Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN KEPANITERAAN KEDOKTERAN KELUARGA

LONG CASE
PUSKESMAS II KEMRANJEN
“Diabetes Melitus Tipe II”

Oleh:
Khairunnisa Rahadatul ‘Aisy Sodikin
G4A016119

Pembimbing:
dr. Yenni Apriana W.
dr. Indah

KEPANITERAAN KLINIK STASE KOMPREHENSIF


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2019

1
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kepaniteraan Kedokteran Keluarga


Long Case
“Diabetes Melitus Tipe II”

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat ujian


Kepaniteraan Klinik Stase Komprehensif/Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran
Universitas Jenderal Soedirman

Oleh:
Khairunnisa Rahadatul ‘Aisy Sodikin
G4A016119

Telah diperiksa, disetujui dan disahkan:


Hari :
Tanggal : Januari 2019

Preseptor Lapangan Preseptor Fakultas

dr. Indah. dr. Yenni Apriana W.

NIP. 197009142002121002 NIP. 197204232002122044

2
I. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama kepala keluarga : Ny. R


Alamat lengkap : Desa Buntu Rt 02/02 Kec. Kroya, Kab.
Cilacap.
Bentuk Keluarga : Extended Family

Tabel 1. 1. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah


No Nama Status L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien Ket
Klinik
1. Tn. T KK L 66 th SD Becak - -
2. Ny. R Istri P 63 th SD IRT DM -
3. Ny. S Anak P 26 th SMP IRT - -
4. Tn. K Menantu L 28 th SMP Supir - -
5. An.T Cucu L 7 th SD Pelajar -
6. An. M Cucu L 5 th SD Pelajar -

Sumber : Data Primer, 1 Januari 2019

Kesimpulan :
Keluarga Ny. P merupakan keluarga besar atau Extended Family. Ny. R menderita
penyakit diabetes melitus tipe II

3
II. STATUS PENDERITA

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. R
Umur : 63 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status : Sudah menikah
Agama : Islam
Suku : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SD
Alamat : Buntu 02/03
Tanggal periksa : 26 Desember 2018
B. ANAMNESIS (autoanamnesis)
1. Keluhan utama : Badan terasa lemas
2. Keluhan tambahan : Sering buang air kecil, banyak minum
3. Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang ke Poli Puskesmas II Kemranjen untuk kontrol rutin setiap
bulan. Pasien mengeluhkan badan terasa lemas dan pegal di seluruh kaki.
Keluhan dirasakan sudah 2 hari sebelumnya. Keluhan lainnya pasien
mengatakan saat malam hari pasien hampir selalu buang air kecil ke
kamar mandi. Pasien juga mengaku banyak minum namun pasien
mengganggap hal tersebut wajar. Keluhan sakit atau perih saat buang air
kecil disangkal.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat penyakit jantung : disangkal
b. Riwayat hipertensi : disangkal
c. Riwayat diabetes melitus : pasien mengaku menderita
DM sejak 3 tahun yang lalu
d. Riwayat trauma : disangkal
e. Riwayat alergi : disangkal

4
f. Riwayat mondok di rumah sakit: disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga
a. Riwayat penyakit jantung : disangkal
b. Riwayat hipertensi : disangkal
c. Riwayat diabetes : disangkal
d. Riwayat alergi : disangkal
6. Riwayat Sosial dan Exposure
a. Community
Pasien dalam kesehariannya tinggal dalam lingkungan
keluarga yang di dalamnya terdapat 6 orang, yaitu pasien, suaminya,
dan anak perempuan, menantu dan kedua cucunya. Semua anak laki-
laki pasien sudah merantau ke kota lain dan memiliki pekerjan di
daerahnya masing-masing. Semenjak pasien lahir sampai sekarang
pasien tinggal di daerah ini. Pasien memiliki hubungan yang baik
dengan tetangganya.
b. Home
Pasien tinggal di Desa Buntu, Kecamatan Kroya. Pasien
tinggal di sebuah rumah dengan jumlah penghuni enam orang
penghuni, yakni pasien, suami, dan anak, menantu dan kedua
cucunya. Hanya ada tiga ruangan di rumah pasien, yakni ruang tamu
dan ruang keluarga berukuran 3x4 m 2 dengan dinding tembok
permanen dan alas berupa lantai, 3 buah kamar berukuran 2x3 m 2
dengan dinding tembok permanen yang juga dialasi lantai. Dapur
pasien berada belakang rumah berukuran 2x2,5 m2 dan 1 buah
gudang berukuran 1x2 m2 dengan dinding berupa bilik dan alas
semen.
Kamar mandi berukuran 1.5 x 1,5 m2 dengan dinding berupa
bilik, alas lantai, dan tempat pembuangan tinja berbentuk leher
angsa. Jumlah ventilasi dan pencahayaan di masing-masing ruangan
cukup. Sumber air bersih yang digunakan pasien untuk kebutuhan
sehari-hari berasal dari sumur. Pasien juga memiliki kandang
kambing yang berada disamping dapur.

5
c. Hobby
Pasien tidak memiliki kegemaran tertentu
d. Occupational
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari
mengerjakan pekerjaan rumah.
e. Personal habit
Pasien memiliki kebiasaan untuk menjaga kebersihan yang
cukup baik. Sebelum makan, pasien selalu mencuci tangan terlebih
dahulu. Makanan yang dikonsumsi pasien pun dijaga kebersihannya.
Begitu juga dengan kondisi rumah pasien yang dibersihkan setiap
harinya. Akan tetapi, pasien mengaku tidak pernah berolahraga.
f. Diet
Pasien dan keluarga memiliki kebiasaan pola makan 3 kali
sehari. Pasien selalu mengkonsumsi makanan hasil masakannya
sendiri. Pasien cenderung lebih sering memasak dengan bumbu
manis. Pasien juga gemar mengkonsumsi minuman manis seperti teh
hampir setiap hari. Setelah pasien tahu sedang menderita kencing
manis pasien mulai mengurangi porsi makan nasi dan digantikan
dengan singkong atau sayur. Pasien juga telah mengurangi minum
teh manis dan menggantinya dengan air putih.
g. Drug
Pasien mengkonsumsi obat-obatan dari Puskesmas secara rutin
setiap hari dan tidak pernah terlewat. Pasien mengaku tidak memiliki
riwayat alergi obat sebelumnya.
7. Riwayat Gizi :
Pasien makan sebanyak 3 x sehari. pasien mengurangi
mengkonsumsi nasi hanya 1x sehari. Lauk pauk yang biasa dikonsumsi
adalah tempe, dan jarang mengkonsumsi daging. Pasien tidak
mengkonsumsi susu. Pasien jarang mengkonsumsi buah. Tidak terdapat
riwayat gizi kurang ataupun gizi buruk pada pasien dan keluarga.

8. Riwayat Psikologi :

6
Pasien termasuk orang yang memiliki sifat periang. Apabila ada
masalah, pasien jarang menceritakan masalah pribadinya kepada suami
dan anak-anak. Penyakit tampak tidak mengganggu psikologis pasien.
9. Riwayat Ekonomi :
Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah kebawah.
Suami pasien seorang tukang becak mesin yang memiliki penghasilan
tidak tetap. Keempat anak laki-laki pasien sudah merantau dan bekerja.
Pasien masih sering dikirimi uang oleh anak-anak pasien.
10. Riwayat Demografi :
Hubungan antara pasien dengan keluarganya dapat dikatakan
harmonis. Hal tersebut dapat terlihat dari cara berkomunikasi pasien
dengan suaminya yang tampak baik dan bagaimana cara pasien
menceritakan keluarganya terutama perhatian anak-anaknya terhadap
pasien dan suami.
11. Riwayat Sosial :
Penyakit yang diderita pasien tidak dirasakan mengganggu
aktivitas karena membatasi aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, selain
itu pasien harus rutin minum obat dan kontrol ke puskesmas atau rumah
sakit. Hubungan pasien dengan tetangganya terjalin dengan baik. Hal
tersebut dapat diketahui dari hasil tanya jawab dengan tetangga pasien
yang mengerti keadaan pasien.
12. Review of System :
a. Keluhan Utama : Badan terasa lemas
b. Kulit : Warna sawo matang
c. Kepala : Simetris, ukuran normal, sakit
kepala (-)
d. Mata : Anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
Gatal (-), bengkak (-).
e. Hidung : Keluar cairan (-)
f. Telinga : Pendengaran jelas, keluar cairan (-)
g. Mulut : Sariawan (-), mulut kering (-),
mukosa merah muda

7
h. Tenggorokan : Sakit menelan (-)
i. Pernafasan : Sesak nafas (-), mengi (-), batuk (-)
j. Sistem Kardiovaskuler : Nyeri dada (-)
k. Sistem Gastrointestinal :Mual (-), kembung (-), nyeri perut
bagian atas (-), BAB (+).
l. Sistem Muskuloskeletal : Nyeri Sendi (-)
m. Sistem Genitourinaria : BAK (+) normal, 8-9x sehari warna
dan jumlah biasa
n. Ekstremitas : Atas : Bengkak (-), luka (-)
Bawah : Bengkak (-), luka (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Baik, compos mentis
2. Tanda vital
a. Tekanan darah : 120/80
mmHg
b. Nadi : 85 x /menit,
regular
c. RR : 19 x /menit
d. Suhu : 36.7O C
3. Status gizi
a. BB : 52 kg
b. TB : 145 cm
c. Kesan status gizi : normal (IMT=24,7 kg/m2)
4. Kulit : Sianosis (-), turgor kulit kembali cepat (<1
detik),
ikterus(-)
5. Kepala : Bentuk kepala normal
6. Mata : Edema palpebra (-/-), konjunctiva anemis
(-/-),
sklera ikterik (-/-), air mata (+), mata cekung (-/-)
7. Telinga : Bentuk normal, sekret (-/-)

