Anda di halaman 1dari 94

HUKUM PIDANA INTERNASIONAL

H. DUDUNG MULYADI, S.H., M.H.


IWAN SETIAWAN, S.H., M.H.
MAMAY KOMARIAH, S.H., M.H.
BAB I
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN
HUKUM PIDANA INTERNASIONAL

A. Sejarah Hukum Pidana Internasional


Hukum Pidana Internasional (HPI) telah diakui
merupakan disiplin ilmu baru dalam ilmu hukum sejak
berakhirnya Perang Dunia Kedua (1945). Hukum Pidana
Internasional telah diakui secara internasional pertama kali
terjadi melalui resolusi yang diajukan Sidang Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 21 November
1947. Resolusi tersebut menghendaki dibentuknya suatu
panitia kodifikasi Hukum Internasional atau The Commite
on Codifikation of International Law.
Sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua, posisi
Hukum Pidana Internasional (HPI) diakui semakin penting
dan relevan sehubung dengan proses pembentukan dan
keberhasilan peradilan Nuremberg (1946) dan peradilan
Tokyo (1948) dalam menuntut dan mengadili mereka yang
dianggap sebagai penjahat perang.
Hukum pidana internasional merupakan gabungan
dari dua disiplin hukum, yaitu hukum internasional dan
hukum pidana. Tetapi tetap saja hukum pidana internasional
merupakan disiplin hukum baru dan harus berdiri sendiri
karena hukum pidana internasional mempunyai objek
kajian, asas-asas dan kaidah yang terlepas dan berbeda dari
dua disiplin sebelumnya.
Langkah-langkah untuk menemukan disiplin
hukumbaru dimulai dengan beberapa hambatan diantaranya,
mempersoalkan pertanggungjawaban pidana kaisar Wihelm
II dan Rusia (setelah berakhirnya Perang Dunia Kesatu
tahun 1919) karena kebijakannya selaku kepala negara yang
telah diduga kuat melakukan kejahatan Genosida. Upaya ini
mengalami kegagalan karena belum adanya kesapakan dari
kalangan ahli hukum Internasional mengenai masalah ini.
Hambatan lain adalah prinsip kedaulatan (States so
vereignty) yang telah mengakar sejak ratusan tahun yang
lalu dan tidak dapat diabaikan begitu saja dengan alasan
yang sangat serius sehingga menarikperhatian masyarakat
internasional atau kejahatan musuh umat manusia (Hostis
Humanis Generis).
Hukum pidana internasional tumbuh dan
berkembang tidak lepas dari semakin berkembangnya dan
meluasnya pidana (tindak pidana) internasional. Pada awal
mulanya pidana internasional secara sempit berbicara
tentang kejahatan seputar perang yang bertujuan untuk
menguasai tanah serta kekayaan masyarakat oleh suku yang
menang atas suku yang kalah dalam peperangan. Perang
dengan sejarah panjangnya berhubungan dengan
masyarakat internasional. Perang yang dimulai dari
peperangan antar suku sampai dengan peperangan modern
memiliki aturan-aturan yang berasal dari kebiasaan-
kebiasaan atau perjanjian-perjanjian antar suku antau antar
pihak yang terlibat peperangan itu. Pelanggaran terhadap
perjanjian dan kebiasaaan itulah yang secara sederhana
dikatakan sebagai kejahatan perang yang secara khusus
diatur oleh Hukum Pidana Internasional.
1. Era Abad 16-18 Masehi
Pada era kerajaan Romawi di bawah Kaisar
Justinianus, dimana dengan kekuatan UU Justinianus telah
memberikan dukungan perdamaian keseluruh kerajaan
romawi termasuk jajahannya. Peraturan tentang perang
diperjelas dan berlandaskan pada “sebab yang layak dan
benar” (Just Cause), diumumkan sesuai dengan kebiasaan
yang berlaku dan dilaksanakan dengan cara yang benar.
Pengaturan tersebut berasal dari pengajaran hukum yang
diberikan oleh ahli-ahli hukum diantaranya Cicero dan
Agustianus. Jika peraturan atas kebiasaan dan hukum tuhan
tersebut dilanggar maka kemudian dikenal sebagai
kejahatan internasional.
2.Perang Salib
Diawali dengan munculnya tindakan pembajak
dilaut (piracy), dipandang sebagai musuh semua bangsa
karena telah merusak hubungan perdagangan antar bangsa
yang dianggap sangat penting pada saat itu, namun demikian
perang masih tetap merupakan tindakan yang dipandang
tidak layak dan masih dipersoalkan terutama dikalangan
para ahli hukum dari berbagai bangsa yang sudah maju pada
saat itu.
3.Era Fransisco de Vittoria 1480-1546
Dimulai dengan penyebarluasan agama keristen
dengan cara kekejaaman dan kekerasan terutama yang
dilakukan oleh kerajaan spanyol terhadap penduduk
pribumi indian. Pada masa itu muncul seorang profesor
theologia yaitu Fransisco de Vittoria memperingatkan
kerajaan bahwa ancaman perang dan kekerasan tidak
dibenarkan dengan alasan perbedaan agama,
penyebarluasan kerajaandan kemenangan yang bersifat
pribadi sekalipun dengan alasan untuk self
Defencepembatasan atas kerusakan yang terjadi sebagai
akibat peperangan dan penggunaan kekuatan bersenjata,
maka kerugian atau kekerasan sedapat-dapatnya diperkecil.
Pandangan-pandangan dan ajaran Vittoria ini dikatakan
sebagai tonggak secarah bagi perkembangan Hukum Pidana
Internasional pada masa yang akan datang.
4. Era abad 16-18 pakar hukum Alberto Gentili,
Fransisco Suares, Samuel Pufendorf dan Emerich de vattel
dan Era Hugo de Groot, 1925.
Munculnya penulis-penulis terkenal Alberto Gentili,
Fransisco Suares, Samuel Pufendorf dan Emerich de vattel
telah membahas dan mencari dasar-dasar hukum seuatu
peperangan. Namun Hugo de Groot telah menulis dan
menerbitkan buku yang berjudul “the law of war and peace
in the tree books”pada tahun 1925. Pada buku ini Gratius
menegaskan beberapa hal antara lain:
a) mereka melaksanakan perang untuk menang atau
dengan niat tidak benar layak untuk dituntut;
b) mereka melaksanakan perang secara melawan
hukum bertanggungjawab atas akibat-akibat yang
terjadi dan sepatutnya diketahui;
c) sekalipun jenderal atau prajurit yang sesungguhnya
dapat mencegah kejadian/kerugiab sepenuhnya
dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya.
Pada Pasal 227 Diktat Versailes tidak dipatuhi
Dengan ditandatanganinya perjanjian versailes namun
ternyata perjanjian itu tidak dipenuhi. Perjanjian Versailes
yang mengakhiri perang Dunia I ternyata dalam praktek
hukum internasional tidak berhasil melaksanakan ketentuan
itu yang menetapkan antara lain penuntutan dan penjatuhan
pidana atas penjahat perang.
5. Era 1920
Pada masa ini tampak adanya upaya pembentukan
Mahkamah Pidana Internasional terutama setelah
dibentuknya Liga Bangsa-Bangsa (LBB) berasal dari
sejumlah ahli hukum terkemuka Vespasien Pella, Megalos
Ciloyanni dan Rafael dan dukungan itu juga datang dari
kalangan masyarakat internasional seperti The International
Law Association, The American Society of International
Law and The International Parliamentary Union.
6.Liga Bangsa-Bangsa LBB 1927
LBB membuka era baru dalam sejarah hukum
pidana internasional dengan menetapkan yaitu perang agresi
atau a war of agression merupakan Internasional Crime.
LBB merupakan awal kodifikasi hukum dalam bidang
Hukum pidana internasional. Namun pembentukan
Mahkamah Pidana Internasional yang dapat menetapkan
telah terjadi pelanggaran atas kodifikasi tersebut masih
belum secara serius diperbincangkan.
7.Pasca Perang Dunia II
Perang Dunia II melahirkan Tindak Pidana baru
yang merupakan pelanggaran atas perjanjian-perjanjian.
pelanggaran tersebut dalam bentuk kekejaman yang tiada
tara serta pelanggaran atas hukum perang yang tiada
bandingannya oleh pihak tentara jerman dan sekutunya,
Profesor Lauterpacht dan Hans Kelsen yang menegaskan
bahwa pembentukan mahkamah pidana internasional itu
sangat penting untuk mengadili penjahat perang dan
sekaligus membawa akibat penting terhadap perbaikan-
perbaikan dalam hukum pidana internasional
8. Nuremberg Trial 1946
Dibawah kepemimpinan adolf Hilter, menaklukan
beberapa negara, tahun ini tahun kemenangan nazi jerman.
Dalam waktu yang bersamaan dengan perang dunia kedua
bahkan jauh sebelumini Hitler telah melakukan Genoside
terhadap bangsa yunani di seluruh dataran eropa. PBB
menetapkan perbuatan ini sebagai Juris Gentium.
Pada tahun 1947 masalah pembentukan Mahkamah
Pidana Internasional diserahkan kepada International Law
Commisionyang terdiri dari kelompok ahli hukum
terkemukadari seluruh Negara bertugas menyusun suatu
kodifikasi hukum internasional, melalui PBB telah sepakat
dan menempatkan kejahatan-kejahatan yang mengancam
dan merugikan serta merusak tatanan kehidupan masyarakat
internasional, kejahatan itu diiantaranya agresi, kejahatan
perang, pembasmian etnis tertentu, pembajakan laut,
penculikan, narkotika.
9. Resolusi PBB 21 November 1947
Sampai pada awal abad ke 20 hukum pidana
internasional belum memasyarakat dikalangan pakar-pakar
ilmu hukum negara yang menganut sistem common
law.Pengakuan secara internasional terhadap pentingnya
international criminal law (HPI) pertama kali terjadi
melalui resolusi yang diajukan oleh Sidang Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tanggal 21 November
1947. Resolusi menghendaki dibentuknya suatu panitia
kodifikasi Hukum Internasional atau The Commite on
Codifikation of International Law.yang bertugas
merumuskan prinsip-prinsip hukum internasional. Resolusi
tersebut menegaskan bahwa dalam perkembangan
masyarakatinternasional telah muncul kebutuhan akan suatu
badan yudisial untuk mengadili kejahatan-kejahatan
tertentu berdasarkan hukum internasional.
10. Era Tokyo Trial
Berdasarkan putusan pengadilan internasional di
Tokyo Jepang tujuh orang pemimpin negara pada era PD II
menjalani hukuman mati. Pengadilan di Jepang ini
merupakan lanjutan dari pengadilan Nuremberg jerman
yang dilakukan untuk megadili para pejabat perang.
Sebanyak 28 orangpejabat jepang diadili dan 18 diantaranya
dijatuhi pidana penjara.
B. PerkembanganHukum Pidana Internasional
Schwarzenberger telah mencoba mencari petunjuk
dan bukti-bukti dari keberadaan Hukum Pidana
Internasional terletak padaputusan-putusan Mahkamah
Internasional dan Praktik negara inggris dalam menghadapi
masalah yurisdiksi kriminil terutama di laut.Contoh kasus
Corfu Channel (1949) bahwa pemerintah albania yang telah
mengakibatkan korban jiwa tawanan perang inggris, namun
ini tidak dikatakan sebagai kejahatan internasional.
Bukti lain mengenai perkembangan kelahiran HPI
antara lain 1:
a.Perjanjian mengenai Piracy, yaitu :
i) Antara Kerajaan Inggris dan Amerika Serikat (Jay
Treaty, November 19, 1794);
ii) Deklarasi wina (1815);
iii) Perjanjian nyon (Nyon Agreement) yang menetapkan
kapal selam yang menyerang sebuah kapal dagang
dipandang sebagai Piracy.
Dari ke tiga itu belum ada tanda-tanda kearah pembentukan
HPI.Padahal ketiga perjanjian itu telah memberikan
sumbangan yang tidak sedikit terhadap terbentuknya embrio
suatu cabang hukum yang baru yaitu hukum pidana
internasional.
b. Yurisdiksi Kriminil dan Badan-Badan Internasional.
Embrio dari eksistensi hukum pidana internasional
ini, dapat pula digali dari yurisdiksi kriminil Badan-Badan
Internasional. Badan-badan internasional ini diantaranya
adalah putusan dari komisi internasional dalam kasus
Sungai rhein dan Elbe, adanya gabungan pengadilan mesir
dan tangier di afrika. Karakter pidana yang memperkuat
1
. Romli Atmasasmita. PengantarHukum Pidana Internasional. Refika
Aditama : Bandung. 2000. Hal. 9.
yurisdiksi badan-badan internasional ini termuat pada pasal
16 Piagam LBB, yang menetapkan bahwa anatara lain
pelanggaran atas perjanjian-perjanjian atau kewajiban-
kewajiban setiap negara peserta dengan sendirinya
dipandang sebagai melakukan tindakan perang terhadap
negara anggota lainnya, akan tetapi negara tersebut tidak
dapat dikatakan melakukan kejahatan internasional.

c. Konvensi menentang teroris


Dimuatnya ketentuan mengenai kewajiban-
kewajiban negara peserta untuk menetapkan terorisme
sebagai suatu kejahatan internasional, yang dilakukan
dinegara lain dapat dihukum berdasarkan hukum dinegara
berkepentingan. Namun sampai saat ini belum pernah
dilakukan.

d. Hukum Internasional di dalam kerangka kerja PBB


Prinsip-prinsip PBB telah banyak di terapkan dalam
kasus-kasus yang merupakanpelanggaran terhadap hukum
internasional dan kebiasaan-kebiasaan yang diakui oleh
masyarakat internasional. Tonggak sejarah penting
pertumbuhan HPI yaitu pada proses peradilan para pejabat
PD II. Kejahatan-kejahatan yang termasuk dalam kejahatan
hukum internasional adalah kejahatan perang, pembunuhan
masal, pelanggaran ham, dan agresi.
Bukti-bukti lain PBB yang menunjukan kearah
pidana internasional adalah permintaan kepada negara-
negara peserta konvensi untuk memberikan komentar atas
drafkonvensi tentang pencegahan dan penghukuman
kejahatan Genosida (Convention of The Prevention and
Punishment of the Crime of genoside) tanggal 9 Desember
1948.
Faktor-faktor pendorong perkembangan Hukum
Pidana Internasional yaitu 2:
1. Kemajuan sains teknologi yang pesat sehingga
menimbulkan berbagai jenis tindak pidana
baru.Pada dasarnya tidak hanya tindak pidana
internasional yang dipengaruhi oleh kemajuan sains
dan teknologi tapi pada umumnya hampir semua
kejahatan di dunia di pengaruhi oleh sain dan teknologi.
Kemajuan sains dan teknologi memberikan beberapa
peluang bagi pelaku kejahatan untuk melakukan modus
dan bahkan menciptakan tindak pidana baru yang
termasuk dalam tindak pidana internasional.Beberapa
kejahatan yang timbul akibat perkembangan sains dan
teknologi yaitu terorisme, kejahatan penerbangan,
kejahatan pemalsuan uang, kejahatan komputer dsb.
Selain untuk melakukan kejahatan sains dan teknologi
juga digunakan untuk menghindar dan menyelamatkan
diri dari kejaran penegak hukum dalam mengejar si
pelaku kejahatan.
Kejahatan ini harus di cegah dan di berantas
dengan cara pembentukan peraturan-peraturan hukum
baik pada tataran internasional maupun nasional
dengan menetapkan suatu kejahatan atau tindak pidana
kemudian ditindaklanjuti pelaksanaannya antara lain
melalui kerjasama antara anggota masyarakat
internasional khususnya anatar negara-negara.
2. Timbulnya kesadaran umat manusia atas
penghormatan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Peristiwa-peristiwa yang menyentuh nilai-nilai
kemanusiaan dan keadilan universal misalnya peristiwa
2
. I Wayan Parthiana, Hukum Pidana Internasional. Yrama Widya : Bandung.
2006. Hal. 125.
kejahatan yang sedemikian rupa mengerikan dengan
segala akibat-akibat yang ditimbulkannya yang diluar
batas-batas perikemanusiaan, menimbulkan suatu reaksi
yang sama berupa kecaman yang amat keras atas
peristiwa dan pelakunya.
Hal tersebut diakibatkan karena peristiwa semacam
itu merupakan pelanggaran secara terang-terangan
terhadap nilai-nilai yang paling tinggi dan luhur yang di
junjung tinggi oleh seluruh umat manusia tanpa
memandang agama, ras, bahasa dan paham
politik.Mereka menuntut supaya si pelaku segera
ditangkap dan diadili. Nilai-nilai kemanusiaan dan
keadilan universal inilah yang dalam hukum pidana
(nasional maupun internasional) melahirkan yuridiksi
universal.

