Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ALAT PELINDUNG DIRI

2.1.1 Definisi

Alat pelindung diri adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat


bekerja sesuai dengan bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan
pekerja itu sendiri dan orang sekelilingnya (Buntartodkk, 2015).

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI


No.8/MEN/VII/2010, alat pelindung diri atau personal protective
equipment didefinisikan sebagai alat yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh
tubuh daripotensi bahaya di tempat kerja. Dalam pasal 4 ayat 1
PER.08/MEN/VII/2010 menyatakan bahwa APD wajib di temapat kerja
dimana:

1. Dibuat, dicoba, atau dipergunakan mesin, pesawat, alat perkakas,


peralatan atau instalansi berbahaya yang dapat menimbulkan
kecelakaan, kebakaran, atau peledakan.
2. Dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut, atau
disimpan bahan atau barang yang dapat meledak, mudah terbakar,
korosif, beracun, menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi dan bersuhu
rendah.
3. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, peawatan, pembersihan atau
pembongkaran rumah, gedung, atau bangunan lainnya termasuk
bangunan perairan, saluran, atau terowongan di bawah tanah, dan
sebagainya dimana dilakukan pekerjaan persiapan.
4. Dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan
hutan, pengelolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan,
perikanan, dan lapangan kesehatan.
5. Dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan batu-batuan, gas,
minyak panas bumi, atau mineral lainnya, baik di permukaan, di dalam
bumi maupun di dasar perairan.
6. Dilakukan pengangkutan barang, binatang maupun manusia, baik di
daratan, melalui terowongan, di permukaan air, di dalam air maupun
di udara.
7. Dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal, perahu, demaga,
dok, stasiun, bandar udara, dan gudang.
8. Dilakukan penyelaman, pengambilan barang dan pekerjaan lain di
dalam air.
9. Dilakukan pekerjaan pada ketinggian di atas permukaan atau perairan.
10. Dilakukan pekerjaan dibawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau
rendah.
11. Dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah,
kejatuhan, terkena pelatingan benda, terjatuh atau terperosok, hanyut
atau terpelanting.
12. Dilakukan pekerjaan dalam ruangan terbatas tangka, sumur, atau
lubang.
13. Terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap,
gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi dan suara atau getaran.
14. Dilakukan pembuangan atau pemusanahan sampah atau limbah.
15. Dilakukan pemancaran, penyiaran atau penerimaan telekomunikasi
radio, radar, televisi, atau telepon.
16. Dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset
yang menggunakan alat teknis.
17. Dibangkitkan, dirubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau
disalurkan listrik, gas, minyak atau air
18. Diselenggarakan rekreasi yang memakai peralatan, intalasi listrik atau
mekanik.

Sedangkan, menurut Occupational Safety and Health Administration


(OSHA), APD didefinisikan sebagai alat yang digunakan untuk
melindungi pekerja dari luka atau penyakit yang diakibatkan oleh adanya
kontak dengan bahaya (hazard) di tempat kerja, baik yang bersifat kimia,
biologis, radiasi, elektrik, mekanik dan lainnya (Indri Santiasih, 2014).

2.1.2 Jenis – Jenis Alat Pelindung Diri (APD)

Jenis-jenis APD secara umum, menurut Permenkes RI No. 27 Tahun


2017 yaitu:

1. Sarung tangan
Terdapat tiga jenis sarung tangan, yaitu:
a. Sarung tangan bedah (steril), dipakai sewaktu melakukan tindakan
invasif atau pembedahan.
b. Sarung tangan pemeriksaan (bersih), dipakai untuk melindungi
petugas pemberi pelayanan kesehatan sewaktu melakukan
pemeriksaan atau pekerjaan rutin.
c. Sarung tangan rumah tangga, dipakai sewaktu memproses
peralatan, menangani bahan-bahan terkontaminasi, dan sewaktu
membersihkan permukaan yang terkontaminasi.