8
8. Hidung : Napas cuping hidung (-), sekret (-/-)
9. Mulut : Bibir sianosis (-), mulut basah (+),
Lidah kotor(-)
10. Tenggorokan : Radang (-)
11. Leher : Deviasi trakea (-), pembesaran
kelenjar limfe (-)
12. Thoraks :
Jantung :
Inspeksi : Bentuk dada normal simetris, benjolan (-), jejas
(-), lesi (-)
Auskultasi : Bunyi jantung normal, bising (-), denyut jantung
reguler
Palpasi : Nyeri tekan (-), thril (-)
Perkusi : Kardiomegali (-),
Pulmo :
Inspeksi :Bentuk dada normal simetris, retraksi (-), gerakan
paru simetris, benjolan (-), jejas (-), lesi (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), retraksi (-)
Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru kanan dan kiri
Auskultasi : Vesikular normal, wheezing (-)
13. Punggung : skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
14. Abdomen :
Inspeksi :Datar, asites (-), benjolan (-), lesi (-), jejas (-), tanda
radang (-)
Auskultasi : Peristaltik sedikit meningkat
Palpasi : Nyeri tekan pada ulu hati (-), hepar dan lien tidak
teraba
Perkusi : Timpani normal
15. Genitalia : Tidak dilakukan
16. Anorektal : Tidak dilakukan
17. Ekstremitas :
Superior : Edema (-/-), jejas (-/-), akral dingin (-/-)

9
Inferior : Edema (-/-), jejas (-/-), akral dingin (-/-)
18. Pemeriksaan Neurologik
Fungsi Luhur : Dalam batas normal
Fungsi Vegetatif : Dalam batas normal
Fungsi Sensorik : Dalam batas normal
Fungsi motorik :
KM 5 5 T N N RF + + RP - -
5 5 N N + + - -
19. Pemeriksaan Psikiatrik
Penampilan : Sesuai umur, perawatan diri cukup
Kesadaran : Kualitatif tidak berubah; kuantitatif compos mentis
Afek : Appropriate
Psikomotor : Normoaktif
Insight : Baik
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu : 311 gr/dL
2. Pemeriksaan Gula Darah Puasa : 216 gr/dL
E. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Profil Lipid
2. Fungsi Ginjal (ureum, kreatinin)
F. RESUME
1. Anamnesis
Ny.R Pasien datang ke Poli Puskesmas II Kemranjen untuk kontrol rutin
setiap bulan. Pasien mengeluhkan badan terasa lemas dan pegal di
seluruh kaki. Keluhan dirasakan sudah 2 hari sebelumnya. Keluhan
lainnya pasien mengatakan saat malam hari pasien hampir selalu buang
air kecil ke kamar mandi. Pasien juga mengaku banyak minum namun
pasien mengganggap hal tersebut wajar. Keluhan sakit atau perih saat
buang air kecil disangkal. Pasien Ny. R usia 63 tahun, tinggal dalam satu
rumah bersama suami, menantu, serta cucu sehingga bentuk keluarga
disebut Extended family. Diagnosis pasien adalah diabetes melitus tipe 2.
Status ekonomi pasien termasuk kelas menengah kebawah. Pasien

10
memiliki hubungan yang harmonis dengan suami, anak, saudara maupun
tetangga. Pasien termasuk pribadi yang periang dan selalu bercerita
dengan keluarganya. Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga.

2. Pemeriksaan Fisik
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 85 x/menit regular
RR : 18 x/menit
Suhu : 36.5oC
3. Pemeriksaan Penunjang
GDP : 213 gr/dL
G. DIAGNOSTIK HOLISTIK
1. Aspek Personal
Pasien mengeluh badan terasa lemas yang sudah berlangsung
selama 2 hari yang dirasa mengganggu aktivitas.
Idea : Pasien datang ke Puskesmas Kemranjen untuk berobat.
Concern : Pasien merasa terganggu dengan badan terasa lemas dan
pasien menginginkan perhatian dari keluarganya untuk
mendukung pengobatan dan mengendalikan penyakitnya.
Expectacy : Pasien memiliki harapan penyakitnya dapat segera
disembuhkan dan mendapatkan obat yang efisien untuk
terapi penyakit Diabetes Melitusnya sehingga apabila
kesehatannya sudah pulih pasien dapat beraktivitas seperti
semula.
Anxiety : Pasien merasa takut akan kondisi kesehatanya yang
memburuk.
2. Aspek Klinis
Diagnosa : Diabetes melitus tipe II
Gejala klinis : Lemas, polidipsi, dan poliuri
Diagnosis banding : Diabetes mellitus tipe I, KAD

3. Aspek Faktor Resiko Intrinsik Individu

11
Aspek faktor risiko intrinsik individu diantaranya adalah sebagai
berikut :
a. Pasien berjenis kelamin perempuan berusia
63 tahun
b. Kebiasaan pasien jarang berolahraga.

4. Aspek Faktor Resiko Ekstrinsik Individu


Aspek faktor ekstrinsik pada pasien diantaranya adalah sebagai
berikut :
a. Tingkat pendidikan pasien dan keluarga yang tinggal di sekitar rumah
pasien rendah
b. Kondisi ekonomi pasien termasuk ke dalam golongan menengah ke
bawah
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Pasien mengeluh, lemas, sering buang air kecil dan penyakit DM-
nya dirasa dapat dikendalikan dengan obat dan tidak mengganggu aktivitas
pasien. Skala penilaian fungsi sosial adalah 5, pasien masih dapat
melakukan aktivitas seperti biasa tanpa hambatan.

H. PENATALAKSANAAN
1. Personal Care
a. Aspek kuratif
1) Medikamentosa
a) Glibenclamid 5mg tablet 1x1
b) Metformin 500 mg tablet 3x1
2) Non Medikamentosa
a) Olah raga secara teratur minimal 3 kali dalam seminggu
selama kurang lebih 15 menit.
b) Diet makanan dengan indeks gula rendah atau membatasi
asupan gula dan kolesterol.
c) Menghindari stress.
d) Bed rest atau cukup istirahat.

12
3) Konseling, Informasi, dan Edukasi
a) Edukasi pasien mengenai definisi DM
b) Edukasi pasien mengenai etiologi DM
c) Edukasi pasien mengenai faktor risiko DM
d) Edukasi pasien mengenai tanda dan gejala DM
e) Edukasi pasien mengenai pencegahan DM
f) Edukasi pasien mengenai komplikasi DM
g) Edukasi pasien mengenai pengobatan DM
b. Aspek Preventif
a. Menjelaskan mengenai faktor risiko yang berperan dalam
penyakit diabetes melitus tipe II
b. Memberikan anjuran gaya hidup sehat
c. Aspek Promotif
Memberi informasi mengenai faktor risiko, cara pencegahan,
dan deteksi dini komplikasi secara mudah dan komprehensif.
d. Aspek Rehabilitatif
Motivasi pasien untuk melakukan kontrol rutin untuk mencegah
komplikasi.

2. Family Care
a. Edukasi kepada keluarga terdekat agar pasien menghindari hal-hal
yang mampu memperberat gejala
b. Edukasi mengenai tanda dan gejala yang mengharuskan pasien dibawa
ke unit pelayanan kesehatan
c. Edukasi keluarga untuk selalu memotivasi pasien agar menjaga
kondisi kesehatan pasien
d. Edukasi keluarga untuk mencegah terjadinya penyakit di antara
anggota keluarga yang lain

3. Local Community Care


a. Edukasi komunitas setempat untuk memotivasi pasien agar menjaga
kondisi kesehatan pasien

13
b. Edukasi komunitas untuk selalu menjaga kebersihan serta keindahan
lingkungan sekitar
c. Edukasi komunitas untuk mencegah terjadinya penyakit
I. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam

14
III. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI HOLISTIK
1. Fungsi Biologis
Bentuk keluarga Ny. R adalah Extended family dengan Ny. R (63
tahun) sebagai ibu rumah tangga. Pasien tinggal berenam dengan suami,
anak perempuan pasien, menantu, dan cucu pasien.
2. Fungsi Psikologis
Hubungan pasien dan keluarga terjalin cukup baik, terbukti dengan
permasalahan-permasalahan yang ada diatasi dengan bersama-sama dalam
keluarga ini. Hubungan di antara mereka cukup dekat satu sama lain,
bahkan dengan anak keduanya yang sedang merantau. Keluarga pasien
juga sangat mendukung perubahan kebiasaan makan pasien untuk
mengurangi konsumsi gula dan selalu mengingatkan untuk berolahraga.
3. Fungsi Sosial
Fungsi sosial dalam keluarga Ny. R cukup baik. Ny. R termasuk
pribadi yang mudah bersosialisasi. Hubungan keluarga dengan
tetangganya cukup baik terbukti dengan pasien yang cukup dikenal oleh
lingkungan rumah sekitar.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Perekonomian keluar pasien termasuk dalam golongan menegah ke
bawah. Pembiayaan keluarga berasal dari suaminya sebagai buruh bangun
dengan hasil yag tidak menentu yang berkisar Rp 500.000 perbulan.
Terkadang keluarga juga terbantu dengan uang kiriman anaknya dengan
jumlah yang tidak menentu. Biaya pengobatan pasien di Puskesmas
menggunakan umum.
Kesimpulan :
Bentuk keluarga Ny. R adalah Extended family dengan hubungan keluarga
yang cukup harmonis, dan merupakan keluarga dengan perekonomian kelas
menengah kebawah.