3. Kesadaran masyarakat internasional atas kebutuhan


bekerjasama dalam menghadapi masalah bersama.
Seperti halnya manusia, negara pun tidak dapat hidup
tanpa bantuan dan kerja sama dengan negara lain. Hampir
tidak ada masalah internasional yang menyangkut
kepentingan dua negara atau lebih yang berhasil
diselesaikan sepihak tanpa mengikutsertakan pihak lain.
Kerjasama antar negara dapat berupa bilateral,
multilateral, regional maupun global, dan kerjasama itu
dituangkan dalam dokumen-dokumen hukum
internasional yakni berupa perjanjian-perjanjian
internasional yang pada hakekatnya mencerminkan
kehendak negara-negara pesertanya untuk bekerjasama
dalam menghadapi masalah yang di atur didalamnya.
Untuk pencegahan dan pemberantasannya tidak ada
jalan lain selain dengan bekerjasama antar negara-negara
yang meliputi kerjasama dalam pembuatan peraturan-
peraturan hukumnya berupa perjanjian-perjanjian
internasional.

C. Hubungan Hukum Pidana Internasional Dengan


Hukum Nasional
Mengenai hubungan antara hukum pidana
internasional dan hukum nasional tidak terlepas dari
hubungan antara hukum nasional dan hukum
internasional.Terdapat dua pandangan mengenai hubungan
antara hukum internasional dan hukum nasional, yaitu 3:
a. Teori Monoisme bahwa hukum internasional dan hukum
nasional merupakan dua aspek dari satu sistem hukum.
b. Teori Dualisme yaitu bahwa hukum internasional dan
hukum nasional masing-masing merupakan dua sistem
yang berbeda.
Beberapa pendapat para ahli hukum mengenai teori
monoisme dan teori dualisme, yaitu:
a. Hans Kelsen melihat hukum internasional dan hukum
nasional sebagai satu kesatuan hukum berupa kaidah-
kaidah yang mengikat individu, negara, maupun
kesatuan lainnya yang bukan negara. Artinya hukum
internasional mengikat individu secara kolektif,
sedangkan hukum mengikat individu secara perorangan.
b. Tripel dan strupp sebagai penganut teori dualisme,
melihat hubungan antara hukum internasional dan
hukum nasional sebagai dua hal yang terpisah terlebih
dalam dunia modern, dimana negara mempunyai
kedaulatan dan kesederajatan artinya baik hukum
internasional maupun hukum nasional adalah aturan-

3
.Mochtar Kusumaatmadja. Pengantar Hukum Internasional, Banicipta :
Bandung. 1989. Hal 41..
aturan hukum yang bebas terpisah, sehingga tidak dapat
dikatakan bahwa hukum internasional adalah superior
dari hukum nasional atau sebaliknya.
c. Anziloti melihat hubungan antara hukum internasional
dan hukum nasional ada perbedaan fundamental antara
hukum internasional dan hukum nasional yaitu bahwa
hukum nasional ditentukan oleh perundang-undangan
yang harus ditaati, sedangkan hukum internasional
ditentukan oleh perjanjian antara negara yang harus di
junjung tinggi.
d.Triepel mengatakan hubungan hukum pidana
internasional dan hukum pidana nasional adanya
perbedaan fundamental antara hukum internasional dan
hukum nasional, yaitu:
1) Dari segi subjek hukum, yaitu:
Subjek hukum internasional adalah negara.
Subjek hukum nasionala adalah individu.
2) Dari segi sumber hukum, yaitu:
Sumber hukum internasional adalah kehendak
bersama negara-negara.
Sumber hukum nasional adalah kehendak negara.

e. Eddy O.S Hiariej, hubungan antara hukum pidana


internasional dan hukum pidana nasional adalah
hubungan yang bersifat komplementer antara yang satu
dengan yang lainnya dan memiliki arti dalam rangka
penegakan hukum itu sendiri. 4

Contoh:
1) Asas hukum pidana nasional yang diadopsi sebagai
4
.Eddy Omar Syarif Hiariej. Pengantar Hukum Pidana Internasional.
Erlangga: Jakarta. 2009. Hal 60
asas-asas dalam hukum pidana internasional yaitu:
dalam ketentuan KUHP semua negara khususnya
berkaitan dengan asas berlakunya hukum pidana
menurut tempat.
2) Tindakan-tindakan yang dikualifikasikan sebagai
kejahatan internasional oleh hukum pidana
internasional kemudian diadopsi dalam ketentuan-
ketentuan dalam hukum pidana nasional dengan
tujuan agar kejahatan tersebut tidak terjadi
dinegaranya.

Pertanyaan :
1. Bagaimana sejarah hukum pidana internasional
sehingga diakui sebagi disiplin ilmu hukum baru?
2. Bagaimana era sejarah hukum pidana
internasional?
3. Apa bukti lain dari perkembangan hukum pidana
internasional?
4. Apa yang menjadi faktorpendorong perkembangan
Hukum Pidana Internasional, jelaskan!
5. Bagaimana hubungan antara hukum pidana
Internasional Dengan Hukum Nasional, menurut
beberapa sarjana?
BAB iI
DEFINISI, ASAS-ASAS, SUMBER HUKUM,
DAN KARAKTERISTIK
HUKUM PIDANA INTERNASIONAL

A. Definisi dan Ruang Lingkup Hukum Pidana


Internasional
Hukum pidana internasional dapat didefinisikan
sebagai sekumpulan kaidah-kaidah dan azas-azas hukum
yang mengatur tentang kejahatan internasional. Ada dua
hal yang secara eksplisit dapat ditemukan dalam definisi
ini, yaitu:
1. Hukum pidana internasional merupakan
sekumpulan kaidah-kaidah atau azas-azas hukum.
2. Objek yang diatur adalah tentang kejahatan atau
tindak pidana internasional.
Dari segi istilah Roling5, ahli hukum
internasionaldari Belanda membedakan antara hukum
pidana nasional (national Criminal Law), hukum pidana
internasional (International Criminal Law) serta
memberikan definisi khusus tentang apa yangdisebut
sebagai hukum pidana Supranational (Supranational
Criminal Law).
Hukum pidana nasional adalah “The criminal law
which has developed within the national legal order and
which is founded on national source of law”(Hukum pidana
yang berkembang didalam kerangka orde peraturan
5
.Rolling, B.V.A. Supranational Criminal Law in Netherlands Theory and
Practice. Nederlands International Law Review. Vol. XXXIV 1987. Matrinus Nijhoff
Publishers. 1979
perundang-undangan nasional dan dilandaskan pada
6
sumber hukum nasional) .
Hukum pidana internasional adalah“international
criminal law (hukum pidana internasional) adalah “The law
which determines what national criminal law will aplly
tooffences actually commited if theycontainan international
element”.(Hukum yang menentukan hukum pidana
nasional yang akan di terapkan terhadap kejahatan-
kejahatan yang nyata-nyata telah dilakukan bilamana
terdapat unsur-unsur internasional didalamnya).
Hukum pidana supranational adalah “the criminal
law of the greater community which comprises States and
peoples means the criminal law standards the have been
developed in that greatercommunity”. (Sebagai hukum
pidana dan masyarakat yang lebih luas terdiri dari negara
dan rakyat dimana memilikiarti standar hukum pidana yang
telah berkembang di dalam kumpulan masyarakat tersebut.
7
Menurut Cherif Bassiuni yaitu “international
criminal law is a product the convergence of two defferent
legal disciplines witch have emered and development along
different paths to become complementary and coextensive.
They are: the criminal law aspect of international law
andthe international aspect of national criminal
law”(Bahwa hukum pidana internasional adalah hasil
penggabungan dua disiplin hukum yang telah ada dan
berkembang dalam jalur masing-masing yang saling
melengkapi dan mengisi. Disiplin hukum tersebut adalah
aspek hukum pidana internasional dan aspek hukum pidana
nasional).
6
.Romli Atmasasmita. Op. Cit. Hal 19
7
.M. Cherif Bassioni. International Criminal Law Volume I : Crimes,
Transnational Publishers Inc. New York 1986. hal 1.
8
Georg Schwrazen Berger(1950) Memberikan
enam definisi Hukum pidana internasional:
1. Internasional criminal lawin the meaning of the
teritorial scope of municipal criminal law.( Hukum
Pidana Internasional dalam arti lingkup teritorial
pidana).
2. International criminal law in the meaning of
internationally prinscriabel municipal criminal
law. (Hukum pidana internasional dalam arti
kewenangan internasional yang terdapat dalam
hukum pidana internasional).
3. International criminal law in the meaning of
internationally authorized municipal criminal law.
(Hukum pidana internasional dalam arti
kewenangan internasional yang terdapat dalam
hukum pidana nasional).
4. International criminal law in the meaning of
municipal criminal law common to civilised
nations. (Hukum pidana internasional dalam arti
ketentuan hukum pidana nasional yang diakui
sebagai hukum yang patut dalam kehidupan
masyarakat berbangsa yang beradab).
5. International criminal law in the meaning of
internasional cooperation in the administration of
unicipal criminal justice. (hukum pidana
internasional dalam arti bekerja sama internasional
dalam mekanisme administrasi peradilan pidana
nasional.
6. International criminal law in the material sense of
the word. (hukum pidana internasional dalam arti
kata materiil)
9
.Eddy Omar Syarif Hiariej. Op. Cit. Hal 47
Menurut Eddy OS Hiariej ada dua hal yang
penting dari hukum pidana internasional, yaitu:
1. Materil hukum pidana internasional adalah
perbuatan-perbuatan yang menurut hukum
internasional baik kebiasaan internasional maupun
berdasarkan konvensi internasional adalah
kejahatan internasional.
2. Formil hukum pidana internasional adalah aspek
internasional dalam hukum pidana nasional.
Menurut Eddy OS Hiariej hukum pidana
internasional adalah seperangkat aturan menyangkut
kejahatan-kejahatan internasional yang penegakannya
dilakukan oleh negara atas dasar kerjasama internasional
atau oleh masyarakat internasional melalui suatu lembaga
internasional baik yang bersifat permanent maupun bersifat
Ad hoc.
Edmud M Wiese menyatakan hukum pidana
internasional dalam tiga topik yaitu:
1. Kekuasaan mengadili dari pengadilan negara
tertentu terhadap kasus-kasus yang melibatkan
unsur asing
2. Prinsip-prinsip hukum publik internasional yang
menetapkan kewajiban pada negara-negara dalam
hukum pidana atau hukum acara pidana nasional
negara bersangkutan.
3. Mengenai arti sesungguhnya dan keutuhan
pengertian hukum pidana internasional termasuk
instrumen penegakannya.
Menurut Romli Atmasasmita bahwa inti dari hukum
pidana internasional adalah hukum pidana nasional yang
mengatur kerjasama internasional dalam halpencegahan dan
pemberantasan kejahatan transnasional dan kejahatan
10
internasional .
10
.Romli Atmasasmita. Op. Cit. Hal 27.
B. Azas Hukum Pidana Internasional
Sebagaisalah satu disiplin hukum yang merupakan
gabungan dari dua disiplin hukum yang berbeda maka
hukum pidana internasional juga membawa asas-asas
hukum pidana dan asas-asas hukum internasional.
1. Asas-asas hukum pidana internasional yang berasal
dari hukum internasional11:
a. Facta Sun Servanda yaitu Perjanjian dibuat
mengikaat para pihak ibarat undang-undang
b. Asas itikad baik yaitu Semua kewajiban yang
diemban harus di lakukan sebaik-baiknya.
c. Asas kemerdekaan, kedaulatan dan kesamaan
derajat negara-negara, yaitu Asas ini
menempatkan negara-negara didunia tanpa
pandang bulu, karena semua negara memiliki
kedudukan sama.
d. Asas non-intervensi, yaitu Negara tidak boleh
campur tangan atas masalah dalam negeri negara
lain, kecuali negara itu menyetujuinya secara
tegas.
e. Asas hidup berdampingan secara damai yaitu
Menekankan pada semua negara dalam
menjalankan kehidupannya, baik secara internal
maupun eksternal, supaya dilakukan dengan cara
hidup damai.
f. Asas penghormatan dan perlindungan terhadap
hak asasi manusia, yaitu adanya kewajiban pada
setiap negara bahwa untuk siapapun untuk
menghormati dan melindungi hak asasi manusia
dalam situasi dan kondisi bagaimana pun.

11
.Tolib Efendi. Hukum Pidana Internasional. Pustaka Yustisia : Surabaya.
2. Asas-asas hukum pidana internasional yang berasal
dari hukum pidana yaitu : 12

a. Asas Legalitas dikenal dengan istilah Nullum


delictum noela peona sine lege. Bahwa suatu
perbuatan tidak dapat dijatuhi pidana apabila
atas perbuatan itu tidak atau belum diatur dalam
perundang-undangan nasional.
b. Asas non-retroactive yaitu Merupakan
keharusan untuk menetapkan terlebih dahulu
suatu perbuatan sebagai kejahatan atau tindak
pidana dalam hukum atau perundang-undangan
pidana nasional, atas dasar itulah baru Negara
menerapkannya terhadap pelaku perbuatan . 13

c. Asas culpabilitas yaitu Bahwa seseorang


hanya dapat dipidana apabila kesalahannya
dapat dibuktikan berdasarkan peraturan
perundang-undangan pidana yang di dakwakan
kepadanya melalui proses pemeriksaan oleh
badan peradilan yang memiliki wewenang itu.
d. Asas teritorial, yaitu Asas berlakunya hukum
pidana suatu negara pada umumnya dianut oleh
semua negara di dunia.
e. Asas ekstradisi yaitu Penyerahan seseorang
tersangka, terdakwa atau terpidana oleh negara
tempat dimana orang tersebut berada, kepada
negara lain yang hendak mengadili negara yang
diminta atau melaksanakan putusan pengadilan
negara dari negara yang diminta.
f. Asas praduga tak bersalah, yaitu Seseorang
yang diduga melakukan TP wajib untuk

12
.Ibid. Hal 41
13
.I Wayan Parthiana. Op. Cit. Hal 65
dianggap tidak bersalah sampai kesalahan dapat
dibuktikan berdasarkan suatu keputusan badan
peradilan yang sudah memiliki kekuatan hukum
tetap.
g. Asas ne bis in idem yaitu prinsip yang
menyatakan bahwa seseorang tidak dapat
dituntut lebih dari satu kalididepan pengadilan
atas perkara yang sama.
3. Asas-asas HPI yang mandiri yaitu:
a. Any person commits an act which constitutes a
crime under international law is responsible
therefor and liable to punishment. (setiap orag
yang melakukan perbuatan yang diatur sebagai
kejahatan menurut hukum internasional harus
bertanggungjawab dan oleh karena itu dapat di
jatuhi hukuman).
b. The fact that internal law does not impose penalty
for an act which is constitutes a crime under
international law does not relieve the person
whon committed the act from responsibility
under international law .(sebuah kenyataan14

bahwa hukum nasional tidak menjatuhkan


hukuman terhadap perbuatan yang diatur
sebagai kejahatan berdasarkan hukum
internasional tidak membebaskan seseorang
yang melakukan perbuatan tersebut dari
pertanggungjawaban berdasarkan hukum
internasional.
c. The fact that a person who commited an act which
constitutes a crime under international la acted
as a head of state or responsible governmant
14
.Eddy Omar Syarif Hiariej. Pengantar Hukum Pidana Internasional.
Erlangga: Jakarta. 2009. Hal 38
official does not relieve him from responsibility
under international law. (sebuah kenyataan
bahwa eseorang yang melakukan perbuatan
yang diatur sebagai kejahatan berdasarkan
hukum internasional, bertindak selaku kepala
negara atau pejabat pemerintah yang
bertanggungjawab berdasarkan hukum
internasional.
d. The fact that aperson acted persuant to order
of his Government asuperior does not relieve
him from responsibility under international law,
provided a moral choice wasin fact possible to
him. (sebuah kenyataan bahwa seseorang
melakukan perbuatan berdasarkan perintah dari
pemerintahannnya atau dari pangkatnya yang
lebih tinggi tidak membebaskan seseorang
tersebut dari pertanggungjawaban hukum
internasional.
e. Any person charged with a crime under
international law has the right to a fair trialon
the facts and law. (setiap orang yang dituduh
melakukan kejahatan berdasarkan hukum
internasional memiliki hak peradilan yang jujur
dan tidak memihak atas fakta-fakta hukumnya.
f. Complicity inthe commission of a crime
againts peace, a war crim, or acrime againts
humanity as set forth in principle VI is a crime
under international law. (keterlibatan dalam
suatu perbuatan kejahatan terhadap perdamaian,
kejahatan perang atau kejahatan terhadap
kemanusiaan sebagimana ditentukan dalam
prinsip 4 adalah merupakan kejahatan
berdasarkan hukum internasional.
C. Sumber Hukum Pidana Internasional
Sumber hukum adalah tempat dimana kita dapat
menggali atau menemukan suatu hukum.
Sumber hukum pidana internasional terbagi menjadi
2 yaitu:
1. Sumber hukum dalam arti materiil, yaitu sumber
hukum yang membahas materi dasar yang menjadi
substansi dari pembuatan hukum itu sendiri.
2. Sumber hukum dalam arti formiil, yaitu Yaitu sumber
hukum yang membahas tentang bentuk atau wujud
nyata dari hukum itu sendiri.
Sumber hukum pidana internasional diartikan sebagai:
1. Dasar Kekuatan Mengikatnya Hukum Internasional;
2. Metode menciptakan hukum internasional;
3. Tempat diketemukannya ketentuan-ketentuan hukum
internasional yang dapat diterapkan pada suatu
persoalan konkrit.
Sumber Hukum internasional Menurut Pasal 38 ayat
(1) Statuta Mahkamah Internasional, yang dipakai untuk
mengadili dalam perkara, yaitu:
1. Perjanjian internasional (international conventions),
baik yang bersifat umum ataupun khusus;
2. Kebiasaan internasional (international costum);
3. Prinsip hukum umum (general principles of law)
yang dipakai oleh negara-negara beradab;
4. Putusan pengadilan (Yudicial decision) dan
pendapat ahli yang telah diakui kepakarannya, yang
merupakan sumber hukum internasional tambahan.
D. Fungsi Hukum Pidana Internasional
Pada pokoknya fungsi hukum pidanainternasional
ada empat fungsi yaitu : 15

