Anda di halaman 1dari 9

Seminar Nasional Teknologi Informasi, Bisnis, dan Desain 2016 ISSN: XXXX-XXXX

STMIK – Politeknik PalComTech, 12 Mei 2016

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA JAMUR TIRAM PUTIH


DI KOTA PAGARALAM

Laili Dimyati, S.E., M.Si1, Yesita Astarina, S.E., M.Si2


1,2
Manajemen STIE Lembah Dempo
Jl. Sidik Adim No. 98 Airlaga Pagar Gading, Kota Pagaralam 31511, Sum-Sel, Indonesia
e-mail: laily_dimyati@yahoo.com1, yesitaastarina@gmail.com2

Abstrak – Penelitian ini didasarkan karena adanya biofarmaka dan tanaman hias. Konsumsi terhadap produk
kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat untuk hortikultura terus meningkat sejalan dengan bertambahnya
berkompetensi dalam merespon dinamika perubahan pasar jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan peningkatan
dan pesaing dalam upaya meningkatkan kesejahteraan pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesehatan. Hal ini
masyarakat. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat kota merupakan alasan bahwa pertanian hortikultura sudah
Pagaralam salah satunya adalah membuka usaha kecil saatnya mendapatkan perhatian yang serius terutama
menengah berupa usaha Jamur Tiram Putih. Penelitian ini menyangkut aspek produksi dan pengembangan sistem
bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi pemasarannya. Hortikultura sebagai bahan pangan cukup
pengembangan usaha Jamur Tiram Putih di Kota penting bagi kebutuhan pangan masyarakat, sehingga untuk
Pagaralam. Adapunmetode analisis yang digunakan dalam kebutuhan nasional perlu ditingkatkan produksinya
penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan analisis SWOT (Sugiarti, 2003) [2].
untuk merumuskan strategi pengembangan usaha Jamur
Tiram.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan Salah satu tanaman hortikultura yang dapat
analisis SWOT diperoleh beberapa strategi yang dapat dikembangkan sebagai bahan pangan adalah jamur. Jamur
diterapkan dalam upaya pengembangan usaha Jamur Tiram terdiri dari bermacam-macam jenis, ada yang merugikan
di Kota Pagaralam, diantaranya yaitu: 1) Meningkatkan dan ada yang menguntungkan bagi kehidupan manusia.
kegiatan pemasaran (promosi produk); 2) Memanfaatkan Jamur yang merugikan antara lain karena bersifat patogen
teknologi;3) Memperluas jaringan dengan relasi; 4) yaitu dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan
Mengembangkan hasil produksi; dan 5) Menerapkan maupun tumbuhan. Jamur atau cendawan yang
sistem manajemen pada usaha Jamur Tiram. menguntungkan manusia adalah penicillium yang turut
memberikan andil besar dalam memenuhi aneka ragam
Kata kunci – Strategi Pengembangan, Usaha Jamur Tiram menu makanan khas Indonesia seperti tempe, tape, oncom,
tauco, roti, minuman fermentasi serta berbagai macam
makanan lainnya. Jamur merupakan salah satu jenis produk
I. PENDAHULUAN hortikultura yang dapat dikembangkan dan diarahkan untuk