Umumnya sarung tangan bedah terbuat dari bahan lateks karena


elastis, sensitif dan tahan lama serta dapat disesuaikan dengan ukuran
tangan. Bagi mereka yang alergi terhadap lateks, tersedia dari bahan
sintetik yang menyerupai lateks, biasa disebut dengan nama “nitril”.
Namun, terdapat juga sediaan dari bahan sintesis yang lebih murah dari
lateks yaitu “vinil” tetapi sayangnya tidak elastis, melainkan ketat saat
dipakai dan mudah robek. Sedangkan sarung tangan rumah tangga
terbuat dari bahan karet yang tebal, tidak fleksibel dan sensitif, tetapi
memberikan perlindungan maksimum sebagai pelindung pembatas.

2. Masker
Masker digunakan untuk melindungi wajah dan membran
mukosa mulut dari cipratan darah dan cairan tubuh yang berasal dari
pasien atau permukaan lingkungan udara yang kotor. Serta dapat
melindungi pasien dari permukaan lingkungan udara seperti petugas
pada saat batuk atau bersin. Masker yang di gunakan harus menutupi
hidung dan mulut serta melakukan Fit Test (penekanan di bagian
hidung). Terdapat tiga jenis masker, yaitu:
a. Masker bedah, untuk tindakan bedah atau mencegah penularan
melalui droplet.
b. Masker respiratorik, untuk mencegah penularan melalui airborne.
c. Masker rumah tangga, digunakan di bagian gizi atau dapur.

Respirator partikulat untuk pelayanan kesehatan N95 atau FFP2


(health care particular respirator), merupakan masker khusus dengan
efisiensi tinggi yang berfungsi untuk melindungi seseorang dari
partikel berukuran <5 mikron yang dibawa melalui udara. Pelindung
ini terdiri dari beberapa lapisan penyaring dan harus dipakai menempel
erat pada wajah tanpa ada kebocoran. Kekurangan dari masker ini
yaitu dapat membuat pernapasan pemakai menjadi lebih berat.
Sebelum memakai masker ini, petugas kesehatan perlu melakukan fit
test. Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan fit test:

1) Ukuran respirator perlu disesuaikan dengan ukuran wajah.


2) Memeriksa sisi masker yang menempel pada wajah untuk melihat
adanya cacat atau lapisan yang tidak utuh. Jika cacat atauterdapat
lapisan yang tidak utuh, maka tidak dapat digunakan dan perlu
diganti.
3) Memastikan tali masker tersambung dan menempel dengan baik
di semua titik sambungan.
4) Memastikan klip hidung yang terbuat dari logam dapat
disesuaikan bentuk hidung petugas.

Fungsi alat ini akan menjadi kurang efektif dan kurang aman bila
tidak menempel erat pada wajah. Beberapa keadaan yang dapat
menimbulkan keadaan demikian, yaitu bila adanya janggut dan
jambang , adanya gagang kacamata dan ketiadaan satu atau dua gigi
pada kedua sisi yang dapat mempengaruhi perlekatan bagian wajah
masker.

3. Gaun Pelindung
Gaun pelindung digunakan untuk melindungi baju petugas dari
kemungkinan paparan atau percikan darah atau cairan tubuh, sekresi,
ekskresi serta dapat melindungi pasien dari paparan pakaian petugas
pada tindakan steril. Jenis-jenis gaun pelindung, yaitu:
a. Gaun pelindung tidak kedap air
b. Gaun pelindung kedap air
c. Gaun steril
d. Gaun non steril

Indikasi penggunaan gaun pelindung tindakan atau penanganan


alat yang memungkinkan pencemaran atau kontaminasi pada pakaian
petugas, yaitu:

1) Membersihkan luka
2) Tindakan drainase
3) Menuangkan cairan terkontaminasi kedalam lubang
pembuangan atau toilet
4) Menangani pasien perdarahan massif
5) Tindakan bedah
6) Perawatan gigi

Segera ganti gaun atau pakaian kerja jika terkontaminasi cairan


tubuh pasien seperti darah.

4. Goggle dan perisai wajah

APD ini harus terpasang dengan baik dan benar agar dapat
melindungi wajah dan mata. Tujuan pemakaiannya yaitu, untuk
melindungi mata dan wajah dari percikan darah, cairan tubuh, sekresi
dan eksresi. Serta indikasi dari pemakaian alat ini adalah pada saat
tindakan operasi, pertolongan persalinan dan tindakan persalinan,
tindakan perawatan gigi dan mulut, pencampuran B3 cair,
pemulasaraan jenazah, penanganan linen terkontaminasi di laundry,
atau di ruang dekontaminasi CSSD.