1. Agar hukum nasional di masing-masing negara


dipandang dari sudut pandang hukum pidana
internasional yang sama derajatnya. Dari aspek ini
menempatkan negara-negara di dunia tanpa
memandang besar atau kecil, kuatatau lemah, maju
atau tidak, memiliki kedudukan hukum yang sama
2. Agar tidak ada intervensi hukum antara negara satu
dengan negara yang lain, dari aspek ini maka negara
tidak boleh campur tangan atas masalah dalam negeri
negara lain kecuali telah disetuhui secara tegas.
3. Sebagai jembatan keluar bagi negara-negara yang
berkonflikuntuk menjadikan mahkamah
internasional sebagai jalan keluar. Dari aspek ini
maka mahkamah intenasional sebagai sebuah
lembaga peradilan yang bersifat independen dan
tidak memihak yang memutus serta mengadili suatu
perkara yang dipersengketakan oleh negara-negara
berkonflik.
4. Sebagai landasan agar penegakan hak asasi manusia
internasional menjadi lebih kuat. Dari aspek ini
membebani kewajiban-kewajiban pada negara-
negara bahkan siapapun untuk menghormati dan
melindungi hak asasi manusia dalam situasi dan
kondisi apapun juga.

15
.Lilik mulyadi. Fungsi Hukum Pidana Internasional Dihubungkan Dengan
Kejahatan Transnasional Khususnya Terhadap Tindak Pidana Korupsi.
Http://nynda.dosen.narotama.ac.id/files/2011/05/fungsi_hukum_pidana_internasional_d
ihubungkan_dengan_kejahatan_transnasional.pdf. Diakses 18 februari 2012. Pukul
18.30 wib.
E. Karakteristik Hukum Pidana Internasional
Hukum pidana internasional mempunyai kekhasan
tersendiri dengan kedudukan substansi yang menjadi objek
pembahasan memiliki kepribadian ganda dan aplikasi
penegakan hukum yang unik diantara hukum pidana
nasional dan hukum internasionaldi dalam masyarakat
internasional. Hukum pidana internasional tidak identik
dengan hukum pidana nasional maupun hukum nasional.
Menurut Romli Atmasasmita ada lima (5) karakter
hukum pidana internasional yaitu:
1. Pertangungjawaban individu;
2. Pertangungjawaban pidana tersebut tidak melekat
pada jabatan seseorang;
3. Pertanggungjawaban individu itu tidak tergantung
apakah undang-undangnasional mengecualikan dari
pertangungjawaban tersebut;
4.Pertangungjawaban dimaksud mengandung
konsekuensi penegakan hukum melalui mahkamah
pidana internasional atau pengadilan nasional yang
dilaksanakan pada prinsip universal;
5. Terdapat hubungan erat historic, praktik dan doktrin
antara hal-hal yang dilarang dari undang-undangdan
landasan hukum internasional pasca perang dunia II.
Secara garis besar karakteristik hukum pidana
internasional meliputi dua hal, yaitu:
1. Karakteristik hukum pidana internasional secara
materiil pada hakekatnya sama dengan karakter
kejahatan internasional. Karena pada substansi
hukum pidana internasional adalah kejahatan
internasional.
2. Karakteristik hukum pidana internasional secara
formil yang pada hakekatnya adalah penegakan
hukum pidana internasional dimana terdapat tolak-
tarik antara kedua kedaulatan suatu negara dengan
tuntutan masyarakat internasional.

Pertanyaan:
1. Jelaskan bagaimana pengertian hukum pidana
internasional menurut Rolling?
2. Bagaimana enam definisi tentang hukum pidana
internasional menurut Georg Schwrazen Berger?
3. Asas hukum pidana internasional terdiri dari asas
yang berasal dari hukum pidana, asas yang berasal
dari hukum internasional dan asas hukum pidana
internasional yang mandiri. Sebutkan asas hukum
pidana internasional mandiri tersebut?
4. Bagaimana karakterisitik dari hukum pidana
internasional?
5. Bagaimana fungsi dari hukum pidana
internasional?
BAB III
KEJAHATAN

A. Kejahatan Transnasional
Hukum pidana yang berlaku di indonesia adalah
merupakan hukum peninggalan zaman kolonial Belanda
khususnya yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP). Adanya ketidaksesuaian hukum ini
yang dahulunya diterapkan di masa penjajaahan dan
sekarang telah memasuki kemerdekaan, Saat ini
pemerintahan indonesia sedang melakukan perubahan
KUHP yang lebih sesuaidengan keadaan dan kebutuhan
masa kini bangsa indonesia, namun sampai sekarang
RUKUHP ini belum di sahkan, maka kita masih mengacu
pada KUHP peninggalan kolonian Belanda karena KUHP
itu masih dinyatakan berlaku sebagai hukum positif
indonesia.
Pengaturan kejahatan transnasional dalam hukum
positif indonesia, secara eksplisit tidak ada satu pasal pun
yang menetapkan pengaturan tentang hukum transnasional
itu. Tetapi secara implisit ada beberapa Pasal yang dapat
diterapkan untuk kejahatan transnasional diantaranya pasal
438 tentang pembajakan laut lepas, Pasal 338, Pasal 339,
Pasal 340 tentang pembunuhan yang dapat diterapkan dalam
kejahatan genoside.
Tidak samanya langakah yang dilakukan setiap
negara terutama dalam hal meratifikasi, maka tidak semua
negara itu meratifikasi konvensi tentang kejahatan
internasional, maka timbul beberapa akibat yaitu negara
yang tidak meratifikasi dan tidak adanya satu ketentuan
pidana dalam hukumnya yang mengatur tentang itu maka
secara tidak langsung memberikan kebebasan pada pelaku
yang melakukan kejahatan itu karena pelaku itu tidak dapat
diadili dan di hukum.
Ketidak seragaman pengaturan itu membawa
dampak bahwa hukum nasional masing-masing negara
berbeda-beda dan menimbulkan ketidak pastian hukum
tentang kejahatan internasional hal ini menciptakan keadaan
dimana tidak menguntungkan bagi masyarakat
internasional.
Untuk mengadopsi ketentuan-ketentuan kejahatan
internasional itu sebagaimana yang ditentukan dalam
konvensi yang bersangkutan dapat ditempuh beberapa
alternatif, yaitu:
1. Dengan adanya pernyataan turut serta terkait dalam
konvensi yang berkaitan baik dengan meratifikasi,
signature, aksesi dan lain-lain sesuai denganyang
ditentukan dalam konvensi tersebut dan kemudian
mengatur kejahatan internasional dalam hukum
pidana nasional untuk lebih lanjut;
2. Tanpa menyatakan turut serta pada konvensi yang
bersangkutan, tetapi secara langsung mengatur
materi kejahatan transnasional seperti dalam
konvensi itu.

Dengan indonesia lebih memperhatikan konvensi-


konvensi yang ada maka di diharapakan dapat menghindari
kefakuman hukum pidana yang disebabkan karena
keterlambatan meratifikasi konvensi mengenai kejahatan
internasional dan keterlambatan mengaturnya dalam hukum
pidana nasional.
B. Definisi Kejahatan Internasional
Kejahatan internasional adalah perbuatan secara
internasional diakui sebagai kejahatan, dimana hal itu
dianggap sebagai masalah yang menjadi perhatian
internasional dan untuk beberapa alasan yang valid hal
tersebut tidak dapat di tinggalkan dalam yurisdiksi ekslusif
negara yang memiliki hak untuk mengaturnya dalam
keadaan yang biasa.
Menurut Statuta Roma tahun 1998 tentang
Mahkamah internasional kejahatan yang termasuk
kejahatan pidana internasional ada 4, yaitu : 16

1. Kejahatan Genosida (Genocide)


Yaitu tindakan-tindakan dengan kehendak
menghancurkan seluruhnya atau sebagian kelompok,
etnis, ras atau keagamaan. Perbuatan-perbuatan
tersebut adalah:
a. Membunuh kelompok tertentu.
b. Menimbulkan luka atau mental seriusterhadap para
anggota kelompok tersebut.
c. Secara sengaja mengkondisikan hidup kelompok
kearah kehancuran fisik.
d.Tindakan-tindakan yang dimaksud untuk
mencegah kelahiran dalam kelompok tertentu.
e.Memindahkan secara paksa anak-anak dari
kelompok itu pada kelompok lain.
2. Kejahatan terhadap kemanusiaan ( Crimes Against
Humanity)
Adalah setiap perbuatan yang dilakukan
sebagai bagian dari serangan meluas atau sistematik
16
. Kuat Puji Prayitno. Materi Kuliah Hukum Pidana Internasional.
UNSOED : Purwokerto. 2013. Hal. 26
yang ditunjukan kepada suatu kelompok penduduk
sipil, dengan penyiksaan terhadap tubuh dari orang-
orang sebagai kejahatan penyerangan lain..
Perbuatan ini diantaranya:
a. Pembunuhan
b. Pemusnahan/pembasmian
c. Perbudakan
d.Memenjarakan/perampasan berat atas kebebasan
fisik dengan melanggar aturan-aturan dasar hukum
internasional
3.Kejahatan perang (War Crimes)
Dalam statuta roma kejahatan perang
merujuk pada konvensi jenewa bahwa perbuatan atau
tindakan-tindakan tertentu yang dilakukan oleh para
pelaku perang atau pihak dalam perang yang
dilakukan oleh para pelaku perang atau pihak yang
terlibat dalam perang secara melawan hak seseorang
atau kepemilikan seseorang.
Contohnya:
a. Membunuh sengaja
b. Penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi
(percobaan-percobaan biologic)
c. Perbuatan yang dikehendaki untuk menimbulkan
penderitaan dalam atau luka badan maupun
kesehatan yang serius.
4. Kejahatan agresi ( Crimes ofaggresion)
Mahkamah pidana internasional belum
mendefinisikan pengertiam kejahatan ini. Dalam
naskah rancangan ketiga Undang-Undang Pidana
Internasional atau The International Criminal code
1954 telah di tetapkan 13 kejahatan, yaitu:
1. Tindakan persiapan untuk agresi dan tindakan
agresi.
2. Persiapan penggunaan kekuatan bersenjata
terhadap negara lain.
3. Mengorganisasi atau memberikan dukungan
persenjataan yang ditujukan untuk memasuki
wilayah suatu negara.
4. Memberikan dukungan untuk dilakukan tindakan
terorisme dinegara asing.
5. Setiap pelanggaran atas perjanjian pembatasan
senjata yang telah disetujui.
6. Aneksasi wilayah asing.
7. Genosida.
8. Pelanggaran atas kebiasaan dan hukum perang.
9. Setiap pemufakatan, pembujukan dan percobaan
untuk melakukan tindakpidana tersebut (butir 8)
10. Pembajakan.
11. Perbudakan.
12. Apatheid.
13. Theart and use of force against internationally
protected persons.

Dalam berbagai literatur banyak istilah kejahatan


internasional paling tidak ada 12 istilah terkait kejahatan
internasional, yaitu:
1. International Crime atau kejahatan internasional
yaitu tindakan atau perilaku yang berdasarkan
konvensi atau kebiasaan internasional di
kualifikasikan sebagai kejahatan internasional.
2. International crimes stricto sensu secara harpiah
kejahatan-kejahatan internasional. Tetapi menurut
Mardjono Reksodiputro kejahatan-kejahatan yang
meliputi yurisdiksi mahkamah internasional yang
meliputi : kejahatan agresi, kejahatan perang,
genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan.
3. International crimes largo sensu secara harpiah
kejahatan-kejahatan internasional secara luas tidak
hanya kejahatan-kejahatan yang meliputi yurisdiksi
mahkamah internasional tetapi kejahatan
internasional lainnya.
4. Transnational crimes istilah kejahatan transnasional
lebih condong pada kejahatan tertentu yang terjadi
lintas batasnegaradalam suatu waktu tunduk pada
dua yurisdiksi atau lebih yurisdiksi negara.
5. International delic yakni delik-delikinternasional.
6. International Infractions yakni pelanggaran-
pelanggaran internasional.
7. International deliquencies yakni pelanggaran-
pelanggaran internasional.
8. Crimes against international law yakni kejahatan
terhadap hukum internasional.
9. Treaty crimes yakni kejahatan berdasarkan
perjanjian.
10. Delicta jure gentium yakni hukum bangsa-bangsa.
11. Jus cogens crimes yakni hukum pemaksa
yangtertinggi yang harus ditaati oleh bangsa-bangsa
beradab di dunia dengan prinsip umum dalam
hukum international yang berkaitan dengan moral.
12. Jus cogens international crimes yaitu kejahatan
internasional.
C. Karakteristik Kejahatan Internasional
Bassiouni menyatakan bahwa kejahatan
internasional adalah tindakan yang ditetapkan dalam
konvensi multilateral dan didalamnya terdapat salah satu
dari sepuluh karakteristik hukum pidana, yakni :17

1. Pengakuan secara eksplisit tindakan-tindakan


sebagai kejahatan internasional atau kejahatan di
bawah tangan.
2. Pengakuan secara implist sifat-sifat pidana dari
tindakan-tindakan tertentu.
3. Objek yurisdiksi kejahatan adalah asas universal
sedangkan kejahatan transnasional adalah asas
teritorial dan nasional pasif.
4. Yurisdiksi kejahatan internasional ada pada
pengadilan pidana internasional sedangkan
kejahatan transnasional ada pada pengadilan
nasional.
5. Kejahatan internasional tidak mengakui sepenuhnya
prinsip kedaulatan negara sedangkan
kejahatantransnasional mengakui sepenuhnya
prinsip kedaulatan.
Menurut Romli Atmasasmita membedakan antara
tindak pidana internasional dan tindak pidana
transnasional dengan kriteria pembedanya yaitu
faktor yurisdiksi (dalam arti teritorial dan dalam arti
kewenangan mengadili) dari masing-masing bentuk
tindak pidana, yurisdiksi universal bagi tindak
pidana internasional dan yurisdiksi teritorial bagi
tindak pidana transnasional, serta yurisdiksi dari
penegakan hukumnya, mahkamah pidana
17
. Tolib Effendi. Op. Cit. Hal 65.
internasional bagi tindak pidana internasional dan
pengadilan nasional bagi tindak pidana
transnasional . 18

D. Eksistensi Tindak Pidana Internasional


Eksistensi hukum pidana internasional dalam
tataran hukum internasional menjadi 3 kategori dimana
katagori tersebut yaitu : 19

1. Tindak pidana internasional yang berasal dari


kebiasaan yang berkembang di dalam praktik
hukum internasional.Contohnya :
a. tindak pidana pembajakan (piracy)
b. Kejahatan perang (war crimes)
c. Tindak pidana perbudakan (slavery)
2. Tindak pidana internasional yang berasal dari
konvensi-konvensi internasional dibedakan
menjadi dua yaitu tindak pidana internasional yang
ditetapkan di dalam satu konvensi saja dan tindak
pidana yang di tetapkan oleh banyak konvensi.
3. Tindak pidana internasional yang lahir dari sejarah
perkembangan konvensi mengenaihak asasi
manusia.Salah satunya adalah kejahatan genosida
yang mencetus sejak berakhirnya perang duania ke
II yang bukan hanya melindungi korban-korban
perang tapi juga penduduk sipil yang seharusnya
dilindungi dalam perang.