dapat memperbaiki keadaan gizi masyarakat. Penggunaan
Indonesia merupakan negara yang memiliki sumberdaya pestisida dalam budidaya jamur relatif sedikit. Oleh karena
melimpah terutama sumberdaya pertanian. Pembangunan itu, jamur merupakan pangan yang aman untuk dikonsumsi.
pertanian dibidang pangan khususnya hortikultura pada saat Selain itu dengan harga yang relatif murah, maka hampir
ini ditujukan untuk lebih memantapkan swasembada semua kalangan mampu membelinya. Keunggulan yang
pangan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan spesifik dari jamur bila dibandingkan dengan tanaman lain
memperbaiki keadaan gizi melalui penganekaragaman jenis maupun hewan adalah kemampuan dalam mengubah
bahan makanan. Hortikultura merupakan salah satu celulose atau lignin menjadi polisakarida dan protein yang
subsektor pertanian yang menempati posisi penting dalam bebas kolesterol. Dari sekian banyak jamur yang dapat
memberi kontribusi bagi perekonomian Indonesia. Menurut dikonsumsi (edible mushroom) dan sudah dibudidayakan di
Mubyarto dan Santosa (2003)[1] istilah pertanian tetap Indonesia salah satunya adalah jamur tiram putih (Pasaribu,
relevan dan pembangunan pertanian tetap merupakan et.al. 2002) [3].
bagian dari pembangunan pedesaan (rural development)
yang menekankan pada upaya-upaya meningkatkan Dewasa ini budidaya jamur tiram (mushrooming the
kesejahteraan penduduk desa, termasuk diantaranya petani. mushroom) yang dapat dimakan telah banyak dilakukan
Tujuan pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan orang dengan menggunakan limbah pertanian sebagai
daya saing komoditi pertanian, menumbuhkan usaha kecil media tumbuhnya. Budidaya jamur yang dapat dimakan
menengah dan koperasi serta mengembangkan kemitraan merupakan salah satu cara mengatasi kekurangan pangan
usaha. Dengan visi mewujudkan kemampuan berkompetisi dan gizi serta sebagai usaha untuk menganekaragamkan
merespon dinamika perubahan pasar dan pesaing, serta pola konsumsi rakyat. Beberapa penelitian yang dilakukan
mampu ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah menunjukkan bahwa kandungan mineral jamur lebih tinggi
satu aspek penting dalam pengembangan agribisnis adalah daripada daging sapi dan domba, bahkan hampir dua kali
bahwa kualitas hasil sama pentingnya dengan kuantitas dan lipat jumlah garam minral dalam sayuran. Jumlah
kontinuitas hasil. proteinnya dua kali lipat protein asparagus, kol, kentang dan
empat kali lipat daripada tomat dan wortel serta enam kali
Komoditas tanaman hortikultura di Indonesia sangat lipat dari jeruk. Selain itu jamur juga mengandung zat besi,
beragam dan dapat dibagi menjadi empat kelompok besar, tembaga, kalium dan kapur, kaya vitamin B dan D,
yaitu tanaman buah-buahan, tanaman sayuran, tanaman sejumlah enzim tripsin yang berperan sangat penting pada
1
Seminar Nasional Teknologi Informasi, Bisnis, dan Desain 2016 ISSN: XXXX-XXXX
STMIK – Politeknik PalComTech, 12 Mei 2016