5. Sepatu pelindung
Tujuan pemakaian sepatu pelindung adalah melindung kaki
petugas dari tumpahan ataupun percikan cairan tubuh seperti darah
atau yang lainnya serta dapat mencegah kemungkinan tertusuknya
benda tajam atau kejatuhan alat kesehatan. Sepatu tidak boleh
berlubang agar berfungsi dengan optimal. Jenis sepatu pelindung sama
seperti sepatu boot atau sepatu yang menutup seluruh permukaan kaki.
Indikasi dari pemakaiannya, yaitu:
a. Penanganan pemulasaraan jenazah
b. Penanganan limbah
c. Tindakan operasi
d. Pertolongan dan tindakan persalinan
e. Penanganan linen
f. Pencucian peralatan di ruang gizi
g. Ruang dekontaminasi CSSD
6. Topi pelindung
Tujuan pemakaian topi pelindung adalah untuk mencegah
jatuhnya mikroorganisme yang ada di rambut dan kulit kepala
petugas terhadap alat-alat daerah steril atau membran mukosa pasien
dan juga sebaliknya untuk melindungi kepala atau rambut petugas
dari percikan darah atau cairan tubuh yang berasal dari pasien.
Indikasi dari pemakaian topi pelindung:
a. Tindakan operasi
b. Pertolongan dan tindakan persalinan
c. Tindakan insersi CVL
d. Intubasi trachea
e. Penghisapan lendir massive
f. Pembersihan peralatan kesehatan

Sedangkan menurut Permenkes RI No. 91 Tahun 2015, menyebutkan


bahwa petugas unit tranfusi darah diharuskan untuk mengenakan alat
pelindung diri (APD) di area dimana darah ditangani dan dimana ada risiko
tumpahan, percikan atau aerosol. Untuk penggunaan APD pada petugas unit
transfuse harus memadai di setiap kegiatan, meliputi:

a. Pengambilan darah:
a. Baju laboratorium
b. Sarung tangan (handscoon) sekali pakai
c. Masker (untuk menghindari kontaminasi dari petugas)
b. Pemeriksaan laboratorium:
a. Baju laboratorium
b. Sepatu tertutup khusus untuk laboratorium atau pembungkus
sepatu sekali pakai
c. Sarung tangan sekali pakai
d. Kaca mata pelindung
c. Pengolahan komponen darah:
a. Baju laboratorium
b. Sepatu tertutup khusus untuk laboratorium atau pembungkus
sepatu sekali pakai
c. Kaca mata pelindung
d. Pembungkus kepala sekali pakai

2.1.3 Cara Pemakaian APD

Berikut ini merupakan pedomana cara penggunaan APD yang benar :

