Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


SYSTEMIC LUPUS ERYTEMATOSUS ( SLE )
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah HEMATOLOGI

OLEH KELOMPOK 2
AHMAD HAMBALI
DITA ANDRIANI
EPA YOHANTI
FENI FARMA ASYRIYANI
HERLINA SYAFITRI
HUJAJI
JUHAERIAH
MIA ISLAMIYAH
NUNIK TRI HANDAYANI

KELAS A NON REGULER


S1 KEPERAWATAN
STIKES YATSI TANGERANG
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT., karena dengan rahmat

dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan Pada

Pasien SLE, untuk memenuhi salah satu tugas Mata kuliah Hematologi.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah

membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami sadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari

sempurna, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak

yang telah membaca makalah ini, demi perbaikan dimasa yang akan datang.

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……….…………………………………………… i

DAFTAR ISI ……………………………………………………..………… ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …………..……………….………………… 1


B. Tujuan Penulisan ………………………………………….. 2
1. Tujuan Umum …………………………………………… 2
2. Tujuan Khusus ………………………………………….. 2
C. Manfaat Penulisan ……………………………………………. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi …..……………………..…………………………… 4
B. Etiologi ……………………………………………………… 4
C. Klasifikasi ……………………………..…………………….. 6
D. Manifestasi Klinis …………………………………………… 6
E. Fatofisiologi ………………………………………………… 7
F. Pemeriksaan Penunjang……………….…………………………. 8
G. Penatalaksanaan …………………………………………….. 8
H. Komplikasi …………………………………………………… 10
I. Prognosa ………………………………………………………. 10

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian …………………………………………………… 12
B. Analisa Data …………………………………………………… 17
C. Diagnosa Keperawatan ………………………………………. 18
D. Intervensi ……………………………….…………………. 18

ii
BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan ………………………………………………… 21
B. Saran ……………………………………………………….. 21

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 22

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Systemic Erithematosus Lupus (SEL) atau yang biasa dikenal dengan istilah
Lupus adalah penyakit kronik atau menahun. SLE termasuk penyakit collagen-
vascular yaitu suatu kelompok penyakit yang melibatkan sistem muskuloskeletal,
kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak manifestasi klinik sehingga
diperlukan pengobatan yang kompleks. Etiologi dari beberapa penyakit collagen-
vascular sering tidak diketahui tetapi sistem imun terlibat sebagai mediator
terjadinya penyakit tersebut
Penyakit LES merupakan salah satu penyakit yang masih awam ditelinga
masyarakat Indonesia. Namun, bukan berarti tidak banyak orang yang terkena
penyakit ini. Kementerian Kesehatan menyatakan lebih dari 5 juta orang di
seluruh dunia terdiagnosis penyakit Lupus. Sebagian besar penderitanya ialah
perempuan di usia produktif yang ditemukan lebih dari 100.000 setiap tahun. Di
Indonesia jumlah penderita penyakit Lupus secara tepat belum diketahui tetapi
diperkirakan mencapai jumlah 1,5 juta orang (Kementerian Kesehatan, 2012).
SLE dapat menyerang semua usia, namun sebagian besar pasien ditemukan
pada perempuan usia produktif. Sembilan dari sepuluh orang penderita lupus
(odapus) adalah wanita dan sebagian besar wanita yang mengidap SLE ini
berusia 15-40 tahun. Namun, masih belum diketahui secara pasti penyebab lebih
banyaknya penyakit SLE yang menyerang wanita.
SLE dikenal juga dengan penyakit 1000 wajah karena gejala awal penyakit
ini tidak spesifik, sehingga pada awalnya penyakit ini sangat sulit didiagnosa. Hal
tersebut menyebabkan penanganan terhadap penyakit lupus terlambat sehingga
penyakit tersebut banyak menelan korban. Penyakit ini dibagi menjadi tiga
kategori yakni discoid lupus, systemic lupus erythematosus, dan lupus yang
diinduksi oleh obat. Masing-masing kategori tersebut memiliki gejala, tingkat
keparahan serta pengobatan yang berbeda-beda.

