Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG NOTARIS DAN JAMINAN

2.1. Tentang Notaris

2.1.1 Pengertian Jabatan Notaris

Pasal 1 PJN memberikan ketentuan tentang definisi notaris serta apa yang

menjadi tugas pokok notaris, yang menentukan sebagai berikut notaris adalah pejabat

umum (openbaar ambtenaar) yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta-akta

tentang segala tindakan, perjanjian dan keputusan-keputusan yang oleh perundang-

undangan umum diwajibkan, atau para yang bersangkutan supaya dinyatakan suatu

surat otentik. Menetapkan tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse

(salinan sah), salinan dan kutipan, semuanya itu sepanjang pembuatan akta-akta itu

tidak juga diwajibkan kepada pejabat atau khusus menjadi kewajibannya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris

dalam Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2004 Nomor 117 dan

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia (TLNRI) Nomor 4432 Undang-

Undang Nomor 02 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30

Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya disebut dengan UUJN-P), Pasal 1

ayat (1) yang menentukan sebagai berikut notaris adalah pejabat umum yang

berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya

sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini atau berdasarkan undang-undang

lainnya. Menurut R. Soegondo Notodisoerjo, notaris adalah pejabat umum openbare


ambtenaren, karena erat hubungannya dengan wewenang atau tugas dan kewajiban

yang utama yaitu membuat akta-akta otentik. 1

Selain notaris, pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik adalah

pejabat lelang, pegawai pencatatan sipil burgerlijke stand, juru sita deurwaarder,

hakim, panitera pengadilan dan lain sebagainya. 2 Seorang notaris pada hakikatnya

adalah seorang pejabat tempat bagi seseorang untuk memperoleh nasehat yang bisa

diandalkan. Dan segala sesuatu yang ditulis serta ditetapkan dianggap benar,

sehingga menjadi pembuat dokumen yang kuat dalam suatu peristiwa hukum.

Jabatan notaris tidak ditempatkan di lembaga eksekutif, legislatif, ataupun

yudikatif, notaris diharapkan memiliki posisi netral, sehingga apabila ditempatkan di

salah satu dari ketiga badan negara tersebut maka notaris tidak lagi dapat dianggap

netral. Dengan posisi netral tersebut, notaris diharapkan untuk memberikan

penyuluhan hukum untuk dan atas tindakan hukum yang dilakukan notaris atas

permintaan kliennya. Dalam hal melakukan tindakan hukum untuk kliennya, notaris

tidak boleh memihak kliennya, karena tugas notaris ialah untuk mencegah terjadinya

masalah.

Dari uraian-uraian tersebut di atas, maka notaris adalah pejabat umum yang

berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana

ditentukan dalam ketentuan yang berlaku. Untuk dapat diangkat menjadi notaris

1
R. Soegondo Notodisoerjono, 1993, Hukum Notariat di Indonesia Suatu Penjelasan,
Raja Grafindo Persada, Jakarta, hal. 8.

2
R. Supomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Pradnya Paramita, Jakarta,
hal. 77.
seseorang harus memenuhi persyaratan-persyaratan berdasarkan Pasal 3 UUJN-P,

yang menentukan sebagai berikut :

a. Warga Negara Indonesia.

b. Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa.

c. Berumur paling sedikit 27 tahun.

d. Sehat Jasmani dan rohani yang dinyatakan dengan surat keterangan sehat

dari dokter dan psikiater.

e. Berijazah sarjana hukum dan lulus jenjang strata dua kenotariatan.

f. Telah menjalani magang atau nyata-nyata bekerja sebagai karyawan notaris

dalam waktu 24 bulan berturut-turut pada kantor notaris atas prakarsa sendiri atau

atas rekomendasi organisasi notaris setelah lulus strata dua kenotariatan.

g. Tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabat negara, advokat, atau tidak

sedang memangku jabatan lain yang oleh undang-undang dilarang untuk

dirangkap dengan jabatan notaris.

h. Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam

dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih.

2.1.2 Tanggung Jawab Notaris


Tanggung jawab berdasarkan kamus umum bahasa Indonesia adalah keadaan

wajib menanggung segala sesuatunya. Bertanggung jawab berdasarkan kamus umum

bahasa Indonesia adalah kewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung

segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung akibat. Tanggung jawab

merupakan suatu bentuk kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya

baik dilakukan dengan sengaja maupun tidak sengaja.

