Anda di halaman 1dari 54

Penanggung Jawab:

dr. Agus Widiyatmoko,Sp.PD,MSc.


dr. Wawan Kurniawan, MSc

Kontributor:
dr. Agus Widiyatmoko,Sp.PD,MSc. dr. Ahmad Syaiful Fatah, SpAn dr.
Nicko Rahmanio, SpB Miftahulhaq, Msi

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018
Daftar Isi

Modul keterampilan belajar …………………………………………………… 2


Daftar isi …………………………………………………… 3
Kata pengantar …………………………………………………… 4
Rencana proses pembelajaran blok …………………………………………………… 6
keterampilan belajar
A. Karakteristik Mahasiswa …………………………………………………… 6
B. Tujuan Blok
C. TIK …………………………………………………… 6
D. Topik …………………………………………………… 8
E. Prasyarat Penilaian …………………………………………………… 11
F. Strategi Pembelajaran dan …………………………………………………… 11
Pengalaman Belajar
G. Fasilitas …………………………………………………… 15
H. Evaluasi …………………………………………………… 15
I. Sumber Belajar …………………………………………………… 16
Suplemen untuk blok …………………………………………………… 19
keterampilan belajar
Lampiran-1 Petunjuk tutorial …………………………………………………… 20
KATA PENGANTAR

Blok Kedokteran Haji merupakan blok ke 21 (elektif) tahun ketiga dari kurikulum blok
problem based learning atau PBL Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Blok kedokteran haji memiliki tujuan untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar,
klinis dan keterampilan pada pelayanan kesehatan untuk jemaah haji dan umroh yang nantinya
dapat diterapkan saat mahasiswa lulus dan menjadi petugas kesehatan haji Indonesia.
Buku modul berisi skenario-skenario yang digunakan sebagai triger bagi mahasiswa untuk
berdiskusi dalam tutorial. Dalam berdiskusi mahasiswa menggunakan langkah seven jump dan
dibantu oleh seorang tutor sebagai fasilitator yang akan mengarahkan kepada tujuan belajar.
Demikian buku ini disusun dan diucapkan terima kasih kepada para kontributor,
departemen yang terlibat, dan pihak-pihak lain yang membantu sehingga dapat tersusun buku
blok ketrampilan belajar ini dengan baik. Semoga buku ini dapat digunakan sebagai pedoman
dalam pelaksanaan tutorial. Akhirnya kritik serta saran untuk perbaikan buku modul ini akan
diterima tim penyusun dengan senang hati.

Yogyakarta, Desember 2018

Tim Penyusun
RENCANA PEMBELAJARAN
BLOK KEDOKTERAN HAJI

A. Karakteristik Mahasiswa
Blok kedokteran haji diperuntukkan bagi mahasiswa tahun ketiga Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY. Blok ini merupakan
blok elektif dan diciptakan untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar,
klinis dan keterampilan klinis serta sikap profesional yang dibutuhkan pada penanganan
kasus medis dalam pelayanan kesehatan bagi jemaah haji dan umroh.

B. Tujuan Belajar Blok (TB Blok)


Pada akhir blok mahasiswa diharapkan mampu :
a. Mahasiswa dapat menjelaskan kebijakan pemerintah tentang penyelenggaraan
ibadah haji di Indonesia
b. Mahasiswa dapat menjelaskan sistem pelayanan kesehatan bagi jemaah haji
Indonesia, baik yang di tanah air ataupun di Arab Saudi
c. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang istithaah kesehatan bagi jemaah haji
d. Mahasiswa dapat menjelaskan dan menanganiproblem kesehatan yang sering terjadi
pada jemaah haji Indonesia
e. Mahasiswa dapat menjelaskan upaya promotif preventif untuk jemaah haji Indonesia
f. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang laik terbang dan upaya kesehatan penerbangan
g. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang evakuasi medis baik darat dan udara

C. Tujuan Instruksional Khusus blok (TIK Blok)

TIK blokberupa learning outcome sesuai area kompetensi Standar Kompetensi Dokter
Indonesia (2012).

Area 1(Profesionalisme yang luhur):


a. Mahasiswa mampu menjelaskan nilai Islam dalam kehidupan dan proses belajar
b. Mahasiswa mampu menjelaskan perspektif Islam dalam praktik kedokteran
c. Mahasiswa mampu menjelaskan karakter profesional dokter
d. Mahasiswa mampu menjelaskan hak, kewajiban, dan tanggung jawab manusia
dalam bidang kesehatan

Area 2 (Mawas diri dan pengembangan diri)


a. Memberikan respon positif terhadap feedback
b. Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami kesadaran diri akan kekuatan
dan kelemahan pada profesi dokter
c. Mengidentifikasi kelebihan dan membangun kepercayaan diri yang
berhubungan dengan profesi dokter
d. Mengembangkan selalu ilmu pengetahuan baru

Area 3 (Komunikasi efektif)


a. Mahasiswa mampu mengetahui cara komunikasi interpersonal secara baik
sebagai dasar untuk mengembangkan komunikasi dokter-pasien

Area 4 (Pengelolaan Informasi)


a. Mahasiswa mampu memahami prinsip IT dan mengetahui kekuatan dan
kelemahannya
b. Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan prinsip EBM
c. Memahami keterampilan dasar untuk menilai validitas informasi yang
sistemik tentang pengetahuan

Area 5 (Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran)


a. Mahasiswa mampu mengetahui istilah dalam kedokteran
b. Mahasiswa mampu mengetahui pelaksanaan praktikum skills lab di FKIK UMY
c. Mahasiswa mampu mengetahui secara umum tentang kedokteran keluarga
d. Mahasiswa mampu memahami Jaminan Kesehatan di Indonesia
e. Mahasiswa mampu memahami pengertian bioetika dan penerapan
etika kedokteran
f. Mahasiswa mampu memahami prinsip logika hukum dalam pelayanan kesehatan
g. Mahasiswa mampu memahami peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan praktik kedokteran di Indonesia

Area 7 (Pengelolaan Masalah kesehatan)


a. Mahasiswa mampu memahami tentang pendokumentasian informasi medik dan
non medik

D. Topik

Tabel

Minggu Pert. Materi/Pokok Bentuk Departemen Pengajar


ke ke Bahasan Kegiatan
1,2 1 Pengantar Blok Kuliah PJ Blok Dr. Agus
dan 3 1x50 Kesehatan haji: Widiyatmoko,
menit - Pelayanan SpPD, MSc
kesehatan
dalam
pelaksanaan
ibadah haji
- Undang-
undang yang
berkaitan
dengan ibadah
haji
- Sistem layanan
jemaah haji di
dalam negeri
dan di Arab
Saudi

2 Tatalaksana Kuliah PSKI Miftahulaq,Msi


1x50 ibadah haji dan
menit umroh

3 Masalah Kuliah PERDOKHI Dr.dr. Probosuseno,


2x50 kesehatan dalam DIY/ Ilmu SpPD-KGer
menit ibadah haji dan Penyakit Dalam
Istithoah
kesehatan

4 Mass Gathering Kuliah IPD Dr. Agus


2x50 dalam Ibadah Widiyatmoko,
menit Haji SpPD, MSc

5 Evakuasi Medis Kuliah Anestesi dr. Syaiful Fatah,


2x50 SpAn
menit
6 Imunisasi untuk Kuliah IPD Dr. Agus
2x50 orang Dewasa Widiyatmoko,
menit dan Imunisasi SpPD, MSc
pada jemaah haji
dan umroh.
• Imunisasi
dewasa
• Imunisasi
untuk jemaah
dengan
komorbid
• Imunisasi
wajib jemaah
haji dan
umroh

7 Ilmu kedokteran Kuliah IPD/ RS PKU Dr. Poppy Fornia,


2x50 penerbangan Muhammadiyah SpP
menit • Fisiologi Yogyakarta
penerbangan
• Penyakit
yang bisa
terimbas
penerbangan
• Syarat laik
terbang
• MEDIF dan
evakuasi
udara
8 Penyakit Kuliah PERDOKHI/ dr. Irsyad Andi
2x50 kardiovaskuler IPD Arso, SpPD,
menit yang sering pada SpJP(K)
jemaah haji dan
deteksi dini
kelainan
kardiovaskuler
pada jemaah haji
9 Penyakit Kuliah PERDOKHI/ Dr. Robhikul
2x50 metabolik yang IPD Ikhsan, SpPD,
menit sering pada KEMD
jemaah haji

10 Masalah Kuliah PERDOKHI/ Dr.dr. Probosuseno,


2x50 kesehatan lansia Geriati SpPD-Kger
menit pada ibadah haji
• Masalah
kesehatan
lansia
• Persiapan
lansia agar fit
untuk ibadah
haji

11 Kesehatan Jiwa Kuliah Ilmu Kesehatan Dr.dr. Warih


2x50 pada Jemaah Jiwa Andan P, SpKJ(K)
menit Haji
12 Upaya Promotif Kuliah IKM/IKK Dr.dr. Kusbaryanto,
2x50 dan Preventif di MKes
menit Tanah air dan
Arab Saudi

TUTORIAL
Durasi
Tutorial Topik
Pertemuan
Tutorial 2x50 Persiapan menjadi jemaah haji yang sehat dan mandiri (isthitoah
1 menit kesehatan)
• Edukasi kesehatan untuk jemaah haji
• Meningkatkan performance fisik jemaah haji
• Kontrol penyakit komorbid sebelum berangkat
• Aklimatisasi
• Imunisasi
Tutorial 2x50 Masalah kesehatan Pra Armina
2 menit • Masalah kesehatan saat kedatangan jemaah haji di bandara
• Sistem layanan kesehatan di Arab Saudi
• Sistem rujukan antar daerah kerja di Arab Saudi
• Sistem rujukan ke RS Arab Saudi
• Tindakan promotif preventif di Arab Saudi
Tutorial 2x50 Masalah kesehatan Armina dan Pasca Armina
3 menit • Persiapan tim kesehatan ARMINA
• Persiapan Safari Wukuf
• Manajemen jemaah gaib dan meninggal
• Tindakan promotif preventif di ARMINA dan pasca ARMINA
• MEDIF untuk evakuasi udara jemaah sakit

SKILL LABS
Waktu Materi Lokasi Tim Ahli
Skill Labs 1 2x50 menit Manasik Haji Lapangan Tim PSKI
dan Problem
Kesehatan yang
terjadi
Skill Labs 2 2x50 menit Perawatan luka Skill Lab IPD dan Bedah
dan tes
kebugaran bagi
jemaah haji
Skill Labs 3 2x50 menit Evakuasi pasien Demo Lapangan Tim 118
dan demo Yogyakarta
ventilator

E. Prasyarat penilaian
Blok Kedokteran haji adalah blok elektif tahun ketiga di kurikulum Program Studi Pendidikan
Dokter (PSPD) FKIK UMY yang memberikan mahasiswa prinsip dasar dan konsep pelayanan
kesehatan haji dan umroh. Pengetahuan dasar, klinis dan keterampilan yang dipelajari pada blok
ini akan diterapkan pada saat lulus nantinya, saat menjadi tim kesehatan
haji Indonesia.
Aktivitas pembelajaran harus diikuti oleh mahasiswa sebagai prasyarat untuk mengerjakan
evaluasi akhir. Minimal kehadiran dari aktivitas pembelajaran meliputi
1. Perkuliahan : 75%
2. Tutorial : 75%
3. Skill Labs : 100%

F. Evaluasi
Penilaian dilakukan secara formatif dan sumatif. Penilaian formatif dilakukan dengan
menilai aktivitas harian mahasiswa dengan menggunakan check list, laporan tertulis, kuis dan
lain sebagainya. Penilaian sumatif dilakukan dengan ujian CBT. Nilai akhir blok akan
ditentukan dengan komposisi :
• 60% dari MCQ CBT
• 30% dari Tutorial
• 10% dari Skill labs

Mahasiswa dikatakan lulus blok keterampilan belajar dan profesionalisme apabila telah
memenuhi kriteria sebagai berikut :
• Nilai minimal untuk MCQ adalah 60
• Nilai minimal untuk nilai akhir adalah 60

PETUNJUK TUTORIAL
BLOK KEDOKTERAN HAJI

Mahasiswa akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, setiap kelompok terdiri


dari 10 sampai 15 mahasiswa dan dibimbing oleh satu tutor sebagai fasilitator. Dalam diskusi
tutorial perlu ditunjuk satu orang sebagai ketua diskusi dan satu orang sebagai sekretaris.
Ketua diskusi dan sekretaris ditunjuk secara bergiliran untuk setiap skenarionya agar semua
mahasiswa mempunyai kesempatan berlatih sebagai pemimpin dalam diskusi. Oleh karena itu
perlu dipahami dan dilaksanakan peran dan tugas masing-masing dalam tutorial sehingga
tercapai tujuan pembelajaran.
Sebelum diskusi dimulai, tutor akan membuka diskusi dengan perkenalan antara
tutor dengan mahasiswa serta antar mahasiswa. Ketua dari diskusi dibantu sekretaris
memimpin diskusi dengan menggunakan tujuh langkah atau seven jumps untuk
mendiskusikan masalah yang ada dalam skenario. Tujuh langkah tersebut meliputi :

1. Klarifikasi istilah atau konsep


Proses menulis dan mencocokkan istilah-istilah dalam skenario yang belum jelas atau
menimbulkan banyak interpretasi dengan bantuan kamus umum, kamus kedokteran dan
tutor
2. Penentuan masalah
Proses mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang ada dalam skenario berdasarkan
kesepakatan bersama.
3. Pembahasan masalah secara singkat
Proses mendiskusikan dan menjelaskan permasalahan yang ditemukan pada nomor 2
dengan singkat sesuai dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya oleh masing-
masing anggota (prior knowledge).
4. Analisis masalah
Proses menjelaskan masalah yang telah didiskusikan pada nomor 3 secara mendalam dan
sistematis berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
5. Menetapkan tujuan belajar
Proses mengumpulkan beberapa permasalahan yang didapatkan pada proses nomor 4
yang dirasakan kurang jelas dan masih membutuhkan sumber yang benar dan terpercaya
atau permasalahan baru yang muncul dan belum teranalisa di nomor 4 untuk dijadikan
fokus pembelajaran mandiri. Proses ini merupakan akhir proses dari pertemuan pertama.
6. Belajar mandiri

Setiap anggota kelompok melakukan proses belajar mandiri melalui akses internet,
jurnal, perpustakaan, kuliah dan konsultasi pakar untuk memecahkan masalah yang
menjadi tujuan belajar di nomor 5.
7. Pelaporan hasil belajar mandiri
Pada pertemuan kedua dilakukan proses pelaporan oleh masing-masing anggota tentang
hasil yang diperoleh dalam proses belajar mandiri, kemudian dari beberapa hasil dapat
ditarik kesimpulan jawaban yang benar dari masing-masing permasalahan yang menjadi
tujuan belajar.