1. Sarung Tangan (Rahmawati, 2015)


a. Sarung Tangan Non Steril
1) Jika indikasi sanitasi tangan ada sebelum penggunaan sarung
tangan, lakukanlah sanitasi tangan dengan cara mencuci
tangan menggunakan sabun atau cairan pembersih.
2) Keluarkan sarung tangan dari kotaknya.
3) Sentuh area sarung tangan pada bagian ujung pergelangan
atau pada bagian ujung atas manset.
4) Gunakanlah sarung tangan yang pertama.
5) Ambil sarung tangan kedua dengan tangan yang belum
memakai sarung tangan, kemudian sentuh sedikit saja area
sarung tangan pada daerah pergelangan (pada ujung atas
manset)
6) Untuk menghindari tersentuhnya kulit lengan bawah oleh
tanga yang sudah terpasang sarung tangan, lipatlah
permukaan luar sarung tangan yang akan dipakai,
menggunakan lipatan jari tangan yang menggunakan sarung
tangan, lalu kenakan sarung tangan pada tangan kedua.
7) Setelah kedua sarung tangan terpasang, hindari bersentuhan
dengan benda lain selain apa yang diindikasikan atau kondisi
yang membutuhkan penggunaan sarung tangan.
b. Sarung Tangan Steril
1) Lakukanlah sanitasi tangan dengan cara mencuci tangan
menggunakan sabun atau cairan pembersih.
2) Pastikan integritas kemasan, buka kemasan luar tanpa
menyentuh kemasan steril di dalamnya.
3) Letakkan kemasan yang sudah dibuka ke tempat yang bersih
dan kering, tanpa menyentuh permukaan kemasan steril.
Bukalah kemasan dengan cara menyentuh ujung kemasan
lalu lipat ke bawah, dan biarkan kemasan terbuka.
4) Gunakan ibu jari dan jari telunjuk salah satu tangan lalu
peganglah sarung tangan pada bagian ujung yang terlipat.
5) Masukkan tangan yang satunya ke dalam sarung tangan
dengan gerakan tunggal, biarkan lipatan sarung tangan pada
daerah pergelangan tangan.
6) Ambil sarung tangan kedua dengan cara menyelipkan jari-jari
tangan yang telah menggunakan sarung tangan ke dalam
lipatan manset sarung tangan kedua.
7) Dengan satu gerakan tunggal, masukkan tangan yang belum
memakai sarung tangan ke sarung tangan kedua dengan
menghindari kontak atau bersentuhan dengan tangan yang
telah memakai sarung tangan.
8) Jika dibutuhkan, setelah kedua sarung tangan terpasang,
perbaiki letak sarung tangan pada jari- jari sampai sarung
tangan terpasang dengan nyaman.
9) Bukalah lipatan pada manset dengan menyelipkan jari-jari
tangan lain di bawah lipatan, hindari kontak atau sentuhan
dengan permukaan selain permukaan luar sarung tangan.
10) Tangan yang telah memakai sarung tangan hanya boleh
menyentuh area dan alat-alat yang telah disterilkan serta area
tubuh pasien yang telah didisinfeksi.

2. Masker (Permenkes RI, 2017)


a. Masker
1) Memegang pada bagian tali (kaitkan pada telinga jika
menggunakan kaitan tali karet atau simpulkan tali di belakang
kepala jika menggunakan tali lepas).
2) Eratkan tali kedua pada bagian tengah kepala atau leher.
3) Tekan klip tipis fleksibel (jika ada) sesuai lekuk tulang hidung
dengan kedua ujung jari tengah atau telunjuk.
4) Membetulkan agar masker melekat erat pada wajah dan di
bawah dagu dengan baik.
5) Periksa ulang untuk memastikan bahwa masker telah melekat
dengan benar.
b. Masker Respiratorik
1) Genggamlah respirator menggunakan satu tangan, posisikan
jari-jari pada bagian sisi depan hidung, biarkan tali menjuntai.
2) Posisikan respirator dibawah dagu dan posisikan hidung
dibagian atas.
3) Tariklah tali pengikat respirator bagian atas dan posisikan tali
agak tinggi dibelakang kepala. Lalu, tariklah tali pengikat
bagian bawah, posisikan tali pada kepala bagian atas (posisi
tali menyilang).
4) Letakkan jari-jari dibagian atas hidung yang terbuat dari
logam, tekan sisi logam mengikuti bentuk hidung.
5) Tutup bagian depan respirator menggunakan kedua tangan
dan hati-hati agar posisi respirator tidak berubah.
3. Gaun Pelindung
Cara pemakaian gaun pelindung, yaitu tutupi badan sepenuhnya
dari leher hingga lutut, lengan hingga bagian pergelangan tangan dan
selubungkan ke belakang punggung. Ikat di bagian belakang leher dan
pinggang.

2.1.4 Cara Pelepasan APD

Berikut ini merupakan cara pelepasan APD yang benar (Permenkes RI,
2017):

1. Melepas Sarung Tangan


a) Ingatlah bahwa bagian luar sarung tangan telah terkontaminasi.
b) Pegang bagian luar sarung tangan dengan sarung tangan lainnya,
kemudian lepaskan.
c) Pegang sarung tangan yang telah dilepas dengan menggunakan
tangan yang masih memakai sarung tangan.
d) Selipkan jari tangan yang sudah tidak memakai sarung tangan di
bawah sarung tangan yang belum dilepas di pergelangan tangan.
e) Lepaskan sarung tangan di atas sarung tangan pertama.
f) Buang sarung tangan tersebut ke tempat limbah infeksius.

