Anda di halaman 1dari 38

CASE REPORT

I. IDENTITAS PASIEN
Tn. AR, laki-laki 48 tahun, lahir pada tanggal 6 Juni 1970, pekerjaan swasta,
pendidikan terakhir S1, suku Jawa, tempat tinggal Tanjung Karang, sudah
menikah, datang ke Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung dengan
nomor rekam medis 035xxx dan dilakukan pemeriksaan pada tanggal 14
Desember 2018, pukul 11.00.

II. PEMERIKSAAN PSIKIATRI


Diperoleh dari autoanamnesis pada tanggal 14 Desember 2018 pukul 11.00,
sedangkan alloanamnesis dilakukan dari Ny. Y yang merupakan istri kedua
pasien pada tanggal 14 Desember 2018 pukul 12.00

A. Keluhan Utama
Gangguan konsentrasi sejak 1 minggu yang lalu.

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Tiga bulan yang lalu, pasien tiba-tiba tidak mengingat waktu dan tempat
kerjanya serta dari pagi hari hingga pukul 18.00 pasien hanya berbaring
dan tidak melakukan aktivitas. Keluhan tersebut berulang kembali 2 bulan
yang lalu dengan gejala yang sama dan waktu yang sama, yaitu dari pasien
bangun tidur hingga pukul ± 18.00. Sejak satu bulan yang lalu, pasien
selalu terlihat murung dan merasa sedih serta merasa bersalah. Kemudian
sejak 2 bulan yang lalu, pasien mulai merasa waktu tidurnya berkurang,
bersemangat, dan ingin mengerjakan sesuatu saat malam hari. Awalnya
pasien mulai tidur pukul 23.00, namun semenjak 2 bulan yang lalu pasien
baru bisa tidur pukul 02.00 dini hari. Menurut pasien hal itu sedikit
mengganggu kegiatan sehari-harinya karena merasa lemas. 1 Minggu yang
lalu, pasien mengalami kecelakaan akibat tiba-tiba tidak menyadari
lingkungan sekitarnya walaupun telah diteriakkan oleh teman yang berada
di kursi penumpang. Pasien baru sadar setelah pasien menabrak warung

1
dan airbag mobil pasien keluar. Sejak kecelakaan tersebut, pasien sering
pulang lebih cepat dari tempat kerjanya dengan alasan lelah. Pasien merasa
ada yang salah dengan dirinya sehingga pada 14 Desember 2018, ia
meminta istrinya untuk mendampingi pasien berobat ke poliklinik
kejiwaan RSJ.

C. Riwayat Penyakit Sebelumnya


1. Riwayat Penyakit Psikiatri
Pasien tidak pernah memiliki riwayat penyakit psikiatri sebelumnya.

2. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif


Pasien mengatakan tidak menggunakan zat psikoaktif dan narkotika.
Pasien juga tidak pernah mengkonsumsi minuman beralkohol.

3. Riwayat Penyakit Medis Umum


Pasien menyangkal memiliki riwayat penyakitjantung, asma dan
kejang.

D. RiwayatTumbuh Kembang
1. Periode Prenatal dan Perinatal
Pasien adalah anak ketiga dari empat bersaudara, kehamilan dan
kelahirannya direncanakan dan diinginkan. Ibu pasien hamil cukup
bulan, ditolong oleh dukun, tidak ada penyulit maupun penyakit pada
ibu saat masa kehamilan dan proses melahirkan.Tidak terdapat
kelainan bawaan pada pasien saat lahir.

2. Periode Masa Kanak Awal (0-3 tahun)


Pasien tumbuh dan berkembang sesuai usia sebagaimana anak
seusianya, sehingga tidak terdapat gangguan pertumbuhan maupun
perkembangan pada pasien. Pasien diasuh oleh ibu pasien dan tidak
pernah mengalami sakit berat sejak kecil.

2
3. Periode Masa Kanak Pertengahan (3-7 tahun)
Menurut pasien, pasien mempunyai teman yang banyak, sering
menghabiskan waktu untuk bermain bersama teman-temannya, dan
cukup aktif dalam bergaul. Pasien mulai masuk sekolah saat berusia 6
tahun dan memiliki perilaku baik dan aktif di lingkungan sekolah
maupun rumah. Kemampuan pasien pada periode ini sama seperti
anak-anak seusianya.

4. Periode Masa Kanak Akhir dan Remaja


Pasien menempuh pendidikan sampai tahap Sarjana (S1) bidang
ekonomi. Pasien termasuk siswa berprestasi karena sering menjadi
juara di kelasnya. Pasien tidak pernah tinggal kelas. Pasien merupakan
anak yang dapat bergaul baik dengan teman-temannya.Pasien tidak
pernah memiliki masalah dengan guru atau temannya. Jika ada
masalah, pasien jarang bercerita tentang masalahnya kepada orang tua
atau pun saudaranya karena menurut pasien, pasien tidak ingin
membebani keluarga atau pun saudaranya mengenai masalah yang ia
alami.

5. Periode Saat Ini


Menurut pasien, ia memiliki hubungan yang baik dengan istri
keduanya. Namun pasien memiliki masalah dengan mantan istrinya
dimana setelah bercerai, pasien dilarang bertemu dengan anaknya dan
hanya diperbolehkan untuk berkomunikasi lewat handphone.

E. Riwayat Pendidikan
Pasien menempuh pendidikan Sarjana (S1) fakultas ekonomi hingga
selesai dengan lama pendidikan 4 tahun.

3
F. Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja di Bank selama 15 tahun, setelah Bank tersebut di
akusisi, pasien bekerja di notaris selama 4 tahun, hingga saat ini pasien
bekerja di Partai Politik sebagai tim sukses calon legislatif.

G. Riwayat Hukum
Menurut keluarga dan pasien, pasien tidak pernah terkait atau bermasalah
dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

H. Riwayat Perkawinan
Pasien sudah menikah dua kali, pernikahan pertama berlangsung selama
18 tahun dan pernikahan kedua hingga saat ini telah memasuki tahun ke-
tiga. Pasien memiliki dua orang anak dari pernikahan pertamanya, anak
pertama perempuan berusia 17 tahun, dan anak kedua, laki-laki berusia 13
tahun.

I. Riwayat Kehidupan Beragama


Pasien pemeluk agama Islam dan tekun beribadah. Pendidikan agamanya
didapat dari keluarga dan lingkungan sekitar. Pasien merupakan orang
yang menjalankan nilai agamanya sesuai keyakinan yang dianut.Pasien
tidak pernah mencuri ataupun melakukan tindakan asusila.

J. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Pasien sudah
menikah dan saat ini tinggal bersama istri keduanya.Dari keluarga pasien,
anak kedua pasien yang berasal dari pernikahan pertamanya, menderita
ADHD sejak lahir.

4
Keterangan:

: Laki-laki : Pasien

: Perempuan : Bercerai

: Meninggal : Serumah

K. Riwayat Sosial Ekonomi Keluarga


Hubungan kedekatan pasien dengan orang yang tinggal serumah baik.
Kebutuhan sehari-hari pasien dapat tercukupi melalui hasil kerjanya
sebagai tim sukses caleg.

L. Situasi Kehidupan Sekarang


Selain bekerja sebagai tim sukses caleg A. Dalam kehidupan sehari-hari
pasien mampu bersosialisasi dengan teman-teman di lingkungan tempat
tinggalnya ataupun rekan kerjanya dengan baik.

III. STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Terlihat laki-laki sesuai usianya, memakai kemeja berwarna biru tua
dan celana dasar, rapih, kebersihan dan kerapihan baik.