Setiap skenario akan diselesaikan dalam satu minggu dengan dua kali pertemuan.
Langkah pertama sampai dengan langkah kelima dilaksanakan pada pertemuan pertama,
sedangkan langkah keenam dilakukan mandiri diantara waktu pertemuan pertama dan kedua.
Langkah ketujuh dilaksanakan pada pertemuan kedua.
Tutoryangbertugassebagaifasilitatorakanmengarahkandiskusidanmembantumahasisw
adalammencarisolusipemecahanmasalahtanpaharusmemberikanpenjelasanatau kuliah mini.
Ketua diskusi memimpin diskusi dengancara :
a. Memberi kesempatan setiap anggota kelompok sesuai nama yang disebut
untuk dapat menyampaikan ide dan pertanyaan.
b. Mengingatkan bila ada anggota kelompok yang mendominasi diskusi
c. Mendorong/memberi kesempatan lebih/memancing bila ada anggota yang
kurang aktif selama proses diskusi
d. Membatasi apabila didapatkan pernyataan yang menyimpang jauh dari topik
permasalahan yang telahditentukan
e. Memeriksa sekretaris dalam melakukan tugasnya mencatat proses jalannya
diskusi dan hal-hal penting yang perlu dicatat selama diskusi berlangsung.
Ketua diskusi dalam bertugas dibantu oleh seorang sekretaris yang bertugas mencatat
tahapan diskusi beserta hasilnya dalam bentuk soft file di komputer.
Dalamdiskusitutorialperludimunculkansuasanabelajaryangkondusifsertaiklimketerbu
kaandankebersamaanyangkuat.Mahasiswabebasmengemukakanpendapatnyatanpakhawatirapa
kahpendapatnyadianggapsalah,remehdantidakbermutuolehtemanyanglain,karenadalamtutorial
yanglebihpentingadalahbagaimanamahasiswaberprosesmemecahkanmasalah dan
bukankebenaranpemecahanmasalahnya.
Prosestutorialmenuntutmahasiswaagarsecaraaktifdalammencariinformasiataubelajar
mandiriuntukmemecahkanmasalah.Belajarmandiridapatdilakukandenganaksesinformasibaikm
elaluiinternet(jurnalilmiahterbaru),perpustakaan(textbookdanlaporanpenelitian),kuliahdan
konsultasi pakar.
GambaranKeterampilanMahasiswa pada ProsesTutorial PBL
A. Diskusi awalpadaminggupertama

St Deskripsi Ketua Sekretaris


1. Klarifikasiistilahatau • Menunjuk anggota kelompoknya • Mencatatistilahyang kurang
konsep untukmembacakanproblem dimengerti
skenario
• Memastikanadaanggotayang
bersediamembacakanproblem
skenario
• Memastikanadanyaistilahataukonsepyan
gkurangdimengerti
2. Penentuanmasala • Mengajukanpertanyaankepadaanggota • Menulispermasalahanyang
h untukkemungkinanpenentuanmasalah telahditetapkan
• Meringkaspertanyaan paraanggota kelompok
• Memastikanseluruh anggota
setujudenganpenentuan
• Menyimpulkan tahapkedua dan
melanjutkandiskusi ketahap selanjutnya
3. Pembahasanmasalahsec • Mempersilahkanseluruhanggotakelompok • Membuat tulisanringkasyangjelas
arasingkat untukberkontribusisatupersatu untuk setiapkontribusi daripeserta
• Meringkas setiap hasil kontribusi • Membedakanantara poinutama
anggotakelompok denganissuependukung
• Menstimulasi anggota kelompok
untukberkontribusi
• Meringkashasilcurahpendapat sementara
• Meyakinkan bahwaproses analisa masalah
olehparaanggotaditundasampai pada tahap
keempat

4. Analisis masalah • Memastikanbahwasemua poin • Membuat tulisanringkasyangjelas


daricurahpendapattelah didiskusikan untuk setiapkontribusi daripeserta
• Meringkas setiap hasil kontribusi • Memberikanindikasiadanyahubu
anggotakelompok nganantartopik
permasalahan(membuatskema)
• Mengajukanpertanyaanuntuk
memperdalamanalisa dalam diskusi
• Memastikanbahwa anggota
kelompoktidakmelenceng jauh dari
topik pembicaraan
• Menstimulasi anggota kelompok
untukmenemukanhubunganantartopik
permasalahan
• Menstimulasi anggota kelompok
5. Menetapkantujuanbel • Mengajukanpertanyaankepadaanggotakelo • Menulisissueyangakandipelajari
ajar mpok untuk kemungkinan untuktahap belajarmandiri
issueyangakandipelajari untuk tahap
belajarmandiri
• Meringkas setiap hasil kontribusi
anggotakelompok
• Memastikanseluruh anggota menyetujuiissue
yangakandipelajari untuk tahap belajar mandiri
• Memastikanbahwasemua
kesulitandanperbedaandalamanalisispermasalahansudahdijadikanissueyang
akan dipelajari untuk tahapbelajarmandiri

B. Tahap pelaporan hasilpada minggukedua

St Deskripsi Ketua Sekretaris


ep
7. Pelaporan • Menyiapkan struktur • Membuat tulisanringkasyangjelas
hasilbelajar pelaksanaantahappelaporan untuksetiap kontribusidaripeserta
mandiri • Membuatdaftar dari • Memberikanindikasiadanyahubu
nganantartopik
sumber
permasalahan(membuatskema)
belajaryangdigunakan
• Membedakanantara poinutama
• Mengulangkembaliissueyang denganissuependukung
akan dipelajaripada tahap
belajar mandiri
danmenanyakantemuanyangdid
apatkansebagai hasil
belajarmandirikepadaanggotake
lompok
• Meringkas setiap hasil
kontribusi
anggotakelompok
• Mengajukanpertanyaanuntuk
memperdalamanalisa dalam
diskusi
• Menstimulasi anggota kelompok
untukmenemukanhubunganantart
opik permasalahan
• Menstimulasi anggota
kelompok
untukberkontribusi
• Menyimpulkandan meringkas
hasil diskusi
darisetiapissueyangakan dipelajari
pada tahapbelajarmandiri
TUTORIAL 1
PERSIAPAN CALON JEMAAH HAJI
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) MODUL PERSIAPAN CALON
JEMAAH HAJI

1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Undang-undang yang mengatur Jemaah Haji


Indonesia
2. Mahasiswa dapat menjelaskan tahapan persiapan calon jemaah haji untuk beribadah
ke tanah suci
3. Mahasiswa dapat menjelaskan kegiatan promotif preventif untuk persiapan calon
jemaah haji Indonesia
4. Mahasiswa dapat menjelaskan kegiatan untuk meningkatkan physycal performance
calon jemaah haji Indonesia
5. Mahasiswa dapat menjelaskan istitaah kesehatan
6. Mahasiswa dapat menjelaskan imunisasi yang penting untuk calon jemaah haji
Indonesia

SKENARIO 1
Seorang calon jemaah haji pak Ahmad yang berusia 75 tahun mendapat pemberitahuan dari
Kantor Kementerian Agama Kabupaten bahwa tahun depan akan diberangkatkan menjadi
jemaah haji. Pak Ahmad dimajukan keberangkatannya karena faktor usia. Pak Ahmad ragu
apakah tahun depan bisa berangkat ke tanah suci mengingat saat ini beliau menderita gagal
jantung sejak 5 tahun terakhir dan tidak memiliki pendamping. Istri pak Ahmad meninggal 1
tahun yang lalu sehingga tidak jadi mendampingi pak Ahmad untuk berhaji. Selain itu pak
Ahmad juga menderita hipertensi sejak 10 tahun yang lalu. Pak Ahmad pergi ke Puskesmas
untuk memohon petunjuk agar bisa tetap berangkat ke tanah suci. Saat ini pak Ahmad aktif di
kegiatan POSBINDU PTM. Pak Ahmad takut dinyatakan tidak istitaah dalam bidang
kesehatan.

Diskusikan dengan 7 jumps


TUTORIAL 2
MASALAH KESEHATAN PRA ARMINA
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) MODUL MASALAH KESEHATAN
PRA ARMINA

1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang kelaikan terbang calon jemaah haji


2. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang problem kesehatan yang bisa timbul saat
penerbangan
3. Mahasiswa dapat menjelaskan sistem kesehatan yang berjalan di Arab Saudi
4. Mahasiswa dapat menjelaskan sistem kesehatan untuk jemaah haji Indonesia di kloter
dan di Arab Saudi
5. Mahasiswa dapat menjelaskan sistem rujukan dalam pelayanan kesehatan pada
jemaah haji
6. Mahasiswa dapat menjelaskan kegiatan promotif preventif di Arab Saudi untuk
jemaah haji Indonesia

SKENARIO 2
Pak Ahmad dinyatakan memenuhi syarat istitaah kesehatan dengan pendampingan. Hal ini
disebabkan karena pak Ahmad memiliki penyakit gagal jantung dan hipertensi serta usianya
yang sudah 75 tahun. Pak Ahmad sudah lolos tes kebugaran oleh dinas kesehatan. Pak
Ahmad saat di embarkasi mendapatkan gelang berwarna merah. Pak Ahmad berangkat tanpa
pendamping keluarga tetapi diharuskan oleh dokter keluarganya untuk membawa obat rutin
untuk mengontrol penyakit jantung dan hipertensinya. Pak Ahmad membawa obat
spironolactone 1x25mg furosemide 1x20mg dan candesartan 1x16mg untuk penyakit jantung
dan hipertensinya. Saat di periksa di embarkasi tekanan darah pak Ahmad 170/100 mmHg,
sehingga harus diobservasi di klinik embarkasi. Saat hendak terbang tekanan darah pak
Ahmad 145/90 mmHg.
Selama penerbangan pak Ahmad tidak mau minum karena takut sering ke kamar mandi pesawat.
Saat tiba di Madinah, pak Ahmad tampak lemah dan mulai kehilangan konsentrasi. Saat antri di
imigrasi pak Ahmad pingsan dan segera dibawa ke klinik bandara. Dokter kloter segera kontak
dengan tim kesehatan Indonesia yang di bandara tentang kondisi pak Ahmad. Saat di periksa di
klinik bandara tekanan darahnya menurun, oleh dokter bandara dari Arab Saudi pak Ahmad
dirujuk ke RS An Noor di Madinah untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Ketua regu dan
rombongan pak Ahmad bingung karena takut pak Ahmad nanti bisa hilang
kontak. Dokter kloter (TKHI) memastikan bahwa pak Ahmad akan berada dalam pantauan
tim kesehatan Indonesia di Madinah

Diskusikan dengan 7 jumps


TUTORIAL 3
MASALAH KESEHATAN ARMINA DAN PASCA ARMINA
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) MODUL MASALAH KESEHATAN
ARMINA DAN PASCA ARMINA

1. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang rangkaian ibadah haji


2. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang prosesi ARMINA
3. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang sistem kesehatan yang berjalan saat ARMINA
4. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang Safari Wukuf dan badal haji
5. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang tanazul awal dan akhir
6. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang MEDIF dan evakuasi udara

SKENARIO 3
Pak Ahmad dirawat di RS An Noor Madinah dengan diagnosa Cardiac failure dan Shock
Hipovolemik. Pak Ahmad memiliki riwayat gagal jantung dan hipertensi. Sementara itu,
kelompok terbang pak Ahmadsetelah selesai Arbain bergerak dari Madinah menuju ke Mekkah
untuk menjalani umroh wajib. Pak Ahmad belum diperbolehkan kembali ke kloter karena masih
dirawat di RS An Noor. Satu minggu kemudian pak Ahmad diperbolehkan pulang dan dilakukan
evaluasi di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah. Setelah persolan administrasi
paspor selesai pak Ahmad di evakuasi ke KKHI Mekkah. Setelah di evaluasi 1 hari di KKHI
Mekkah pak Ahmad diperbolehkan kembali ke kloter. Satu minggu menjelang puncak haji, pak
Ahmad kembali di bawa ke KKHI Mekkah karena kakinya terdapat luka yang memburuk. Luka
tersebut timbul karena pak Ahmad kehilangan sandal saat di Masjidil Haram sehingga pulang ke
hotel tanpa alas kaki padahal saat itu cuaca panas. Saat diperiksa didapatkan adanya gangren pada
kaki kanan pak Ahmad. Tim dokter KKHI Mekkah merencanakan untuk merujuk pak Ahmad ke
RS Arab Saudi tetapi pak Ahmad tidak mau karena takut di amputasi. Akhirnya pak Ahmad
dirawat di KKHI. Saat dirawat di KKHI, 2 hari menjelang wukuf pak Ahmad menderita sepsis,
sehingga harus masuk ICU KKHI Mekkah. Satu hari menjelang wukuf pak Ahmad syok septik.
Tim dokter KKHI harus memutuskan apakah pak Ahmad ini ikut safari wukuf atau di badal
hajikan. Tim dokter KKHI berkoordinasi dengan ketua kloter dan TKHI kloter membahas tentang
kemungkinan tanazul awal bagi pak Ahmad.

Diskusikan dengan 7 jumps


MODUL SKILL LAB
MANASIK HAJI

PENGERTIAN HAJI
Haji secara bahasa berarti al-qashdu (menyengaja, menuju, maksud). Secara istilah berarti
“menyengaja mengunjungi Ka’bah (Baitullah) dengan maksud mengerjakan ibadah thawaf, sa’I, wukuf di
Arafah, bermalam di Muzdalifah, mabit di Mina, dan ibadah-ibadah lain pada waktu-waktu yang telah
ditentukan untuk memenuhi perintah Allah dan mengharap ridlo-NYA”

Sedangkan pengertian Umroh adalah mengunjungi Ka’bah (Baitullah) untuk mengerjakan thawaf, sa’I,
kemudian tahallul untuk memenuhi perintah Allah dan mengharapkan ridlo-Nya. Pelaksanaan Umroh Haji
harus dilaksanakan pada saat haji, sedangkan untuk umroh sunnah maka dapat dilakukan setiap
saat/sepanjang waktu

DASAR HUKUM HAJI

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya
(Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi)
orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (Q.S. Ali Imran: 97)

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan
berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh; supaya mereka
menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah
ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah
sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan
fakir (T.Q.S. Al-Hajj: 27 – 28)

SYARAT WAJIB HAJI


Pada prinsipnya setiap muslim wajib melaksanakan haji apabila dia memenuhi syarat wajib
melaksanakan haji. Adapun syarat wajib melaksanakan haji adalah:
1. Islam
2. Berakal
3. Baligh
4. Merdeka
5. Mampu (bekal/biaya/finansial, kesehatan, transportasi, keamanan, kuota, tidak ada halangan syar’i lainnya,
seperti adanya uzur/kesulitan yang sangat, dan lain lain)

RUKUN DAN WAJIB HAJI


Dalam pelaksanaan haji, terdapat perbedaan makna rukun haji dan wajib haji. Rukun Haji adalah
sesuatu yang tidak sah melaksanakan haji melainkan dengan melakukannya, dan ia tidak boleh diganti dengan
“dam” (menyembelih binatang. Artinya seorang jama’ah haji HARUS melaksanakan kegiatan rukun haji ini,
apabila tidak bisa melaksanakan maka hajinya tidak sah. Adapun bagi jama’ah yang tidak mampu
melaksanakan rukun haji karena sakit, maka hajinya dapat dibadalkan (diwakilkan) kepada orang lain yang
sudah haji. Adapun yang masuk menjadi rukun haji adalah:
1. Ihram
2. Wukuf di Arafah
3. Thawaf Ifadhah
4. Sa’i
5. Tahallul (memotong rambut)

Sedangkan wajib haji adalah sesuatu yang perlu dikerjakan, tetapi sahnya haji tidak bergantung
padanya, dan boleh diganti dengan “dam” (menyembelih binatang). Artinya apabila seorang jama’ah tidak bisa
melaksanakan salah satu wajib haji maka hajinya tetap sah, tetapi dengan syarat jama’ah tersebut harus
membayar dam. Misalnya, seorang dokter karena tugasnya tidak bisa melakukan wajib haji berhenti di
Muzdalifah, maka dia dapat membayar dam. Adapun yang termasuk wajib haji adalah:
1. Ihram dari miqat
2. Wukuf sampai terbenam matahari
3. Berhenti di Muzdalifah
4. Melempar jamarat/jumroh di Mina
5. Tawaf wada’ (perpisahan)

MACAM-MACAM IBADAH HAJI


Adapun macam-macam pelaksanaan haji adalah:
1. Tamattu’
Yaitu pelaksanaan ibadah haji dengan mengerjakan umrah dahulu pada bulan-bulan haji, kemudian
mengerjakan haji pada bulan haji itu juga. Biasanya jama’ah haji Indonesia (termasuk petugas medisnya)
menggunakan pelaksanaan haji tamatu’ ini. Pelaksanaan ibadah haji ini yaitu jama’ah datang dari tanah air
setelah melakukan ihram langsung melaksanakan umroh, berupa tawaf, sa’i dan tahalul. Setelah selesai
jama\ah bisa melepaskan kain ihramnya. Kemudian pada tanggal 8 Dzulhijjah menggunakan kain ihram
kembali untuk melaksanakan haji.