2. Melepas Goggle atau Perisai Wajah


a) Perlu diingat bahwa bagian luar goggle atau perisai
wajah telah terkontaminasi.
b) Untuk melepasnya, pegang karet atau gagang goggle.
c) Letakkan di wadah yang telah disediakan untuk diproses ulang
atau dalam tempat limbah infeksius.
3. Melepas Gaun Pelindung
a) Ingatlah bahwa bagian depan gaun dan lengan gaun pelindung
telah terkontaminasi .
b) Lepas tali pengikat gaun.
c) Tarik dari leher dan bahu dengan memegang bagian dalam gaun
pelindung saja.
d) Balik gaun pelindung.
e) Lipat atau gulung menjadi gulungan dan letakkan di wadah yang
telah di sediakan untuk diproses ulang atau buang di tempat
limbah infeksius.

4. Melepas Masker
a) Ingatlah bahwa bagian depan masker telah terkontaminasi.
b) Jangan sentuh bagian depan masker .
c) Lepaskan tali bagian bawah dan kemudian tali/karet bagian atas.
d) Buang ke tempat limbah infeksius.

2.1.5 Ketentuan Penggunaan APD untuk Pasien atau Pengunjung

Penggunaan APD pada pasien harus ditetapkan melalui Standar


Prosedur Operasional (SPO) di fasilitas pelayanan kesehatan terhadap
pasien infeksius, yang disesuaikan dengan indikasi dan ketentuan
Pencegahan Pengendalian Infeksi (PPI). Sedangkan penggunaan APD
untuk pengunjung juga ditetapkan melalui SPO di fasilitas pelayanan
kesehatan terhadap kunjungan ke lingkungan infeksius (Permenkes RI,
2017).
2.2 KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

2.2.1 Definisi

Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang bertujuan agar


masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik
jasmani, rohani maupun social. Dengan usaha pencegahan dan pengobatan
terhadap penyakit ataupun gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
pekerjaan dan lingkungan kerja maupun penyakit umum (Buntarto dkk,
2015).

Menurut Mangkunegara (dalam Sayuti, 2013) kesehatan kerja adalah


kondisi yang bebas dari gangguan fisik, mental emosi, atau rasa sakit yang
disebabkan oleh lingkungan kerja. Sedangkan keselamatan kerja adalah
pengawasan terhadap orang, mesin, material, dan metode yang mencakup
lingkungan kerja agar supaya pekerja tidak mengalami cedera.

Sedangkan keselamatan kerja adalah suatu keadaan terhindar dari


bahaya selama melakukan pekerjaan. Keselamatan kerja merupakan salah
satu faktor yang harus dilakukan selama bekerja. (buntarto dkk, 2015).

Jadi, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah kondisi atau faktor
yang mempengaruhi atau dapat mempengaruhi kesehatan dan keselamatan
pekerja atau pekerja lain (termasuk pekerja sementara dan kontraktor),
pengunjung, atau setiap orang di tempat kerja (Ramli, 2013).

