan menurunnya daya tahan tubuh

yang berkaitan dengan neutropenia.

2. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh

akibat anemia.

3. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan

jumlah trombosit.

4. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek

samping agen kemoterapi.

5. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan anoreksia,

malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis.

6. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia.

7. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan alopesia dan atau perubahan

cepat pada penampilan tubuh yang rentan dari penurunan berat badan sampai

penambahan berat badan sekunder terhadap tindakan.

8. Resiko terhadap koping yang tidak efektif pada individu dan keluarga yang

berhubungan dengan diagnosis dan aturan pengobatan.

9. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang

proses penyakit, perawatan di rumah dan kebutuhan evalusi.

52
Sedangkan diagnosa keperawatan ditemukan pada studi kasus An “I”

sebagai berikut :

1. Resiko suhu badan berhubungan dengan depresi pada sistem kekebalan.

2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan pada diafragma

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

4. Intolerans aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik

Berdasarkan diagnosa di atas, maka terdapat 2 diagnosa keperawatan yang

dirumuskan dan 7 diagnosa pada teori yang tidak diangkat

1. Resiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan menurunnya daya tahan tubuh

yang berkaitan dengan neutropenia

Pada diagnosa dengan kasus leukemia dimana kadar leukositnya meninggi akan

tetapi sel-sel leukositnya imatur (tidak matang) menyebabkan sistem kekebalan

tubuh menjadi lemah sehingga klien mudah terkan infeksi. Pada dasarnya

diagnosa ini dapat pada kasus ini akan tetapi empat buah diagnosa keperawatan

yang ada , yang kesemuanya adalah diagnosa keperawatan aktual lebih penulis

prioritaskan untuk diterapkan, selain itu keterbatasan waktu serta kondisi klien

juga ikut berpengaruh.

2. Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan

jumlah trombosit.

Diagnosa ini juga tidak diterapkan dalam kasus ini, walaupun trombosit berperan

dalam proses pembekuan darah akan tetapi bukan satu-satunya yang

menyebabkan pembekuan darah. Setidaknya mekanisme pembekuan darah

53
adalah mekanisme yang sangat kompleks yang banyak melibatkan faktor

pembekuan darah. Terdapaet  12 komponen plasma yang terlibat langsung pada

proses pembekuan darah yaitu faktor I – XII sehingga penurunan kadar trombosit

saja belum mendukung untuk terjadinya perdarahan.

3. Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek

samping agen kemoterapi.

Diagnosa ini tidak diterapkan karena pasien belum dilakukan kemoterapi selain

itu pada pemeriksaan fisik juga tidak ditemukan adanya perubahan-perubahan

pada mukosa oral yang mendukung penerapan diagnosa ini.

4. Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia.

Dengan gejala nyeri ini merupakan gejala yang tidak spesifik dari penyakit

leukemia, artinya bahwa gejala ini tidak selalu ditemukan pada leukemia dari

data-data yang ada tidak satupun yang mendukung untuk penegakan diagnosa

ini.

5. Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan alopesia dan atau perubahan

cepat pada penampilan tubuh yang rentan dari penurunan berat badan sampai

penambahan berat badan sekunder terhadap tindakan.

Pada saat pengkajian dan pemeriksaan fisik tidak nampak adanya perubahan fisik

yang menyolok yang menyebabkan perubahan citra tubuh pasien sehingga tidak

mendukung untuk diterapkannya diagnosa ini.

54
6. Resiko terhadap koping yang tidak efektif pada individu dan keluarga yang

berhubungan dengan diagnosis dan aturan pengobatan.

Diagnosa ini tidak diangkat karena keluarga klien dan klien telah mendapatkan

pendidikan kesehatan mengenai penyakit termasuk prognosisnya sehingga klien

dan keluarga lebih mengerti dan siap untuk menghadapi keadaannya.

7. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurangnya informasi tentang

proses penyakit, perawatan di rumah dan kebutuhan evalusi.