E. Hierarki Kejahatan Internasional


Dalam konteks pidana internasioanal sampai
tahun 2003 atasdasar 281 konvensi internasional sejak

18
. Romli Atmasasmita. Op. Cit. Hal 39
19
. ibid Hal 40.
tahun 1812 ada 28 kategori kejahatan internasional,
yaitu:
1. Aggresion.
2. Genocide.
3. Creme against humanity.
4. War crime.
5. Unlawful pasision or use or emplacement of
weapons.
6. Theft of nuclear materials.
7. Mercenarism.
8. Apartheid.
9. Slavery and slave-related.
10. Torture and other forms of cruel, in human or
degrading treatment.
11. Unlawful human experimentation.
12. Piracy
13. Aircraft hijacking and unlawful acts against
international air safety.
14. Unlawful acts against international the safety or
maritime navigation and the safety of platform on
the high seas.
15. Treat and use of force against internationaly
protected personel.
16. Crimes against unaitid nations and associated
personnel.
17. Talking of civilianhostages
18. Unlawful use of the mail
19. Attacks with explosive
20. Financing terorisme
21. Unlawful trafficin drugs and related drugs offenses
22. Organized crime
23. Destruction andlor theft of national treasures
24. Unlawful acts against certain internationally
protected elements of the environment
25. International traffic in obsence materials
26. Falsification and counterfeiting
27. Unlawful interference with submarine cables
28. Bribery of foreign publict officals.
Dari 28 kejahatan tersebut M. Cherif Bassioni
membagi tingkat kejahatan menjadi 3 tingakatan kejahatan
yaitu:
Pertama, kejahatan internasional yaitu tipikal dan
karakter dari internasional berkaitan dengan perdamaian
dan keamanan manusia serta nilai-nilai kemanusian yang
fundamental, (11 kejahatan), yaitu:
1. Aggresion.
2. Genocide.
3. Creme against humanity.
4. War crime.
5. Unlawful pasision or use or emplacement of
weapons.
6. Theft of nuclear materials.
7. Mercenarism.
8. Apartheid.
9. Slavery and slave-related.
10. Torture and other forms of cruel, in human or
degrading treatment.
11. Unlawful human experimentation.
Kedua, kejahatan internasional yang disebut
international delict tipikal dan karakter dari internasional
berkaitan dengan kepentingan internasional yang
melindungi meliputi lebih dari satu negara atau korban dan
kerugian yang timbul berasal dari satu negara.Terdiri dari 13
kejahatan, yaitu:
1. Piracy
2. Aircraft hijacking and unlawful acts against
international air safety.
3. Unlawful acts against international the safety or
maritime navigation and the safety of platform on
the high seas.
4. Treat and use of force against internationaly
protected personel.
5. Crimes against unaitid nations and associated
personnel.
6. Talking of civilianhostages
7. Unlawful use of the mail
8. Attacks with explosive
9. Financing terorisme
10.Unlawful trafficin drugs and related drugs offenses
11. Organized crime
12. Destruction andlor theft of national treasures
13. Unlawful acts against certain internationally
protected elements of the environment.
Ketiga, kejahatan internasional yang disebut
international infraction. Secara normatif kejahatan ini tidak
termasuk dalam katagori international crimes ataupun
international delict. Terdiri dari 4 kejahatan, yaitu:
1. International traffic in obsence materials
2. Falsification and counterfeiting
3. Unlawful interference with submarine cables
4. Bribery of foreign publict officals.

F. Konvensi Mengenai Kejahatan Internasional


Usaha masyarakat internasional atau negara-negara
dalam mencegah dan memberantas kejahatan-kejahatan
transnasional dapat dilakukan dengan kerjasama secara fisik
maupun dengan menuangkan peraturannya dalam konvensi-
konvensi internasional.
Beberapa konvensi internasional yang bertalian
dengan kejahatan internasional antara lain:
20
a. Konvensi London 1945, tentang Agreement of the
Prosecution an punishment of the Major War
Criminal of the European Axis.
Melahirkan mahkamah militer internasional
International Military Tribunal ( Neremberg,
1946), yang diadakan oleh negara-negara
pemenang Perang Dunia Kedua. Konvensi ini
dimaksud untuk mengadili dan menghukum para
arsitek atau penjahat perang jerman dan italia.
Kejahatan mereka dianggap sebagai kejahatan
terhadap kemanusiaan dan perdamaian yang telah
banyak mengakibatkan kerugian bagi umat manusia
diatas muka bumi ini.
Pasal 6 Piagam Mahkamah menyatakan bahwa
mahkamah.........
Mempunyai wewenang untuk mengadili dan
menghukum orang-orang yang bertindak untuk
kepentingan negara-negara poros (Axis) baik
sebagai individu maupun sebagai anggota
organisasi yang melakukan kejahatan-kejahatan.
b. Konvensi Genocide 1948 yaitu Convention on the
21

prevention and Punishment of the Crime of


Genoside mulai berlaku 1951 diprakarsai oleh PBB.
Konvensi ini diartikan sebagai tindakan yang
dilakukan dengan maksud merusak dan
memusnahkan suatu kelompok bangsa, etnis, ras
20
. I Wayan Parthiana. Op. Cit. Hal. 42.
21
. Ibid Op. Cit. Hal. 43.
atau agama dengan jalan membunuh anggota
kelompok tersebut dengan mengakibatkan kerugian
bagi mereka secara fisik maupun mental, yang
dengan sengaja menyiksa keadaan jiwa kelompok
tersebut, melakukan tindakan-tindakan yang
bersifat memaksa dan mencegah keturunan atau
perkembangbiakan mereka, memindahkan secara
paksa anak-anak kelompok tersebut kedalam
kelompok lainnya. Genoside baik dilakukan dalam
keadaan perang ataupun dalam keadaan damai tetap
saja dikatakan sebagai kejahatan menurut hukum
internasional tang harus di cegah dan diberantas
pelakunya dan dihukum tanpa pandang bulu.
Konvensi ini mengharuskan kepada setiap negara
peserta untuk menyusun perundang-undangan yang
memadai tentang masalah genocida sehingga
konvensi ini bisa berlaku secara efektif.
c. Konvensi tentang penghapusan perbudakan . 22

Berdasarkan konvensi ini para pihak sepakat akan


menyusun perundang-undangan nasional yang
efektif serta akan melakukan tindakan-tindakan
demi terhapusnya praktek-praktek perbudakan
eksploitasi atau yang berhubungan dengan
itu.pelaku-pelaku harus diadili dan dihukum
dengan hukuman berat. Hal ini erat hubungannya
dengan Konvensi Jenewa 1958 tentang laut lepas.
Pasal 13 yaitu kepada setiap negara untuk
mengambil langkah-langkah yang efektif untuk
mencegah dan menghukum pengangkutan
perbudakan oleh kapal yang pada waktu itu berlayar

22
. Ibid Hal. 44.
menggunakan bendera negara bersangkutan.
d. Konvensi Laut Lepas , Pasal 14 sampai Pasal 22
23

mengatur tentang pembajakan laut lepas yang


merupakan pembajakan menurut hukum
internasional (Piracy jure Geentium), yang berbeda
degan pengertian pembajakan menurut hukum
nasional.
e. Tiga Konvesi yang berkenaan dengan kejahatan
penerbangan, yaitu :24

1) Tokyo 1963 tentang Offences and Certain


Other Acts Committed on Board Aircraft
(kejahatan-kejahatan dan tindakan-tindakan
tertentu yang dilakukan dalam pessawat udara).
2) Konvensi Den Haag 1970 tentang The
Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft
(pemberantasan penguasaan pesawat udara
secara melawan hukum).
3) Konvensi Motreal 1971 tentang The
Suppression of Unlawful Acts Against the
Safety of Civil Aviation (pemberantasan
tindakan-tindakan melawan hukum yang
mengancam keamanan penerbangan).
Tiga konvensi ini bertujuan menjegah kejahatan
perang. Pasal 3 ayat (1), (2), (3) dan Pasal 4,
Pasal 2, Pasal 3, masing-masing konvensi ini
padaprrinsipnya memberikan wewenang
kepada negara-negara untuk melakukan
tindakan-tindakan serta menghukum pelaku
kejahatan seperti yang ditentukan pada
konvensi tersebut.

23
. Ibid Hal. 43.
24
. Ibid Hal. 45.
f. Konvensi tunggal tentang narkotika serta protokol
yang mengubahnya Single Konvensi on Nacitic
Drugs 1961 . 25

Pertanyaan:
1. Jelaskan apa yang dimaksud kejahatan
internasional menurut Statuta Roma Pasal 5?
2. Bagaimana karakteristik kejahatan internasional?
3. Sebutkan beberapa kejahatan yang termasuk dalam
kejahatan pidana internasional
4. Eksistensi kejahatan internasional dibagi menjadi 3
kategori, jelaskan?
5. Jelaskan konvensi-konvensi yang berkaitan dengan
kejahatan internasional?

25
. Ibid Hal. 45.
BAB IV
YURISDIKSI

A. Definisi Yurisdiksi.
Yurisdiksi atau jurisdiksi adalah wilayah/daerah
tempat berlakunya sebuah undang-undang yang
berdasarkan hukum. Kata ini berasal dari bahasa Latin ius,
iuris artinya “hukum” dan dicere artinya “berbicara”.
Yurisdiksi juga berarti kekuasaan:
a. Mengadili;
b. Lingkup kuasa kehakiman;
c. Peradilan.
Menurut Wayan Parthiana yurisdiksi adalah26

kekuasaan atau kewenangan yang dimiliki badan peradilan


atau badan-badan Negara lainnya yang berdasarkan atas
hukum yang berlaku. Apabila yurisdiksi dikaitkan dengan
negara maka akan berarti kekuasaan atau kewenangan
negara untuk menetapkan dan memaksakan hukum yang
dibuat oleh negara itu sendiri.
Dalam bahasa latin yurisdiksi adalah kompetensi
atau kekuaasaan hukum negara terhadap orang, benda dan
peristiwa hukum. Yurisdiksi merupakan refleksi dari prinsip
kedaulatan negara persamaan derajat negara dan prinsip non
intervensi.
Suatu negara tidak akan membuat, memberlakukan,
melaksanakan dan atau memaksakan sebuah peraturan
perundang-undangan nasional atau suatu objek hukum
apabila negara tersebut tidak sama sekali memiliki kaitan
26
. I Wayan Parthiana. OP. Cit. Hal 53.
atau kepentingan atas objek hukum tersebut.
Yurisdiksi negara berdasarkan hukum internasional
adalah hak, kekuasaan atau kewenangan dari suatu negara
dalam membuat, memberlakukan, melaksanakan dan atau
memaksakan hukum nasionalnya atas suatu objek hukum
baik yang berada atau terjadi didalam maupun diluar batas
–batas wilayahnya

B. Macam-macam Yurisdiksi
Ada tiga macam yurisdiksi yang dimiliki oleh negara
berdaulat menurut John O'Brien, yaitu:
1. Kewenangan negara untuk membuat ketentuan-
ketentuan hukum terhadap orang, benda atau
peristiwa maupun perbuatan diwilayah teritorialnya
(legislative Juridiction or enforcement jurisdiction);
2. Kewenangan negara untuk memaksa berlakunya
ketentuan-ketentuan hukum nasionalnya (executive
jurisdiction or enforcement jurisdiction);
3. Kewenangan pengadilan negara untuk mengadili
dan memberikan putusan hukum (Yudicial
yurisdiction).
Perbedaan dari ketiga macam yurisdiksi diatas dapat
dilihat menurut beberapa ahli hukum yaitu membedakan
antara yang kedua dengan yang ketiga Executive jurisdiction
or enforcement jurisdiction merupakan power of pischal
interference exercised by the executive. Contohnya
melakukan proses menangkap sampai pada menyita harta
kekayaan. Sedangkan Yudicial yurisdiction melakukan
proses peradilan suatu negara terhadap orang benda maupun
peristiwa tertentu.
Sedangkan menurut martin dixon dan Tien Saefullah
menggabungkan keduanya dalam enforcement jurisdiction
dan Yudicial yurisdiction menjadi enforcement jurisdiction.
Menurut mereka kewenangan negara untuk menetapkan
ketentuan hukum disebut jurisdiction to prescribe, yaitu
kewenangan negara untuk menerapkan dan menegakan
hukum nasional terhadap peristiwa dan perbuatan yang
dilakukan.
Penerapan yurisdiksi menjadi masalah hukum
internasional bila dalam suatu kasus ditemukan unsur asing,
baik sebagai pelaku maupun sebagai korban, atau tempat
terjadinya peristiwa di luar negeri. Namun dalam hal ini
tetap saja hanya satu negara yang dapat mengadilinya,
sesuai dengan asas Ne Bis In Idem.

C.Prinsip-Prinsip Yurisdiksi
Secara garisbesar yurisdiksi meliputi yurisdiksi
dalam tataran hukkum perdata maupun dalam tataran hukum
pidana. Dalam hukum pidana yurisdiksi yang dimaksud
adalah kewenangan hukum pengadilan suatu negara
terhadap perkara-perkara yang menyangkut kepidanaan
baik yang murni nasional maupun yang terdapat unsur
asingnya. Sedangkan yurisdiksi perdata adalah kewenangan
hukum pengadilan suatu negara yang menyangkut
keperdataan baik yang sifatnya perdata biasa (nasional)
maupun pedata internasional yang terdapat unsur asing
dalam kasus tersebut baik menyangkut para pihak objek
maupun tempat yang menjadi disengketakan.
Prinsip yurisdiksi yang dikenal dalam hukum
27

internasional yaang dapat digunakan oleh negara, yaitu:


1. Prinsip Yurisdiksi Teritorial
Setiap negaramempunyai yurisdiksi terhadap

27
. Kuat Puji Prayitno. Op.Cit. Hal 36.
kejahatan-kejahatan yang dilakukan dalam
wilayah hukum atau teritorialnya.
Menurut Hakim Loed Micmillan, suatu
negara harus mempunyai yurisdiksi terhadap
semua orang, benda dalam perkara-perkada
pidana dan perdata dalam batas-batas
teritorialnya sebagai tanda negara tersebut
berdaulat.
Menurut prinsip ini suatu negara memiliki
yurisdiksi yang kuat untuk mengadili perkara atas
kejahatan, dengan pertimbangan:
a. Negara yang ketertiban sosialnya terganggu
atas kejahatan yangterjadi di negaranya;
b. Biasanya pelaku ditemukan negara dimana
kejahatan itu dilakukan;
c. Akan lebih mudah menemukan saksi dan
bukti-bukti sehingga proses persidangan
dapat lebih efektif dan efisien;
d. Seorang WNA yang datang ke wilayah suatu
negara dianggap menyerahkan diri pada
sistem Hukum nasional negara tersebut.
Contoh kasus:
WNA tertangkap basah menyimpan dan
memperjual belikan ganja di wilayah indonesia,
maka indonesia dapat menerapkan yurisdiksi
teritorial terhadap orang itu.
Pengecualian negara tidak dapat menerapkan
yurisdiksi teritorialnya, yaitu:
a. Terhadap pejabat diplomatic negara asing;
b. Terhadap negara dan kepala negara asing;
c. Terhadap kapal public negaraasing;
d. Terhadap organisasi internasional;
e. Terhadap pangkalan militer asing.
2. Prinsip Teritorial Subjektif
Negara memiliki yurisdiksi terhadap seseorang
yang melakukan kejahatan yang dimulai dari
wilayahnya, tetapi diakhiri atau menimbulkan
kejahatan yang dimulai dari wilayahnya, tetapi
diakhiri atau menimbulkan kerugian di Negara
Lain.
Contoh:Perbatasan wilayah indonesia dan
malaysia indonesia berhak mengadili kejahatan
meskipun akibat yang di derita itu ada pada
negara malaysia, ini menurut Prinsip Teritorial
Subjektif.
3. Prinsip Teritorial Objektif
Suatu negara memiliki yurisdiksi terhadap
seseorang yang melakukan kejahatan yang
menimbulkan kerugian di wilayah meskipun
perbuatan awal itudimulai dari negara lain.
4. Prinsip Nasionalitas Aktif
Negara memiliki yurisdiksi terhadap warga yang
melakukan kejahatan diluar negeri. Indonesia
memiliki yurisdiksi ini untuk mengadili TKI yang
membunuh majikan di Arab Saudi. Dalam
praktiknya terjadi klaim tumpang tindih dalam
mengadili proses peradilan ini karena berkenaan
dengan status kewarganegaraan.
5. Prinsip Nasionalitas Pasif.
Prinsip ini negara memiliki yurisdiksi terhadap
warga negaranya yang menjadi korban kejahatan
yang dilakukan orang asing di luar negeri.
6. Prinsip Universal
Berdasarkan prinsip ini setiap negara memiliki
yurisdiksi untuk mengadili pelaku kejahatan
internasional yang dilakukan dimana pun tanpa
memperhatikan kebangsaan pelaku maupun
korban. Yurisdiksi universal dalam hukum
internasional bertujuan untuk memproses
fenomena pengampunan (impunity) bagi orang-
orang tertentu.
Prinsip ini bersifat unik karena ada beberapa ciri
yang menonjol, yaitu:
a. Setiap negara berhak melaksanakan
yurisdiksi universal.
b. Setiap negara yang akan melaksanakan
yurisdiksi universal tidak perlu
mempertimbangkan siapa dan
berkewarganegaraan baik bagi pelaku,
korban dan dimana dilakukan kejahatan itu.
c. Hanya terhadap pelaku kejahatan yang
disebut international crime atau pelaku
serious crime yang berhak di terapkan oleh
setiap negara.
Untuk disebut sebagai serious crime harus
memenuhi beberapa syarat yaitu:
a. Perbuatan tersebut harus sudah dirumuskan
sebagai tindak pidana dalam semua sistem
hukum di semua negara;
b. Pelaku merupakan musuh umat manusia dan
tindakannya bertentangan dengan
kepentingan umat manusia;
c. Arena sifatnya sangat membahayakan
masyarakat internasional.
7. Prinsip Perlindungan
Negara memilikiyurisdiksi terhadap orang asing
yang melakukan yurisdiksi terhadap orang asing
yang melakukan kejahatan yang serius yang
mengancam kepentingan vital negara.