2. Ifrad
Yaitu pelaksanaan ibadah haji dengan mengerjakan haji terlebih dahulu, kemudian umrah.

3. Qiran
Yaitu pelaksanaan ibadah dengan mengerjakan haji dan umrah dengan satu niat ihram dari miqat sekaligus

TATA CARA HAJI

1. Ihram dari Miqat


Miqat ada dua; Miqat zamani (batas waktu yang ditentukan, yaitu bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan
Dzulhijjah (Q.S. Al-Baqarah/2: 197); dan Miqat makani, yaitu tempat-tempat untuk memulai ihram bagi
orang-orang yang dari luar tanah haram (Makkah). Ia tidak boleh melewati tempat itu tanpa melakukan
ihram terlebih dahulu

Adapun tempat miqat yang ditentntukan Nabi Muhammad SAW:


1) Dzul Hulayfah (Birr Ali) dipinggir kota Madinah (450 km utara Makkah, untuk Jama’ah dari jurusan
Madinah

2) Juhfah, dikenal Rabig, 187 km barat laut Makkah, miqat jama’ah dari Mesir, Syam (Syiria), dan Magribi
(Maroko)
3) Qarnul Manazil, 94 km timur Makkah, bagi jama’ah dari Najd dan Kuwait

4) Yalamlam, 54 km selatan Makkah, bagi jama’ah dari jurusan Yaman

5) Dzatu Irqin, 94 km timur laut Makkah, bagi jama’ah dari arah Iraq

6) Rumah/tempat tinggal masing-masing bagi orang yang tinggal di Makkah

7) Sedangkan untuk jama’ah yang menggunakan pesawat/kapal laut yang tidak mungkin singgah di
tempat miqat di atas dan langsung turun di Jeddah, para ulama bersepakat maka ihramnya mulai dari
bandara/pelabuhan

8) Khusus umrah sunnah, maka bagi penduduk Makkah ihramnya harus keluar ke tanah halal, yaitu
daerah Tan’im dan Jiranah

Sedangkan tata cara pelaksanaan ihram adalah;


1) Sebelum memulai disunnahkan melakukan sunnah fitrah, mandi, menyisir rambut, memakai wang-
wangian di tubuh. Hal ini dilakukan di tempat ihram atau sebelum tempat ihram

2) Memakai pakaian ihram, bagi laki-laki dua helai kain putih tidak berjahit, satu untuk sarung satu lagi
untuk menutup tubuh. Bagi wanita memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan
pergelangan tangan

3) Melakukan sholat sunnah dua raka’at di tempat miqat

4) Melafadzkan niat umrah dan haji “Labaika Allahumma Umrota” atau “Labbaika Umrota”, “Labaika
Allahumma Hajja” atau “Labbaika Hajja”, atau “Labaika Allahumma Hajja wa Umrota” atau “Labbaika
Hajja wa Umrota”

5) Membaca talbiyah dalam perjalanan menuju Mekkah, Mina atau Arafah, “Labbaika Allahumma
Labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda, wanni’mata laka wal mulk, laa syarika lak”

Selama berihram, jama’ah haji dilarang untuk memakai wangi-wangian, menggunting rambut dan
memotong kuku, menebang pohon tanah haram atau mencabut tanaman, memburu atau membunuh
binatang buruan, meminang menikah atau menikahkan, melakukan hubungan seksual (termasuk
bersentuhan dengan syahwat), berkata kotor/cabul, khusus bagi laki dilarang memakai pakaian berjahit,
menutup kepala, memakai sepatu sampai mata kaki, bagi perempuan dilarang menggunakan sarung tangan
dan cadar

2. Thawaf; yaitu mengelilingi Ka’bah 7 kali putaran, di mulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad
juga dengan posisi Ka’bah berada di sebelah kiri orang yang thawaf.

Macam-macam thawaf; thawaf qudum (khusus haji ifrad dan qiran), thawaf umroh, thawaf ifadhah, thawaf
wada’, thawaf thathawwu’ (thawaf sunnah)

Adapun syarat-Syarat Thawaf adalah:


1) Suci dari hadas besar, kecil, najis dan menutup aurat
2) Dimulai dan berakhir dari/di sudut Hajar Aswad, setiap putaran ketika melewati sudut ini bisa
menciumnya atau sekedar memberi isyarat lambaian tangan dengan membaca bismillahi wallahu
akbar
3) Sempurna 7 kali putaran

3. Sa’i; yaitu berlari-lari kecil antara shafa dan Marwah sebanyak 7 kali dimulai dari Shafa dan diakhiri di
Marwah. Dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dari Marwah ke Shofa juga dihitung satu kali. Sa’i ini
dilakukan setelah thawaf.

Ketika sa’i tidak disyaratkan suci dari hadas besar atau kecil. Berdasar hadis Muslim dari Aisyah yang sedang
haidl dan diperintahkan melakukan apa saja oleh orang berhaji, kecuali thawaf kecuali sudah bersuci

4. Tahallul; bagi haji melakukan umrah tamattu’ bisa melakukan tahallul, yaitu memotong rambut minimal
sebanyak tiga helai

5. Wuquf di Arafah; tanggal 8 Dzulhijjah (Tarwiyah) disunnah ke Mina. Bagi haji tamattu’ maka dia kembali
memakai ihram dengan membaca doa “labbaika hajja” atau labbaika Allahumma hajja”. Waktu wukuf
setelah matahari tergelincir pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai terbenam matahari. Selama wukuf dianjurkan
memperbanyak sholat sunnah dan dzikir serta mendengarkan khutbah

6. Bermalam di Mudzalifah; setelah terbenam matahari dari Arafah menuju Muzdalifah dan bermalam di
sana. Selama perjalanan dianjurkan membaca doa talbiyah

7. Melempar Jamarat/Jumrah Aqobah, Jumrah tiga dan Mabit di Mina; setelah dari Muzdalifah tanggal 10
Dzulhijjah menuju Mina untuk melempar Jumroh Aqobah, kemudian tanggal 11, 12, 13 melemapr Jumroh
tiga, selama proses itu disunnah Mabit (bermalam di Mina)

8. Menyembelih Hadyu atau Dam bagi yang haji tamattu atau qiran

9. Thawaf Ifadhah dan Sa’i; merupakan rukun haji dan dilakukan tanggal 10 Dzulhijjah atau sesudahnya (11,
12, 13 Dzulhijjah)

10. Thawaf Wada’; thawaf perpisahan sebelum pulang ke tanah air.

Cheklist Manasik Haji

No. Keterangan 0 1 2
1. Menggunakan kain ihram dari Miqot
2. Membaca niat “Labbaika umrota” atau “Labbaika Allohumma
Umrota”
3. Membaca doa talbiyah “Labbaika Allahumma Labbaik, Labbaika laa
syariika laka labbaik, innal hamda, wanni’mata laka wal mulk, laa
syarika lak”
4. Thawaf, dimulai dari garis hajar aswad
5. Setiap putaran ketika melewati sudut ini bisa menciumnya atau
sekedar memberi isyarat lambaian tangan dengan membaca bismillahi
wallahu akbar
6. Membaca niat “Labbaika umrota” atau “Labbaika Allohumma
umrota”
Sa’i, berlari kecil dari Shafa ke Marwah sebanyak 7 kali
7. Tahallul, memotong rambut dilanjutkan melepas ihram
8. Memakai ihram membaca niat “Labbaika hajja” atau “Labbaika
Allohumma Hajjan”
9. Berangkat ke Mina dan bermalam di Mina (Tarwiyah)
10. Wukuf di Arafah
11. Bermalam di Muzdalifah
12. Melempar jumroh Aqobah dan tiga jumroh serta mabit di Mina
13. Menyembelih Hadyu/Dam
14. Thawaf Ifadah dan Sa’i
15. Thawaf Wada’
MANAJEMEN LUKA
Dr. Nicko Rachmanio, Sp.B

TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mempelajari keterampilan Manajemen Luka ini, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Menjelaskan definisi luka
2. Menjelaskan jenis-jenis luka
3. Melakukan penilaian terhadap luka baru atau luka lama
4. Melakukan desinfeksi luka
5. Membersihkan luka kotor
6. Melakukan perawatan luka rumatan/lama(mengganti verban)

PENDAHULUAN
Luka didefinisikan sebagai terputusnya kontinuitas jaringan tubuh oleh sebab-sebab fisik, mekanik, kimia
dan termal. Luka,baik luka terbuka atau luka tertutup, merupakan salah satu permasalahan yang paling banyak
terjadi dipraktek sehari-hari ataupun diruang gawat darurat. Penanganan luka merupakan salah satu
keterampilan yang harus dikuasai oleh dokter umum.

Tujuan utama manajemen luka adalah mendapatkan penyembuhan yang cepat dengan fungsi dan hasil
estetik yang optimal. Tujuan ini dicapai dengan pencegahan infeksi dan trauma lebih lanjut serta memberikan
lingkungan yang optimal bagi penyembuhan luka.

Keterlambatan penyembuhan luka dapat diakibatkan oleh penatalaksanaan luka yang kurang tepat,
seperti :
1. Tidak mengidentifikasi masalah-masalah pasien yang dapat mengganggu penyembuhan luka.
2. Tidak melakukan penilaian luka(wound assessment)secaratepat.
3. Pemilihan dan penggunaan larutan antiseptik yang kurang tepat.
4. Penggunaan antibiotika topikal dan ramuan obat perawatan luka yang kurang tepat.
5. Teknik balutan(dressing) kurang tepat,sehingga balutan menjadi kurang efektif atau justru menghalangi
penyembuhan luka.
6. Pemilihan produk perawatan luka kurang sesuai dengan kebutuhan pasien atau justru
berbahaya.
7. Tidak dapat memilih program penatalaksanaan yang sesuai dengan kebutuhan pasien dan
kondisi luka.
8. Tidak mengevaluasi efektifitas manajemen luka yang diberikan.

PENYEMBUHAN LUKA(WOUND HEALING)


Dalam penyembuhan cedera jaringan lunak, baik luka ulseratif kronis (ulkus tungkai, dekubitus), luka
traumatis (abrasi, laserasi, lukabakar) atau luka akibat tindakan bedah, terjadi proses dasar biokimia dan seluler
yang sama.

Proses fisiologis penyembuhan luka dibagi dalam 4 fase:


1. Respon inflamasi akut terhadap cedera: meliputi hemostasis, pelepasan histamine dan mediator
inflamasi lain dari sel-sel yang rusak serta migrasi lekosit (netrofil, monosit dan makrofag) ketempat luka.
2. Fase destruktif : pembersihan debris dan jaringan nekrotik oleh netrofil dan makrofag.
3. Fase proliferative: infiltrasi daerah luka oleh pembuluh darah baru(neovaskularisasi), diperkuat oleh
jaringan ikat.
4. Fasematurasi : meliputi re-epitelisasi, kontraksi luka dan reorganisasi jaringan ikat. Dalam kenyataannya,
fase-fase tersebut saling tumpang tindih.Durasi setiap fase dan waktu untuk penyembuhan luka secara
sempurna tergantung pada beberapa faktor.
Gambar1. Penyembuhan Luka Primer (primaryclosure)

Gambar2. Penyembuhan Luka Primer Lambat (delayed primary closure)

Gambar3. Penyembuhan Luka Sekunder (secondary closure)

Tabel 1. Perbedaan Penyembuhan Luka Primer dan Sekunder

Penyembuhan Penyembuhan
Primer Sekunder
Menyatukan kedua tepi luka Tidak ada tindakan khusus
dengan penjahitan menyatukan tepi luka, luka
sembuh alamiah
Hanya sedikit jaringan yang Kehilangan jaringan biasanya
Hilang cukup luas
Luka bersih Luka terbuka atau dibiarkan
terbuka kadang kotor
Jaringan granulasi minimal Banyak jaringan granulasi
Reepitelisasi sempurna dalam Jaringan parut dapat luas, luka
10-14 hari, menyisakan ditutup oleh re epitelisasi dan
jaringan parut minimal deposisi jaringan sehingga
terjadi kontraksi

Jaringan ikat yang dihasilkan dari penyembuhan luka sekunder mempunyai karakteristik:
1. Ukuran lebih besar. Sering menjadi hipertrofik (keloid).
2. Kurang kuat dibandingkan jaringan ikat yang terbentuk dari penyembuhan luka primer.
Keuntungan penutupan luka primer :
1. Perawatan luka lebih sederhana dan mudah, hanya perlu menjaga luka jahitan tetap bersih dan kering.
2. Waktu penyembuhan luka lebih cepat.
3. Tidak ada rasa nyeri/rasa nyeri lebih ringan.
4. Tidak terbentuk jaringan parut/hanya terbentuk jaringan parut berukuran kecil sehingga hasil kosmetik
lebih baik dan tidak mengganggu fungsi.
5. Mencegah kontaminasi struktur penting di bawah kulit.

PENILAIAN LUKA (WOUND ASSESSMENT)


Assessment didefinisikan sebagai kegiatan untuk mendapatkan informasi, yang diperoleh
dengan cara mengamati, memberikan pertanyaan serta melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang.
Informasi tersebut berguna untuk menegakkan diagnosis kerja dan merencanakan program
penatalaksanaan selanjutnya.

Dua hal penting yang pertama kali harus dinilai oleh dokter dalam memberikan
penatalaksanaan luka adalah :
1. Menilai adanya kegawatan,yaitu apakah terdapat kondisi yang membahayakan jiwa pasien (misalnya
luka terbuka di dada atau abdomen yang kemungkinan dapat merusak struktur penting dibawahnya,
luka dengan perdarahan arteriyang hebat, luka dileher yang dapat mengakibatkan obstruksi pernafasan
dan lain-lain).
2. Menilai apakah luka akut atau kronis.

Penilaian luka dilakukan terhadap 2 aspek, yaitu terhadap pasien dan terhadap luka itu sendiri.

PENILAIAN TERHADAP PASIEN


Anamnesis
Aspek anamnesis dalam penilaian luka bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi penyembuhan luka.