B. FUNGSI FISIOLOGIS (A.P.G.A.R SCORE)

15
Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R
SCORE dengan nilai : hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah =
0. A.P.G.A.R SCORE disini akan dilakukan pada masing-masing anggota
keluarga dan kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis
keluarga secara keseluruhan. Nilai rata-rata 1-5 = jelek, 5-7 = sedang, 8-10 =
baik.
1. Adaptation
Dalam menghadapi masalah selama ini penderita selalu
mendapatkan dukungan berupa nasehat dari keluarganya. Jika penderita
menghadapi suatu masalah selalu menceritakan kepada suaminya.
Penyakitnya ini kadang mengganggu aktivitasnya sehari-hari sebagai ibu
rumah tangga.
2. Partnership
Komunikasi terjalin satu sama lain, meskipun waktu kebersamaan
dirasa singkat. Setiap ada permasalahan didiskusikan bersama dengan
anggota keluarga lainnya, komunikasi dengan suami dan anggota keluarga
lainnya berjalan dengan baik.
3. Growth
Pasien merasa bersyukur masih dapat mengurusi kebutuhan rumah
tangganya.
4. Affection
Pasien merasa hubungan kasih sayang dan interaksi dengan suami,
dn anak-anaknya berjalan dengan lancar. Pasien juga sangat menyayangi
keluarganya, begitu pula sebaliknya.
5. Resolve
Rasa kasih sayang yang diberikan kepada pasien cukup, baik dari
keluarga maupun dari saudara-saudara.

16
A.P.G.A.R Ny. R Terhadap Hampir Kadang Hampir
Keluarga selalu -kadang tidak
pernah
A Saya puas bahwa saya dapat 
kembali ke keluarga saya bila saya
menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga 
saya membahas dan membagi
masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga 
saya menerima dan mendukung
keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup
yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga 
saya mengekspresikan kasih
sayangnya dan merespon emosi
saya seperti kemarahan, perhatian
dll
R Saya puas dengan cara keluarga 
saya dan saya membagi waktu
bersama-sama
Total poin = 9
Ny. R merupakan seorang IRT, hasil penilaian APGAR didapatkan point 9.

A.P.G.A.R Ny. S Terhadap Hampir Kadang Hampir


Keluarga selalu -kadang tidak
pernah
A Saya puas bahwa saya dapat 
kembali ke keluarga saya bila saya
menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga 
saya membahas dan membagi
masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga 
saya menerima dan mendukung
keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup
yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga 
saya mengekspresikan kasih
sayangnya dan merespon emosi
saya seperti kemarahan, perhatian
dll
R Saya puas dengan cara keluarga 
saya dan saya membagi waktu

17
bersama-sama
Total poin = 8
Ny. S merupakan anak perempuan pasien, hasil penilaian APGAR didapatkan
point 8.
A.P.G.A.R Tn.T Terhadap Hampi Kadang- Hampir
Keluarga r selalu kadang tidak
pernah
A Saya puas bahwa saya dapat 
kembali ke keluarga saya bila saya
menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga 
saya membahas dan membagi
masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga 
saya menerima dan mendukung
keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup
yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga 
saya mengekspresikan kasih
sayangnya dan merespon emosi
saya seperti kemarahan, perhatian
dll
R Saya puas dengan cara keluarga 
saya dan saya membagi waktu
bersama-sama
Total poin = 7
Tn.T merupakan menantu pasien, hasil penilaian APGAR didapatkan point 7.

A.P.G.A.R SCORE keluarga pasien = (9+8+7)/3 =8


Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien baik
Secara keseluruhan total poin dari A.P.G.A.R keluarga pasien adalah
24, sehingga rata-rata A.P.G.A.R dari keluarga pasien adalah 8. Hal ini
menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien berada
dalam tingkatan baik.

C. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M)


Fungsi patologis dari keluarga Ny. R dinilai dengan menggunakan
S.C.R.E.E.M sebagai berikut :

18
SUMBER PATOLOGI KET
Social Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga -
dengan saudara, partisipasi mereka dalam kegiatan
kemasyarakatan cukup aktif.
Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal +
ini dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam
keluarga maupun di lingkungan, banyak tradisi budaya
yang masih diikuti. Menggunakan bahasa jawa, tata
krama dan kesopanan. Keluarga pasien sering
mempercayai obat-obatan tradisional.
Religion Pemahaman agama cukup. Penerapan ajaran juga baik, -
hal ini dapat dilihat dari penderita dan keluarga yang
rutin menjalankan sholat lima waktu.
Economic Ekonomi keluarga ini tergolong rendah, untuk -
kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski belum
mampu mencukupi kebutuhan sekunder. Rencana
ekonomi tidak memadai, diperlukan skala prioritas
untuk pemenuhan kebutuhan hidup.
Education Pendidikan anggota keluarga kurang memadai. +
Pendidikan dan pengetahuan penderita kurang.
Kemampuan untuk memperoleh dan memiliki fasilitas
pendidikan seperti buku dan koran terbatas.
Dalam mencari pelayanan kesehatan, keluarga -
Medical menggunakan pelayanan puskesmas dan menggunakan
BPJS. Akses layanan kesehatan yang dapat dijangkau
yaitu puskesmas.
Keterangan :
Social (+) artinya keluarga Ibu K sudah berperan aktif dalam kegiatan
kemasyarakatan.
Cultural (+) artinya keluarga Ibu K masih aktif dalam pergaulan sehari-
hari. Keluarga Ibu K masih menganut tradisi jawa, hal ini terbukti
keluarga Ibu R masih mengikuti tradisi yasinan, mauludan, menggunakan
bahasa jawa, tata krama dan kesopanan. pasien dan keluarga pasien
masih percaya mengenai pengobatan-pengobatan alternatif seperti
pengobatan herbal dan kadang masih menggunakannya.
Religion (-) artinya keluarga Ibu K sudah memiliki pemahaman agama
yang cukup, hal tersebut dapat dilihat dari keaktifan Ibu K dalam
mengikuti pengajian sebelum Ibu K sering sakit-sakitan.
Economic (-) artinya ekonomi keluarga pasien tergolong rendah, namun
untuk memenuhi kebutuhan primer sudah bisa tercukupi.

19
Education (+) artinya keluarga Ny. R telah memiliki pengetahuan yang
kurang, khususnya mengenai permasalahan kesehatan.
Medical (-) artinya dalam mencari pelayanan kesehatan pasien sudah baik,
yaitu dengan langsung mengunjungi Puskesmas terdekat, tidak berobat
ke dukun atau yang semisalnya.
Kesimpulan :
Dalam keluarga Ny. R fungsi patologis yang positif adalah fungsi
Fungsi Budaya dan Pendidikan.
D. GENOGRAM

66
82 th 80JT
th 81 th 80 th
G

60 th 55 th 66 th 63 th
60 th

33 th 31 th 29 th 29 th 26 th

Keterangan

: Pasien

: Laki-laki

: Perempuan

: Meninggal dunia

: Tinggal satu rumah

Gambar 3.1 Genogram Keluarga Ny. R

20
E. INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA

Ny. R Tn. T

Ny.S An. A & M

Diagram 2. Pola Interaksi Keluarga Ny. R

Sumber : Data Primer, 1 Januari 2019


Keterangan : hubungan baik
Kesimpulan : Hubungan antara anggota keluarga di keluarga Ny. R dinilai
cukup harmonis dan saling mendukung.

21
IV. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU


KELUARGA
1. Faktor Perilaku
Prilaku sehari-hari di dalam keluarga ini sebagian besar dipengaruhi
oleh tingkat pendidikan dari anggota keluarga, terutama perilaku yang
berhubungan dengan kesehatan. Keluarga ini menyadari arti penting
kesehatan, namun belum memiliki standar hidup sehat. Hal ini dipengaruhi
oleh kurangnya pengetahuan di bidang kesehatan. Menurut anggota
keluarga ini, yang dimaksud dengan sehat adalah keadaan terbebas dari
sakit yang dapat menghalangi aktivitasnya. Keluarga ini menyadari
pentingnya kesehatan karena apabila mereka sakit, mereka menjadi
tidak dapat bekerja lagi sehingga otomatis pendapatan keluarga akan
berkurang. Keluarga ini meyakini bahwa sakitnya disebabkan oleh
kuman atau bakteri, bukan dari guna-guna, sihir, supranatural atau
takhayul. Mereka tidak terlalu mempercayai mitos, apalagi menyangkut
masalah penyakit, lebih mempercayakan pemeriksaan atau
pengobatannya pada dokter umum atau kadang datang ke Puskesmas
yang terletak dekat dengan rumah.
Ny. R adalah seorang buruh bangunan yang melepas hari tuanya
dengan tinggal bersama istri dan anaknya. Pola makan Ny. R sebelum
mengetahui jika dia mengidap DM merupakan salah satu faktor resiko
yang bisa mencetuskan penyakit yang sekarang beliau derita yaitu
diabetes melitus. Sebelum sakit, setiap harinya Ny. R termasuk tipikal
orang yang banyak makan. Selain itu, setiap harinya Ny. R gemar
mengkonsumsi teh manis. Beliau mengkonsumsi teh kurang lebih 2-3
gelas per harinya.
Keluarga ini menjaga kebersihan lingkungan rumahnya dengan
baik. Menyapu rumah dan halaman dilakukan sendiri setiap hari,
sedangkan untuk membersihkan kamar mandi dikerjakan oleh Ny. R.

