Anda di halaman 1dari 7

PERBEDAAN KAPASITAS VITAL PARU MAHASISWA LAKI – LAKI

PEROKOK DAN TIDAK PEROKOK DI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG TAHUN 2012

Reyki Yudho Husodo 1*), Irfanuddin2, R.A. Tanzila3


1,2,3
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang

ABSTRAK
Rokok memiliki lebih dari 4000 substansi yang telah diidentifikasi, menyebabkan
terhambatnya laju pertumbuhan dan turunnya fungsi paru- paru bila dikonsumsi. Di
lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang (FK UMP) masih
ditemukan mahasiswa laki- laki perokok. Untuk mengubah kebiasaan merokok yang
dilakukan mahasiswa, perlu diungkap terlebih dahulu bagaimana gambaran fungsi paru - paru
pada perokok dan bukan perokok. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan
Kapasitas Vital Paru perokok dan tidak perokok mahasiswa FK UMP.
Desain penelitian ini adalah observasional potong lintang. Didapatkan 60 sampel dari 75
populasi mahasiswa laki- laki FK UMP. Data diambil dari kuesioner serta pemeriksaan
spirometri. Hasil penelitian dibandingkan secara statistik dengan uji dua kelompok populasi
independen.
Hasil penelitian menunjukkan 23,3% mahasiswa merokok filter dengan 50% mahasiswa
merokok selama 5 tahun dengan 57,2% mahasiswa mengonsumsi rokok sebanyak 6-10
batang/hari. 78,6% mahasiswa tidak pernah berhenti merokok ≥ 1 tahun. Hasi uji dua
kelompok populasi independen menunjukkan FEV p=0,457; FVC p=0,829; FEV /FVC
1 1

p=0,116; VC p=0,119 sehingga H diterima.


0

Disimpulkan tidak ada perbedaan yang bermakna kelompok mahasiswa merokok dan tidak
merokok.

Kata kunci: Rokok, merokok, KVP, spirometri.

ABSTRACT

Cigarette has over 4000 identified substances, causing delayed growth and declined lung
function when consumed. Male students who smoking still found in Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Palembang (FK UMP). To change their smoking habit,
revealing the difference of lung function between students who smoking and not smoking is
needed. Purpose of this study is to find out the difference of Vital Capacity of the lungs
between two groups of students.
This study used observasional cross sectional design. There are 60 samples from 75
population of male FKUMP students. Data taken from questionnaire and spirometry test.
Data result were compared statistically with independent t test between two populations.
The result of this study shows 23,3% students smoking with filtered cigarette. 50% students
smoke for 5 years. 57,2% students consumed about 6-10 cigarettes per day and 78,6%
students never quit smoking more than a year. Independent t test result shows FEV p=0,457;
1

FVC p=0,829; FEV /FVC p=0,116; VC p=0,119 with H accepted.


1 0

It is concluded that there is no difference between students who smoking and who didn’t.

Keywords : Cigarette, smoking, KVP, spirometry.


