Anda di halaman 1dari 2

1. Komposisi, Sifat dan Mekanisme “Kerja” Bisa ular terdapat pada sebagian besar racun ular berbisa.

Diketahui beberapa enzim diantaranya adalah


Bisa ular (venom) terdiri dari 20 atau lebih (1) hialuronidase, bagian dari racun diamana
komponen sehingga pengaruhnya tidak dapat merusak jaringan subcutan dengan menghancurkan
diinterpretasikan sebagai akibat dari satu jenis mukopolisakarida;
toksin saja. Venom yang sebagian besar (90%) (2) fosfolipase A2 memainkan peran penting pada
adalah protein, terdiri dari berbagai macam enzim, hemolisis sekunder untuk efek eritrolisis pada
polipeptida non-enzimatik dan protein non-toksik. membran sel darah merah dan menyebabkan
Berbagai logam seperti zink berhubungan dengan nekrosis otot; dan
beberapa enzim seperti ecarin (suatu enzim (3)enzim trobogenik menyebabkan pembentukan
prokoagulan dari E.carinatus venom yang clot fibrin, yang akan mengaktivasi plasmin dan
mengaktivasi protombin). Karbohidrat dalam menghasilkan koagulopati yang merupakan
bentuk glikoprotein seperti serine protease ancord konsekuensi hemoragik (Warrell,2005).
merupakan prokoagulan dari C.rhodostoma venom
(menekan fibrinopeptida-A dari fibrinogen dan 3. Gejala klinis
dipakai untuk mengobati kelainan trombosis). Amin  Gejala lokal : edema, nyeri tekan pada luka gigitan,
biogenik seperti histamin dan 5-hidroksitriptamin, ekimosis (dalam 30 menit – 24 jam)
yang ditemukan dalam jumlah dan variasi yang  Gejala sistemik : hipotensi, kelemahan otot,
besar pada Viperidae, mungkin bertanggungjawab berkeringat, mengigil, mual, hipersalivasi,
terhadap timbulnya rasa nyeri pada gigitan ular. muntah, nyeri kepala, dan pandangan kabur
Sebagian besar bisa ular mengandung fosfolipase A  Gejala khusus gigitan ular berbisa :
yang bertanggung jawab pada aktivitas neurotoksik o Hematotoksik: perdarahan di tempat gigitan,
presinaptik, rabdomiolisis dan kerusakan endotel paru, jantung, ginjal, peritoneum, otak, gusi,
vaskular. Enzim venom lain seperti fosfoesterase, hematemesis dan melena, perdarahan kulit
hialuronidase, ATP-ase, 5-nuklotidase, (petekie, ekimosis), hemoptoe, hematuri,
kolinesterase, protease, RNA-ase, dan DNA-ase koagulasi intravascular diseminata (KID)
perannya belum jelas. (Sudoyo, 2006)  Neurotoksik: hipertonik, fasikulasi, paresis,
paralisis pernapasan, ptosis oftalmoplegi, paralisis
Bisa ular terdiri dari beberapa polipeptida yaitu otot laring, reflek abdominal, kejang dan koma
fosfolipase A, hialuronidase, ATP-ase, 5  Kardiotoksik: hipotensi, henti jantung, koma
nukleotidase, kolin esterase, protease,  Sindrom kompartemen: edema tungkai dengan
fosfomonoesterase, RNA-ase, DNA-ase. Enzim ini tanda – tanda 5P (pain, pallor, paresthesia,
menyebabkan destruksi jaringan lokal, bersifat paralysis pulselesness), (Sudoyo, 2006)
toksik terhadap saraf, menyebabkan hemolisis atau
pelepasan histamin sehingga timbul reaksi 4. Pemeriksaan
anafilaksis. Hialuronidase merusak bahan dasar sel
 Pemeriksaan darah: Hb, Leukosit, trombosit,
sehingga memudahkan penyebaran racun. (de Jong,
kreatinin, urea N, elektrolit, waktu perdarahan,
1998)
waktu pembekuan, waktu protobin, fibrinogen,
APTT, D-dimer, uji faal hepar, golongan darah
Famili Elapidae misalnya ular weling, ular welang,
dan uji cocok silang
ular sendok, ular anang dan ular cabai
 Pemeriksaan urin: hematuria, glikosuria, proteinuria
 Familli Crotalidae/ Viperidae, misalnya
(mioglobulinuria)
ular tanah, ular hijau dan ular bandotan puspo
 Familli Hydrophidae, misalnya ular laut  EKG
 Familli Colubridae, misalnya ular pohon  Foto dada