proses pencernaan, kalori dan kolesterolnya rendah. Dari semakin banyaknya orang yang mengetahui dan sadar akan
sisi kesehatan, jamur tiram mempunyai khasiat untuk pentingnya nilai gizi yang terkandung dalam jamur tiram
kesehatan manusia sebagai protein nabati yang tidak dan memiliki berbagai manfaat. Fakta tersebut merupakan
mengandung kolesterol, sehingga dapat mencegah hal positif, baik bagi upaya diversifikasi sumber pangan
timbulnya penyakit darah tinggi, penyakit jantung, untuk alternatif maupun peluang bisnis bagi petani pembudidaya
mengurangi berat badan, obat diabetes, obat anemia dan jamur tiram dan produsen pengolahan produk olahan jamur
sebagai obat anti tumor (Suriawiria, 2006) [4]. tiram. Untuk mendukung upaya budi daya usaha Jamur
Tiram di Kota Pagaralam perlu ditinjau ulang bagaimana
Jamur tiram umumnya hidup dan tumbuh subur di
kondisi sumber daya manusia, permodalan, pemasaran,
daerah dataran tinggi, namun bisa tumbuh pula di daerah maupun upaya merumuskan strategi pengembangan usaha
dataran rendah. Sejauh ini produsen jamur tiram tidak Jamur Tiram.
merasa kesulitan yang berarti dalam memproduksi dan
memasarkan jamur tiram, bahkan belum dapat memenuhi
permintaan jamur tiram. Dengan demikian fenomena
kelangkaan jamur tiram dapat disebabkan oleh relatif II. METODE PENELITIAN
sedikitnya produsen yang membudidayakan dan Penelitian ini merupakan penelitian survei, yang mana
permasalahan dalam produktivitas jamur tiram, sehingga penulis secara langsung meneliti di tempat usaha budi daya
belum mampu menarik minat banyak calon produsen untuk Jamur Tiram Putih yang berlokasi di Air Perikan Kota
memasuki bisnis ini. Padahal Kota Pagaralam sebagai Pagaralam. Metode penelitian yang digunakan adalah
daerah dataran tinggi sebenarnya memiliki potensi yang deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan analisis
besar untuk mengembangkan dan memberdayakan jamur penelitian berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan
tiram. dengan bantuan analisis SWOT dalam merumuskan strategi
Prospek pengembangan budidaya jamur tiram di Kota pengembangan usaha Jamur Tiram Putih.
Pagaralam cukup menjanjikan. Hal ini didukung oleh Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor
adanya lahan potensial dan agroklimat yang cocok, secara sistematis untuk merumuskan strategi usaha jamur
tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk tiram. Análisis ini didasarkan pada logika yang dapat
hortikultura, dan tersedia sumberdaya manusia yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang
dipekerjakan. Budidaya jamur tiram bisa diusahakan baik (Opportunities), namun secara bersamaan dapat
sebagai usaha sampingan ataupun usaha utama dengan skala meminimalkan kelemahan (Weaknes) dan ancaman
kecil, menengah dan besar (industri). Beberapa keuntungan (Threats). Perencanaan strategis usaha jamur tiram
lain budidaya jamur tiram antara lain: 1) Melalui (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi
pemanfaatan bahan-bahan limbah disekitar masyarakat akan yang ada pada saat ini. Hal ini disebut dengan Analisis
menjadikan lingkungan bersih, indah dan sehat; 2) Situasi (Rangkuti, 2009:19) [5].
Budidaya jamur dapat diusahakan tanpa menggunakan
lahan yang luas; 3) Produk jamur dapat dimanfaatkan untuk Adapun kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat
menambahkan gizi atau menu serta dapat menambahkan pada gambar 1 di bawah ini:
pendapatan keluarga; 4) Kompos bekas media tanam dapat
langsung digunakan untuk pupuk kolam ikan, makanan ikan Usaha Jamur Tiram
dan untuk memelihara cacing.
Terdapat resiko yang harus dihadapi oleh para pelaku Analisis Usaha
bisnis usaha jamur tiram cukup beragam. Umumnya resiko
terbesar yang dapat terjadi adalah resiko harga dan resiko
produksi. Jamur tiram di Kota Pagaralam harga jualnya Analisis Faktor Analisis Faktor
relatif stabil yakni berkisar pada harga Rp 20.000,- per kilo. Internal Eksternal
Oleh karena itu, pada usaha ini resiko harga tidak
diperhitungkan. Sedangkan resiko terbesar yang dihadapi
usaha budidaya jamur tiram putih di Kota Pagaralam adalah Kekuatan dan Peluang dan
resiko produksi. Dimana hasil panen yang diperoleh Kelemahan Ancaman
bervariasi dalam jumlahnya. Hasil produksi jamur tiram
dalam setiap periode memiliki jumlah yang berbeda.
Permasalahan lain yang dihadapi pada usaha ini yaitu faktor
Strategi Pengembangan Usaha
cuaca dan iklim yang sulit diprediksi, modal dan tenaga
kerja, serta masalah dalam manajemen yakni Jamur Tiram:
ketidakmampuan dalam mengelola manajemen usaha dan - SDM
perencanaan investasi yang kurang tepat. - Permodalan
- Pemasaran
Komoditas pertanian memiliki sifat mudah rusak dan
pada umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar, sehingga
diperlukan perlakuan khusus dalam penanganan pasca Pertumbuhan Usaha Jamur Tiram
panen seperti pengolahan menjadi produk-produk olahan Gambar 1. Kerangka Konseptual Penelitian
yang lebih tahan lama. Jamur tiram merupakan salah satu
komoditas pertanian yang popular dewasa ini karena
2
Seminar Nasional Teknologi Informasi, Bisnis, dan Desain 2016 ISSN: XXXX-XXXX
STMIK – Politeknik PalComTech, 12 Mei 2016

Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis setiap ˗ Proses sterilisasi


kondisi yang terkait dengan budidaya usaha Jamur Tiram, ˗ Teknik penanaman bibit (inokulasi)
mulai dari kondisi sumber daya manusia, permodalan, serta ˗ Pemeliharaan dan inkubasi
pemasaran. Selanjutnya dilakukan analisis SWOT terhadap ˗ Pembukaan polibek
faktor internal untuk melihat kekuatan dan kelemahan usaha ˗ Perawatan media polibek
dan dilanjutkan dengan analisis terhadap faktor eksternal ˗ Pemberantasan hama/penyakit
untuk melihat peluang dan ancaman terhadap usaha Jamur
Tiram Putih. Berdasarkan analisis yang dilakukan, maka
B. Analisis Pasar
akan dirumuskan strategi pengembangan usaha yang tepat
untuk usaha Jamur Tiram Putih di Kota Pagaralam. 1) Deskripsi Produk
Produk Jamur Tiram Putih yang dihasilkan berupa:
˗ Jamur Tiram Putih segar
III. HASIL DAN PEMBAHASAN ˗ Produk turunan jamur tiram seperti keripik jamur
A. Temuan Penelitian tiram, jamur goreng tepung, sate jamur, bakso jamur,
burger toping jamur, pizza, dan varian produk jamur
Usaha Jamur Tiram Putih yang berlokasi di Air Perikan lainnya yang terus dikembangkan
Kota Pagaralam Sumatera Selatan ini dimulai dari tahun
2010 dengan membeli baglog siap panen. Pemilik usaha ini 2) Prospek Pasar
adalah Edi Purnomo, S.Si yang pada mulanya memulai Budidaya jamur tiram di Kota Pagaralam memiliki
usaha ini dirumah tinggalnya yang berlokasi di Talang pangsa pasar yang cukup potensial. Hampir semua petani
Kelapa Kota Pagaralam. Usaha ini sempat berhenti karena jamur tiram memiliki hubungan dengan pedagang yang siap
terkendala atas ketersediaan lahan, namun pada tahun 2015 menerima hasil produksi jamur tiram dari petani dengan
usaha ini dijalankan kembali dengan membangun tempat harga yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan tanaman
baru di Air Perikan. Dengan adanya ketersediaan lahan sayuran lainnya. Hal ini diperkuat dengan beberapa alasan
hingga saat ini usaha budidaya Jamur Tiram Putih bisa sebagai berikut:
dilakukan dari pembibitan awal hingga penanganan pasca
panen dan saat ini mulai merambah ke pengolahan Jamur 1. Permintaan jamur tiram didaerah Pagaralam dan
segar menjadi aneka varian makanan/camilan dengan brand sekitarnya yang semakin hari semakin meningkat
“Kedai Jamur”. yang dapat diisi dalam rencana budidaya jamur tiram
ini.
Adapun proses budidaya Jamur Tiram Putih yang 2. Pasar jamur tiram saat ini telah meluas sehingga
dilakukan oleh usaha Jamur Tiram di Kota Pagaralam diperlukan produksi jamur tiram dalam skala besar.
adalah sebagai berikut: 3. Masyarakat semakin sadar pentingnya
1) Bahan mengkonsumsi jamur untuk tujuan kesehatan.
4. Jamur saat ini dikonsumsi sebagai pengganti daging
Bahan media tanam untuk jamur tiram adalah serbuk selain dari beralihnya pola makan masyarakat
gergajian kayu dicampur dengan bahan-bahan dibawah ini kepada bahan pangan organik.
dengan perbandingan sebagai berikut :
3) Kebutuhan dan Kecenderungan Pasar
˗ Serbuk gergaji 100 kg
˗ Bekatul atau dedak halus 10 – 15 kg Target “market“ dari usaha ini adalah konsumen jamur
˗ Kalsium carbonat / kapur ( CaCO3 ) 0,5 kg dari “house need“, sehingga kebutuhan akan jamur tiram
˗ Gips ( CaCO3 ) 0,5 kg masih tergolong tinggi dan pemenuhannya masih terbatas
˗ Pupuk TSP 0,5 kg pada pasar tradisional pada umumnya.
˗ Bibit 25 kantong Sementara ini kecenderungan pasar akan jamur tiram
˗ Air secukupnya masih tergolong pasar secondary goods, namun permintaan
Disamping itu perlu disiapkan bahan-bahan yaitu pasar masih tinggi. Sebaliknya pada segmen pasar swalayan
kantong plastik tahan panas (ukuran 03 atau 04, 15 X 25 cm dan restoran yang kebutuhan akan jamur tiram cukup tinggi
atau 17 X 30 cm), karet pengikat, potongan kertas koran, sehingga “suppliers“ jamur tiram masih minim dan masih
potongan pipa paralon (diameter 1” dan lebar 1 cm). sangat dibutuhkan.
2) Alat Kecenderungan dari pasar swalayan dan restoran yang
paling penting untuk disikapi adalah pelayanan akan faktor
˗ Alat pencampuran seperti sekop dan cangkul “satisfaction“ penyediaan barang, mulai dari ketepatan
˗ Alat sterilisasi berupa drum perebus dengan tutup dan waktu, jenis pembayaran, layanan purna jual dan yang
sarangan, sumber panas (kayu bakar) paling utama penurunan harga jual.
3) Proses Produksi 4) Target Pasar
Ada beberapa tahapan dalam proses produksi Jamur Produk jamur segar yang dihasilkan akan dipasarkan ke
Tiram Putih, tahapan tersebut meliputi: atau melalui :
˗ Proses pengomposan
˗ Proses pembungkusan
3
Seminar Nasional Teknologi Informasi, Bisnis, dan Desain 2016 ISSN: XXXX-XXXX
STMIK – Politeknik PalComTech, 12 Mei 2016