22
Keluarga ini sudah melakukan kegiatan sanitasi dengan cukup baik,
terbukti dengan penggunaan jamban, penggunaan air bersih (air sumur).
2. Faktor Non Perilaku
Dipandang dari segi ekonomi, keluarga ini termasuk keluarga
menengah ke bawah. Keluarga ini memiliki tiga sumber penghasilan
yaitu dari hasil kerja suami pasien, menantu yang tinggal bersama
pasien dan dari kiriman anak yang sedang merantau.
Rumah yang dihuni keluarga ini cukup dikatakan sebagai rumah
sehat dengan jumlah ventilasi yang cukup, kelembaban yang baik,
pencahayaan yang baik, memiliki lantai dan atap yang mudah
dibersihkan, serta memiliki sumber air bersih dan jamban sendiri.

Pengetahuan : Lingkungan:
Kurangnya Cukup padat dan
pengetahuan baik dari faktor
pasien itu sendiri lingkungan tidak
maupun keluarga didapatkan suatu
mengenai penyakit faktor resiko yang
diabetes melitus berpengaruh pada
(dimasa lampau). penyakit pasien

Sikap:
Pelayanan
Penderita mematuhi Kesehatan:
untuk kontrol dan
Keluarga Ny. R
minum obat, Jika sakit langsung
mematuhi pola diet berobat ke dokter
DM, namun tidak dan puskesmas
membiasakan
berolahraga teratur.

Tindakan: Ekonomi:

Pasien dan keluarga Pasien termasuk dalam


sudah mengontrol kelas ekonomi
makan dan menengah ke bawah,
pengobatan namun kebutuhan
penderita secara pokok masih terpenuhi.
rutin.
23
: Faktor Perilaku

: Faktor Non Perilaku

Diagram 3. Faktor Perilaku dan Non Perilaku

B. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH


1. Gambaran Lingkungan
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah berukuran 8x14 m2. Rumah
pasien dekat dengan rumah tetangganya dan menghadap ke selatan.
Memiliki pekarangan di depan dan samping rumah. Rumah ini
mempunyai 1 lantai dan terdiri dari ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 gudang,
dan kamar mandi beserta dapur. Atap rumah memakai genteng dan
bagian dalam belum menggunakan langit-langit. Memiliki sumber air
bersih dari sumur timba milik pribadi, dan memiliki jamban leher angsa,
dan septic tank yang berjarak 10 meter dari sumur. Jendela rumah ditutup
dengan kaca dan menggunakan gorden.
2. Denah Rumah

K. mandi
Dapur
R. Gudang

Kamar 3

Kamar 2
R.tam
u
Halaman
Rumah
Kamar 1

24
V. DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA

A. MASALAH MEDIS
1. Ny. R menderita diabetes melitus tipe II
B. MASALAH NON MEDIS
1. Ny. R memiliki pola hidup yang kurang baik. Hal ini dimungkinkan oleh
karena pengetahuan yang kurang mengenai penyakitnya. Pengetahuan
yang kurang tentang penyakit ini juga dimiliki oleh keluarga pasien serta
jarang memotivasi Ny. R untuk melakukan kontrol terhadap kesehatannya.
2. Pasien merupakan tipikal orang yang jarang berolahraga.
C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN

Pola hidup pasien yang jarang


berolahraga.

Pengetahuan pasien yang Pendapatan perkapita keluarga


kurang terkait yang rendah.
penyakitnya

Ny. R 63 tahun
Diabetes melitus tipe II

Gambar 5.1 Hubungan Penyakit dengan Faktor Risiko

25
D. MATRIKULASI MASALAH
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks :
Tabel 5.1 Matrikulasi masalah
Jumlah
I T R
No Daftar Masalah IxTxR
P S SB Mn Mo Ma
1. Pola hidup pasien yang 5 5 5 4 5 5 5 62500
kurang baik, yaitu
dengan jarang
berolahraga dan gemar
mengkonsumsi
makanan dan minuman
manis

2. Pengetahuan pasien 4 5 3 1 1 2 3 360


yang kurang terkait
penyakitnya

Keterangan :
I : Importancy (pentingnya masalah)
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (pentingnya masalah)
Kriteria penilaian :
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting
E. PRIORITAS MASALAH
Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah
keluarga Ny. R adalah sebagai berikut :

26
1. Pola hidup pasien yang kurang baik, yaitu dengan jarang berolahraga.
2. Pengetahuan pasien yang kurang terkait penyakitnya
Kesimpulan :
Prioritas masalah yang diambil adalah keluarga pasien mempunyai
pengetahuan kurang mengenai DM. Pengetahuan tentang penyakit yang
kurang ini tentu saja berpengaruh terhadap segala aspek, misalnya cara
mencegah agar tidak terjadi kekambuhan, cara pengobatan, dan lain
sebagainya.
F. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH
Beberapa alternatif pemecahan masalah yang bisa dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Pembinaan keluarga meliputi penyakit DM
mengenai definisi, faktor risiko, tata cara penatalaksanaan, komplikasi,
mencegah terjadinya komplikasi, dan mencegah terjadinya penyakit ini
pada anggota keluarga yang lain.
2. Pembagian leaflet mengenai penyakit DM
G. PENENTUAN ALTERNATIF TERPILIH
Penentuan alternatif terpilih berdasarkan Metode Rinke yang
menggunakan dua kriteria yaitu efektifitas dan efiseiensi jalan keluar. Kriteria
efektifitas terdiri dari pertimbangan mengenai besarnya masalah yang dapat
diatasi, kelanggengan selesainya masalah, dan kecepatan penyelesaian
masalah. Efisiensi dikaitkan dengan jumlah biaya yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah. Skoring efisiensi jalan keluar adalah dari sangat
murah (1), hingga sangat mahal (5).

Tabel 5.2 Kriteria dan Skoring Efektivitas dan Efisiensi Jalan Keluar

27
C
M
I V (jumlah biaya
(besarnya
(kelanggengan (kecepatan yang diperlukan
Skor masalah
selesainya penyelesaian untuk
yang dapat
masalah) masalah) menyelesaikan
diatasi)
masalah)
1 Sangat kecil Sangat tidak Sangat lambat Sangat murah
langgeng
2 Kecil Tidak langgeng Lambat Murah
3 Cukup besar Cukup langgeng Cukup cepat Cukup murah
4 Besar Langgeng Cepat Mahal
5 Sangat besar Sangat langgeng Sangat cepat Sangat mahal
Prioritas alternatif terpilih dengan menggunakan metode Rinke adalah
sebagai berikut:
Tabel 5.3 Alternatif Terpilih
Urutan
MxIxV
Daftar Alternatif Jalan Efektivitas Efisiensi Prioritas
No C
Keluar Masalah
M I V C
1 Pembinaan keluarga 4 3 3 2 18 1
meliputi penyakit DM
mengenai definisi, faktor
risiko, tata cara
penatalaksanaan,
komplikasi, mencegah
terjadinya komplikasi,
dan mencegah terjadinya
penyakit ini pada anggota
keluarga yang lain.
2 Pembagian leaflet 4 3 2 4 6 2
mengenai DM

Berdasarkan hasil perhitungan penentuan alternatif terpilih


menggunakan metode Rinke, didapatkan alternatif terpilih yaitu pembinaan
keluarga meliputi penyakit DM mengenai definisi, faktor risiko, tata cara
penatalaksanaan, komplikasi, mencegah terjadinya komplikasi, dan mencegah
terjadinya penyakit ini pada anggota keluarga yang lain dengan skor 18.

28
VI. RENCANA DAN HASIL PEMBINAAN KELUARGA

A. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA


1. Tujuan
a. Tujuan umum
Pasien dan keluarga pasien lebih memahami mengenai
penyakit DM serta cara pencegahan agar tidak terjadi komplikasi
yang akan memperparah kondisi pasien.
b. Tujuan khusus
Mengubah perilaku pasien dan keluarga dalam melakukan pola
gaya hidup sehat.
2. Cara Pembinaan
Pembinaan dilakukan di rumah pasien dalam waktu yang telah
ditentukan bersama. Pembinaan dilakukan dengan cara memberikan
penyuluhan dan edukasi pada penderita dan keluarga, dalam suatu
pembicaraan santai sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima.
3. Materi Pembinaan
Materi yang akan diberikan kepada penderita dan keluarga pasien
adalah dalam bentuk penyuluhan dan edukasi mengenai modifikasi
pengertian, gejala dan tanda, faktor risiko timbulnya penyakit DM,
kegunaan/efek samping obat OHO dan cara pembinaan bagaimana
pentingnya pola hidup sehat bagi penderita DM.
4. Sasaran Pembinaan
Sasaran dari pembinaan yang dilakukan adalah pasien dan anggota
keluarga pasien yaitu anak pertama pasien.
5. Evaluasi Pembinaan
Evaluasi yang dilakukan adalah dengan memberikan beberapa
pertanyaan yang sama sebelum dan sesudah pembinaan mengenai materi
yang telah disampaikan kepada pasien dan anak perempuan pasien. Jika
salah satu ada yang bisa menjawab, maka dianggap mereka sudah
memahami materi yang telah disampaikan sebelumnya dan dapat saling
mengingatkan antaranggota keluarga.

