Anda di halaman 1dari 17

Nama : Aufa Muhammad Nadhif NIM 04011281621159

Vaskularisasi Kepala

Bagian Luar ( Superficial) Arteri pada kepala dan leher sebagian besar berasal dari a. carotis communis dan a. subclavia Arteri carotis coummnis bercabang(Bifucatio caroditis) menjadi a. carotis interna dan a. carotis externa. A.Karotis externa mensuplai darah ke kepala dan leher di luar rongga cranial-Cabang- cabangnya :

1)

a. thyroidea superior

2)

Mengarah ke anterior, mensuplai laring dan thyroid glands a. lingualis

o

3)

Mengarah ke anterior, mensuplai lidah dan mulut a. facialis

o

o

Mengarah ke anterior, mensuplai wajah

4)

a. occipitalis Mengarah posterior, mensuplai bagian belakang kepala

o

5)

a. auricularis posterior Mengarah ke posterior, mensuplai telinga dan scalp pada bagian lateral kepala

o

6)

a. pharyngeal ascendens Mengarah ke medial, cabang terkecil dari a. carotis externa, mensuplai bagian

o

7)

bawah kepala a. maxillaris Memiliki banyak cabang , mensuplai bagian profunda wajah

o

8)

a. temporalis superficialis terminal, memiliki 3 ramus, R. parietalis ,frontalis dan trasversal

o

A. Vena Jugularis Internal Mengalir di sekitar daerah otak dan melalui foramen jugulare di cranium. 

A. Vena Jugularis Internal Mengalir di sekitar daerah otak dan melalui foramen jugulare di cranium.

Pada umumnya menghantarkan darah dari sebagian besar area depan telinga sampai depan wajah, melalui vena yang berkorespondensi dengan arteri, misalnya muka, lidah, dan bagian dari vena superficial temporal.

  • 1. Plexus Venasus Pharyngeus

Berdrainasi ke V. Jugularis dekat sudut rahang.

  • 2. V. Facialis

Berdrainasi permukaan depan wajah, bergabung dengan cabang anterior v membentuk v. Facialis Communis.

..

Retromandibular

V.Facialis berdrainasi ke V. Jugularis interna di atas os. Hyoideum.

Mendrainasi Lingua dan dasar mulut.

Masuk ke v. jugularis interna tepat di bawah v. facialis communis.

  • 4. V. Thyroidea Superior

Mendrainasi glandula thyroidea dan sebagian laring, serta berdrainasi ke v. jugularis interna setinggi os. Hyoideum.

  • 5. V. Thyroidea Mediae

Mendrainasi glandula thyroidea dan berdrainasi ke v. jugularis interna setinggi cartilage cricodea.

Vena Jugularis interna berjalan jauh ke m. Sternomastoideus dan keluar dari trigonum anterior, masuk ke dasar leher. Di sinilah, vena jugularis interna bergabung dengan vena subclavia dan membentuk Vv. Brachiacephalicae.

Add. B. Vena Jugularis Eksterna Terbentuk dari gabungan v. Auricularis posterior dan cabang posterior dari vena retromandibularis (tepat di bawah lobus telinga). Menghantarkan darah dari area temporal, maksila, dan area posterior auricular. V. Retromandibular berasal dari gabungan v. Superficial temporal dan v. Maxillary. V. Posterior retromandibular bergabung dengan v. Posterior Auricularis membentuk v. Jugularis Eksternal. V. Anterior retromandibular bergabung dengan v. Facial membentuk v. Common facial.

Vena jugularis Eksterna akan berakhiir di v. Subclavia dan kemudian akan bergabung lagi dengan vena Jugularis Internal membentuk Vena Brachiocephalic.

 Vena jugularis Eksterna akan berakhiir di v. Subclavia dan kemudian akan bergabung lagi dengan vena

Bagian dalam (Internal)

Tedapat 4 arteri besar yang memasok darah ke otak : Sepasang Aa. Carotis interna dan Aa. Vertebrales. Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk circulus arteriosus cerebri (WILLSII)

Arteria Karotis

Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis kira-kita setinggi tulang rawan tiroid. Arteria karotis komunis kiri langsung bercabang dari arkus aorta, tetapi arteria karotis komunis kanan berasal dari arteria brakiosefalika. Arteria karotis eksterna mendarahi wajah, tiroid, lidah, dan faring. Cabang dari arteia karotis eksterna yaitu arteria meningea media, mendarahi struktur-struktur dalam di daerah wajah dan mengirimkan satu cabang yang besar ke duramater.