D. Penerapan Yurisdiksi Universal Terhadap Kejahatan


Kemanusiaan.
Kejahatan terhadap kemanusiaan (Crime Against
Humanity) setelah Perang Dunia II, yang ditegaskan dalam
Article 6 dari Charter of the International Military Tribunal
(Mahkamah Militer Internasional) juga dikenal dengan
London Agreement, Pasal 6 tidak mendefinisikan tentang
kejahatan, namun hanya menjabarkan tentang kejahatan-
kejahatan yang termasuk dalam kejahatan kemanusiaan,
diantaranya : 28

1. Murder (pembunuhan);
2. Extermination (pembasmian/pemusnahan);
3. Enslavement (perbudakan);
4. Deportation (pengusiran);
5. Tindakan-tindakan lain tidak manusiawi yang
dilakukan terhadap penduduk sipil, baik sebelum
atau selama peperangan;
6. Penyiksaan atau penganiayaan yang dilandasi atau
dilatarbelakangi oleh faktor-faktor politik, ras,
agama, baik dalam hal kejahatan peperangan atau
kejahatan perdamaian.
Beberapa deklarasi yang berkaitan yaitu:
1. Deklarasi Universal tentang Hak-hak Asasi Manusia
10 Desember 1948;
2. Konvensi Genocide 1949
3. Konvensi Jenewa 1949 tentang terlindungan korban
perang.

28
. I Wayan Parthiana. Op. Cit. Hal 26
Dalam perkembangannya khususnya di eropa tahun
1953 lahirlah European Convention on Human Right and
Fundamental Freedoms (Konvensi Eropa tentang hak-hak
asasi dan kebebasan fundamental manusia). Sedangkan di
kawasan Amerika dan Afrika lahir beberapa konvensi
regional tentang hak asasi manusia, yaitu Convenan on Civil
and Political Rightsand Convenant on Economic and
Cultural Rights. Selanjutnya muncul berbagai instrumen
mengenai hak asasi manusia baik dalam lingkup regional
dan global, maupun yangbersifat sektoral serta spesifik.
Namun tidak berhenti disana, lain pihak bnyak
terjadi peperangan, yang berlatar belakang tidak jauh dari
perang dunia II yaitu bersentuhan dengan nilai-nilai
kemanusiaan universal yang tidak lagi mengenal batas
negara, perbedaan ras, warna kulit, suku, etnis, agama dan
kepercayaan. Sebagai konsekuensinya munculah usaha-
usahauntuk menginternasionalkan kejahatan-kejahatan
yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal
dan mengaturnya dalam bentuk instrumen-instrumen
hukum, seperti perjanjian atau konvensi
internasional.
Pasal 5 Statuta Mahkamah Pidana Internasional
(Traktat Roma, 1998) menegaskan 4 jenis kejahatan yang
menjadi yurisdiksi dari mahkamah, yaitu :
29

1. Kejahatan perang (war Crimes);


2. Kejahatan terhadap kemanusian (crimes against
humanity);
3. Kejahatan agresi (crime of agression);
4. Kejahatan genocide (crimes of genocide);
Pasal 7 ruang lingkup kejahatan kemanusian yakni :30

29
. Ibid . Hal 25
30
. Ibid . Hal 25
1. Murder (pembunuhan);
2. Extermination (pembasmian/pemusnahan);
3. Enslavement (perbudakan);
4. Deportation or forcible transferof population
(pengusiran atau pemindahan secara paksa atas
penduduk);
5. Detention or devrivation of liberty in violation of
fundamental legal norms (Penahanan atau
penghukuman yang berupa pengurangan kebebasan
yang merupakan pelanggaran atas kaidah hukum
yang fundamental);
6. Future (penyiksaan);
7. Rape or other sexsual abouse or enforced
prostitution (pemerkosaan atau penyalahgunaan
seksual lainnya atau pemaksaan untuk melakukan
prostitusi);
8. Persecution against any indentifiable group or
collectivity on political, racial, national, etnic,
cultural or regious or gender or onther similar
grounds (penyiksaan/penganiayaan yang dilakukan
terhadap kelompok manusia berdasarkan alasan
politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya atau agama,
gender atau alasan-alasan selain yang serupa);
9. Enforced disapearance of persons (penghilangan
secara paksa atas seseorang individu);
10. Other inhumane acts of a similar character cousing
great sufering or serious injury to body or mental or
physical health (tindakan-tindakan yang tidak
manusiawi atau tidak berperikemanusiaan.
Berdasarkan yurisdiksi universal jika ditinjau dari
segi hukum internasional, berarti bahwa setiap negara
berhak, berkuasa, ataupun berwenang untuk mengadili
sipelaku, tanpa memandang siapapun para korbannya dan
tanpa memandang dimanapun tenpat peristiwa itu terjadi,
serta kapan terjadinya (berarti mengenyampingkan asas
kadaluarsa).Namun sebelum itu perlu tetap memperhatikan
tentang pengaturan dalam hukum nasional maupun hukum
internasional, yaitu:
1. Bahwa eksistensi statuta badan peradilan internasional
yaitu kejahatan terhadap kemanusian didalam hukum
internasional positif;
2. Bahwa negara yang sudah melakukan ratifikasi
terhaadap perjanjian-perjanjian internasional
maupun konvensi-konvensi internasional yang
berhubungan dengan ini untuk segera
mentranformasikan kedalam hukum atau undang-
undang nasionalnya;
3. Bahwa adanya beberapa negara yang telah
menggolongkan kejahatan-kejahatan kemanusian itu
dalam hukum pidana nasional namun isi dan jiwanya
tidak sama dengan hukum internasional.
Secara khusus pengaturan tentang pelanggaran yang
tergolong pada kejahatan internasional yang diatur dalam
Pasal 5 Statuta Mahkamah Internasional tetap
memberlakukan yurisdiksi universal, jadi pelaku tidak dapat
menghindari dari proses dan tuntutan atas kejahatan yang
dilakukannya. Akan tetapi hukum internasional hanya
memberikan sebatas yurisdiksi atau hanya memberikan hak,
kekuasaan atau kewenangan untuk menerapkan hukum
pidana nasionalnya.Namun meskipun pada teorinya tentang
berlakunya yurisdiksi universal atas kejahatan terhadap
kemanusian sangatlah ideal namun pada prakteknya
tidaklah mudah, mengingat adanya lebih besarnya aspek-
aspek politik daripada aspek-aspek legal formal.
Pada umumnya pengaturan tentang yurisdiksi
negara atas kejahatan terhadap kemanusiaan ataupun
kejahatan-kejahatan lain yang bertentangan dengan nilai-
nilai kemanusiaan dalam konvensi-konvensi internasional
adalah yurisdiksi universal.Ditinjau dari pengaturannya di
dalam perjanjian-perjanjian ekstradisi secara eksplisit
tampak tidak atau belum ada perjanjian-perjanijan ektradisi
bilateral maupun multilateral yang menegaskan tentang
kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai salah satu
kejahatan yang dapat dijadikan alasan untuk meminta
penyerahan atau menyerahkan si pelaku. Yang ada hanya
jenis-jenis kejahatan yang secara konvensional dan
tradisional telah diakui dan diatur dalah hukum pidana
nasional masing-masing negara peserta.
Penegasan tentang kejahatan pembunuhan dan
perbudakan ada dalam pengertian konvensional sehingga
dikatakan sebagi kriminal biasa. Dengan demikian
yurisdiksinya pun bukan berdasarkan atas yurisdiksi
universal melaikan yurisdiksi personal atas dasar
kewenangan aktifmaupun pasif.Khusus kejahatan
kemanusiaan harus memperhatikan beberapa masalah yang
patut dikemukakan,yaitu:
1. Jika si pelaku bagian dari pemerintah atau penguasa itu
sendiri, akan kecil kemungkinan pemerintah tersebut
akan mengabulkan permintaanannya, berbeda halnya
jika seseorang itu lawan politiknya;
2. Jika pelaku melarikan diri kenegara ketiga, pelaku
tentu akan memilih negara yang sekiranya akan
memberikan perlindungan baginya;
3. Jika negara yang mengajukan ektradisi berdasarkan
yurisdiksi universal bahwa si pelaku akan berlindung
dibalik kejahatan politik.
Upaya yang efektif untuk memaksa suatu negara
yang menolak ektradisi sipelaku kejahatan kemanusiaan
adalah melalui tekanan-tekanan internasional yang
dilakukan secara terus menerus.

Pertanyaan:
1. Jelaskan definisi yurisdiksi menurut saudara?
2. Jelaskan macam-macam yurisdiksi menurut
pendapat John O'Brien?
3. Jelaskan prinsip-prinsip yurisdiksi?
4. Jelaskan mengapaprinsip universal dalam
yurisdiksi dikatakan sebagai prinsip yang unik?
5. Bagaimana pengaturan penerapan yurisdiksi jika
dikaitkan dengan prinsip universal?
BAB V
EKSTRADISI
A.Sejarah Ektradisi
Istilah ekstradisi berasal dari kata latin yaitu
extradere atau menyerahkan. Secara etimologis berasal dari
dua kata yaitu extra dan tradition .Ekstradisi artinya suatu
31

konsep hukum yang berlawanan dengan tradisi yang telah


berabad-abad dipraktekan antar bangsa-bangsa. Tradisi
tersebut adalah kewajiban setiap negara untuk menjadi
pelindung dan tradisi untuk memelihara kehormatan negara
sebagai tuan rumah atas mereka yang memohon
perlindungan tersebut.
Ekstradisi adalah proses formal dimana seorang
pelaku kejahatan diserahkan kepada suatu negara tempat
kejahatan dilakukan untuk diadili atau menjalani hukuman.
Tidak adasuatu ketentuan umum hukum internasional yang
mewajibkan negara mengikatkan diri kedalam perjanjian
ekstradisi baik atas dasar perjanjianatau dasar prinsip
resiprositas (hubungan timbal balik).Ekstradisi berdasarkan
prinsip resiprositas, comity dan saling menghargai
perbedaan yurisdiksi dan sistem hukum bertujuan untuk
meningkatkan kerjasama internasional dan memperkuat
pemberlakuan hukum nasional di luar batas teritorial.
Hukum ekstradisi merupakan cabang dari hukum
pidana internasional yang mengatur prosedur penyerahan
tersangka terdakwa terpidana dari suatu negara ke negara

31
. C. Bassiouni, International Extradition and World Order. Stijthoff
International Publishing Company. 1974. Hal 3
lain untuk bertujuan penuntutan atau menjalani hukuman.
Hukum ekstradisi dilandaskan pada asumsi bahwa negar
yang meminta ekstradisi mempunyai itikad baik dan pelaku
kejahatanyang diserahkan akan diberlakukan adil selama
diadili di negara yang bersangkutan.
Bassioni membagi perkembangan ekstradisi
32

menjadi empat periode yaitu:


1. Periode pertama sejak sebelum masehi sampai abad
ke 17, dimana ekstradisi hanya ditunjukan terhadap
kejahatan politik dan kejahatan penodaan terhadap
agama.
2. Periode kedua, dari mulai abad 18 sampai
pertengahaan abad 19, yaitu ekstradisi mulai
dilandaskan pada perjanjian internasional dan
terutama ditunjukan terhadap mereka yang
melakukan kejahatab militer.
3. Periode ketiga dari tahun 1833 sampai dengan
sekarang, dimana ekstradisi juga ditunjukan
terhadap kejahatan-kejahatan umum atau
konvensional.
4. Periode ke empat yaitu setelah tahun 1948 yang
sejalan denganperkembangan hak asasi manusia,
sehingga ektradisi harus menghormati HAM
tersangkat, terdakwa atau terpidana.
Perjanjian ektradisi pertama kali adalah pada tahun
1280 SM antara Raja Ramses dan Raja Hattusili III dari
Hitites . Sejarah ektradisi masa kini sudah jauh berbeda dari
33

abab pertengahan sampai pada masa kerajaan romawi, baik


dari sisi filosofis, misi dan tujuan yang hendak dicapai. Pada
masa kerajaan ini bersifat limited extradition (terbatas)
sedangkan masa kini unlimited extradition (tidak terbatas).
32
. Ibid. Hal. 3
33
. Ibid. Hal. 6
Pada masa kerajaan dikatakan Politica extradition
sedangkan masa kini Non- Politica extradition.
Perkembangan ektradisi dimungkinkan atas
berakhirnya perang dunia kedua dengan dihormatinya hak
asasi manusia seiring munculnya kejahatan baru yang telah
memberikan pengaruh tersendiri terhadap kewajiban suatu
negara untuk bekerjasama.

B. Substansi Dan Ruang Lingkup Dari Ekstradisi


Unsur-unsur ekstradisi yang diambil dari pengertian
ekstradisi yang menyebutkan bahwa ekstradisi adalah
penyerahan yang dilakukan secara formal baik berdasarkan
perjanjian ekstradisi yang sudah ada sebelum atau
berdasarkan prinsip timbal balik atau hubungan baik,
atastuduhan seseorang yang dituduh melakukan kejahatan
(tersangka, terdakwa, atau terpidana) atau seseorang yang
dijatuhi hukuman pidana yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, oleh negara ditempat dia berada (negara
diminta) kepada negara yang memiliki yurisdiksi untuk
mengadili atau menghukum (negara peminta) atas
permintaan negara peminta dengan tujuan untuk mengadili
dan atau melaksanakan hukumannya. Dari rumusan tersebut
dapat diambil beberapa unsur yaitu :
34

1. Unsur subjek yaitu negara diminta atau negara-


negara peminta; Yang dimaksud dengan unsur
Subjek adalah negara.
A. Negara yang memiliki yurisdiksi untuk mengadili
atau menghukum pelaku kejahatan.Negara yang
memiliki yurisdiksi untuk mengadili atau
menghukum ini sangat berkepentingan untuk
mendapatkan kembali orang tersebut untuk
diadili atau dihukum atas kejahatan yang telah
34
. Ibid. Hal. 129
dilakukannya, negara tersebut mengajukan
permintaan kepada negara tempat orang itu
berada atau bersembunyi. Negara ini disebut
negara peminta (the resqusthing state).
B. Negara tempat pelaku kejahatan berada atau
bersembunyi diminta oleh negara yang
memiliki yurisdiksi untuk mengadili supaya
menyerahkan orang yang berada dalam
wilayahnya itu (tersangka, terhukum) yang
dengan singkat disebut negara diminta (the
resquithing State)
2. Unsur objek yaitu orang yang diminta, yang bisa
berstatus sebagai tersangka, terdakwa atau
terpidana;
Unsur objek yang dimaksud adalah sipelaku itu
sendiri (tersangka, tertuduh, terhukum). Dengan
perkataan lain disebut sebagai “orang yang diminta”.
Walaupun sebagai objek namun sebagai manusia dia
harus diperlakukan sebagai subjek hukum dengan
segala hak dan kewajibannya yang azasi, yang tidak
boleh dilanggar oleh siapapun.
3. Unsur prosedur yaitu tata cara yang harus dilakukan
menurut prosedur atau formalitas tertentu;
Permintaan itu haruslah didasarkan pada perjanjian
ekstradisi. Penyerahan hanya dapat dilakukan
apabila diajukan permintaan untuk menyerahkan
oleh negara peminta kepada negara diminta. Jika
tidak ada permintaan untuk menyerahkan dari
negara peminta, maka tsk tidak boleh ditangkap atau
diserahkan. diajukan secara formal kepada negara
yang bersangkutan sesuai dengan prosedur yang
telah ditentukan atau menurut hukum kebiasaan.
4. Unsur tujuan yaitu untuk tujuan mengadili dan
menghukumnya.
Unsur tujuan adalah untuk tujuan apa orang yang
bersangkutan dimintakan penyerahan atau
diserahkan. Penyerahan atau ekstradisi yang
dimaksudkan ialah untuk mengadili pelaku
kejahatan tersebut dan menjatuhkan hukuman
apabila terbukti bersalah dan agar sipelaku kejahatan
menjalani hukuman yang telah dijatuhkan
kepadanya yang telah mempunyai kekuatan hukum
dinegara yang berwenang mengadilinya.
Adanya masalah intern negara antar negara, maka
keputusan untuk menyerahkan atau menolak permintaan
ekstradisi atas seseorang yang diminta, ada pada pejabat
tinggi negara yang berwenang mewakili atau bertindak
untuk dan atas nama negara dalam masalah-masalah
hubungan internasional.