Diagnosa ini tidak diangkat karena keluarga klien telah mendapatkan pendidikan

kesehatan mengenai penyakitnya.

Serta terdapat 2 diagnosa keperawatan yang ditemukan pada praktek dan

tidak ada pada teori yaitu :

1. Peningkatan suhu badan berhubungan dengan suplai pada sistem kekebalan.

Diagnosa ini diangkat oleh penulis karena ditemukan klien mengalami demam

yang tidak turun yaitu suhunya 400C.

2. Perubahan pola nafas sesak berhubungan dengan penekanan pada diafragma

Diagnosa ini ditegakkan oleh penulis karena ditemukan data yaitu pernafasan

klien cepat, frekuensi nafas meningkat dan terjadi pembesaran pada hepar

55
A. Perencanaan

Pada pembahasan perencanaan disini, intervensi yang diberikan pada

diagnosa keperawatan adalah :

1. Pada diagnosa peningkatan suhu badan, penulis merencanakan tindakan

keperawatan tidak berdasarkan teori karena tidak terdapat diagnosa peningkatan

suhu badan.

Tujuan : klien akan menunjukkan penurunan suhu tubuh sampai pada batas

normal.

Intervensi :

a. Beri kompres hangat pada daerah dahi.

b. Observasi tanda-tanda vital tiap 1 jam

c. Tingkatkan minum peroral.

d. Memberikan pakaian yang longgar dan dapat menyerap keringat

e. Penatalaksanaan pemberian obat anti piretik dan antibiotik

2. Pada diagnosa perubahan pola nafas sesak, penulis merencanakan tindakan

keperawatan tidak sama dengan teori karena diagnosa ini tidak ditemukan pada

kasus.

Tujuan : Klien akan menunjukkan pola nafas efektif

Intervensi :

a. Beri posisi semi fowler

b. Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku serta catat adanya

sianosis.

56
c. Pertahankan istirahat tidur dengan lingkungan yang nyaman dan tenang.

d. Penatalaksanaan pemberian O2 1 liter / menit

B. Pada diagnosa nutrisi kurang dari kebutuhan, penulis merencanakan tindakan

keperawatan sesuai dengan teori.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Intervensi :

a. Kaji kebiasaan makanan yang disukai dan tidak di sukai.

b. Beri tahu keluarga klien, berikan makanan tiap 30 menit dan menganjurkan

tidak banyak membuat makanan yang terlalu banyak.

c. Berikan susu formula 600 cc / 24 jam

d. Anjurkan untuk istirahat sebelum makan.

e. HE kepada keluarga klien tentang pentingnya asupan kalori

C. Pada diagnosa intolerans aktifitas, penulis merencanakan tindakan keperawatan

sesuai dengan teori.

Tujuan : Klien akan menunjukkan peningkatan intoleransi terhadap aktifitas

Intervensi :

a. Bantu klien dalam peme-uhan ADL

1) Makan / minum

2) BAB / BAK

3) Bermain

4) Ganti pakaian

b. Beri tahu keluarga klien agar klien tidak menggunakan energi yang berlebihan

57
C. Implementasi keperawatan

Pelaksanaan tindakan keperawatan yang direncanakan pada klien An.F

dapat dilaksanakan secara keseluruhan sesuai dengan perencanaan. Tidak ditemukan

adanya kesenjangan yang berarti dalam pelaksanaan implementasi. Hal ini karena

adanya kerja sama yang baik dengan petugas ruangan dan keluarga cukup kooperatif

dalam pelaksanaan setiap tindakan.

3. Evaluasi

Dalam evaluasi keperawatan yang didapatkan pada klien An. I yang

dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan, dari 4 diagnosa yang dirumuskan

semuanya aktual dimana semua diagnosa tidak ada yang teratasi karena kondisi klien

yang lemah dan membutuhkan penanganan yang serius sehingga pada hari Rabu

tanggal 15-12-2004 pasien meninggal dunia.