1. Agen baik dalam skala besar maupun kecil, yang Secara umum tahap industri menengah adalah
selanjutnya akan dikirim ke berbagai wilayah perluasan dari industri kecil, mulai dari sistem, kapasitas
Pagaralam dan sekitarnya maupun luar Pagaralam produksi hingga ekspansi distribusinya. Tidak tertutup
seperti Lahat, Jarai, Tebing Tinggi dan daerah kemungkinan untuk melakukan ekspor. Tahap ini
terdekat sekitar Pagaralam. diharapkan mampu menyerap sedikitnya 50 tenaga
2. Pasar tradisional Pagaralam dan sekitarnya kerja, investasi yang diperlukan masih dalam analisis.
sebagaimana gambaran, permintaan pasar atas
produk jamur tiram ini cukup tinggi sehingga untuk C. Pembahasan
skala produksi yang direncanakan dalam penelitian 1) Kondisi Industri Kecil Jamur Tiram di Kota Pagaralam
ini pemasarannya sudah cukup melalui pasar
tradisional. Usaha budidaya Jamur Tiram di Kota Pagaralam masih
3. Pasar swalayan dan restoran. Pemasaran tergolong industri kecil awal. Hal ini dapat dilihat dari
direncanakan akan dilaksanakan melalui sektor beberapa kondisi berikut ini:
tersebut apabila produksi telah stabil serta sarana dan 1. Sumber Daya Manusia (SDM)
prasarana telah memadai.
Tenaga kerja adalah para pekerja yang bekerja untuk
5) Proyeksi Pengembangan Usaha menyelesaikan pekerjaan guna menghasilkan barang dan
jasa baik untukmemenuhi kebutuhan sendiri maupun
Menurut banyak pakar ekonomi, usaha ini masih kebutuhan masyarakat. Pada tahap awal perkembangan
berorientasi sebagai usaha kecil, namun usaha tersebut usaha Jamur Tiram ini hanya ada 3 (tiga) orang yang
dipandang sebagai salah satu tulang punggung dalam salah bisa diberdayakan sebagai tenaga kerja. Tenaga kerja
satu pemulihan ekonomi Indonesia. Untuk itu tersebut merupakan masyarakat yang tinggal di sekitar
pengembangan budidaya jamur ini akan dibagi kedalam tiga usaha Jamur Tiram Putih Air Perikan. Keterbatasan
tahap, yaitu tahap industri kecil awal, industri kecil lanjut kemampuan sumber dana dan skala usaha yang masih
dan tahap industri menengah. Penjelasan mengenai ketiga relatif kecil menjadi salah satu kendala yang
tahap tersebut adalah sebagai berikut: menyebabkan usaha ini belum mampu menyerap begitu
1. Tahap industri kecil awal banyak tenaga kerja.
2. Permodalan
 Tahap ini merupakan langkah awal menuju
terbentuknya industri padat karya Modal adalah dana yang digunakan untuk
 Menerapkan standar produksi yang tepat untuk membiayai operasional suatu usaha dalam proses
mengoptimalkan hasil budidaya jamur tiram produksi. Variabel permodalan dalam penelitian ini
 Penyempurnaan sistem produksi, keuangan dan dengan indikator nilai modal kerja dan sumber
distribusi modal.Beberapa alternatif yang dapat dilakukan usaha
 Penambahan tenaga kerja kecil untuk mendapatkan pembiayaan untuk modal
 Pencarian investor dasar maupun untuk langkah-langkah pengembangan
usahanya yaitu: melalui kredit perbankan, pinjaman
Tahap industri kecil awal ini merupakan jembatan lembaga keuangan bukan bank, modal ventura,
menuju berdirinya industri kecil yang kokoh. Investasi pinjaman dari dana penyisihan sebagian laba Badan
yang dibutuhkan untuk tahap industri kecil awal Usaha Milik Negara (BUMN), hibah, dan jenis-jenis
diperkirakan antara 25 hingga 100 juta rupiah. pembiayaan lainnya (Anoraga, 2002:268) [6].
2. Tahap industri kecil lanjut Besaran modal yang digunakan untuk menjalankan
Tahap ini merupakan pengembangan dari tahap usaha Jamur Tiram Putih Air Perikan masih cukup
industri kecil awal. Setelah kebutuhan dana mencukupi, minim yakni berkisar dibawah 25 juta rupiah. Selain
dan seluruh kekurangan telah diatasi, maka dimulailah sumber modal mandiri dari pemilik, usaha Jamur Tiram
industri kecil lanjut yang ditargetkan untuk memiliki ini sudah mulai mengadakan kerjasama dengan pihak
perijinan dan pembentukan badan usaha. Industri ini lain untuk ikut menanamkan modal di usaha Jamur
diharapkan mampu menyerap banyak tenaga kerja, Tiram. Akan tetapi, harapan kedepan setelah usaha ini
mulai dari pekerja kasar dibagian produksi hingga semakin berkembang kekurangan dana dapat ditutupi
professional dibidang pemasaran, research and dengan mencari sumber permodalan lain seperti melalui
development dan administrasi. kredit perbankan untuk usaha kecil menengah ataupun
pembiayaan dari lembaga pinjaman lainnya.
Tahap industri kecil lanjut ini merupakan jembatan
menuju berdirinya industri menengah nasional yang 3. Pemasaran
produksinya diperkirakan mencapai sedikit 100.000 Salah satu bagian terpenting yang dilakukan dalam
baglog produksi permusim. Tahap industri kecil lanjut upaya mengembangkan usaha Jamur Tiram ini adalah
itu sendiri diharapkan mampu memproduksi hingga 9 kegiatan pemasaran. Upaya memasarkan produk sangat
ton per bulan. Investasi yag dibutuhkan untuk tahap terkait dengan bagaimana usaha ini dapat
industri kecil lanjut ini diperkirakan berkisar antara 150 mendistribusikan dan mempromosikan produk Jamur
hingga 200 juta rupiah. Tiramnya agar masyarakat selaku konsumen dapat
3. Tahap Industri Menengah Nasional mengetahui keberadaan produk ini. Disamping itu,
dengan memasarkan produk, maka diharapkan
4
Seminar Nasional Teknologi Informasi, Bisnis, dan Desain 2016 ISSN: XXXX-XXXX
STMIK – Politeknik PalComTech, 12 Mei 2016