Tanggung jawab perwujudan kedasaran dan kewajiban seseorang untuk

menanggung hasil dari perbuatan yang dilakukannya. Setiap manusia memiliki rasa

tanggung jawab dan rasa tanggung jawab itu harus disesuaikan dengan apa yang telah

dilakukannya. Wujud tanggung jawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan

dimana pengabdian dan pengorbanan meupakan perbuatan yang baik untuk

kepentingan manusia itu sendiri. Secara umum tanggung jawab dapat dibagi menjadi

empat macam tanggung jawab, yang menentukan sebagai berikut :

1. Tanggung jawab kepada diri sendiri, merupakan tanggung jawab atas

perbuatan, tingkah laku serta tindakannya sendiri. Tanggung jawab terhadap

diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk senantiasa memenuhi

kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia

pribadi.

2. Tanggung jawab kepada keluarga. Tanggung jawab ini merupakan tanggung

jawab atas keselamatan, kesejahteraan dan kelestarian rumah tangganya serta

dapat hidup dengan sebaik-baiknya dengan memenuhi segenap kebutuhan.


3. Tanggung jawab kepada masyarakat, bangsa dan negara. Pada hakikatnya

manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan manusia lainnya, sesuai dengan

kedudukannya sebagai mahluk sosial sehingga ia harus berkomunikasi dengan

manusia lain. Hal ini menyebabkan setiap manusia harus bertanggung jawab

terhadap apapun bentuk perbuatannya kepada manusia lain. Tanggung jawab

ini demi terciptanya pergaulan hidup yang baik serta mempertahankan

nama baik terhadap lingkungan serta negaranya.

4. Tanggung jawab kepada tuhan. Manusia harus senantiasa bertakwa kepada

tuhan, hal ini dapat dilakukan dengan menjalankan segala perintahnya dan

menjauhi segala larangannya sesuai dengan agama dan keyakinan masing-

masing individu, larangan tersebut dilakukan dengan cara tidak berbuat

sesuatu perbuatan yang menyebabkan kerugian baik kepada diri sendiri

maupun orang lain. Setiap orang wajib bertanggung jawab tidak terkecuali

pada diri seorang notaris. Dalam menjalankan tugas dan jabatannya notaris

dengan melakukan tindakan dalam pembuatan akta otentik. Akta tersebut

merupakan sebuah kebutuhan bagi masyarakat (para penghadap) dan akta

tersebut dapat dijadikan sebagai alat bukti apabila dikemudian hari terjadi

suatu sengketa. Oleh karena itu notaris berkewajiban untuk bertanggung

jawab terhadap akta otentik yang dibuatnya karena masyarakat

mempercayakan notaris sebagai seorang yang ahli dalam bidang kenotariatan.

2.2 Tentang Jaminan

2.2.1 Pengertian Jaminan


Istilah jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, yaitu zekerheid

atau cautie. Zekerheid atau cautie mencakup secara umum cara-cara kreditur

menjamin dipenuhinya tagihannya, disamping pertanggungan jawab umum debitur

terhadap barang-barangnya. Selain istilah jaminan, dikenal juga dengan agunan.

Istilah agunan dapat dibaca dalam Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 10

Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang

Perbankan. Agunan adalah :

“Jaminan tambahan diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka

mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip Syariah.”

Agunan dalam konstruksi ini merupakan jaminan tambahan (accesoir). Tujuan

agunan adalah untuk mendapatkan fasilitas dari bank. Jaminan ini diserahkan oleh

debitur kepada bank. Unsur-unsur agunan, yaitu :3

1. Jaminan tambahan ;

2. Diserahkan oleh debitur kepada bank ;

3. Untuk mendapatkan fasilitas kredit atau pembiayaan.

Didalam Seminar Badan Pembina Hukum Nasional yang diselenggarakan di

Yogyakarta, dari tanggal 20 s.d. 30 Juli 1977 disimpulkan pengertian jaminan.

Jaminan adalah “menjamin dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang

3
Salim HS, H, S.H., M.S., 2011, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia, Cet.V, PT.Raja Grafindo
Persada, Jakarta, hal.22
yang timbul dari suatu perikatan hukum. Oleh karena itu, hukum jaminan erat sekali

dengan hukum benda.” 4

Konstruksi jaminan dalam definisi ini ada kesamaan dengan yang

dikemukakan Hartono Hadisoeprapto dan M. Bahsan. Hartono Hadisoeprapto

berpendapat bahwa jaminan adalah “Sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk

menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai

dengan uang yang timbul dari suatu perikatan.” 5 Kedua definisi jaminan yang

dipaparkan tersebut adalah:

1. Difokuskan pada pemenuhan kewajiban kepada kreditur (bank) ;

2. Wujudnya jaminan ini dapat dinilai dengan uang ( jaminan materiil ) ; dan

3. Timbulnya jaminan karena adanya perikatan antara kreditur dengan debitur.

Istilah yang digunakan oleh M.Bahsan adalah jaminan. Ia berpendapat bahwa

jaminan adalah “Segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk

menjamin suatu utang piutang dalam masyarakat.”6 Alasan digunakan istilah jaminan

karena :

1. Telah lazim digunakan dalam bidang Ilmu Hukum, dalam hal ini berkaitan

dengan penyebutan-penyebutan, seperti hukum jaminan, lembaga jaminan,

jaminan kebendaan, jaminan perorangan, hak jaminan, dan sebagainya ;

4
Mariam Darus Badrulzaman, 1987, Bab-bab tentang Credietverband, Gadai, dan Fiducia, Cetakan
IV. Bandung.hal.227-265

5
Hartono Hadisoeprapto, 1984, hal.50

6
Bahsan, M. 2002, Penilaian Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, Rejeki Agung, Jakarta, hal.148
2. Telah digunakan dalam beberapa peraturan perundang-undangan tentang

lembaga jaminan, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Hak

Tanggungan dan Jaminan Fidusia.

2.2.2 Pengaturan Tentang Jaminan

Pada zaman pemerintah Hindia Belanda, ketentuan hukum yang mengatur

tentang hukum jaminan dapat dikaji dalam Buku II KUHPerdata dan Stb. 1908

Nomor 542 sebagaimana telah diubah menjadi Stb. 1937 Nomor 190 tentang

Credietverband. Dalam Buku II KUHPerdata, ketentuan-ketentuan hukum yang

berkaitan dengan hukum jaminan adalah gadai (pand) dan hipotek. Pand diatur dalam

Pasal 1150 KUHPerdata sampai dengan Pasal 1160 KUHPerdata, sedangkan hipotek

diatur dalam Pasal 1162 sampai dengan Pasal 1232 KUHPerdata.

Pada zaman Jepang, ketentuan hukum jaminan tidak berkembang, karena

pada zaman ini ketentuan-ketentuan hukum yang diberlakukan dalam pembebanan

jaminan didasarkan pada ketentuan hukum yang tercantum dalam KUHPerdata dan

Credietverband, hal ini dapat kita ketahui dari bunyi Pasal 3 Undang-Undang Nomor

1 Tahun 1942, yang berbunyi :

“Semua badan-badan pemerintah, kekuasaannya, hukum dan undang-

undang dari pemerintah terdahulu, tetap diakui buat sementara waktu asal saja tidak

bertentangan dengan Pemerintahan Militer.”

Berdasarkan ketentuan ini, jelaslah bahwa hukum dan undang-undang yang

berlaku pada zaman Hindia Belanda masih tetap diakui sah oleh Dai Nippon. Tujuan

adanya ketentuan ini untuk mencegah terjadi kekosongan hukum (rechtvacuum).


Sejak zaman kemerdekaan sampai dengan saat ini (1945-2003) telah banyak

ketentuan hukum tentang jaminan yang telah disahkan menjadi undang-undang. Pada

zaman ini dapat dipilah menjadi 2 era, yaitu era sebelum reformasi dan sesudah

reformasi. Pada era sebelum reformasi, ketentuan hukum yang mengatur tentang

jaminan adalah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar

Pokok-pokok Agraria. Dalam ketentuan ini juga merujuk pada berbagai peraturan

perundang-undangan lainnya. Hal ini terlihat pada konsideran Undang- Undang

Nomor 5 Tahun 1960 yang mencabut berlakunya Buku II Kitab Undang-Undang

Hukum Perdata Indonesia mengenai bumi, air, serta kekayaan alam yang terkandung

di dalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan mengenai hypotheek yang masih berlaku

sejak berlakunya undang-undang ini. Walaupun pada zaman kemerdekaan sampai

dengan saat ini, pemerintah kita telah banyak menetapkan undang-undang yang

berkaitan dengan jaminan, namun kita masih memberlakukan ketentuan-ketentuan

hukum yang tercantum dalam Buku II

KUHPerdata. Ketentuan hukum yang masih berlaku dalam Buku II

KUHPerdata adalah yang berkaitan dengan gadai (pand) dan hipotek, terutama yang

berkaitan dengan pembebanan atas hipotek kapal laut yang beratnya 20m3 dan

pesawat udara. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan hak atas tanah berlaku

ketentuan hukum yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996

tentang Hak Tanggungan. Dan pada era reformasi juga telah diundangkannya

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.