5
2. Sikap Terhadap Pemeriksa
Kooperatif
3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Selama wawancara, postur tubuh tegap, tangan disamping tubuh
atau di atas meja, terlihat tenang saat diwawancara, tidak meremas
pakaiannya, kontak mata cukup. Tidak terdapat gerakan involunter.

B. Keadaan Afektif
Mood : Sedih
Afek : Mennyempit
Keserasian : Mood dan Afek serasi

C. Pembicaraan
Gaya bicara lancar, spontan, volume cukup, artikulasi jelas, kualitas baik,
kuantitas cukup, koheren.

D. Gangguan Persepsi :
Tidak ditemukan halusinasi, ilusi, depersonalisasi dan derealisasi.

E. Proses Berpikir :
1. Proses atau Arus pikir
Jawaban pasien relevan, asosiasi baik, penjelasan pasien dapat
dipahami, logik, koheren.
2. Isi pikiran
Tidak ada delusi atau waham

F. Sensorium dan Kognisi


 Kesadaran : Compos mentis
 Orientasi tempat : Baik
 Daya ingat segera, sedang, dan jangka panjang : Baik
 Konsentrasi dan perhatian : Cukup
 Kemampuan membaca : Baik

6
 Kemampuan visuospasial :Baik
 Abstraksi : Cukup
 Intelegensi : Cukup
 Kemampuan menolong diri sendiri : Baik

G. Pengendalian Impuls
Baik. Pasien dapat tenang dan kooperatif saat diwawancara.

H. Daya Nilai
 Daya Nilai sosial : Baik
 Uji daya nilai : Baik
 Penilaian realitas : Baik

I. Tilikan
Tilikan derajat IV

J. Penilaian terhadap realita


Tidak terganggu.

K. Taraf Dapat Dipercaya


Kesan dapat dipercaya.

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT


A. Status Internus
Keadaan umum baik, fungsi pernapasan, kardiovaskular dan
gastrointestinal dalam batas normal. Berat badan :65kg dan Tinggi badan :
165 cm.

B. Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg, nadi : 84x/menit, RR:20 x/menit, suhu:
36,6°C.

7
C. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan mata, hidung, telinga, paru, jantung, abdomen, dan
ekstremitas dalam batas normal

D. Status Neurologis
a. Sistem sensorik : dalam batas normal
b. Sistem motorik : dalam batas normal
c. Fungsi luhur : dalam batas normal

E. Laboratorium Darah dan Fungsi Hati serta Tes antibodi Tiphoid


Hemoglobin : 14,8 g/dL
Eritrosit : 4,92 juta/uL
Leukosit : 6700 uL
Trombosit : 408000 uL
Hematokrit : 43%
Hitung jenis leukosit
Basofil : 0%
Eosinofil : 2%
Batang : 0%
Segmen : 58%
Limposit : 35%
Monosit : 5%

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Hasil yang didapatkan dari autoanamnesis dan alloanamnesis pada 14


Desember 2018, pasien datang ke poliklinik kejiwaan dengan keluhan
tidak menyadari apa yang dilakukan. Ini merupakan kunjungan pasien
yang pertama kali ke poliklinik kejiwaan. 3 bulan yang lalu pasien
mengalami hilang ingatan tentang waktu dan tempat ia bekerja. Gejala
tersebut berlangsung selama 1 hari dari pasien bangun tidur hingga pukul
18.00. Keluhan tersebut kembali berulang 2 bulan yang lalu, pasien

8
kembali tidak mengingat waktu dan tempat kerjanya dengan durasi waktu
sejak pasien bangun pagi pukul 05.00 hingga 18.00.

Kira-kira 2 bulan yang lalu, pasien juga sempat merasa waktu tidurnya
berkurang, bersemangat dan ingin mengerjakan sesuatu saat malam hari.
Pasien biasa mulai tidur pukul 23.00, namun 2 bulan yang lalu pasien baru
dapat tidur pukul 02.00 dini hari. Menurut pasien hal itu sedikit
mengganggu kegiatan sehari-harinya karena merasa lemas, namun pasien
tetap dapat bekerja seperti biasa.

Kemudian sejak 1 bulan terakhir ini pasien terlihat murung dan merasa
sedih. Menurut alloanamnesis yang dilakukan pada istri pasien, pasien
terlihat sedih karena merasa tidak mampu untuk memenuhi permintaan
anak-anaknya lantaran kondisi ekonomi yang menurun.

Satu minggu yang lalu, pasien sedang mengendari mobil bersama


temannya, dan tiba-tiba pasien tidak menyadari apa yang dilakukan dan
tidak menyadari lingkungan sekitarnya. Hal ini menyebabkan pasien
mengalami kecelakaan hingga menabrak warung yang berada di pinggir
jalan. Pasien tidak menyadari apa yang dilakukan dan lingkungan
disekitarnya walaupun penumpang telah berusaha menyadarkan pasien.
Pasien baru sadar setelah pasien mengalami kecelakaan. Setelah
kecelakaan terjadi, pasien sering pulang lebih cepat dari tempat kerjanya
dan pasien mengeluh selalu merasa lelah.

VI. FORMULASI DIAGNOSIS

Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, pada pasien didapati gangguan


emosi yang menimbulkan suatu distress (penderitaan) dan disability
(hendaya) dalam pekerjaan dan kehidupan sosial pasien, sehingga dapat
disimpulkan bahwa pasien mengidap gangguan jiwa.

9
Tidak ditemukan riwayat trauma kepala, tumor otak, epilepsi, ataupun
depresi pada kondisi medis umum, sehingga hal ini dapat menjadi dasar
untuk menyingkirkan diagnosis gangguan mental organik (F.0).
Pasien juga tidak dtemukan memiliki riwayat konsumsi minuman
beralkohol serta tidak memiliki riwayat penggunaan zat-zat psikoaktif, hal
ini dapat menyingkirkan diagnosis gangguan mental dan perilaku
akibat penggunaan zat psikoaktif (F.1). Diagnosis skizofrenia (F.2)
dapat disingkirkan melalui hasil pemeriksaan status mental dimana pada
pasien tidak didapati adanya halusinasi auditorik dan waham yang terjadi
selama atau lebih dari satu bulan dan tidak memenuhi kriteria skizofrenia.
Tidak ditemukan adanya gejala utama dan gejala tambahan skizofrenia.

Dari hasil wawancara psikiatri yang dilakukan, didapatkan pasien


mengalami gangguan konsentrasi yang muncul secara tiba-tiba dan telah
berulang 3 kali dalam waktu 3 bulan. Gangguan konsentrasi yang terjadi 1
minggu yang lalu menyebabkan pasien mengalami kecelakaan. Sejak
kecelakaan tersebut, pasien sering pulang lebih cepat dari tempat kerjanya
dengan alasan lelah. Pasien juga selalu merasa sedih dan bersalah sejak
satu bulan yang lalu. Dua bulan yang lalu juga pasien sempat merasa sulit
tidur dan selalu ingin mengerjakan sesuatu Pada pemeriksaan status mental
didapati penampilan yang wajar, sikap dan perilaku yang kooperatif dan
wajar, mood sedih dan afek menyempit, terdapat keserasian antara mood
dan afek, pembicaraan baik dan jelas, tidak didapatkan gangguan persepsi
maupun proses berpikir, orientasi dan waktu yang baik, daya ingat masa
lalu-sekarang baik, kemampuan berpikir abstrak, visuospasial, membaca,
menulis, konsentrasi, dan intelegensi baik, pengendalian impuls baik, daya
nilai baik, tilikan pasien IV, serta pasien terkesan dapat dipercaya.