C. Pengaturan Ekstradisi Hukum Internasional Dan


Hukum Nasional
Pada zaman sekarang ini kedudukan ekstradisi
sudah berada di tempat yang cukup mapan, yang dibuktikan
adanya bentuk-bentuk hukum yang mengaturnya baik
dalam bentuk perjanjian bilateral, multilateral regional
maupundalam bentuk perundang-undangan nasional
negara. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada
tanggal 14 Desember 1990 telah mengeluarkan resolusi
Nomor 45/117 tentang model Treaty on Extradition.
Meskipun telah banyak peraturan perundangn-
undangan hukum nasional tentang ektradisi tetapi
semuanya belum menganut asas-asas kaidah kaidah hukum
dengan isi dan jiwa yang sama, sehingga masih adanya
perbedaan. Dalam prakteknya mereka menyelesaikan
kasus-kasus internasional dengan berpegang pada asas-asas
dan kaidah-kaidah umum yang telah dianut secara umum
dan merata di negara-negara besar. Melihat kenyataan yang
seperti itu, maka para sarjana internasional mengakui
lembaga ekstradisi ini sebagai hukum kebiasaan
internasional.

D. Asas-Asas Ekstradisi
Perihal ekstradisi biasanya diatur dalam undang-
undang masing-masing negara undang-undang tersebut
kemudian ditindaklanjuti dengan perjanjian bilateral antara
satu negara dengan negara lainnya. Ataudapat juga
pelaksana ekstradisi dalam suatu perjanjian multilateral atau
dalam bentuk perjanjian regional seperti ekstradisi eropa.
Dalam undang-undang atau perjanjian ektradisi
asas-asas ekstradisi tertuang secara eksplisit. Secara
keseluruhan asas-asas ektradisi itu ada sembilan, yaitu :
35

1. Asas kepercayaan yakni ektradisi hanya akan terjadi


jika ada kepercayaan diantara negara-negara
khususnya kepercayaan adagium omnia
preasumuntur rite esse acta.
2. Asas resiprositas atau prinsip timbal balik yakni jika
suatu negara menginginkan suatu perlakuan yang
baik dari negara yang lain, maka negaratersebut juga
harus memberikan perlakuan yang baik bagi negara
yang bersangkutan.
3. Asas double incrimination atau double criminality
atau kejahatan rangkap yakni perbuataan yang
dilakukan tersangka atau terdakwa menurut negara
yang diminta atau negara yang meminta dan negara
35
. I Wayan Parthiana. Op.Cit. Hal 130.
yang diminta adalah tindak pidana dengan ata lain
perbuatan yang dilakukan tersangka atau terdakwa
menurut hukum negara yang meminta ataupun
menurut negara yang diminta dinyatakan sebagi
kejahatan.
4. Asas tidak menyerahkan warga negara sendiri yakni
jika tersangka atau terdakwa bahkan terpidana yang
diminta adalah warga negara dari negara yang
diminta, maka negara yang diminta berhakuntuk
tidak menyerahkan warga negaranya. Di Prancis
dikenal dengan istilah dignate national.
5. Asas bahwa suatu kejahatan yang seluruhnya atau
sebagian wilayahnya termasuk dalam yurisdiksi
negara yang diminta, maka negara tersebut dapat
menolak permintaan ekstradisi, dengan kata lain
negara berhak menolak permintaan ekstradisi jika
tersangka, terdakwa atau terpidana melakukan
seluruhnya atau sebagian di wilayah teritorial
negaranya.
6. Asas yang menyatakan bahwa jika yang diminta
adalah tersangka, terdakwa atau terpidana yang
melakukan kejahatan politik dinegaranya maka
permintaan ekstradisi itu ditolak.
7. Asas attentaatclause yakni meskipun pelaku
kejahatan tersebut bermuatan politik namun
berkaitan dengan pembunuhan atau percobaan
pembunuhan terhadap kepala negara, raja, presiden
atau sebutan lainnya maka negara yang diminta wajib
menyerahkan atau mengekstradisi tersangka,
terdakwa atau terpidana.
8. Asas spesialitas yakni negara yang meminta tidak
boleh menuntut, mengadili, menghukum atau
menyerahkan orang yang diminta kepada negara
ketiga.
9. Asas yang menyatakan ancaman pidana mati
sebagai halangan yakni penyerahan hanya dapat
dilakukan jika ada jaminan dari negara yang meminta
bahwa orang yang diminta untuk ekstradisi tidak
dapat dijatuhi pidana mati.

Eksistensi ekstradisi sekarang ini sebagai lembaga


hukum internasional maupun lembaga hukum nasional
ditinjau dari praktek-praktek di beberapa negara. Ekstradisi
yang eksistensinya telah mapan dan terhormat memberikan
perlindungan yang cukup besar terhadap si pelaku kejahatan
dan hak-hak asasi, prosedur yang panjang dan birokrasi
yang membutuhkan waktu biaya dan tenaga yang cukup
besar. Disatu sisi ini menjadi dilema atau penghambat untuk
memberantas kejahatan yang berdimensi internasional yang
seringkali dibutuhkan kecepatan dan kecanggihan tanpa
menunggu prosedur yang sangat lama dan panjang.

Dari fakta tersebut maka ternyata dalam kurun waktu


sepuluh tahun ini ternyata hanya baru beberapa kasus yang
diselesaikan melalui ektradisi, diantaranya kasus Andiraja
Artukovic seorang pejabat erang nazijerman pada era
Perang Dunia II dan kasus OKI dan kasus Nick Leeson.
Yangdapat diselesaikan melalui ekstradisi hanya beberapa
kasus tadi padahal masih banyak kasus kejahatan
internasional yang tidak diselesaikan melalui ekstradisi.
Karena ternyata ada cara lain yang dilakukan oleh negara-
negara berkembang yang dianggap lebih efektif dan efisien
yaitu melalui cara pengusiran atau deportasi dan penyerahan
di bawah tangan.
E. Azas Non Ekstradition Of Political Criminal Dalam
Ekstradisi
Dalam ektradisi ada suatu asas yang disebut dengan
azas non ekstradition of political criminal ini merupakan
salah satu asas dalam ekstradisi. Yaitu negara yang diminta
harus menolak permintaan negara-negara peminta, untuk
menyerahkan orang yang diminta apabila kejahatan yang
dilakukan oleh orang yang diminta dan yang dijadikan dasar
untuk meminta penyerahan oleh negara peminta adalah
merupakan kejahatan politik36.
Asas ini berawal dari penghoramatan atas hak dan
kebebasan setiap orang untuk menganut prinsip-prinsip atau
keyakinan politik yang diyakininya sendiri meskipun
prinsipnya itu bertentangan dengan politik pemerintahan
yang sah. Awalnya kejahatan politik itu sangat sederhana
namun dengan adanya perkembangan jaman kejahatan
politik ini mulai menunjukan variasinya sehingga sulit
dibedakan dengan kejahatan biasa. Karena kaburnya garis
pembeda tersebut sehingga mengakibatkan tidak adanya
kriteria yang dapat diterima oleh umum untuk membedakan
kejahatan tersebut apakah termasuk kejahatan politik atau
kejahatan biasa.
Untuk menghindari perselisihan maka para pihak
yaitu antara negara peminta dan negara yang diminta untuk
menilai apakah ini kejahatan biasa atau kejahatan politik
maka di serahkan sepenuhnya kepada negara yang diminta,
sehingga mengakibatkan pertimbangan-pertimbangannya
sangat subjektif.
Namun seiring perkembangan zaman maka timbul
kecenderungan negara-negara secara tegas untuk
menghapus sifat politik suatu jenis kejahatan sehingga
bagaimanapun juga kejahatan tersebut bukan dipandang
sebagai kejahatan politik. Hal ini ditegaskan dalam
36
. Ibid. Hal 165.
perjanjian ekstradisi bilateral maupun multilateral.
Contonya perjanjian ekstradisi Australia dan Israel Pasal 4
ayat (1) secara tegas menyatakan bahwa Genocide itu
termasuk kejahatan internasional bukan merupakan
kejahatan politik. Selain itu dalam konvensi-konvensi
lainnya yaitu Konvensi Den Haag 1970 Pasal 8 ayat (1)
menyatakan kejahatan pembajakan atas pesawat udara
bukan merupakan kejahatan politik sehingga digolongkan
sebagai extraditable. Dan Pasal 14 Protokol Konvensi
tunggal tentang narkotika.
Pada hakikatnya dua kejahatan itu merupakan
kejahatan transnasional, mengingat sifat dan ciri-ciri
kejahatan transnasional tidak mengenal batas-batas wilayah
negara serta bahaya dan akibat-akibat yang dirasakan bagi
masyarakat internasional dan dipandang sebagai hostis
humani generis sehingga sudak sepatutnya alasan politik
dihapuskan dan dipandang sebagai kejahatan ekstraditable.
Segi positif dari penghapusan sifat politik itu yaitu
hak negara diminta untuk menentukan apakah suatu
kejahatan yang dijadikan dasar untuk meminta penyerahan
oleh negara-negara peminta tergolong dalam kejahatan
politik atau tidak, menjadi lebih terbatas sehingga
pertimbangan-pertimbangan yang subjektif dapat dihindari
setidaknya dapat dikurangi. Demikian pula bagi sipelaku
untuk berlindung dan bersembunyi dibalik kejahatn poltik
sekedar hanya untuk menghindari penyerahan dapat
dibatasi.
Penegasan tentang penghapusan kejahatan yang
bersifat politik kejahatan transnasional itu dan pernyataan
sebagai extraditable dapat dicantumkan baik dalam
perjanjian-perjanjian ektradisi dalam konvensi secara
langsung maupun perundang-undangan nasional tentang
ekstradisi, dan sangat ideal jika dilakukan secara serentak.
Pertanyaan:
1. Jelaskan apa yang dimasud ekstradisi?
2. a. Jelaskan empat periode mengenai perkembangan
ekstradisi yang dikemukakan oleh Bassioni?
b. Jelaskan asas-asas yang melekat dalam ektradisi?
3. Jelaskan unsur-unsur yang dimaksud dalam ektradisi?
4. Bagaimana pengaturan tentang ekstradisi menurut
hukum nasional maupun hukum internasional?
5. Menurut Azas Non Ekstradition Of Political Criminal
Dalam Ekstradisi bolehkan ektradisi ditolak jelaskan
disertai alasan!
BAB VI
PELANGGARAN HAM
A. Sejarah Pelanggaran Hak Asasi Manusia
Pelanggaran terpanjang pada masa ini terutama yang
dilakukan oleh Hitler dengan gerakan nazi serta
pendukungnya yang telah menelan korban diluar batas
perikemanusiaanya yang sudah tak terhitung jumlahnya.
keadaan seperti ini mendorong pihak sekutu untuk meminta
pertangungjawaban terhadap pihak-pihak yang menjadi
penyulut perang dengan membentuk badan peradilan yaitu
Mahkamah Militer Internasional (international Military
Tribunal) di Numberg Jerman dan di Tokyo. Peradilan ini
didirikan berdasarkan Perjanjian London.
Mahkamah militer ini tidak luput dari kecaman para
ahli hukum maupun para pengacara dari para terdakwa
dalam persidangan mahkamah, bahwa menerapkan prinsip
ex post facto(ex post facto law) yaitu ketentuan hukum yang
dibuat atau di tetapkan sesudah terjadinya peristiwa hukum
yang diberlakukan surut hal ini jelas bertentangan dengan
salah satu azas hukum pidana yakni hukum pidana tidak
boleh berlaku surut.
Untuk menanggulangi kecaman itu keluarlah
argumen bahwa kejahatan-kejahatan yang dituduhkan telah
ada sejak dahulu hingga kini dan membekas di hati nurani.
Kemudian kejahatan ini di formulasikan dalam bentuk
tertulis supaya lebih jelas diketahui.
B. Subjek Hukum Pelanggaran HAM
Hak asasi manusia telah diakui secara universal,
harus dihormati dan dilindungi oleh semua pihak baik
negara organisasi internasional antar pemerintah ataupun
non pemerintah, orang perorangan baik secara individu
ataupun kelompok. Pada kenyataannya hanya negara yang
mempunyai peran sentral dalam penghormatan dan
perlindungan Hak Asasi Manusia padahal secara teoritis
setiap subjek hukum berkewajiban menghormati dan
melindungi hak asasi manusia. Subjek hukum itu terdiri dari
Negara, dan manusia (individu/orang). Hal ini disebabkan
karena negara memiliki kedaulatan (internal maupun
eksternal dan dari kedaulatan ini lah lahirkekuasaan dan
kewenangan. Dan penggunaan kekuasaan dan kewenangan
inilah yang menimbulkan penyalahgunaan dan ini dapat
merupakan pelanggaran hak asasi manusia.
Subjek hukum selanjutnya adalah manusia atau
individu. Manusia / individu secara potensial dapat
melakukan pelangaran hak asasi manusia. Individu yang
dapat atau rentan melakukan pelanggaran ini dibedakan
menjadi dua golongan yaitu:

1. Individu yang kedudukannya sebagai pejabat negara


dan individu yang melakukan pelanggaran HAM
dalam menjalankan tugasnya yang diperintah oleh
pejabat negara meskipun individu itu bukan pejabat
negara melainkan orang biasa, ini berarti individu
yang tidak dapat dipisahkan dengan pejabat negara.
2. individu yang tidak terkait dengan pejabat negara
berarti individu ini dalam melakukan pelanggaran
Hak Asasi Manusia semata-mata memang sebagai
individu / perorangan pada seutuhnya atau
sekelompok orang baik misalnya kaum teroris atau
kaum anarki, dan sindikat kriminal .
C. Tanggung Jawab Subjek Hukum Dalam Pelanggaran
HAM
Setiap subjek hukum memiliki tanggung jawab
sendiri-sendiri, begitu pula dalam subjek hukum ini yang
dimana memiliki tanggung jawab masing-masing atas
pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan, yaitu :37

1. Tangung jawab Negara sebagai pelaku pelanggaran.


Dalam Hukum Internasional Negara sebagai subjek
hukum yang berkewajiban menghormati dan
melindungi hak-hak asai manusia namun dalam
kenyataannya seringkali negara melanggar hak-hak
asasi manusia itu. Hak asasi manusia yang dilanggar
oleh negara itu adalah hak-hak asasi manusia yang
sudah diformulasikan dalam bentuk instrumen-
instrumen hukum internasional.
Dalam Hukum Nasional suatu negara memiliki
undang-undang tentang hak asasi manusia serta
mekanisme pelaksanaanya dan pemaksaannya.
Dalam undang-undang itu setiap negara ataupun
orang asing yang berada dalam wilayah negara yang
bersangkutan yang merasa hak asasinya dilanggar
oleh negara dapat mengklaim negara/pemerintah
dan dilakukan proses peradilannya sampai pada
tahap putusan.
2. Tangung jawab individu sebagai pelaku
pelanggaran.
Dalam hukum internasional individu yang dapat
dimintai pertanggungjawaban baik individu dalam
status sebagai pejabat negara atau individu bukan
sebagai pejabat negara. Dalam hukum internasional
dapat dimintai pertanggungjawaban melalui badan
peradilan internasional.
37
I Wayan Parthiana. Op. Cit. Hal 90
Sedangkan dalam hukum nasional baik itu dilakukan
atas perintah jabatan atau bukan, baik individu atau
kelompok proses peradilan tetap dipercayakan pada
badan peradilan nasional. Dapat terlaksana jika:
a. Negara memiliki kemampuan untuk
menerapkan undang-undang nasional di depan
peradilan ham nasional;
b. Proses pemeriksaan peradadilan itu
memenuhi kriteria prinsip Just, fair, and
impartial.

