Anda di halaman 1dari 4

NAMA: MARCELLINO ALFA SAPUTRA

KELAS: XI AP2

PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM INDUSTRI PARAWISATA.

 Pemangku Kepentingan adalah istilah ‘ Stakeholders’ atau dinamakan


pemangku kepentingan adalah kelompok atau individu yang dukungannya
diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup organisasi.
 pemangku jabatan adalah orang yang memegang jabatan atau menjadi wakil
untuk melakukan jabatan.
 Pemangku kepentingan industri parawisata adalah berbagai pihak yang
mempuyai peran startegis dalam membangun dan menjalankan roda industri
parawisata.

 Peran pemerintah daerah dan pemerintah pusat :


a. Menyediakan informasi keparawisataan, perlindungan hukum, keamanan
dan keselamatan kepada wiatawan.
b. Menciptakaan iklim yang kondusif untuk perkembangan usaha parawisata
yang meliputi terbentuknya kesempatan yang sama dalam berusaha, fasilitas,
dan kepastian hukum.
c. memelihara, mengembangkan dan melestarikan aset-aset nasional yang
menjadi daya tarik wisata dan aset-aset potensial yang belum tergali, dan aset-
aset potensial yang belum tergali.

d. mengawasi dan mengendalikan kegiatan kepariwisataan dalam rangka


mencegah dan menanggulangi berbagai dampak negatif bagi masyarakat luas.

 Peran pengusaha wisata :


a. menjaga dan menghormati norma agama, adat istiadat, budaya dan nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat setempat.
b. memberikan inforamsi yang akurat dan bertanggungjawab.
c. memberikan pelayanan yang tidak diskriminatif.
d. memberikan kenyamanan, keramahan, perlindungan keamanan dan keselamatan
wisatawan.
e. memberikan perlindungan asuransi pada usaha pariwisata yang berisiko tinggi.
f. mengembangkan kemitraan dengan usaha mikro dan kecil serta koperasi setempat yang
saling memerlukan, memperkuat, dan menguntungkan.
 Manfaat industri parawisata ada tiga aspek yaitu :

 manfaat pariwisata dari segi ekonomi :


 Mendatangkaan devisa Negara melalui pajak seperti pajak restoran, pajak bandara, pajak
karyawan.
 Membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga siap kerja. Para tenaga kerja bias mendapatkan
pekerjaan dari sector pariwisata seperti menjadi penjaga loket, membuka tempat makan,
tempat perbelanjaan, pendirian penginapan.
 Menstabilkan perekonomian lokal dan penganekaragaman pekerjaan. Melalui pariwisata
keadaan perekonomian masyarakat akan meningkat dan itu tentu akan menstabilkan
kondisi perekonomian local mereka.
 Pembangunan daerah wisatabaik di kota maupun di daerah. Dengan demikian sektor
pariwisata amat sangat berperan dalam menunjang pembangunan daerah yang akan
menarik wisatawan baik domestic maupun internasional.

 Manfaat pariwisata dari segi sosial:

 Mendorong pembelajaran bahasa asing dan ketrampilan baru. Masyarakat daerah


pariwisata akan terdorong mempunyai ketrampilan berbahasa asing agar dapat
berinteraksi dengan pendatang.
 Akan menimbulkan perasaan bangga pada masyarakat akan pariwisata daerahnya
sehingga menimbulkan kesadaran untuk sama – sama menjaga dan dan melestarikan
pariwisata tersebut.
 Sarana dan prasarana dikembangkan untuk pariwisata juga dapat menguntungkan
penduduk.
 Dana pariwisata terkait telah memberikan kontribusi terhadap sekolah yang dibangun di
beberapa daerah.
 Meningkatkan dan memeratakan pendapatan rakyat. Belanja di DTW akan meningkatkan
pendapatan dan pemerataan pada masyarakat setempat baik secara langsung maupun
tidak langsung melalui dampak berganda (multiflier effect ).

 Manfaat pariwisata dari segi budaya:


 Terjadi interaksi budaya antara budaya local dengan budaya pengunjung yang akan
membawa mereka pada rasa saling menghargai satu sama lain.
 Mengenalkan budaya kita kepada masyarakat luas sehingga budaya tersebut tidak akan
cepat luntur dan hilang karena adanya sosialisasi kebudayaan.
 Mengerti dan memahami latarbelakang kebudayaan lokal sehingga menambah
pengetahuan akan kebudayaan.
 Memungkinkan terjadi asimilasi dan akulturasi budaya.
 Memberikan transfer nilai.

 ALASAN MENGELUARKAN KEBIJAKAN PEMANGKU KEPENTINGAN TERHADAP


INDUSTRI PARAWISATA:
Karena Indonesia pada saat ini masih jauh tertinggal dalam menyerap arus wisatawan yang
berdatangan ke kawasan Asia Pasifik. Oleh karenanya belum banyak memperoleh devisa dari
sector pariwata guna pembangunan nasionalnya dan mengingat pariwisata di masa datang
merupakan penyumbang besar kesejahteraan ekonomi dunia.

 HUBUNGAN PEMANGKU KEPENTINGAN DENGAN INDUSTRI PARAWISATA


DIWILAYAHNYA:

HUBUNGAN ANTARA- PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENGEMBANGAN


KLASTER INDUSTRI KARET DI SUMATRA SELATAN.

 Hubungan antar-pemangku kepentingan industri karet di


Sumatra Selatan belum terjalin dengan baik.
Faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam
hubungan antar-pemangku kepentingan industri
karet antara lain: Ketidakpercayaan terhadap
pelaku usaha lain, ketertutupan dari ide lain
(nyaman dengan kondisi saat ini), kecenderungan
paternalistik, ketidaksesuaian antara pasokan
dan kebutuhan. Upaya yang dilakukan untuk mengembangan klaser industri karet yakni
dengan memfasilitasi hubungan antar- pemangku kepentingan dalam pertukaran
informasi.