1
Penderita SLE membutuhkan pengobatan dan perawatan yang tepat dan
benar, pengobatan yang diberikan haruslah rasional. Perawatan pada pasien SLE
juga harus diperhatikan, seperti mengurangi paparan sinar UV terhadap tubuh
pasien.
Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman mengenai penyakit
systemik eritematosus lupus, pengertian tentang systemic lupus eritematosus,
etiologi dan faktor risiko, manifestasi klinis, patofisiologi, pathway, pemeriksaan
penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan (medis, keperawatan, diet) serta
asuhan keperawatan bagi penderita lupus.
Perkembangan penyakit lupus meningkat tajam di Indonesia. Menurut hasil
penelitian Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ), pada tahun 2009 saja, di RS Hasan
Sadikin Bandung sudah terdapat 350 orang yang terkena SLE (sistemic lupus
erythematosus). Hal ini disebabkan oleh manifestasi penyakit yang sering
terlambat diketahui sehingga berakibat pada pemberian terapi yang inadekuat,
penurunan kualitas pelayanan, dan peningkatan masalah yang dihadapi oleh
penderita SLE. Masalah lain yang timbul adalah belum terpenuhinya kebutuhan
penderita SLE dan keluarganya tentang informasi, pendidikan, dan dukungan
yang terkait dengan SLE. Manifestasi klinis dari SLE bermacam-macam meliputi
sistemik, muskuloskeletal, kulit, hematologik, neurologik, kardiopulmonal, ginjal,
saluran cerna, mata, trombosis, dan kematian janin (Hahn, 2005).

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Diperoleh pengalaman nyata dalam menerapkan Asuhan Keperawatan pada
klien dengan SLE secara komprehensif melalui pendekatan proses
keperawatan.

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi Lupus Eritematosus.
b. Untuk mengetahui etiologi/penyebab Lupus Eritematosus
c. Untuk mengetahui Varian Lupus Eritematosus

2
d. Untuk mengetahui manifestasi klinis pada klien Lupus Eritematosus
e. Untuk mengetahui patofisiologi (pathway) Lupus Eritematosus
f. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang pada klien Lupus Eritematosus
g. Untuk mengetahui penatalaksanaan medis, keperawatan dan diet pada
klien Lupus Eritematosus
h. Untuk mengetahui komplikasi klien dengan Lupus Eritematosus

C. MANFAAT PENULISAN
1. Pembaca mengetahui definisi Lupus Eritematosus
2. Pembaca mengetahui etiologi/penyebab Lupus Eritematosus
3. Pembaca mengetahui Varian Lupus Eritematosus
4. Pembaca mengetahui manifestasi klinis pada klien Lupus Eritematosus
5. Pembaca mengetahui patofisiologi (pathway) Lupus Eritematosus
6. Pembaca mengetahui pemeriksaan penunjang pada klien Lupus Eritematosus
7. Pembaca mengetahui penatalaksanaan medis, keperawatan dan diet pada
klien Lupus Eritematosus
8. Pembaca mengetahui komplikasi klien dengan Lupus Eritematosus

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Lupus Eritematosus adalah suatu penyakit autoimun kronik yang ditandai
oleh terbentuknya antibodi-antibodi terhadap beberapa antigen diri yang berlainan.
Antibodi-antibodi tersebut biasanya adalah IgG atau IgM dan dapat bekerja
terhadap asam nukleat pada DNA atau RNA, protein jenjang koagulasi, kulit, sel
darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Komplek antigen antibodi dapat
mengendap di jaringan kapiler sehingga terjadi reaksi hipersensitivitas III,
kemudian terjadi peradangan kronik (Elizabeth, 2009).
Lupus Eritematosus merupakan penyakit yang menyerang sistem konektif
dan vaskular (pembuluh darah) (Suria Djuanda, 2005).
Lupus Eritematosus adalah penyakit autoimun yang melibatkan berbagai
organ dengan manifestasi klinis bervariasi dari yang ringan sampai yang berat. Pada
keadaan awal, sering sekali sukar dikenal sebagai LES, karena manifestasinya
sering tidak terjadi bersamaan (Sylvia dan Lorraine, 1995).

B. ETIOLOGI
1. Etiologi
Sampai saat ini penyebab LES belum diketahui. Diduga faktor genetik, infeksi
dan lingkungan ikut berperan pada patofisiologi LES.
Kecenderungan terjadinya LES dapat berhubungan dengan perubahan gen MHC
spesifik dan bagaimana antigen sendiri ditunjukkan dan dikenali. Wanita lebih
cenderung mengalami LES dibandigkan pria, karena peran hormon seks. LES
dapat dicetuskan oleh stres, sering berkaitan dengan kehamilan atau menyususi.
Pada beberapa orang, pajanan radiasi ultraviolet yang berlebihan dapat
mencetuskan penyakit. Penyakit ini biasanya mengenai wanita muda selama
masa subur. Penyakit ini dapat bersifat ringan selama bertahun-tahun, atau dapat
berkembang dan menyebabkan kematian (Elizabeth, 2009).