29
B. HASIL PEMBINAAN KEUARGA
Tabel 6.1 Hasil Pembinaan Keluarga
Anggota
Tanggal Kegiatan yang dilakukan keluarga Hasil kegiatan
yang terlibat
01 a. Perkenalan dan membina Pasien dan Pasien bersedia
Januari kepercayaan. keluarga untuk dikunjungi
2019 b. Memeriksa kondisi pasien lebih lanjut untuk
c. Melakukan tanya jawab dipantau
terhadap kondisi pasien dan perkembangannya
keluarga
01 a. Memeriksa kondisi pasien Pasien dan a. Pasien dan
Januari b. Menggali pengetahuan dan keluarga keluarga
2019 pemahaman pasien tentang memahami
DM tentang DM
c. Memberi penjelasan b. Keluarga
mengenai DM sepakat untuk
d. Review materi pengetahuan mencegah
e. Memotivasi pasien untuk terjadinya
memperbaiki pola hidup, penyakit serta
pola makan, dan aktivitas komplikasi
f. Memotivasi keluarga pasien yang
untuk mencegah terjadinya ditimbulkan
penyakit dan komplikasi DM
pada anggota keluarga yang
lain.

C. HASIL EVALUASI
1. Evaluasi Formatif
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada dua orang yang terdiri dari,
pasien Ny. R, anak perempuan pasien (Ny. A). Metode yang digunakan
berupa pembinaan edukasi tentang penyakit diabetes melitus tipe II mulai
dari pengertian, faktor resiko, pencegahan, dan pengobatan, komplikasi
diabetes melitus tipe II.
2. Evaluasi Promotif
Sasaran pembinaan sebanyak dua orang yaitu, pasien dan keluarga
pasien telah terpenuhi. Waktu pelaksanaan kegiatan pada Selasa, 01
Januari 2019 di rumah pasien. Pembinaan berjalan dengan lancar dan
pasien merasa puas karena merasa lebih diperhatikan dengan adanya

30
kunjungan ke rumahnya untuk memberikan edukasi tentang penyakit
yang sedang diderita Ny. R.
3. Evaluasi Sumatif
Sebelum dilakukan pembinaan, pasien dan keluarga diberi
pertanyaan umum tentang penyakitnya berupa nama penyakit yang
diderita dan penyebab atau faktor risiko yang ada pada pasien. Pasien dan
keluarga menyebutkan penyebab atau faktor risiko penyakit tersebut
hanya dari makanan yang manis saja. Selanjutnya, setelah dilakukan
pembinaan, pasien dan keluarga diberi pertanyaan yang sama ditambah
cara mencegah komplikasi diabetes melitus tipe II. Pasien dan keluarga
menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan setelah pembinaan.
Pasien dan keluarga juga mengaku puas dan senang dengan adanya
pembinaan ini, karena menjadi lebih paham tentang penyakitnya.

31
VII. TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI DIABETES MELLITUS


Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes
Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin, atau kedua-duanya (Perkeni, 2011).

B. EPIDEMIOLOGI
Diabetes mellitus merupakan keadaan yang seringkali dikaitkan
dengan meningkatnya risiko morbiditas dan mortalitas. DM telah
menyebabkan sekitar 60% kematian dan 43% kesakitan diseluruh dunia.
Insidensi dan prevalensi dari diabetes mellitus diseluruh dunia semakin
meningkat, dan diperkirakan prevalensi DM diseluruh dunia akan meningkat
menjadi dua kali lipat pada tahun 2030. International Diabetes Federation
(IDF) melaporkan pada tahun 2011 prevalensi DM di dunia sebanyak 366 juta
jiwa yang berada pada rentang usia 20-79 tahun. IDF juga memperkirakan pada
tahun 2030 akan terjadi peningkatan prevalensi DM menjadi 552 juta jiwa.
Prevalensi DM tertinggi pada usia 60 tahun keatas. Sebanyak 80%-95%
merupakan penderita DM Tipe 2 dan sebagian besar berada di negara miskin
dan negara berkembang. Menurut survei yang dilakukan World Health
Organization (WHO), Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah
penderita DM terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat.
Negara dengan prevalensi DM tertinggi pada tahun 2011 adalah China (90 juta
jiwa), India (61.3 juta jiwa), dan Amerika (23.7 juta jiwa). Prevalensi DM di
Asia Tenggara pada tahun 2011 adalah 70,4 juta jiwa dan diperkirakan
meningkat menjadi 120,9 juta jiwa pada tahun 2030. Indonesia menduduki
peringkat kesepuluh dengan prevalensi 7.3 juta jiwa dan diestimasikan pada
tahun 2030 akan naik menjadi peringkat kesembilan dengan prevalensi 11.8
juta jiwa (Rachmadany,2010).

C. KLASIFIKASI
Klasifikasi diabetes mellitus berdasarkan PERKENI yaitu:

32
Tabel 7.2 Klasifikasi Diabetes Melitus
Jenis Etiologi
Tipe 1 Destruksi sel β, umumnya
menjurus ke defisiensi insulin
absolute (autoimun dan idiopatik)
Tipe 2 Bervariasi, mulai dari resistensi
insulin yang disertai defisiensi
insulin relatif hingga defek sekresi
insulin yang dibarengi resistensi
insulin
Tipe lain a. Defek genetik fungsi sel β
b. Defek genetik kerja insulin
c. Penyakit eksokrin pancreas
d. Endokrinopati
e. Karena obat atau zat kimia
f. Infeksi
g. Sindrom genetik lain yang
berkaitan dengan DM
Diabetes Melitus Gestasional Intoleransi glukosa yang timbul
atau terdeteksi pada kehamilan
pertama dan gangguan toleransi
glukosa setelah terminasi
kehamilan

1. Diabetes Mellitus Tipe 1


Diabetes mellitus tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada
insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin, dikenal dengan istilah
Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Diabetes ini terjadi akibat
kerusakan sel β pankreas yang merupakan penghasil insulin. Insulin adalah
hormon yang diproduksi oleh sel β pankreas, yang berfungsi mengatur
metabolisme glukosa menjadi energi serta mengubah kelebihan glukosa
menjadi glikogen yang tersimpan dalam hati dan otot. Pada Diabetes
mellitus tipe I, terjadi radang pada pankreas, yang disebabkan oleh
berbagai hal, diantaranya virus. Terjadi kerusakan pada sel β pankreas
melalui reaksi yang dinamakan sebagai reaksi autoimun, akibat kerusakan
tersebut maka pankreas gagal untuk menghasilkan hormon insulin
(Rachmadany,2010).
2. Diabetes Mellitus Tipe 2

33
DM tipe 2 dikarakteristikan dengan berkurangnya sekresi insulin,
resistensi insulin dan over produksi dari glukosa hepar. DM tipe 2
mempunyai onset pada usia sekitar pertengahan (40-an tahun). Patogenesis
DM tipe 2 kompleks dan merupakan interaksi antara faktor genetik dengan
faktor lingkungan. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko
terjadinya DM dibagi menjadi 2, yaitu faktor risiko yang tidak dapat
dimodifikasi (usia, jenis kelamin, genetik/ riwayat DM pada keluarga, DM
gestasional, bangsa dan etnis), dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi
(Pola makan, gaya hidup, aktivitas fisik, obesitas, hipertensi, konsumsi
alkohol, konsumsi kafein, merokok, stress) (Rachmadany,2010).
3. Diabetes Mellitus Tipe Lain
DM ini disebabkan oleh
a. Defek genetik fungsi sel β
b. Defek genetik dalam kerja insulin
c. Penyakit eksokrin pankreas misalnya: pankreatitis, pankreatektomi,
neoplasma, dan lain-lain.
d. Endokrinopati misalnya akromegali, Cushing's syndrome,
glucagonoma, pheochromocytoma, hyperthyroidism, somatostatinoma,
aldosteronoma
e. Karena obat atau zat kimia misalnya Vacor, pentamidine, nicotinic
acid, glucocorticoids, thyroid hormone, diazoxide, β-adrenergic
agonists, thiazides, phenytoin, α -interferon, protease inhibitors,
clozapine
f. Infeksi misalnya infeksi congenital rubella, cytomegalovirus,
coxsackie
g. Imunologi misalnya "stiff-person" syndrome, antibody anti reseptor
insulin
h. Sindrom genetik lain Down's syndrome, Klinefelter's syndrome,
Turner's syndrome, Wolfram's syndrome, Friedreich's ataxia,
Huntington's chorea, Laurence-Moon-Biedl syndrome, myotonic
dystrophy, porphyria, Prader-Willi syndrome (Rachmadany,2010).
4. Diabetes Gestasional

34
Diabetes mellitus gestasional didefenisikan sebagai setiap intoleransi
glukosa yang timbul atau terdeteksi pada kehamilan pertama, tanpa
memandang derajat intoleransi serta tidak memperhatikan apakah gejala
ini lenyap atau menetap selepas melahirkan. Diabetes jenis ini biasanya
muncul pada kehamilan trimester kedua dan ketiga. Kategori ini mencakup
DM yang terdiagnosa ketika hamil (sebelumnya tidak diketahui). Wanita
yang sebelumnya diketahui telah mengidap DM dan kemudian hamil, tidak
termasuk ke dalam kategori ini (Rachmadany,2010).