D. Kasus-Kasus Pelanggaran HAM waktu Perang Dunia


II.
Pelanggaran terpanjang pada masa ini terutama yang
dilakukan oleh Hitler dengan gerakan nazi serta
pendukungnya yang telah menelan korban diluar batas
perikemanusiaanya yang sudah tah terhitung
jumlahnya.keadaan seperti ini mendorong pihak sekutu
untuk meminta pertangungjawaban terhadap pihak-pihak
yang menjadi penyulut perang dengan membentuk badan
peradilan yaitu Mahkamah Militer Internasional
(international Military Tribunal) di Numberg Jerman dan di
Tokyo. Peradilan ini didirikan berdasarkan Perjanjian
London.
Mahkamah militer ini tidak luput dari kecaman para
ahli hukum maupun para pengacara dari para terdakwa
dalam persidangan mahkamah, bahwa menerapkan prinsip
ex post facto(ex post facto law) yaitu ketentuan hukum yang
dibuat atau di tetapkan sesudah terjadinya peristiwa hukum
yang diberlakukan surut hal ini jelas bertentangan dengan
salah satu azas hukum pidana yakni hukum pidana tidak
boleh berlaku surut
Untuk menanggulangi kecaman itu keluarlah
argumen bahwa kejahatan-kejahatan yang dituduhkan
telah ada sejak dahulu hingga kini dan membekas di hati
nurani. Kemudian kejahatan ini di formulasikan dalam
bentuk tertulis supaya lebih jelas diketahui.

1. Pelanggaran HAM dalam Kasus Ex Yugoslavia


dan Rwanda
Kedua kasus ini tidak mampu mengadili pelakunya
baik dari warga negaranya sendiri maupun warganegara
asing menggunakan hukum nasionalnya, dan proses
peradilannya kan dilakukan oleh badan internasional
yakni PBB. Akibat dari perang itu adalah hukum
nasional nya tidak dapat berjalan secara efektif.
Pelanggaran ham yang pelakunya adalah pejabat
negara dan pemimpin militer dari negara itu sendiri
bahkan orang sipil biasa yang berkolaborasi dengan
pejabat atau militer. Karena tidak efektifnya hukum
nasional maka dibentuk badan peradilan Ad Hoc
berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor
827/1993 untuk yugoslavia dan Nomor 955/1994 untuk
Rwanda.

2. Pelanggaran HAM dalam Kasus Tim Tim


Kasus ini terjadi pada tahun 1999 setelah jejak
pendapat yang dimenangkan oleh kelompok pro
kemerdekaan dan oleh masyarakat internasional ini
dipandang sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dicetuskannya akan dibentuknya peradilan Ad Hoc
namun berhasil digagalkan dengan alasan indonesia
masih mampu mengadili sendiri dengan hukum dan
badan peradilan nasional nya.
Dibentuk Undang-undang nomor 26 tahun 2000
tentang pengadilan Ham dan Undang-Undang Nomor
39 tahun 1999 tentang HAM. Pengadilan HAM
terbentur dengan penerapan hukum contoh asas
retroaktif. Dan keadaan saat itu menunjukan bahwa
kedua undang-undang itu sangat delematis kemudian
menempuh legislative review kepada MPR.

3. Pelanggaran HAM di Afrika Selatan Chili dan


Argentina
Dalam kasus ini penyelesainnya dapat dilakukan
secara anggun dan bermartabat meskipun pelanggaran
hak asasi manusi ini telah berlangsung lama.
Penyelesaina melalui cara ini memang mebutuhkan
beberapa persyaratan baik rasional objektif maupun
sentimental subjektif. Salah satu faktor yang menjadi
penentu keberhasilan ini adalah timbul dan
berkembangnya kesadaran bersama bahwa politik
apartheid ternyata tidak memberikan rasa aman damai
dan sejahtera.

4. Pelanggaran HAM Konvensional di Berbagai


Negara
Sarana peradilan untuk melakukan penyelesaian
Pelanggaran HAM ini baik melalui badan peradilan
nasional maupun badan pengadilan HAM dengan
menerapkan tentang hak-hak asasi manusia.
Pada lingkup internasional pelanggaran HAM yang
konvensional di selasaikan melalui mekanisme
internasional sebagaimana diatur dalam konvensi-
konvensi internasional regional tentang hak asasi
manusia.
5. Pelanggaran HAM yang diselenggarakan
melalui Badan Peradilan Pidana International
Permanen.
Makin berkembangnya kejahatan-kejahatan berat
maka muncul ide untuk membentuk badan peradilan
internasional permanen dalam rangka mengadili
pelaku-pelaku pelanggaran HAM yang tergolong
berat.
Statuta Roma tahun 1998 menjadi landasan
pembentukan badan peradilan internasional itu, namun
sampai kini syarat diberlakukannya statuta roma itu
belum di tentukan. Dengan seperti itu tampaknya
pembentukan Mahkamah Pidana Internasional masih
panjang dnegan berbagai faktor yang tidak mendukung.
Pertanyaan :
1. Jelaskan sejarah tentang kejahatan terhadap
pelanggaran Hak Asasi Manusia?
2. Jelaskan apa yang dimaksud subjek hukum dalam
pelanggaran Hak Asasi Manusia?
3. Mengapa negara dapat dikatan rentan menjadi
pelaku pelanggaran Hak Asasi Manusia?
4. Bagaimana implementasi tanggungjawab pelaku
kejahatan pelanggaran hak asasi manusia?
5. Jelaskan beberapa contoh kasus pelanggaran HAM
yang pernah terjadi di dunia?
BAB VII
PROSES PERADILAN ATAS PELAKU
KEJAHATAN KEMANUSIAAN
OLEH PERADILAN INTERNASIONAL

Sejarah Pembentukan ICCPada tahun 1948,


perserikatan bangsa-bangsa (PBB) telah menyadari
perlunya untuk mendirikan suatu pengadilan internasional.
Untuk menuntut kejahatan-kejahatan seperti permusnahan
secara teratur terhadap suatu kelompok (genocide atau
genosida). Dalam resolusi 260 pada tanggal 9 december
1948, majlis umum PBB menyatakan sebagai berikut :
“recognizing that at all periods of history genocide has
inflictad great losses on humanity, and being convinced
that, in order to librate mankind from such an odius
scourge, internasional cooperasion is requid”.
Setelah itu, suatu komite persiapan telah memulai
kerjanya. Yang di mulai pada awal 1999. Untuk
mempersiapkan usulan-usulan yang berkaitan dengan
persiapan-persiapan praktis yang berkaitan dengan akan di
mulai berlakunya statuta ketika telah 60 negara
meratifikasinya dan untuk pendirian mahkamah tersebut.
Suatu komisi mulai membahas materi-materi yang berkaitan
dengan unsur-unsur kejahatan, aturan-aturan kejahatan,
aturan prosedur dan pembuktian.
Sekitar 50 tahun setelah keluarnya resolusi tersebut
Pada bulan Juli 1998 di Roma Italia konferensi diplomatis
mengesahkan Statuta Roma tentang ICC (Statuta Roma)
dengan suara sebanyak 120 setuju dan hanya 7 yang tidak
setuju (21abstein). Statuta Roma menjelaskan apa yang
dimaksud dengan kejahatan, cara kerja pengadilan dan
negara-negara mana saja yang dapat bekerja sama dengan
ICC. Ratifikasi ke-60 yang diperlukan untuk membentuk
ICC telah dilakukan pada tanggal 11 April 2002 dan Statuta
mulai dilaksanakan yuidiksinya pada tanggal 1Juli 2002.
Pada bulan Pebruari 2003, 18 hakim ICC pertama kali
diangkat dan Jaksa Penuntut pertama dipilih pada bulan
April 2003.

Pengadilan Pidana Internasional


Pengertian Pengadilan pidana internasional
Pengadilan pidana inernasional atau dalam bahasa Inggris di
sebut internasional criminal court (ICC) merupakan
lembaga hukum independen dan permanen yang dibentuk
oleh masyarakat negara-negara internasional untuk
menjatuhkan hukuman kepada setiap bentuk kejahatan
menurut hukum internasional diantaranya genosida,
kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang dan
kejahatan agresi.
Mahkamah pidana internasional dalam Statuta
Roma Mahkamah pidana internasional merupakan lembaga
parlemen yang memiliki kekuatan untuk memberlakukan
yuridikasinya terhadap pelaku tindak pidana internasional
yang paling serius sebagaimana diatur dalam
statutaroma.Upaya mengadili perkara Internasional,
tampaknya lebih efektif melalui badan keadilan yang
bersifat Ad Hoc maupun permanen. Dalam kurun waktu 50
tahun negara-negara yang tergabung dalam Perserikatan
Bangsa-bangsa melihat adanya perkembangankebutuhan
untuk mengendalikan kejahatan internasional dengan
membentuk 4 (empat) Pengadilan Ad-Hoc, dan 5 (lima)
Komisi Penyidik. Keempat pengadilan Ad-hoc tersebut
adalah:
1. International Military Tribunal ( Nuremberg,
1946);
Adalah suatu rangkaian persidangan kasus-kasus
yang berkaitan dengan para anggota-anggota
utama dari kelompok pemimpin-pemimpin
politik, militer dan ekonomi dari nazi jerman.
Rangkaian persidangan ini dilakukan di kota
Nuremberg jerman dari tahun 1945 sampai 1946
di gedung pengadilan nuremberg. Dasar hukum
pembentukan pengadilan ini adalah berdasarkan
piagam london, Agreement For The Prosecution
And Punishment Of The Major War Criminals Of
The European Axis, And Charter Of The
International Military Tribunalyang dikeluarkan
pada tanggal 8 Agustus 1945.
2. International Military Tribunal (Tokyo 1948);
Pada tanggal 19 januari 1946 komandan tertinggi
sekutu di timur jauh memunculkan ide
pembentukan International Military Tribunal
yang kemudian dikenal sebagai Tokyo Tribunal.
Pengadilan ini disiapkan untuk kejahatan perang
yangterjadi padaperang dunia II dimana peradilan
tersebut diselenggarakan di Tokyo Jepang.
3. International Criminal Tribunal for the Former
Yugoslavia (DenHaag, 1994);
Perang dingin yang menghasilkan runtuhnya
komunisme jelas membawa pengaruh yang
sangat besar terhadap negara-negara dengan
ideologi komunis, tidak terkecuali bagi
yugoslavia. Pasca runtuhnya komunisme sampai
akhirnya menunjukan banyaknya perbedaan-
perbedaan antar etnis yang selama ini terendam
dibawah komunisme secara berturut-turut
memproklamirkan independensi mereka serta
memutuskan untuk lepas dari federasi
yugoslavia . 38

Tujuan dari dibentuknya International


Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia
adalah : 39

a. Mengadili orang-orang yang diduga


bertanggung jawab terhadap kejahatan-
kejahatan serius hukum humaniter
internasional;
b. Memberikan peradilan bagi para korban;
c. Mencegah kejahatan lebih lanjut;
d. Memberikan kontribusi terhadap pemulihan
perdamaian denngan meminta
pertanggungjawaban dari orang-orang yang
bertanggung jawab atas kejahatan serius
terhadap hukum humaniter internasional.
4. International Criminal Tribunal for the For
Rwanda (Arusha Tanzania, 1993);
Badan Peradilan yang permanen
yaituInternational Criminal Court yang
berkedudukan di Den Haag.Namun pada badan
peradilan Ad Hoc yang terakhir, pelaku-pelaku
yang diadili tergolong tingkat bawahan. Itupun
disebabakan karena merekalah yang berhasil
ditangkap oleh pasukan nato ataupun pasukan
lawannya. Sedangkan mereka yang tergolong
tingkat atas seperti Rovodan Karadjzick dan
Jenderal Radco Mladic, hingga kini masih aman
38
Arie Siswanto. Yurisdiksi Material Mahkamah Kejahatan Internasional.
Ghalia Indonesia : Bogor. 2005. Hal 5.tu
39
Tolib Efendi. Op. Cit. Hal 189.
berada di negaranya.
Kendala lain proses peradilan pidana melalui
mahkamah Pidana Internasional (permanen) di Den Haag
yaitu adanya negara yang tidak bersedia atau menolak untuk
meratifikasi Statuta Mahkamah.
Prosedur penegakan Hukum Pidana Internasiona:
1. Direct enforcment system;
Penegakan HPI secara langsung yang bertujuan
sebagai upaya untuk melaksanakan pembentukan suatu
Mahkamah Pidana internasional dan upaya untuk
mengajukan tuntutan dan peradilan terhadap pelaku
tindak pidana internasional melalui mahkamah pidana
internasional.
Contohnya:
a. Mahkamah pidana internasional permanen
berkedudukan di Den Haag Belanda.
b. Mahkamah pidana internasional Ad Hoc,
doantaranya pengadilan Nuremberg, pengadilan
tokyo, pengadilan bekas negara yugoslavia,
pengadilan untuk Ruwanda.
2. Indirect enforcment system.
Penegakan hukum secara tidak langsung yaitu
sebagai upaya mengajukan tuntutan dan peradilan
terhadap para pelaku tindak pidana internasional melalui
undang-undang nasionalmasing-masing negara
dimanaa kejahatan internasional tersebut terjadi.
Contohnya di Indonesia yaitu dilakukan dalam
mengadili pelanggaran HAM berat pasca jajak pendapat
di Tim-Tim.
Pelanggaran HAM yang sangat berat (serious
violation of human right) sudah merupakan dan
dipandang oleh seluruh masyarakat internasional
sebagai “serious crimes of international concern”
sehingga pelanggaranHAM yang sangat berat bukan
semata-mata masalah hukum nasional, melainkan
merupakan masalah hukum internasional. Konsekuensi
logis dari dasar pemikiran tersebut, maka peradilan atas
pelanggaran HAM yang sangat berat bukan semata-
mata jurisdiksi pengadilan nasional melainkan juga
merupakan jurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional.
Penggolongan atas pelanggaran HAM yang sangat
berat sebagaimana dimuat dalam Pasal 5 Statuta Roma
(1998) bukan merupakan kejahatan biasa (ordinary
crimes) melainkan merupakan kejahatan yang sangat
luar biasa (extra-ordinary crimes) sehingga
penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan
suatu pengadilan terhadap kejahatan ini memerlukan
pengaturan secara khusus dan berbeda dengan
pengaturan dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku seperti KUHP dan Undang-undang Pidana
Khusus lainnya.
Institusi yang relevan dan sesuai untuk memeriksa,
dan menyidik pelanggaran HAM yang berat
memerlukan prasarana dan sarana secara khusus yang
memadai sehingga proses peradilan atas kasus-kasus
pelanggaran HAM yang berat dapat dilaksanakan secra
“impartial”, “fair” dan “transparan” dengan mengacu
kepada standar yang diakui berdasarkan Hukum
Internasional.
Pertanyaan:
1. Jelaskan bagaimana sejarah peradilan pidana
internasional khususnya terhadap kejahatan
pelanggaran Hak Asasi Manusia?
2. Apa yang diaksud dengan pengadilan pidana
internasional, jelaskan!
3. Apa yang dimaksud dengan pengadilan Ad-Hoc dan
sebutkan contoh pengadilan Ad-Hoc serta jelaskan!
4. Bagaimana prosedur penegakan hukum pidana
internasional?
5. Bagaimana hubungan antara peradilan hukum
nasional dengan peradilan hukum nasional?
BAB VIII
TERORISME
DAN KEJAHATAN PENERBANGAN

A. Terorisme Dilihat Dari Hukum Internasional Dan


Nasional
Kejahatan terorisme yang dilakukan oleh
perorangan ataupun organisasi dilihat dari sejarahnya sudah
dikenal sangat lama, namun masalahnya dari aspek hukum
adalah pendefinisian yang pasti tentang terorisme itu
sendiri.
Menurut Liga Bangsa-Bangsa tahun 1937 Terorisme
ia all criminal acts directed against a state and intended and
calculatedto create a state of terror in the minds of
particular persons a group of persons or the general public.
Namun konvensi ini tidak pernah berlaku sebagai hukum
internasional positif, sebab tidak memenuhi syarat
mengenai berlakunya karena tidak cukup jumlah minimun
negara-negara yang meratifikasinya.
Usaha-usaha masyarakat internasional untuk terus
merumuskan definisi tentang terorisme tetap dilakukan baik
oleh parasarjana secara perorangan maupun secara
organisasi internasional global bahkan organisasi
internasional regional. Selain itu usaha-usaha yang
dilakukandalam hukum pidana nasional setiap negara
dengan membentuk peraturan perundang-undangan
nasional tentang anti terorisme.
Beberapa negara yangtelah memiliki undang-
undang nasional tentang terorisme, antara lain adalah:
1. India, Prevention of Terrorism Ordinance, on
October 16, 2001
2. Prancis, October 31, 2001
3. Inggris, Terrorisme Act, 2000
4. Kanada, Anti Terrorism Act, on Oktober 15, 2001
5. Indonesia, Perpu Nomor 1 dan 2 Tahun 2002 yang
telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme.
Tidak adanya persamaan definisi tentangterorisme
di beberapa undang-undang tersebut, disebabkan karena
pandangan dan kepentingan setiap negara-negara terhadap
terorisme itu sendiri beraneka ragam. Namun meskipun
seperti itu membuktikan bahwa dengan adanya peraturan
perundang-undangan nasional ini sudah merupakan langkah
awal dari usaha pencegahan (preventif) dan pemberantasan
(represif) atas terorisme sendiri.
Masyarakat internasional dalam prakteknya
menempuh usaha parsial dalam menentukan suatu kejahatan
tergolong terorisme, dengan membuat konvensi-konvensi
internasional yang substansinya berkaitan dengan terorisme
maupun dengan mengaitkan konvensi-konvensi yang
mengatur tentang kejahatan-kejahatan tertentu wujud dari
terorisme.
Beberapa konvensi yang substansinya berkaitan
dengan terorisme yaitu:
1. International convention for the suppression of
Terrorist Bombing (UN General Assembly
Resolution, 1997
2. ( Konvensi New York, 15 Desember 1997);
3. International Convention for the Suppression of the
Financing of Terrorism (Konvensi New York, 9
Desember 1999).
Konvensi tertentu yang berkaitan dengan terorisme:
1. Konvensi Den Haag 1970;
2. Konvensi Montreal 1971;
3. Convention On The Prevention And Punishment Of
Crimes Against Internationally Protected Pesons,
Incluiding Diplomatic Agent 14 Desember 1973;
4. International Convention against the talking of
Hostages 17 Desember 1979.