2.2.2 Kriteria Kebijakan K3

Suatu kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang baik


disyaratkan memenuhi kriteria berikut (Ramli, 2013):
1. Sesuai dengan sifat dan skala risiko K3 organisasi
Kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah
pewujudan dari visi dan misi suatu organisasi, sehingga harus
disesuaikan dengan sifat dan skala organisasi tersebut. K3 tentu
berbeda antara suatu organisasi dengan organisasi lainnya, tergantung
sifat dan skala risiko yang dihadapi, serta strategi bisnis dalam
organisasi.
2. Mencakup komitmen untuk peningkatan yang berkelanjutan
Dalam kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) harus
tersirat adanya komitmen untuk peningkatan berkelanjutan. Aspek
tersebut tidak bersifat statis, karena berkembang sejalan dengan
teknologi, operasi dan proses produksi. Oleh karena itu, kinerja K3
harus terus menerus ditingkatkan selama organisasi beroperasi agar
terus meningkatkan K3 dalam organisasi.
3. Termasuk adanya komitmen untuk memenuhi perundangan K3 yang
berlaku dan persyaratan lainnya
Hal ini berarti bahwa manajemen akan mendukung pemenuhan
semua persyaratan dan norma K3, baik yang disyaratkan dalam
perundang-undang maupun petunjuk praktis atau standar yang
berlaku.
4. Didokumentasikan, diimplementasikan dan dipelihara
Kebijakan K3 harus didokumentasikan yang berarti bukan hanya
dalam bentuk ungkapan lisan atau pernyataan manajemen, tetapi
dibuat tertulis sehingga dapat diketahui dan dibaca oleh semua pihak
berkepentingan. Disamping itu kebijakan tersebut harus
diimplementasikan, dengan maksud agar tidak sekedar dijadikan
sebuah pajangan atau bagian dari manual Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3). Salah satu bentuk implementasinya adalah dengan
menggunakan kebijakan K3 sebagai acuan dalam setiap kebijakan
organisasi, pengembangan strategi bisnis ataupun rencana kerja
organisasi. Selain harus didokumentasikan dan diimplementasikan,
kebijakan K3 juga harus dipelihara, artinya selalu disempurnakan
sesuai dengan perkembangan, tuntutan dan kemajuan organisasi suatu
organisasi.
5. Dikomunikasikan kepada seluruh pekerja
Dengan maksud agar pekerja mampu memahami maksud dan
tujuan dari kebijakan serta kewajiban dari peran semua pihak dalam
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Komunikasi kebijakan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dapat dilakukan melalui
berbagai cara atau media, contohnya yaitu ditempatkan di lokasi-lokasi
kerja, dimasukkan dalam buku saku K3, website organisasi atau bahan
pembinaan dan pelatihan.
6. Tersedia bagi pihak lain yang terkait
Kebijakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) juga harus
diketahui oleh pihak lain yang terkait dengan bisnis atau aktivitas
organisasi seperti konsumen, pemasok, instansi pemerintah, mitra
bisnis, pemodal, atau masyarakat disekitar. Dengan mengetahui
kebijakan tersebut, maka mereka dapat mengantisipasi, mendukung
ataupun mengapresiasikannya. Kebijakan harus dapat diakses melalui
suatu situs organisasi.
7. Ditinjau ulang secara berkala untuk memastikan bahwa masih relevan
dan sesuai bagi organisasi
Kebijakan K3 bersifat dinamis dan harus selalu disesuaikan
dengan kondisi baik internal maupun eksternal. Oleh karena itu, harus
ditinjau secara berkala apakah masih relevan dengan kondisi
organisasi.
2.2.3 Tujuan K3

Kesehatan dan keselamatan kerja bertujuan untuk menjamin


kesempurnaan atau kesehatan jasmani dan rohani petugas tenaga kerja.
Secara singkat ruang lingkup K3 adalah sebagai berikut (Buntarto, 2015):

1. Memelihara lingkungan kerja yang sehat.


2. Mencegah dan mengobati kecelakaan yang disebabkan akibat
pekerjaan sewaktu bekerja.
3. Mencegah dan mengobati keracunan yang ditimbulkan saat bekerja.
4. Memelihara moral, mencegah dan mengobati keracunan yang timbul
saat bekerja.
5. Menyesuaikan kemampuan dengan pekerjaan.
6. Merehabilitasi pekerja yang mengalami cedera atau sakit akibat dari
pekerjaan.

Adapun tujuan lain dari kesehatan dan keselamatan kerja (K3), sebagai
berikut:

a. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatan dari para pekerja dalam
melakukan pekerjaan untuk keselamatan hidup dan meningkatkan
produksi serta produktivitas nasional.
b. Menjamin keselamatan dari setiap orang yang berada di lingkungan
pekerjaan.
c. Memelihara sumber produksi serta menggunakannya secara aman dan
efisien.
2.3 PERILAKU

2.3.1 Definisi

Perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi


sangat luas. Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2012) yang
merupakan seorang ahli psikologi Pendidikan. Ia membedakan adanya 3
area, wilayah, ranah atau domain dalam perilaku, yakni kognitif
(cognitive), afektif (affective), dan psikomotor (psychomotor).

Sedangkan menurut Lawrence Green (1993) dalam Notoatmodjo


(2014), dijelaskan bahwa kesehatan seseorang atau masyarakat
dipengaruhi oleh faktor-faktor, yakni faktor perilaku dan faktor diluar
perilaku.