D. PATOFISIOLOGI
Di dalam saluran pencernaan makanan dipecah menjadi bahan dasar dari
makanan itu.Karbohidrat menjadi glukosa, protein menjadi asam amino dan
lemak menjadi asam lemak.Agar dapat berfungsi sebagai bahan bakar, zat
makanan itu harus masuk terlebih dahulu ke dalam sel agar dapat diolah. Di
dalam sel, zat makanan terutama glukosa dibakar melalui proses metabolisme,
yang hasil akhirnya adalah timbulnya energi. Dalam proses metabolisme ini
insulin memegang peran yang sangat penting yaitu memasukkan glukosa ke
dalam sel, untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan bakar. Hidrat
arang dalam makanan diserap oleh usus halus dalam bentuk glukosa.Glukosa
darah dalam tubuh manusia diubah menjadi glikogen hati dan otot oleh
insulin. Sebaliknya, jika glikogen hati maupun otot akan digunakan, dipecah
lagi menjadi glukosa oleh adrenalin. Jika kadar insulin darah berkurang, kadar
glukosa darah akan melebihi normal, menyebabkan terjadinya hiperglikemia.
Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta pankreas dapat diibaratkan
sebagai anak kunci yang dapat membuka pintu masuknya glukosa ke dalam
sel, untuk kemudian di dalam sel glukosa itu dimetabolisasikan menjadi
tenaga. Bila insulin tidak ada, maka glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel,
akibatnya glukosa akan tetap berada di dalam pembuluh darah yang artinya
kadarnya di dalam darah meningkat. Dalam keadaan ini badan akan menjadi
lemah karena tidak ada sumber energi di dalam sel. Inilah yang terjadi pada
Diabetes Mellitus (Soegondo, 2009).

35
Pada diabetes tipe I terdapat ketidak mampuan untuk menghasilkan
insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun.
Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh
hati. Di samping itu, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan
dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan
hiperglikemia post prandial (sesudah makan).Jika konsentrasi glukosa
dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa
yang tersaring keluar.Akibatnya, glukosa tersebut muncul dalam urin
(glukosuria). Ketika glukosa yang berlabihan diekskresikan ke urin, ekskresi
ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan pula,
keadaan ini dinamakan dieresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan
yang berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih
(poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Defisiensi insulin juga mengganggu
metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat
badan.Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (Polifagia), akibat
menurunnya simpanan kalori.
Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yaitu yang
berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin. Normalnya insulin akanterikat dengan reseptor khusus pada
permukaan sel sebagai akibat terikatnya insulindengan reseptor tersebut.
Terjadi sel resistensi insulin pada diabetes tipe II disertaidengan penurunan
reaksi intrasel ini.Insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi
pengambilan glukosa oleh jaringan.Untuk mengatasi resistensi insulin dan
mencegah terbentuknya glukosa dalam darah,harus terdapat peningkatan
jumlah insulin yang disekresikan pada penderita toleransiglukosa terganggu,
keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dankadar glukosa
akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat.Namun
untuk mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar
glukosaakan meningkat dan terjadi diabetes tipe II (Perkeni, 2011).

36
E. FAKTOR RISIKO
Faktor risiko DM dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.(unmodifiable risk
factors):
a. Usia
Semakin meningkat usia, fungsi organ tubuh akan semakin
menurun. Aktivitas sel β pankreas untuk menghasilkan insulin
menjadi berkurang dan sensitifitas sel-sel jaringan menurun sehingga
tidak menerima insulin. Keadaan ini menyebabkan penurunan
kemampuan fungsi tubuh dalam mengendalikan kadar gula darah yang
tinggi. Orang berusia lebih dari 45 tahun lebih berisiko mengalami
DM (Perkeni,2011).
b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin laki-laki memiliki risiko diabetes meningkat lebih
cepat. Para peneliti mengamati 51.920 laki-laki dan 43.137
perempuan. Seluruhnya merupakan pengidap diabetes mellitus tipe II
dan umumnya memiliki indeks massa tubuh (IMT) di atas batas
kegemukan atau overweight. Laki-laki terkena diabetes pada IMT
rata-rata 31,83 kg/m2 sedangkan perempuan baru mengalaminya pada
IMT 33,69 kg/m2. Perbedaan risiko ini dipengaruhi oleh distribusi
lemak tubuh. Pada laki-laki, penumpukan lemak terkonsentrasi di
sekitar perut sehingga memicu obesitas sentral yang lebih berisiko
memicu gangguan metabolisme (Perkeni,2011).
c. Bangsa dan etnis
Bangsa Asia lebih berisiko terserang diabetes mellitus
dibandingkan bangsa Barat. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan
bahwa secara keseluruhan bangsa Asia kurang berolahraga
dibandingkan bangsa-bangsa Barat. Selain itu, kelompok etnik
tertentu juga berpengaruh terutama Cina, India, dan Melayu lebih
berisiko terkena diabetes mellitus.

37
d. Riwayat keluarga dengan diabetes mellitus
Seorang anak merupakan keturunan pertama dari orang tua
dengan DM berisiko mendapat DM tipe 2 adalah 15% bila salah satu
orangtuanya menderita DM dan berisiko 75% jika kedua orangtuanya
menderita DM. Selain itu, pada umumnya bila seseorang menderita
DM maka saudara kandungnya mempunyai risiko DM sebesar 10%
(Perkeni, 2011).
e. Riwayat diabetes mellitus gestasional
Ibu hamil yang menderita DM gestasional akan melahirkan bayi
besar dengan berat badan lahir > 4000 gram atau riwayat pernah
menderita diabetes gestasional/ kehamilan dengan DM (Perkeni,
2011).
2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi (modifiable risk factors):
a. Berat badan lebih atau obesitas
Berat badan lebih diketahui jika Indeks Massa Tubuh (IMT)
seseorang yaitu ≥ 25 kg/m2. Obesitas merupakan salah satu faktor
risiko DM. Obesitas terjadi bila makanan yang dimakan mengandung
energi melebihi kebutuhan tubuh, sehingga kelebihan energi tersebut
akan disimpan tubuh sebagai cadangan energi dalam bentuk lemak
yang mengakibatkan sesorang menjadi gemuk. Bila makan berlebih
dalam jangka waktu lama, cadangan lemak yang ditimbun menjadi
lebih banyak lagi sehingga seseorang menjadi obesitas
(Rachmadani,2010).
Cara sederhana mengetahui obesitas adalah dengan menghitung
Indeks Massa Tubuh. Penggunaan IMT disini hanya berlaku untuk
orang dewasa > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada pengukuran
status gizi bayi anak, remaja dan ibu hamil serta olahragawan
(Supraiasa, 2002). Batas ambang IMT orang Indonesia dikategorikan
merujuk WHO yang telah dimodifikasi berdasarkan pengalaman klinis
dan hasil penelitian dibeberapa negara berkembang, sebagai berikut :

38
Tabel 7.3 Kriteria IMT pada orang Indonesia
Kategori IMT
Kurus Kekurangan berat badan tingkat < 17
berat
Kekurangan berat badan tingkat 17,0-18,4
ringan
Normal 18,5-25
Kegemukan Kelebihan berat badan tingkat ringan 25,0-27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0
Sumber: Pedoman praktis memantau status gizi orang dewasa.
Depkes RI 1994.

b. Hipertensi
Tabel 7.4 Klasifikasi hipertensi menurut JNC-VII
Kategori Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal ≤ 120 ≤ 80
Prehipertensi 120-139 80-90
Hipertensi derajat 1 140-163 91-99
Hipertensi derajat 2 >160 >100
Sumber : JNC-VII 2003
Insidensi penyakit kardiovaskuler dan gagal ginjal pada
penderita hipertensi terus meningkat sejalan dengan peningkatan
insidensi diabetes melitus. Banyak cara telah dilakukan untuk upaya
pencegahan meningkatnya insidensi tersebut, antara lain upaya
mengendalikan hipertensi salah satu faktor risiko penyakit jantung
koroner. Obat anti hipertensi yang layak digunakan telah banyak
ditawarkan pada pengelolaan hipertensi penderita diabetes melitus.
Diharapkan dengan terkontrol dengan baik tekanan darah akan
menyebabkan pengurangan risiko penyakit kardiovaskuler
(Rachmadani,2010).
c. Kurangnya aktivitas fisik
Kebugaran jasmani dapat menggambarkan kondisi fisik
seseorang untuk mampu melakukan kegiatan yang berhubungan
dengan aktivitas sehari-hari. Kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor
cukup besar untuk seseorang mengalami kegemukan dan melemahkan
kerja organ-organ vital seperti jantung, hati, ginjal dan juga pankreas.
Aktivitas fisik juga sangat mempengaruhi kadar glukosa darah Jika
orang malas berolah raga memiliki resiko lebih tinggi untuk terjadinya