Pendahuluan
Rokok merupakan salah satu zat adiktif rusaknya alveoli menyebabkan hilangnya
yang sering dikonsumsi oleh manusia. permukaan untuk pertukaran gas dan
Hasil Global Adult Tobacco Survey fleksibilitas saluran nafas yang berdampak
(GATS) tahun 2011 yang diadakan World pada gangguan fungsi paru4.
Health Organization (WHO) Spirometri adalah alat yang
menunjukkan, Indonesia menduduki posisi digunakan untuk mengukur volume udara
pertama dengan prevalensi perokok aktif (dalam liter) yang dapat dihirup dan
tertinggi, diantara 16 negara dihembuskan selama beberapa saat. Hasil
berpenghasilan rendah dan sedang. Saat ini pengukuran merupakan apakah ada
di Indonesia, ditemukan perokok aktif penyempitan saluran napas akibat
sebesar 67,0 % pada laki-laki dan 2,7 % gangguan paru- paru5.
pada wanita1 . Pengukuran volume paru statis ini
Prevalensi perokok di Indonesia dalam praktik digunakan untuk
banyak didominasi kalangan usia dewasa mencerminkan elastisitas paru dan toraks.
muda (laki- laki 73,3% dan perempuan Pengukuran yang paling berguna adalah
1,7%). Perokok juga ditemukan di Kapasitas Vital (VC), Kapasitas Paru Total
kalangan remaja Indonesia berusia 15 - 24 (TLC), Kapasitas Residu Fungsional
tahun (laki- laki 51,7% dan perempuan (FRC), dan Volume Residu (RV). Penyakit
0,1%)1. yang membatasi pengembangan paru
Kebiasaan merokok yang dimulai (gangguan restriktif) akan mengurangi
sejak muda seperti ini dapat menyebabkan volume- volume tersebut. Sebaliknya
komplikasi serius di masa yang akan penyakit yang menyumbat saluran napas
datang jika tidak segera dihentikan. (gangguan obstruktif) hampir selalu dapat
Merokok yang dimulai sejak dini meningkatkan FRC dan RV. TLC dapat
menyebabkan berbagai gangguan fungsi normal atau meningkat, dan VC seringkali
paru- paru seperti shortness of breath dan menurun (Price, Wilson, 2006). Perokok
batuk produktif. Gangguan tersebut sering memperlihatkan kelainan pada
diakibatkan oleh terhambatnya laju pemeriksaan fungsi paru seperti obstruksi
pertumbuhan dan turunnya fungsi paru- aliran udara yang ringan pada jalan napas
paru2. kecil3.
Rokok memiliki lebih dari 4000 Di lingkungan Fakultas Kedokteran
substansi yang telah diidentifikasi, Universitas Muhammadiyah Palembang
termasuk beberapa bahan yang secara masih ditemukan mahasiswa laki- laki
farmakologis bersifat aktif, antigenik, perokok. Perokok yang ditemukan pada
sitotoksik, mutagenik, dan karsinogenik. usia muda seperti ini meningkatkan risiko
Berbagai efek biologik ini menjadi dasar timbulnya berbagai gangguan, dalam hal
untuk menimbulkan efek yang merugikan ini gangguan fungsi paru. Bila hal ini
dari merokok seperti penyakit dibiarkan, akan menurunkan tingkat
kardiovaskuler, kanker, penyakit produktivitas serta timbulnya keterbatasan
pernapasan, serta gangguan saluran aktivitas mereka nantinya.
makanan.3. Untuk mengubah kebiasaan merokok
Berbagai substansi yang terkandung yang dilakukan mahasiswa, perlu diungkap
dalam rokok tersebut menyebabkan cedera terlebih dahulu bagaimana gambaran
sistem respirasi mulai dari bronkus sampai fungsi paru - paru pada perokok dan bukan
ke alveoli. Akibatnya hilangnya silia dan perokok. Akan tetapi saat ini belum ada
hipertrofi glandula mukosa terjadi di data- data mengenai hal tersebut belum ada
saluran napas atas; inflamasi, perubahan di Fakultas Kedokteran Universitas
sel epitel, fibrosis dan kongesti sekret Muhammadiyah Palembang, sehingga
terjadi di saluran nafas perifer, serta dari uraian di atas, penulis ingin meneliti
perbedaan fungsi paru terutama Kapasitas Hasil dan Pembahasan Penelitian
Vital Paru antara perokok dan bukan
perokok di Fakultas Kedokteran Tabel 1. Prevalensi Mahasiswa Perokok
Universitas Muhammadiyah Palembang. dan Tidak Perokok
Merokok Frekuensi Persentase (%)
Tujuan Penelitian Merokok 14 23,3
Tidak Merokok 46 76,7
Mengetahui dan menganalisis
Total 60 100
perbedaan Kapasitas Vital Paru perokok
dan tidak perokok mahasiswa Fakultas Lama Merokok Frekuensi Persentase (%)
Kedokteran Universitas Muhammadiyah 3 tahun 4 28,6
Palembang. 4 tahun 7 50
5 tahun 3 21,4
Metode Penelitian Total 14 100
Penelitian ini merupakan penelitian
Jenis Rokok Frekuensi Persentase (%)
observasional analitik dengan Filter 0 0
menggunakan rancangan cross sectional. Non Filter 14 100
Sampel pada penelitian ini ialah seluruh Total 14 100
populasi, yaitu semua mahasiswa laki- laki
Jumlah Batang/ Frekuensi Persentase (%)
Fakultas Kedokteran Universitas
hari
Muhammadiyah Palembang angkatan 6-10 batang 8 57,2
2009, 2010, 2011, dan 2012 berjumlah 60 11-15 batang 3 21,4
orang yang memenuhi kriteria inklusi. 16-20 batang 3 21,4
Pada penelitian ini variabel bebas adalah
perokok dan variabel terikat adalah Berhenti Frekuensi Persentase (%)
Merokok ≥ 1
Kapasitas Vital Paru berupa Kapasitas tahun
Vital, FEV1, FVC, dan FEV1/FVC. Tidak Pernah 11 78,6
Data yang dikumpulkan berupa data Pernah 3 21,4
primer, yaitu data yang didapatkan melalui
angket/ kuesioner dan hasil pemeriksaan Tabel 2. Distribusi Fungsi Paru
spirometri. Metode teknis analisis data Mahasiswa Perokok dan Tidak Perokok
yang digunakan pada penelitian ini berupa FEV1 Turun Normal
analisis univariat dan bivariat. Analisis Merokok 7 7
univariat dilakukan untuk melihat Tidak Merokok 17 29
distribusi frekuensi gambaran dari variabel Total 24 36
dependent, dan variabel independent. FVC Turun Normal
Analisis bivariat dilakukan untuk Merokok 5 9
mengetahui hubungan antara variabel Tidak Merokok 14 32
dependent dan variabel independent Total 19 41
dianalisis dengan uji beda dua kelompok
FEV1/FVC Turun Normal
independen menggunakan program Merokok 1 13
komputer dengan software statistik yang Tidak Merokok 0 46
sesuai. Total 1 59