Hasil pemeriksaan ini menjadi dasar dalam diagnosis Aksis I dengan


gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
(F31.3). Gejala depresif yang dialami pasien memenuhi kriteria untuk
episode depresif ringan dan mengalami penyembuhan sempurna antar

10
episode dan pasien pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode
afektif lain (hipomanik, manik, atau campuran) di masa lampau sehingga
penemuan ini dapat menyingkirkan diagnosis episode depresif (F32),
gangguan depresif berulang (F33), siklotimia (F34.0), serta gangguan
campuran ansietas-depresi (F41.2).

Hingga waktu dilakukan pemeriksaan, pada pasien tidak didapati tanda


dan gejala gangguan kepribadian sehingga sampai saat ini belum ada
diagnosis pada aksis II. Selain itu pada anamnesis dan pemeriksaan fisik
tidak didapati gangguan pada kondisi medis umum, oleh karena itu belum
ada diagnosis pada aksis III. Berdasarkan autoanamnesis yang telah
dilakukan pasien merasa sedih dan bersalah karena dilarang untuk bertemu
dengan anaknya selama selama 3 tahun, dan menurut penuturan istri
pasien, pasien mengalami penurunan pendapatan sehingga tidak dapat
memenuhi kebutuhan anaknya. Sehingga diagnosis pada aksis IV adalah
stress karena berpisah dengan anak dan masalah ekonomi.

Penilaian terhadap kemampuan pasien untuk berfungsi dalam kehidupanya


berdasakan skala GAF (Global Asessment of Functioning) pada pasien ini
didapatkan aksis V, saat dilakukan wawancara 70-61,yaitu beberapa gejala
ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi secara umum masih
baik.

VII. EVALUASI MULTIAKSIAL

1. Aksis I : Gangguan afektif bipolar, episode kini


depresi ringan atau sedang
2. Aksis II : Sampai Saat Ini Belum Ada Diagnosis
3. Aksis III : Sampai Saat Ini Belum Ada Diagnosis
4. Aksis IV : Pemahaman Keluarga
5. Aksis V : GAF (current) 70-61

11
VIII. DAFTAR MASALAH

1. Organobiologik : Tidak ditemukan adanya kelainan fisik yang


bermakna.
2. Psikologik : Pasien sering mengalami perasaan sedih akibat
tidak dapat bertemu dengan anak-anaknya serta perasaan bersalah
akibat tidak mampu memenuhi kebutuhan anaknya.
3. Sosiologik : Ditemukan adanya hendaya dalam bidang sosial
sehingga pasien membutuhkan psikoedukasi.

IX. PROGNOSIS

A. Faktor internal
1. Fungsi pekerjaan dan sosial premorbid (sebelum sakit) baik.
Performa sebelumnya tetap merupakan prediktor terbaik untuk
meramalkan performa dimasa datang.
B. Faktor eksternal
1. Berasal dari pasien
 Kepatuhan pasien dalam minum obat dan rutinitas kontrol;
 Kesadaran pasien mengenai penyakitnya.
2. Berasal dari lingkungan
 Dukungankeluarga dan kemauan pasien untuk sembuh dan
segera berkumpul bersama keluarganya.
 Dukungan teman-teman dan masyarakat tentang kemauan
pasien untuk sembuh
Sehingga pada pasien ini didapatkan prognosis :
1. Quo ad vitam : Dubia ad bonam
2. Quo ad functionam : Dubia ad bonam
3. Quo ad sanationam : Dubia ad bonam

12
X. RENCANA TERAPI

1. Psikofarmaka
 Quetiapine 300 mg/hari

2. Psikoterapi
Intervensi psikososial sangat penting pada gangguan bipolar.
Beberapa pendekatan yang sering dilakukan, yaitu:

a. Psikoedukasi
Psikoedukasional yang diberikan pada gangguan bipolar mengajari
cara mengenali gejala prodromal pada mania dan depresi,
mengatasi stres, mengatasi masalah, mengatasi penolakan dan
stigma terhadap gangguan yang dialami, dan meningkatkan gaya
hidup sehat (meminimalkan penggunaan alkohol, tembakau,
caffeine, memulai olahraga, dan mengatur waktu tidur-bangun).
Kuncinya adalah untuk dapat membuat coping mechanism
tersendiri untuk mencegah mood relaps. Psikoedukasi dapat
diberikan secara individu atau grup.
b. Terapi Kognitif Perilaku (cognitive behavioural therapy)
Biasanya diberikan dalam 20 sesi individual selama 6 bulan dan
sering disertai dengan sesi tambahan.CBT biasanya diberikan
sebagai psikoterapi lini II dalam gangguan bipolar episode
depresif.Psikoterapi kognitif dan perilaku banyak bersandar pada
teori belajar.
c. Family-focused therapy
Pada terapi ini membutuhkan kerjasama dan dukungan dari
keluarga atau orang terdekat. FFT berfokus pada gaya komunikasi
antara pasien dengan keluarga dengan tujuan untuk meningkatkan
fungsi relasi. Sesi ini diberikan oada oasien dan keluarga sebanyak
21 sesi selama 9 bulan.Dalam sebuah RCT yang telah dilakukan,

13
FFT terbukti efektif dalam mengurangi kejadian ulangan depresi,
tetapi tidak pada mania.
d. Terapi interpersonal dan ritmis
Terapi ini memfokuskan pada peran interpersonal, konflik
interpersonal, kekurangan interpersonal dengan mengatur ritme
sosial dan tidur.Biasanya diberikan 24 sesi individual selama 9
bulan.Terapi ini direkomendasikan sebagai terapi tambahan lini III
untuk gangguan bipolar depresi akut dan untuk terapi maintenance.
e. Intervensi Kelompok (Peer Interventions)
Intervensi kelompok bisa dilakukan secara berkelompok atau
secara one-on-one dipercaya dapat mengurangi stigma buruk dan
perasaan mengiosolasi diri pada penderita gangguan bipolar. Pada
pertemuan ini pasien diberikan psikoedukasi sehingga pasien
memperoleh pengetahuan tentang penyakitnya dan cara
mengatasinya. Terapi ini merupakan terapi psikoterapi lini III.
f. Intervensi psikososial lainnya
Contohnya seperti DBT (Dialectical behavior therapy), MBCT
(mindfulness-based cognitive therapy) yang kemungkinan dapat
mengurangi ansietas pada bipolar.
g. Remediasi kognitif dan fungsional
Gangguan fungsional seperti defisit kognitif dapat ditemukan pada
orang dengan gangguan bipolar, tidak hanya selama episode akut,
tetapi juga di antara episode akut tersebut.Remediasi fungsional
terdiri dari 21 sesi intervensi grup selama lebih dari bulan.

XI. DISKUSI

Pada pasien ini perlu dijadikan laporan kasus dalam pembelajaran, karena
kasus gangguan afektif bipolar tergolong cukup sering didapatkan
berkunjung ke Poli Kejiwaan RSJ. Pasien termasuk mengalami gangguan
jiwa karena ditemukannya gangguan mood antara episode hipomanik dan
depresi.

14
Awalnya 3 bulan yang lalu pasien mengalami hilang ingatan tentang waktu
dan tempat ia bekerja. Gejala tersebut berlangsung selama 1 hari dari
pasien bangun tidur hingga pukul 18.00. Keluhan tersebut kembali
berulang 2 bulan yang lalu, pasien kembali tidak mengingat waktu dan
tempat kerjanya dengan durasi waktu sejak pasien bangun pagi pukul
05.00 hingga 18.00.