58
BAB V

PENUTUP

Pada bab ini penulis akan menuliskan beberapa kesimpulan akhir dari karya

tulis ini dan saran-saran untuk peningkatan pelayanan perawatan khususnya pada

penderita leukemia

A. Kesimpulan

1. Leukemia merupakan penyakit sistemik yang berakhir fatal yang disebabkan

karena terjadienya kerusakan pada organ pembuat darah yaitu sum-sum tulang.

2. Pada pengkajian anak dengan leukemia berfokus pada gejala klinis seperti :

pucat, panas yang terjadi secara mendadak, anoreksia, perdarahan karena sistem

eritrosit dan trombosit tertekan yang dapat berupa echimosis, petechia disamping

nyeri sendi dan tulang karena infiltrasi sel-sel ganas.

3. Pada pengkajian asuhan keperawatan pada klien leukemia yang dimulai dengan

pengkajian, penerapan rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi

ditemukan 4 diagnosa keperawatan aktual pada klien ini yaitu :

a. Resiko suhu badan berhubungan dengan depresi pada sistem kekebalan.

b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penekanan pada diafragma

c. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

d. Intolerans aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik

59
4. Perencanaan keperawatan pada anak dengan leukemia ditujukan untuk

memenuhi kebutuhan anak dan dapat disusun sesuai dengan kebutuhan dan

selama tidak bertentangan dengan konsep teori.

5. Evaluasi yang diterapkan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan ini yaitu

mengevaluasi hasil dengan mengacu pada kriteria hasil bedasarkan tujuan yang

telah ditegakkan serta mengevaluasi proses dengan menilai proses keperawatan

mulai dari pengkajian sampai pada implementasi.

B. Saran-saran

1. Perlu penyuluhan kepada keluarga tentang terapi pembatasan aktivitas dan gizi

untuk pasien leukemia sehingga asuhan keperawatan dapat terlaksana dengan

efektif dan akurat.

2. Dalam menegakkan diagnosa keperawatan pada anak dengan leukemia

sebaiknya masalah ditetapkan dengan memperhatikan prioritas masalah sesuai

dengan kebutuhan anak serta dengan menggunakan sumber daya dan potensi

yang ada.

3. Dalam menyusun perencanaan keperawatan sebaiknya disusun berdasarkan

kebutuhan anak dengan melibatkan keluarga dalam penyusunannya sehingga

pelaksanaan proses keperawatan dapat berhasil sesuai dengan yang

direncanakan.

60
4. Untuk mencegah bertambahnya penderita leukemia sebaiknya pada keluarga dari

pasien leukemia sebelum menikah periksa dahulu dan menghindari pasangan

yang mempunyai kelainan darah.

5. Untuk rumah sakit sebaiknya menyediakan ruang perawatan khusus (ruang steril)

untuk penyakit leukemia.

61
DAFTAR PUSTAKA

Abdoerrachman MH, dkk, 1998, Ilmu Kesehatan Anak, Buku I, penerbit Fakultas
Kedokteran UI, Jakarta.

Anna Budi Keliat, SKp, MSc., 1994, Proses Keperawatan, EGC.

Marilynn E. Doenges, Mary Prances Moorhouse, Alice C. Beissler, 1993, Rencana


Asuhan Keperawatan, EGC.

Rosa M Sacharin, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik, edisi 2, Jakarta

Soeparman, Sarwono Waspadji, 1998, Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, Balai Penerbit
FKUI, Jakarta.

Sunar Trenggana, Dr. Leukemia ; Penuntun bagi orang tua Bagian Ilmu Kesehatan
Anak, FK UNHAS/SMF Anak RS DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Susan Martin Tucker, Mary M. Canabbio, Eleanor Yang Paquette, Majorie Fife Wells,
1998, Standar Perawatan Pasien, volume 4, EGC.

Sylvia A. Price, Lorraine M. Wilson, 1994, Patofisiologi, buku 1, EGC.

62