VC Turun Normal
Merokok 13 1
Tidak Merokok 36 10
Total 49 11
Perbedaan Nilai FEV1, FVC, merokok.
FEV1/FVC, dan VC Meski seluruh kelompok mahasiswa
merokok mengonsumsi rokok filter
Tabel 3. Perbedaan Nilai FEV1 daripada non filter sebagai pilihannya,
Merokok Mean Std. Deviation P proporsi tersebut tidak sesuai dengan
GATS (2011) yang menunjukkan 80
F Merokok 3.23 .612 0.457 persen lebih penduduk Indonesia
E mengonsumsi rokok non filter. Dari
V Tidak 3.36 .533 wawancara didapat rokok non filter terasa
1 Merokok sesak dan tidak enak untuk dihisap
daripada rokok filter yang menurutnya
ringan untuk dihisap. Filter pada rokok
Tabel 4. Perbedaan Nilai FVC
berfungsi untuk mengurangi kadar asap,
Merokok Mean Std. P partikel kecil, serta abu tembakau masuk
Deviation
ke dalam saluran nafas sehingga dampak
dari merokok dapat berkurang. Rokok
F Merokok 3.88 .645 0.829
filter tidak pula lebih aman dari rokok non
V Tidak filter karena bahan yang terdapat pada
C Merokok 3.84 .653
filter dapat terhisap dan mempengaruhi
kesehatan paru- paru.
Lebih dari setengah dari jumlah
Tabel 5. Perbedaan Nilai FEV1/FVC sampel kelompok merokok mengonsumsi
Merokok Mean Std. P enam hingga sepuluh batang per hari. Dari
Deviation hasil tersebut diketahui bahwa sebagian
besar mahasiswa merokok adalah perokok
Merokok 83.25 8.560 0.116
FEV1/
ringan. Hal ini sesuai dengan hasil
FVC Tidak Riskesdas tahun 2010 yang menyebutkan
86.79 6.851 terbanyak ditemukan pada kelompok usia
Merokok
15- 24 tahun mengonsumsi rokok 1-10
batang perharinya.
Tabel 6. Perbedaan Nilai VC Pada penelitian ini, diketahui tidak
Merokok Mean Std. P terdapat banyak penurunan pada fungsi
Deviation paru berupa FEV pada kelompok
1

mahasiswa merokok. Hal ini tidak sejalan


Merokok 2.99 .565 0.119 dengan penelitian Gold et.al (2005) di
V Amerika yang membuktikan terdapat
C Tidak 3.32 .725
Merokok hubungan penurunan fungsi tersebut
dengan merokok. Perbedaan ini mungkin
dipengaruhi oleh perbedaan subjek dan
lingkungan dimana terdapat perbedaan
Pada penelitian, didapatkan 23,3% ukuran tubuh dewasa Indonesia dan
mahasiswa laki- laki perokok pada FK Amerika.
UMP. Hasil ini lebih rendah dari survei Pada FVC kelompok mahasiswa
GATS (2011) dimana prevalensi yang merokok, sebagian besar memiliki hasil
didapat pada kelompok merokok usia 15- yang normal. Hasil tersebut tidak sesuai
24 tahun sebesar 51,7%. Di institusi dengan penelitian Bajentri et.al (2003)
kesehatan termasuk fakultas kedokteran, bahwa terjadi penurunan FVC pada
seharusnya persentasi merokok tidak kelompok tersebut. Merokok selama dua
ditemukan mengingat memiliki sampai lima tahun memiliki pengaruh pasti
pemahaman yang lebih akan bahaya dalam penyempitan saluran nafas kecil
maupun besar. test. Dari uji tersebut diperoleh p untuk
Hasil bagi FEV /FVC kedua
1 FEV = 0,457; FVC = 0,829 ; FEV /FVC=
1 1