4
2. Faktor Resiko
a. Faktor risiko genetik
Meliputi jenis kelamin (frekuensi pada wanita dewasa 8 kali lebih sering
daripada pria dewasa), umur (lebih sering pada usia 20-40 tahun), etnik, dan
faktor keturunan (frekuensinya 20 kali lebih sering dalam keluarga di mana
terdapat anggota dengan penyakit tersebut).
b. Faktor risiko hormon
Estrogen menambah risiko LES, sedang androgen mengurangi risiko ini.
c. Sinar Ultravilet
Sinar ultraviolet mengurangi supresi imun sehingga terapi menjadi kurang
efektif, sehingga LES kambuh atau bertambah berat. Ini disebabkan sel kulit
mengeluarkan sitokin dan prostaglandin sehingga terjadi inflamasi di tempat
tersebut maupun secara sistemik melalui peredaran di pemuluh darah.
d. Imunitas
Pada pasien LES terdapat hiperaktivitas sel B atau intoleransi terhadap sel T.
e. Obat
Obat tertentu dalam presentasi kecil sekali pada pasien tertentu dan diminum
dalam jangka waktu tertentu dapat mencetuskan lupus obat (Drug Induced
Lupus Erythematosus atau DILE).
Jenis obat yang dapat menyebabkan lupus obat adalah:
1) Obat yang pasti menyebabkan lupus obat: klorpromazin, metildopa,
hidralasin, prokainamid, dan isoniazid
2) Obat yang mungkin dapat menyebabkan lupus obat: dilantin,
peninsilamin, dan kuinidin.
3) Hubungannya belum jelas: garam emas, beberapa jenis antibiotik, dan
griseofulvin.
f. Infeksi
Pasien LES cenderung mudah mendapat infeksi dan kadang-kadang penyakit
ini kambuh setelah infeksi.

5
g. Stres
Stres berat dapat mencetuskan LES pada pasien yang sudah memiliki
kecenderungan akan penyakit ini (Arif Mansjoer, 2000).

C. KLASIFIKASI
Klasifikasi lupus, yaitu:
1. Lupus sistemik
Merupakan penyakit yang biasanya berbahaya, bahkan dapat fatal. Penyakit
bersifat multisistemik dan menyerang jaringan konektif dan vaskular.
2. Lupus diskoid
Bersifat tidak berbahaya, menyebabkan bercak di kulit. (Suria Djuanda, 2005)

D. MANIFESTASI KLINIK
Gambaran klinis biasanya dapat membingungkan, gejala yang paling sering adalah
sebagai berikut:
1. Poliartralgia (nyeri sendi) dan artiritis (peradangan sendi).
2. Demam akibat peradangan kronik
3. Ruam wajah dalam pola malar (seperti kupu-kupu) di pipi dan hidung, kata
Lupus berarti serigala dan mengacu kepada penampakan topeng seperti serigala.
4. Lesi dan kebiruan di ujung kaki akibat buruknya aliran darah dan hipoksia
kronik
5. Sklerosis (pengencangan atau pengerasan) kulit jari tangan
6. Luka di selaput lendir mulut atau faring (sariawan)
7. Lesi berskuama di kepala, leher dan punggung
8. Edema mata dan kaki mungkin mencerminkan keterlibatan ginjal dan hipertensi
9. Anemia, kelelahan kronik, infeksi berulang, dan perdarahan sering terjadi karena
serangan terhadap sel darah merah dan putih serta trombosit (Elizabeth, 2009).