Arteri karotis interna masuk kedalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteria serebri anterior dan media. Arteria serebri media adalah lanjutan langsung dari arteria karotis interna.

Cabang-cabang cerebral arteri carotis interna  A. Opthalmica dipercabangkan sewaktu a. carotis interna keluar dari sinus

Cabang-cabang cerebral arteri carotis interna

A. Opthalmica dipercabangkan sewaktu a. carotis interna keluar dari sinus cavernosus. pembuluh ini mendarahi mata dan isi orbita lainnya, bagian hidung dan sinus-sinus udara ..

A. Communicans posterior, adalah pembuluh kecil yang berjalan kebelakang untuk bergabung dengan a. Cerebri posterior.

A. Choroidea, sebuah cabang kecil, berjalan kebelakang, masuk ke dalam cornu inferior ventriculus lateralis, dan berakhir di plexus choroideus.

A. Cerebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus caudatus dan putamen ganglia basalis, bagian kapsula interna dan korpus kalosum, dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Bila arteis serebri anterior mengalami sumbatan pada cabang utamanya, akan terjadi hemiplegia kontralateral yang lebih berat dibagian kaki dibandingkan bagian tangan . paralisis bilateral dan gangguan sensorik timbul bila terjadi sumbatan total pada kedua arteri serebri anterior, tetapi pada keadaan inipun ekstremitas bawah lebih parah terkena daripada ekstremitas atas.

A. Cerebri media menyuplai darah untuk bagian lobus temporalis, parietalis, dan frontalis korteks serebri dan membentuk penyebaran pada permukaan lateral yang menyerupai kipas. Arteria ini merupakan sumber darah utama girus presentralis dan

postsentralis. Korteks auditorius, somestetik, motorik, dan pramotorik disuplai oleh arteria ini seperti juga korteks asosiasi yang berkaitan dengan fungsi integrasi yang lebih tinggi pada lobus sentralis tersebut. Arteria serebri yang tersumbat di dekat percabangan kortikal utamanya (pada trunkus arteria) dapat menimbulkan afasia berat bila yang terkena hemisferium serebri dominan bahasa. Selain itu juga mengakibatkan hilangnya sensasi posisi dan diskriminasi taktil dua titik kontralateral serta hemiplagia kontralateral yang berat terutama ekstremitas atas dan wajah.

Arteri Vertebralis

Cabang dari bagian pertama a. subclavia, berjalan ke atas melalui foramen processus transverses vertebra C1-6. Pembuluh ini masuk ke tengkorak melalui foramen magnum dan berjalan ke atas , depan dan medial medulla oblongata. Pada pinggir bawah pons arteri ini bergabung dengan arteri dari sisi lainnya membentuk a. basilaris.

Cabang-cabang cerebral arteri vertebralis:

Aa. meningeae

A. spinalis anterior dan posterior

A. cerebella posteroinferior

Aa. medullares

Arteri Basilaris

A. basilaris dibentuk dari gabungan kedua a. vertebralis, berjalan naik di dalam alur pada permukaan anterior pons. Pada pinggir atas pons bercabang menjadi dua a. cerebri poseterior.

Cabang-cabang arteri basilaris:

Cabang untuk pons, cerebellum, telinga dalam

A. cerebri posterior

Pada masing-masing sisi melengkung ke lateral dan belakang di sekeliling mesenchepalon. Cabang-cabang cortical menyuplai permukaan inferolateral lobus temporalis dan permukaan lateral dan medial lobus occipitalis. Jadi menyuplai cortex visual. Cabang-cabang central menembus substansia otak dan menyuplai masa substansia grisea di dalam hemisphere cerebri dan mesenchepalon.

Circulus Willis

Terletak di dalam fossa interpenduncularis pada dasar otak. Circulus ini dibentuk oleh anastomosis antara kedua a. carotis interna dan kedua a. vertebralis. Circulus willisi memungkinkan darah yang masuk melalui a. carotis interna ata a. vertebralis didistribusikan ke setiap bagian dari kedua hemispherium cerebri.