konsumen dapat dengan mudah mendapatkan produk ˗ Kurangnya kemampuan dalam mengelola
Jamur Tiram ini kapanpun konsumen membutuhkan. manajemen usaha
˗ Kurangnya perencanaan investasi (Permodalan) yang
Adapun kegiatan pemasaran yang sudah dilakukan kurang tepat
oleh usaha Jamur Tiram ini adalah dengan
mempromosikan produk Jamur Tiram kepada konsumen 2. Analisis Lingkungan Eksternal
melalui mouth to mouthdengan mempengaruhi
konsumen dengan gaya makanan sehat serta konsumsi Analisis lingkungan eksternal dilakukan untuk
makanan sehat seperti sayuran organik. Disamping itu, mencoba mengidentifikasi peluang yang perlu segera
mendapatkan perhatian, dan pada saat yang sama
upaya pemasaran lain yaitu dengan menciptakan varian
produk makanan dari olahan Jamur Tiram. Upaya ini diarahkan untuk mengetahui ancaman yang perlu
dilakukan dengan tujuan untuk memperluas target pasar mendapatkan antisipasi (Husnan dan Suwarsono, 2000)
dan konsumen yang membeli produk Jamur Tiram [7]. Analisis lingkungan eksternal adalah analisis yang
Putih. tersusun dari sekumpulan-sekumpulan kekuatan-
kekuatan yang timbul dan berada di luar jangkauan serta
2) Strategi Pengembangan Usaha Jamur Tiram di Kota biasanya terlepas dari situasi operasional perusahaan.
Pagaralam Faktor-faktor analisis lingkungan eksternal terdiri atas
sosial, ekonomi, teknologi dan pemerintah(Fred R.
Untuk menentukan strategi pengembangan usaha Jamur David, 2000) [8]. Sedangkan menurut Kotler (2005) [9],
Tiram, maka dilakukan analisis dengan menggunakan lingkungan eksternal terdiri atas kependudukan,
matriks SWOT(strength, weakness, opportunities, threaths). ekonomi, fisik, teknologi, kebijakan dan peraturan
Matriks ini digunakan untuk menganalisis faktor internal pemerintah telah menjadi pertimbangan yang semakin
dan faktor eksternal yang terkait dengan usaha Jamur Tiram penting bagi perusahaan atau organisasi akhir-akhir ini
di Kota Pagaralam. dalam merumuskan strategi guna mencapai sasaran yang
1. Analisis Lingkungan Internal diinginkan oleh perusahaan atau organisasi tersebut.
Analisis lingkungan internal memberikan gambaran Dengan kata lain, lingkungan eksternal merupakan
bahwa perusahaan memiliki kekuatan (strengths) atau kekuatan yang berada di luar perusahaan, sehingga
kelemahan (weakness) di bidang manajemen produksi, perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah
operasi pemasaran dan distribusi, organisasi sumber lingkungan akan mempengaruhi kinerja semua
daya manusia, keuangan dan akuntansi. Adapun tujuan perusahaan dalam industri tersebut. Kemudian, dari
dilakukannya analisis internal adalah untuk hasil analisis eksternal dilanjutkan dengan melakukan
mendapatkan faktor kekuatan yang akandigunakan dan evaluasi untuk mengetahui apakah strategi yang
faktor kelemahan yang akan diantisipasi digunakan selama ini memberikan respon terhadap
keberadaannya.Analisis lingkungan internal dilakukan peluang dan ancaman yang ada.
terhadap faktor-faktor strategis internal yang terdiri dari Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh bahwa
kekuatan dan kelemahan dalam kegiatan usaha produk peluang yang dapat dipertimbangkan untuk mendukung
Jamur Tiram di Kota Pagaralam. upaya pengembangan usaha Jamur Tiram adalah:
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh bahwa ˗ Tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap
kekuatan yang dimiliki oleh usaha budidaya Jamur produk hortikultura
Tiram adalah sebagai berikut: ˗ Pangsa pasar yang cukup potensial
˗ Teknik budidaya yang mudah dipelajari dan ˗ Berkembangnya trend hidup sehat dengan
dikembangkan mengkonsumsi tanaman organik di masyarakat
˗ Produk dapat diolah untuk berbagai jenis varian ˗ Adanya lahan potensial dan agroklimat yang cocok
olahan makanan ˗ Tersedianya sumber daya manusia yang dapat
˗ Jamur Tiram merupakan jenis tanaman organik dipekerjakan
˗ Jamur Tiram memiliki manfaat yang baik bagi ˗ Tersedianya permodalan untuk usaha kecil
kesehatan tubuh menengah baik dari bank maupun lembaga pinjaman
˗ Memanfaatkan bahan-bahan limbah di sekitar lainnya
lingkungan ˗ Teknologi yang semakin canggih (baik yang
mendukung proses produksi maupun proses
Adapun kelemahan yang dimiliki usaha Jamur Tiram pemasaran)
adalah sebagai berikut:
˗ Keterbatasan modal habis pakai Ancaman dari lingkungan eksternal yang terkait
˗ Ketersediaan bahan baku untuk media tanam tidak dengan usaha Jamur Tiram adalah sebagai berikut:
begitu melimpah ˗ Harga Jamur segar rentan dipermainkan pasar
˗ Komoditas tanaman Jamur Tiram tidak bisa bertahan ˗ Munculnya pesaing yang mulai melirik usaha Jamur
lama (mudah rusak) Tiram
˗ Rentan mengalami kegagalan produksi ˗ Faktor cuaca dan iklim yang sulit diprekdiksi
˗ Hasil produksi Jamur Tiram jumlahnya tidak dapat
diprediksi 3) Analisis SWOT