Menurut B.F. Skinner (dalam Damin, 2010), dikatakan bahwa semua


perilaku dapat disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan. Menurut Skinner
perilaku dibedakan atas:

1. Perilaku yang dialami (innate behavior), atau yang dikenal dengan


respondent behavior, yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus
yang jelas. Perilaku ini bersifat refleksif.
2. Perilaku operan (operant behavior), yaitu perilaku yang ditimbulkan
karena stimulus yang tidak diketahui. Tapi, semata-mata pelikau ini
seperti ditimbulkan oleh organisme itu sendiri.

2.3.2 Definisi Perilaku Sehat

Menurut Notoatmodjo, perilaku kesehatan adalah respon individu


terhadap stimulus yang memiliki hubungan dengan sakit dan penyakit,
system pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan.
Perilaku kesehatan juga memiliki arti semua aktivitas atau kegiatan
seseorang, baik yang dapat diamati (observable) ataupun yang tidak dapat
diamati (unobservable) yang memiliki keterkaitan dengan pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan (Dona Riska, 2012).

2.3.3 Teori Perilaku

1. Teori Lawrence Green


Menurut Lawrence Green dalam buku Notoatmodjo (2010),
bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
a. Faktor Predisposisi (Predisposing Factors)
Yaitu, faktor-faktor yang mempermudah / mempredisposisi
terjadinya suatu perilaku seseorang. Yang meliputi, sikap,
pengetahuan, kepercayaan, keyakinan, tradisi, nilai-nilai, dan
sebagainya.
b. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)
Yaitu, faktor-faktor yang memfasilitasi / memungkinkan suatu
perilaku, seperti sarana dan prasarana ataupun fasilitas untuk
terjadinya suatu perilaku kesehatan. Faktor pemungkin ini
terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia ataupun tidak
tersedianya fasilitas-fasilitas kesehatan. Fasilitas fisik tersebut
seperti puskesmas, obat-obatan, alat kontrasepsi dan sebagainya.
c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)
Yaitu, faktor-faktor yang memperkuat ataupun mendorong dari
terjadinya suatu perilaku. Faktor ini terwujud dalam bentuk sikap
dan perilaku petugas kesehatan ataupun petugas lainnya yang
merupakan kelompok referensi dari suatu masyarakat. Oleh
karena itu, petugas kesehatan harus memiliki sikap dan perilaku
yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan.
2. Teori Snehandu B. Kar
Kar mencoba menganalisis tentang suatu perilaku yang memiliki
titik tolak bahwa perilaku tesebut memiliki fungsi (Notoatmodjo,
2010):
a. Adanya niat seseorang untuk bertindak dengan objek ataupun
stimulus yang diluar dirinya (behavior intention).
b. Adanya dukungan social dari masyarakat sekitar (social support).
c. Ada atau tidak adanya informasi terkait dengan tindakan yang akan
diambil (accesebility of information)
d. Otonomi pribadi dari seseorang yang bersangkutan dalam hal
mengambil suatu tindakan ataupun keputusan (personal
autonomy).
e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak (action situation).

3. Teori WHO
WHO menganalisis bahwa perilaku seseorang yang bertindak
didasari oleh adanya 4 alasan pokok:
a. Perasaan dan Pemikiran (Feelings and Thoughts)
Dalam bentuk persepsi, pengetahuan, kepercayaan, sikap dan
penilaian seseorang terhadap objek (objek kesehatan).
1) Pengetahuan didapat dari pengalam orang itu sendiri
ataupun dari orang lain.
2) Kepercayaan sering diperoleh dari orang tua, kakek
ataupun nenek. Seseorang menerima kepercayaan
berdasarkan dari keyakinan tanpa adanya pembuktian
terlebih dahulu.
3) Sikap menggambarkan suka ataupun tidak suka seseorang
terhadap suatu objek. Sikap sering didapat dari pengalaman
orang lain atau diri sendiri.
b. Tokoh Penting Sebagai Panutan
Perkataan ataupun perbuatan dari seseorang yang dianggap
lebih penting cenderung akan dicontoh.
c. Sumber-sumber daya (resource)
Mencakup fasilitas, uang, tenaga, waktu dan sebagainya.