Kira-kira 2 bulan yang lalu, pasien juga sempat merasa waktu tidurnya
berkurang, bersemangat dan ingin mengerjakan sesuatu saat malam hari.
Pasien biasa mulai tidur pukul 23.00, namun 2 bulan yang lalu pasien baru
dapat tidur pukul 02.00 dini hari. Menurut pasien hal itu sedikit
mengganggu kegiatan sehari-harinya karena merasa lemas. Namun pasien
masih dapat bekerja dan beraktivitas seperti biasa.

Kemudian sejak 1 bulan terakhir ini pasien terlihat murung dan merasa
sedih. Menurut alloanamnesis yang dilakukan pada istri pasien, pasien
terlihat sedih karena merasa tidak mampu untuk memenuhi permintaan
anak-anaknya lantaran kondisi ekonomi yang menurun.

Satu minggu yang lalu, pasien sedang mengendari mobil bersama


temannya, dan tiba-tiba pasien tidak menyadari apa yang dilakukan dan
tidak menyadari lingkungan sekitarnya. Hal ini menyebabkan pasien
mengalami kecelakaan hingga menabrak warung yang berada di pinggir
jalan. Pasien tidak menyadari apa yang dilakukan dan lingkungan
disekitarnya walaupun penumpang telah berusaha menyadarkan pasien.
Pasien baru sadar setelah pasien mengalami kecelakaan. Setelah
kecelakaan terjadi, pasien sering pulang lebih cepat dari tempat kerjanya
dan pasien mengeluh selalu merasa lelah.

Diagnosis pada pasien ini yaitugangguan afektif bipolar, episode kini


depresif ringan atau sedang (F31.3). Gejala depresif yang dialami pasien

15
memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan dan pasien pernah
mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik,
manik, atau campuran) di masa lampau.

Gangguan afektif bipolar merupakan gangguan mood yang kronis dan


berat yang ditandai dengan episode mania, hipomania, campuran, dan
depresi.Diagnosis gangguan bipolar dibuat berdasarkan gambaran
klinis.Angka kejadian gangguan bipolar sama pada pria dan wanita.
Episode manik lebih sering terjadi pada pria, sedangkan episode depresif
lebih sering terjadi pada wanita. Gangguan bipolar juga dapat didiagnosis
sejak awal (usia 5 atau 6 tahun) dan pada usia dewasa atau lansia pada
kasus yang lebih jarang. Gangguan bipolar juga sering terjadi pada orang
yang mengalami perceraian atau tidak menikah dibanding dengan orang
yang menikah.

Etiologi dari gangguan bipolar sampai saat ini belum diketahui secara
pasti.Terdapat beberapa teori yang menyebabkan gangguan bipolar, yaitu:
a. Dysregulation Theory
Mood diatur oleh beberapa mekanisme homeostasis. Kegagalan
komponen homeostasis ini dapat menyebabkan ekspresi mood
tersebut melebihi batasnya yang diidentifikasi sebagai gejala mania
dan depresi. Pendapat lain menyatakan bahwa hiperaktivitas pada
sikuit yang memediasi mania atau depresi dapat memunculkan
perilaku terkait dengan mood tersebut
b. Chaotic Attractor Theory
Perjalanan penyakit gangguan bipolar tidak dapat diprediksi. Defek
biokomia menyebabkan disregulasi sintesis neurotransmiter. Bentuk
disregulasinya konsisten tetapi manifestasi gejala, baik mania atau pun
depresi bergantung kondisi lingkungan dan fisiologis saat itu.
c. Kindling Theory
Beberapa gangguan psikiatri disebabkan oLeh perubahan biokimia
subklinis yang kumulatif di sistem limbik. Progresivitas kumulatif ini

16
menyebabkan neuron semakin mudah tereksitasi sehingga, akhirnya,
gejala dapat diobservasi secara klinis. Model kindling menjelaskan
perubahan biokimia subklinis yang kumulatif di sistem
limbik.Progresivitas kumulatif ini menyebabkan neuron semakin
mudah tereksitasi sehingga, akhirnya gejala dapat diobservasi secara
klinis.Model kindling ini menjelaskan perubahan dan progresifnya
gangguan bipolar sepanjang waktu. Akibatnya, peningkatan beratnya
dan derajat dan frekuensi episode dapat terjadi dengan semakin
lanjutnya usia.
d. Cathecolamine Theory
Abnormalitas noradregenik yang menonjol dan diukur dengan
konsentrasi norepinefrin dan hasil metabolitnya yaitu MHPG. Kadar
MHPG dalam urin lebih rendah pada depresi bipolar bila
dibandingkan dengan pada depresi unipolar.Pada mania, konsentrasi
norepinefrin dan MHPG dalam cairan serebrospinal lebih tinggi.
Tidak ada bukti yang jelas mengenai peran katekolamin lainnya pada
gangguan bipolar.Kadar serotonin rendah dan terdapat gangguan pada
transporter serotonin.Konsentrasi HVA dalam cairan serebrospinal,
metabolit utama dopamin, juga rendah.Peran sistem kolinergik pada
gangguan bipolar tidak begitu jelas. Tidak ada bukti yang kuat
mengenai abnormalitas kolinergik
e. The HPA Axis Theory
Terdapat hubungan yang kuat antara hiperaktivitas aksis HPA dengan
gangguan bipolar. Hubungan tersebut terlihat pada episode campuran
dan depresi bipolar tetapi kurangnya ada bukti dalam klasik mania
f. Protein Signaling Theory
Abnormalitas dalam sinyal kalsium berperan dalam gangguan bipolar,
jalur protein G, dan jalur protein kinase C (PKC). Bukti yang
mendukung peran G protein lebih banyak dibandingkan dengan yang
mendukung peran PKC. Sistem ini dikaitkan dengan
“cellularcogwheels”. Ia berfungsi mengintegrasikan input dan output

17
biokimia kompleks dan mengatur mekanisme umpan-balik. Sistem ini
berperan mempertahankan plastisitas dan memori seluler
g. Calcium Signalling Theory
Abnormalitas pada sinyal kalsium berperan pada gangguan bipolar.
Pada gangguan bipolar terdapat peningkatan kadar kalsium
intraseluler. Obat yang menghambat saluran kalsium berfungsi efektif
dalam mengobati gangguan bipolar
h. Neuroanatomical Theories: cellular resiliency
Terdapat penurunan dalam volume SSP dan jumlah sel, neuron, dan
atau glial dalam gangguan mood.Ditemukan adanya protein
sitoprotektif di korteks frontal. Litium dan stabilisator mood lainnya
meingkatkan kadar protein ini
i. Genetic and Familial Theories
Studi anak kembar, adopsi, dan keluarga menunjukkan bahwa
gangguan biolar adalah diturunkan.Konkordans untuk kembar
monozigot adalah 50%-60% untuk gangguan bipolar.Faktor risiko
pada saudara kandung adalah 4-6 kali lebih tinggi bila dibandingkan
populasi umum.Telah diidentifikasi berbagai kromosom. Kromosom
22 terlibat dalam skizofrenia dan juga gangguan bipolar

Diagnosis gangguan afektif bipolar ditegakkan menggunakan kriteria pada


PPDGJ III, yaitu
F31. Gangguan Afektif Bipolar

1. Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (sekurang-kurangnya


dua episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas
terganggu, pada waktu tertentu terdiri dari peningkatan afek
disertai penambahan energi dan aktivitas (mania atau hipomania),
dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai pengurangan
energi dan aktivitas (depresi).

18
2. Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar
episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan
berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depresi
cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun
jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam
episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh stres
atau trauma mental lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakkan
diagnosis).