Anamnesis meliputi:
1. Riwayat luka:
- Mekanisme terjadinya luka.
- Kapan terjadinya luka: setelah 3jam (golden periode < 6jam), kolonisasi bakteri dalam luka akan
meningkat tajam.
- Dimana pasien mendapatkan luka tersebut.
- Bila saat pasien datang luka telah dibersihkan tetap harus ditanyakan adakah kontaminan dalam luka,
misalnya logam, kotoran hewan atau karat. Adanya kontaminan dalam luka meningkatkan risiko
terjadinya infeksi dan tetanus.
- Perdarahan dan jumlah darah yang keluar.

Tabel 2. Penilaian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka

Faktor yang dinilai

1. Adanya penyakit lain: Underlying disease dapat menghambat penyembuhan


- Anemia luka karena:
- Arteriosclerosis - Mengganggu deposisi kolagen jaringan
- Keganasan - Berkurangnya vaskularisasi berakibat
- Diabetes penurunan suplai oksigen dan nutrisi
- Penyakit autoimun - Berkurangnya mobilitas
- Penyakit inflamasi - Pengaruh terhadap metabolisme sel
- Gangguan fungsi hati
- Rheumatoid artritis
- Gangguan fungsi ginjal
2. Infeksi Respon host terhadap bakteri/reaksi inflamasi akan
memperlambat penyemuhan luka.

3. Umur dan komposisi tubuh Kapasitas kulit untuk memperbaiki diri semakin
menurun dengan bertambahnya usia.

4. Status nutrisi Penyembuhan luka memerlukan nutrisi-nutrisi


tertentu. Under-nutrition dan overnutrition (obesitas)
mempengaruhi penyembuhan luka.

5. Merokok Merokok mengakibatkan vasokonstriksi sehingga suplai


oksigen dan nutrisi ke daerah luka berkurang.

6. Pengobatan Obat-obat steroid, AINS, kemoterapi, imunosupresan


dan anti-prostaglandin mengganggu penyembuhan luka
dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi.

7. Status psikologis Stress memperlambat penyembuhan luka.

8. Lingkungan sosial dan higiene

9. Akses terhadap perawatan luka

10. Riwayat perawatan luka sebelumnya

2. Keluhan yang dirasakan saat ini:


- Rasa nyeri
Rasa nyeripada luka kronis dirasakan sebagai nyeri hebat, persisten dan mengakibatkan pasien sulit
tidur, gangguan emosi, rendah diri sertadepresi.
- Gejala infeksi: kemerahan, bengkak, demam, nyeri.
- Gangguan fungsi motorik atau sensorik: menunjukkan kemungkinan terjadinya kerusakan otot,
ligamentum, tendo atau saraf.

3. Riwayat kesehatan dan penyakit pasien secara keseluruhan:


Menilai faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka dan pemilihan regimen
penanganan luka, yaitu :
- Umur
- Dehidrasi: gangguan keseimbangan elektrolit mempengaruhi fungsi jantung, ginjal,
metabolisme seluler, oksegenasi jaringan dan fungsi endokrin.
- Status psikologis
Status psikologis pasien berpengaruh pada pemilihan regimen terapi yang tepat bagi
pasien tersebut. Pemilihan regimen terapi dengan mempertimbangkan status psikologis
pasien mempengaruhi kepatuhan pasien terhadap terapi yang ditetapkan dokter.
- Status nutrisi
Nutrisi berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Kekurangan salah satu atau
beberapa nutrient mengakibatkan penyembuhan luka terhenti pada tahapan tertentu.
- Berat badan
Pada pasien dengan obesitas, adanya lapisan lemak yang tebal disekitar luka dapat
mengganggu penutupan luka. Selain itu,vaskularisasi jaringan adiposa tidak optimal
sehingga jaringan adipose merupakan salah satu jenis jaringan yang paling rentan
terhadap trauma dan infeksi.
- Vaskularisasi ke area luka.
Penyembuhan luka di kulit paling optimal di area wajah dan leher karena merupakan area
dengan vaskularisasi paling baik. Sebaliknya dengan ekstremitas.
Kondisi-kondisi yang mengakibatkan gangguan vaskularisasi kearea luka, misalnya
diabetes atau arteriosklerosis,dapat memperlambat atau bahkan menghentikan
penyembuhan luka.
- Respons imun.
- Penyakit kronis, seperti penyakit endokrin, keganasan, inflamasi dan infeksi lokal serta
penyakit autoimmun.
- Radioterapi
- Riwayat alergi: makanan, obat (anestetik, analgetik, antibiotik, desinfektan, komponen
benang, lateks/plesterdan lain-lain).

Tabel 3. Nutrisi yang diperlukan untuk Penyembuhan Luka

- Protein

- Asam amino Proline, hydroxyproline, cysteine, cystine, methionine, tyrosine, lysine,


arginine, glycine

- Karbohidrat Glukosa

- Lipid Asam linoleat, asam linolenat, asam arachidonat, eicosanoat,


asam lemak

- Vitamin A, Bkompleks, C, D, E,K

- Mineral Natrium, Kalium, Cuprum, Calcium, Ferrum, Magnesium, Zinc, Nikel,


Chromium

- Air
Sumber: Eagle, 2009
4. Riwayat penanganan luka yang sudah diperoleh :
- Status vaksinasi tetanus
- Penutupan luka:jahitan, balutan
- Penggunaan ramuan-ramuan topikal: salep, powder, kompres, ramuan herbal dan lain-lain.
- Penggunaan antibiotika.

5. Konsekuensi luka dan bekas luka bagi pasien


Konsekuensi yang dinilai meliputi konsekuensi luka terhadap :
- Kemampuan pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
- Pekerjaan pasien.
- Aspek kosmetik.
- Kondisi psikologis pasien.

Pembentukan jaringan parut sebagai konsekuensi dari penyembuhan luka juga harus dipertimbangkan
dari aspek fungsional (terjadinya kontraktur) dan pertimbangan kosmetik.

Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan tanda vital

2. Pemeriksaan fisik umum: bertujuan mencari tanda adanya faktor komorbid, seperti :
- Inspeksi mukosakonjungtivadan bibir (mengetahui kemungkinan anemia).
- Menilai status gizi (mengetahui adanya malnutrisi atau obesitas).
- Pemeriksaan neurologi (reflex dan sensasi – mengetahui kemungkinan neuropati).
- Pemeriksaan kardiovaskuler (menilai oksigenasi jaringan dan kemungkinan adanya penyakit
vaskuler perifer).

3. Penilaian adanya infeksi:


a. Gejaladan tanda umum: demam, malaise, limfadenopati regional
b. Gejala dan tanda lokal : edema, eritema, rasa nyeri, peningkatan suhu lokal, gangguan fungsi.

4. Penilaian terhadap terjadinya kerusakan struktur dibawah luka (pembuluh darah, saraf,
ligamentum, otot, tulang):
a. Pembuluh darah :
- Cek pengisian kapiler: adakah pucat atau sianosis, apakah suhu area didistal luka teraba
hangat.
- Cek pulsasi arteri didistal luka.
- Jika terdapat perdarahan, dinilai apakah perdarahan berasal dari kapiler,vena atau arteri.
Dilakukan penanganan sesuai dengan sumber perdarahan.
b. Saraf :
- Lakukan penilaian status motorik (kekuatan otot, gerakan) dan fungsi sensorik di distal
luka.
- Penilaian status sensorik harus selalu dilakukan sebelum tindakan infiltrasi anestesi.
c. Otot dan tendo :
- Kerusakan tendo dapat dinilai dengan inspeksi, akan tetapi tetap harus dilakukan
penilaian terhadap range of motion dan kekuatan dari tiap otot dan tendo di sekitar luka.
d. Tulang:
- Dinilai adakah fraktur (terbukaatau tertutup) dandislokasi.

Tabel 4. Perbedaan Perdarahan Arteri, Vena dan Kapiler


Sumber Karakteristik Penanganan
Perdarahan
Arteri Memancar, pulsatil, warna merah terang, pasien Ekplorasi dan ligasi
cepat syok
Kapiler Warna merah terang, merembes Kompresi
Vena Mengalir, warna merah gelap Bebat tekan

PENILAIAN TERHADAP LUKA


Inspeksi Luka
Meliputi:
1. Jenis luka
2. Tahapan penyembuhan luka
3. Ukuran luka

Jenis luka
Berdasarkan penyebabnya, luka dibagi menjadi:
a. Erosi, Abrasi, Excoriasi
Erosi : Luka hanya sampai stratum corneum
Abrasi : Luka sampai stratums pinosum
Excoriasi : Luka sampai stratum basale
- Merupakan kerusakan epitel permukaan akibat trauma gesek pada epidermis.
- Abrasi luas dapat mengakibatkan kehilangan cairan tubuh.
- Luka harus segera dicuci, benda asing dalam luka harus dibersihkan dengan seksama untuk
meminimalkan risiko infeksi dan mencegah“tattooing” (luka kedalamannya sampai stratum
papilare dermis).
b. Kontusio
- Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul atau ledakan.
- Dapat mengakibatkan kerusakan jaringan yang luas.
- Pada awalnya,lapisan kulit diatasnya bisa jadi intak,tapi pada akhirnya dapat menjadi non-
viable.
- Hematoma berukuran besar yang terletak dibawah kulit atau di dalam otot dapat menetap.
- Kontusio luas dapat mengakibatkan infeksi dan compartment syndromes.

c. Laserasi
Laserasi terjadi jika kekuatan trauma melebihi kekuatan regang jaringan, misalnya robekan kulit kepala
akibat trauma tumpul pada kepala.
Laserasi diklasifikasikan berdasarkan mekanisme terjadinya, yaitu :
1. Insisi :
- Luka sayatan, disebabkan oleh benda tajam.
- Kerusakan jaringan sangat minimal.
Contoh: luka tusuk, luka pembedahan, terkena pecahan kaca.
- Ditutup dengan bantuan jahitan, klip, staples, adhesive strips (plester) atau lem. Luka
pembedahan dapat terbuka kembali secara spontan (dehisensi) atau dibuka kembali
karena terbentuk timbunan cairan, darah (hematoma) atau infeksi.

2. Tension laceration:
- Disebabkan oleh trauma tumpul, biasanya karena tangential force yang kekuatannya
melebihi daya regang jaringan.
- Akibatnya adalah terjadinya robekan kulit dengan tepi tidak teratur disertai kontusio
jaringan di sekitarnya.
Contoh: benturan dengan aspal pada kecepatan tinggi, laserasi kulit karena pukulan
tongkat dengan kekuatan tinggi.
3. Crush laceration atau compression laceration :
- Laserasi kulit terjadi karena kulit tertekan diantara objek dan tulang di bawahnya.
-Laserasi tipe ini biasanya berbentuk stellate dengan kerusakan sedang dari jaringan di
sekitarnya.
- Kejadian infeksi lebih tinggi.
- Hasil kosmetik kurang baik.
Contoh : laserasi kulit di atas alis seorang anak karena terjatuh dari meja.
4. Kombinasi dari mekanisme di atas.
Kombinasi dari ketiga tipe lukadi atas.

Berdasarkan tingkat kontaminasinya, luka diklasifikasikan sebagai :


a. Luka bersih
Luka elektif,bukan emergency, tidak disebabkan oleh trauma, ditutup secara primer tidak ada
tanda inflamasi akut,prosedur aseptic dan antiseptik dijalankan dengan baik, tidak melibatkan
traktus respiratorius, gastrointestinal, bilier dan genitourinarius. Kulit di sekitar luka tampak bersih,
tidak ada tanda inflamasi. Jika luka sudah terjadi beberapa saat sebelumnya, dapat terlihat sedikit
eksudat (bukan pus), tidak terlihat jaringan nekrotik di dasar luka. Risiko infeksi <2%.
b. Luka bersih terkontaminasi
Luka urgent atau emergency tapi bersih, tidak ada material kontaminan dalam luka. Risiko infeksi
<10%
c. Luka terkontaminasi
Tampak tanda inflamasi non-purulen; luka terbuka <4jam; luka terbuka kronis; luka terbuka dan luas
(indikasi untuk skin grafting); prosedur aseptic dan antiseptic tidak dijalankan dengan baik; risiko
infeksi 20%.
d. Luka kotor/terinfeksi
Tampak tanda infeksi di kulit sekitar luka, terlihat pus dan jaringan nekrotik; luka terbuka > 4 jam;
terdapat perforasi traktus respiratorius, gastrointestinal, bilier atau genitourinarius, risiko infeksi 40%.

Gambar 4.Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka


Tabel 5. Penilaian Status Lokalis

1. Benda asing dalam luka Adakah pasir, aspal, kotoran binatang, logam atau karat dan lain-
lain. Benda asing dalam luka akan mengganggu penyembuhan luka
dan meningkatkan risiko infeksi.

2. Dasar luka/tingkat Identifikasi jenis jaringan di dasar luka penting untuk menentukan
penyembuhan luka penatalaksanaan dan pemilihan dressing (balutan)

3. Posisi luka Posisi luka mempengaruhi kecepatan penyembuhan dan


pemilihan dressing.

4. Ukuran luka - Ukuran panjang, lebar, kedalaman dan luas dasar luka
- Amati adakah pembentukan sinus, kavitas dan traktus
- Amati adanya undermining(menggaung)
- Dinilai adakah penambahaan atau pengurangan ukuran luka
- Gunakan alat ukur yang akurat,jangan berganti-ganti alat
ukur
- Penyembuhan luka ditandai dengan pengurangan ukuran
luka

5. Jumlah discharge - Lakukan penilaian kelembaban luka (luka kering, lembab


atau basah)
- Lakukan penilaian jumlah discharge (sedikit, sedang, banyak)
- Lakukan penilaian konsistensi discharge (berupa pus,
seropurulen, serous, serohemoragis, hemoragis)

6. Bau Tidak berbau,berbau, sangat berbau

7. Nyeri Dinilai:
- Penyebab nyeri (adakah inflamasi atau infeksi)
- Lokasi nyeri
- Derajat nyeri
- Kapan nyeri terasa (sepanjang waktu, saat mengganti
pembalut)

8. Tepi luka Teratur, tidak teratur, menggaung, adakah tanda radang, dinilai
kurang lebih sampai 5cm dari tepi luka

9. Jaringan di sekeliling luka Jaringan nekrotik di sekeliling luka menghambat penyembuhan


dan meningkatkan risiko infeksi

Sumber: Eagle, 2009

Berdasarkan onset terjadinya luka, luka diklasifikasikan menjadi :


1. Luka akut : disebabkan oleh trauma atau pembedahan.Waktu penyembuhan relatif cepat, dengan
penyembuhan secara primer.
2. Luka kronis: luka kroonis didefinisikan sebagai luka yang belum sembuh setelah 3bulan. Sering disebabkan oleh
luka bakar luas, gangguan sirkulasi,tekanan yang berlangsung lama(pressure ulcers/ulkus dekubitus), ulkus
diabetic dan keganasan. Waktu penyembuhan cenderung lebih lama, risiko terinfeksi lebih besar.

Semua jenis luka berpotensi menjadi kronis jika pemilihan regimen terapi tidak adekuat.