kelompok ditemukan hanya satu orang 0,116; dan VC = 0,119. Dari hasil uji
yang mengalami penurunan intepretasi statistik ditarik kesimpulan bahwa tidak
FEV /FVC dan terdapat pada kelompok
1/ terdapat perbedaan yang bermakna untuk
merokok. Hasil ini menunjukkan hampir FEV , FVC, FEV /FVC dan VC dimana
1 1

seluruhnya memiliki fungsi paru yang nilai p melebihi 0,05. Hal ini tidak sesuai
masih baik, bahkan pada kelompok dengan teori Sudoyo, dkk (2009) yang
merokok sekalipun. Hal ini tidak sama prinsipnya seorang perokok mempunyai
dengan penelitian Imamatur, Rofi’ah nilai KVP lebih kecil dibanding yang tidak
(2008) yang menemukan bahwa rasio merokok.
FEV /FVC seharusnya lebih rendah pada
1 Meski secara statistik diketahui
kelompok merokok daripada kelompok bahwa tidak ada perbedaan bermakna,
tidak merokok. Diketahui perbedaan tetapi dari perbandingan rata- rata antara
tersebut dipengaruhi oleh subjek penelitian kelompok merokok dan tidak merokok
dan perbedaan lingkungan. menunjukkan perbedaan angka yang
FVC adalah salah satu komponen diharapkan peneliti. Dimana nilai rata- rata
yang digunakan untuk membedakan dua yang lebih rendah lebih banyak ditemukan
jenis gangguan pada paru- paru. Pada pada mereka yang merokok dibandingkan
gangguan obstruksi, FVC biasanya rendah yang tidak merokok. Hal ini menjadi dasar
dan FEV sangat rendah dari normal. Hal
1 bahwa merokok benar merubah fungsi dan
ini dikarenakan kesulitan ekspirasi cepat kapasitas paru- paru.
karena peningkatan resistensi jalan napas. Asap rokok dapat menyebabkan
Hasilnya, rasio FEV /FVC rendah. Pada
1 perubahan struktur dan fungsi saluran
gangguan restriksi, FVC biasanya rendah nafas dan jaringan paru- paru. Pada saluran
tetapi FEV bisa lebih tinggi dari normal.
1 nafas besar, sel mukosa membesar dan
Hal ini dikarenakan elastik rekoil paru kelenjar mukus bertambah banyak. Pada
yang tinggi sehingga ekspirasi cepat lebih saluran nafas kecil, terjadi radang hingga
mudah bagi mereka yang memiliki penyempitan akibat bertambahnya sel dan
gangguan restriksi. penumpukan lendir. Pada jaringan paru-
Pada hasil VC ditemukan hampir paru, terjadi peningkatan jumlah sel radang
seluruh kelompok merokok memiliki hasil dan kerusakan alveoli. Asap rokok
VC yang turun, meski ditemukan juga membuat jumlah silia berkurang dan
pada sebagian besar kelompok tidak menurunkan aktivitasnya, hal- hal tersebut
merokok. Hasil penurunan VC pada membuat perbedaan KVP yang bermakna
kelompok merokok sesuai dengan antara mahasiswa merokok dan tidak
penelitian yang dilakukan oleh Nur Putra, merokok.
Arief (2006) yang menyatakan adanya Tidak adanya perbedaan pada
penurunan VC yang signifikan kelompok merokok dan tidak merokok
dibandingkan dengan kelompok tidak tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor -
merokok. Hal ini disebabkan terdapat faktor. Faktor lama merokok
perbedaan definisi operasional yang diteliti mempengaruhi hasil spirometri. Dimana
yaitu perokok kronis, dimana tipe perokok diperlukan waktu lebih dari lima tahun
tersebut sangat sulit ditemukan pada untuk mempengaruhi perubahan fisiologis
kalangan mahasiswa FK UMP dengan usia maupun histologis paru- paru secara nyata.
tertua 23 tahun. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan
Dari hasil spirometri mahasiswa laki- subjek perokok diatas sepuluh tahun untuk
laki FK UMP, dicari perbedaan KVP pada mendapatkan hasil yang diharapkan.
kelompok merokok dan tidak merokok Pada pengambilan data spirometri,