39
kenaikan kadar glukosa darah karena olahraga berfungsi untuk
membakar kalori yang berlebihan di dalam tubuh. Kalori yang
tertimbun di dalam tubuh merupakan faktor utama penyebab diabetes
mellitus selain disfungsi pankreas.
Salah satu pola hidup yang baik adalah olahraga dengan teratur.
Manfaat olah raga yaitu penurunan kadar glukosa darah, mencegah
kegemukan, ikut berperan dalam mengatasi kemungkinan terjadinya
komplikasi, keadaan-keadaan ini dapat mengurangi resiko penyakit
jantung koroner (PJK) dan meningkatkan kualitas hidup diabetisi dan
meningkatkan kerja serta memberikan keuntungan secara psikologis.
Pada keadaan istirahat, metabolisme otot hanya sedikit menggunakan
glukosa darah sebagai sumber energi, sedangkan pada saat
beraktivitas fisik (olahraga), otot menggunakan darah dan lemak
sebagai sumber energi utama (Waspadji, 2004).
Menurut Chaveau & Kaufman (1989) olah raga pada diabetes
dapat menyebabkan terjadinya peningkatan glukosa oleh otot yang
aktif, sehingga secara langsung olahraga dapat menyebabkan
penurunan kadar glukosa darah. Dan hasil penelitian Allen bahwa olah
raga aerobik yang teratur akan mengurangi kebutuhan insulin sebesar
30-50% pada diabetes tipe 1 yang terkontrol dengan baik. Pada
diabetes tipe 2 yang dikombinasikan dengan penurunan BB akan
mengurangi kebutuhan insulin hingga 100% (Rachmadani,2010).
Aktivitas fisik mengakibatkan sensitivitas reseptor dan insulin
akan semakin meningkat sehingga glukosa darah yang dipakai untuk
metabolisme energi semakin baik. Oleh karena itu, seorang yang
jarang melakukan aktivitas fisik atau berolahraga menyebabkan
sensitivitas reseptor dan insulin akan semakin menurun sehingga
glukosa darah akan tertimbun dan tidak terpakai (Waspadji, 2004).
Latihan jasmani untuk pasien diabetes melitus dilakukan 3-4 kali
seminggu selama lebih kurang 30 menit. Manfaat aktivitas fisik /
olahraga antara lain :

40
1) Sel-sel tubuh akan menjadi lebih sensitif terhadap hormon insulin,
sehingga dapat menyerap glukosa lebih banyak. Sebaliknya sel
hati akan lebih sedikit memproduksi glukosa, sehingga kadar
glukosa darah bisa lebih terkendali.
2) Menghambat dan memperbaiki faktor risiko penyakit
kardiovaskular yang banyak terjadi pada penderita diabetes
mellitus, seperti penyakit jantung koroner (PJK), stroke, dan
penyakit pembuluh darah perifer.
3) Meningkatkan kadar kolesterol baik dalam tubuh ( kolesterol
HDL)
4) Menurunkan tekanan darah. Hati-hati pada saat olahraga tekanan
darah mungkin meningkat.
5) Menurunkan berat badan pada penderita diabetes mellitus yang
juga mengalami obesitas.
6) Mengurangi kebutuhan pemakaian obat oral dan insulin.
7) Memberikan keuntungan psikologis, olah raga yang teratur dapat
memperbaiki tingkat kesegaran jasmani karena memperbaiki
sistem kardiovaskular, respirasi, pengontrolan gula darah
sehingga penderita merasa fit, mengurangi rasa cemas terhadap
penyakitnya, timbul rasa senang dan lebih meningkatkan rasa
percaya diri serta meningkatkan kualitas hidupnya.
8) Mencegah terjadinya diabetes yang dini terutama bagi orang –
orang dengan riwayat keluarga penderita diabetes ataupun bagi
yang masuk dalam golongan pre diabetes.
d. Konsumsi rokok
Merokok adalah salah satu faktor risiko terjadinya penyakit DM
Tipe 2. Rokok mengandung berbagai zat yang berbahaya bagi tubuh,
seperti tar, nikotin dan N-nitrosamin. Asap rokok dapat meningkatkan
kadar gula darah. Pengaruh rokok (nikotin) merangsang kelenjar
adrenal dan dapat meningkatkan kadar glukosa. Penelitian oleh
Houston mendapatkan bahwa perokok aktif memiliki risiko 76% lebih

41
tinggi untuk terserang DM Tipe 2 dibanding dengan yang tidak
terpajan (Setyorogo, 2013).
e. Stress
Kondisi stress berat bisa mengganggu keseimbangan berbagai
hormon dalam tubuh termasuk produksi hormon insulin. Respon stress
menyebabkan terjadinya sekresi sistem saraf simpatis yang diikuti
oleh sekresi simpatis-medular, dan bila stress menetap maka sistem
hipotalamus-pituitari akan diaktifkan dan akan mensekresi
corticotropin releasing factor yang menstimulasi pituitari anterior
memproduksi adenocorticotropic factor (ACTH). ACTH
menstimulasi produksi kortisol, yang akan mempengaruhi
peningkatan kadar glukosa darah (Goyal et al., 2008).
f. Pola makan ( konsumsi makanan berkolesterol tinggi)
g. Diet tidak seimbang dengan tinggi gula dan rendah serat.
h. Konsumsi makanan yang tidak seimbang, tinggi gula dan rendah serat
juga merupakaan faktor risiko DM.

F. MANIFESTASI KLINIK
Gejala klasik DM seperti poliuria, polidipsi, polifagia, dan penurunan
berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Keluhan lain dapat berupa
lemah badan, kesemutan, gatal-gatal, pandangan mata kabur, dan disfungsi
ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita (PERKENI, 2011)
DM pada usila umumnya bersifat asimptomatik, kalaupun ada
gejala, seringkali berupa gejala tidak khas seperti kelemahan, letargi,
perubahan tingkah laku, menurunnya status kognitif atau kemampuan
fungsional (antara lain delirium, demensia, depresi, agitasi, mudah jatuh, dan
inkontinensia urin).Inilah yang menyebabkan diagnosis DM pada lansia
seringkali agak terlambat. Bahkan, DM pada usila seringkali baru terdiagnosis
setelah timbul penyakit lain. Berikut ini adalah data M.V. Shestakova (1999)
mengenai manifestasi klinis pasien lansia sebelum diagnosis DM ditegakkan
(PERKENII, 2011).

42
G. DIAGNOSIS
Diagnosis diabetes mellitus dapat ditegakkan melalui tiga cara :
1. Gejala klasik DM dan glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl
Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada
suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir.
2. Gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl
Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8
jam
3. Kadar gula plasma 2 jam pada TTGO (tes toleransi glukosa terganggu) ≥
200 mg/dl.
TTGO dilakukan menggunakan beban glukosa yang setara dengan
75 gram glukosa yang dilarutkan kedalam air.

Gambar 7.1. Langkah Diagnosis Diabetes mellitus Menurut


PERKENI (2011)

H. PENATALAKSANAAN
Pilar penatalaksanaan Diabetes Melitus menurut Perkeni (2006)
mencakup poin–poin di bawah ini :
1. Edukasi
2. Terapi gizi medis
3. Latihan jasmani
4. Intervensi farmakologis

43
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan
jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa
darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan
obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan
tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau langsung
kombinasi, sesuai indikasi.Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat,
misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan
cepat, adanya ketonuria, insulin dapat segera diberikan. Pengetahuan
tentang pemantauan mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia dan cara
mengatasinya harus diberikan kepada pasien, sedangkan pemantauan kadar
glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah mendapat pelatihan
khusus.
5. Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan
perilaku telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang
diabetes memerlukan partisipasi aktif pasien, keluarga dan
masyarakat.Tim kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan
perilaku.Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan
edukasi yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi (Perkeni,
2011).
6. Terapi gizi medis
Terapi Gizi Medis (TGM) merupakan bagian dari penatalaksanaan
diabetes secara total. Kunci keberhasilan TGM adalah keterlibatan secara
menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang
lain dan pasien itu sendiri). Setiap penyandang diabetes sebaiknya
mendapat TGM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran
terapi. Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama
dengan anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang
seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing
individu. Pada penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya
keteraturan makan dalam hal jadwal makan jenis dan jumlah makanan,

44
terutama pada mereka yang menggunakan obat penurun glukosa darah
atau insulin (Perkeni, 2011).
7. Latihan jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4)
kali seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar
dalam pengelolaan DM tipe 2.Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke
pasar, menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan. Latihan
jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat
badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki
kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan
jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki, bersepeda santai, jogging,
dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan
status kesegaran jasmani.Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas
latihan jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat
komplikasi DM dapat dikurangi.Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang
gerak atau bermalas-malasan (Perkeni, 2011).
8. Intervensi Farmakologis
Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah
belum tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (Perkeni,
2006).
a. Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue)
1) Sulfonilurea
Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan
sekresi insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan
utama untuk pasien dengan berat badan normal dan kurang,
namun masih boleh diberikan kepada pasien dengan berat badan
lebih.Untuk menghindari hipoglikemia berkepanjangan pada
berbagai keadaaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan
hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak
dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang.