Keadaan dasar luka (wound bed)


Keadaan dasar luka mencerminkan tahapan penyembuhan luka. Karakteristik dasar luka bervariasi dan
sering diklasifikasikan berdasarkan tipe jaringan yang berada di dasarnya, yaitu: nekrotik, sloughy, granulasi,
epithelial dan jaringan hipergranulasi. Pada satu luka sering terdapat beberapa jenis tipe jaringan
sekaligus.Keadaan dasar luka menentukan pemilihan dressing.
a. Jaringan nekrotik
Akibat kematian jaringan, permukaan luka tertutup oleh lapisan jaringan nekrotik (eschar) yang
seringkali berwarna hitam atau kecoklatan. Pada awalnya konsistensi lunak, tetapi kemudian akan mengalami
dehidrasi dengan cepat sehingga menjadi keras dan kering. Jaringan nekrotik dapat memperlambat
penyembuhan dan menjadi focus infeksi. Diperlukan pembersihan luka (debridement) dari jaringan nekrotik
secepatnya sehingga luka dapat memasuki tahapan penyembuhan selanjutnya.

Gambar 5. Dasar luka tertutup jaringan nekrotik (slough)

b. Slough
Slough juga merupakan jenis jaringan nekrotik, merupakan material lunak yang terdiri atas sel-sel
mati, berwarna kekuningan dan menutupi luka.Dapat berbentuk seperti serabut/benang yang menempel di
dasar luka.Slough harus dibedakan dari pus, dimana slough tetap menempel didasar luka meski diguyur air,
sementara pus akan terlarut bersama air. Slough merupakan predisposisi infeksi dan menghambat
penyembuhan luka, meski demikian, adanya slough tidak selalu merupakan tanda terjadinya infeksi pada
luka. Pada luka kronis yang dalam, tendo yang terpapar (gambar12) juga sering dikelirukan dengan slough,
sehingga dokter harus hati-hati saat melakukan debridement menggunakan skalpel. Untuk menstimulasi
pembentukan jaringan granulasi dan membersihkan luka dari eksudat, slough dibersihkan dengan aplikasi
dressing yang sesuai.

c. Jaringan granulasi
Granulasi adalah jaringan ikat yang mengandung banyak kapiler baru yang akan membantu
penyembuhan dasar luka. Jaringan granulasi sehat berwarna merah jambu pucat atau kekuningan, mengkilat
dan terlihat seperti tumpukan kelereng.Jika disentuh terasa kenyal, tidak nyeri dan tidak mudah berdarah
meski dalam jaringan granulasi terdapat banyak pembuluhdarahbaru.Jaringan granulasi yang berwarna
merah terang dan mudah berdarah menunjukkan terjadinya infeksi.

Gambar 6. Kiri :jaringan granulasi sehat, Kanan: jaringan hipergranulasi

d. Jaringan hipergranulasi
Hipergranulasi merupakan pembentukan jaringan granulasi secara berlebihan. Hipergranulasi akan
mengganggu migrasi epitel sehingga memperlambat penyembuhan luka.

e. Jaringan epitel
Berupa jaringan berwarna putih keperakan atau merah jambu, merupakan epitel yang bermigrasi dari
tepi luka, folikel rambut atau kelenjar keringat.Biasanya menutupi jaringan granulasi. Terbentuknya jaringan
epithelial menandakan fase penyembuhan luka tahap akhir hampir selesai.
Gambar 7. Jaringan epithelial

f. Jaringan terinfeksi
Luka yang terinfeksi ditandai dengan :
• Jaringan sekitar lukabengkak dan kemerahan.
• Penambahan ukuran luka.
• Luka mudah berdarah, terutama saat mengganti balutan.
• Peningkatan produksi eksudat dan pus.
• Luka berbau.
• Terbentuk jaringan nekrotik.
• Perubahan warna pada luka, tepi luka dan di sekitar luka.
• Perubahan sensasi : luka lebih nyeri, atau sebaliknya, hipoestesi/anestesia.
• Keterlambatan penyembuhan luka.
• Gejala sistemik dari infeksi : demam, malaise.

Lokasi luka
Lokasi dan posisi mempengaruhi pemilihan dressing, sebagai contoh jenis dan ukuran dressing untuk luka di
abdomen berbeda dengan dressing untuk luka di tumit atau jari-jari kaki.

Ukuran luka
Harus diukur panjang, lebar, lingkar luka, kedalaman luka dan luas dasar luka, serta perubahan ukuran luka
setiap kali pasien datang.Pergunakan alat ukur yang sama supaya hasil ukuran akurat dan dapat saling
diperbandingkan.

Kedalaman luka diukur dengan bantuan aplikator atau cotton-bud yang dimasukkan tegak lurus kedasar luka
terdalam – tandai aplikator – ukur dengan penggaris.

Kadang kerusakan jaringan dan nekrosis meluas ke lateral luka,di bawah kulit, sehingga sering tidak
terlihat. Perlu dinilai ada tidaknya pembentukan sinus, kavitas, traktus atau fistula,yang dapat mengganggu
drainase eksudat, berpotensi infeksi dan menghambat penyembuhan luka. Penyembuhan luka ditandai dengan
berkurangnya ukuran luka.

Tipe dan jumlah eksudat


Terlihat pada luka terbuka. Selama penyembuhan luka, jenis dan jumlah pembentukan eksudat
bervariasi. Luka terus menghasilkan eksudat sampai epitelisasi terjadi secara sempurna. Kuantitas eksudat
bervariasi dari sedikit, sedang, banyak, dan sangat banyak (profuse). Biasanya, makin besar ukuran luka, makin
banyak eksudat yang terbentuk.

Berdasarkan kandungan material di dalamnya, eksudat dibedakan menjadi : serous, serohemoragis,


hemoragis dan purulen (pus).

Tingkat kelembaban luka dan jumlah eksudat mempengaruhi pemilihan dressing. Perban harus dapat
menyerap cairan berlebihan sekaligus mempertahankan kelembaban lingkungan luka.
Gambar 8. Eksudat (bukan Pus)

Dokter harus waspada jika luka menghasilkan banyak eksudat. Eksudat banyak mengandung protein,
sehingga pada beberapa kasus dengan luka eksudatif yang luas, misalnya luka bakar luas, diperlukan pemantauan
kadar protein serum.

Bau
Luka diklasifikasikan sebagai tidakberbau, berbau dan sangat berbau.Bau luka berdampak psikologis sangat
hebat bagi pasien.Bau biasanya terjadi pada luka terinfeksi, ditimbulkan oleh adanya jaringan nekrotik, eksudat
dan material toksik dalam luka (pus, debris dan bakteri), sehingga tindakan membersihkan luka dan nekrotomi
dapat mengurangi bau dan memperbaiki infeksi. Akan tetapi, hal ini tidak dapat sepenuhnya dilakukan pada lesi
maligna. Pada kasus-kasus ini, bau luka dikurangi dengan mengaplikasikan balutan mengandung antibiotik,
balutan mengandung karbon, larval therapy atau gel antibakteri.

Nyeri
Rasa nyeri akan membatasi aktifitas, mempengaruhi mood dan berdampak besar
Terhadap kualitas hidup pasien. Nyeri merupakan tanda bahwa luka tidak mengalami penyembuhan atau terjadi
infeksi pada luka. Nyeri pada luka harus diidentifikasi penyebabnya (inflamasi atau infeksi),kualitas dan
kuantitasnya.

Tepi luka
Tepi luka dapat menyempit atau justru melebar. Dapat menggaung (meluas ke lateral, di bawah kulit –
undermining), membentuk kavitas, traktus atau sinus.Tepi luka bisa curam, landau, regular, ireguler atau
meninggi.Selama penyembuhan luka pasti terjadi perubahan bentuk luka. Penting untuk memantau dan mencatat
keadaan tepi luka karena merupakan indikator penyembuhan luka.

Kulit di sekitar luka


Maserasi kulit disekitar luka terjadi karena retensi cairan, sering diakibatkan oleh pemilihan dressing yang
kurang tepat. Kondisi ini dapat menjadi focus infeksi dan menghambat penyembuhan luka. Kulit kering dan
berskuama juga berpotensi infeksi karena masuknya bakteri melalui retakan-retakan epidermis. Jaringan nekrotik
harus dibersihkan dan kulit harus direhidrasi kembali dengan krim pelembab.

PENATALAKSANAAN BEBERAPA JENISLUKA


Tujuan penatalaksanaan luka adalah :
1. Menciptakan kondisi lingkungan yang optimal untuk penyembuhan luka.
2. Membersihkan luka dari eksudat dan jaringan nekrotik.
3. Melindungi luka dari infeksi.
4. Mengeliminasi faktor-faktor yang mengganggu penyembuhan luka.
5. Menstimulasi pertumbuhan jaringan baru.
6. Mengembalikan fungsi.
7. Memperbaikikerusakan jaringan dengangangguan kosmetik seminimal mungkin.

Peralatan Yang Diperlukan


1. Kursi untuk pasien(dengan sandaran lengan)
2. Kursi untuk operator
3. Lampu penerangan
4. Alat pengamanan diri :
• Apron
• Masker
• Kacamata pelindung
• Sarungtangan steril
5. Instrumen anestesi :
• Kassa steril
• Agen anestesi local
• Spuit 5-10 mL
• Jarum ukuran 25-30
6. Instrumen untuk mencuci luka:
•Larutan antiseptik povidone–iodine10%
•Larutan pencuci NaCl fisiologis atau akuades
•Spuit 20-60 mL
•Mangkuk bengkok
7. Instrumen bedah minor :
• Benang nylon atau polypropylene monofilamen nonabsorbable ukuran 6.0 (untuk laserasi di wajah)
ukuran 3.0, 4.0,atau 5.0 untuk luka di torso, tangan dan kaki. Benang ukuran lebih besar dapat
digunakan bila laserasi berada di area dengan regangan kulit tinggi.
• Jarum jenis reverse-cutting
• Needle holder
• Forcep ujung bergigi (Adson–Brown)
• Gunting benang
8. Material untuk perawatan luka :
• Kassa
• Perban/ pembalut
• Plester
• Salep antibiotika

ANESTESI LUKA
 Agen anestetikum yang sering diberikan adalah lidocaine 1% atau bupivacaine.
 Penambahan epinefrin sebagai vasokonstriktor bertujuan untuk mengurangi perdarahan, dan
memperpanjang efek anestesi. Epinefrin tidak boleh diberikan pada laserasi yang terjadi di ujung-ujung jari
atau area yang divaskularisasi oleh end artery, seperti hidung, pinna dan penis.
 Efek Lidocaine berakhir dalam 1 jam, sementara efek Bupivacaine dalam 2-4 jam.

Prosedur :
 Lakukan tindakan aseptik dan antiseptik
 Lakukan injeksi menggunakan jarum ukuran kecil(ukuran 25-30)
 Injeksikan secara perlahan kedalam atau kebawah kulit disekeliling luka untuk mencegah
material kontaminan terdorong ke area yang bersih.
 Jika anestetikum telah masuk secara benar, akan terlihat edema kulit sesaat setelah disuntikkan.
 Jika laserasi terjadi di area dimana dapat dilakukan blockade saraf (misalnyadi ujung-ujung jari),
lakukan anestesi blok, karena efek anestesi lebih baik.
 Tunggu 5-10 menit sampai anestesi bekerja.
 Sebelum dan selama melakukan tindakan eksplorasi luka dan pencucian, cek apakah anestesi
mashi efektif. Sensasi tekan tidak ditumpulkan oleh anestesi lokal. Dengan anestesi yang
adekuat pasien masih merasakan tekanan, tapi tidak menyakitkan. Jepit ujung kulit dengan
pinset atau sentuh menggunakan ujung jarum. Bila pasien masih merasakan nyeri, tambahkan
anestesi.

MENCUCI LUKA
Tindakan mencuci luka harus dilakukan sesegera mungkin setelah terjadi luka. Jika kulit terbuka, bakteri
yang berada disekitarnya akan masuk kedalam luka. Paling baik adalah menggunakan air mengalir dan sabun.
Tekanan dari pancaran air akan membersihkan luka dari bakteri dan material kontaminan lain.

Pencucian lukaharus dilakukan pada:


1. Luka dangkal
2. Luka dengan risiko tinggi terjadinya infeksi:
a. Gigitan binatang atau manusia
b. Luka kotor/terkontaminasi
c. Laserasi (tension laceration dan crush laceration).
d. Luka dengan kerusakan otot, tendo atau tulang dibawahnya.
e. Luka tusuk

Untuk membersihkan luka yang sangat kotor, misalnya kontaminasi kotoran atau aspal, diperlukan irigasi
tekanan tinggi (5-8psi) atau tindakan scrubbing. Irigasi tekanan tinggi dilakukan dengan menyemprotkan NaCl
fisiologis atau akuades menggunakan spuit 10 - 50mL. Irigasi dengan tekanan terlalu tinggi(>20-30 psi, misalnya
dengan jet shower) tidak boleh dilakukan karena justru merusak jaringan. Dokter dapat mengenakan kacamata
pelindung untuk menghindari percikan air ke mata. Jika luka sangat kotor, mungkin diperlukan washlap dan pinset
untuk membersihkan kotoran dari dalam luka.

Larutan antiseptic seperti alcohol atau hydrogen peroksida sebaiknya tidak digunakan, sementara larutan
antiseptic seperti povidone iodine10% hanya digunakan pada luka akut, dan tidak digunakan terlalu sering, karena
justru akan merusak sel-sel kulit baru dan sel-sel fagosit yang bermigrasi ke area luka, sehingga risiko infeksi lebih
besar dan penyembuhan luka lebih lama.

Irigasi luka tidak boleh dilakukan pada:


1. Luka berukuran sangat luas.
2. Luka sangat kotor (diperkirakan memerlukan debridement tajam. Lakukan debridement lebih dulu,
baru kemudian irigasi luka).
3. Luka dengan perdarahan arteri atau vena.
4. Luka yang mengancam jiwa (diperkirakan melibatkan struktur penting di bawahnya).
5. Luka yang berada pada area mengandung jaringan areolar longgar bervaskularisasi tinggi, misalnya
daerah alis mata.

Imunisasi Tetanus
Tetanus merupakan penyakit infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani yang banyak
ditemukan di tanah atau kotoran binatang. Tetanus tidak akan terjadi jika seseorang telah diimunisasi secara
adekuat.

Imunisasi tetanus pada anak diberikan sebanyak 3kali dengan interval 1 bulan. Berikutnya pasien harus
mendapatkan imunisasi booster tiap10 tahun untuk tetap kebal terhadap tetanus seumur hidup. Jika luka
terkontaminasi oleh tanah atau kotoran binatang, pasien harus diberikan booster tetanus jika imunisasi tetanus
terakhir lebih dari 5 tahun sebelumnya. Jika luka bersih, misalnya terpotong pisau atau pecahan kaca, riwayat
imunisasi 10 tahun sebelumnya cukup adekuat memberikan kekebalan terhadap tetanus.

Indikasi pemberian ATS profilaktik dengan ATS1500 IU atau Ig Tetanus 250 IU pada luka kotor
terkontaminasi, luka tusuk yang dalam.