5. Diagnosis Banding
2. Patofisiologi Diagnosis banding untuk snakebite antara lain :
Racun kebanyakan berupa air. Protein enzim pada  Anafilasis
racun mempunyai sifat merusak. Protease,  Trombosis vena bagian dalam
colagenase dan hidrolase ester arginin telah  Trauma vaskular ekstrimitas
teridentifikasi pada racun ular berbisa. Neurotoksin  Scorpion Sting
 Syok septik Teknik pemberian: 2 vial @5ml intravena
 Luka infeksi dalam 500 ml NaCl 0,9% atau Dextrose 5% dengan
kecapatan 40-80 tetes/menit. Maksimal 100 ml (20
6. Penatalaksanaan vial). Infiltrasi lokal pada luka tidak dianjurkan.
Tujuan penatalaksanaan pada kasus gigitan
ular berbisa adalah Indikasi SABU adalah adanya gejala
 Menghalangi/ memperlambat absorbsi venerasi sistemik dan edema hebat pada bagian
bisa ular luka. Pedoman terapi SABU mengacu pada
 Menetralkan bisa ular yang sudah masuk Schwartz dan Way (Depkes, 2001):
ke dalam sirkulasi darah
 Mengatasi efek lokal dan sistemik  Monitor keseimbangan cairan dan elektrolit
(Sudoyo, 2006)  Ulangi pemeriksaan darah pada 3 jam setelah
pemberiann antivenom
a. Sebelum penderita dibawa ke pusat pengobatan,
beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah • Jika koagulopati tidak membak (fibrinogen
 Penderita diistirahatkan dalam posisi tidak meningkat, waktu pembekuan darah tetap
horizontal terhadap luka gigitan memanjang), ulangi pemberian SABU. Ulangi
 Penderita dilarang berjalan dan dilarang pemeriksaan darah pada 1 dan 3 jam berikutnya,
minum minuman yang mengandung alkohol dst.
 Apabila gejala timbul secara cepat sementara • Jika koagulopati membaik (fibrinogen
belum tersedia antibisa, ikat daerah proksimal meningkat, waktu pembekuan menurun) maka
dan distal dari gigitan. Kegiatan mengikat ini monitor ketat kerusakan dan ulangi pemeriksaan
kurang berguna jika dilakukan lebih dari 30 darah untuk memonitor perbaikkannya. Monitor
menit pasca gigitan. Tujuan ikatan adalah untuk dilanjutkan 2x24 jam untuk mendeteksi
menahan aliran limfe, bukan menahan aliran kemungkinan koagulopati berulang. Perhatian untuk
vena atau ateri. penderita dengan gigitan Viperidae untuk tidak
menjalani operasi minimal 2 minggu setelah gigitan
b. Setelah penderita tiba di pusat pengobatan  Terapi suportif lainnya pada keadaan :
diberikan terapi suportif sebagai berikut:
 Penatalaksanaan jalan napas • Gangguan koagulopati berat: beri plasma
 Penatalaksanaan fungsi pernapasan fresh-frizen (dan antivenin)
 Penatalaksanaan sirkulasi: beri infus cairan • Perdarahan: beri tranfusi darah segar atau
kristaloid komponen darah, fibrinogen, vitamin K, tranfusi
 Beri pertolongan pertama pada luka gigitan: trombosit
verban ketat dan luas diatas luka, imobilisasi • Hipotensi: beri infus cairan kristaloid
(dengan bidai) • Rabdomiolisis: beri cairan dan natrium
 Ambil 5 – 10 ml darah untuk pemeriksaan: bikarbonat
waktu trotombin, APTT, D-dimer, fibrinogen • Monitor pembengkakan local dengan
dan Hb, leukosit, trombosit, kreatinin, urea N, lilitan lengan atau anggota badan
elektrolit (terutama K), CK. Periksa waktu • Sindrom kompartemen: lakukan fasiotomi
pembekuan, jika >10 menit, menunjukkan • Gangguan neurologik: beri Neostigmin
kemungkinan adanya koagulopati (asetilkolinesterase), diawali dengan sulfas atropin
• Beri tetanus profilaksis bila dibutuhkan
 Apus tempat gigitan dengan dengan venom
• Untuk mengurangi rasa nyeri berikan
detection
aspirin atau kodein, hindari penggunaan obat –
 Beri SABU (Serum Anti Bisa Ular, serum kuda
obatan narkotik depresan
yang dilemahan), polivalen 1 ml berisi:
 Terapi profilaksis
 10-50 LD50 bisa Ankystrodon
• Pemberian antibiotika spektrum luas.
 25-50 LD50 bisa Bungarus
Kaman terbanyak yang dijumpai adalah
 25-50 LD50 bisa Naya Sputarix
P.aerugenosa, Proteus,sp, Clostridium sp,
 Fenol 0.25% v/v