6
E. FATOFISIOLOGI
Genetik, Kuman, Virus, Lingkungan, Obat-obatan tertentu

Gangguan imunoregulasi

Antibodi yangberlebihan

Antibodi menyerang organ-organ tubuh (sel, jaringan)

Menimbulkan sel T supresor yang abnormal

Penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan

Produksi antibodi secara terus menerus

7
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium yang di lakukan meliputi:
1. ANA (anti nucler antibody). Tes ANA memiliki sensitivitas yang tinggi namun
spesifisitas yang rendah.
2. Anti dsDNA (double stranded). Tes ini sangat spesifik untuk LES, biasanya
titernya akan meningkat sebelum LES kambuh.
3. Antibodi anti-S (Smith). Antibodi spesifik terdapat pada 20-30% pasien.
4. Anti-RNP (ribonukleoprotein), anti-ro/anti SS-A, antikoagulan lupus)/anti-
SSB, dan antibodi antikardiolipin. Titernya tidak terkait dengan kambuhnya
LES.
5. Komplemen C3, C4, dan CH50 (komplemen hemolitik)
6. Tes sel LE. Kurang spesifik dan juga positif pada artritis reumatoid, sindrom
sjogren, skleroderna, obat, dan bahan-bahan kimia lain.
7. Anti ssDNA (single stranded)
8. Pasien dengan anti ssDNA positif cenderung menderita nefritis (Arif Mansjoer,
2000).

G. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan medis
Terapi dengan obat bagi penderita SLE mencakup pemberian obat-obat:
a. Antiradang nonstreroid (AINS)
AINS dipakai untuk mengatasi arthritis dan artralgia. Aspirin saat ini lebih jarang
dipakai karena memiliki insiden hepatotoksik tertinggi, dan sebagian penderita SLE
juga mengalami gangguan pada hati. Penderita LES juga memiliki risiko tinggi
terhadap efek samping obat-obatan AINS pada kulit, hati, dan ginjal sehingga
pemberian harus dipantau secara seksama
b. Kortikosteroid
c. Antimalaria
Pemberian antimalaria kadang-kadang dapat efektif apabila AINS tidak dapat
mengendalikan gejala-gejala LES. Biasanya antimalaria mula-mula diberikan
dengan dosis tinggi untuk memperoleh keadaan remisi. Bersihnya lesi kulit
merupakan parameter untuk memantau pemakaian dosis.

8
d. Imunosupresif
Pemberian imunosupresif (siklofosfamid atau azatioprin) dapat dilakukan untuk
menekan aktivitas autoimun LES. Obat-obatan ini biasanya dipakai ketika:
1) Diagnosis pasti sudah ditegakkan
2) Adanya gejala-gejala berat yang mengancam jiwa
3) Kegagalan tindakan-tidakan pengobatan lainnya, misalnya bila pemberian
steroid tidak memberikan respon atau bila dosis steroid harus diturunkan
karena adanya efek samping
4) Tidak adanya infeksi, kehamilan dan neoplasma (Sylvia dan Lorraine, 1995).

2. Penatalaksanaan keperawatan
Perawat menemukan pasien SLE pada berbagai area klinik karena sifat penyakit yang
homogeny. Hal ini meliputi area praktik keperawatan reumatologi, pengobatan umum,
dermatologi, ortopedik, dan neurologi. Pada setiap area asuhan pasien, terdapat tiga
komponen asuhan keperawatan yang utama.
a. Pemantauan aktivitas penyakit dilakukan dengan menggunakan instrument yang
valid, seperti hitung nyeri tekan dan bengkak sendi (Thompson & Kirwan, 1995) dan
kuesioner pengkajian kesehatan (Fries et al, 1980). Hal ini memberi indikasi yang
berguna mengenai pemburukan atau kekambuhan gejala.
b. Edukasi sangat penting pada semua penyakit jangka panjang. Pasien yang menyadari
hubungan antara stres dan serangan aktivitas penyakit akan mampu mengoptimalkan
prospek kesehatan mereka. Advice tentang keseimbangan antara aktivitas dan
periode istirahat, pentingnya latihan, dan mengetahui tanda peringatan serangan,
seperti peningkatan keletihan, nyeri, ruam, demam, sakit kepala, atau pusing, penting
dalam membantu pasien mengembangkan strategi koping dan menjamin masalah
diperhatikan dengan baik.
c. Dukungan psikologis merupakan kebutuhan utama bagi pasien SLE. Perawat dapat
memberi dukungan dan dorongan serta, setelah pelatihan, dapat menggunakan
ketrampilan konseling ahli. Pemberdayaan pasien, keluarga, dan pemberi asuhan
memungkinkan kepatuhan dan kendali personal yang lebih baik terhadap gaya hidup
dan penatalaksanaan regimen bagi mereka (Anisa Tri U., 2012).