Pada masing-masing sisi melengkung ke lateral dan belakang di sekeliling mesenchepalon. Cabang-cabang cortical menyuplai permukaan inferolateral

Arteria-arteria Konduksi dan Penembus

Pada umumnya, arteria serebri mempunyai fungsi konduksi atau penembus. Arteria konduksi (arteria carotis interna, serebri anterior, media dan posterior, arteria vertebrobasilaris dan cabang utama arteria-arteria ini) membentuk suatu jalinan pembuluh yang luas meliputi permukaan otak. Arteria penembus merupakan pembuluh nutrisi yang berasal dari cabang-cabang arteria konduksi. Masuk kedalam otak secara tegak lurus dan mengalirkan darah ke struktur-struktur serebral bagian dalam seperti diensefalon, ganglia basalis, kapsula interna dan bagian-bagian otak tengah. Arteria-arteria kecil ini seringkali terlibat dalam sindrom stroke.

Pengaturan Aliran Darah Otak

Autoregulasi otak adalah kemampuan otak normal mengendalikan volume aliran darahnya sendiri bawah kondisi tekanan arteri yang berubah-ubah. Fungsi ini dilakukan dengan mengubah resistensi pembuluh untuk mempertahankan tekanan aliran darah ke otak dalam rentang fisiologik antara 60-160 mmHg tekanan arteri rata-rata. Apabila tekanan arteri sitemik turun mendadak ke tekanan yang lebih rendah dari rentang fisiologik, arteriol-arteriol berdilatasi untuk menurunkan resistensi sehingga aliran darah ke otak dipertahankan normal. Sebaliknya jika tekanan arteri sistemik meningkat, arteriol-arteriol berkontraksi untuk mempertahankan aliran darah ke otak walaupun terjadi peningkatan tekanan dorongan darah arteri.

Autoregulasi otak sangat penting untuk melindungi otak dari peningkatan atau penurunan mendadak tekanan darah arteri. Tetapi pada tekanan-tekanan ekstrim yang melebihi rentang fisiologik antara 60-160 mmHg, mekanisme autoregulasi protektif inidapat gagal sehingga aliran darah otak secara pasif mengikuti tingkat tekanan di sirkulasi sistemik.

Sinus dura matris

Sinus dura matris merupakan saluran saluran vena kaku tanpa katup yang mengalirkan darah vena dari enchephalon melalui vena vena penghubung. Sinus dura matris terletak diantara lapisan parietal dan meningeal dari dura matter. Seluruh darah yang diserap oleh sinus dura matris akan dikumpulkan ke v. jugularis interna

Vena pada cerebrum

Vena pada cerebrum bertanggungjawab dalam penyerapan darah dari brain tissue lalu di kumpulkan pada sinus dura matris. Vena pada cerebrum dapat dibagi menjadi vena superficial dan profunda

Superficial

Vv. Superiors cerebri, menyerap pada bagian superior, membawa darah ke sinus

Profunda(deep)

saggitalis superior Vv. Mediae supeficisalis cerebri, menyerap bagian lateral hemisphere membawa darah ke

sinus cavernosus Vv. Inferior cerebri, menyerap bagian inferior cerebri membawa darah menuju sinus

cavernosus dan transversus V. anastomotica superior, menghubungkan Vv. Mediae superficialis cerebri ke sinus

sagittalis superior V. anastomotica inferior, menghubungkan Vv. Mediae superficialis cerebri ke sinus

tranversus

Supepyndemal veins, menerima darh dari medullary veins dan membawanya menujul

sinus dura matris Medullary veins, menyerap bagian dalam cerebrum

Persarafan 12 Nervus Cranial

Nervus atau saraf kranial termasuk dalam sistem saraf perifer. Sistem saraf perifer terdiri dari dua yaitu saraf kranial yang berasal dari otak dan saraf spinal yang berasal dari medula spinalis.

Dua belas pasang saraf kranial yang tersusun angka romawi, muncul dari berbagai batang otak. Saraf kranial tersusun dari serabut saraf sensorik dan motorik.

berikut dua belas pasang saraf kranial:

Nervus Olfaktori (N. I):

Fungsi: saraf sensorik, untuk penciuman

Cara Pemeriksaan: pasien memejamkan mata, disuruh membedakan bau yang dirasakan (kopi, teh,dll)

Nervus Optikus (N. II) Fungsi: saraf sensorik, untuk penglihatan Cara Pemeriksaan: Dengan snelend card, dan periksa lapang pandang Nervus Okulomotoris (N. III)

Fungsi: saraf motorik, untuk mengangkat kelopak mata keatas, kontriksi pupil, dan sebagian gerakan ekstraokuler

Cara Pemeriksaan: Tes putaran bola mata, menggerakan konjungtiva, refleks pupil dan inspeksi kelopak mata

Nervus Trochlearis (N. IV) Fungsi: saraf motorik, gerakan mata kebawah dan kedalam Cara Pemeriksaan: Sama seperti nervus III Nervus Trigeminus (N. V)

Fungsi: saraf motorik, gerakan mengunya, sensai wajah, lidah dan gigi, refleks korenea dan refleks kedip

Cara Pemeriksaan: menggerakan rahang kesemua sisi, pasien memejamkan mata, sentuh dengan kapas pada dahi atau pipi. menyentuh permukaan kornea dengan kapas.