45
2) Glinid
Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan
sulfonilurea, dengan penekanan pada meningkatkan sekresi
insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat
yaitu: Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat
fenilalanin). Obat ini diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian
secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati (Perkeni,
2006).
3) Penambah sensitivitas terhadap insulin (Tiazolidindion)
Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada
Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-γ),
suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak.Golongan ini
mempunyai efek menurunkan resistensi insulin dengan
meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga
meningkatkan ambilan glukosa di perifer.Tiazolidindion
dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV
karena dapat memperberat edema/retensi cairan dan juga pada
gangguan faal hati.Pada pasien yang menggunakan tiazolidindion
perlu dilakukan pemantauan faal hati secara berkala (Perkeni,
2006).
4) Penghambat glukoneogenesis (Metformin)
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi
glukosa hati (glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki
ambilan glukosa perifer.Terutama dipakai pada penyandang
diabetes gemuk.Metformin dikontraindikasikan pada pasien
dengan gangguan fungsi ginjal (serum kreatinin > 1,5 mg/dL) dan
hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan hipoksemia
(misalnya penyakit serebro- vaskular, sepsis, renjatan, gagal
jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual.Untuk
mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau
sesudah makan (Perkeni, 2006).

46
b. Penghambat glukosidase alfa (Acarbose)
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus
halus, sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah
sesudah makan. Acarbose tidak menimbulkan efek samping
hipoglikemia. Efek samping yang paling sering ditemukan ialah
kembung dan flatulens (Perkeni, 2006). Insulin diperlukan pada
keadaan:
1) Penurunan berat badan yang cepat
2) Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
3) Ketoasidosis diabetik
4) Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
5) Hiperglikemia dengan asidosis laktat
6) Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
7) Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
8) Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak
terkendali dengan perencanaan makan
9) Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
10) Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Berdasar lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yakni:
1) Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
Insulin golongan ini adalah insulin lispro (Humalog),
insulin aspart (NovoRapid).
2) Insulin kerja pendek (short acting insulin)
Contoh insulin golongan ini adalah human regular insulin
(Actrapid).
3) Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin)
Insulin golongan ini adalah Neutral Protamine Hagedorn
(NPH) insulin (Insulatard, Humulin N)
4) Insulin kerja panjang (long acting insulin) (Perkeni, 2006).
Insulin golongan ini adalah insulin glargine (Lantus),
insulin detemir (Levemir).

47
I. KOMPLIKASI
DM yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi akut maupun
komplikasi kronik.Komplikasi akut berupa diabetik ketoasidosis dan sindrom
hiperosmolar non-ketotik yang dapat mengancam jiwa penderita. Sedangkan
komplikasi kroniknya yaitu:
1. Mikroangiopati
a. Penyakit mata
1) Retinopati diabetik
2) Edema Makular
b. Nefropati diabetik
2. Makroangiopati
a. Pembuluh darah jantung
b. Pembuluh darah tepi
Penyakit arteri perifer sering terjadi pada penyandang diabetes.
Biasanya terjadi gejala tipikal claudicatio intermittent, meskipun sering
tanpa gejala. Terkadang ulkus iskemik kaki merupakan kelainan yang
pertama muncul.
c. Pembuluh darah otak
3. Neuropati
Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neurpati
perifer, berupa hilangnya sensasi distal. Berisiko tinggi untuk terjadinya
ulkus kaki dan amputasi (Perkeni, 2011)

48
VIII. PENUTUP

A. Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Ny. R adalah seorang pasien yang
didiagnosis diabetes melitus tipe II.
1. Aspek klinis
Idea : Pasien datang ke Puskesmas Kemranjen untuk berobat.
Concern : Pasien merasa terganggu dengan badan terasa lemas di dan
pasien menginginkan perhatian dari keluarganya untuk
mendukung pengobatan dan mengendalikan penyakitnya.
Expectacy : Pasien mempunyai harapan penyakitnya dapat segera
disembuhkan dan mendapatkan obat yang efisien untuk
terapi penyakit Diabetes Melitusnya sehingga apabila
kesehatannya sudah pulih pasien dapat beraktivitas seperti
semula.
Anxiety : Pasien merasa takut akan kondisi kesehatanya yang belum
stabil. Pasien merasa perubahan pengobatan hanya terjadi
sedikit demi sedikit. Keadaan ini sangat mengganggu
aktifitasnya dalam kehidupannya sehari-hari.
2. Aspek Klinis
Diagnosa : Diabetes melitus tipe II
Gejala klinis : Lemes, polidipsi, dan poliuri
Diagnosis banding : Diabetes mellitus tipe I, KAD
3. Aspek Faktor Resiko Intrinsik Individu
Aspek faktor risiko intrinsik individu diantaranya adalah sebagai
berikut :
a. Pasien berjenis kelamin perempuan berusia
63 tahun
b. Kebiasaan pasien senang memakan makanan
yang manis dan minuman yang manis dan pasien jarang berolahraga.
c. Pasien jarang berolahraga

49
4. Aspek Faktor Resiko Ekstrinsik Individu
Aspek faktor ekstrinsik pada pasien diantaranya adalah sebagai
berikut :
a. Tingkat pendidikan pasien dan keluarga yang tinggal di sekitar
rumah pasien rendah
b. Pengetahuan pasien mengenai kondisi penyakitnya kurang baik
c. Kondisi ekonomi pasien termasuk ke dalam golongan menengah ke
bawah
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Pasien mengeluh baal, lemas, poliuri dan penyakit DM-nya dirasa
cukup mengganggu pekerjaan pasien sebagai petani. Skala penilaian
fungsi sosial adalah 2, pasien membatasi aktivitas bekerja sebagai petani,
namun aktivitas perawatan diri tidak terganggu.
B. Saran
1. Promotif : Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakit DM serta
perlunya pengendalian dan pemantauan penyakit tersebut. Mengenalkan
pola hidup sehat, meliputi pola makan dan olahraga teratur untuk penderita
dan keluarga karena faktor keturunan sangat mempengaruhi timbulnya
penyakit ini.

2. Preventif : Makan makanan yang cukup bergizi dan diet diabetes yang
harus dilaksanakan, rutin control gula darah, merawat luka sehingga tidak
terjadi komplikasi lebih lanjut dari penyakitnya.

3. Kuratif : Pasien minum OAD (Obat Anti Diabetes) yang diberikan dokter
secara rutin dan teratur. Istrinya harus selalu mengingatkan dan
mengawasi untuk minum obat dan mengontrol pola makan penderita dan
ikut mendukung dengan mengantarkan berobat ke pelayanan kesehatan.
Menyarankan agar pasien mengikuti prolanis dan posbindu.

4. Rehabilitatif : Penyesuaian aktivitas sehari-hari sangatlah penting dan


membantu penderita memiliki kembali rasa percaya diri untuk percaya

50
terhadap intervensi medis dan memberikan motivasi untuk terus merubah
sikap dan prilaku yang tidak sehat menjadi lebih sehat.

51
DAFTAR PUSTAKA

Adhi , Bayu.T1, Rodiyatul F. S. dan Hermansyah,2011. An Early Detection


Method of Type-2 Diabetes Mellitus in Public Hospital. Telkomnika,
Vol.9, No.2, August 2011, pp. 287~294.

Corwin, Elozabeth. 2009. Patofisiologi: Buku Saku. EGC: Jakarta

Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC

Kumar V, Abbas AK, and Fausto N. 2005. Robbins and Cotran Pathologic Basic
of Disease 7th. China: Elsevier Inc.

Mohjuarno.2009. Makalah Kontenporer Konsentrasi Epidemiologi Pasca Sarjana:


Penanggulangan Diabetes Melitus. Makassar : Universitas Hasanuddin.

Patrick, Davey. 2005. At Glance Medicine. Jakarta: Erlangga

Perkeni.2011. Empat Pilar Pengelolaan Diabetes.[online]. (diupdate 11


November 2011). http://www.smallcrab.com/ .[diakses 10 Desember
2016].

Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinik Proses-


Proses Penyakit. Jakarta: EGC.

Rakhmadany, dkk. 2010. Makalah Diabetes Melitus. Jakarta : Universitas Islam


Negeri

Shahab, Alwi,2006.Diagnosis Dan Penatalaksanaan Diabetes Melitus (Disarikan


Dari Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus Di Indonesia : Perkeni
2006).Subbagian Endokrinologi Metabolik, Bagian Ilmu Penyakit Dalam,
Fk Unsri/ Rsmh Palembang, Palembang.

Soegondo, S. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Balai Penerbit


FKUI, Jakarta.

Sherwood, L. 2002. Human Physiology: From Cells to Systems. Penerbit buku


kedokteran: EGC

Tjeyan, Suryadi R.M, 2007.Risiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 Di


Kalangan Peminum Kopi Di Kotamadya Palembang Tahun 2006-2007.
Department Of Public Health And Community Medicine, Medical Faculty,
Sriwijaya University, Palembang 30126, Indonesia. Makara, Kesehatan,
Vol. 11, No. 2, Desember 2007: 54-60.

Waspadji, Sarwono dkk., 2009. Pedoman Diet Diabetes Melitus. Jakarta: FKUI.

52
LAMPIRAN

Saat Kunjungan Pasien

Keadaan Raung Tamu Keadaan Ruang Tamu

53