9
3. Penatalaksanaan Diet
Restriksi diet ditentukan oleh terapi yang diberikan. Sebagian besar pasien memerlukan
kortikosteroid, dan saat itu diet yang diperbolehkan adalah yang mengandung cukup
kalsium, rendah lemak, dan rendah garam. Pasien disarankan berhati-hati dengan
suplemen makanan dan obat tradisional.
Pasien lupus sebaiknya tetap beraktivitas normal. Olah raga diperlukan untuk
mempertahankan densitas tulang dan berat badan normal. Tetapi tidak boleh berlebihan
karena lelah dan stress sering dihubungkan dengan kekambuhan. Pasien disarankan
untuk menghindari sinar matahari, bila terpaksa harus terpapar matahari harus
menggunakan krim pelindung matahari (waterproof sunblock) setiap 2 jam. Lampu
fluorescence juga dapat meningkatkan timbulnya lesi kulit pada pasien SLE.

H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita adalah sebagai berikut:
1. Gagal ginjal adalah penyebab tersering kematian pada penderita SLE. Gagal
ginjal dapat terjadi akibat deposit kompleks antibodi-antigen pada glomerulus
disertai pengaktifan komplemen resultan yang menyebabkan cedera sel, suatu
contoh reaksi hipersensitivitas tipe III
2. Dapat terjadi perikarditis (peradangan kantong perikadium yang mengelilingi
jantung)
3. Peradangan membran pleura yang mengelilngi paru dapat membatasi perapasan.
Sering terjadi bronkhitis.
4. Dapat terjadi vaskulitis di semua pembuluh serebrum dan perifer.
5. Komplikasi susunan saraf pusat termasuk stroke dan kejang. Perubahan
kepribadian, termasuk psikosis dan depresi dapat terjadi. Perubahan kepribadian
mungkin berkaitan dengan terapi obat atau penyakitnya (Elizabeth, 2009).

I. PROGNOSA
Hingga saat ini penyakit lupus tak dapat disembuhkan namun dapat dikendalikan.
Tujuan pengobatan ialah untuk mencegah timbul/kambuhnya gejala dan mencegah
timbulnya komplikasi, berupa :

10
1. Perubahan pola hidup, yaitu hindari terkena sinar matahari kalau perlu pakai
sunscreen.
2. Hindari kontak dengan zat kimia pemicu seperti silikon, air raksa dan pestisida
3. Hindari pemakaian suplemen golongan “immune booster” seperti Echinacea
4. Hindari pemakaian obat pemicu seperti procainamid, isoniazid, fenitoin, kinin
dan hidralazin.
5. Pemberian obat-obatan antara lain: golongan non-steroid anti-inflamasi
(NSAID), kortikosteroid, imunosupresan, dan obat anti-malaria
Walaupun tidak dapat disembuhkan, prognosis penderta penyakit lupus saat ini
sudah semakin baik sebagai dampak dari :
1. Adanya perhatian masyarakat akan penyakit lupus.
2. Keakuratan tes laboratorium yang mendukung diagnosis dini dan pemantauan
berkala.
3. Kemajuan penelitian yang menghasilkan obat yang lebih efektif dan aman juga
sangat berperan menaikkan harapan dan kualitas hidup penderita.

11
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama : NY. D
Tempat/Tgl.Lahir : Banyumas, 15/4/1967
Tanggal Masuk RS : 20 Juli 2017
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Tangerang
Pendidikan : SMP
Sts. Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam

2. Keluhan Saat Ini :


Klien mengeluh alergi, gatal-gatal pada kulit, terdapat eritema pada wajah dan
badan. Wajah pasien sembab, terdapat edema palpebra, sesak napas, sianosis
pada bibir. Pasien Ny D saat dilakukan vital sign TD 80/ 60 mmHg, nadi 118 x/
menit, RR 30 x/ menit, suhu 35.7derajat celcius. Akral dingin. Ny D masuk
rawat inap dikarenakan memiliki riwayat minum obat analgetic yang dibeli di
warung dan habis makan pepes tongkol 3 jam yang lalu. Pasien telah dilakukan
pemeriksaan laboratorium dengan hasil trigliserida 336 ml/ dl, UREUM 228 ul/
dl, cretine 25 ul/ dl, Hb : 11 gr%. Gambaran darah tepi basofil : 3, neutrofil : 1,
monosit : 2, eosinofil : 8 pasien mengeluh mual dan sudah muntah > 6x.
Produksi urine 400 cc/ 24 jam.