Nervus Abdusen (N. VI) Fungsi: saraf motorik, deviasi mata ke lateral Cara pemeriksaan: sama seperti nervus III Nervus Fasialis (N. VII) Fungsi: saraf motorik, untuk ekspresi wajah

Cara pemeriksaan: senyum, bersiul, mengngkat alis mata, menutup kelopak mata dengan tahanan, menjulurkan lida untuk membedakan gula dan garam

Nervus Verstibulocochlearis (N. VIII) Fungsi: saraf sensorik, untuk pendengran dan keseimbangan Cara pemeriksaan: test webber dan rinne Nervus Glosofaringeus (N. IX) Fungsi: saraf sensorik dan motorik, untuk sensasi rasa Cara pemeriksaan: membedakan rasa manis dan asam Nervus Vagus (N. X)

Fungsi: saraf sensorik dan motorik, refleks muntah dan menelan – Cara pemeriksaan: menyentuh faring posterior, pasien menelan saliva, disuruh mengucap ah…

Nervus Asesoris (N. XI) Fungsi: saraf motorik, untuk menggerakan bahu

cara pemeriksaan: suruh pasien untuk menggerakan bahu dan lakukan tahanan sambil pasien melawan tahanan tersebut.

Nervus Hipoglosus

Fugsi: saraf motorik, untuk gerakan lidahcara pemeriksaan: pasien disuruh menjulurkan lidah dan menggerakan dari sisi ke sisi.

Inervasi nervus facialis / Motor branches

Inervasi nervus facialis / Motor branches 1. Temporal branch – Innervates the frontalis, orbicularis oculi and
  • 1. Temporal branch Innervates the frontalis, orbicularis oculi and corrugator supercilii

  • 2. Zygomatic branch Innervates the orbicularis oculi.

  • 3. Buccal branch Innervates the orbicularis oris, buccinator and zygomaticus muscles.

  • 4. Marginal Mandibular branch Innervates the mentalis muscle.

  • 5. Cervical branch Innervates the platysma.

Tuli dibagi atas tuli konduktif, tuli sensorineural (sensorineural deafness) serta tuli campur (mixed deafness). Pada tuli konduktif terdapat gangguan hantaran suara disebabkan oleh kelainan penyakit di telinga luar atau di telinga tengah. Pada tuli sensorineural (perseptif) kelainan terdapat pada koklea (telinga dalam), nervus VIII atau di pusat pendengaran sedangkan tuli

campur disebabkan oleh kombinasi tuli konduktif dan tuli sensorineural. Tuli campur dapat merupakan satu penyakit, misalnya radang telinga tengah dengan komplikasi ke telinga dalam atau merupakan dua penyakit berlainan, misalnya tumor nervus VII (tuli saraf) dengan radang telinga tengah (tuli konduktif).

Tuli sensorineural adalah berkurangnya pendengaran atau gangguan pendengaran yang terjadi akibat kerusakan pada telinga bagian dalam, saraf yang berjalan dari telinga ke otak (saraf pendengaran), atau otak. 5

Tuli sensorineural koklea disebabkan aplasia, labirintitis, intoksikasi obat ototoksik atau alkohol. Dapat juga disebabkan tuli mendadak, trauma kapitis, trauma akustik, dan pemaparan bising.

Tuli sensorineural retrokoklea disebabkan neuroma akustik, tumor sudut pons-serebelum, mieloma multipel, cedera otak, perdarahan otak, atau kelainan otak lainnya.