5
Seminar Nasional Teknologi Informasi, Bisnis, dan Desain 2016 ISSN: XXXX-XXXX
STMIK – Politeknik PalComTech, 12 Mei 2016

Berdasarkan hasil analisis faktor internal dan Perikan dengan menggunakan matriks SWOT seperti
eksternal, selanjutnya akan dirumuskan strategi yang ditampilkan pada tabel di bawah ini:
dapat diterapkan oleh Usaha Jamur Tiram Putih Air
Tabel 1. Matriks SWOT

FAKTOR INTERNAL S (Strength) W (Weakness)


˗ Teknik budidaya yang mudah ˗ Keterbatasan modal habis pakai
dipelajari dan dikembangkan ˗ Ketersediaan bahan baku untuk media
˗ Produk dapat diolah untuk berbagai tanam tidak begitu melimpah
jenis varian olahan makanan ˗ Komoditas tanaman Jamur Tiram tidak
˗ Jamur Tiram merupakan jenis tanaman bisa bertahan lama (mudah rusak)
organik ˗ Rentan mengalami kegagalan produksi
˗ Jamur Tiram memiliki manfaat yang ˗ Hasil produksi Jamur Tiram jumlahnya
baik bagi kesehatan tubuh tidak dapat diprediksi
˗ Memanfaatkan bahan-bahan limbah di ˗ Kurangnya kemampuan dalam
sekitar lingkungan mengelola manajemen usaha
˗ Kurangnya perencanaan investasi
FAKTOR EKSTERNAL (Permodalan) yang kurang tepat

O (Opportunity) S – O Strategy W – O Strategy


˗ Tingginya tingkat konsumsi ˗ Mempromosikan produk secara lebih ˗ Memperluas pangsa pasar
masyarakat terhadap produk agresif melalui personal selling ˗ Menjalin hubungan yang baik dengan
hortikultura ˗ Mempengaruhi konsumen melalui sesama petani Jamur yang ada di dalam
˗ Pangsa pasar yang cukup potensial sosialisasi tentang gaya hidup sehat kota maupun di luar kota Pagaralam
˗ Berkembangnya trend hidup sehat dengan konsumsi makanan sehat ˗ Menerapkan manajemen usaha yang
dengan mengkonsumsi tanaman seperti sayuran organik strategis dengan memberdayakan SDM
organik di masyarakat ˗ Penggunaan media online untuk yang terampil
˗ Adanya lahan potensial dan agroklimat informasi pengembangan teknik ˗ Mengembangkan usaha Jamur Tiram
yang cocok budidaya, pengolahan dan pemasaran dengan menjalin kerjasama dengan
˗ Tersedianya sumber daya manusia produk investor maupun lembaga pinjaman
yang dapat dipekerjakan untuk menambah modal usaha
˗ Tersedianya permodalan untuk usaha
kecil menengah baik dari bank maupun
lembaga pinjaman lainnya
˗ Teknologi yang semakin canggih (baik
yang mendukung proses produksi
maupun proses pemasaran)
T (Threath) S – T Strategy W – T Strategy
˗ Harga Jamur segar rentan ˗ Menjalin hubungan baik kepada ˗ Menggunakan dan mengembangkan
dipermainkan pasar supplier, distributor, dan konsumen ATG (Alat Tepat Guna)
˗ Munculnya pesaing yang mulai melirik ˗ Mengembangkan varian makanan dari ˗ Mengembangkan teknologi yang
usaha Jamur Tiram olahan Jamur Tiram berhubungan dengan penciptaan produk
˗ Faktor cuaca dan iklim yang sulit olahan Jamur Tiram
diprekdiksi ˗ Peningkatan teknik budidaya dan hasil
produksi dengan melakukan riset dari
proses yang sedang berjalan