3. Pemeriksaan Kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pasien tidak mengetahui mengenai penyakitnya

12
b. Pola Nutrisi Dan Metabolisme
 Diet/ supplement Khusus : tidak ada
 Nafsu Makan: Menurun
 Penurunan Sensasi Kecap, Mual-Muntah, stomatitis : Muntah ( >6x )
 Fluktuasi BB 6 Bulan Terakhir : Turun
 Kesulitan Menelan (Disfagia) : Tidak
 Gigi (Lengkap/ tidak, Gigi palsu) : Lengkap 32 buah
 Frekuensi Makan : 3 X Sehari
 Jenis Makanan : Nasi Sayur
 Pantangan atau Alergi : Tidak ada
c. Pola eliminasi
Buang Air Besar (BAB)
 Frekuensi : 4 X Sehari Waktu : Pagi
 Warna : kekuningan
 Kesulitan (Diare, Konstipasi, Inkontinensia) : tidak ada
Buang Air Kecil (BAK)
 Frekuensi : 5 X Sehari
 Warna : Kekuningan
d. Kemampuan Perawatan Diri
 Kegiatan / Aktivitas : Dengan Dibantu orang lain
 Makan Dan Minum : Mandiri
 Berpakain Dan Berdandan : mandiri
 Toileting : di bantu orang lain
 Mobilisasi Ditempat Tidur : di bantu orang lain
 Berpindah : dibantu orang lain
 Berjalan : mandiri
 Menaiki Tangga : tidak mampu
 Berbelanja : tidak mampu
 Memasak : Tidak mampu
 Pemeliharaan Rumah : Tidak mampu

13
e. Tonus Otot
 Kekuatan Otot :5
 Kemampuan ROM : Terbatas
f. Pola Istirahat tidur
 Lama Tidur : 8 Jam / hari
 Waktu : Jam 21.00
 Kebiasaan Menjelang Tidur : Menonton TV
 Masalah Tidur / Insomnia : tidak ada
g. Pola kognitif dan persepsi
 Status Mental (Sadar / Tidak, Orientasi Baik / Tidak) : Sadar
 Bicara : Normal ( √ ) Gagap ( ) Aphaksia Ekpresif ( )
 Kemampuan Berkomunikasi : Ya ( √ ) Tidak ( )
 Kemampuan Memahami : Ya ( √ ) Tidak ( )
 Tingkat Ansietes : Ringan ( ) Sedang ( √ ) Berat ( ) Panik ( )
 Pendengaran : DBN ( √ ) Tuli ( ) Kanan / Kiri, Tinitis ( ) Alat
Bantu Dengar ( )
 Penglihatan (DBN, Buta, Katarak, Kacamata, Lensa kontak, DLL) :
Normal
h. Persepsi Diri dan Konsep Diri
 Perasaan Klien Tentang Masalah Kesehatan : merasa malu dengan
keadaan kulitnya
i. Pola Peran Hubungan
 Sistem Pendukung : Pasangan ( ), Tetangga ( ), Keluarga Serumah (
√ ), Keluarga Tinggal Berjauhan ( ).
 Masalah Keluarga Berkenaan Dengan Perawatan RS : Setuju
 Kegiatan Sosial : gotong royong
j. Pola Seksual dan Reproduksi
 Tanggal Menstruasi Terakhir (TMA) : lupa
 Masalah Menstruasi : tidak ada

14
k. Pola Koping dan Toleransi Stress :
 Perhatian Utama Tentang Perawatan Di RS Atau Penyakit ( Finansial,
Perawatan Diri ) : finansial
 Penggunaan Obat Untuk Menghilangkan Stress : tidak
 Keadaan Emosi Dalam Sehari – Hari (Santai/Tegang) : santai
l. Keyakinan Dan Kepercayaan
 Agama : Islam
 Pengaruh Agama Dalam Kehidupan : berpengaruh positif
3. Pengkajian Head To Toe
a. Kepala :
1) Bentuk : Mecocepalus
2) Lesi / Luka : Tidak ada
b. Rambut
1) Warna : Hitam
2) kelainan
c. Mata
1) Penglihatan : Normal
2) Sclera : Ikterik
3) Konjungtiva : Normal
4) Pupil : Unisokor
5) Terdapat edema palpebra
d. Hidung
1) Penciuman : Normal
2) Secret / Darah / Polip: tidak ada
3) Tarikan Cuping Hidung : Tidak Ada
e. Telinga
1) Pendengaran : Normal
2) Secret / Cairan / Darah : Tidak Ada
f. Mulut & Gigi
1) Bibir : Sianosis
2) Gusi : tidak ada kelainan