menggunakan uji statistik independent t masih ditemukan pemeriksaan yang
terburu- buru, penarikan nafas yang salah, Saran
terminasi lebih awal, menyebabkan Dengan dikemukakannya data ini,
pengulangan pemeriksaan. Pemeriksaan diharapkan diadakannya sosialisasi bahaya
yang berulang- ulang pada beberapa merokok mengingat seharusnya tidak
naracoba sehingga menyebabkan kelelahan ditemukan lagi mahasiswa di institusi
dan membuat hasil spirometri menjadi kesehatan seperti FK UMP.
tidak lebih baik dari sebelumnya.
Perbedaan angka spirometri yang Daftar Pustaka
bervariasi juga dipengaruhi oleh usia, 1. Anonim, 2012. Global Adult Tobacco
tinggi badan, status gizi, serta kebiasaan Survey Indonesia Fact Sheet. World
olahraga. Tetapi variabel tersebut tidak Health Organization. Jenewa, Swiss.
diteliti disini, sehingga variabel tersebut 2. Wallace. Maxcy, Rosenau. 2008. Last
sebaiknya ditambahkan untuk penelitian Public Health & Preventive Medicine
selanjutnya. 15th ed. The McGraw - Hill
Pertanyaan kuesioner yang kurang Companies Inc. USA.
terperinci, sehingga hanya menjaring 3. Braunwald, et al. 2008. Harrison’s:
perokok dan tidak merokok. Kelompok Principles of Intenal Medicine Edisi 17.
yang merokok pada saat- saat tertentu, The McGraw Hill Companies Inc,
mantan perokok, dan perokok pasif tidak USA.
diperhitungkan dalam penelitian ini 4. Milner, Dawn. 2004.The Physiological
sehingga mungkin mempengaruhi Effects of Smoking on the Respiratory
penurunan ataupun ketidaksesuaian hasil System.
spirometri pada kelompok mahasiswa yang (http://www.nursingtimes.net/nursing-
merokok maupun tidak. practice/clinicalzones/smoking-
cessation/ the-physiologicaleffects-of-
Simpulan smoking-onthe-respiratory-
Berdasarkan hasil penelitian yang telah system/204364.article. Vol 100, Issue
dilakukan dan pembahasan yang 24, Hal 56. diakses pada tanggal 4
dikemukakan, maka dapat ditarik Oktober 2012)
kesimpulan sebagai berikut. 5. Stoppard, Miriam. 2010. Panduan
1. Prevalensi kelompok mahasiswa Kesehatan Keluarga. Terjemahan oleh:
merokok sebesar 23,3% dan kelompok Winardini. Dorling Kindersley,
mahasiswa tidak merokok sebesar London, Inggris.
76,7%. 6. Bajentri, AL. Et al. 2003. Effect of 2-5
2. Nilai rata- rata KVP pada kelompok Years of Tobacco Smoking on
mahasiswa merokok adalah FEV = 1 Ventilatory Tests. Department of
3.230 ml, FVC= 3.880 ml, FEV /FVC=
1 Physiology, Karnatak Institute of
83,25% dan VC= 2.990 ml. Medical Sciences,. Hubli, India.
3. Nilai rata- rata KVP pada kelompok 7. Gold, Diane R. Et al. 2005. Effects of
mahasiswa tidak merokok adalah FEV 1 Cigarette Smoking on lung Function in
= 3.360 ml, FVC= 3.840 ml, Adolescent Boys and Girls.
FEV /FVC= 86,79% dan VC= 3.320
1 Massachusetts Medical Society.
ml. Massachusetts, U.S.
4. Tidak ada perbedaan bermakna antar 8. Nur Putra, Arief. 2006. Pengaruh dan
kelompok mahasiswa merokok dan Hubungan Merokok Terhadap
tidak merokok dengan nilai FEV (p= 1 Kapasitas Vital Paru pada Pria
0,457), FVC (p=0,829), FEV /FVC 1 Dewasa. Universitas Kristen
(p=0,116) dan VC (p= 0,119). Maranatha. Bandung, Indonesia.
9. Rofi’ah, Imamatur. 2008. Hubungan
Kebiasaan Merokok dengan Penurunan
Fungsi Paru Tukang Becak di
Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik.
Airlangga University Library
Surabaya. Surabaya, Indonesia.
10. Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. Internal
Publishing, Jakarta, Indonesia. Hal
2292 - 2295