Berdasarkan hasil analisis matriks SWOT, maka dapat 4. Memperluas jaringan baik kepada supplier, distributor,
dirumuskan beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam konsumen maupun antar sesama petani Jamur
upayapengembangan usaha Jamur Tiram Putih Air Perikan 5. Menerapkan manajemen usaha yang baik dengan
di Kota Pagaralam. Terdapat beberapa strategi yang telah memberdayakan SDM yang terampil
peneliti rangkum dari analisis SWOT pada tabel 1 di atas, 6. Mengembangkan usaha Jamur Tiram dengan menjalin
strategi tersebut antara lain: kerjasama dengan investor maupun lembaga pinjaman
untuk menambah modal usaha
1. Mempromosikan produk secara lebih agresif 7. Mengembangkan varian makanan dari olahan Jamur
2. Memanfaatkan teknologi berupa media online untuk Tiram
informasi pengembangan teknik budidaya, pengolahan 8. Melakukan riset terhadap proses produksi yang telah
dan pemasaran produk Jamur Tiram dijalankan
3. Memperluas pangsa pasar

6
Seminar Nasional Teknologi Informasi, Bisnis, dan Desain 2016 ISSN: XXXX-XXXX
STMIK – Politeknik PalComTech, 12 Mei 2016

Secara umum dapat dijelaskan bahwa strategi-strategi [5] Rangkuti, Freddy. 2009. “Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis
Kasus Integrated Marketing Communication”. Jakarta: PT. Gramedia
yang telah dirumuskan merupakan suatu kesatuan yang Pustaka Utama.
dapat dilaksanakan dalam usaha Jamur Tiram di Kota [6] Anoraga, Pandji. 2002. “Koperasi, Kewirausahaan, dan Usaha
Pagaralam. Strategi tersebut meliputi upaya pengembangan Kecil”. Jakarta: Rineka Cipta.
pada aspek produksi, distribusi, pemasaran, sumber daya [7] Husnan, S. dan Suwarsono, M. 2000. “Studi Kelayakan Proyek”.
manusia, serta pemanfaatan teknologi dalam usaha Jamur Edisi ke-4. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan.
Tiram. Dengan menerapkan strategi yang telah ada, harapan [8] Fred. R. David. 2000. “Strategic Management”. ISBN: 0130269956.
akan perkembangan usaha Jamur Tiram di KotaPagaralam New Jersey, USA: Prentice Hall.
akan dengan mudah tercapai, terutama jika usaha ini [9] Kotler, P. 2005. “Manajemen Pemasaran”. Edisi 11. Jakarta: Indeks.
dijalankan dengan fokus dan terus beradaptasi untuk
merespon dinamika lingkungan yang senantiasa berubah.

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka
dapat disimpulkan bahwa:
1. Dari hasil analisis SWOT diperoleh beberapa strategi
yang dapat diterapkan dalam upaya pengembangan
usaha Jamur Tiram di Kota Pagaralam, diantaranya
yaitu:
˗ Meningkatkan kegiatan pemasaran (promosi produk)
˗ Memanfaatkan teknologi
˗ Memperluas jaringan dengan relasi
˗ Mengembangkan hasil produksi
˗ Menerapkan sistem manajemen pada usaha Jamur
Tiram
2. Dalam implementasi strategi pengembangan usaha,
pelaku usaha Jamur Tiram perlu beradaptasi dengan
memperhatikan setiap dinamika perubahan yang terjadi
pada lingkungan yang ada.
3. Strategi pengembangan usaha yang telah dirumuskan
peneliti tidak bersifat kontinu, karena jika sewaktu-
waktu terjadi perubahan pada lingkungan internal
maupun eksternal, maka beberapa strategi bisa saja tidak
efektif untuk dilaksanakan.

V. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa
kekurangan sehingga disarankan kepada peneliti selanjutnya
yang ingin melakukan penelitian serupa agar dapat
menggunakan teknik analisis lain yang dapat melengkapi
hasil perumusan strategi, seperti penggunaan matriks BCG
atau matriks QSPM. Dengan demikian, diharapkan
perumusan strategi yang diperoleh dari hasil penelitian
dapat dengan mudah dilaksanakan oleh pemilik usaha
sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada.

REFERENSI
[1] Mubyarto dan A. Santosa. 2003. “Pembangunan Pertanian
Berkelanjutan”. Jurnal Ekonomi Rakyat: 3.
[2] Sugiarti, S. 2003. “Usaha Tani dan Pemasaran Cabai Merah”.
Yogyakarta: Jurnal Akta Agrosia.
[3] Pasaribu, Tahir, dkk. 2002. “Aneka Jamur Unggulan. Jakarta: PT.
Grasindo.
[4] Suriawiria, U. 2002. “Budidaya Jamur Tiram”. Yogyakarta: Kanisius.