B. Kejahatan Penerbangan Dalam Hukum Pidana


Internasional
Kejahatan penerbangan sudah diatur didalam tiga
konvensi, yaitu:
1. Konvensi Tokyo 1963
Latar belakang konvensi ini yaitu adanya
peristiwa yang terjadi didalam pesawat udara yaitu
antara penumpang yang terlibat dalam suatu tindak
kriminal ataupun tindakan lain yang bukan kriminal
tetapi sangat membahayakan penumpang lain lain,
harta benda, maupun proses penerbangan itu sendiri.
Sebelumnya peristiwa seperti ini tidak terbayangkan
akan terjadi namun pada faktanya sekarang sering
terjadi.
Berkumpulnya sekelompok orang dari
berbagai bangsa di dalam pesawat yang sedang
dalam penerbangan dengan segala watak dan
perilaku masing-masing sangat besar kemungkinan
terjadinya tindak kriminal. Prilaku semacam ini
membahayakan awak dan penumpang lainnya,
karena harta benda mereka ada dalam pesawat.
Hal ini mendapat perhatian serius dari
International Civil Avication Organisation (ICAO)
kemudian diselenggarakan Konperensi di
Tokyotahun 1963dan menghasilkan sebuah
konvensi yaitu Convention on Offences and Certain
Other Acts Commited on Board Aircraft (Tokyo
Convention) september 1963.
Namun pada kenyataannyankonvensi
memandang kejahatan atau perbuatan itu sebagai
tindak pidana atau kejahatan biasa. Yangmenjadi
persoalan adalah ketika perbuatan atau kejahatan itu
dilakukan dipesawat dalam keadaaan dimana
pesawat udara yang sedang dalam penerbangan
denngan kecepatan yang sangat tinggi sehingga sulit
menentukan tempat kejadiannya atau (Locus
Delicti).Hal ini berkaitan dengan masalah
yurisdiksi.
Pasal 3 ayat (1) menjelaskan bahwa negara
tempat pendaftaran pesawat itulah yang berwenang
untuk menerapkan yurisdiksi dalam kejahatan itu.
Sedangkan ayat (2) menjelaskan bahwa
menganjurkan kepada setiap negara peserta
konvensi supaya melakukan langkah-langkah yang
perlu untuk menetapkan yurisdiksi sebagaimana
negara tempat pendaftaran pesawat tersebut
terhadap kejahatan atau perbuatan yang terjadi
dalam proses penerbangan dalam pesawat. Pasal 4
menegaskan bahwa negara yang bukan merupakan
negara tempat pendaftaran tersebut tidak boleh ikut
campur terhadap yurisdiksi kriminalnya terhadap
kejahatan atau perbuatan yang terjadi kecuali dalam
hal sebagaiberikut:
a. Kejahatan itu menimbulkan pengaruh atau
dampak diwilayah bersangkutan;
b. Kejahatan itu dilakukan atau ditujukan
terhadap seseorang warganegaradari negara atau
orang yang berkediaman tetap dinegara
bersangkutan;
c. Kejahatan itu bekenaan dengan masalah
keamanan negara bersangkutan;
d. Kejahatan itu merupakan pelanggaran atas
peraturan perundang-undangan tentang
penerbangan atau manuver pesawat udara
yang berlaku di negara bersangkutan;
e. Pelaksanaan yurisdiksi tersebut dibutuhkan
untuk menjamin penghormatan atas
kewajiban negara itu berdasarkan perjanjian
internasional multilateral.
Dengan adanya ketegasan empat point
tersebut memberikan kepastian tentang negara
mana yang dapat menerapkan yurisdiksinya
terhadap kejahatan seperti ini.
2. Konvensi Den Haag 1970
Konvensi ini mengatur tentang perbuatan
yang berupa penguasaan secara melawan hukum
(ilegal) dipesawat udara. Konvensi ini dilatar
belakangi karengan saat itu maraknya peristiwa
pembajakan pesawat udara yang dilakukan oleh
perorangan maupun sekelompok orang yang
semula jadi penumpang pesawat dan melakukan
aksinya ketika pesawat sedang berjalan, baik
dengan motif atau tujuan politik atau kriminal
biasa.
Bahwa dari kejahatan semacam ini
menimbulkan kekawatiran dan rasa takut sebab
semua penumpang didalam pesawatterancam
keselamatannya. Oleh karena itu konvensi ini
mencoba menuangkannya dalam Pasal 2 yang
menyerukan kepada negara-negara peserta supaya
mengancam dan atau menjatuhkan hukumannya
yang sangat berat terhadap pelakunya. Pasal 4
menyerahkan kepada negara-negara konvensi
supaya mengambil langkah untuk menentukan
yurisdiksi masing-masing atas kejahatan itu.
3. Konvensi Montreal 1971
Konvensi ini terfokus pada perbuatan-
perbuatan melawan hukum terhadap keselamatan
penerbangan sipil, baik saat pesawat itu melakukan
penerbangan maupun berupa pengrusakan atas
peralatan pesawat (yang mungkin dilakukan pada
saat mendarat), atau perbuatan itu berupa
menempatkan barang berbahaya dalam pesawat,
hal itu di paparkan pada Pasal 1 ayat (1) dan (2),
yang menganggap bahwa perbuatan tersebut pantas
di hukum dengan ancaman berat mengingat
terhadap bahaya yang akan diakibatkan.

C. Kejahatan Penerbangan Sebagai Bentuk Terorisme


Persoalan yang cukup significant untuk disoroti
dalam hubungannya dengan terorisme dan kejahatan
penerbangan adalah tentang dimensi politik. Dalam
prakteknya tidaklah mudah menentukan apakah termasuk
kejahatan politik atau kejahatan biasa. Karena kejahatan
dilihat dari luarnya bisa dikatakan sebagai kejahatan biasa
tapi ketika ditelahaan ternyata itu merupakan kejahatan
politik. Persoalan tentang kejahatan politik dihadapakan
dengan siapa pelakunya dan seberapa besarnya kejahatan
polistik itu sampai sekarang persoalan ini tidak
terselesaikan.
Kejahatan politik tidak terselesaikan karena
berpangkal dari istilah politik itu sendiri yang didefinisikan
akan melahirkan berbagai macam definisi. Sehingga untuk
menentukan apakah ini kejahatan politik atau kejahatan
biasa maka asumsi setiap orang hasilnya akan berbeda-beda,
boleh jadi sampai bertentangan. Politik dapat diibaratkan
seperti udara sebagai mana sifatnya udara menembus dan
memasuki kawasan ruang kosong dan mengitari objek yang
ada tetapi sangat sukar ditangkap. Didalam masyarakat dan
hubungan internasioan kejahatan politik ini merupakan
salah satu bagian dari ektradisi.
Sebelum tahun tujuhpuluhan kejahatan politik tidak
dapat dilakakukan ekstradisi, dengan kata lain permohonana
ektradisi di tolak. Namun karena makin kompleksnya jenis-
jenis kejahatan khususnya kejahatan yang tergolong berat
ataupun luar biasa sehingga kejahatan politik mulai
dipersempit ruang lingkupnya, yaitu dengan cara
mencantumkan kejahatan tertentu dalam perjanjian
ektradisi sebagai bukan kejahatan politik juga dengan
menentukan bahwa kejahatan yang diatur didalamnya untuk
tujuan ekstradisi pelakunya dapat di ektradisi. Atau
menentukan kejahatan yang dapat dijadikan alasan untuk
meminta penyerahannya.
Dalam konvensi Tokyo kejahatan yang diatur
tidakdikaitkan dengan kejahatan politik, namun dalam
konvensi Den Haag dan konvensi Montreal menyatakan
bahwa kejahatan yang diatur dalam konvensi adalah
termasuk kejahatan yang dapat diekstradisikan dalam setiap
ektradisi para pihak dan kedua konvensi ini dapat dijadikan
alasan untuk melakukan ekstradisi jika antara kedua pihak
belum terikat perjanjian ektradisi. Negara-negara peserta
yang tidak mensyaratkan perjanjian ekstradisi maka akan
mengakui bahwa kejahatan yang ada dalam perjanjian
ekstradisi itu sebagai kejahatan yangdapat di ekstradisi.
Dengan adanya ketentuan-ketentuan seperti ini
dapat terlihat bahwa dimensi politik dari kejahatan seperti
ini dihapuskan dan diminimalisir. Namun dalam kejahatan
hanya sebatas pada maksud dan tujuan aras internasional
bukan dalam negeri (domestik).
Kejahatan penerbangan dikatakan sebagai kejahatan
terorisme dapat dilihat dari konvensi-konvensi yang terkait.
Konvensi Tokyo kejahatan atau perbuatan menurut
konvensi ini bisa yang telah direncanakan atau belum di
rencanakan. Misalnya ada dua orang yang bertarung dan
yang kalah tidak menerima kemudian emosi kan
menyebabkan salah satunya jadi korban, atau salah seorang
mengacung-ngacungkan senjata api ke para awak pesawat
karena merasa tidak puas layanan nya, maka perbuatan
seperti ini bukan merupakan kejahatan yang ada
hubungannya dengan terorisme. Namun beda kasusnya
apabila dalam pesawat yang sedang terbang ada
pembunuhan atas tokoh politik yang berpengaruh pelakunya
adalah lawan politiknya dan peristiwa ini terkait dengan
rivals politknya dalam negeri hal ini pun harus di buktikan
secara benar.
Sehingga dapat disimpulkan menurut Konvensi
Tokyo kejahatan yang diatur dalam konvensi ini dalam
hubungannya dengan terorisme harus di lihat kasus demi
kasus. Tidak semua perbuatan yang meskipun berada dalam
cakupan konvensi dapat digolongkan sebagai terorisme.
Sedangkan menurut konvensi Den Haag dan
konvensi Montreal yang sasaran nya adalah pesawat udara
dan tentu juga penumpangnya dan harta bendanya dan
kecemasan yang ditimbulkan dan membahayakan
penerbangan sipil, maka telah sangat jelas bahwa konvensi
ini mengklasifikasi kejahatan sebagai terorisme dengan
melihat yang menjadi motif maksud dan tujuan. Contohnya
seorang yang melakukan pembajakan pesawat dengan
tujuan meminta sejumlah uang tebusan dengan maksud
uang itu akan digunakan untuk membayar hutang sebagai
kepentingan pribadinya maka ini telah masuk dalam
kategori kejahatan terorisme.

D. Terorisme Dan Kejahatan Penerbangan Dalam


Hukum Pidana Nasional
Terorisme dalam hukum pidana indonesia diatur
dalam Perpu Nomor 1 dan 2 Tahun 2002 yang telah diganti
dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sedangkan
kejahatan penerbangan diatur dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP) Pasal 479 (butir a-r).
Adanya beberapapersoalan jika Perpu itu di cabut
karena Dewan Perwakilan rakyat tidak menyetujui dengan
kata lain menolak namun tidak ada Undang-Undang anti
terorisme penggantinya maka akan terjadi kevakuan hukum.
Maka untuk itu sebaiknya Pemerintah segera membuat
Rancangan Undang-Undang anti terorisme dan kemudian
dibahas oleh badan legislatif dan mensyahkan undang-
undang baru tersebut.
Substansi dari terorisme sebagaimana yang telah
tercantum dalam Perpu sebaiknya Pasal-Pasal dalam Perpu
dituangkan seluruhnya dalam Undang-Undang yang baru
karena itu akan dirasa lebih aman, sebab untuk kasus-kasus
terdahulu yang belum terselesaikan dan yang menjadi dasar
hukumnya itu Perpu akan tetap berjalan.
Pertanyaan:
1. Bagaimana pandangan saudara tentang Terorisme
jika dilihat dari hukum internasional dan nasional?
2. Jelaskan beberapa konvensi yang berkaitan dengan
kejahatan penerbangan dilihatdari hukum pidana
internasional?
3. Bagaimana pengaturan tentang terorisme dalam
hukum pidana nasional?
4. Bagaimana pengaturan mengenai kejahatan
penerbangan dalam hukum nasional?
5. Bagaimana menurut saudara apakah kejahatan
penerbangan dapat dikatakan sebagai bentuk
kejahatan terorisme?
DAFTAR PUSTAKA

A. Literatur

Arief, Barda Nawawi. 1998. Beberapa Aspek Kebijakan


Penegakan dan Pengembangan Hukum
Pidana. Bandung : Citra Aditya Bakti.

Atmasasmita, Romli. 2000.PengantarHukum Pidana


Internasional. Bandung. : Refika Aditama.

Bassioni, M. Cherif. 1974.International Extradition and


World Order. Stijthoff International
Publishing Company.

----------------------------1986.International Criminal
Law Volume I : Crimes. New York
:Transnational Publishers Inc.

Effendi, Tolib.2014. Hukum Pidana Internasional.


Surabaya : Pustaka Yustisia.

Hiariej, Eddy Omar Syarif. 2009. Pengantar Hukum


Pidana Internasional. Jakarta : Erlangga.

Istanto, Sugeng. 1998. Hukum Internasional.


Yogyakarta : Universitas Atmadjaya.

Kusumaatmadja, Mochtar. 1989. Pengantar Hukum


Internasional, Bandung : Banicipta.

Moeljatno. 2008. Asas-Asas Hukum Pidana Edisi


Revisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Parthiana, I Wayan, 2006. Hukum Pidana Internasional
dan Ekstradisi. Bandung : Yrama Widya.

Rolling. 1979. Supranational Criminal Law in


Netherlands Theory and Practice.
Nederlands International Law Review.
Vol. XXXIV 1987. Matrinus Nijhoff
Publishers..

Siswanto, Arie. 2005.Yurisdiksi Material Mahkamah


Kejahatan Internasional.Bogor :Ghalia
Indonesia.

Suseno, Sigid dan Nella Sumika Putri. Hukum Pidana


Indonesia (Perkembangan Dan
Pembaharuan). 2013. Bandung : Remaja
Rosdakarya.

Thontowi, Jawahir dan Iskandar Pranoto. 2006. Hukum


Internasional Kontemporer. Bandung :
Refika Aditama.

B.Undang-Undang / Sumber Lain

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun


1979 Tentang Ekstradisi

Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 Tentang Hak


Asasi Manusia (HAM)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun
2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia (HAM)

Mulyadi, lilik. Fungsi hukum pidana internasional


dihubungkan Dengan kejahatan
transnasional khususnya terhadap Tindak
p i d a n a
korupsi.Http://nynda.dosen.narotama.ac.i
d/files/2011/05/fungsi_hukum_pidana_int
ernasional_dihubungkan_dengan_kejahat
an_transnasional.pdf. Diakses 18 februari
2012. Pukul 18.30 wib.

Prayitno, Kuat Puji. Materi Kuliah Hukum Pidana


Internasional. UNSOED : Purwokerto.
2013.