3. Termasuk: Gangguan atau psikosis manik-depresif


Tidak termasuk: Gangguan bipolar, episode manik tunggal (F30)

Diagnosis gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau


sedang ditegakkan menggunakan kriteria PPDGJ III, yaitu
F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau
Sedang
Untuk menegakkan diagnosis pasti:
1. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode
depresif ringan (F32.0) ataupun sedang (F32.1) dan
2. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik,
manik, atau campuran di masa lampau
Kriteria untuk episode depresif adalah sebagai berikut
Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat:
1. Afek depresif
2. Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
3. Berkurangnya energi yang menuju meingkatnya keadaan
lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan
menurunnya aktivitas
Gejala lainnya:
1. Konsentrasi dan perhatian berkurang
2. Kehilangan minat dan kepercayaan diri berkurang
3. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

19
4. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
5. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
6. Tidur terganggu
7. Nafsu makan berkurang
 Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut
diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu utnuk
penegakkan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat
dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat
 Kategori diagnosis depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1), dan
berat (F32.2) biasanya digunakan untuk episode depresif tunggal;
(yang pertama). Episode depresif berikutnya harus
diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis depresif berulang
(F33)

Kriteria untuk episode depresif ringan (F32.0) adalah sebagai berikut:


1. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti
tersebut diatas
2. Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya: 1 sampai
dengan 7
3. Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
4. Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar
2 minggu
5. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang
biasa dilakukannya

Kriteria untuk episode depresif sedang (F32.1) adalah sebagai berikut:


1. Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti
pada epidose depresi ringan (F32.0)
2. Ditambah lagi sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala
lainnya
3. Lamanya seluruh episode berlangsuung minimum sekitar 2 minggu

20
4. Menghadapi kesulitan nyata utnuk meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan, dan urusan rumah tangga

Tatalaksana yang dapat diberikan pada pasien dengan gangguan afektif


bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang menurut CANMAT dan
ISBD dalam Guidelines for the management of patients with bipolar
disorder” terdiri dari tatalaksana medikamentosa dan nonmedikamentosa.

Pada tatalaksana medikamentosa, litium, antipsikotik atipikal (APG-II),


dan agen lain seperti antidepresan telah di teliti untuk melihat efikasinya
dalam manajemen gangguan bipolar episode depresif.
a. Langkah 1: Review general principles and asses medication status
Pemeriksaan terhadap pasien gangguan bipolar episode depresif harus
melihat kriteria dari depresif itu sendiri dan tingkat keparahannya
serta gejala lain yang menyertai, seperti keinginan bunuh diri atau
menyakiti diri sendiri. Pemeriksa juga harus mampu merangcang
terapi, mengetahui dukungan psikososial pasien, dan gangguan fungsi
pada pasien. Sebelum memberikan terapi medikamentosa pada pasien
ini, harus dapat menyingkirkan kemungkinan gejala yang terjadi
akibat dari penggunaan alkohol/NAPZA atau suatu kondisi medis
tertentu.

b. Langkah 2: Initiate or optimize therapy and check adherence


Direkomendasikan farmakoterapi yang diberikan saat awal dengan
obat pada lini I yang tersedia. Farmakoterapi yang diberikan harus
didiskusikan dengan pasien dan keluarga.
 Lini I
- Quetiapine
Quetiapine merupakan satu-satunya obat lini I yang
direkomendasikan. Beberapa penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa quetiapine lebih unggul dari placebo.

21
Dosis yang direkomendasikan adalah sebagai berikut
- Quetiapine 300 mg/hari

c. Langkah 3: add on or switch therapy


Respon terhadap terapi yang diberikan dapat dilihat dalam 2 minggu
pengobatan. Pada kasus pengobatan yang tidak berespon, harus
disesuaikan kembali dosis yang diberikan. Agen pada lini I harus
dicoba dalam dosis yang cukup pada durasi yang cukup juga sebelum
mempertimbangkan pemakaian lini II sebagai terapi tambahan atau
terapi pengganti

d. Langkah 4: add on or switch therapy (second-line agents)


Lini II
- Lithium (idealnya pada kadar serum level 0,8-1,2 mEq/L)
- Antidepresan  Sertralin
- Veniafaxine
- ECT  biasanya untuk pasien yang refrater dan butuh respon cepat

e. Langkah 5: add on or switch therapy (third-line therapy)


Lini III
Pasien yang gagal diterapi dengan lini I dan lini II dapat diberikan lini
III, seperti monoterapi dengan:
- Divalproex
- Fluoxetine (biasanya untuk pasien dengan depresi murni)
- Tranylcypromine atau ziprasidone (biasanya untuk pasien dengan
depresi yang bercampur dengan hipomania)
Terapi tambahan dengan:
- Agomelatine
- Bupropion
- Eicosapentaenoic acid (EPA)
- N-acetylcysteine
- Pramipexole

22
- Atau hormon tiroid
Terapi intravena dengan ketamin juga dapat dipertimbangkan untuk
pasien yang refrakter walaupun sudah diberikan lini I dan lini II dan
membutuhkan respon cepat.

Tatalaksana medikamentosa yang diberikan pada pasien ini adalah


pemberian Quetiapine 300 mg/hari dan Depakote 250 mg/hari. Penulis
memilih quetiapine karena obat tersebut merupakan lini I untuk gangguan
bipolar episode depresif akut. Quetiapine diberikan secara monoterapi
terlebih dahulu dan dilihat responnya.

Quetiapine merupakan antipsikotik generasi II (APG II) atau antipsikotik


atipikal. APG II merupakan antagonis serotonin dopamin. Obat
antipsikotik ini terutama bekerja sebagai antagonis resetor dopamin dan
serotonin di otak, dengan target untuk menurunkan gejala-gejala psikotik,
seperti halusinasi, waham, dan lain-lain. Golongan APG II pada umumnya
mempunyai afinitas yang lemah terhadap dopamin 2, selain itu juga
memiliki afinitas terhadap dopamin 4, serotonin, histamin, reseptor
muskarinik, dan reseptor alfa-adrenergik. Golongan ini diduga efektif
untuk gejala positif maupun gejalal negatif. Quetiapine sendiri bersifat
antagonis terhadap reseptor D2, serotonin 5HT2, serotonin 5-HT1, H1, dan
reseptor α1 dan α2 adrenergik. Absorbsinya cepat setelah pemberian oral,
kadar plasma maksimal tercapai setelah 1-2 jam pemberian. Ikatan protein
sekitar 83%. Metabolismenya lewat hati oleh enzim CYP 3A4. Ekskresi
sebagian besar lewat urin dan sebagian kecil lewat feses. Efek samping
yang umum adalah sakit kepala, somnolen, hipotensi, dan dizziness,
peningkatan berat badan, gangguan metabolik dan hiperprolaktinemia, dan
efek samping ekstrapiramidal yang minimal.