15
3) Mulut dan Tenggorok : tidak ada kelainan
4) Gigi : Lengkap 32
g. Leher
1. Pembesaran Tyroid : Tidak
2) Lesi : Tidak Ada
3) Nadi Karotis : Teraba
h. Thorax
1) Jantung
 HR : 118 x /menit
 TD : 80/60 MmHg
 Inspeksi : Tidak Ada Lesi
 Palpasi : Normal
 Perkusi : Jantung terletak di interkosta 3 sampai 5
 Auskultasi : Sonor
2) Paru-paru
 Irama nafas : dalam, 30 x/menit
 Ada tarikan otot-otot pernafasan tambahan
 Inspeksi : tidak ada lesi
 Palpasi : vocal fremitus normal
 Perkusi : Normal
 Auskultasi : wheezing
i. Abdomen
1) Peristaltic usus : normal
2) Kembung : tidak
3) Ascites : tidak
4) Inspeksi : tidak ada lesi
5) Auskultasi : timpani
6) Perkusi : tidak ada kaku abdomen
7) Palpasi : tidak ada nyeri

16
j. Kulit
1) Turgor : > 3 detik
2) Warna kulit : sawo matang
3) Terdapat eritema pada wajah dan badan
k. Ekstremitas
1) Kekuatan otot : 5
2) ROM : terbatas
3) Akral : dingin
4) Capillary refill time : > 3 detik

4. Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium)


Trigliserida 336 ml/ dl, UREUM 228 ul/ dl, cretine 25 ul/ dl, Hb : 11 gr%.
Gambaran darah tepi basofil : 3, neutrofil : 1, monosit : 2, eosinofil : 8

5. Program terapi :
Diberikan injeksi Stabixin 2x1 gram, injeksi medixon 2x125 mg. Omeprazol 2x1
ampul. Vitamin c 2x1 ampul. Oksigen 3 liter/ menit.

B. ANALISA DATA
1. Data Senjang :
DS : Pasien mengatakan Gatal-gatal di kulit
DO : - Terdapat eritema pada wajah dan badan
- Wajah sembab
- Terdapat edema palpebra
Problem : Kerusakan integritas kulit (00046)

Etiologi : 1. Kerusakan lapisan kulit


2. Gangguan permukaan kulit

2. Data Senjang :
DS : Pasien merasakan sesak napas

17
DO : - RR 30 x/ menit

- Sianosis pada bibir

Problem : Gangguan Pertukaran Gas (00030)


Etiologi : 1. Pernapasan abnormal
2. Dispnea
3. Takikardia

3. Data Senjang :
DS : Pasien mengatakan mual dan mengatakan sudah muntah > 6 x

DO : - TD 80/ 60 mmHg

- Produksi urine 400 cc/ 24 jam


- Nadi 118 x/ menit
Problem : Kekurangan Volume Cairan (00027)

Etiologi : 1. Penurunan tekanan darah


2. Penurunan keluaran urine
3. Peningkatan frekuensi nadi

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas kulit b.d kerusakan lapisan kulit
2. Gangguan pertukaran gas b.d dispnea
3. Kekurangan Volume Cairan b.d kehilangan cairan aktif

D. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas kulit b.d kerusakan lapisan kulit, Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kerusakan kulit berkurang
atau hilang
NOC : (Tissue Integrity: Skin & Mucous Membranes 1101)
 Tidak ada eritema pada kulit
 Tekstur dan ketebalan jaringan normal
 Perfusi jaringan normal

18
 Tidak ada tanda atau gejala infeksi
 Tidak ada lesi
 Tidak terjadi nekrosis
NIC :
 Monitor warna dan suhu kulit
 Monitor kulit dan membran mukosa pada area yang memar atau
mengalami kerusakan
 Monitor ruam dan abrasi pada kulit
 Monitor terjadinya infeksi khususnya pada area edema
 Kaji adanya alergi obat
 Bersihkan area kulit yang mengalami gangguan
 Anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan di area sekitar edema
 Beri tahu klien agar menghindari paparan matahari langsung