Tuli saraf dapat dibedakan menjadi:

Prebiskusis, disebabkan karena proses degenerasi. Namun didukung : herediter, pola makanan, metabolisme, arteriosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup (4)

Tuli saraf congenital

Tuli saraf congenital terjadi pada massa prenatal, perinatal, dan postnatal. Prenatal dengan penyebab : genetic dan non genetic. Non genetik seperti gangguan pada massa kehamilan, kelainan strutur anatomi, kekurangan giizi, infeksi pada massa kehamilan trimester I baik dari bakteri maupun virus , misalnya Toksoplasma , Rubella, Cytomegalo Virus, Herpes dan sifiilis, obat obatan yang berpotensi mengganggu proses organogenesis dan merusak sel sel rambut

koklea

yang dikonsumsi ibu saat hamil. Perinatal dengan penyebab: bayi lahir premature, berat

badan lahir rendah < 2500 gram, hiperbilirubinemia, asfiksia. Postnatal dengan penyebab :

infeksi bakteri atau virus misalnya Rubella, campak, Parotis, Meningitis, Encefalitis, perdarahan

telinga tengah, atau trrauma temporal. Tuli saraf karena obat, disebabkan karena:

Golongan aminoglikosida: streptomisin , gentamisin , neomisin, kanamisin, tobramisin, netil misin, polimicin b.

Golongan makrolid: eritromisin. Golongan loop diuretik: furosemid, bumitanide , ethycyrinic acid . Golongan obat anti inflamasi: salisilat termasuk aspirin . Golongan obat anti malaria: kina dan kloroquin .

Golongan obat anti tumor: Cis Platinum .

(9,10,11)

Tuli saraf karena suara bising

Tuli yang diakibatkan oleh terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya melebihi intesitasnya 85 desibel.

Tuli saraf karena penyakit lain

Penyakit penyakit seperti : arteriosclerosis, chicken pox, influenza, meniere, meningitis, mononucleosis, mumps, syphilis, dan encefalitis.

Tuli saraf karena tumor

Contoh tumor yang menyebabkan tuli saraf : neuroma akustika, tumor sudut pons-serebelum, mieloma multiple.

Tuli saraf karena trauma

Contoh trauma yang menyebabkan tuli saraf : tindakan dengan alat pada proses kelahiran (extraksi vakum , forsep ), trauma temporal (sengaja atau tidak sengaja terkena benturan, pukulan)

Tuli saraf tiba tiba

Biasanya disebabkan: iskemia koklea, inveksi virus ( parotis , campak, influensa tipe b), trauma kepala, trauma bising yang keras, perubahan tekanan atmosfir, obat ototoksik, neuroma akustika. (6)

Tuli sensorineural akibat trauma kepala / fraktur os temporal

Pada kasus ini tuli sensori neural disembabkan oleh trauma kepala pada bagian temporal.Pada cedera kepala berat, telinga dinyatakan menjadi organ sensorik yang paling sering rusak [1]. Dengan pukulan langsung pada lateral atau posterior kepala, saraf akustik sangat rentan terhadap cedera akibat percepatan dan perlambatan gerakan otak dalam kompartemen tengkorak. Dengan ujung proksimal saraf tetap ke batang otak dan ujung distal pada labirin, nervus akustik dapat menjadi meregang dan robek. Insiden gangguan pendengaran tak lama setelah trauma kepala ringan berkisar antara 7% sampai 50% (Fitzgerald, 1996)

Menurut Andrew T Lyos (Andrew.T.Lyos et al, 1995) pada kasus fraktur os temporal, hilangnya pendengaran secara mendadak dapat disebabkan karena avulsi (robekan) pada saraf atau kerusakan pada membranous cartilage

Labirin concussion adalah istilah untuk cedera yang tidak spesifik pada membran labirin yang dihasilkan dari kekuatan akselerasi-deselerasi pada labirin tulang dari trauma. Gangguan pendengaran, pusing, dan tinnitus adalah gejala khas. Cedera mungkin termasuk robekan pada bagian-bagian dari labirin membran atau perdarahan atau iskemia traumatis. [9,10]

Patologi yang mendasari dianggap karena cedera pada utrikulus dan sakulus. Terjadi robeknya dinding membran dari utrikulus dan sakulus dan perubahan degeneratif pada makula dari saccule. Hal ini menyebabkan kerusakan atau perpindahan otolith

AARP. Sensorineural deafness. 2009. Accessed on: 30 Januari 2017. Available from:

Hughes, G.B., Freedman, M.A., Haberkamp, T.J. and Guay, M.E., 1996. Sudden sensorineural hearing loss. Otolaryngologic Clinics of North America, 29(3), p.393.

teachmeanatomy.info/head/cranial-nerves/facial-nerve/ . accesed on 30 January 2017