DEBRIDEMENT LUKA
Debridement adalah proses mengangkat jaringan mati dan benda asing dari dalam luka untuk
memaparkan jaringan sehat dibawahnya. Jaringan mati bisa berupa pus, krusta, eschar (pada luka bakar), atau
bekuan darah. Debridement harus dilakukan karena:
1. Jaringan mati akan mengganggu penyembuhan luka, meningkatkan risiko infeksi dan menimbulkan
bau.
2. Debridement akan memicu drainase yang inadekuat, menstimulasi penyembuhan dengan
menciptakan milieu luka yang optimal.
3. Microtrauma akibat debridement mekanisme menstimulasi rekruitmen trombosit yang akan
mengawali fase penyembuhan luka. Platelet-derived GrowthFactor (PDGF) dan Transforming Growth
Factor (TGF) dalam granula alfatrombosit mengendalikan penyembuhan luka selama fase inflamasi.

Terdapat beberapa jenis teknik debridement:


1. Surgical debridement (sharp debridement)
2. Mechanical debridement:
a. Wet-to-drydressing, dimana kassa lembab ditutupkan di atas luka dan dibiarkan mengering. Jaringan
nekrotik akan ikut terangkat saat kassa diangkat. Kekurangan metode ini adalah :
- Sangat menyakitkan
- Perdarahan
- Merusak jaringan epitel regeneratif yang baru terbentuk.
b. Irigasi dengan saline bertekanan tinggi lebih menguntungkan karena tidak menyakitkan dan tidak
merusak jaringan.
3. Chemical debridement:
a. Dengan aplikasi obat-obat mengandung enzim proteolitik (misalnya collagenase) yang akan melisiskan
jaringan nekrotik.
b. Dengan aplikasi balutan yang akan melunakkan jaringan nekrotik (misalnya pembalut yang
mengandung hydrogelatau hydrocolloid untuk luka yang kering, dan alginate atau cellulose untuk luka
basah). Jaringan nekrotik yang sudah lunak kemudian diangkat secara manual. Cara ini kurang efisien
karena memerlukan waktu lebih lama.
4. Biological debridement:
Terapi larva, yangdipergunakan adalah larva Lucilia sericata (green bottlefly). Larva diaplikasikan pada luka.
Larva dibiarkan mencerna jaringan nekrotik dan bakteri, serta meninggalkan jaringan sehat. Meski cukup
efisien, efikasi terapi ini masih menjadi kontroversi.

Kontraindikasi debridement:
1. Penyakit stadium terminal (kecuali jika jaringan nekrotik sangat berbau).
2. Terapi antikoagulan
3. Pyoderma gangrenosum

DEBRIDEMENT LUKA MENGGUNAKAN SCALPEL (SHARP DEBRIDEMENT)


Jika luka tertutup oleh jaringan nekrotik berwarna kehitaman atau debris tebal, mencuci luka dan balutan
saja belum adekuat untuk membersihkan luka. Diperlukan pembersihan luka secara tajam (sharp debridement) untuk
mengangkat jaringan luka dan debris yang menempel erat di dasar luka. Merupakan teknik debridement yang paling
cepat dan paling efisien.

Prosedur :
Mungkin diperlukan sedasi atau anestesi umum. Akan tetapi, biasanya pada jaringan nekrotik yang telah
mati tidak ada sensasi lagi, sehingga debridement dapat dilakukan dengan anestesi lokal oleh dokter umum ditempat
praktek atau bedside pasien.

Debridement dilakukan menggunakan forcep. Pegang tepi jaringan nekrotik dengan ujung forcep,
pergunakan gunting yang tajam untuk memisahkannya dari luka dibawahnya. Jaringan sehat ditandai dengan
terjadinya perdarahan bila terluka, jadi bersihkan jaringan nekrotik sampai tampak perdarahan pada potongan yang
menandakan batas jaringan sehat. Luka bersih, siap untuk ditutup secara primer.

PENUTUPAN LUKA SECARA PRIMER


Luka harus ditutup secara primer (dengan jahitan atau flap kulit) jika:
1. Struktur pentingdi bawah kulit terpapar (otot, tendo, tulang).
2. Luka terjadi diarea dimana terbentuknya jaringan parut akan mengganggu fungsi (luka di area
persendian,dibawah kelopak mata atau dilipatan-lipatan kulit,seperti fossa cubiti, leher dan aksila) dan
mengakibatkan problem kosmetik (luka di wajah).

MENJAHIT LUKA LASERASI


Teknik menjahit luka dapat dilihat dalam buku pedoman keterampilan BEDAH MINOR.

Membalut luka yang ditutup secara primer


Menutup luka jahitan (kecuali luka diwajah dan kepala) menggunakan balutan steril tidak menempel (non-
adherent). Menutup luka dan memberikan antibiotika topical mencegah luka mengering yang akan mengganggu re-
epitelisasi. Penggunaan antibiotik topikal secara rutin masih kontroversial. Antibiotika tidak diperlukan untuk laserasi
yang bersih dan sederhana. Antibiotika harus diberikan pada luka jahitan yang tidak ditutup, luka terkontaminasi,
lukakotor, crush laceration, fraktur terbuka, kerusakan tendon, luka gigitan, dan pada pasien dengan status
immunocompromised.

Instruksikan kepada pasien untuk menjaga luka tetap kering dalam 12-24 jam pertama. Berikutnya, perban
diganti setiap 24 jam, sebelumnya luka dibersihkan perlahan dengan air dan sabun yang lembut. Tidak dianjurkan
untuk mengompres atau merendam luka. Sebaiknya luka tidak terpapar sinar matahari langsung selama 6-12 bulan
karena dapat mengakibatkan hiperpigmentasi pada parut.

Luka biasanya akan merapat dalam 24-48 jam dan sembuh dalam 8-10 hari. Menutup luka dengan
perban non-adheren selama 24-48 jam sudah adekuat, selanjutnya luka dibiarkan terpapar udara.

Perawatan harian luka yang ditutup secara primer


Perawatan luka yang ditutup secara primer relatif sederhana.
 Setelah dijahit, diberikan aplikasi salep antibiotika atau vaselin tipis-tipis, kemudian tutup luka dengan kassa
steril dan diplester.
 Kassa diganti setelah 24 jam.
 Luka dijaga tetap bersih dan kering. Pasien boleh mandi, luka dibersihkan dengan air dan sabun dengan
seksama, kemudian segera dikeringkan dengan handuk bersih dan kering. Aplikasikan salep antibiotika tipis-
tipis pada garis jahitan, kemudian luka kembali ditutup dengan kassa steril.
 Luka ditutup selama 3-5 hari (tergantung ukuran luka), kemudian dibiarkan dalam keadaan terbuka sampai
jahitan diangkat.
 Pada luka diujung-ujung ekstremitas, mintalah pasien untuk melakukan elevasi kaki dan tangan secara
berkala untuk mengurangi oedema jaringan, sehingga membantu penyembuhan luka.
 Jahitan diangkat setelah 5-7 hari(luka di wajah), 10-14 hari (luka di tangan atau di tempat-tempat lain
dengan regangan tinggi,misalnya diatas persendian) atau 7-10 hari (di tempat lain).

Instruksikan pasien untuk datang kembali jika terlihat tanda-tanda infeksi lokal pada luka.

Komplikasi:
1. Infeksi
2. Dehisensi jahitan
3. Benda asing tertinggal.
4. Kerusakan jaringan yang lebih dalam tidak teridentifikasi.
5. Pembentukan parut.

Kontraindikasi penutupan luka secara primer:


1. Infeksi.
2. Luka dengan jaringan nekrotik.
3. Waktu terjadinya luka lebih dari 6 jam sebelumnya, kecuali bila luka di area wajah.
4. Luka kotor yang tidak dapat dibersihkan secara sempurna, sehingga masih terdapat benda asing di dalam
luka.
5. Perdarahan dari luka.
6. Diperkirakan terdapat “dead space”setelah dilakukan jahitan.
7. Tegangan dalam luka atau pada kulit disekitar luka terlalu tinggi, mengakibatkan perfusi jaringan di sekitar
luka buruk.

Terkadang luka dapat dibiarkan terbuka tanpa usaha menutup luka secara primer, bila:
1. Luka berukuran kecil (kurang dari 1.5cm).
2. Struktur penting di bawah kulit tidak terpapar.
3. Luka tidak terletak di area persendian dan area yang penting secara kosmetik.
4. Luka bakar derajat 2.
5. Waktu terjadinya luka lebih dari 6 jam sebelumnya, kecuali bila luka di area wajah.
6. Luka terkontaminasi (highly contaminated wounds), misalnya luka gigitan (binatang atau manusia) atau luka
yang sangat kotor.
7. Diperkirakan terdapat “deadspace” setelah dilakukan jahitan. Deadspace terjadi karena hilangnya sebagian
jaringan subkutan, atau bila terdapat oedema kulit di sekitar luka. Jika luka ditutup secara primer, darah akan
terkumpul dalam deadspace, sehingga akan meningkatkan risiko infeksi dan memperlambat proses
penyembuhan luka.
8. Kulit yang hilang akibat luka cukup luas atau disekeliling luka terdapat oedema jaringan yang hebat. Bila
dilakukan penutupan luka secara primer, biasanya jahitan akan menjadi terlalu kencang sehingga akan
mengganggu vaskularisasi jaringan ditepi luka. Jaringan akan mengalami iskemia dan nekrosis.

Pada penyembuhan luka sekunder, tepi luka tidak dapat menyatu dengan mudah, karena terjadi hilangnya
jaringan yang cukup luas atau karena infeksi. Biasanya luka terbuka, dengan pembentukan kavitas. Penyembuhan
dimulai dari dasar luka dan diakhiri dengan kontraksi tepi-tepi luka.

Gambar 9.Terbentuknya jaringan granulasi pada penyembuhan sekunder, A.Luka dibiarkan terbuka, B. Luka mengecil
setelah 2 minggu dressing dengan salep antibiotika, C. Jaringan parut setelah luka sembuh.

Luka harus dinilai secara cermat untuk menyingkirkan kemungkinan terjadinya kerusakan struktur internal
yang memerlukan eksplorasi segera diruang operasi. Evaluasi dan mencuci luka sering menyakitkan sehingga
terkadang diperlukan pemberian anestesi lokal.

Lamanya penyembuhan luka bervariasi, tergantung pada faktor intrinsik dan ekstrinsik yang mempengaruhi
penyembuhan luka. Pemilihan balutan utamanya bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang optimal bagi
penyembuhan luka.

Penyembuhan luka tersier, biasanya terjadi jika dokter menilai penutupan luka secara primer belum dapat
dilakukan karena adanya infeksi, gangguan vaskularisasi atau regangan berlebihan pada tepi-tepi luka. Dokter akan
memberikan antibiotika dan anti-inflamasi untuk menghilangkan infeksi, inflamasi dan memperbaiki vaskularisasi
jaringan. Biasanya pasien diminta datang kembali 3-4hari kemudian untuk dilakukan re-assessment luka dan
dilakukan penutupan secara primer jika kondisi luka sudah memungkinkan. Selama menunggu penutupan secara
primer, perawatan luka sama dengan perawatan luka yang ditutup secara sekunder.

Komplikasi utama setelah tindakan penjahitan luka adalah infeksi dan dehisensi. Pasien harus diberiin
formasi bagaimana mengenali tanda-tanda awal infeksi pada luka dan sekitar luka. Tanda-tanda tersebut jangan
sampai disalahartikan sebagai tahapan inflamasi dari penyembuhan luka, yang biasanya terjadi 3-7 hari setelah
penutupan luka. Bila terjadi dehisensi luka, maka pilihan penatalaksanaannya adalah dengan penyembuhan sekunder
atau tersier.

MENUTUP LUKA(WOUNDDRESSING)
Karakteristik Pembalut Luka yang Ideal
Pembalut luka yang ideal harus dapat memberikan lingkungan yang optimal bagi penyembuhan luka dan
melindungi luka dari trauma. Berikut ini adalah karakteristik pembalut luka yang ideal :
1. Dapat mempertahankan kelembaban pada area luka. Dasar luka yang kering menghambat
penyembuhan luka.
2. Dapat menyerap eksudat yang berlebihan. Cairan berlebihan di sekitar luka mengakibatkan maserasidan
berpotensi infeksi.
3. Mempertahankan suhu dalam luka tetap optimal bagi penyembuhan luka dan melindungi luka dari
perubahan suhu lingkungan. Penurunan suhu di dasar luka akan menghambat aktifitas fibroblast.
4. Impermeable terhadap mikroorganisme.
5. Cukup menempel dengan erat sehingga tidak mudah terlepas, namun tidak memberikan traumayang
berlebihan saat penggantian pembalut. Pembalut yang menempel terlalu erat sehingga sulit dilepas
mengakibatkan rasa nyeri dan rusaknya jaringan granulasi baru yang masih rapuh.
6. Harga tidak terlalu mahal.
7. Mudah diperoleh.
8. Aplikasi sederhana sehingga penggantian pembalut dapat dilakukan sendiri oleh pasien atau keluarganya di
rumah.

TEKNIK PEMASANGANBALUTAN

A. Balutan basah-kering
Indikasi : untuk membersihkan luka kotor atau terinfeksi.
Teknik :
 Lembabkan kassa dengan saline steril.
 Buka lipatannya dan tutupkan pada luka.
 Pasang lembaran kassa steril kering di atasnya.
 Biarkan kassa menjadi kering kemudian diangkat.
 Saat kassa terangkat akan membawa serta debris. Jika kassa menempel terlalu erat, lembabkan
kassa supaya mudah diangkat.
Idealnya balutan diganti 3-4 kali sehari. Bahkan dapat lebih sering pada luka sangat kotor. Pada luka bersih,
balutan boleh diganti1-2 kali sehari.

B. Balutan basah-basah
Indikasi :
- Mengusahakan luka agar tetap kering
- Menyerap eksudat
Teknik :
 Lembabkan kassa dengan saline steril.
 Buka lipatannya dan tutupkan pada luka.
 Pasang lembaran kassa kering diatasnya.
 Kassa tidak boleh mongering dan menempel pada luka.
Idealnya balutan diganti 2-3 kali sehari. Jika terlihat mengering, tuangkan sedikit saline ke atasnya.

C. Salep antibiotika
Indikasi : supaya luka bersih tetap bersih; menstimulasi penyembuhan luka.
Cara :
- Aplikasikan salep di atasluka tipis-tipis menggunakan aplikator atau cotton bud.
- Tutup dengan kassa kering.
- Salep diaplikasikan 1-2 kali sehari.

D. Memilih balutan
- Untuk luka bersih, gunakan balutan basah-basah atau balutan mengandung pelembab.
- Untuk luka yang memerlukan debridement, gunakan balutan basah-kering sampai luka bersih dan
diganti dengan regimen balutan yang berbeda.
- Untuk luka yang tertutup oleh jaringan nekrotik, tetap harus dilakukan debridement mekanis, baru
kemudian ditutup dengan balutan yang sesuai.
MENGGANTI BALUTAN
Langkah 1: Melepas balutan
Tindakan melepas perban merupakan tahapan yang paling menyakitkan selama penggantian balutan karena perban
mungkin telah kering atau ada bagian yang menempel pada luka, sehingga langkah ini harus dilakukan sangat hati-
hati. Melembabkan balutan menggunakan saline dapat memudahkan melepas balutan yang menempel. Olehkarena
itu, penting untuk mempertahankan kelembaban di area luka, salah satunya adalah untuk memudahkan saat
penggantian balutan.