2. Gangguan pertukaran gas b.d dispnea, Setelah dilakukan tindakan keperawatan


selama 3x24 jam diharapkan napas menjadi normal
NOC : (Respiratory Status: Ventilation 0403)
 RR dengan batas normal
 Irama nafas normal
 Tidak ada dispnea
 Suara perkusi normal
 Tidak ada traktil fremitus
 Kapasitas vital normal
NIC
 Monitor TD, nadi, suhu da RR
 Monitor frekuensi dan irama pernafasan
 Monitor suhu, warna dan kelembaban kulit
 Kaji paru klien dengan inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
 Posisikan klien dalam posisi fowler untuk memperlancar jalannya napas
 Ajarkan treatment terapi napas yang baik

19
 Anjurkan klien untuk tidak melakukan aktifitas yang terlalu berat

3. Kekurangan Volume Cairan b.d kehilangan cairan aktif, Setelah dilakukan


tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan volume cairan akan
terpenuhi
NIC : (Fluid balance 0601)
 TD normal
 Keseimbangan masukan dan haluaran selama 24 jam
 Berat badan seimbang
 Turgor kulit normal
 Membrane mukosa normal
 Turgor kulit baik

NOC :
 Monitor berat badan
 Monitor pemasukan dan pengeluaran
 Monitor membran mukosa, turgor kulit, dan haus
 Monitor TD, denyut jantung dan RR
 Monitor warna dan kuantitas urin
 Kaji kebutuhan cairan
 Kaji adanya resiko dehidrasi
 Anjurkan klien untuk memberitahukan kepada perawat atau pihak keluarga
apabila merasa haus

20
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari penjelasan yang kami sampaikan dalam tugas ini, maka dapat
disimpulkan bahwa SLE (Sistemik Lupus Eritematosus) merupakan penyakit
multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antar faktor genetik, dan faktor
lingkungan, yang semuanya dianggap ikut memainkan peran untuk menimbulkan
aktivitasi hebat sel B, sehingga menghasilkan pembuatan berbagai autoantibody
polispesifik.
Selain itu, pada banyak penderita SLE gambaran klinisnya membingungkan.
Sehingga sering terjadi keterlambatan diagnosis penyakit LES.

B. SARAN
Sebaiknya apabila ada salah satu anggota keluarga atau saudara kita terkena
penyakit SLE dan sedang menjalani pengobatan, lebih baik jangan dihentikan.
Karena, apabila dihentikan maka penyakit akan muncul kembali dan kumat lagi.
Prognosisnya bertambah baik akhir-akhir ini, kira-kira 70% penderita akan hidup
10 tahun setelah timbulnya penyakit ini. Apabila didiagnosis lebih awal dan
pengenalan terhadap bentuk penyakit ini ketika masih ringan.
Bagi para pembaca kami berharap agar tidak merasa puas dengan makalah
yang kami tulis ini sehingga menambah minat untuk mencari sumber lain. Karena
kami pun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna.

21
DAFTAR PUSTAKA

Buku Diagnosa Keperawatan Nanda, NIC, NOC.

Chang, Esther, dkk. 2009. Patofisiologi Aplikasi Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC.

Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Djuanda, Adhi. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keempat. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI

Doengoes, Marilyn C, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan


pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3 Jakarta: EGC,

Gusti Pandi Liputo. 2012. “Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Imunologi Lupus”, (Online), (http://gustinerz.wordpress.com/2012/04/06/pdf-
asuhan-keperawatan-lupus-les/, diakses 5 Mei 2015).

Johnson, Marion, dkk. 2000. IOWA Intervention Project Nursing Outcomes Classifcation (NOC),
Second edition. USA : Mosby.

Lumenta, Nico A. dkk. 2006. Manajemen Hidup Sehat : Kenali Jenis Penyakit dan Cara
Penyembuhannya. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo

McCloskey, Joanne C. dkk. 1996. IOWA Intervention Project Nursing Intervention Classifcation
(NIC), Second edition. USA : Mosby.

Ruth F. Craven, EdD, RN, Fundamentals Of Nursing, Edisi II, Lippincot, Philadelphia,

Sutopo Widjaja. 2013. ”Penyakit Lupus (Lupus Eritematosus Sistemik)”, (Online),


(http://dokita.co/blog/penyakit-lupus-lupus-eritematosus-sistemik/, diakses 6 Mei
2015).

Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Volume
3.Jakarta:EGC.

Wilkinson, Judith M. dkk. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC, Edisi Sembilan. Jakarta: EGC

Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Cetakan I, EGC, Jakarta,

22