23
Tatalaksana medikamentosa sangat penting dan merupakan dasar dari
tatalaksana gangguan bipolar. Sebagai tambahan, terapi
nonmedikamentosa dengan memberikan intervensi psikososial. Hal ini
juga diberikan sebagai terapi maintenance dari gangguan bipolar untuk
mencegah relaps dan mengembalikan kualitas hidup. Terapi psikososial
yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Psikoedukasi
Psikoedukasional yang diberikan pada gangguan bipolar mengajari
cara mengenali gejala prodromal pada mania dan depresi, mengatasi
stres, mengatasi masalah, mengatasi penolakan dan stigma terhadap
gangguan yang dialami, dan meningkatkan gaya hidup sehat
(meminimalkan penggunaan alkohol, tembakau, caffeine, memulai
olahraga, dan mengatur waktu tidur-bangun). Kuncinya adalah untuk
dapat membuat coping mechanism tersendiri untuk mencegah mood
relaps. Psikoedukasi dapat diberikan secara individu atau grup.
b. Terapi kognitif perilaku (cognitive behavioural therapy)
Biasanya diberikan dalam 20 sesi individual selama 6 bulan dan sering
disertai dengan sesi tambahan. CBT biasanya diberikan sebagai
psikoterapi lini II dalam gangguan bipolar episode depresif.
Psikoterapi kognitif dan perilaku banyak bersandar pada teori belajar.
c. Family-focused therapy
Pada terapi ini membutuhkan kerjasama dan dukungan dari keluarga
atau orang terdekat. FFT berfokus pada gaya komunikasi antara pasien
dengan keluarga dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi relasi. Sesi
ini diberikan oada oasien dan keluarga sebanyak 21 sesi selama 9
bulan. Dalam sebuah RCT yang telah dilakukan, FFT terbukti efektif
dalam mengurangi kejadian ulangan depresi, tetapi tidak pada mania.
d. Terapi interpersonal dan ritmis
Terapi ini memfokuskan pada peran interpersonal, konflik
interpersonal, kekurangan interpersonal dengan mengatur ritme sosial
dan tidur. Biasanya diberikan 24 sesi individual selama 9 bulan.

24
Terapi ini direkomendasikan sebagai terapi tambahan lini III untuk
gangguan bipolar depresi akut dan untuk terapi maintenance.
e. Intervensi Kelompok (Peer Interventions)
Intervensi kelompok bisa dilakukan secara berkelompok atau secara
one-on-one dipercaya dapat mengurangi stigma buruk dan perasaan
mengiosolasi diri pada penderita gangguan bipolar. Pada pertemuan
ini pasien diberikan psikoedukasi sehingga pasien memperoleh
pengetahuan tentang penyakitnya dan cara mengatasinya. Terapi ini
merupakan terapi psikoterapi lini III.
f. Intervensi psikososial lainnya
Contohnya seperti DBT (Dialectical behavior therapy), MBCT
(mindfulness-based cognitive therapy) yang kemungkinan dapat
mengurangi ansietas pada bipolar.
g. Remediasi kognitif dan fungsional
Gangguan fungsional seperti defisit kognitif dapat ditemukan pada
orang dengan gangguan bipolar, tidak hanya selama episode akut,
tetapi juga di antara episode akut tersebut. Remediasi fungsional
terdiri dari 21 sesi intervensi grup selama lebih dari bulan.
h. Strategi online dan digital
Dunia masa kini cenderung bergantung pada internet dan banyaknya
aplikasi-aplikasi yang menawarkan kemudahan dalam mengakses
kebutuhan sehari-hari, salah satunya kesehatan mental. Intervensi
dalam bentuk internet dan aplikasi mobile menjadikan pasien lebih
mudah dalam mengakses, lebih mudah mengerti, dan dapat diterima
oleh masyarakat.

25
DAFTAR PUSTAKA

Maslim R. 2011. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ.


Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika
Atmajaya.

Kusumawardhani A, Husain AB, dkk.2013. Buku Ajar Psikiatrik. Jakarta: Balai


Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Sadock BJ, Sadock VA, dan Ruiz P. 2017. Kaplan &-Sadock’s Comprehensive
Textbook of Psychiatry..Edisi 10.London: Wolters Kluwer.

Yatham LN, Kennedy SH, Donovan C, Parikh SV, Macqueen G. 2009. Canadian
Network for Mood and Anxiety Treatments (CANMAT) and International
Society for Bipolar Disorders (ISBD) collaborative update of CANMAT
guidelines for management of patient with bipolar disorder. CANMAT
guideline group. 11: 225-255.

26
LAMPIRAN

27
Autoanamnesis dan Alloanamnesis Tanggal 14 Desember 2018

D : Selamat siang pak. Perkenalkan kami dokter muda disini.Kita ngobrol-


ngobrol sebentar ya pak, boleh?

P : Iya boleh dok

D : Kalau boleh tau nama bapak siapa?

P : Ahmad Relson (benar)

D : Usianya berapa pak?

P : 57 tahun (benar)

D : Bapak tinggalnya dimana pak?

P : di Karang dok Jalan Pemuda (benar)

D : Maaf pak, pendidikan terakhirnya apa pak?

P : S1 Ekonomi saya (benar)

D : Kalau boleh tau sukunya apa ya pak?

P : Orang Jawa dok

D : Agama bapak apa pak?

P : Islam dok

D : Bapak pekerjaannya apa pak?

P : Itu dok yang bantu orang supaya bisa maju..ya bahasa kerennya timses lah
dok

D : Bapak kesini sama siapa pak?

P : Sama istri saya dok

D : Baru pertama kali ya pak kesini?

P : Iya dok

D : Kesini atas kemauan sendiri atau bagaimana pak?

P : Atas kemauan saya dok sekalian saya minta temenin istri saya kesini

28
D : Ohh..begitu ya pak. Memang ada apa pak keluhannya yang membuat
bapak kesini?

P : Jadi gini dok..semua ini berawal mula dari saya ini bawa mobil ke suatu
tempat lah.. saya ini kan kerjanya timses ya.. jadi saya sama bos saya mau
ambil organ. Pas udah sampe mana itu tiba-tiba saya blank..blank.. sampai
nabrak tiang. Padahal menurut bos saya dia udah neriakin saya “awas
pak!berenti pak!” tapi saya ga ngerasa diteriakin begitu. Saya kayak ga
sadar. Baru setelah 5 menitan sehabis kejadian itu saya sadar dalam posisi
udah nabrak itu tiang.

D : Sebelumnya pernah ngalamin kayak gitu pak?

P : Ga pernah saya dok

D : Bapak akhir ini apa ada yang sedang banyak pikiran atau membuat bapak
tertekan? atau mungkin ada masalah di perkejaan?

P : Ga juga ya dok..kalo pekerjaan saya bisalah nge cover semuanya.


Pekerjaan yang saya lakukan sekarang juga udah pernah saya lakuin
sebelumnya, dulu saya juga udah pernah jadi timses, terus dulu saya juga
pernah aktif di perbankan.Jadi, saya ngerasa biasa aja pekerjaan yaah udah
biasa saya lakuin kayak gini. Saya juga ga ngerasa stress atau tertekan
karena pekerjaan saya ini dok

D : Ooh begitu ya pak. Kalau di rumah tinggal sama siapa pak?

P : Tinggal berdua sama istri saya dok?

D : Ini istri pertama pak?

P : Bukan dok

D : Sudah menikah berapa kali pak?

P : Dua kali dok ini yang kedua

D : Sudah berapa lama pak?

P : Sudah 3 tahun dok

D : Kalau di keluarga sendiri atau di rumah apa sedang ada masalah atau
pikiran pak?

P : Hmm..ga ada ya dok kalau di keluarga

KP : Kepikiran anak-anak nya kali ini dok

29
D : Ohh iya..kenapa itu pak anaknya?

P : Ini dok jadi anak saya itu ada dua dari istri yang pertama. Satunya
perempuan udah SMA satunya lagi masih 9 tahun dan kena ADHD dari
kecil. Anak saya yang ADHD emang udah ketauan dari kecil dok. Udah
dibawa berobat juga. Dia itu deket banget sama saya dok. Semenjak saya
pisah sama istri saya yang dulu, anak saya gamau ketemu sama saya dok

D :Kenapa itu pak gamau ketemunya?

P : Gatau juga ya dok..padahal dulu anak saya itu deket banget sama saya
apalagi yang ADHD .. tapi sekarang jadi gamau ketemu lagi

KP : Ah..kayaknya ga dibolehin ketemu itu dok sama istrinya..

P : (diam)

D : Ohh gitu..Bapak jadinya sedih ya pak?

