Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

ANALISIS KASUS

Demam dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus


(arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes
albocpictus dan Aedes aegypti ) (Ngastiyah, 2011).
Antara tahun 1975-1995 DHF (Dengue Hemorrhagic Fever ) / DBD (Demam
Berdarah Dengue) terdeteksi keberadaannya di 102 negara dari 5 wilayah WHO
yaitu: 20 negara Afrika, 42 negara Amerika, 7 negara Asia Tenggara, 4 negara
Mediterania timur, 29 negara Pasifik Barat. (WHO, 2010). Dari data rekam medik
rumah sakit Suaka Insan diapatkan data pasien DHF sebanyak 279 kasus dengan
rincian laki-laki berjumlah 127 orang (45,5%) dan perempuan berjumlah 152 orang
(54,5%).
Karena banyaknya sumber dan buku-buku yang tersedia membuat penulis tidak
mengalami kesulitan dalam melakukan asuhan keperawatan pasien dengan DHF.
Selain itu juga DHF bukan merupakan penyakit baru di Indonesia dan rumah sakit
Suaka Insan khususnya. Dimana penyakit ini bisa dialami oleh semua golongan usia.
Pada asuhan keperawatan An. D didapatkan data yaitu badan pasien demam dan
adanya bintik-bintik merah di seluruh tubuh dan kedua tangan dan kaki.hal ini sama
dengan menifestasi klinis yang ada di teori dimana pasien DHF biasanya juga
mengalami demam naik turun dan juga bintik-bintik merah yang ada di seluruh tubuh.

Menurut Rampengan (2010) diagnose yang mucul pada pasien DHF yaitu :
1. Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler,
perdarahan, muntah, dan demam
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual,muntah, tidak ada nafsu makan.
3. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi virus .
4. Nyeri Akut b/d Agen injuri fisik (DHF), viremia, nyeri otot dan sendi

59
60

5. Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan .


6. Resiko syok ( hipovolemik ) berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,
pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler
7. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat
spasme otot-otot pernafasan, nyeri, hipoventilasi.
8. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dnegan penurunan factor-fakto
pembekuan darah ( trombositopeni )
Sedangkan diagnose yang muncul pada An. D yaitu :
1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
2. Resiko perdarahan berhubungan dengan trombositipenia

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien sama dengan beberapa


diagnosa yang ada di teori.
Dalam teori semua intervensi dapat dilakukan. Hanya intervensi memantau
nilai trombosit saja yang tidak, karena dalam pengambilan sampel darah untuk
evaluasi nilai trombosit itu semua ada tugas dari bagian laboratorium.
Teori-teori yang ada sangat membantu penulis dalam menyelesaikan asuhan
keperawatan. Dengan adanya teori ini penulis mendapat pengetahuan tentang
penyakit DHF secara garis besarnya.
Evaluasi adalah perbandingan hasil-hasil yang diamati dengan kriteria yang
dibuat pada tahap perencanaan. Dapat disimpulkan bahwa masalah keperawatan
(diagnosa resiko) tidak terjadi, tetapi intervensi dan implementasi tetap dilakukan
untuk mencegah kemungkinan yang terjadi.
Selama 2 hari pelaksanaan evaluasi pada An. D yang dilakukan setelah diberika
tindakan keperawatan yaitu masalah yang dialami klien dapat teratasi