Langkah 2 : Membersihkan luka


Luka dicuci menggunakan saline. Sebaiknya tidak menggunakan sabun atau larutan pembersih lain karena justru
akan merusak sel-sel baru dan melarutkan substansi-substansi biokimia alamiah yang penting untuk penyembuhan
luka. Bahan kimia justru juga akan membuat kulit kering sehingga luka akan lebih nyeri. Setelah luka bersih,
keringkan hati-hati dengan handuk bersih dan kering.

Langkah 3 :Mengaplikasikan obat-obat topikal


Pada luka kronis,obat topical digunakan untuk memanipulasi suasana lingkungan di dasar luka.Yang sering diberikan
adalah antibiotika topikal atau pelembab (moisturizer). Jika masih terdapat jaringan nekrotik dapat diberikan obat
yang mengandung enzim proteolitik (papain, urea, collagenase). Obat diaplikasikan menggunakan lidi kapas secara
merata keseluruh dasar luka.

Langkah 4: Memasang perban baru


Dipasang 2 lapis perban. Perban lapis pertama dipilih yang dapat mempertahankan kelembaban luka dan menjaga
dasar luka tetap bersih. Perban lapis kedua dipilih yang dapat menempel dengan erat sehingga melindungi luka dari
trauma.

Abrasi
• Setelah pencucian luka, tutup luka dengan kassa perban atau bebat. Berikan kompresi luka bila masih terjadi
perdarahan, kecuali bila sumber perdarahan dari arteri.
• Lingkungan dengan kelembaban optimal akan mempercepat penyembuhan luka dengan mencegah dehidrasi
sel, terutama akhiran saraf, serta menstimulasi sintesis kolagen dan
angiogenesis, sehingga mengurangi nyeri dan risiko infeksi serta memperbaiki hasil
kosmetik. Lingkungan yang lembab diciptakan dengan menutup luka menggunakan antibiotika topikal dan
mengaplikasikan perban occlusive mengandung lapisan atau gel hidrokoloid yang akan melembabkan luka dan
mencegah penguapan cairan berlebihan.
 Pemilihan pembalut luka tergantung pada sebab, ukuran, kedalaman, lokasi, jumlah eksudat yang dihasilkan
dan kontaminasi luka. Perban oklusif mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan luka dan lebih nyaman
untuk pasien,meski lebih mahal dibandingkan pembalut kassa. Pembalut basah yang memicu maserasi
jaringan dan proliferasi bakteri harus dihindari. Antibiotika sistemik untuk profilaksi tidak perlu diberikan
secara rutin, kecuali bila luka kotor, terkontaminasi atau terinfeksi.
 Setelah luka dicuci dengan irigasi saline dan dibersihkan dari benda asing, abrasi yang hanya meliputi
epidermis dan bagian superfisial dermis dapat diolesi antibiotik topikal dan ditutup dengan balutan oklusif.
 Abrasi sampai di bawah dermis,terutama bila luasnya melebihi 1cm 2 atau melibatkan struktur dibawahnya,
dan luka abrasi yang tidak sembuh dalam 2 minggu memerlukan konsultasi bedah plastik dan penatalaksanaan
lebih lanjut, misalnya grafting.
• Pada abrasi yang disebabkan ledakan, kembang api atau kecelakaan lalu lintas (kontak dengan aspal jalan atau
permukaan yang kotor) sehingga partikel kotoran masuk ke dalam jaringan, diperlukan scrubbing luka dengan
sikat. Selama prosedur, dapat diberikan lidokain topikal, anestesi local infiltratif atau anestesi regional (bila
luka berukuran kecil-sedang) dan analgetik opioid atau sedative bila abrasi luas. Pengangkatan partikel benda
asing dari dalam luka sebelum 24 jam memberikan hasil akhir kosmetik yang baik.

RE-ASSESSMENT LUKA
Saat pasien datang kembali kepada dokter, dokter harus melakukan re-assessment luka untuk
memastikan manajemen luka yang diberikan efektif dalam membantu penyembuhan luka.
1. Menilai status kesehatan pasien secara umum. Memastikan status kesehatan tetap optimal untuk
penyembuhan luka.
2. Memastikan vaskularisasi ke area luka tetap baik.
3. Memeriksa perubahan ukuran luka.
4. Mengamati perubahan pada luka (dasar luka, tepi luka, jaringan di sekitar luka).
5. Mengamati produksi discharge (berkurang atau bertambah)
6. Menilai apakah manajemen yang diberikan masih efektif untuk penyembuhan luka.
7. Mendokumentasikan perubahan yang terjadi tiap kali penggantian balutan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG DALAM MANAJEMEN LUKA


1. Pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mencari faktor risiko dan faktor prognosis yang akan
mempengaruhi penyembuhan luka.

Tabel 6. Pemeriksaan Laboratorium dalam Manajemen Luka


Pemeriksaan Tujuan
- Jumlah lekosit, hitung jenis lekosit, laju endap Mengetahui kemungkinan infeksi.
darah, C-reactive protein (CRP)
- Hemoglobin (Hb) Mengetahui adanya anemia, menilai oksigenasi
jaringan.
- Glukosa Mengetahui adanya diabetes
- HbA1c Menilai pengendalian diabetes
- Kadar protein dan albumin Menilai adanya malnutrisi dan risiko keterlambatan
penyembuhan luka
- Rheumatoid factor, autoantibody (misalnya anti- Mengetahui adanya rheumatoid arthritis dan
nuclear antibody-ANA) penyakit autoimun.
- Pemeriksaan mikrobiologi (usapan dasar luka, Mengidentifikasi kuman penyebab infeksi luka dan
kemudian dilakukan pengecatan Gram, kultur dan jenis-jenis antibiotik yang masih sensitif terhadap
uji sensitivitas terhadap antibiotik) kuman.

2. Pemeriksaan lainnya:
Pemeriksaan radiologi: untuk mengetahui adanya osteomyelitis sebagai komplikasi dari luka kronis.

JENIS LUKA KRONIS DAN PRINSIP MANAJEMENNYA

ULKUS DI KAKI
 Ulkus kaki kronis didefinisikan sebagai luka terbuka pada ekstremitas inferior di antara lutut dan tumit, tidak
sembuh dalam 4 minggu.
 Penyebab: penyakit vaskuler, infeksi, tekanan, keganasan, penyakit jaringan ikat, penyakit metabolik, obat-
obatan, gigitan serangga, trauma dan penyakit autoimun.

Ulkus Venosa:
Patogenesis : gangguan drainase vena akibat tingginya tekanan hidrostatis.
Predileksi : di atas maleolus medialis dan maleolus lateralis.
Pada inspeksi :
- Ulkus cenderung dangkal tanpa batas ulkus (punched out).
- Lipodermatosclerosis: deposisi jaringan ikat secara progresif di dalam dermis dan lemak subkutan
mengakibatkan indurasi yang keras dengan perubahan warna kaki bagian bawah menjadi
kecoklatan.
- Atrofi kulit yang tampak sebagai area berwarna putih dengan kulit yang lebih tipis.
- Eczema atau dermatitis stasis.
Penatalaksanaan: balutan non-adheren sederhana dengan kompresi menggunakan beberapa lapis perban
elastis.

Ulkus arterial
Jarang, tapi bila terdapat insufisiensi arterial, akan mengganggu penyembuhan luka.
Faktor risiko :
merokok, hiperlipidemia, diabetes, hipertensi, obesitas, usia lanjut, trauma, sickle celldisease, dan penyakit
kardiovaskuler.
Inspeksi :
- Jika pasien berbaring mendatar ditempat tidur kaki terlihat pucat, mengindikasikan iskemia.
- Pada beberapa kasus, kulit dapat terlihat kemerahan atau kebiruan sianotik karena gangguan
perfusi akibat stagnasi darah di dalam arteriole yang mengalami dilatasi.

Predileksi : Ulkus arterial sering terjadi di dorsum pedis,ventral ibu jari, di atas maleolus dan di bawah tumit.

Kombinasi ulkus venosus dan ulkus arterial.


Ulkus arterial dan Kombinasi ulkus venosus dan ulkus arterial harus dirujuk ke spesialis yang kompeten.

ULKUS DIABETIKUM
Penderita diabetes mempunyai problem neuropati dan angiopati (arterial dan venosa).
Diabetes tipe II mempunyai risiko 3-5 kali lebih tinggi untuk terjadinya penyakit arteri perifer dibandingkan non-
diabetes. Pada pasien dengan penyakit arteri perifer dan diabetes, risiko terjadinya infark miokardium dan stroke
lebih tinggi, dan kejadian amputasi meningkat hampir 7 kali lipat.
Hilangnya sensasi meningkatkan risiko trauma di kaki yang tidak disadari, berkembangmenjadi ulkus dan terinfeksi.
Predileksi: kaki, terutama pada area tonjolan tulang dan tempat-tempat yang sering terkena tekanan, gesekan atau
trauma.
Manajemen ulkus diabetikum cukup kompleks dengan angka amputasi cukup tinggi, sehingga manajemen ulkus
diabetikum harus dirujuk ke spesialis yang terkait.

KESIMPULAN
1. Dalam melakukan manajemen luka, sangat penting untuk memahami faktor-faktor yang
menghambat dan mempercepat penyembuhan luka
2. Perhatikan status kesehatan umum dan adanya penyakit-penyakit tertentu pada pasien yang dapat
mempengaruhi penyembuhan luka
3. Lakukan identifikasi penyebab luka, jenis luka, tahapan penyembuhan luka, keadaan dasar luka dan
jaringan di sekitar luka.
4. Diperlukan penilaian luka secara menyeluruh meliputi penilaian terhadap faktor predisposisi, faktor
prognosis dan penampilan luka.
5. Dokumentasikan hasil penilaian luka secara sistematis.
6. Manajemen luka berbeda untuk tiap jenis luka dan tahapan penyembuhan luka. Lakukan penilaian
kembali (re-assessment) secara periodik untuk menyesuaikan penatalaksanaan yang akan diberikan.
7. Sangat penting untuk menyadari batas kemampuan diri dan sumber daya yang tersedia. Dokter
harus dapat mengidentifikasi indikasi rujukan dan melakukan rujukan pasien ke spesialis yang
kompeten pada saat yang tepat untuk mencegah perburukan luka yang berakibat fatal (kecacatan,
infeksi meluas, septicemia dan kematian).
LEMBAR PENILAIAN MAHASISWA MELAKUKAN WOUND ASSESSMENT

Skor
NO ASPEK KETRAMPILAN YANG DINILAI
0 1 2
MELAKUKAN ASSESSMENT TERHADAP PASIEN
Melakukan anamnesis
1. Menanyakan keluhan yang dirasakan saat ini
(tergantung luka baru atau luka lama bila terdapat nyeri, melakukan anamnesis
meliputi 7 butir mutiara anamnesis untuk nyeri)
2
. Menanyakan riwayat luka
3
. Menggali riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan
4
. Menggali riwayat penanganan luka yang pernah diperoleh
5
. Menilai konsekuensi luka dan bekas luka bagi pasien
Melakukan pemeriksaan fisik
6
. Melakukan penilaian hasil tanda vital
7 Melakukan penilaian pemeriksaan fisik umum (status gizi, anemia, gangguan
. kardiovaskuler, gangguan neurologis, infeksi)
8 Menilai adanya kerusakan struktur di bawah luka (pembuluh darah, syaraf,
. ligamentum, otot, tulang)
MELAKUKAN ASSESSMENT TERHADAP PASIEN
9 Melakukan inspeksi luka secara umum (lokasi, onset terjadinya luka, jenis luka,
. tingkat kontaminasi)
1
0
. Menilai adanya benda asing dalam luka
1
1
. Menilai keadaan dasar luka(identifikasi jenis jaringan di dasar luka)
1
2 Melakukan pengukuran luka (panjang, lebar, kedalaman, luas dasar luka, sinus,
. kavitas, undermining)
1
3
. Menilai kelembaban luka(jenis dan jumlah discharge)
1
4
. Menilai bau luka
1
5
. Menilai keadaan tepi luka dan kondisi jaringan disekeliling luka
1
6
. Melaporkan kesimpulan hasil pemeriksaan
1
7
. Menentukan penatalaksanaan luka yang akan dilakukan
PENILAIAN ASPEK PROFESIONALISME
JUMLAH SKOR

LEMBAR PENILAIAN MAHASISWA MELAKUKAN RUMATAN LUKA

ASPEK KETERAMPILAN YANG DINILAI SKOR


NO
Melakukan re-assessment luka 0 1 2
1. Meanyakan keluhan yang dirasakan saat ini
2. Menilai perubahan status kesehatan pasien secara umum (tanda vital, tanda –
tanda infeksi)
3. Memastikan vaskularisasi ke area laku tetap baik (mengecek pengisian kapiler,
pulsasi arteri distal luka)
4. Memeriksa perubahan ukuran luka
5. Mengamati perubahan pada luka (dasar luka, tepi luka, jaringan di sekitar luka)
6. Mengamati perubahan produksi discharge
7. Menilai apakah manajemen yang diberikan masih efektif untuk penyembuhan luka
Mengangkat perban dan mengganti balutan
8. Mengetahui waktu pengakatan jahitan dengan benar sesuai lokasi dan tingkat
penyembuhan luka
9. Melakukan teknik aseptic dengan benar (mencuci tangan, mengenakan sarung
tangan)
10. Melepaskan balutan
11. Membersihkan luka dengan kassa mengandung saline steril
12. Menggunting benang jahit di bawah simpul sedekat mungkin dengan kulit
13. Menarik benang dengan cara menjepitnya
14. Menilai kerapatan dan tingkat penyembuhan luka
15. Mengeringkan luka menggunakan kassa steril
16. Mengaplikasikan obat-obat topical
17. Menutup kembali dengan kassa steril dan diplester
Aspek Profesionalisme
JUMLAH SKOR

Penjelasan :
0 Tidak dilakukan mahasiswa atau dilakukan tetapi salah
1 Dilakukan tapi belum sempurna
2 Dilakukan dengan sempurna atau bila aspek tersebut tidak dilakukan mahasiswa karena situasi yang tidak
memungkinkan (misal tidak diperlukan dalam scenario yang sedang dilaksanakan)

NilaiMahasiswa =JumlahSkor x 100% = ...................


38
TRANSPORTASI MEDIS DALAM PELAYANAN JAMAAH HAJI

LATAR BELAKANG
Ibadah haji adalah Rukun Islam kelima yang merupakan kewajiban sekali seumur hidup bagi setiap orang
Islam yang mampu menunaikannya. Dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 97 dijelaskan bahwa mengerjakan haji
adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu (istithaah) mengadakan perjalanan ke
Baitullah. Dengan demikian, istithaah menjadi hal penting dalam pelaksanaan ibadah haji, yang dalam Fiqih Islam,
Istithaah (termasuk Istithaah Kesehatan) dinyatakan sebagai salah satu syarat wajib untuk melaksanakan ibadah
haji. Profil jemaah haji Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir cenderung tidak mengalami perubahan yang
signifikan. Sebanyak 55 s/d 56% jemaah haji Indonesia adalah ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan masih
tergolong rendah sampai menengah. Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Kesehatan
(Siskohatkes), hampir setiap tahun sekitar 60 s/d 67% dari total jemaah haji yang berangkat ke Tanah Suci,
tergolong dalam kelompok Risiko Tinggi (Risti) yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan jemaah
haji dalam menjalankan ibadahnya di Tanah Suci. Angka kesakitan dan kematian cenderung berfluktuatif, namun
masih dapat dinyatakan tinggi.