P : Iya sedih saya dok kangen sama anak saya

D : Jadi ngerasa kehilangan begitu ya pak?

P : Iya dok saya ngerasa kehilangan sekali (raut muka menjadi semakin
sedih)

D : Bapak ada ngerasa bersalah?

P : Kalau anak saya yang ADHD itu ya kan emang udah bawaan lahir ya..jadi
ya takdir lah dok

D : Maaf pak, maksudnya ada ngerasa bersalah atau bagaimana pak sama
anaknya?

P : Hmm..iya sebenarnya saya merasa bersalah dok sama anak saya sejak saya
pisah sama istri pertama mereka jadi gamau ketemu saya

D : Bapak sempat ngerasa lebih semangat kerja atau pengennya aktifitas terus
ga pak sebelum ini atau berapa minggu atau bulan yang lalu? Jadi rasanya
ga bisa diem gitu pak

P : Iya dok saya sempet ngerasa jadi pengen kerja terus 2 bulan yang lalu lah
kira-kira. Kalau malem susah tidur jadinya dok orang pengennya ngelakuin
apa apa. Saya jadinya biasa tidur jam 10 11 jadi tidur jam 2 dok gara-gara
itu

30
D : Ohh iya begitu ya pak. Bapak sebelumnya kan belum pernah ya ngalamin
kayak yang tadi bapak ceritain yang ngeblank tadi itu ya. Kalau sebelumnya
pernah ada kecelakaan atau cedera kepala gitu pak?

P : Ga ada dok

D : Kalau misalnya di keluarga ada yang pernah kayak bapak ga? Atau ada
yang ADHD lagi atau punya gangguan jiwa misalnya pak?

P : Ga ada dok, paling anak saya tadi yang ADHD

D : Kalau dulu bapak di sekolah atau kuliahnya gimana pak?

P : Baik-baik saja dok. Saya emang suka bersosialisasi dok suka ngomonglah
orangnya.Ya kalo prestasi biasa-biasa aja dok. Saya dari dulu suka ikut
kegiatan OSIS sama organisasi mahasiswa itu dok emang udah suka ikut
organisasi dari dulu

D : Maaf pak sebelumnya, apa sedang mengonsumsi obat-obat atau minum


alkohol pak?

P : Ga juga dok

D : Ohh begitu ya pak. Ini kami mau tanya-tanya lagi gapapa kan ya pak?

P : Iya tidak apa-apa dok

D : Bapak tau saya siapa?

P : Dokter muda

D : Bapak tau sekarang ada dimana?

P : Di Rumah Sakit Jiwa

D : Bapak tau sekarang jam berapa pak?

P : Sekitar jam 11an dok

D : Nama istri bapak ini siapa pak?

P : Yuni dok

D : Bapak kan tadi cerita yang tentang sempet ngeblank itu ya. Kalo keluhan
lain ada ga pak? Kayak misalnya pernah denger suara atau bisikan tapi ga
ada orangnya?

P : Ga pernah dok

31
D : Kalau ngelihat bayangan lewat-lewat tapi ga ada orangnya pernah pak?

P : Gak pernah juga dok

D : Kalau nyium bau-bau wangi atau busuk gitu padahal gaada sumbernya
pernah pak?

P : Gak permah saya dok

D : Kalau menelan ludah rasanya apa pak? Manis, asin, apa pahit?

P : Asin dok

D : Pernah ada yang megang-megang atau raba-raba ga pak ngerasanya?

P : Gak pernah dok

D : Bapak tau ini apa? (Memegang pulpen)

P : Pulpen itu dok

D : Gunanya untuk apa?

P : Nulis dok

D : Bapak, ngerasa punya kelebihan gak dibanding orang lain. Misalnya lebih
kebal atau bisa nyembuhin sakit gitu?

P : Engga dok

D : Bapak ngerasa ada yang benci sama bapak?

P : Engga dok

D : Bapak ngerasa di badan bapak ada penyakit?

P : Engga juga dok

D : Bapak muslim kan ya pak. Kalau di agama bapak mencuri itu boleh ga
pak?

P : Engga boleh dok

D : Bapak kalau nemuin dompet dijalan, terus ada uang sama KTP mau ibu
apaan?

P : Saya balikin ke yang punya dompetnya dok

D : Kalau misalnya pak istri bapak sakit rasanya gimana pak?

32
P : Ya sedih dok

D : Terus kalau misalnya bapak dapet hadiah rasanya gimana pak?

P : Seneng lah dapat hadiah dok

D : Sekarang saya sebut 3 benda, diingat-ingat ya pak, nanti saya tanya lagi,
bendanya itu buku, pena, meja, coba ulangi lagi pak!

P : Buku, pena, meja

D : Pak masih ingat tadi pagi sebelum kesini makan apa?

P : Makan nasi, ikan, sama sayur dok

D : Coba ulangi lagi pak 3 benda yang saya bilang bapak untuk diingat

P : Buku, pena, meja

D : Ohh iya baik.. Sekarang coba pak namanya dieja dari belakang

P :D–A–M–H–C–A

D : Iya baik pak.. ini tanya-tanya nya sudah pak.. terima kasih ya pak sudah
mau menjawab dan sharing sama kami

P : Iya dok

D : Mari pak.. semoga lekas sembuh ya pak

P : Iya dok terimakasih dok

Keterangan:

D : Dokter muda

P : Pasien

KP : Keluarga Pasien

33
Aloanamnesis (14 Desember 2018)

Keterangan:

1. D: dokter muda
2. K: keluarga pasien

D: Selamat siang bu, perkenalkan bu, saya ayu dan naomi dokter muda yang bertugas di RSJ

saat ini. Kalau kita ngobrol ngobrol sebentar terkait keluhan bapak Ahmad Relson boleh bu?

K: Oh iya, boleh boleh dok, silahkan.

D: maaf sebelumnya bu, nama ibu siapa ya?

K: Nama saya yuni dok, istri dari bapak Relson.

D: Baik, bu Yuni, pak Relson datang ke RSJ atas kesadaran sendiri atau ibu yang mendorong

bapak untuk berobat bu?

K: Bapak ingin berobat sendiri mbak, awalnya dia merasa ada yang aneh dalam diri dia.

D: Oh, begitu bu. Bisa diceritakan nggak Bu apa yang terjadi dengan bapak hingga sampai

berobat?

K: Awalnya 3 bulan yang lalu mbak, dia sewaktu bangun tidur tidak ingat pernah bekerja

dimana. Dia tiba-tiba bangun pagi, lalu ngomong “Saya mau ngapain ya?Hari ini hari apa

sih?” lalu juga dia tidak ingat pernah kerja dimana. Dia ngomong “Saya dulu pernah kerja

dimana ya?” terus saya jawab mbak, “Ayah dulu pernah kerja di Bank Pundi.” Tapi dia tidak

ingat mbak Bank Pundi itu tempat apa.

D: Itu gejalanya berapa lama bu? Apa sampai berhari-hari?

K: Gejalanya itu dari pagi dia bangun tidur sampai maghrib lah mbak kira-kira.

D: Setelah maghrib itu, sikap Pak Relson gimana, Bu?

K: Ya kaya nggak terjadi apa-apa gitu mbak, pas saya cerita ke dia, dia malah tidak percaya.

D: Gejala tersebut apa pernah berulang bu?

34
K: Pernah mbak, itu berulang lagi satu bulan setelah itu. Gejalanya juga sama, dia pas bangun

pagi nggak inget itu hari apa, dia pernah kerja dimana, pokoknya sama persis kaya gejala

yang pertama mbak, dan dia sampai maghrib hanya tidur-tiduran aja mba.

