Anda di halaman 1dari 3

Menurunnya Populasi Gajah Sumatera di Riau

oleh Tyas Arum Widayati (10612031)

(sumber: www.tempo.com, 2014)

Berdasarkan data dari WWF Indonesia, populasi gajah Sumatera (Elephas maximus
sumatranus) telah berkurang hingga lebih dari separuhnya dalam 25 tahun terakhir.
Menyusutnya populasi gajah ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
hilangnya 70% habitat asli dari gajah Sumatera dan perburuan liar. Estimasi populasi gajah
Sumatera pada tahun 2007 adalah 2400 - 2800 individu. Saat ini, populasi diperkirakan telah
menyusut jauh dari estimasi sebelumnya.
Di Riau, yang dahulu dikenal sebagai benteng populasi gajah, sedikitnya 17 ekor gajah telah
mati terbunuh selama satu tahun terakhir. Direktur Wahana Lingkungan Hidup (WALHI)
menyatakan bahwa total gajah yang mati di Riau dari tahun 2004 hingga 2014 sudah
mencapai 120 ekor. WWF Riau juga menyebutkan bahwa tiga dari dua belas kantong gajah
yang tersebar di daerah Riau telah punah. Kepunahan tersebut terjadi akibat penebangan
hutan secara liar dan pembukaan lahan kelapa sawit secara besar-besaran sehingga habitat
asli gajah Sumatera pun hilang. Kini status gajah Sumatera berubah dari endangered menjadi
critically endangered.
Habitat alami gajah kini terfragmentasi karena luas hutan alam semakin berkurang seiring
dengan berjalannya pembangunan pemukiman warga, kebakaran hutan, pembukaan
perkebunan kelapa sawit, dan illegal logging. Dalam 20 tahun terakhir, hutan alam di Riau
mengalami penyusutan luas sebanyak 56.8 persen atau sekitar 182.140 hektar. Pada akhir
tahun 2005 hutan alam di Riau hanya tersisa 33 persen dari total luas sebelumnya. Akan
tetapi, 23 persen dari wilayah tersebut tidak layak menjadi habitat gajah karena berupa hutan
rawa yang kurang disukai gajah.
(sumber: maps.eyesoftheforest.org, 2014)

WWF telah menginvestigasi perkembangan perkebunan kelapa sawit ilegal di dalam Taman
Nasional Tesso Nilo. Pembukaan kebun kelapa sawit di dalam taman nasional menarik
perhatian gajah Sumatera untuk memakan kelapa sawit tersebut. Dianggap hama, gajah
Sumatera pun dibunuh dengan diberi racun. Sekitar tiga puluh tiga ekor gajah di Taman
Nasional Tesso Nillo dalam waktu dua tahun terakhir.
Dalam rangka perlindungan spesies gajah Sumatera, telah dilakukan konservasi gajah secara
in situ dengan membentuk taman nasional. Permasalahan di sini berakar pada rusaknya
habitat asli gajah dalam taman nasional tersebut. Pembukaan lahan tersebut membentuk patch
pada hutan dan membentuk metapopulasi gajah. Corridor yang sebelumnya ada telah banyak
diganggu oleh aktivitas manusia sehingga lintasan yang sebelumnya digunakan gajah untuk
mencari makan dan berinteraksi dengan gajah lain pada daerah yang berbeda hilang.
Perubahan corridor menjadi tempat aktivitas manusia membuat menyusutnya jumlah lintasan
gajah sehingga gajah kini menginvasi pemukiman dan perkebunan, yang memicu manusia
untuk membunuh gajah karena dianggap hama.
Salah satu penanggulangan yang dapat dilakukan adalah dengan menindak tegas pembukaan
perkebunan liar di daerah taman nasional dan dengan segera membentuk atau mengarahkan
gajah ke koridor baru sebagai lintasan untuk gajah saling berinteraksi satu sama lain dan
mencari makan dari satu tempat ke tempat yang lain. Dalam upaya pembentukan koridor baru,
harus diketahui bagaimana persebaran gajah dalam daerah tersebut serta keanekaragaman
genetiknya. Keanekaragaman genetik dapat diketahui dengan mengambil sampel, misalnya
dari kotoran gajah. Hasil analisis ini digunakan untuk mengetahui kekerabatan gajah satu
dengan yang lain serta mengidentifikasi gajah mana saja yang melewati suatu wilayah
sehingga dapat diteliti faktor yang membuat gajah tersebut melewati wilayah itu. Dengan
mengetahui persebaran, kekerabatan gajah, dan faktor penentu persebaran, pola interaksi
gajah akan dapat diestimasi sehingga dapat membantu menentukan dimana koridor tersebut
harus dibuat. Penanaman kembali vegetasi yang menjadi sumber makanan bagi gajah juga
dapat dilakukan dalam upaya mencegah gajah memasuki wilayah aktivitas manusia.
Referensi:

Anonim. 2014. Dari 120 Gajah Sumatera Mati di Riau Sejak 2004, Baru Satu Kasus Dibawa
ke Pengadilan. www.wwf.or.id/?31705/Dari-120-Gajah-Sumatera-Mati-di-Riau-
Sejak-2004-Baru-Satu-Kasus-Dibawa-ke-Pengadilan. Diakses pada tanggal 7 Oktober
2014 pukul 22.00
Anonim. 2014. Gajah Sumatera. www.wwf.or.id/program/spesies/gajah_sumatera/. Diakses
pada tanggal 7 Oktober 2014 pukul 20.00
Nofitra, Riyan. 2014. Lagi, Gajah Mati di Lahan Konsesi.
www.tempo.co/read/news/2014/05/01/206574572/Lagi-Gajah-Mati-di-Lahan-Konsesi.
Diakses pada tanggal 7 Oktober 2014 pukul 20.14
Nofitra, Riyan. 2014. Populasi Gajah Riau Kian Kritis.
www.tempo.co/read/news/2014/01/11/058543927/Populasi-Gajah-Riau-Kian-Kritis.
Diakses pada tanggal 7 Oktober 2014 pukul 21.00