Penyakit degeneratif, metabolik dan kronis masih mendominasi sebagai penyakit yang diderita oleh jemaah
haji terutama jemaah haji dengan usia lanjut. Setiap tahunnya, jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi
sebagian besar disebabkan oleh penyakit jantung, pernapasan, ginjal, metabolik,dan hipertensi. Namun
demikian, dilain pihak ancaman penyakit penyakit yang diperoleh di Arab Saudi (risiko eksternal) seperti heat
stroke, MERS-CoV, Ebola, Zika dan meningitis merupakan penyakit yang perlu diwaspadai, karena selain
berpotensi sebagai wabah juga memiliki fatalitas yang tinggi.

Transportasi medik (medical transport) merupakan elemen penting yang memiliki peran memindahkan
pasien dari fasilitas rural ke sentral dengan mempertahankan stabilitas hemodinamik khususnya pasien kritis
selama transfer. Transportasi medik terdiri dari transportasi darat, udara (inflight medical transport) dan laut.
Transportasi udara dan darat merupakan sistem transfer pasien yang paling utama pada pelayanan jamaah haji.
Petugas medis diharuskan mampu melakukan pengenalan awal (early recignition) tanda-tanda penyakit berat dan
resiko tinggi.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan pemahaman standard sarana, obat-obatan,
komunikasi, sistem dan tim medis khusus dalam transfer pasien. Selain itu keterampilan individu, team work dan
kelompok juga diperlukan untuk mencapai tujuan transportasi medis tersebut.

Transport pasien dalam keadaan kritis mempunyai resiko pada pasien sehingga merupakan tantangan yang
sangat besar bagi para klinisi. Alasan untuk melakukan transport pada pasien adalah untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan tambahan, diagnostik atau terapiutik yang lebih canggih tidak tersedia.

Pasien dalam keadaan kritis memiliki sedikit atau tidak sama sekali cadangan fisiologis tubuhnya.
Memindahkan pasien seperti tersebut menimbulkan suatu masalah tersendiri dan dapat menimbulkan suatu
perubahan fisiologis yang merugikan dan dapat mengancam keselamatan pasien saat transportasi. Sehingga
transport pasien kritis harus dilakukan dengan persiapan yang matang dan perhatian yang seksama dan detail
pada hal-hal yang harus diperhatikan. Guideline atau pedoman sudah tersedia dan prinsip-prinsip utama dalam
melakukan transport pasien kritis meliputi 5P:

1. Planning (perencanaan)
2. Personnel (jumlah yang cukup disertai dengan kemampuan yang sudah terstandarisir dalam evakuasi
pasien kritis).
3. Properties (alat yang dipakai dalam transportasi)
4. Prosedur (alat yang dipakai mengukur kestabilan keadaan pasien sebelum dan saat diberangkatkan)
5. Passage (pilihan rute dan tehnik transport)
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Mahasiswa mampu memahami dan mengaplikasikan sistem transportasi medis dalam pelayanan kesehatan haji

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


1. Mahasiswa memahami tujuan transportasi medis
2. Mahasiswa memahami standard transportasi medis
3. Mahasiswa mampu mengaplikasikan transportasi medis pasien kritis

Alat-alat yang harus dipersiapkan


I. Alat bantu pernafasan
1. Intubasi
• Pipa endotrakeal dan konektornya - untuk dewasa dan anak-anak
• Introducer, bougie, forsep magill
• Laringoskop, bilah laringoskop, lampu laringoskop dan betere
• Alat tambahan: syringe untuk mengembangkan cuff, manometer, forsep klip, pipa endotrakeal leher
angsa, jelly untuk pelicin, plester, filter penyerap cairan.

2. Alat bantu nafas lain


• Sederhana : nasofaring dan Guedel
• Supraglotik : laryngeal mask dan combitube
• Infraglotik : krikotirotomi set dan pipa krikotiroid

3. Masker oksigen: (termasuk masker oksigen untuk FiO2 bertekanan tinggi, tubing dan nebulizer.

4. Alat suction
• Sistem utama: biasanya terpasang pada kendaraan transport
• Portable suction
• Suction tubing, alat pemegang suction, kateter, cadangan alat tersebut.

5. Self inflating hand ventilator, mask dan PEEP (positive end expiratory pressure) valve.
6. Ventilator portable dengan alarm (alarm disconnect dan overpressure).
7. Sirkuit ventilator dan cadangannya.
8. Spirometer dan manometer cuff ( pengukur tekanan cuff pipa endotrakeal)
9. Capnograf (pengkur kadar karbondioksida)

10. Alat drainase pleura :


• Kateter interkosta dan kanula-nya.
• Set alat bedah beserta alat dan benang jarit.
• Heimlich type valve dan drainage bags

11. Sistem oksigen utama (biasanya sudah ada di kendaraan transport medis) yang sudah cukup terisi
oksigen dengan flowmeter dengan outlet dinding yang standar.

12. Tabung oksigen cadangan dengan flowmeter dan outlet standar.

II. Alat bantu sirkulasi


1. Defibrilator/monitor/pacu jantung eksterna beserta dengan leads, elektroda dan pads.
2. Peralatan pemberian cairan intravena:
• Berbagai cairan infus : kristaloid isotonik, dekstrose, koloid.
• Infus set dan blood set.
• Kanula intravena berbagai ukuran: perifer dan sentral
• Ekstensi intravena set (three way dan needle free injection system)
• Syringe, jarum
• Alcohol swipes (untuk desinfeksi kulit), plester dan peralatan dressing intravena.
• Pressure infusion bag
• Arteri line.
3. Peralatan monitoring tekanan darah
• Kanula arteri beserta arteri tubing dan transdusernya.
• Monitor tekanan darah invasif dan non invasif.
• Sphygmomanometer aneroid (non merkuri) dan cuff berbagai macam ukuran yang kompatibel
dengan monitor elektronik atau manual.
• Oksimeter nadi dengan probe jari dengan berbagai macam jenis serta ukurannya.

4. Syringe / infusion pump (minimal 2 buah) dan tubing yang sesuai.

III. Peralatan Lainnya.


1. Kateter urine dan drainase/ bag penampung urine
2. Gastric tube beserta bag penampungnya.
3. Peralatan bedah minor:
• Kateter interkostal , kateter vena sentral, krikotirotomi.
• Instrumen steril: skalpel, gunting, forsep, tempat jarum.
• Peralatan menjarit dan jarum jarit.
• Antiseptik, peralatan desinfeksi kulit dan perawatan pascatindakan.
• Sarung tangan steril (berbagai macam ukuran), gaun steril dan drapes.

4. Cervical collar, peralatan immobilisasi tulang belakang, splints.


5. Baju pneumatik antisyok (military antishock trousers/MAST).
6. Termometer (non merkuri) dan atau probe temperatur/ monitor.
7. Selimut reflektif dan kain penutup yangberfungsi sebagai penahan panas (thermal insulation drapes).
8. Perban, plester, gunting heavy duty.
9. Sarung tangan dan kacamata proteksi.
10. Wadah penampungan benda tajam dan terkontaminasi.
11. Pulpen dan map tempat tulis menulis.
12. Lampu senter.
13. Label untuk memberi tanda pada obat dan pulpen marker.
14. Dekongestan nasal (utnuk pencegahan barotitis).

Agen Farmakologi
1. Obat-obatan susunan saraf pusat:
• Golongan narkotika dan non-narkotika analgetika.
• Ansiolitik / sedatif
• Trankuiliser mayor
• Antikonvulsan.
• Hipnotika intravena/ obat anestetik
• Antiemetik
• Anestetik lokal.

2. Obat-obatan jantung:
• Antiaritmia.
• Antikolinergik.
• Inotropik/ vasokonstriktor.
• Nitrat.
• Alfa dan Beta-bloker dan obat hipotensif.

3. Elektrolit dan obat-obatan Renal:


• Sodium bikarbonat.
• Kalsium klorida
• Magnesium
• Antibiotika
• Oksitosin
• Potasium
• Loop diuretika
• Osmotik diuretika

4. Obat-obatan metabolik dan endokrin:


• Glukose (konsentrat) dan glukagon
• Insulin
• Steroid

5. Obat-obatan lain:
• Blok neuromuskular : depolarisasi dan non depolarisasi.
• Antikolinesterase ( untuk reverse obat blok neuromuskular).
• Antagonis narkotik dan benzodiazepine.
• Bronkodilator.
• Antihistamin.
• Penghambat reseptor H2 dan penghambat pompa proton.
• Antikoagulan atau trombolitik.
• Vitamin K.
• Tokolitik.

6. Cairan: saline dan air steril.

Peralatan Tambahan
1. Pacu jantung dan transvenous temporary pacing kit.
2. Darah (biasanya golongan darah O rhesus negatif dan atau produk darah lain.
3. Infusion pump cadangan dan peralatan pemasangan kanulasi vena cadangan.
4. Peralatan untuk melahirkan.
5. Peralatan khusus pediatrik tambahan.
6. Anti bisa atau anti racun binatang/serangga.
7. Obat-obatan spesifik lain dan antagonisnya.

FISIOLOGI TRANSPORT UDARA DAN KETINGGIAN


Seluruh kendaraan transport-evakuasi medis menimbulkan suara bising, getaran, turbulensi dan akselerasi.
Seluruh anggota team harus waspada terhadap komplikasi yang dapat terjadi yang berkaitan dengan ketinggian.
Seiring dengan peningkatan ketinggian di udara akan menimbulkan turunnya tekanan parsial oksigen sesuai
dengan hukum Dalton dan hukum Boyle.

Persyaratan kendaraan transport-evakuasi medis


Mobil Helikopter Pesawat Bersayap
Waktu berangkat 3-5 menit 5-10 menit 30-60 menit
Kecepatan 10-120 km/jam 120-150 knots 140-180 knots (piston)
230-271 knots
(turboprop)
375-460 knots (jet)

Jarak efektif 0-100 km (dapat 50-300 km 200-2000 km


lebih jauh bila perlu)
Tingkat kebisingan Rendah (kecuali bila sedang-tinggi Rendah-sedang (cruise)
kecepatan tinggi) Tinggi (takeoff-landing)

Getaran Bervariasi Sedang Rendah (cruise)


(tergantung Sedang-tinggi (takeoff/
permukaan) landing)
Akselerasi Bervariasi Minimal Signifikan (saat takeoff /
landing)

Kemampuan khusus Tergantung jenis Banyak (point- Kabin bertekanan khusus


Kendaraan to point tahan segala cuaca.
capability)
Biaya saat membeli Paling rendah Tinggi (US$ 1- Sedang (piston)
4,5 juta) Sangat Tinggi (jet)
tergantung
kemampuannya.
Biaya Operasional Sedang Sedang-Tinggi Rendah-sedang

OKSIGENASI DAN HIPOKSIA


Pasien kritis yang sudah tergantung dengan FiO2 yang tinggi akan terancam keselamatannya dengan
penurunan tekanan atmosfer. Suplementasi oksigen sangat diperlukan tetap menjaga agar PaO2 arteri tetap
stabil. Hanya pada keadaan tertentu misalnya penerbangan dengan helikopter atau dekompresi tiba-tiba kabin
pesawat, akan mengakibatkan timbulnya hipoksia pada anggota team, oleh karena itu semua anggota team harus
waspada akan gejala dan resiko yang akan terjadi.

EKSPANSI GAS
Ekspansi gas yang terperangkap dapat bermanifestasi pada rongga udara fisiologis, rongga udara patologis
dan alat-alat medis yang mengandung udara. Katagori rongga udara fisiologis yaitu rongga telinga tengah, sinus
nasalis dan saluran pencernaan. Hal ini dapat berefek pada anggota team ataupun pasien yang di evakuasi
sehingga anggota team yang mengalami infeksi saluran nafas bagian atas atau gangguan pencernaan tidak
diperkenankan untuk ikut terbang.

Katagori rongga udara patologis yaitu misalnya pneumothoraks, kiste paru emfisematus atau bulla pada
paru-paru, udara yang terperangkap di intraokuler atau intrakranial akibat trauma, obstruksi usus, ruptur atau
emboli gas pada saluran cerna. Pasien seperti tersebut tadi harus ditempatkan pada kabin pesawat yang paling
rendah atau ketinggian pesawat dibuat tidak terlalu tinggi terbangnya dengan monitor lengkap dan pengawasan
ekstra ketat terutama pada fase pesawat mendaki ketinggian terbangnya. Efek yang terjadi akibat
terperangkapnya gas pada organ berongga dapat dikurangi dengan denitrogenisasi dengan cara bernafas dengan
O2 100% sebelum dan saat terbang dalam pesawat.

Peralatan medis yang mengandung udara didalamnya seperti: pipa endotrakeal dan cuff pipa trakeostomi,
pipa sengstaken-blakemore, balon kateter arteri pulmoner, air splint, baju pneumatik anti syok (Military Anti
Shock Trouser suit) dan pleura, gaster dan beberapa tas untuk drainase luka. Tekanan pipa endotrakeal harus
diukur ulang saat penerbangan atau diisi dengan air. Peningkatan volume tidal pada ventilator pneumatik dapat
terjadi pada peningkatan ketinggian pesawat dan memerlukan perubahan setting dari ventilator tersebut.

TEKANAN DI KABIN PESAWAT


Hampir semua pesawat air ambulance memiliki kabin dengan tekanan tertentu, yang dapat mengurangi
hipoksia dan ekspansi gas. Kabin bertekanan tertentu artinya tekanan didalam kabin tersebut tetap dipelihara
stabil seperti tekanan sewaktu didarat dari itulah timbul istilah cabin altitude. Cabin altitude ini sangat tergantung
dari model pesawat udaranya, sebagian besar air ambulance jenis turboprop dapat mengatur tekanan kabin
sebanyak 350 mmHg (46,7 kPa) atau cabin altitude setinggi 1000m (3000 ft) saat terbang setinggi 6500 m (20.000
ft). Saat tekanan pengaturan maksimum tercapai, pengaturan tekanan hanya dapat dicapai dengan menurunkan
ketinggian pesawat dan tentunya hal ini dapat mengancam keselamatan penerbangan itu sendiri contohnya
dengan menurunkan ketinggian pesawat akan menimbulkan
penambahan turbulensi atau goncangan pada pesawat (apabila hal tersebut dilakukan dibawah standar
penerbangan terendah yang boleh dilakukan). Sehingga apabila hal tersebut sudah tercapai maka team transport-
evakuasi medis tidak boleh meminta penerbang menurunkan lagi ketinggian jelajah pesawat. Kegagalan
pengaturan tekanan dalam kabin sangat jarang terjadi dan apabila terjadi akan terjadi hal dramatis terjadi pada
pasien sehingga seluruh anggota team transpor evakuasi medis harus tahu apa yang mesti dilakukan.

PERUBAHAN YANG TERJADI SAAT PENINGKATAN KETINGGIAN

Ketinggian Tekanan PO2 Alveolar Ruang Temperatur


(m) (mmHg) (udara) (O2100%) ekspansi gas Standar
(%) (80C)

0 760 103 663 - 15

304,8 733 98 636 13,6 13


609,6 706 94 609 18 11
914,4 681 89 584 112 9
1219,2 656 85 559 116 7
2133,6 586 73 489 129 1
3048 523 61 426 145 25
4572 429 45 332 177 214,5
6096 349 34 252 1117 224,5
7620 282 30 185 1170 234
12192 141 10 61 1439 256