D: Tapi selama gejala itu berlangsung Pak Relson inget nama dia, nama ibu atau anak-

anaknya nggak, Bu?

K: Inget mbak, yang nggak dia inget itu hari apa, dan dia kerja dimana. Pas saya berusaha

mengingatkan dia pernah kerja di Bank, di Notaris dan sekarang di Timses, dia sama sekali

nggak menggubris.

D:Setelah itu pernah berulang lagi bu?

K: Kira-kira seminggu yang lalu mbak, dia lagi nyetir mobil dengan teman calegnya, nah pas

nyupir itu dia tiba-tiba nge-blank dan sampai menabrak warung mbak. Padahal menurut

temannya, ia sudah sampai berteriak-teriak tapi Pak Relson kaya nggak mendengar gitu

mbak. Kecelakaannya itu sampai depan mobil penyok parah dan airbag-nya itu sampai

keluar. Menurut temannya, setelah dia nabrak warung itu baru dia sadar mbak.

D: Nah setelah itu apa ada lagi bu?

K: Kalo dari gejala lupa dan tiba-tiba blank itu sampai saat ini nggak ada lagi sih mbak.

D: Apa ada perubahan sikap atau kebiasaan dari Pak Relson bu selain lupa dan blank?

K: akhir-akhir ini dia sulit tidur mbak, dari yang biasanya tidur mulai dari jam 11 malam, itu

dia baru bisa tidur jam 2-an gitu mbak. Dia semangat banget gitu kaya pengen ngerjain

sesuatu, tapi pas saya tanya, dia bilang nggak ada apa-apa.

D: Sudah berapa lama bu, Pak Relson sulit tidur?

K: Sejak 2 bulan yang lalu lah mbak kira-kira.

D: Sulit tidurnya itu setiap malam selalu begitu bu? Atau ada selang beberapa hari?

K: Iya mba, selalu setiap malam.

D: Apa sebelumnya bapak minum kopi banyak atau minum obat-obatan bu?

35
K: Setahu saya sih nggak mbak, dia biasanya minum kopi satu gelas sore-sore. Untuk

malemnya dia jarang sekali minum kopi. Terus selama ini sih dia nggak konsumsi obat-

obatan sama sekali.

D: Oh iya bu, selain itu ada gejala lain? Misalnya bapak suka sedih atau murung?

K: Ada mbak, dia kurang lebih satu bulan terakhir suka diam dan murung gitu mbak

mukanya, pas saya tanya dia diam aja. Tapi setelah saya lihat WA-nya, ternyata dia sering

berantem dengan anaknya karena tidak bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya.Ya karena

dari pendapatannya yang nggak cukup. Cuma saya kurang tau mbak apa itu penyebab dia

suka murung belakangan ini. Karena selama ini dia nggak pernah cerita terkait anak-anaknya,

saya Cuma bisa ngintip-ngintip dari WA-nya.

D: Apa perilaku bapak itu menurut ibu ada pengaruhnya dengan pekerjaan bapak bu?

K: menurut saya sih, sebelum kecelakaan itu nggak ada mbak. Cuma setelah kecelakaan ini,

semingguan lah mbak kira-kira, dia sering pulang lebih cepat dari tempat kerjanya terus dia

kelihatan capek terus. Pas saya tanya kenapa pulang cepat, dia cuma bilang dia capek mbak.

Saya baru tahu 3 hari belakangan ini dia ternyata habis kecelakaan setelah baca WA dia

dengan anaknya.

D: Bagaimana bu isi WA-nya?

K: Isinya itu dia nggak bisa beliin apa yang anaknya mau karena uangnya tidak cukup dan dia

ngabarin anaknya kalau dia abis kecelakaan mbak.

D: Selain itu apa ada lagi bu?

K: Nggak ada sih mbak seinget saya.

D: Oh iya bu, ibu bisa ceritain nggak Bu, riwayat pekerjaan Pak Relson?

K: Dia pernah bekerja di Bank Pundi, tapi karena Banknya telah di akusisi, jadi dia pindah

kerja di Notaris, setelah 4 tahun bekerja di notaris, dia sekarang kerja di perorangan, ya

sebutlah tim sukses dari Caleg A.

36
D: Menurut ibu apa ada faktor stress dari pekerjaan yang Pak Relson jalani?

K: Kalo menurut saya sih, ada ya mbak, dari faktor pendapatannya menurun sejak berhenti

bekerja dari bank, nggak bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya karena pendapatanya

nggak mencukupi.

D: Kalau dari hubungan antara Pak Relson dan anaknya bagaimana bu?

K: Sejak nikah dengan saya 3 tahun yang lalu, dia nggak boleh ketemu dengan anaknya

mbak, karena dilarang degan istri pertamanya.

D: Memang Pak Relson pisah dengan istri pertamanya kapan ya bu kalau boleh tahu?

K: Dia pisah dengan istri pertamanya sejak 5 tahun yang lalu mbak, proses perceraiannya itu

sampai 2 tahun. Nah, di waktu 2 tahun itu dia bertemu dengan saya.Kami menikah 3 tahun

yang lalu.

D: Tapi sejak 3 tahun itu apa Pak Relson murni nggak berhubungan sama sekali dengan

anaknya atau masih bisa komunikasi lewat hp bu?

K: Selama ini sih dia hanya berkomunikasi lewat WA mbak dengan anak-anaknya. Tapi

anaknya sering minta makanan, atau barang-barang kaya baju gitu mbak.Nah, terkadang dia

beliin tapi terkadang juga nggak dibeliin karena gajinya nggak cukup.

D: Oh iya bu, sebelumnya anak Pak Relson berapa ya?

K: Anak Pak Relson dengan istri pertamanya ada 2 mbak, yang pertama perempuan usia 17

tahun dan SMAnya di Bandung, terus yang kedua laki-laki mbak, umurnya 13 tahun, anak

yang kedua ini menderita ADHD mbak, tapi dia sekolahnya di SMP negri biasa.

D: Oh begitu bu, nah untuk yang membiayai seluruh kebutuhan anak-anaknya ini pak relson

apa bagi kewajiban dengan istrinya apa beliau full membiayai anaknya?

K: Nah untuk biaya anaknya sih setau saya berbagi mbak, dia ngebiayain uang bulanan mbak,

tapi saya juga ga jelas jumlahnya berapa, karena dia nggak pernah cerita tentang jumlahnya.

Tapi walaupun udah dikasih uang bulanan, anaknya tetap minta uang kuota dan uang beli

37
baju.Mantan istrinya juga sering minta Pak Relson untuk nganterin makanan atau kalau

anaknya lagi sakit.

D: kalau hubungan antara ibu sama Pak Relson bagaimana bu saat ini?

K: Saat ini sih saya ngerasa banyak yang dia sembunyikan dari saya terutama terkait

hubungan dia dengan mantan istrinya dan anak-anaknya mbak, saya bisa tahu tentang

masalah biaya itu karena saya lihat WA-nya.

D: Ibu sebelumnya pernah membicarakan hal ini dengan pak relson bu?

K: nggak sih mbak, karena menurut saya ini bukan urusan saya. Cuma selama ini ya cukup

mengganggu karena ada pengaruhnya ke kehidupan sehari-hari dan menurut saya sih jadi

bikin ada perubahan sikap Pak Relson dan pasti jadi beban pikiran buat dia.

D: oh begitu bu, dari keluarga Pak Relson, selain anak keduanya, apa ada yang menderita

keluhan terkait kejiwaan?

K: Nggak mbak setahu saya.

D: Baik bu, terimakasih bu atas infonya. Maaf mengganggu waktunya ya bu.

K: Iya mbak, sama sama mbak.

38

Anda mungkin juga menyukai